Eror, mohon di vote dan comment ulang. Vomment nya di part ini aja yaa
Maaf ya ini chapter pendek. Semoga suka
Sebelumnya di Kenzie:
Kenzie mendekap Aleina mesra. Aleina berusaha melepaskan dekapan Kenzie, tapi tatapan Kenzie begitu menghipnotis. Tatapan tajam Kenzie seperti melemahkan Aleina dan Bibir Kenzie bergerak mencium bibir Aleina
Di Rumah Aleina
Bibir Kenzie bergerak mendekati bibir Aleina. Namun sesaat sebelum bibi mereka bersentuhan, ia terhenti, seperti ada sesuatu yang mengganjal di hatinya. Tepat di saat ia berhenti Aleina mendorong badannya dan menamparnya keras. Bekas tamparan Aleina menimbulkan bekas merah di pipi putih Kenzie.
"Gila lo, Zie!" teriak Aleina marah.
Kenzie menyadari kebodohannya dan duduk sambil mengacak rambutnya frustasi. Ia meratapi kebodohannya barusan. Ia hampir saja melakukan kesalahan fatal.
"Na, maafin gue, na. Gue gak tau apa yang gue pikirin. Gue merasa bersalah sama lo."
"Lo cuman bikin keadaan makin buruk. Zie, berubah dong. Mikir kalau mau ngapa-ngapain," kata Aleina sambil berdiri di pojok ruangan, menjauhi Kenzie. Kenzie menuju ke beranda rumah Aleina untuk mencari udara segar. Ia butuh merokok untuk meredakan kekalutan pikirannya.
Aleina menyusul keluar dan melempar mawar putih dari Kenzie. "Lo mau maaf gue? Gue udah bilang, gue udah maafin. Buat apa kayak gini?" ujarnya terisak.
"Gak gitu, Na. Gue merasa bersalah. Gue gak tau apalagi yang bisa ngilangin rasa bersalah gue ke lo. Kesalahan gue di Bali tuh terlalu besar ke lo. Gue cuman mau buat lo seneng, lo bahagia. Gue gak tau kenapa gue bisa bilang cinta sama lo. Gue gak ngerti, itu gue kenapa. FUCK! Gue gak ngerti ama diri gue sendiri."
"Lo selalu kayak gitu. Lo gak tau apa yang lo mau. Lo gak pernah mikir. Lo terbiasa dapet semuanya. Lo gak pernah mau milih. Lo mau dapetin semua yang lo mau, tanpa mikir perasaan cewek. Cewek itu orang, bukan barang barang mahal lo itu. Lo gak bisa dateng dan pergi gitu aja. Lo pikir! Lo sakitin Meiza!"
Kenzie mencoba menahan air mata penyesalannya. Aleina tau Kenzie benar benar menyesal.
"Jujur ama gue. Kenapa lo ngelakuin kayak gini?"
"Gue kepikiran aja tadi, spontan gue lakuin. Sorry Na, gue gak mikir panjang."
Aleina mencoba menenangkan dirinya. Ia tau dia dan Kenzie sama-sama sedang kalut.
"Zie, gue ngerti lo lagi kalut. Tapi udah. Sekarang mumpung belum terlambat. Mumpung lo belum terlanjur ngehianatin Meiza. Gue mohon ya, sama lo. Tinggalin gue. Gak usah datengin gue dulu, at least saat-saat ini. Kita kira kita bisa biasa-biasa aja. Ternyata enggak bisa kan? Lo malah kayak gini? Gue bisa ngehancurin hubungan lo sama Meiza dan gue gak mau."
Kenzie tidak menjawab dan hanya memandang kosong ke arah Aleina. Ia mengerti apa yang Aleina maksud.
"Jadi kita bakal balik lagi jadi dua orang yang udah kayak stranger, Na?" tanya Kenzie.
Aleina mengangguk. "Dalam hidup lo gak bisa dapat semuanya kan? Mumpung semua belum telat, gue rasa ini yang terbaik. Gue cuman minta satu buat lo, mungkin buat yang terakhir. Boleh kan, Zie?" tanya Aleina sambil terisak. Kenzie menahan diri untuk tidak memelu Aleina saat itu. Kenzie memang paling gak bisa ngelihat cewek nangis di depannya.
"Apa, Na?"
