-Niall's POV-
Pagi-pagi sekali aku mendapati Flora sudah sarapan berdua dengan laki-laki yang bernama Revan itu. Aku sama sekali tidak tau apa hubungan nya Flora dengan Revan, mereka berdua terlihat sangat dekat sampai-sampai aku harus menahan emosi ku sejak 3 hari yang lalu Revan datang dan menginap di rumah ini.
Jadi kesempatan ku untuk mendekati Flora jadi sedikit, terlebih lagi Flora dari kemarin dengan Revan pergi terus. Seperti lem yang tidak bisa di pisahkan. Yang paling membuatku panas adalah, setiap kali bangun pasti aku sudah melihat pemandangan yang sangat tidak enak di pandang.
Flora bergelayut manja di lengan Revan.
Arghhhhhhh!!!
Aku duduk di samping Revan, dia tersenyum ke arah ku dan aku balas dengan pelototan ku, mungkin dia mengerti makna dari pelototan ku apa. Dia melanjutkan makan nya lagi sedangkan aku memperhatikan Flora yang masih sibuk dengan roti panggang nya.
"Flora apa kau hari ini ada acara? Aku ingin mengajak mu pergi bisa kah?" Aku berbicara duluan, Flora langsung mendongakan wajah nya ke arah ku.
"Uhm... Sorry Ni, hari ini aku akan pergi bersama Revan sehabis sarapan. Tidak apa-apa kan? Soalnya Revan juga yang sudah mengajak ku pertama duluan. Seharusnya kau bilang pada ku sejak kemarin, jadi aku bisa mengatur Schedule ku."
"Oh Okay kalau begitu Flora, bagaimana dengan besok?" Tawar ku lagi berharap dia mau.
Flora terlihat sedang berfikir-fikir, sedangkan di samping ku Revan sedari tadi hanya tersenyum penuh arti, "Sorry Niall. Mungkin 5 hari ini aku akan lebih menghabiskan waktu ku bersama Revan. Mungkin Hari selasa? Jemput aku sehabis dari kuliah?"
Aku hanya mengangguk pasrah, dari pada sama sekali tidak jalan berdua dengan Flora ya kan? "Kalau begitu hari selasa aku jemput kau sehabis kuliah Okay," Aku beranjak dari duduk ku, aku belum sama sekali menyentuh sarapan ku, "Dan aku harap kau cepat-cepat pergi." Bisik ku tajam di telinga Revan.
Seperti nya Flora tidak mendengar nya? YES!
***
Rencana ku hari ini adalah, aku akan mengikuti kemana pun Flora dan Revan pergi. Aku tau ini gila, tapi bisa saja kan kejadian yang lalu saat Flora dengan laki-laki bajingan itu hampir mengapa-ngapakan dia? Meskipun aku belum tau sampai sejauh ini ada apa hubungan di antara Flora dengan Revan.
Bisa saja kan mereka MANTAN Kekasih?!
Pikiran ku sudah negative saja? Tapi kalau benar bagaimana? Kalau Revan ingin mengambil hati Flora lagi. Terlihat dari wajah Mom nya Flora yang tidak keberatan saat Flora terus bersama Revan.
Aku mengendarai motor ku dengan kecepatan di bawah rata-rata dengan tetap memepertahan kan posisi ku ada di belakang mereka. Yang menjadi masalah nya, kenapa Flora tidak keberatan saat menaiki motor dengan Revan? sedangkan dengan ku, kami berdua harus berdebat dulu, dan di pastikan yang kalah perdebatan nya adalah aku.
Motor Revan berhenti di depan sebuah Vintage Cafe untuk anak muda begitu, aku gaka jauh memakirkan motor ku di depan restoran China.
Sebelum masuk ke dalam Cafe aku memakai Snapback ku dan juga kumis tipis kecil, bagaimana pun juga nama nya juga mau mengikuti jangan sampai ketahuan dong ya?
