NEVER BE THE SAME ( SLOW )

By ReginaKV

196K 16.2K 1.1K

Ada mitos yang mengatakan 'Tidak ada Cinta pertama yang berakhir bahagia.' Rendy dan Rena,dua anak yang kur... More

Bagian 2
Bagian 3
Bagian 4
Bagian 5
Bagian 7
Bagian 8
Bagian 9
Bagian 10
Bagian 11
NB 12 PRIVATE
NB 13
NB 14
NB 15
NB 16
NB 17
NB 18
NB 19
NB 20
NB 21
NB 22
NB 24
NB 25
NB 26
NB 27
NB 28
NB 29
NB 30
NB 31
NB 32
NB 33
NB 34
TD 35
TD 36

NB 23

4.8K 542 28
By ReginaKV


Kilasan-kilasan masalalu begitu kelam dan menyedihkan berputar bagai kaset rusak di alam bawah sadarnya, membuat kepala dan dada Rena serasa akan meledak oleh rasa sesak yang tidak wajar.

Ingin dia menjerit,mengamuk dan marah pada siapa saja,untuk melampiaskan rasa sesak dan sakit dikepala dan dadanya, kenapa semua keburukan seakan menempel pada nasibnya bagai benalu?

Rena tersadar dengan nafas memburu dan mata basah.
Mimpi?
Tapi kenapa rasa sakit itu terasa begitu nyata?

"Ah..
Akhirnya sadar."
Terdengar suara lega seorang pria.

Rena mengenali suara itu sebagai suara dokter Alcander.
Perlahan dia menoleh disisi ranjangnya,pandangan matanya buram dan kepalanya berdenyut sakit.

Kembali dia memejamkan mata berusaha menghilangkan rasa berdentam sakit dikepala nya.

"jangan dipaksakan Rena,
istirahat saja dulu."
Dokter Alcander membereskan beberapa peralatannya setelah memasang infus pada Rena.

"Aku kenapa dokter. "
Masih dengan mata terpejam Suara Rena terdengar lirih.

"jatuh pingsan karena stress dan kurang istirahat."
Yang menyahuti pertanyaan Rena malah William yang dari awal tidak disadari berada disana sedari tadi.

Perasaan tidak nyaman langsung merasuk dihati Rena, entah kenapa dalam mimpi buruknya tadi, dia dapat melihat,William lah salah satu penyumbang terbesar penderitaan diluar batas dalam hidup masa lalunya.

"Sudah berapa lama aku pingsan Dokter?"

Rena tidak ingin menoleh,tapi tetap akhirnya mau tak mau reflek dia menoleh karena merasakan kehadiran William disampingnya ranjangnya.

"Kamu ga sadarkan diri dari kemarin sore."
Jawab dokter Alcander.

"Aku baik-baik aja pergilah."
Katanya pada William,berharap pria itu menjauh, Rena berusaha bangun,dia mengkhawatirkan putranya.

"Jangan keras kepala Ren...
Aku sudah membeli makanan, makanlah dulu.. "

"JANGAN MENYENTUHKU!"

Suara keras Rena yang tiba-tiba, mengurungkan niat William yang ingin memegang tangan Rena menahan wanita itu bangun,William sedikit terkejut,akhirnya pria itu mundur dua langkah, dia takut ingatan wanita ini kembali dan itu akan membuat Rena menjauhinya.

Dokter Alcander tak kalah terkejut akan suara keras Rena yang sarat kebencian, pria itu menatap heran Rena dan William bergantian.

"Kau masih terlalu lemah Rena, istirahat lah setidaknya sampai besok pagi."
Bujuk William lembut melihat Rena duduk dipinggir ranjang dengan dua kaki menjuntai.

Entah kenapa ucapan William malah membuat Rena makin membenci pria itu,matanya menatap sinis William yang berdiri tepat didepannya.
"Aku ingin menemui putraku,menyingkirlah."
Desisnya.

"Aku antar Rena,sebentar aku ambilkan kursi roda."
Seolah mengerti situasi Alcander keluar mengambil kursi roda.

"Nampaknya kau dekat dengan dokter Alcander."
Suara William terdengar tidak suka.

"Bukan urusan anda."
Sinis Rena membuang muka.

"Kalian kesini bersama ku,aku yang membawamu dan putramu berobat kesini,tentu saja itu jadi urusanku."

