Kini Seonho menuntun tungkainya masuk ke dalam kamar, membuka pintu itu yang tidak di kunci oleh sang empu dan mendapati Hyungseob sedang duduk di sofa kecil sembari memainkan ponselnya.
Karna mendengar suara pintu terbuka, pemuda itu mendongakkan kepalanya, di balik pintu muncullah sosok sepupunya berdiri dengan senyuman khasnya. Kemudian, Hyungseob membiarkan Seonho duduk di bibir ranjang dan diikutinya.
"Tumben kamu ke rumah, biasanya bilang sibuk" seru Hyungseob sambil ia membaringkan tubuhnya.
"Iya kak itu kan aku emang sibuk, berhubung sekarang masih libur makanya aku mampir kesini sekalian mau kasih tau sesuatu" Lalu ia ikut berbaring di samping Hyungseob, dengan posisi tengkurap.
Yang lebih tua menoleh kearahnya, menatapnya antusias. "Gosip baru yaaa?" timpah Hyungseob.
Seonho mencoba memberi sedikit jeda, kemudian ia menatap wajah Hyungseob sekali lagi.
"Kak Woojin masih nanyain kamu kak" jawab Seonho.
Langsung saja Hyungseob merotasi kedua matanya dan kembali memfokuskan benda itu ke layar ponsel, seperti tak ada niatan untuk mendengar kelanjutkan cerita dari sepupunya.
"Basi!" katanya, lalu Seonho tertawa kecil, ia tahu bahwa Hyungseob paling malas untuk membahas Woojin, seorang pemuda yang menyukai kakak sepupunya sejak SMA.
"Dia maju tak gentar loh buat ngejer kamu kak, dari SMA sampe sekarang! Gila aja, cinta sejati nih kalo di bilang" goda Seonho, tiba-tiba Hyungseob menjitak kepala pemuda itu, sedangkan tawa Seonho semakin besar.
"Cinta sejati pala lo! Itu namanya gak tau diri, gue nya udah ada yang punya, masih aja ngejer eeww" ucapnya dengan ekpresi tak mengenakkan bak enek dengan pemuda yang bernama Park Woojin.
"Kasih kesempatan napa kak Woojinnya, dulu sebelum nembak aja kak Hyungseob udah nolak dia"
"Ogah! Eh kalo lo masih ngebahas dia, mending pulang deh" usir Hyungseob, sekali lagi Seonho tertawa kecil kemudian ia memulai topik baru..
"Oh iya, hubungan kakak sama kak Jinyoung gimana?"
"Adem-adem aja, ini besok mau kencan" Seonho mengangguk, lalu ia menatap langit-langit kamar itu. Cukup lama mereka terdiam, sampai Seonho membuka mulutnya lagi..
"Kak, gimana nyatanya kak Jinyoung udah nikah diem-diem sama orang lain?"
***
Hari ini, Jinyoung memiliki kencan dengan kekasihnya, ia menjemput serta memberi sentuhan-sentuhan rindu kepada pemuda manis yang sedang duduk di jok penumpang.
Kencan kali ini akan sedikit berbeda, biasanya mereka akan nongkrong di cafe atau di mall-mall besar. Namun hari ini, pemuda manis itu mengajaknya ke pantai, menikmati sisa liburan akedemik mereka yang sisa seminggu.
Kini, kedua pemuda itu tengah asik melihat air laut yang mengantar dirinya ke bibir pantai. Mereka sibuk bercengkrama dengan Hyungseob menyandarkan kepalanya di bahu lebar Jinyoung sedangkan si tampan merangkul pinggang si manis dengan mersa.
"Yang, aku kangen di masa-masa kita bisa kencan tiap hari, kalo sekarang udah jarang, kamunya sibuk banget" ucap Hyungseob pelan, lalu Jinyoung mengecup kepalanya.
"Maaf ya sayang, aku udah sebisa mungkin untuk ngatur waktu buat kamu"
Dan tidak terhitung lagi kebohongan dari mulut Jinyoung, sepertinya kebiasaan baru pemuda itu adalah berbohong.
"Kamu juga sekarang ngechat aku sekali sehari, padahal biasanya dari pagi sampe ke pagi lagi" Jinyoung tersenyum kecil, ia semakin mempererat rangkulan itu. "Maaf yaa, yang pentingkan aku ngasih kabar"
Hyungseob mengangguk, lalu ia melingkari kedua tangannya di perut rata Jinyoung.
Kini hari bertemu petang, awan yang biru menjadi jingga ditambah sinar matahari di ufuk barat kian meredup, pertanda bulan akan segera muncul.
Setelah menikmati suasana sunset pada hari ini, Jinyoung mengajak si manisnya pergi makan malam di restaurant yang tak jauh dari pantai tadi.
Keduanya menunggu kedatangan makanannya dengan Jinyoung menggengam tangan Hyungseob, sesekali mengecup lembut.
Seolah menyadari akan sesuatu, buru-buru ia melepaskan tautan tangan mereka. Jinyoung perlahan melepaskan cincin nikah tersebut dan meletakkannya di saku celana, untung saja Hyungseob tidak melihat benda kecil itu.
Dan demi terlihat natural, ia mengambil ponsel di sakunya, menscroll layar dan mulai menghapus semua pesan dan panggilan masuk dari Jihoon.
"Oh iya yang, aku denger dari Seonho kalo kamu deket sama dia akhir-akhir ini?" Jinyoung mendongakkan kepalanya, lalu mengangguk pelan. "Kamu kenal sama dia? Kita deket karna sering bahas tentang BEM, katanya ada niat mau masuk"
"Iya dia sepupu aku" lagi-lagi ia anggukkan kepalanya. Kemudian Hyungseob menatapnya dalam, seolah seperti memperhatikan gerak-gerik Jinyoung cukup lama.
