Tiiiiiiiittttttttt....!!!!! Suara klakson mobil sebelah yang kembali menyadarkanku saat menyetir. Akhir-akhir ini diriku sering kali melamun dan kehilangan kesadaran secara tiba-tiba. Mungkin faktor sering lembur kerja dan pola istirahat yang sudah terganggu. Lalu handphoneku berdering memecah suasana hening di dalam mobil klasikku dan Bosku dari luar negeri lagi-lagi menelepon untuk kesekian kalinya menanyakan project yang sedang berjalan.
Namaku Aegis, aku sekarang tinggal di Raddien, kota besar yang jumlah penduduknya terbilang sedikit, sangat tidak ramah dan tertutup dengan orang asing yang sangat jauh dari arti namanya yang berarti Kesenangan, Kebahagiaan, dan Tawa Para Dewa Dewi. Di kota ini jarang sekali matahari bersinar, pepohonan tinggi yang mati tersebar hampir di seluruh kota, dan kota ini sangatlah lembab dan dingin sembari dihiasi gedung dan artefak kuno jaman dahulu kala.
***
Tok tok tok.... "Permisi Sir Aegis, ada kiriman surat untuk anda" suara yang kudengar pagi ini yang membangunkanku. "Oh Terima Kasih, kuterima ya suratnya" segera kutandatangani selebaran kertas yang diberikan kepadaku oleh anak muda pengirim surat ini yang terlihat sangat bersemangat, mungkin ini adalah hari pertamanya bekerja sebagai tukang pos pikirku.
Kubuka surat ini yang ternyata berasal dari Kantor Pusat, kubaca dan langsung melemparnya ke tempat sampah apartemenku. Surat itu menginformasikan bahwa waktuku untuk mengurusi proyek di kota Raddien ini diperpanjang selama setahun lagi, entah apa yang dipikirkan oleh atasanku hanya karena saat aku kecil pernah pindah sekolah selama 3 bulan di kota ini yang bahkan aku tidak punya kenangan dan wawasan akan kota ini sama sekali selain kenangan seram yang pernah terjadi yaitu jutaan kelelawar mendatangi, berterbangan dan menghinggapi seluruh kota. Yang kuingat itu adalah penyebab orangtuaku sangat ketakutan dan memutuskan pindah dari kota ini.
Lalu entah kenapa setiap kali diriku memantau proyek pembangunan, berkeliling kota ini untuk membeli kebutuhan sehari-hari dan makan di beberapa tempat makan, rasanya ada yang selalu memperhatikan dan mengikuti diriku. Semenjak keadaan yang seperti itu dan beban pekerjaan yang bertambah banyak membuatku semakin tidak nyaman untuk berada di kota ini. Namun tuntutan profesionalitas dan passion terhadap ilmu arsitektur membuatku tetap bertahan di kota Raddien ini.
***
Kota Raddien merupakan tempat terkenal sebagai kota dewa dewi, tempat pemujaan yang sangat terkenal sampai ke seluruh dunia namun di zamanku sekarang semua hanyalah cerita legenda biasa dari berabad-abad yang lalu yang telah jatuh bangun dari penjajahan satu ke lainnya, bencana alam, kehancuran politik, wabah penyakit, perang saudara hingga cerita legenda tentang Para Dewa Dewi yang menunjukkan diri mereka di Kota Raddien ini untuk mengingatkan manusia, menghukum manusia, untuk tunduk dan menyembah mereka.
Dalam sejarah lainnya mengenai kota Raddien ini dari kitab agama dan buku sejarah lainnya mengatakan bahwa tempat ini adalah tempat dimana Malaikat Yang Jatuh dibuang dan dilempar di kota ini bersama para pengikutnya dan leluhur-leluhur kota ini yang membangun kuil-kuil bagi Malaikat Yang Jatuh ini dan pengikutnya dijadikan sebagai Dewa Dewi mereka. Kekuatan, Ilmu Pengetahuan dan Keturunan yang diberikan para dewa dewi yang tinggal bersama dengan manusia pertama di tempat ini membuat Kota ini sebagai kota yang paling ditakuti, disegani dan dibenci. Perkawinan para malaikat dengan wanita-wanita menjadikan keturunannya manusia-manusia raksasa pertama di bumi, penemuan-penemuan fosil manusia raksasa ditemukan di kota ini namun berita-beritanya langsung hilang bak ditelan bumi dan tidak pernah diberitakan lagi seolah-olah ada yang ditutupi.
Lalu keanehan lainnya para penduduk yang terlihat seperti tidak memiliki agama, jarang terlihat acara ibadah atau perayaan besar keagamaan. Mereka sering terlihat hanya mengucap syukur kepada dewa ini dewi itu dan di saat mereka marah atau tidak menyukai sesuatu maka mengutuknya menggunakan dewa kematian atau perang.
Dari cerita legenda ini dibuktikan dengan banyaknya kuil-kuil, bangunan tua yang berusia ribuan tahun lalu dan tata letak kota yang hampir tidak jauh berbeda dari jaman dahulu. Perbedaannya hanya gedung modern yang tinggi mulai mengisi kota ini termasuk dari perusahaanku yang bergerak sebagai salah satu perusahaan developer real estate terbesar di negeri ini yang memberanikan diri untuk ekspansi di kota Raddien.