Hello A : Alvino & Alula

By BebbySJ

794K 47.6K 4.2K

Awalnya, Alvino tidak mengenal Alula. Awalnya, Alula tidak ingin mengenal Alvino. Namun pada akhirnya, awalan... More

1 - Si Rambut Abu-abu
2 - Psikopat
3 - Hai Tetangga
4 - Sayang?
5 - Sakit
6 - Baper
7 - Tugas Matematika
8 - Kantin
9 - Hemophobia
10 - Teman?
11 - Dendam
12 - Apa Kabar?
13 - Kembali
14 - Flashback
15 - Maaf
16 - Berantem
17 - Pengakuan
19 - Pelakor
20 - Start
21 - Debaran
22 - Falling in love
23 - Mantan
24 - Perjanjian pertama
25 - Drama
26 - Kilas balik
27 - Rumah sakit
28 - Lari pagi
29 - Siapa?
30 - Malam minggu
31 - Cemburu
32 - Bulan Bahasa
33 - Wanita Ular
34 - Ungkapan
35 - Penjelasan
36 - Calon Menantu
37 - First Kiss
38 - Bianglala
39 - Tato Pokemon
40 - Lupa
41 - Stay with Me
42 - Panik
43 - Bersaing
44 - Berdarah
45 - Truth or Drink
46 - Alvi atau Deon?
47 - Gerak cepat?
48 - Jalan
49 - Keep or Leave
50 - Dua Hari
51 - Happy Ending
52 - Keputusan Final
53 - Teman dan Cinta
54 - Menjauh
55 - Taman Anggrek
56 - Preman?
57 - Prioritas
58 - Berteman?
59 - Pindah
60 - Taruhan
61 - Memperjuangkan lagi?
62 - Pindah Sekolah
63 - Mundur
64 - Mundur (2)
65 - Semoga Bahagia
66 - Belanda
67 - Bersama Sebentar
68 - Ramalan
69 - Tidak Berarti?
70 - Hurt
Garka & Dyra
71 - Datang
72 - Ending
EXTRA CHAPTER SETELAH INI!!
Extra Chapter (1)
Extra Chapter (2)
Bye, HELLO A!
Hello A: Goodbye Memories

18 - Posisi

10.9K 665 23
By BebbySJ

"Maksud lo apa?"

Deon menggeram namun berusaha bersikap tenang walau jelas seseorang di dalam telepon berhasil menguras emosinya.

"Deon, please. Ya ampun, lo gitu banget sama gue. Jemput yaaaa?" rengeknya di dalam telepon dengan suara kunyahan seperti sedang memakan ciki-ciki.

"Siapa lo berani nyuruh-nyuruh gue?!" Deon naik pitam, mendengar suaranya saja membuat darahnya mendidih.

Terdengar helaan napas di dalam telepon, "Gue rela pindah kesini demi lo, terus lo nggak mau dateng ke Apartemen jemput gue? Oke fine, gue bilang aja nanti ke bokap kalo gue berubah pikiran."

Deon menggengam setir kuat, lalu mengusap wajahnya kasar. Perempuan ini seperti memegang kendali kartu AS-nya. Membuatnya tidak berdaya walau hanya sekedar menolak. Deon menghela napas berat sebelum akhirnya memutar balik setir mobil, menembus arah berlawanan dari jalan seharusnya.

"Lo ngancem gue?"

"Enggak, cuma ngomong doang." katanya pongah.

Deon menggertakan gigi jengkel, "Apartemen lantai dan nomor berapa?" tanyanya mengalah.

"Oh.., jadi lo mau kesini?"

Deon dapat mendengar jelas suara cekikian di dalam telepon, yang ia yakini kalau perempuan ini sedang tertawa penuh kemenangan.

"Atau gue berubah pikiran." ancam Deon kemudian.

Perempuan di dalam telepon berhenti tertawa, "Wait, Deon. Iya-iya, jangan marah gitu dong. Apartemen nomor 103 di lantai lima."

Tut.

