Far (Kuroko Tetsuya x Reader)

By UzuruRikane

2K 240 11

Ingatan yang hilang kini kembali bersemu di pikiranku dengan samar-samar. Ingatan tentang mereka, dia, bahkan... More

Beginning - Prologue
I'll tell you the truth - Chapter 2
Sorry if its bother you - Chapter 3
Follow me - Chapter 4
Are you afraid right now? - Chapter 5

I know you - Chapter 1

356 44 1
By UzuruRikane

Sekitar seminggu aku sudah bersekolah di SMA ini. SMA Seirin.

Walaupun aku masih belum bisa berbaur dengan anak-anak di kelas, tapi setidaknya sudah ada beberapa orang yang telah berbicara padaku termasuk Miemi.

"Pagi, Mie-chan," panggilku sok akrab pada Miemi.

"Ah, pagi, [Name]-chan! Maaf, aku hari-hari ini sibuk sekali," balasnya tersentak.

"Tidak apa-apa, Mie-chan! Semangat dengan tugasmu! Memang berat menjadi ketua kelas," sorakku pada Miemi agar ia tampak tidak lesu.

"Ahaha.. Rasanya sangat berat. Padahal baru aja seminggu lebih 2 hari, kenapa tugas ketua segini banyaknya?" keluh Miemi kian menjadi.

Ia menaruh kepalanya ke atas meja dengan ekspresi putus asa. Aku hanya tersenyum tipis padanya.

"Ano... Chito-san," seseorang memanggil Miemi tiba-tiba.

"Hmm, ya―? Gyaaaa!!" nada Miemi yang semula lemah menjadi teriakan yang sangat keras hingga anak sekelas maupun diriku pun ikut terkejut.

"Eh, kenapa Mie―...chan? Eh? Se―sejak kapan kau di sini?!" aku pun ikut terkejut dengan keberadaan 'dia' ini.

Rambut bersurai lightblue dengan tatapan mata birunya yang terkesan sangat sangat datar, berdiri tepat di sebelahku.

Aku berpikir sejak kapan ia berdiri di sana? Dan... siapa dia?!

"Maafkan aku yang tiba-tiba berdiri di sini. Tapi aku sudah dari tadi di sini saat Chito-san sedang berbicara dengan [Surname]-san," jelasnya panjang lebar.

"E..eh.. begitukah.. Hah, bikin kaget saja. Ada apa, um... etto..." Miemi tengah mengingat nama anak ini.

Selama 5 detik ia tak bisa mengucapkan nama anak bersurai rambut lightblue ini.

"Kuroko Tetsuya, namaku," potongnya lembut.

"Ah, ya.. Kuroko-kun. Ada keperluan apa?" tanya Miemi dengan raut rasa bersalahnya.

Aku menatapi Kuroko dari balik punggungnya itu. Tinggi badannya bisa dibilang hampir sama denganku atau mungkin memang setinggi-ku?

"Oke, terima kasih," Kuroko hendak kembali ke bangkunya, namun,"Hm, ada apa, [Surname]-san?"

Tanpa sadar aku telah memandanginya kurang lebih 1 menit. Aku langsung menyadarkan lamunanku lalu menanggapinya.

"Eh... Tidak, tidak ada apa-apa, ahaha," tawaku masam.

Kuroko hanya menatap datar lalu beranjak menuju bangkunya. Mataku mengikuti dirinya hingga ia duduk di kursinya. Tak sengaja ia melirik ke arahku dan spontan aku langsung mengalihkan bola mataku dan kembali duduk seperti semula.

Kebiasaan melamunku terlalu bahaya! Ini sangat...memalukan sekali, keluhku pada diriku sendiri sambil menahan hangatnya pipiku saat kuelus salah satunya.

∞∞∞

Bel istirahat pun berdering. Para siswa-siswi langsung berhamburan keluar kelas menuju ke kantin atau tempat lainnya.

Aku masih menaruh kepalaku di atas meja dengan lemah. Otakku baru saja terkuras karena sebelum istirahat ini ialah pelajaran yang paling kubenci, Matematika.

Hah, sangat pasrah saat mengerjakan latihan soal itu. Entah kenapa angka dan huruf disatukan membuatku semakin mual melihatnya. Apalagi mengerjakannya.

"Huaahh... Eum.. Eh? [Name]-chan? Gak ke kantin?" tanya Miemi tiba-tiba sembari merenggangkan otot-otot lengannya yang tampak kaku.

"Ah... Rasanya malas sekali. Lagian hari ini aku lagi bawa bekal, rasanya berat mengambil bekal di tasku," jawabku dengan nada lumrah.

