Just You [COMPLETED]

By cahyanirahma10

26.5K 910 6

Aya seorang siswi dari Star High School yang memiliki 2 orang sahabat yaitu Dita dan Cahya. Ia sedikit jutek... More

"PERTEMUAN"
PART 2 "5CM"
PART 3 "MAAF"
PART 4 "SIAPA DIA?"
PART 5 "TATAPAN ITU"
PART 6 "SULIT DIMENGERTI"
PART 7 "LAPANGAN MENJADI SAKSI"
PART 8 "SATNIGHT"
PART 9 "SMILE"
PART 10 "RAPAT"
PART 11 "CONFUSED"
PART 12 "SIAPA?"
PART 13 "THANK YOU"
PART 14 "PERASAAN INI"
PART 15 "KONYOL"
PART 16 "SENAM JANTUNG"
PART 17 "HAPPY"
PART 18 "GA LUCU"
PART 19 "PROMISE"
PART 20 "LOST"
PART 21 "BANGUN!"
PART 22 "DANAU"
PART 23 "MANIS/TERAKHIR"
PART 24 "GALAU"
PART 25 "PATIENT"
PART 26 "MISS"
PART 27 "HOLD"
PART 28 "SYOK"
PART 29 "HUG"
PART 30 "TQ"
PART 31 "TERCYDUK"
PART 32 "IG"
PART 33 "HARI H"
PART 34 "GOODBYE"
PART 35 "AUVAN"
PART 36 "PELUKAN HANGAT"
PART 37 "PEMANDANGAN"
PART 38 "HEH?"
PART 39 "REAL"
PART 40 "SOBA"
PART 41 "PANIK"
PART 42 "BIOSKOP"
PART 43 "KETAHUAN"
PART 44 "DEJAVU"
PART 45 "JANJI"
PART 46 "CAFFE"
PART 47 "PERIH"
PART 48 "SAMA"
PART 49 "SAYANG"
PART 50 "SELINGKUH"
PART 51 "PERPISAHAN"
PART 51 B "PERPISAHAN"
PART 53
INFO !

PART 52 "FINALLY"

802 22 0
By cahyanirahma10

Semilir angin malam membuat rambut wanita yang mulai beranjak dewasa berterbangan dengan sendirinya, angin terus menjelajah di sekujur tubuhnya hingga mencoba masuk ke dalam kulit wanita itu. Meski hembusan angin ini sering ia rasakan beberapa hari yang lalu tetapi hembusan angin kali ini sangat menyentuh hatinya untuk merasakan tiap hembusan itu.

Setiap malam wanita itu hanya merasa kesunyian dan kebisuan, tetapi di balik itu ada sesuatu yang tersirat di angin yang telah ia lalui selama dua hari terakhir ini yaitu sebuah kerinduan yang mendalam. Kerinduan yang bukan hanya sekedar rekayasa tetapi kerinduan yang sangat nyata meskipun ia tak bisa mengobati rindunya dengan hembusan angin.

Pernah berpikir untuk membiarkan angin membawa awan pergi, karena di saat itulah ia merasakan bahwa angin akan mengantarkan rindunya kepada sosok yang ia rindukan selama 5 tahun belakangan ini. Ya sosok yang sangat Aya rindui hanyalah Arthur Adam Malik, pria yang telah berpamitan dengannya ke London 5 tahun yang lalu.

Aya sangat mengingat pertemuan terakhirnya dengan Arthur saat di bandara, Arthur pernah mengucapkan bahwa ia akan pergi 3 tahun namun janjinya tak pernah ia tepati hingga di tahun kelima Arthur tak pernah menunjukkan batang hidungnya. Hujan terus mengguyur ibu kota selama 2 hari, tetapi Aya sangat suka hujan karena setelah hujan pasti ada hembusan angin yang bisa ia bagi rasa rindunya dengan angin.

Memang benar kata orang-orang, setiap penyakit pasti ada obatnya tetapi rindu ini apakah ada obatnya? Jawaban nya ADA, dan obatnya adalah bertemu denganmu walaupun hanya sebentar.