Wajah Rena menatap William sengit, dia sungguh membenci laki-laki ini dengan alasan yang bahkan dia tidak tau.
"Apa aku pernah meminta?"
Katanya kasar.

Sesaat William menarik nafas menahan emosi.
"Putramu berhasil di operasi,dan dalam masa pemulihan,apa kau masih bisa bilang 'apa aku pernah meminta'?"
William mulai habis kesabaran atas sikap keras kepala Rena.

Melihat Rena terdiam dan membuang muka William melanjutkan.
"Kau menentangku sekarang,apa karena berfikir Rendy mu akan membawamu pulang?"

Rena tersentak, dia baru ingat sebelum jatuh pingsan dia bersama Rendy,sekarang kemana pria itu??

"Apa yang kau harapkan dari pecundang mantan pemakai seperti dia hah??
Dia bahkan akan menikah beberapa bulan kedepan,lihatlah!
Setelah membuatmu pingsan dan tertekan,Sekarang dimana dia hah?!"
Seolah tau apa yang Rena pikirkan William melanjutkan serangannya.

"Sudah membantu bukan berarti kau bisa sesuka hati mencampuri hidupku dan putraku."
Suara Rena bergetar menahan marah.

Bertepatan dengan itu Alcander masuk membawa kursi roda,Pria itu tertegun untuk sesaat,melihat kedua orang ini nampak bersitegang.

Tapi kemudian dia menghampiri Rena dan membantu Rena duduk di kursi roda,William masih tak bergeming dari posisinya.

Rena memegang tiang infusnya saat Alcander mendorongnya keluar setelah dokter itu mengangguk sopan pada William.

Sepeninggal Rena dan Alcander, William masih berdiri dengan nafas terengah,berusaha mengendalikan emosi,dia tidak menyangka Rena akan nekad menentangnya.

Matanya menatap bungkus makanan diatas meja yang dia beli untuk Rena,perlahan dia meraih bungkus makanan itu dan melempat dalam tong sampah.

"SIAL!"

🥀

Mereka menyusuri lorong menuju lift lantai atas dengan membisu.
Tadinya dokter Alcander berfikir William dan Rena sepasang kekasih,karena jika bukan siapa-siapa tidak mungkin seorang pria keluar biaya begitu besar untuk ibu anak ini bukan?.

Setelah beberapa hari melihat interaksi mereka dia mengambil kesimpulan,bahwa kekasih wanita ini adalah pria yang mengendong Rena dalam keadaan pingsan kemarin, sambil berteriak bagai orang gila dirumah sakit ini untuk meminta bantuan,Rendy.

Tapi semua ini hanya pemikirannya, dia tidak berhak ikut campur, entahlah wanita ini menginggatkannya pada adiknya yang di benua Asia sana.

"Apa putraku baik-baik saja dokter?"
Tanya Rena.

"Pria kecil mu anak sangat kuat,tentu saja dia baik-baik saja."
Alcander tertawa kecil dan tawanya menular pada Rena,sungguh dia sudah tidak sabar bertemu pria kecil kesayangannya.

Keduanya mengobrol ringan hingga tiba di lantai atas depan kamar rawat Ren-Ren.
Rena masih tersenyum lebar saat Alcander membuka pintu lebar untuk mendorongnya masuk,tapi senyum nya langsung hilang begitu masuk kedalam.

Nampak disana duduk Rendy disisi ranjang sedang bercengkrama dengan putranya yang masih berbaring lemah.
Ren yang masih berbaring lemah melihat kemunculan ibunya tersenyum lebar kemudian menatap sedih terlihat ibunya di kursi roda.

"Mom.."

Panggilnya lemah Ren membuat Rendy langsung menoleh.
Untuk sesaat kedua anak manusia itu saling menatap,seolah mengerti situasi Alcander mendorong Rena mendekat ke ranjang tempat Ren berbaring dan posisinya Rena berada bersebelahan dengan Rendy.

"Baiklah,aku akan keluar, masih ada beberapa pasien yang harus ditangani,Rena bentar lagi perawat akan mengantar makanan mu dan Vitamin juga obat untuk mu disini,habis itu kau harus kembali kekamar rawat mu kalo pengen cepat sembuh."

"Aku akan menemani Ren sampai kamu sembuh Rena."
Lanjut Rendy akan ucapan Dokter Alcander.