"Pfftt.. Segitu besarkah efek Matematika padamu? Aku masih ingat saat pelajaran tadi kau―"

"Ah~ Sudahlah jangan bahas itu. Tadi aku berada di ambang kematian," potongku sigap.

Aku melirik ke bangku belakang, di mana tempat Kuroko duduk. Entah kenapa spontan melirik padahal di sana bangkunya kosong tak ada penghuninya.

"Ano, [Surname]-san," panggil suara yang tak biasa ini.

Dengan kecepatan maksimum aku langsung duduk tegak dan menoleh pada sang bicara.

"A―ehem. Ada apa, Kuroko-kun?" tanyaku dengan sok elegan.

Padahal tadinya jantung serasa mau copot. Tiba-tiba ada makhluk tak diundang berada di sampingku.

"Boleh aku pinjam catatan Matematikamu? Catatanku tidak lengkap," pinta Kuroko dengan wajah datarnya.

"Eh...? Catatan Matematika, ya..." aku berpikir sejenak,"Mending minta Mie-chan aja, deh."

Aku melirik ke Miemi dengan pasrah. Miemi membalas tatapanku dengan tatapan pasrah juga.

"Ya, ya. Catatan yang mana, Kuroko-kun?" ucap Miemi dengan nada pasrahnya.

"Semua," jawabnya singkat.

"Eh?" satu kata dilontarkan Miemi dengan wajah makin pasrahnya.

"Baiklah, bawalah bukuku dulu, kalau sudah selesai, balikin, ya," ujar Miemi menyerahkan buku Matematikanya pada Kuroko.

"Terima kasih," Kuroko meraih buku tersebut lalu kembali menuju bangkunya.

Yang kupikirkan saat itu ialah, sejak kapan (lagi) ia tiba-tiba berdiri di sampingku?! Ini benar-benar mengesalkan.

∞∞∞

Saat pulang sekolah, aku pulang agak terlambat karena ada piket kelas. Sebenarnya aku ingin kabur dari piket kelas, namun Sang Ketua Kelas telah mengancamku. Oleh karena itu, aku terpaksa piket bersama 5 anak lainnya termasuk ... Kuroko? Dimana dia? Bukankah hari ini jadwalnya untuk piket?

Lagi-lagi tuh anak menghilang secara tiba-tiba dan muncul seenaknya. Ada yang salah dengannya.

Aku merapikan bangku-bangku kelas ini agar tidak semburat seperti tadi. Hingga ke bangku terakhir, bangku Kuroko, aku melama-lamakan merapikan karena penasaran bagaimana dia saat duduk di sini. Tanpa kusadari aku malah duduk di kursinya sambil bengong. Lalu―

"....]-san, [Surname]-san," seseorang memanggilku dengan nada yang familiar.

Aku reflek menoleh pada sumber suara. Membutuhkan sekitar 3 detik untuk benar-benar sadar setelah genjatan dari tubuhku sendiri. Aku langsung berdiri dan menyingkir dari bangku tersebut.

"A―Ah.. Maaf, Kuroko-kun. Aku malah ngelamun di bangkumu, sekali lagi maaf," ucapku menahan sipu karena kejadian barusan.

"Tidak. Tidak apa-apa, itu bukan masalah. Tapi, kenapa duduk di kursiku?" timpalnya.

Aku terdiam sejenak. Kenapa? Kenapa aku duduk? Aku sendiri bahkan tidak tau.

"Eh, ah, tadi aku niat merapikan bangkumu malah duduk di kursimu. Maafkan," ujarku rileks.

Hingga tinggal bertiga di kelas. Tiga anak piket lainnya sudah pulang. Kelas tampak sepi dan hening.

"Oi, [Surname]! Aku sudah membereskan semuanya! Kupamit pulang dulu, yak. Dah!" pamit salah satu teman sekelas laki-laki selesai piketnya.

Aku hanya melambaikan tangan padanya dengan senyum tipisku. Tapi tunggu, aku masih mencerna ucapan pamitnya padaku. Dia hanya menyebut namaku, tapi tidak dengan Kuroko?

Spontan aku menoleh pada Kuroko yang sedang berdiri tak jauh dariku duduk.

Dia masih disini padahal... Kenapa tadi hanya aku saja yang disebutkan?

"Ah, aku harus kegiatan klub sekarang. Boleh aku beranjak duluan?" kata Kuroko.

"Eh, ah.. un. Silahkan," jawabku linglung.

"Aku permisi dulu," ucapnya berjalan menuju luar kelas.

Aku hanya memandanginya berjalan dari belakang. Entah kenapa aku merasa familiar dengannya namun aku tak kenal dengannya.