5 tahun telah berlalu, Aya tidak pernah berkomunikasi dengan Arthur yang sangat ia rindukan karena nomornya tak lagi bisa dihubungi begitu juga dengan sosial medianya yang tak pernah aktif semenjak terakhir di bandara Soekarno-Hatta. Aya menghembuskan nafasnya panjang, ia mulai masuk kedalam mobilnya yang sudah ia berhasil beli dengan hasil payah ia sendiri.


Drrtttt drrtttt

Dering ponsel nya berbunyi, dengan segera aya menjawab nya.

"Aya, tolong kembali ke kantor sebentar karena ada berkas yang tidak ada di tempat" pinta bosnya.

"Baik"

Bipp

Aya keluar dari mobilnya dan masuk kembali ke kantor nya, ia menaiki lift menuju lantai di bawah rooftop.

Ting!

Hentakan hells yang Aya gunakan terdengar jelas di lorong menuju kantor bos nya.

"Kenapa?" Tanya Aya tanpa mengetuk pintu ruangan bosnya.

"Kejutan!!" Pekik Auvan yang sudah berdiri di balik pintu ruangannya.

Auvan yang dulu mantannya kini telah menjadi sahabat sekaligus bosnya di perusahaan besar ini.

Aya mengernyitkan keningnya melihat situasi ruangan Auvan yang tidak dihiasi dengan bunga atau dekorasi yang dibilang dengan kejutan, Aya hanya melihat ruangan Auvan yang biasa seperti biasanya.

"Hari ini adalah tahun kelima Arthur belum balik ke lo" sahut Auvan menaikkan kedua alisnya.

Aya meletakkan tangannya di depan dadanya sambil mengendikkan bahunya tak acuh. Auvan yang sudah berjalan menatap pemandangan di luar yang mulai rintik hujan hanya tersenyum.

"Lo udah cari tau informasi Arthur sekarang? Gimana kabarnya? Dimana ia sekarang? Dan dimana kedua orang tuanya?" Tanya Auvan.

Aya hanya mengendikkan bahunya tak tahu, Aya yang tidak ingin membahas Arthur langsung berbalik membuka pintu bermaksud ingin meninggalkan ruangan ini. Namun ada satu kalimat yang membuatnya berhenti melanjutkan langkahnya.

"Arthur telah pergi"

Seketika Aya beku, ia terdiam sambil mencengkram erat knop pintu ruangan Auvan. Apa yang baru saja ia dengar dari mulut sahabatnya, apa yang dimaksud Auvan dengan kata pergi?
Aya yang tidak ingin mengambil pusing berlalu pergi meninggalkan Auvan sendirian di ruangannya.

Kini Aya telah berada di jalan dan terkena macet karena hujan sedang melanda ibu kota, ia melihat banyak orang yang menggunakan kendaraan roda dua berhenti untuk berteduh. Hujan begitu deras sehingga Air Conditioner mobil ini semakin menusuk ke tulang Aya karena begitu dinginnya udara.

Namun di satu sisi aya sangat menyukai jika turunnya hujan karena setiap hujan turun pasti tidak ada kerlipnya bintang yang menyinari malam hari, Aya sangat kesal jika melihat kerlipan bintang karena dengan kehadiran bintang-bintang di langit ia merasa bahwa bintang tengah mengejek dirinya karena tidak bisa menghilangkan rasa rindunya.

Setibanya di rumah, Aya yang sudah ditunggu oleh ayahnya di ruang tamu langsung menghempaskan bokongnya di sofa sebelah ayahnya. Rumahnya sama sekali tidak ada perubahan namun ada yang berubah sedikit karena Aya membeli beberapa tambahan perabot rumah untuk menghias rumahnya.

"Ayah belum tidur?"

"Belum, anak ayah kan belum pulang.."

"Maksud Aya, si Arvi?"

*Arvi adalah adik Aya yang selalu saja bertengkar dengannya tetapi Aya sangat menyayangi adik semata wayangnya*

"Bukanlah, kamu lah. Arvi jam segini mungkin udah tidur karena besok harus sekolah kan?" Jawab ayahnya.

"Ya udah, kamu bersih-bersih terus tidur" lanjutnya mengecup kening Aya kemudian berlalu pergi meninggalkan Aya sendirian di ruang tamu ini.