Deon mematikan telepon secara sepihak tanpa kata penutup kemudian memukul setir dan mengerang kesal. Deon sangat menyesal telah memohon sesuatu yang tidak seharusnya, perempuan itu menjadi lebih berani memanfaatkan kesempatan untuk mengancamnya.

Sialan.

Namun bagaimana pun juga, Deon membutuhkan perempuan itu supaya bisa kembali dan menetap di Indonesia.

Deon menutup pintu mobil keras setelah berhasil memarkirkan mobil secara asal di perkarangan Apartemen. Ia berjalan tergesah masuk ke bangunan Apartemen dan menunggu dengan kesal pintu lift terbuka.

Ternyata, moodnya semakin berantakan setelah melihat siapa yang berada di balik pintu lift.

Apa yang baru saja Deon lihat? Tangan si perempuan merengkuh mesra pinggang si pria? Lalu tangan si pria merangkul mesra pundak si perempuan?

Ha-ha-ha, sialan.

"Deon?"

Seolah mendapatkan kesadarannya, Deon berdeham, lalu melempar pandangan ke sembarang arah.

Lula refleks melepaskan tangannya dari pinggang Alvi, sedangkan Alvi semakin mengeratkan rangkulannya.

Lula tampak cangung, "Kamu ngapain disini?" tanyanya.

"Ada urusan." Deon melirik sekilas kearah Alvi, "Lo sendiri?" tanyanya balik pada Lula namun matanya menatap Alvi.

"Aku..." Lula tergagu, "Main."

"Main?" Deon membeo, kata 'main' sangat ambigu ditelinganya. Ditambah kini masih jam sekolah, bahkan mereka berdua masih mengenakan seragam sekolah. Anak SMA mana yang main di apartemen dijam seperti ini? Deon melemparkan tatapan penuh selidik sekaligus curiga, "Nggak sekolah?"

Lula langsung tergagu akibat salah tingkah, wajahnya langsung memanas hingga menimbulkan rona merah di pipinya. Alvi berdecak melihat Lula seperti itu, Deon sendiri rasanya ingin menarik Lula dari rangkulan Alvi.

"Gue tunggu di motor," Alvi melepaskan rangkulannya dan ingin berjalan keluar lift, tapi tangan Lula lebih dulu menahan lengannya supaya tidak pergi.

"Tunggu." pinta Lula membuat Alvi terperangah, lalu tatapannya kembali pada Deon, "Deon, lain kali... kita bisa ketemu lagi?"

Mendengar itu rasanya dada Deon terbakar. Ia segera masuk ke dalam lift dan memencet tombol untuk naik ke lantai lima, sama sekali tidak menjawab perkataan Lula.. Ada perasaan tidak Deon mengerti melihat Lula bersama cowok itu, membuatnya mau tak mau harus segera menghindar dari perasaan itu.

"Bisa." Deon hanya mampu menjawab setelah pintu lift tertutup.

-----

"Jadi, kamu bohongin Bunda?!"

"Aku nggak bermaksud--"

Bunda menatap Alvi garang, "Bunda udah duga, pasti kemarin kamu bukan jatuh sendiri. Dan ternyata benar. Tapi kamu malah bilang kalo ini pure kecelakaan. Sekarang? kamu berusaha meyakinkan Bunda kalo semuanya ulah temen kamu. Kenapa kamu nggak jujur?!"

"Dia bukan temen aku, Bun." Alvi menyergah cepat, mengoreksi kata teman yang Bunda ucapkan.

"Terserah. Kalo orang tua lagi ngomong didengerin. Biar nggak masuk telinga kanan keluar telinga kiri!"

Alvi mengacak-acak rambut frustasi, sudah hampir setengah jam Bunda memarahinya dengan kata-kata seperti itu saja. Bunda langsung pulang dari butik setelah mendapat panggilan dari Kepala Sekolah bahwa Alvi berkelahi di Rajawali.

Reo bahkan harus dilarikan ke rumah sakit karena mendapat bertubi-tubi pukulan di wajahnya. Membuat Bunda mau tak mau mengurus persoalan itu secara kekeluargaan besok di sekolah bersama orang tua Reo dan kepala sekolah.