Ia berhenti tepat di pintu kelas. Aku pun heran dengan apa yang dilakukannya. Ada apa tiba-tiba langkahnya terhenti?

Ia menoleh padaku dan menatapku dengan mata datarnya itu. Aku hanya bengong apa yang dilakukannya. Ya sudah, kubalas senyuman aja biar tidak canggung gini, bukan?

"[Surname]-san, ternyata kau memang benar-benar kehilangan ingatanmu, ya," ucapnya.

Lalu ia membungkukkan tubuhnya untuk mengucapkan permisi lalu pergi.

Aku masih diam bengong memikirkan ucapannya tadi. Ingatan? Ingatan apa yang dia maksud?

∞∞∞

Esok harinya, aku datang lebih awal karena pagi-pagi sudah saja diceramahi oleh Ayah.

Aku duduk di kursi lalu merogoh hpku yang ada di tas. Kunyalakan hpku itu lalu membuka pesan-pesan yang masuk.

Baru beberapa detik, Miemi datang dan duduk di kursinya yang berada di sebelah bangkuku. Ia tampak seperti habis dihajar oleh tugas yang sangat banyak. Ia tampak sangat lesu.

"Pagi, Mie-chan. Bagaimana klubmu kemarin? Rasanya kau tampak sangat capek sekali," komentarku padanya.

"Ah, pagi. Ya, kemarin benar-benar hari terburuk. Dan juga aku dipaksa mengikuti OSIS pula. Remuklah aku," keluhnya terus terang.

"Pfft, ketua kelas, udah gitu OSIS lagi? Yakin kau tidak apa-apa?" sindirku halus.

"Yaa... Lihat saja, mungkin aku jadi masokis kali ini, haha," tawanya kecut.

Aku hanya tersenyum saat melihat Miemi yang tampak di ambang kematian. Rasanya mengingatkanku pada pelajaran Matematika kemarin. Ah, sudahlah, jangan diingat-ingat.

Belum lagi itu, aku masih saja kepikiran dengan ucapan Kuroko kemarin. Ingatan apa yang dia maksud?

Aku hendak bertanya dengannya hari ini, tapi aku saja tidak melihat kehadirannya di bangkunya. Aku ingin memanggil namanya, baru saja mau tiba-tiba―

"Ada apa, [Surname]-san? Ada perlukah denganku?"

Suara itu selalu berhasil mengagetkanku. Dengan responku yang sama, seperti terkena serangan jantung namun kubersikap santai. Ia berdiri pas di sebelahku.

"A―ah.. Kuroko-kun. Pagi," sapaku yang masih shock dengan kemunculannya yang tiba-tiba.

"Selamat pagi, [Surname]-san," balasnya.

"Etto.. aku mau tanya. Maksud ingatanmu yang kemarin itu apa? Aku benar-benar gak tau apa yang kau maksud," tanyaku langsung pada intinya.

Ia terdiam seribu bahasa. Tanpa mematahkan satu kata pun. Aku hanya bisa sweatdrop melihat responnya yang cukup lama.

"Kalau kuberitau sekarang, mungkin kau bakal terkejut," itulah balasannya.

Aku semakin bingung―bak memutari gunung selama 20x―karena jawabannya yang menjengkelkan itu.

"Eh...? Apa maksudmu? Sepertinya―"

Baru saja mau membalas perkataannya, ia sudah menghilang duluan dari tempat ia berdiri tadi. Aku hanya memasang wajah jengkel karena sikapnya itu.

∞∞∞

Saat istirahat, aku rasa gedung olahraga sedang ramai sekarang. Aku bahkan tidak tau apa yang terjadi di sana. Aku memutuskan untuk pergi ke sana sendirian karena penasaran.

"Kise-kun!"

"Ah! Itu dia si copy Kiseki no Sedai, Kise Ryouta-kun! Ah~ Ganteng sekali."

"Dia sudah menjadi model sejak SMP anjir. Tampannya~"

Wajah datar, dengan tatapan yang datar pula, itulah reaksiku. Aku mengendap-endap memasuki gedung olahraga itu lalu melihat dari pojokan gedung.

Uwah.. Inikah gym basket? Lantainya mengkilap, batinku berbinar-binar.

"[Surname]-san, apa yang kau lakukan disini?"

Suara ini lagi. Untung saja aku sudah bisa mengatasinya walaupun, yah, terkejut sejenak dahulu.

"Ah, Kuroko-kun. Halo," sapaku ramah.

"Doumo," balasnya singkat.