Aya kembali ke dalam bilik kamarnya dan bersih-bersih, setelah keluar dari kamar mandi Aya melihat kotak kecil yang sangat tidak asing lagi bagi Aya. Aya mengambil kotak manis tersebut dan membukanya, disana masih terpampang jelas kalung pemberian Arthur yang bermata huruf 'A'. Selama 5 tahun terkahir, bahkan dari pertama ia diberi kalung ini ia tidak pernah menggunakannya karena ia tidak ingin merindukan orang yang selalu mengisi hatinya.

Aya tersenyum dan mulai mengeluarkan kalung itu sesaat kemudian ia mengalungkan rantai itu di lehernya sendiri, sembari memuji dirinya di depan cermin.

"Cantik.."

Tetapi ia kembali teringat dengan ucapan Auvan tadi di kantor, apa yang dimaksud oleh Auvan? Dengan cepat Aya menghapus negative thinking nya terhadap Arthur dan beranjak tidur di ranjang Queen size-nya.

◾◾◾

Matahari telah terbit dan menyinari dunia dengan sinarnya yang sangat cerah di pagi hari ini, begitu juga Aya yang sudah bersiap-siap ke kantor dengan semangat dan ceria, beginilah Aya saat di pagi hingga sore ia merasa bersemangat sekali. Tetapi saat malam hari ia merasa sunyi karena setiap malam apalagi hujan kerap kali ia teringat oleh sosok Arthur.

"Ma, Ayah! Aya berangkat duluan ya udah siang" pekiknya cempreng.

"Ini bawa sarapannya" sahut mamanya memberikan kotak bekal kepada Aya.

Aya mengambilnya dan saat ia keluar dari pintu rumahnya ini, adiknya bersuara lebih tepatnya berteriak.

"Mbak Aya!! Arvi nebeng!!!" Ucapnya langsung berlari dan tak lupa salam kepada kedua orang tuanya.

Aya yang sudah tau kebiasaan adiknya ini langsung menunggu Arvi di dalam mobil nya, Aya yang heran karena sudah siang ia pun mengklakson mobilnya.

Tit tit tit!!

Arvi yang menyadari langsung berlari masuk ke mobil kakaknya. Selama diperjalanan Arvi dan Aya terus membicarakan trailer film barat terbaru, karena hobi kedua adik kakak ini menonton film entah itu barat, Korea dan Indonesia dan mereka juga sangat suka semua genre. Inilah yang Aya suka dari adiknya selalu asik saat di ajak gosipin film dan pemainnya.

Setelah mengantarkan adiknya ke sekolah, lebih tepatnya sekolahnya dulu. Adiknya telah beranjak remaja, dan bersekolah di Star High School. Aya melajukan mobilnya membelah jalanan menuju kantornya. Namun saat ia sudah tiba di lobby kantornya ia dikagetkan oleh resepsionis yang memanggil dirinya.

"Mbak Aya?"

"Iya?" Ucap Aya menoleh ke meja resepsionis.

"Ada yang cariin dari tadi"

"Siapa?"

"Itu orangnya lagi duduk disana"

Aya menolehkan kepalanya ke arah belakang, ia melihat seorang pria dengan setelan jas yang melengkapi tubuhnya dan duduk memainkan ponselnya. Aya membelalakkan kedua matanya syok karena orang itu adalah orang yang sangat ia rindukan selama ini, selama 5 tahun ia menahan ras rindunya dan akhirnya Tuhan mengabulkan permohonan nya.

"Arthur!!" Pekik Aya yang membuat pria yang tengah duduk memainkan ponselnya mendongakkan kepalanya dan melihat ke sumber suara.

Dengan senyum lebar Aya berlari menuju pria itu dan langsung memeluk pria itu, Arthur yang dipeluk pun langsung membalas pelukannya. Lama mereka berpelukan hingga Arthur lah yang melepas pelukan tersebut.

"Lo kemana aja? Ih jahat! Tiba-tiba gak bisa dihubungin!" Pekik Aya yabg sangat terdengar oleh seluruh orang yang melewati lobby kantornya.

"Sorry princess, hp gue hilang dan gue juga lupa semua password sosmed gue. Dan yang lebih parahnya lagi gue kangen berat sama lo" jawab Arthur.

Aya yang senang mendengar nya kembali memeluk Arthur lagi, "ceroboh banget"

"Yaudah si yang penting gue sekarang disini di hadapan lo dan di pelukan lo itu kan yang penting?" Tanya Arthur.