"Jadi cowok yang baik buat Meiza. Kontrol diri. Jaga diri lo dan nafsu lo. Itu kelemahan lo, Zie. Lo mau semuanya, lo serakah. Itu bisa menjatuhkan lo. Lo itu orang baik, lo itu hebat, Zie. Gue percaya lo tuh berhati emas, cuman itu aja. Lo gak bisa kontrol diri lo. Lo ngikutin semua keinginan sesaat lo dan lo bakal nyesel."
Kenzie mengangguk tidak bersuara.
"Meiza cewek baik. Gue aja yang cuman seminggu di Bali bisa patah hati separah itu ketika tau kelakuan lo. Apalagi Meiza? 9 tahun loh kalian bareng. Jangan lepasin dia, Zie. Lo yang akan nyesel," tambah Aleina lagi.
Kenzie maju dan menepuk pipi Aleina. "Thanks, Na. Maaf ya sekali lagi."
"Samperin Meiza. Lo lihat dia. Lo akan ingat kenapa lo dulu jatuh cinta. Jujur sama dia, Zie. Jangan ada yang ditutupin. Ingat, gue akan bahagia kalau ngeliat lo bahagia sama Meiza."
Kenzie tidak berkata apapun kecuali bisikan pelan, "Bye, Na." Ia berbalik dan melangkah menjauhi cinta pertamanya itu. Mungkin memang benar, ini semua sebuah kesalahan. Selama ini Valdo benar. Aleina itu masa lalu. Masa depannya adalah Meiza. Ia hanya terlalu terlambat menyadari semua itu.
---
Dear Kenzie Rezkytama.
Aku tau aku berbohong ketika aku mengatakan aku tidak mencintaimu lagi, sang cinta pertamaku. Pria pertama yang membuatku jatuh cinta. Aku selalu mencintaimu. Bahkan sampai saat ini.
Maaf kalau aku tidak bisa mengatakannya kepadamu. Aku bukanlah lagi orang yang tepat untuk ada di hidupmu. Biarlah kenangan kita ada di masa lalu.
Aku mencintaimu, tapi di saat yang sama aku marah kepadamu. Luka yang kamu goreskan terlalu dalam untuk bisa sembuh. Namun aku mencoba untuk mengikhlaskan semuanya. Aku sudah menjalani hidup yang baru.
Aku harus memendam cinta ini demi prinsipku. Aku tidak akan menyakiti hati perempuan sebaik Meiza. Yang bahagia, ya Zie, sama Meiza. Jadi pria baik. Jangan biarkan Meiza menanggung rasa yang sama dengan apa yang aku rasakan. Semoga semuanya belum terlambat.
Good bye, my first love
Aleina menulis ungkapan hatinya di secarik kertas. Ia tidak tau apa yang harus ia lakukan dengan kertas itu. Aleina memasuki ruang meditasinya dan berusaha untuk menghilangkan semua pikiran negatif dari otaknya. Ia menyalakan lilin untuk membantunya fokus.
Aleina mencoba fokus namun tiba-tiba ia terpikir sesuatu. Ia mengeluarkan kertas berisi ungkapan hatinya tersebut dan membakarnya di lilin yang menyala, seperti ia telah membakar semua perasaanya untuk Kenzie.
Di depan rumah Meiza
Setelah semua yang terjadi di malam ini, Kenzie memutuskan untuk menemui Meiza. Ia ingin sekali memeluk pacarnya itu. Ketika ia sudah sampai di depan rumah Meiza, ia menelpon Meiza, tapi tanpa diduga Meiza sudah duduk di teras rumahnya dengan nada muram.
Kenzie turun dan melangkah masuk ke teras rumah Meiza.
"Hei, ngapain lo di luar?" tanya Kenzie. Meiza diam saja. "Kok mukanya ditekuk?" tanya Kenzie lagi.
Meiza hanya menjawab pelan sambil menggeleng seakan-akan tidak ada apa-apa.
Kenzie duduk di sebelah Meiza dan memeluk Meiza mesra. "Egggh" Kenzie bersendawa.
"Belum makan ya?" tanya Meiza.
Kenzie menggeleng.
"Kebiasaan. Entar sakit lagi," ujar Meiza masih dengan nada datar. Meiza mengajak Kenzie masuk ke dalam rumahnya.
"Makan dulu, gih."
Kenzie duduk di ruang makan sederhana Meiza dan Meiza menghidangkan nasi ayam dan telur dadar kesukaan Kenzie.
"Istri idaman banget sih," gombal Kenzie. Namun berbeda dengan biasanya, tidak ada tawa salting ala Meiza. Meiza hanya diam dan memberikan obat maag kepada Kenzie untuk diminumnya sebelum makan.
"Perut dijaga dong," lanjut Meiza lagi.
