Shotgun Wedding

By kamalagusta

1.2M 72.4K 3K

UPDATE TIAP HARI!!! High Rank #28 (31/03/2018) "Aku ingin membencimu. Tapi, yang terjadi, aku malah semakin j... More

p r a k a t a
#1: Masa Remaja yang Hilang
#2: Jerit Kesakitan yang Meruntuhkan Keberanian
#3: Mimpi Buruk, Kafka dan Aib yang Terbongkar
#4: Pria Asing yang Menjadi Calon Suami
#5: Tentang Waktu yang Hilang dan Tidak Pernah Kembali
#11: Selembar Foto Tentang Awal Kehidupan
#12: Berpegang Teguh Pada Rencana
#13: Satu Langkah Lebih Dekat dengan Tujuan
#14: Hubungan yang Membaik
#15: Cinta Seharusnya Membahagiakan
#16: Sepasang Kaus Kaki Bayi
#17: Semakin Dekat dengan Tujuan
#18: Terhimpit di antara Pilihan Rumit
#19: Kenyataan yang Terkunci di Ujung Lidah
#20: Pembicaraan Dua Pria
#21: Permintaan Maaf
#22: Cinta yang Melemahkan
#24: Mencuri-Dengar
#25: Keluarga
#26: Kebohongan
#27: Sebuah Surat
#28: Syal Rajut dengan Sulaman Nama
#29: Ragu
#30:Kenangan yang Dibawa Hujan
#31: Saling Menguatkan
#32: Tentang Kafka
#33: Mulai Memikirkannya
#34: Salah Tingkah
#35: Mengisi Pikiran
#35: Mengisi Pikiran (Part 2)
#36: Konfrontasi (Part 1)
intermezzo
#36: Konfrontasi (part 2)
#37: Takut
#38: Kata Maaf (Part 1)
#38: Kata Maaf (Part 2)
#39: Before The Night Ends
#40: Ciuman (Part 1)
#40: Ciuman (Part 2)
#41: Ingin Berhenti (Part 1)
#41: Ingin Berhenti (Part 2)
#42: Ancaman Maura (Part 1)
#42: Ancaman Maura (Part 2)
#43: Rahasia (Part 1)
#43: Rahasia (Part 2)
#44: Pengakuan (part 1)
#44: Pengakuan (Part 2)
#45: Menemukan Kebenaran (Part 1)
#45: Menemukan Kebenaran (Part 2)
OPEN PRE ORDER NOVEL VERSI CETAK
#46: Sebuah Akhir
ONE NIGHT WITH YOU
PERHATIAN!
INFO PERIHAL EBOOK
INFO KELANJUTAN SHOTGUN WEDDING

#23: Secuil Perhatian

16.2K 1.2K 35
By kamalagusta

Malam itu Azel terbangun saat mendengar suara rintihan. Ia mengerjapkan mata, menyesuaikan penglihatan dengan pengcahayaan yang minim. Setelah penglihatannya cukup baik, Azel duduk lalu menoleh ke kanan, ke arah meja nakas di samping ranjang dan mengulurkan tangan untuk menyalakan lampu meja. Cahaya berhamburan membanjiri ruang kamar yang semula gelap.

Rintihan itu terdengar lagi. Asalnya dari sebelah kiri Azel. Saat ia menoleh, ia mendapati Abytra meringkuk dengan tangan memeluk tubuh, gemetaran. Wajah pria itu pucat, dan dari bibirnya keluar rintihan pelan.

Azel beringsut sedikit, memangkas jarak di antaranya dan Abytra. Di dorong rasa penasaran, Azel memberanikan diri menyentuh pipi pria di sampingnya itu. Alangkah terkejutnya Azel saat telapak tangannya merasakan sesuatu yang panas. Sepertinya Abytra terkena demam tinggi.

Azel melirik jam di dinding. Pukul dua dini hari. Sejenak Azel terdiam, memikirkan apa yang harus ia lakukan. Ia tahu, selama ini hubungan mereka hanya suami-istri dalam buku nikah. Tak lebih dari itu. Interaksi mereka bisa dibilang nol besar. Tapi, apa Azel tega membiarkan Abytra sakit seperti itu?

Akhirnya, Azel turun dari ranjang. Setidaknya untuk kali ini ia harus melakukan sesuatu. Satu-satunya hal yang bisa ia lakukan saat ini adalah mengompres Abytra. Semoga saja hal itu bisa menurunkan panas pria tersebut.