"Iya," balasnya kini tak malu-malu lagi di depan Arthur dan orang banyak yang berlaku lalang.

Mereka melepas pelukannya, "lo bilang 3 tahun kenapa 5 tahun pergi?"

Arthur tersenyum memandangi kedua mata Aya, "bukannya lo yang bilang gue gak boleh janji? Dan yang berjanji disini lo, lo yang haris mau nunggu gue. Iya kan? Lo lupa?"

"Gak, gue gak lupa"

"Hm, okee okee. Sekarang gue ada buka cabang perusahaan gue di Jakarta. Lo mau nemenin gue kan?" Tanya Arthur.

"Gue kan kerja, gima--" uvaonya terpotong.

Auvan memotong pembicaraan mereka, "lo kan wakil direktur disini. So lo boleh bebas datang dan pergi Aya" ucapnya tersenyum.

"Gue gak mau kasi contoh jelek ke karyawan lain," tolak Aya.

"Oke, gue sebagai atasan lo bakalan kasi lo sp 3 sekaligus karena gak mau nurutin direk disini" ucap auvan tegas.

"Gila, sp 3 Haha" tawa Arthur pecah.

"Iya deh" ucap ayah mengalah.

Arthur mendekatkan dirinya dengan sahabat lamanya, "hai bro? Apa kabar? Gue kangen berat sama lo" ucap Arthur memeluk-meluk Auvan di hadapan banyak orang.

Auvan yang merasa jengah, "lepasin, kita gak sedekat ini hingga lo bisa nyentuh tubuh gue"

"Nyirr, ya udah deh. Makasih yaa udah ijinin calon bini gue libur" ucapnya melepas pelukannya tetapi ia memberi sebuah kecupan singkat di pipi Auvan.

Auvan yang merasa dilecehkan hanya bergidik geli menatap sahabat lamanya, sedangkan Aya dan Arthur mereka kini telah berjalan sambil tertawa melihat gerak gerik Auvan yang mencoba menghapus jejak kecupan manis Arthur di pipinya.

Aya kini tengah bergelayut di pikirannya sambil memandang Arthur yang fokus menyetir, ia tidak menyangka bahwa Arthur sedang berada di sebelahnya dan menyetir seperti dulu waktu mereka SMA dahulu. Arthur yang sadar di pandang sedari tadi mengeluarkan suaranya.

"Kangen banget?" Goda Arthur.

Aya tersadar dari lamunannya dan menatap lurus ke depan, Aya kini tengah malu karena tertangkap basah.

"Udah deh gak usah malu-malu gitu, sama siapa coba? Sama gue juga" goda Arthur lagi.

"Ihh baru juga ketemu udah nyebelin"

"Biarin, Oh iya anak kita gimana?"

"Rasya? Dia udah sekolah dan sibuk sama pelajaran nya, waktu gue ke rumahnya gue aja diusir karena gak pergi bareng lo"

Saat Arthur mendengar Aya di usir ia tertawa terbahak-bahak, karena Aya selama ini tidak pernah diperlukan S seperti itu oleh Rasya.

"Berisik" kesal Aya memanyunkan bibirnya.

"Iya-iya, ke rumahnya yuk?" Ajak Arthur.

"Gak"

"Yaelah, masa ngambek sama anak sendiri?" Tanya Arthur lagi membelai pucuk kepala Aya.

"Oke kita ke kantor baru gue dulu, ntar habis Rasya pulang sekolah kita yang jemput. Lo tau kan dimana sekolahnya?"

"Hm, tau"

Mereka melanjutkan perjalanan mereka ke perusahaan baru milik Arthur sendiri tanpa bantuan kedua orang tuanya. Hari ini adalah hari peresmian perusahaan nya, seperti yang lainnya acara nya sangat sama 100% pemotongan pita, baca doa dan potong tumpeng.

Setelah selesai selama 1 jam setengah Arthur menghampiri Aya yang tengah duduk bersama kolega nya yang lain.

"Sayang, kamu disini?" Sahut Arthur tiba-tiba dari belakang langsung merangkul pundak Aya.

Aya menoleh ke samping menatap Arthur heran.

"Oh ini istri bapak ya? Cantik pak, selamat ya" ucap sang kolega lawannya.

"Oh jelas, terima kasih" jawabnya sombong.