Aku mengambil posisi di belakang mereka, tepat nya aku membelakangi duduk Flora. Aku mulai berpura-pura membaca Menu dan mendengarkan apa yang mereka berdua bicarakan.
"Sudah lama sekali ya kita tidak berdua ke Cafe ini, sudah berapa tahun kira-kira? 3 atau 4 tahun mungkin?" Kata Flora dengan nada suara yang ceria.
"Begitulah. Aku juga rindu sekali dengan Cafe ini, apalagi datang kesini dengan mu Flo." Balas Revan basa-basi. Lebih baik aku mendengar suara Flora deh.
"Sebenarnya kau rindu atau tidak padaku sih Rev? Kau kelihatan tidak nyaman sekali dekat dengan ku, apa ada sesuatu yang kau pikirkan akhir-akhir ini?" Tanya Flora penuh selidik.
"Tentu saja aku rindu pada mu Flora! Hanya saja aku tidak ingin menceritakan ini pada siapa pun dulu, mungkin sehabis kita dari sini aku akan coba jujur pada mu." Jelas Revan. Pasti ada yang di sembunyikan dari Flora!
Aku cukup bosan mendengarkan mereka berbincang-bincang dari tadi, hampir saja aku tertidur karena saking bosan nya tidak melakukan apa-apa kecuali melihat menu yang ada di depan ku, dan berterima kasih pada pelayan Cafe yang memperingati kan ku. Mungkin mereka bingung sejak setengah jam yang lalu aku hanya duduk tidak memesan atau melakukan apa-apa.
Aku merasakan sudah tidak ada suara Flora dan Revan lagi, saat aku melihat kebelakang ku, dan benar meja itu sudah kosong! Tidak ada lagi Flora dan Revan! Sial aku ketinggalan, jadi mereka pergi kemana sekarang?!
Aku buru-buru bertanya pada pelayan yang lewat di depan ku.
"Ada yang bisa saja bantu tuan muda?" Tanya nya Sopan sambil membungkuk.
"Apakah tadi kau melihat dua orang yang duduk di sini pergi kemana?" Kata ku to the point.
"Maaf tuan muda, tapi saya benar-benar tidak tau pengunjung yang tadi duduk di meja ini pergi kemana." Jawab nya sopan.
SIAL! "Kau benar-benar tidak tau mereka berdua pergi kemana?" Tanya ku gemas sekali lagi.
Pelayan itu hanya mengangguk.
"Apa kau tadi tadi motor yang di tumpangi mereka pergi ke arah kanan atau kiri jalan?" Tanya ku sambil menunjuk jalan di depan Cafe.
"Seperti nya mereka berdua ke kanan jalan tuan."
"Apakah kau yakin?"
Okay mungkin aku terlalu cerewet sampai-sampai pelayan itu hanya mengangguk lagi.
"Okay terima kasih." Aku langsung mengambil dompet dan mengeluarkan beberapa dollar dan menaruh nya di atas meja, ya hitung-hitung sebagai uang menunggu tadi.
Aku keluar dari Cafe dan langsung menyalakan motor ku dengan cepat. Aku melajukan motor ku dengan cepat sambil melihat kanan-kiri mencari dimana keberadaan mereka berdua, apalagi mereka pergi nya sudah dari tadi. Sial nya, aku tidak menyadari nya.
***
Sudah sekitar 1 jam aku memutari kota London sepanjang jalan, dan sama sekali tidak melihat ada nya motor yang plat nomor motor nya milik dia. Aku sudah ke Mall, pusat perbelanjaan, Karnaval sampai rumah sakit ternama di London juga sudah.
Aku menyerah, aku memakirkan motor ku di sisi jalan yang agak sepi dan berjalan ke sebuah taman yang ada danau buatan nya, bisa di bilang ini adalah taman pinggir kota, karena memang di taman ini tidak terlalu ramai di kunjungi.