Azel berjalan menuju lemari di sudut kamar. Dengan gerakan pelan, sebisa mungkin tidak mengeluarkan suara, Azel membuka pintu lemari. Setelah mendapatkan handuk kecil bersih, Azel mengarah ke kamar mandi. Tak lama, ia keluar dengan baskom berisi air.

Azel meletakkan baskom di atas meja nakas. Lalu ia meraih handuk yang tersampir di bahu, mencelupkannya ke dalam air baskom, dan kemudian memerasnya. Setelah itu Azel melipatnya dan menempelkan ke dahi Abytra.

Sekali lagi Abytra merintih. Tapi, kali ini rintihannya bisa tertangkap jelas oleh Azel. Abytra menyebutkan satu kata dengan nada sedih, membuat Azel mematung dan menatap wajah pria itu dengan hati terenyuh.

Ibu. Itulah yang diucapkan Abytra berulang-ulang dalam rintihannya.

Azel menarik napas. Entah kenapa melihat pria yang selama ini terlihat tangguh merintih dalam tidur seperti ini membuat dada Azel sesak. Ia jadi bertanya-tanya, apa yang terjadi kepada ibu Abytra?

Azel menggeleng. Itu bukan urusannya. Ia tidak perlu tahu dan ikut campur. Lalu, Azel bermaksud membasahi kembali handuk kecil tersebut. Saat ia mengambilnya dari dahi Abytra, tiba-tiba mata pria itu terbuka. Mereka saling berpandangan. Tidak hanya itu, Abytra juga memegang pergelangan tangannya.

Belum hilang rasa terkejut Azel, Abytra lebih dahulu berkata dengan suara serak dan dalam.

"Ibu, akhirnya kita bisa ketemu lagi."

***

"Ibu, akhirnya kita bisa ketemu lagi," bisik Abytra dengan suara lirih. Mata pria itu berkaca-kaca. Benar-benar bahagia karena keinganan yang sejak lama terpendam kesampaian juga.

Abytra mengamati wajah Ibu. Tidak ada yang berubah. Wajah ibu masih sama seperti yang ia ingat. Alisanya, matanya, hidungnya, bibirnya, bahkan tahi lalat di dagu Ibu juga masih sama. Ibu menatap Abytra dengan pandangan teduh. Lalu, tersenyum tipis.

"Aby kangen Ibu," Abytra menelan ludah. Akhirnya, setelah bertahun-tahun ia bisa mengatakan itu lagi.

Tapi, Ibu tidak mengatakan sepatah kata pun. Wanita berwajah lembut itu tetap diam. Hanya senyumnya yang sama sekali tidak pernah luntur.

Tapi, hal itu tak masalah bagi Abytra. Ia tidak peduli Ibu mau bicara atau tidak. Terpenting saat ini baginya hanya satu, dapat melihat wanita yang dicintainya sepenuh hati itu, dan memeluk dan mencium aroma tubuhnya.

Hanya itu. Dan ia sudah sangat bahagia.

Namun, kebahagian tidak pernah bertahan selamanya. Saat Abytra memeluk ibunya, tiba-tiba wanita itu menghilang. Abytra kelabakan mencarinya seperti orang gila. Abytra memanggil-manggil Ibu sampai suaranya serak. Tak kunjung menemukan ibunya, akhirnya Abytra tergugu. Air matanya mengalir. Abytra menangis terisak.

Lalu semuanya pun menjadi gelap.

***

Pertama kali yang disadari Abytra ketika bangun tidur adalah aroma gurih, bawang goreng, serta wedang jahe yang bercampur jadi satu. Lalu, ia juga merasakan sesuatu di dahinya. Saat ia mengulurkan tangan untuk menyentuh, ternyata handuk kecil yang lembab.

"Kamu udah bangun?"

Suara lembut itu menyentuh pendengaran Abytra. Asalnya dari jendela. Saat ia menoleh, ia mendapati Azel berdiri di dekat jendela, menepikan kain gorden agar cahaya matahari pagi masuk ke dalam kamar.

Abytra membuka mulutnya, tapi tak satu kata pun yang berhasil ia ucapkan. Tenggorokannya terasa perih.

"Minum ini," kata Azel sambil menyerahkan cangkir berisi wedang jahe. Dengan gerakan pelan, Azel membantu Abytra untuk duduk. Lalu memegang cangkir saat Abyta meminumnya.