"Aku hanya penasaran apa yang terjadi di sini. Rupanya ada latih tanding, ya?" ucapku berseri.

"Ya. Kami akan melawan SMA Kaijou," balasnya.

"Eh? Kami? Jangan-jangan kau―"

"Oi, Kuroko sialan! Ayo kita segera lawan si Kise Sialan itu! Aku sudah muak dengannya!" teriak Kagami Taiga dengan amarahnya yang meluap.

Eh? Kuroko-kun ikut basket? Dan...anak itu sekelas denganku juga, kan? Kagami Taiga, pikirku bertanya-tanya.

"Baiklah," Kuroko menuju ke tempat para tim berkumpul.

Aku melihat orang yang bernama Kise Ryouta itu. Rasanya aku pernah melihatnya, tapi kapan dan dimana?

Tanpa sengaja mataku bertemuan dengan mata Kise Ryouta. Hanya sekilas saja aku langsung mengalihkan pandanganku dan berjalan keluar gym.

Baru beberapa senti dari pintu gym, ia seperti mencegahku melangkah lebih jauh. Hanya dengan memanggil namaku yang bahkan keluar dari mulut orang yang tak kukenal.

"[Surname]-cchi? Kau [Surname][Name]-cchi, kan?" panggilnya, si Kise Ryouta itu.

Para cewek yang mengerubunginya langsung menoleh padaku dengan tatapan sinis. Aku pun spontan menoleh karena ia jelas-jelas memanggil namaku.

"A―ya?" itulah yang kulontarkan dari mulutku.

Seketika suasana gym mendadak hening. Seisi gym memandangiku karena suara Kise Ryouta yang memanggil namaku.

"Kau... Kau masih ingat aku? Kise Ryouta dari SMP Teikou dulu! Masih ingatkah?" tanyanya berseru.

Seisi gym masih saja hening karena mungkin bingung dengan apa yang terjadi sekarang.

Aku bingung menjawabnya karena aku bahkan tidak kenal dia ini siapa.

Hanya beberapa detik, ia sudah langsung mengucapkan sepatah kata lagi.

"Ah.. Rupanya tidak ingat, ya. Kalau begitu, mau kubantu mengingatkan ingatan mu itu?" tawarnya semakin membuatku bingung.

Kali ini pembicaraannya sama dengan Kuroko. Semakin berbelit-belit dan aku bingung maksud mereka.

"Berhentilah, Kise-kun. Jangan membuat [Surname]-san mengingat hal itu lagi," potong Kuroko yang kini membuat seisi gym berpindah pusat perhatian.

Aku semakin bingung bahkan bingung sekali dengan maksud omongan mereka. Hah? Ingatan apa yang kalian maksud?!

"Ka...kalau begitu aku permisi dulu," aku langsung berlari meninggalkan gym menuju kelas.

Rasanya kepalaku pusing sekali. Padahal hanya masalah tentang ingatan, ingatan, dan ingatan.

Ingatan apaan, sih?! Aku bahkan gak kenal mereka! Apa yang mereka bicarakan, hah??
―――――――――――――――――――
Far, I know you - Chapter 1, End.
Story created by Uzuru Rikane
―――――――――――――――――――
Author's Note :

Yahoo~! Selamat sudah membaca chapter 1! Rika cuma mau bilang terima kasih sudah membaca fanfic ini! Untuk seterusnya, mohon bantuannya xD

Here's, bonus for you. The cover's pic ฅ^>ω<^ฅ


And I'll post Chito Miemi's bio and her design! Tapi di chapter selanjutnya~

Don't forget to votes every chapter in this story! (๑ºั ³ ˘๑)♡

To be continued

Continue Reading

You'll Also Like

6.4K 524 17
[COMPLETED ✅] Aku mungkin tak akan tahu kalau bertemu dengan mereka adalah sebuah takdir... / VOMMENT TQ / DLDR! Thank you~ / REPUBLISH from FFN / Bo...
162K 13.6K 64
(COMPLATE) High Rank: #1-animefanfiction #1-xreader #1-kurokotetsuya #1-akashiseijuuro #1-knb YOUR MOVIE [Kuroko no basuke Various X Reader] merupak...
80.9K 8.8K 43
Fobia. Semua orang tahu itu apa, kan? Lantas, bagaimana kisah kalian dan dirinya, yang ditemani oleh berbagai macam fobia? 【 De' Phobias、 】 kuroko no...
25.7K 3.2K 30
Saat kejadian di Inggris membuat [Your Name] melupakan masa lalunya bahkan hanya mengingat keluarganya yang tidak begitu peduli padanya. Ternyata di...
Wattpad App - Unlock exclusive features