Aku berjalan sampai pinggir danau dan sesekali melempar batu dengan bebas ke danau utuk meluapkan rasa kesal ku. Karena, aku pikir melakukan ini sangat tidak berguna, dan mungkin Flora dan Revan sudah pulang duluan, aku berbalik menjauhi danau.
Akan tetapi aku mendengar suara tawa renyah yang familiar. Aku yakin suara tawa itu adalah milik Flora, aku gini-gini kan sudah menghafal suara calon istri ku sendiri. EHEM.
Aku mulai mencari-cari darimana suara Flora berasal, and GOTCHA! Aku melihat Flora dan Revan yang sedang duduk di kursi kayu berdua, mereka tertawa dan wajah Flora terlihat bahagia?
Aku segera mengendap-ngendap dan untung nya di belakang mereka ada sebuah pohon besar dan semak-semak, di situ bisa menjadi tempat untuk mendengar apa yang mereka bicarakan. Untun nya aku tadi belum pulang duluan.
Aku melihat sedikit dari celah semak-semak, "Aku ingin jujur soal yang tadi aku bicarakan di Cafe Flo." Ucap Revan ragu-ragu sambil menggenggam kedua tangan Flora.
"Apakah ini sangat serius dan penting? Sampai-sampai kau takut untuk berkata jujur tentang hal itu pada ku. Ceritakan lah mungkin aku bisa membantu mu." Flora tersenyum hangat ke Revan, andaikan aku yang mendapatkan senyuman itu?!
"Tapi kau berjanji, saat aku menceritakan nya jangan sekali-sekali kau memotong pembicaraan ku, dan jangan marah pada ku please." Revan memohon pada Flora dan makin mempererat genggaman nya pada tangan Flora.
"Baiklah aku berjanji Rev, mungkin setelah kau bercerita aku bisa memberimu solusi untuk jalan keluar dari masalah mu itu." Balas Flora lembut. Baru kali ini aku mendengar suara Flora selembut itu astaga?! Berbicara dengan ku saja dia harus menarik urat leher nya dulu.
"Aku menghamili seorang wanita," Aku kaget! Bagaimana tidak?! dia menghamili seorang wanita! Ku lihat wajah Flora langsung berubah drastis, "Wanita itu adalah pacar ku Flo, aku bingung karena aku belum siap jadi ayah," Jelas Revan dengan raut wajah sedih, "Aku takut jika keluarga nya menolak ku karena telah melukai putri semata wayang mereka."
"Apa yang harus aku lakukan. Aku takut dia tidak mau emenrima ku lagi." Lanjut Revan lagi.
Flora mulai membelai lembut pipi kanan Revan. Aku juga mau diperlakukan seperti itu dengan Flora?! Stop stop stop ini bukan waktu nya untuk iri.
"Temuilah dia, bilang pada nya dan ke keluarga nya kalau kau menyesal dan siap bertanggung jawab. Apalagi wanita itu pacar mu bukan? Sudah pasti kau mencintai nya sampai kau bisa melewati batas dan melakukan bersama pacar mu itu. Aku yakin kalau kau berbicara baik-baik dan menjelaskan semua nya dengan pacar keluarga mu pasti mereka mengerti, dan mereka menerima mu sebagai menantu nya.
"Lagian umur mu sudah cukup untuk menjadi seorang ayah, 26 tahun kan? Ku yakin pacar mu juga ingin memiliki suami dan dia ingin kau menjadi ayah dari anak nya itu Rev."
"Aku hanya takut dia menolak ku itu saja. Atau lebih parah nya dia menggugurkan kandungan nya itu Flo."
"Sudah Berapa minggu dia hamil?"
"Sekitar 3 atau 4 minggu mungkin? Dia baru memberi tahu ku seminggu yang lalu."
"Kau gila! Bagaimana kau ini! Dia baru memberitahu mu kalau dia hamil anak mu, dan kau sekarang berada di London bukan di Manchester?!"