"Uhh, iya calon binikuuu. Sayangku kenapa sih?" Kenzie berusaha sok-sok mesra karena ia menyadari ada yang aneh dari Meiza. Apa Meiza tau? Gak mungkin!
Meiza meninggalkan Kenzie yang sedang makan. "Gue ngurus sesuatu bentar. Gue tunggu di luar aja," kata Meiza sambil melengos pergi begitu saja dari ruang makan. Kenzie menyadari ada yang aneh dan langsung berhenti makan dan tidak menghabiskan makanannya. Ia menyusul Meiza yang masuk ke dalam kamarnya. Kenzie langsung membuka kamar Meiza. Meiza biasanya langsung mengamuk kalau Kenzie masuk kamarnya tanpa izin, tapi ini Meiza hanya diam dan duduk di kasurnya memandang kosong.
"Mei, ada apa? Cerita dong," Kenzie duduk di sebelah Meiza dan merangkul Meiza. Kenzie mencium Meiza tapi Meiza berontak.
"Gue udah ada feeling beberapa minggu ini lo berubah. Kita bukan orang baru kenal, Zie. 9 tahun loh kita kenal. Lo gak bisa bohongin gue. Gue sadar kok, ada cewek lain ya?" tanya Meiza langsung to the point. Air mata Meiza mulai menetes. Sesak di dadanya tak bisa ia tahan lagi.
"Mei, kenapa ngomong gitu?"
"Aleina kan?" kata Meiza yakin, langsung to the point.
Kenzie tidak menjawab. Ia tidak bisa lagi membohongi Meiza. Ia tidak tega lagi mengarang alasan untuk mentupi semua perbuatannya.
"Gue gak ngapa-ngapain sama dia, Mei," jawab Kenzie lagi.
"Lo ada hubungan apa sama Aleina?" tanya Meiza dengan nada yakin. Ya, Meiza yakin bahwa Kenzie sudah berbohong padanya.
"Dia mantan gue, Mei."
"Menurut lo gue segampang itu diboongin?" sindir Meiza.
Kenzie tidak menjawab sindiran Meiza. Ia hanya memeluk Meiza makin erat. Air mata Meiza mengalir deras.
"Gue curiga Zie, beberapa minggu ini lo berubah banget. Gue jadi bukan prioritas lo. Gue gak bisa jelasin, tapi gue sadar aja,"
"Mei..." Kenzie mengelus rambut pendek Meiza. Meiza hanya menangis pasrah di pelukan Kenzie.
"Lo inget kan pas lo baru ganti Iphone X, lo kasih password apple ID dan email lo ke gue buat downloadin app-app yang lo butuh. Gue bener bener lagi feeling gak enak dan gue masukin findfriends hp lo di hp gue. Gue bisa nge-track lo ke mana. Gue tau ini salah, tapi feeling gue bilang ada yang salah," cerita Meiza.
Kenzie melongo dan menyadari selama ini Meiza tau. Ya, Meiza tau keberadaanya di saat ia berbohong. Semua kebohongannya, Meiza sudah mengetahuinya.
"Pas lo bilang di apartemen, lo di Chryssantine. Lo tadi ke kemang selatan, rumah Aleina kan? Ngaku aja, Zie. Tolong jangan bohongin gue lagi," suara Meiza terisak. Kali ini dada Kenzie ikut sesak melihat betapa hancurnya ekspresi Meiza saat ini. Belum lagi kegundahan yang ada di hatinya. Hati Meiza pasti sangat hancur.
Kenzie sudah tidak bisa berbohong lagi dan ia menceritakan seluruh hal yang ia lakukan bersama Aleina. Setiap kata terucap dari mulut Kenzie, semakin sakit rasa hati Meiza.
"Dia cewek baik," ujar Meiza setelah Kenzie menceritakan ceritanya.
"Mei, gue gak ngapa-ngapain sama dia. Maafin gue ya, Mei."
"Lo gak pernah berubah ya? Gue jadi mikir mungkin lo emang gak akan pernah bisa berubah," Meiza menutup wajahnya mencoba menyembunyikan kesedihan wajahnya.
Kenzie berjongkok di hadapan Meiza sambil berusaha menghapuskan air mata Meiza. Namun tangan Meiza menepis tangan Kenzie.
"Gimana kita jauh? Gimana kalau gue di sana?"
"Mei, gue gak ngapa-ngapain. Mei, gue mohon maafin gue ya."
"Bilang sekarang, lo gak sayang sama Aleina."
