Orang yang diam bukan berarti tidak memperhatikanmu.
Davin berjalan santai dikoridor sekolah dengan menggunakan earphone dikedua telinganya disampingnya ada kedua sahabatnya yang berada disampingnya. Siapa lagi kalau bukan Fikri dan Gino.
Mereka tampak asik mengobrol, lebih tepatnya yang lebih banyak omong itu adalah Fikri Fernandez dan Gino Arya Wijaya.
"Eh Fik ternyata sahabat kita yang satu ini normal ya? Kira gue nggak." Ledek Gino melirik ke Davin.
"Maksud lo?" Tanya Fikri.
"Itu, kan kemaren Davin gendong cewek ke UKS terus boncengin cewek yang di gendong itu lagi. Benar-benar takjub gue ngeliatnya. Kira gue cowok disamping gue ini nggak normal." Jelas Gino disertai kekehan.
"Iya, denger-denger cewek yang ditolong itu anak baru ya? Namanya siapa?"
Mereka berdua berpikir.
"Fika Asteria." Kata Davin yang sedari tadi diam tak menanggapi kedua temannya yang asik mengobrol.
"Anjayy, Davin tau namanya bro. Orangnya gimana?" Fikri antusias dan takjub yang diucapkan Davin.
"Apanya?" Tanya Davin singkat.
"Ya dia cantik kan? Ya sekalian modus sama tuh cewek," Fikri sambil memainkan alisnya. Fikri memang ciri-ciri cowok yang sering pdkt sama cewek tapi ujung-ujungnya juga ditolak sama cewek. Entah berapa kali dia ditolak.
"Modus mulu lo, ditolak mulu juga sama cewek main modusin cewek aja. Gue jitak juga pala lo." Kata Gino sambil menjitak kepala Fikri sedikit kencang membuat Fikri mengaduh kesakitan lalu mengelus-elus kepalanya bekas jitakan Gino. Fikri membalas perlakuan Gino namun dengan cepat Gino menghindar dan berdiri dibelakang Davin lalu berlari entah kemana diikuti Fikri yang mengejar Gino. Tindakkan kekanak-kanakkan, berasa seperti anak SD.
Davin menggelengkan kepalanya melihat kelakuan dua sahabatnya itu. Davin melangkahkan kaki kedalam kelasnya namun sebuah tangan menarik tangannya.
"Hai Davin." Sapa cewek yang menariknya. Davin memutar bola matanya, malas. Namanya Dira. Cewek yang rambutnya berwarna hitam bagian atas dan ujungnya berwarna kemerahan yang terlihat mencolok. Cewek itu anak kelas 11-5 dan berusaha menarik perhatiannya Davin dari kelas 10. Hampir semua murid tau akan hal itu. Dira menyukai Davin dari MOS kelas 10 yang pada saat itu, Davin sekelompok dengannya.
Davin melepas pegangan Dira. Dira sedikit menekuk wajahnya. Hal itu selalu dilakukan Davin ketika Dira memegang atau menyentuh tangannya. Davin segera melangkahkan kakinya masuk kedalam kelas tapi tetap diikuti Dira. Cewek itu tidak mempedulikan teman kelas Davin yang melihatnya.
Davin duduk ditempat duduknya diikuti Dira yang duduk didepannya. Cewek itu memasang senyum manisnya mencoba menarik perhatiannya.
"Ngapain masih disini?" Tanya Davin bernada ketus yang menyiratkan agar cewek itu segera pergi dari hadapannya. Cowok bertubuh jangkung itu tak habis pikir dengan cewek didepannya itu yang mencoba menarik perhatiannya dengan berbagai macam cara.
"Kamu nggak mau aku disini?" Tanya cewek dihadapannya itu dengan nada sedikit menggelikan yang bisa saja orang yang mendengar akan ilfeel.
"Keluar." Suruh Davin dingin.
"Tap-"
"Gue bilang keluar." Bentak Davin membuat sekelas menatap Davin.
"Oke. Tapi, nanti gue akan kesini lagi." Balas cewek bertubuh ramping itu dan pergi keluar dari kelas Davin.
"Tuh cewek bikin gue ilfeel banget, sumpah." Ujar teman sekelas Davin berbisik-bisik.
"Iya, sok manis didepan Davin. Muka dipakein bedak tebel 5 senti juga nggak bakal mempan tuh bagi Davin."
"Iyalah. Orang si Dira itu play girl mana mau Davin sama cewek yang begituan."
Bisikan demi bisikan mulai terdengar. Davin memakai earphone dan memakaikan dikedua telinganya mengikuti alunan nada yang terdengar dari benda itu, tidak dibuat pusing dari komentar teman-temannya itu.
Memang, Dira itu bisa dikatakan tergila-gila dengan Davin. Dari dulu, Dira selalu mengejar-ngejar Davin. Dira sudah terkenal dengan gelar playgirl disekolah. Wajahnya sebenarnya cantik, tetapi karena memakai bedak berlebihan dan berbagai make up dia sering disebut tante girang.
Fika berjalan dikoridor sekolah sambil memainkan ponselnya. Ketika ia melewati ruang guru, ada seseorang yang memanggilnya. Fika sepertinya tidak asing dengan orang itu. Oh, Fika ingat dia guru olahraga yang mengajar kelasnya kak Davin, kelas 11.