Rena hanya mengangguk,dia tidak bisa membantah dokter baik hati yang sudah sangat banyak membantunya, karena dia sadar kondisinya seperti ini akan menghambat pergerakan nya,apalagi untuk menjaga Ren, sekarang saja dia merasa kepalanya mulai berdenyut, tapi dia masih ingin disini.

Pria itu tersenyum ramah pada Rendy,mengelus kepala Ren
"Cepat pulih boy."
Kemudian keluar ruangan tersebut.

Sedikit banyak dia mulai menduga apa yang sudah terjadi, Dia tidak ingin ikut campur terlalu dalam,sekalipun dia peduli.

🍃

"Mom kenapa?"
Tanya Ren lemah menatap ibunya.

Tangan Rena terulur mengelus sayang kepala Ren.
"Mom ga apa-apa koq,asal Ren cepat pulihnya."

"Uncle Rendy da nemenin Ren dari semalam."
Kata bocah itu antusias.

"Ren da minum obat?"

"Um."
Ren mengangguk
"Tadi disuapin mam sama Uncle dan sudah minum obat."

"trus kenapa sekarang belum bobo? "
Tanya Rena lembut.

"Nunggu Mom."
Jawab bocah itu lirih.

"Sekarang mom da disini,Ren bobo ya.."
Rena mengecup kening Ren sebelum akhirnya menarik selimut bocah itu hingga seleher.
"mom akan tetap dikamar ini nemenin Ren."

"Uncle Rendy juga?"

Rendy mengangguk dan mengecup kening Ren,perlahan mata bocah itu meredup, pengaruh obat sudah mulai bekerja.

🍃

"Apa yang kau katakan padanya waktu datang nemenin Ren?
kenapa dia nampak senang ditemani oleh mu,padahal dia ga terlalu suka orang asing?"
Tanya Rena begitu mereka berada di ruang tamu kamar Ren.

Hati Rendy sedikit ngilu mendengar kata "orang asing" tapi dia tetap mendorong kursi roda Rena hingga keruang tamu kamar,tanpa mendapat penolakan wanita itu.

"Aku hanya bilang padanya kalo aku teman dekat mommynya,dia senang karena nama kami sama."
Rendy menatap Rena cukup lama.

Dia ingin memindahkan Rena di sofa tapi wanita itu menolaknya secara halus.
"Apa ga apa-apa sekarang?"
Tanya Rendy tiba-tiba.

"eh?"
Rena menatap Rendy binggung.

"Kondisi mu Rena, apa sekarang ga apa-apa?
Kamu bisa istirahat dikamarmu,aku akan menemani Ren disini sampai kamu pulih."

"Aku ga apa-apa,aku akan minta perawat bawa aku kembali kekamar rawat nanti setelah makan dan minum obat,tolong sampaikan pada Ren, kalo aku keluar sebentar jika dia bertanya, maaf jadi merepotkan mu."

"Bagaimana aku bisa repot mengurus anak sendiri."
Lirih Rendy hatinya terasa sakit dianggap orang lain.

Seperti baru menyadari jika ucapannya menyakiti Rendy,membuat Rena berdehem sedikit dengan tidak enak hati.
"Kau tau benar, bukan itu yang aku maksud kak.. "
Panggil Rena canggung.

"Apa kau sudah memikirkan permohonanku Rena.. "

Setelah cukup lama terdiam akhirnya Rendy memberanikan diri bertanya,sungguh dia tidak sanggup jika Rena kembali menolaknya,dia tidak ingin berpisah dengan putranya kembali.

Baru Rena ingin membuka mulut terdengar ketukan di pintu,tak lama kemudia William muncul bersama perawat wanita yang membawa makanan dan obat untuk Rena.

Rena tidak suka kehadiran William, jika dulu dia merasa takut dengan pria itu tanpa alasan, maka kini rasa benci lah yang dia rasakan, juga tanpa alasan yang dia tau.

Jadi dia mengabaikan pria itu begitu saja,Rena sadar,dia sudah berlaku bagai orang tidak tau terima kasih,oleh karena itu dia masih mengangguk kecil ketika William menyapanya dan meminta ijin menjenguk Ren.

Rena juga sadar tatapan benci William pada Rendy begitu juga sebaliknya.
Mereka bahkan tidak saling menyapa,sedikit banyak sikap permusuhan kedua pria ini membuat Rena penasaran, tapi dia tidak ingin membahasnya sekarang.