"Kamu mau sarapan sekarang?" tanya Azel lagi setelah meletakkan cangkir ke meja nakas. "Tadi aku minta buatin bubur untuk sarapan.

Abytra menatap Azel lekat. Lalu ia menggeleng. Tenggorokannya perih. Mulutnya juga terasa pahit. Ia tidak sanggup memakan apa pun dengan keadaan seperti ini.

"Ya udah, kamu istirahat lagi." Azel membantu Abytra untuk rebahan kembali. Lalu, ia menyelimuti Abytra sampai sebatas dada. "Kalau kamu butuh sesuatu, bilang aja."

Abytra masih diam. Tapi, ia tidak bisa mengalihkan tatapan dari senyum lembut di bibir Azel.

"Sekarang kamu tidur aja lagi."

Setelah menepuk pelan tangan Abytra, Azel berdiri dan keluar dari kamar membawa nampan yang di atasnya terdapat mangkuk berisi bubur yang masih utuh dan cangkir wedang jahe yang tinggal setengah.

Sepeninggal Azel, Abytra memejamkan mata. Entah kenapa perhatian yang diberikan Azel membuat perasaannya jadi tidak menentu.

***

"Bagaimana keadaan Abytra?" tanya Thomas saat melihat Azel melintas di depannya.

Azel berdiri. Terkejut melihat papanya masih ada di rumah. Padahal jam sudah menunjukkan pukul sembilan pagi. Akhir-akhir ini Papa memang lebih sering berada di rumah.

"Panasnya udah turun, Pa," jawab Azel.

Thomas mengangguk. "Syukurlah. Mungkin ia kelelahan karena terlalu keras bekerja. Kalau nanti kondisinya memburuk lagi, minta tolong ke Kafka untuk menemaninya ke dokter."

"Ya, Pa."

"Dan kamu ... jangan terlalu kecapekan juga. Jaga kehamilanmu."

Sekali lagi Azel mengangguk. Tidak bisa ia pungkiri, hatinya terharu mendapatkan perhatian dari Thomas. Ia pikir, kehamilan ini membuat papa tidak ingin mengakuinya sebagai anak karena sudah membuat malu keluarga.

Ternyata benar, seberapa besar pun kesalahan anak, orang tua tidak akan pernah bisa berhenti untuk tidak peduli.

***

Halo ... udah pada kangen belum sama kisah Azel, Abytra dan Kafka?

Semoga masih mau mengikuti tulisan acakadut aku ini, ya.

Hehehe ... mungkin kalian bertanya, kenapa udah sepanjang ini, belum ada yang bagian yang memperlihatkan kebersamaan Azal dan Abytra. Tenang aja. Karena aku berencana ingin membuat cerita ini panjang (iya karena selama ini banyak banget yang protes kok ceritaku singkat banget) makanya kebersama mereka belum aku tuliskan. Aku ingin mengeksplor kehidupan mereka masing-masing dulu.

Tapi tenang aja. Dalam waktu dekat, pasti kebersamaan mereka akan lebih diutamakan. Dan tentu saja ... akan menguras hati banget. Tungguin aja ya.

Nah, seperti biasa. Bantu vote dan komen ya.

Sampai jumpa lagi

Bubay

Kamal Agusta



Continue Reading

You'll Also Like

4.9M 205K 35
WARNING : MATURE [21+], ROMANCE, VULGAR, MARRIED LIFE Kaileen Faye Gerardi seorang gadis yang dijuluki nerd karena selalu memakai kacamata bulat dan...
682K 50.3K 54
SUDAH TERBIT!!! Chapter 1-22 (versi 1) | Chapter 23-selesai (versi 2). Ini lebih mirip kisah klasik mungkin. Tentang mereka yang terpaksa terikat jan...
5.7M 365K 42
βš οΈπƒπˆπ“π”π‹πˆπ’ π”ππ“π”πŠ πƒπˆππ€π‚π€, ππ”πŠπ€π πƒπˆππ‹π€π†πˆπ€π“βš οΈ *** Menceritakan tentang Dua orang sahabat kecil yang dipisahkan oleh keada...
2.3M 175K 70
(DIHARUSKAN FOLLOW SEBELUM BACA!!!) =Proklisi Series= 'Being perfect for something less than perfect' πŸ•ΈοΈπŸ•ΈοΈπŸ•ΈοΈ Ketidaksengajaan membawa Eza Evander...
Wattpad App - Unlock exclusive features