"Kamu Fika kan?" Tanya Pak Gara.
"Iya pak."
"Ini, saya minta tolong ke kamu. Tolong kamu kasih flashdisk ini ke Davin Putra Wardana ya, kelas XI-2. Kamu tau kan?" Tanya pak Gara sambil menyodorkan flashdisk berwarna hitam itu ke Fika. Fika mengambil flashdisk itu dan mengangguk ragu.
"Ya sudah, saya titipin ke kamu. Terima kasih ya."
"Iya pak." Setelah itu, pak Gara masuk kedalam ruang guru kembali.
Dalam hati, ia memaki kenapa ia harus lewat didepan ruang guru. Bukannya dia tidak mau disuruh oleh guru, tetapi ia harus berhadapan dengan seorang patung hidup. Ia mendesah pelan. Langkahnya semakin memelan seiring dengan letak kelas yang ditujunya semakin dekat.
Setelah sampai didepan kelas yang bertuliskan XI-2, Fika berhenti sejenak, melirik ke dalam kelas yang sudah dipenuhi oleh murid-murid kelas itu. Fika sendiri, tak punya keberanian memasuki kelas itu. Pasti dia akan diperhatikan oleh murid-murid yang ada didalam. Ia merasa malu.
"Eh ada cewek. Cari siapa?" Fika tersentak. Fika merasa tak asing dengan pemuda itu.
"Eh, lo bukannya yang waktu itu ngasih Davin makanan ya?" Tanya cowok itu. Pemuda dihadapannya adalah teman Davin. Mengingat kejadian itu, ah Fika tak mau memikirkannya.
"Kenalin, gue Gino." Gino mengulurkan tangannya sebagai perkenalan.
"Fika." Balas Fika tersenyum kaku dan membalas uluran tangan Gino.
"Lo cari siapa?" Tanya Gino lagi.
"Cari kak Davin, kak." Jawab Fika kikuk dengan kepala sedikit menunduk. Ia jadi malu sendiri, saat ia marah-marah ke Davin didepan cowok dihadapannya ini.
"Oohh, mau gue panggilin?"
"Eh, nggak usah." Balas Fika cepat. "Ehm, ma-maksudnya nggak usah. Gue cuma mau nitipin ini ke kak Davin dari pak Gara." Fika memberikan flashdisk yang tadi diberikan pak Gara dengan menunduk. Ia masih malu dengan kejadian tempo hari.
"Oh, yaudah. Nanti gue kasih ke dia." Kata Gino sambil menerima flashdisk itu. "Lo kalo ngomong nggak usah nunduk gitu, gue nggak gigit kok." Lanjut Gino terkekeh kecil. Fika mendongak mencoba berani menatap Gino.
Mendadak, pipinya memanas. Dapat dipastikan, pipinya muncul semburat merah. Walaupun hanya kalimat biasa, tak bisa dipungkiri oleh Fika.
"Makasih ya kak." Balas Fika malu-malu lalu melenggang pergi. Cowok itu terkekeh kembali.
✩✩✩✩✩✩✩✩
Sejak pelajaran Matematika tadi, Fika senyum-senyum. Ternyata, kak Gino baik, ramah dan murah senyum. Beda jauh sama kak Davin, jauh banget. Tasya yang sedang merapikan bukunya berhenti sejenak melihat Fika. Tasya bergidik ngeri melihat sahabatnya itu senyum-senyum sendiri, seperti orang kurang waras.
"WOY" Tasya menepuk bahu Fika dan membuyarkan semua khayalan yang sedang diciptakan Fika.
"Lo ngapain senyum-senyum mulu dari tadi. Kesambet ya lo?" Tanya Tasya dengan jari telunjuk menunjuk ke arah Fika. Tasya menjauhkan dirinya dari Fika. Kelas ini sudah sepi, karena sebagian besar teman-temannya pergi ke kantin hanya menyisakan beberapa orang didalam kelas.
"Lo bukan Fika ya? Apa lo penghuni dikelas ini? Ngaku lo. Keluar nggak lo dari tubuh Fika! Apa perlu gue ruqyah?"
"Apaan si sya, ini gue Fika." Fika mendekatkan dirinya ke Tasya.
"Jangan deket-deket. Lo boong kan?"
"Apaan sih sya, lo kebanyakan nonton film horor deh. Ini gue Fika, REAL."
Tasya menatap Fika mencoba mencari kebenaran. Ia menatap Fika dari ujung kepala hingga ujung kaki. Fika bingung melihat Tasya yang melihatnya sampai segitunya. Tak lama kemudian, Tasya menyengir.
"Hehe, gue kan cuma mau mastiin aja kali aja lo kesambet. Lagian, lo senyum-senyum sendiri kan gue jadi parno an. Btw, lo senyum-senyum kenapa?"
"Ng-nggak. Nggak kenapa-napa."
Mata Tasya menyipit,
"Boong ya lo," tuduh Tasya
"Bener, udah ah nggak usah dibahas lagi." Elak Fika.
'Kalo dipikir-pikir kak Gino ganteng juga, ramah lagi.' Batin Fika
★★★★★★★★
TBC