🍃

Setelah hampir dua bulan berlalu,dan Ren di ijinkan keluar rumah sakit,Rena akhirnya memutuskan mengikuti kemauan William yang akan mengantarnya dan Ren pulang kembali ke Indonesia,kali ini mereka menggunakan penerbangan komersil.

Dia tidak bisa menolak sekalipun rasa tidak nyaman selalu menyertainya setiap berada didekat pria itu,selain tadinya segala dokumen mereka dipegang William, pria itu juga menanggung semua biaya.

Bahkan semenjak pulih,Ren semakin menempel pada William,walau juga kelihatan akrab dengan Rendy,untuk sekarang Rena belum berani mengambil tindakan menjauhi putranya dari William,dia akan melakukannya jika Ren sudah sembuh total.

Rena bahkan menolak niat Rendy yang akan mengeluarkan semua biaya tersebut,menganti uang yang sudah William keluarkan, tapi dua hari lalu tiba-tiba Rendy menghilang,tanpa mengatakan apapun.

Mungkin Rendy sudah putus asa untuk memperbaiki hubungan dengan Rena, dan itu membawa rasa kecewa dihati Rena tanpa wanita itu sadari.

Ketiganya sudah hampir mulai masuk dalam pesawat mengikuti antrian dengan Ren tertidur digendong William, ketika suara teriakan membuat ketiganya menoleh.

"Rena!"

William menatap tidak suka,sedangkan Rena mengerutkan kening.
Seorang pria seumuran nya nampak berlari tergopoh sambil menarik koper miliknya dan langsung memeluk Rena erat-erat.

"Rena! Rena!
Kau benar-benar Rena!"
Suara pria itu bahkan bergetar bahagia bercampur terharu.

"Maaf anda siapa? "
Rena sedikit meronta melepaskan pelukan pria itu.

Pria itu melepaskan pelukan menatap Rena dengan tatapan kecewa dan sedih.
"kamu lupa sama gue?"

Mendapat tatapan itu membuat Rena semakin binggung.
Tidak menyadari wajah William yang sudah mengelap dibelakangnya.

"Motor, pizza, ice cream?

Kening Rena makin berlipat tidak mengerti sama sekali ucapan pria aneh didepannya,sekalipun dia merasa tidak asing dengan pria itu,Dia tetap tidak bisa menginggat sama sekali.

Pria itu menarik nafas panjang.
"kamu bahkan hampir bikin gue bangkrut pertama kali kita jalan."

Sebuah deheman keras membuat sepasang anak manusia itu tersadar dari dunia milik berdua.

Mata pria itu menatap penuh permusuhan kearah William,ke anak laki-laki yang tertidur dalam gendongan nya kemudian kearah Rena meminta penjelasan.

Jari telunjuknya menunjuk William secara kurang ajar menatap Rena tidak percaya.
"Setelah apa yang sudah keparat itu lakukan,kau masih bersamanya?"

"Jaga mulutmu Xander."
William mendesis,dia tidak ingin membuat Ren terbangun.

"Xander? "
Ulang Rena menatap pria didepannya, nama itu rasanya tidak asing,kepalanya mulai berdenyut sakit sebelum akhirnya pandanganya mengelap dan tubuh lemasnya terjatuh disambut Xander dan William yang berteriak panik.

🤣

Continue Reading

You'll Also Like

76 6 4
Menceritakan tentang dua sahabat, yaitu Liza dan Rendi yang memiliki perasaan yang sama. Setiap hari dilalui dengan indah. Penuh tawa, susah dan sena...
3.5M 142K 50
21+ DEWASA!! DEWASA!! DEWASA!! DEWASA!! DEWASA!! DEWASA!! DEWASA!! DEWASA!! DEWASA!! BOCAH, DIBAWAH UMUR DAN PLAGIAT DIHARAPKAN MENYINGKIR!!! UDAH...
75.1K 2K 49
Alleta pikir menerima tawaran pekerjaan dari Renan untuk menjadi asisten pribadinya mampu bisa sedikit membantu meringankan beban pantinya yang terba...
388K 10.5K 50
Apa yang akan terjadi jika cinta dan benci dari masa lalu menyapa kembali setelah sepuluh tahun berlalu? Rina Wibowo sungguh tak menyangka dia akan k...
Wattpad App - Unlock exclusive features