"Mei, gue sayangnya sama lo. Lo percaya kan?"
"Kenyataanya lo gak bisa dipercaya. Gue bego nganggep lo bisa berubah. Mau apa lagi selanjutnya? Selingkuh pas gue di sana? Lo mau ngapain lagi? Kalau kita nikah lo masih kayak gini, Zie? Percuma berhubungan kalau gak bisa komitmen."
"Mei, gue salah. Gue bener bener mohon maaf,"
"Inget kan yang gue bilang waktu itu. Sekali lagi lo selingkuh, kita putus."
Kenzie pun akhirnya tak kuat pula menahan air mata. Air matanya menetes perlahan depan Meiza. "Mei, kita bisa coba lagi, Mei."
"Gue juga gak mau putus, Zie. Gue sayang sama lo. Cuman gue capek, capek dibegoin, capek dibohongin. Gue gak bisa pergi ke sana dengan kayak gini. Kehilangan kepercayaan sama pacar sendiri. CAPEK TAU GAK DIBEGOIN KAYAK GINI. IYA GUE BEGO! PUAS LO!!" Meiza tak bisa lagi mehana emosinya. Ia menampar pipi Kenzie.
Kenzie hanya tertunduk tak bisa melawan. Yap, ia sadar ia ada di posisi yang salah.
Meiza menghela napas. Ia mengingat pesan ayahnya. Kontrol emosi. Perempuan yang anggun tidak seharusnya berteriak-teriak.
"Gue juga gak mau putus. Tapi gue sudah hilang kepercayaan sama lo. Gue butuh waktu mikir. Gue turutin kalo lo gak mau gue deket-deket Rey. Tapi apa? "
"Mei seminggu lebih lagi lo berangkat. Ayo, kita perbaikin ini," ujar Kenzie berusaha meyakinkan Meiza.
"Zie, tolong keluar, gue butuh waktu mikir."
"Mei, gue mohon. Gue bener-bener mohon. Gue sayang sama lo."
"Lo terlalu gampang ngomong sayang."
"Mei... Please, Mei."
Yap, saat itu Kenzie Rezkytama kehilangan semua kehebatannya. Kenzie Rezkytama yang punya segalanya balik memohon cinta dari seorang gadis yang sudah ia sakiti. Karma itu ada. Meiza menunggu cinta Kenzie selama bertahun tahun dan saat ini Kenzie kembali memohon keluasan hati Meiza untuk memaafkannya. Namun saat ini Meiza terlalu kalut.
"Gue mohon keluar. KELUAR!" Meiza membentak Kenzie lagi.
Kenzie mundur. Ia malu. Malu pada dirinya yang tidak bisa menahan nafsunya. Malu pada dirinya yang labil.
"Mei, gue janji kita bakal nemuin jalan keluar. Gue sayang sama lo. Gue bakal perjuangin lo. Gue bakal.."
"Bullshit lo, Zie!"
Meiza menutup pintu kamarnya. Kenzie berjalan gontai ke luar rumah Meiza.
"IYA MEI. GUE BEGO! GUE GAK PANTES BUAT LO!" teriak Kenzie dari luar rumah. Ia membanting pintu mobilnya. Penyesalan selalu datang terlambat. Kenzie akan belajar, bahwa terkadang maaf tidak datang dua kali.
Malam itu merupakan malam yang paling menyiksa untuk Meiza. Gadis itu meratapi betapa pahlawan hatinya menghancurkan kepercayaanya untuk kedua kalinya. Emotional cheating is much more hurtful than physical cheating. Banyak pertanyaan yang ada di pikiran Meiza. Dia terlalu emosi untuk mendengar penjelasan Kenzie. Hati Meiza sudah sulit untuk mempercayai Kenzie.
Ya, Meiza harus tau apa yang sebenarnya terjadi.
Apa yang Kenzie lakukan dengan Aleina? Apakah hati Kenzie terbagi. Malam itu merupakan malam yang menyesakkan. Hingga Meiza tak kuat lagi dan membuka handphone-nya.
"Na, besok kita ketemu ya. Mau ngomong sesuatu."
Bersambung
PErtanyaan
Halo gimana nih?
1. Gimana pendapat soal kelanjutan Kenzie?
2. Apa yang membuat Meiza bisa memaafkan Kenzie?
3. Gimana kira-kira pertemuan kedua gadis itu?
4. Bener gak kata Aleina Kenzie sebenernya baik dan berhati emas, cuman gak tau apa yg dia mau, serakah, dan gak bs nahan nafsu ?