Arthur membawa Aya menjauh dari semua orang dan membawanya ke mobil yang sudah terletak di depan aula perusahaan nya ini.

"Kenapa pergi? Emang acaranya udah selesai?" Tanya Aya.

"Lo tuh, jangan ngasal kalo ngobrol sama orang baru. Dia itu mata keranjang!"

"Alah, bilang aja lo cemburu" goda Aya menyikut perut Arthur.

"Gak" bantah Arthur.

Arthur terus saja membantah nya, hingga saat mereka di mobil akhirnya Arthur mengakuinya karena sudah lelah mendengar celotehan Aya sedari tadi tanpa berhenti.

"Iya, gue ngaku cemburu"

"Hahaha, cemburu kok sama bapak-bapak buncit" tawanya tak tertahan.

◾◾◾

Rasya kini sudah bersekolah kelas 5 SD, ia menunggu jemputan supir ayahnya karena ayahnya hari ini ada jadwal operasi jadi tidak memungkinkan untuk menjemput dirinya. Rasya terus menunggu hingga 15 menit telah berlalu. Namun tiba-tiba saja mobil Lamborghini berhenti tepat di depannya.

Saat Rasya melihat siapa yang turun dari balik jok pengemudi, ia langsung berlari menghampiri Arthur.

"Ayah!!" Pekik Rasya.

"Hai pangeran ayah, apa kabar?" Tanya Arthur disela pelukannya dengan Rasya.

"Ayah kemana aja? Kangen ayah,"

"Ayah baru balik ke Jakarta kamubgak kangen bunda?" Tanya Arthur.

"Gak, bunda kan sering ke rumah tapi Rasya masih kesel sama bunda"

Aya yang hanya menjadi pendengar di dalam mobil, ia mengintip sedikit.

"Bunda waktu itu pernah janji mau beliin Rasya helikopter tapi bunda lupa" ucapnya menundukkan kepalanya.

Saat Aya mendengar hal itu, Aya langsung teringat waktu beberapa bulan yang lalu ia pernah jalan berdua bersama Rasya namun meeting mendadak yang mengganggu mereka hingga memutuskan Aya untuk mengantar Rasya pulang dan berjanji akan membelikan miniatur helikopter.

"Rasya, bunda lupa sayang. Maaf ya, sekarang deh kita beli" ucap Aya keluar dari mobil.

"Bener? Okee!!" Jawab Rasya bersemangat.

Mereka kini sudah di perjalanan menuju mall untuk mencari miniatur helikopter yang Rasya inginkan.

"Sayang, kalau kita punya anak gimana ya?" Tanya Arthur di sela ia melepaskan Rasya dari genggamannya karena melihat barang yang ia inginkan.

"Kita? Anak?" Heran Aya.

"Iya, gue pengen punya debay"

"Ih gak ah, nikah aja Sono sama orang lain"

"Lo gak mau punya anak?"

"Bukan gitu tapi, gue masih hobi kerja. Dan umur gue juga masih muda banget"

"Tapi gak ada yang gak mungkin" ucap Arthur berlalu pergi meninggalkan Aya sendirian.














****
-BERSAMBUNG-

Continue Reading

You'll Also Like

PEKA [BTBS - 1] By r

Teen Fiction

14.1M 74.7K 12
[Sudah terbit oleh Grasindo] OPEN PO MULAI TANGGAL 3-10 MARET DAN BEBERAPA PART SUDAH DIHAPUS Highest rank : #1 on teenfiction (27 Maret 2017) PEKA...
15K 911 51
[selesai] Kisah cinta masa SMA yang begitu rumit. Harus dihadapi oleh dua insan yang masih polos. Ayana, gadis menyenangkan, ramah, santai. Seperti...
11.3K 1.1K 38
[End]"Adya, ambilin handuk dong!" "Kok nyuruh mulu sih, emang gue babu lo?!" "Lha, emang bener kan?" ●○●○●○●○ Kala itu, Alino sedang senang-senangnya...
5.9M 202K 69
[Sudah Terbit di Gloriouspublisher] "Lo mulai sekarang jadi pacar gue!" Ucap Aideen dengan santainya dan terkesan sangat tiba-tiba. Dan, mengabaikan...
Wattpad App - Unlock exclusive features