Aku sudah yakin kalau Revan seorang laki-laki bajingan. Bagaimana dia bisa meninggalkan wanita yang tengah mengandung anak nya? sementara dia ke London menemui Flora untuk meminta Flora agar balikan pada nya?
"Maafkan aku Flora, aku sungguh bingung Flo!"
"Jangan minta maaf pada ku, kau tidak punya salah pada ku. Dengar kata-kata ku yang tadi, kau cepat balik ke Machester dan temui dia berserta keluarga nya, aku yakin masalah mu ini akan cepat selesai. Aku yakin kau juga ada terbesit rasa bahagia hati mu rasa bahagia karena sebentar lagi akan menjadi ayah. Besikaplah Gentle Rev."
Revan mengangguk mengerti.
"Terima kasih sepupu!"
SEPUPU? JADI SELAMA INI FLORA DAN REVAN ITU ADALAH SEPUPU?!
SIAL!
Ternyata dugaan ku selama ini salah, Revan bukan sama sekali mantan kekasih atau sekedar teman dekat laki-laki Flora. Aku ternyata sudah di bodohi!
"Kau adalah sepupu ku yang paling baik dan paling bisa mengerti aku, lebih baik aku cepat pergi ke Manchester hari ini juga. Aku yakin kau bisa pulang bersama pacar mu itu." Kekeh Revan
SIAPA LAGI PACAR FLORA?!
"AYO KELUAR LAH NIALL! MEMANG NYA AKU TIDAK TAU KALAU KAU DARI TADI MENGIKUTI KU DENGAN REVAN." Teriak Flora keras.
Jadi dari tadi mereka berdua sudah tau kalau aku mengikuti mereka? Hari ini penuh dengan kesialan sekali.
Aku keluar dari semak-semak, Flora berbalik menghadap ku melipat kedua tangan nya di depan dada, sambil memasang wajah datar nya.
"Hehehe aku hanya ingin tau kau dengan Revan pergi kemana saja." Elak ku sambil menggaruk tengkuk leher ku.
"Tuhkan Flora apa yang aku bilang. Dia itu bersungguh-sungguh pada mu." Aku melihat Revan terkikik geli.
Flora langsung mencubit lengan Revan, "Sudah sana kau cepat pergi, dan selesaikan masalah mu itu." Ucap Flora ketus.
"Baiklah sepupu, aku pergi dulu. Jangan menyesal saat kau sudah tidak melihat ku lagi di sekitar mu. Ku harap kau cepat-cepat bersama dia, tidak usah berfikir panjang dan membuang-buang waktu lagi. Aku yakin dia," Revan menunjuk ke arah ku, "Adalah orang yang tepat untuk mu. Bye!"
Revan langsung berlari, baru saja Flora ingin menjambak rambut nya.
"Jadi bagaimana?" Tanya ku bingung, Flora masih saja memasang wajah datar nya.
Flora menarik lengan kanan ku, "Ayo kita pulang, aku ingin mengintrogasi mu kenapa kau dari tadi mengikuti ku sampai kesini. Sama aku ingin menjawab dari pernyataan mu."
"Pernyataan apa?" Tanya ku bingung sekali lagi.
Flora mengedipkan sebelah mata nya pada ku, "Pernyataan cinta mu itu."
AKU BERHARAP KAU BERKATA IYA FLORA!
*
*
*
Special Niall's POV ya :D sampai ketemu lagi setelah chaca UAS ya, doakan Nilai UAS chaca bagus semua di pelajaran inti jurusan IPA :") fufufu materi nya banyak. Janji setelah UAS dan free bakalan update lagi :D jadi sabar ya.
Sampai ketemu juga di kokas buat yang beli tiket offline yang nonton konser the boys!! #1Dindo gila chaca masih belum bisa percaya.
Vomments ya jangan lupa<3 dont be silent readers & jadi readers yg aktif dong :D
40 votes?
Arigatou, chaca xx