"Yang, kamu gak selingkuhkan?" pemuda itu tersentak, dengan cepat ia fokuskan pandangannya kepada si manis dan menaikan satu alisnya ke atas.
"Ini udah sekian kalinya kamu nuduh aku selingkuh dan aku udah bosen sama pertanyaan itu. Padahal nyatanya aku gak pernah dan gak akan pernah selingkuh, niatnya aja gak ada" ucap Jinyoung panjang lebar, lalu Hyungseob terkekeh pelan.
"Ya maaf yang, aku cuma gak mau ada orang lain yang berhasil rebut kamu dari aku, kita pacaran dari semester satu dan itu udah termasuk lama" kini Hyungseob menatapnya teduh.
"Tapi jangan nuduh aku mulu, aku bosen" sedangkan Jinyoung menatapnya memalas. Otaknya langsung mengingatkan dirinya akan Jihoon, ia berani sumpah bahwa ia tak tahu hubungannya dengan Jihoon sudah termasuk selingkuh atau tidak. Makanya dengan tegas Jinyoung membantah hal itu di depan kekasihnya.
"Aku juga bosen! bosen cemasin tentang hal itu. Kamu tau gak kalo hubungan kita selalu aja jalan di tempat, aku mau sesuatu yang baru Jinyoung!"
Jinyoung kini memijat pelipis sebentar lalu kembali melihat Hyungseob yang terlihat sedang menahan amarahnya.
"Oke aku ngerti. Sekarang kamu maunya apa? Aku bakal lakuin biar kamu berhenti nuduh aku terus" ia menatap Hyungseob tepat di kedua manik cokelat itu, mengabaikan pelayan yang sedang menaruh pesanan mereka di atas meja. Sehabisnya, Hyungseob membuka mulutnya, mengutarakan keinginannya selama ini..
"Aku mau kita tunangan" ujarnya tegas dan pasti
Langsung saja Jinyoung membeku di tempatnya, tak lupa mulutnya yang terbuka kecil.
Lalu ia segera menghela nafas kasar, tepat di saat ia akan berbicara..
"Aku gak nerima alasan! Cukup ya Jin, kamu selalu aja ngasih aku alasan, basi tau gak! Pokoknya aku mau kita tunangan!" potong Hyungseob, lalu ia menangkap Jinyoung yang sedang mengusap wajahnya kasar, bak sebisa mungkin mengkontrol emosinya.
"Ahn Hyungseob.. denger ya, selama ini aku selalu nurutin kemauan kamu, kamu minta apapun aku kasih dan maaf aja untuk kali ini, aku nolak!"
Jinyoung beranjak dari tempat dan lantas ia pergi meninggalkan Hyungseob yang sudah hampir menangis di tempatnya.
Namun sebelum benar-benar pergi, Jinyoung menyempatkan diri untuk membayar semua pesanan mereka tanpa ia sentuh satupun. Kemudian ia memesan dan membayar taksi itu, lalu Jinyoung menyuruh supirnya menunggu sekaligus mengantar Hyungseob pulang.
***
Kini Jinyoung tengah berada di apartemen, duduk di ruang utama dengan pikiran yanh kacau balau akibat pertengkarannya tadi. Tak lama Jihoon muncul dari balik pintu kamar dengan wajah muram. Langsung saja Jinyoung menatapnya tajam,
"Kamu kenapa lagi?" tanyanya dengan nada yang sedikit tinggi, terkesan marah dan hal itu mampu membuat Jihoon tersentak kaget di tempat. Ia tak tahu kalau pemuda itu sudah pulang.
"Ih apaan sih baru pulang udah marah-marah" Jihoon mengerecutkan bibir, lalu Jinyoung berjalan mendekatinya.
"Maaf mood aku lagi jelek" yang lebih pendek melihatnya memalas, ia segera pergi ke dapur mengambil air minum diikuti Jinyoung dari belakang.
"Ji, kamu kenapa?"
"Gak apa-apa"
"Gausah bohong" lantas Jihoon menghentikan langkahnya sehingga kedua tubuh itu saling bertubrukkan, lalu ia membalikkan tubuhnya, kini, dengan tak sengaja Jinyoung melihat kedua manik Jihoon berkaca, langsung saja ia membawa pemuda manis tersebut dalam dekapannya.
"Kenapa lagi sih sayang.. akhir-akhir kamu sering emosional gini" ia mengelus kepala Jihoon, membiarkan pemuda itu menangis terlebih dahulu.
Tak lama, Jihoon mendongakkan kepalanya, kedua pipi gembil itu sudah cukup basah dengan air matanya sendiri.
"Aku mau di D.O Jin.."
Hari ini Jihoon mendapati kabar buruk bahwa ia akan di D.O dari kampus, kemudian Jinyoung mengerutkan keningnya..
"Loh kok bisa? Udah resmi di D.O gitu?" Jihoon menggelengkan kepalanya pelan, lalu menarik cairan itu masuk ke dalam lubang hidungnya.
"Baru rencana mau di D.O, terus mereka bilang sama mama kalo aku disuru transfer ke kampus lain aja" Jinyoung mengangguk mengerti sembari mengusap punggung Jihoon, menenangkan si manis.
"Untung mereka gak langsung D.O, malah ngasih saran yang lebih baik ke kamu. Udah gak usah nangis. Terus rencana kamu selanjutnya apa?" Jinyoung kembali menyandarkan kepala Jihoon di dada bidangnya
"Mama setuju kalo aku dipindahin aja.."
"Terus mau pindah kemana?"
"Ke kampus kamu" ujarnya pelan dan langsung kedua mata Jinyoung membesar sempurna. "HAH??"
TBC
Gaje bat dah nih chap:(
Typo?maapkeun..