///
prolog
teruntuk aakash,
langitku.
yang takkan pernah tergapai rasanya,
karna dayaku hanya mampu merunduk;
menunggu rasamu runtuh
dan memungut remah-remahnya;
untuk pakan jiwa,
jiwa yang gusar.
jiwa yang tidak pernah tenang;
karnamu.
1.
cerahnya dirimu hari ini tuan,
tapi biru warnamu;
tak sebiru piluku.
2.
langitku;
tuanku.
mata puan pernahlah buta
pada gelap yang manja;
pada gelap yang nikmat.
langitku;
tuanku.
gelap semakin mencekik jiwa, tuan.
gelap semakin melecehkan rasa.
langitku;
tuanku.
bilamana kau tak datang detik itu,
mungkin jiwa tengah mengandung duka yang sesak;
duka yang rusak.
3.
lembutmu asing bagiku.
sejak peristiwa-peristiwa duka;
yang mendadak sirna
karna sinarmu.
apa beda, tuan?
apa dari awal ada yang beda?
katakan, tuan.
karna rasa puan mendadak pendiam
rasa puan hanya mampu lukis muka
muka yang tak mudah dilupa
muka tuan.
4.
jangan beri tahu kawan-kawanmu;
bahwa saya gila mendadak akan langit.
saya gila akan tuan,
luas—tinggi—indah
mahal untuk ke sana,
jantung saya pun belum cukup
untuk ditukar tiket menujumu
dan saya malu, tuan.
5.
ampun tuan,
rasa puan berkelana begitu cepat.
merpati-merpati terbang secepat elang
siar kabar soal rasa yang jujur.
saya takut ada risi, tuan.
saya takut ciptakan jarak.
6.
mata pada harimu
adalah bacaan kesukaanku.
setiap kubaca,
kulihat tajam yang menyenangkan.
tapi mengapa, tuan.
matamu redup kali ini;
matamu tumpul kali ini.
apa karna gagal datang lagi
menagih cangkir-cangkir airmatamu?
padahal perihmu selalu kering
pedihmu selalu kemarau.
tenang, tuan;
tenanglah.
masih ada kendi-kendi darahku
untuk bayar airmatamu;
untuk usir gagalmu.
7.
seleramu tinggi;
kaukan langit;
pikirku.
kiranya tinggi memang nama tengahmu.
akhlakmu, ilmumu.
kata mereka pula
hatimu jua.
semuanya.
matilah saya.
8.
tuan ketika senja
suka beri sendu
nila-nila menerawang jiwa;
melapukan rapuhnya jiwa.
tuan,
oh tuan;
pandai saja mengatur waktu;
untuk menyentuh hati puan.
sampai jatuh
lalu melumpuh.
9.
banyak mulut bilang
mereka benci langit.
si egois
yang tinggi seorang diri.
si aneh
dengan dunianya sendiri.
berusaha keras
agar puan cepat-cepat hapus rasa.
tapi, bagaimana?
rasa puan mendadak tinggi,
seakan-akan mampu terus bertahan.
10.
ingat janji hari itu;
asa tuan sisakan waktu
untuk mengajar kebodohan ini.
senja ganti malam
malam ganti terang
tuan tak berkabar
rupanya tugasnya belum selesai
saya kecewa.
langit itu jadi kelabu
beserta jiwa penuh badai beradu.
11.
langitku,
kala itu si diam semakin kelam
saya kehabisan kata-kata;
padahal benak sudah haus wicara
saya bingung,
cara apalagi yang paling baik
untuk memancing langit.
sudahlah,
rasa biar rehat dulu.
12.
ada piknik di taman;
tuan melipir.
bahas nirmana lara,
harap nirwana rasa.
aduh, tuan.
ada senyum hinggap di muka dinginmu.
mari abadikan, tuan.
tuan berdiri sendiri bawa senyumnya
sudah cukup.
oh, tuan!
minta berdua ternyata
ijin saya bawa diam
yang berjingkrak-jingkrak kegirangan.
13.
tuan,
suatu hari puan teralih.
pada bumi
yang memberi pasti.
nyaman, tuan.
tapi kami sama-sama sadar.
kami ada di dalam pelarian jenuh.
jenuh akan menunggu.
14.
pincang kaki puan;
tapi rasa berlari-lari.
lihat setetes khawatir;
sebilur kasihan;
dari tuan.
15.
pesta kostum itu melelahkan
semua raga jadi raga yang lain
banyak tipu dan olok-olokan
ramai yang menyedihkan.
saya masih terseret-seret,
bantu puan, ya tuan.
tuan datang,
baru saja datang.
semua langsung pulih
dan berubah adanya.
16.
ah, langit.
turunlah sedikit.
saya mau berbisik
perihal penghuni kerak bumi
yang coba-coba setinggi langit.
turun,
turun sedikit lagi.
tak apa, tuan;
berdua-duaan dalam titik buta.
agar intim rasa bersetubuh dengan kata-katamu,
17.
dalam kebisuan pagi;
kita bertemu lagi.
panggil nama saya sekali lagi;
agar saya bergegas menuju bangkumu.
oh, langit.
kata mereka muka kita begitu dekat;
tapi sayang rasanya jauh, kiraku.
18.
dalam kebisuan malam,
kita bertemu lagi.
panggil nama saya sekali lagi;
agar saya bergegas menuju bangkumu.
oh, langit.
kata mereka kita terlalu banyak minum;
tapi sayang rasamu tak kunjung mabuk, kiraku.
19.
langitku,
kali ini senjamu jingga;
hangat.
biasanya kau ungu lebam,
ku tebak kau sedang berbahagia.
berbahagia dengan yang lain,
yang lalu pernah berhasil mencapai langit.
bukan denganku.
20.
bulat tekad puan untuk pergi
membeli karet untuk hapus guratan kacau
tentang perasaan yang tak pernah berbalas
tentang cemburu-cemburu
pada yang hidup seperti cantik lamamu itu,
sampai yang mati seperti waktu.
sialnya, tuan;
jiwa masih meronta-ronta
sebelum kepulangan puan ke rumah
suap saya dengan sesendok memar yang meradang
agar saya kapok
dan tidak berharap pada langit lagi.
///
epilog
sampai jumpa, tuan.
pada puisi-puisi indah lainnya
yang pada akhirnya
tertulislah namamu.