...
"Kau yakin baik-baik saja?"
Ini mungkin sudah ketiga kalinya orang di depanku mengeluarkan pertanyaan yang sama, dengan aku yang hanya membalas anggukan atas pertanyaannya yang begitu tiba-tiba.
Sebetulnya aku masih mencerna apa yang baru saja terjadi. Semuanya terasa seperti teka-teki, dengan aku yang berperan sebagai pemain yang harus menyelesaikan potongan-potongan misteri, ditemani sesosok laki-laki yang kini tengah menatapku dengan wajah yang sedikit sendu.
Sekitar setengah jam yang lalu, diiringi dengan alunan instrumen piano yang mengisi seluruh ruangan, dia berada di sudut ruangan sedang membaca sebuah buku tebal yang agaknya terasa familiar dalam ingatanku.
Betulan, tadi dia terlihat aneh saat aku memanggilnya. Dia buru-buru menghempaskan buku tebalnya lalu menghampiriku -- lebih tepatnya menyentuh tombol merah di atas ranjang-- tidak hanya sampai di situ, dia juga pergi ke luar ruangan dengan seraut wajah yang aneh.
Tapi sejujurnya, dia tidak seaneh itu kok. Agaknya dia masih terbantu dengan wajahnya yang boleh ku bilang lumayan. Lelaki di depanku ini sedikit menarik, atau mungkin sangat menarik, ya tergantung konteksnya sih. Jujur saja kehadirannya tadi membuat atensi ku agak kacau, dan membuatku mengingat seseorang.
"Kau temannya Woo Seong?"
Dia terdiam. Lebih tepatnya terpaku, dengan wajah yang lebih aneh dari pada yang tadi. Bibirnya yang semula ditekan kuat-kuat kini ia biarkan terbuka sedikit, dengan pandangan kacau dan tangan yang sedikit mengepal.
Entah aku yang salah berbicara atau bagaimana, tapi apa salahnya menanyakan profil teman pacarmu?
"Dimana Woo Seong?" tanyaku lagi. Masih menunggu jawaban darinya.
"Aku bukan temannya mantanmu yang meninggal sekitar 3 tahun yang lalu karena overdosis. Aku Kim Taehyung, dan aku tunanganmu."
...