"Kamu itu bukan jagoan! Kamu pikir bagus dateng ke sekolah lain cuma buat berkelahi?!" Bunda bertolak pinggang, menatap marah anaknya yang kini duduk di sofa ruang tengah. Anak perempuan kecilnya sedang bersekolah, menyisakan Alvi, Bunda, dan baby sitter Ve dirumah.

"Bunda liat luka ini?" Alvi menunjuk luka kakinya yang sudah kering, serta goresan panjang di tangannya, "Ini semua karena ulah Reo sialan itu. Mana mungkin aku biarin dia hampir bunuh aku! Bunda pasti inget kan gimana dulu aku harus di rawat dua minggu karena di keroyok Reo rame-rame?"

Bunda mendesah berat, lalu memijat pangkal hidungnya, "Kenapa enggak bilang sama Bunda kalo dia celakai kamu?"

"Aku mau kasih pembalasan dulu buat dia, biar tau rasa, nyawa aku nggak sebanding sama dia yang di keluarin dari sekolah!"

"Kamu itu bukan jagoan!" Bunda menegaskan, "Biar apa? Biar orang-orang bilang kalo 'wah, Alvino keren banget berantem sama si anu si ini' iyaa?!"

Alvi menahan diri untuk tidak memutar kedua bola matanya, "Bunda, dia duluan yang cari gara-gara sama aku!"

"Ya ampun, punya anak cowok satu buat pusing terus!" Bunda duduk di seberang Alvi, "Mau bilang apa kamu sama Ayah kalo ngeliat kamu berantem lagi?"

Alvi menegakan punggungnya, "Ayah pulang?"

"Sore nanti." Bunda mengamati Alvi yang babak belur lalu mendesah, "Kamu inget perjanjian sama ayah dulu? Kalo kamu berantem lagi, kamu harus bersedia sekolah di negara orang sampe lulus!"

"Ya nggak mau!" Alvi membantah refleks berdiri dari duduknya, "Mau jadi apa aku disana? Gembel?"

"Heh!" Alvi segera menghindar ketika tangan Bunda ingin menarik mulutnya, "Mulut kamu minta Bunda jahit?!"

"Enggak, Bun."

"Bilang apa Bunda besok sama kepala sekolah kamu? Sama orang tua yang anaknya kamu ajak berkelahi? Kenapa sih kamu buat ulah terus?! Minggu kemarin Bunda udah rela-relain dateng ke sekolah karena poin absensi kamu sudah menggunung, sekarang ke sekolah lagi karena kamu berkelahi?!"

"Bentar, bentar," Alvi mengangkat tangannya di udara, "pokoknya aku nggak mau Bunda minta maaf sama Reo atau orang tuanya. Harusnya, Reo sialan itu yang harus minta maaf ke Bunda karena berani celakai anaknya. Kita nggak usah repot-repot. Emang dia siapa. Anak sultan? Najis." dikalimat terakhir, ia menyempatkan diri untuk mengumpat.

"Ya makanya, harusnya kamu ngomong dari awal Alvino, supaya mudah nuntut dia. Ini ngomong pas nasi udah jadi bubur. Mending kalo buburnya enak." omel Bunda persis seperti ibu-ibu yang tidak ingin di tilang padahal memang melanggar peraturan.

"Ya nggak bisa," Alvi menyergah tidak setuju, "Enak aja, aku udah bonyok gini dia cuma nerima hasil akhir."

Bunda melotot, "masih bisa bantah kamu ya!"

Alvi mendecak kemudian mengacak rambutnya, "Bunda...." panggilnya.

"Besok ayah kamu yang kesana." Tegas Bunda akhirnya sambil berdiri.

Seperti ada benda keras yang menghantam kepala Alvi bertubi-tubi, membuat kepalanya berdenyut hanya mendengar ucapan Bunda yang seperti menghantarkan ke ujung kematiannya sendiri.

"Bunda,"

"Enggak ada bantahan."

"Bun," Panggil Alvi ketika Bunda sudah berlalu meninggalkannya karena telepon masuk ke ponsel Bunda, "Ah, sial!"

Sepertinya, hal buruk akan menimpa Alvi setelah ini.

***

"ARZIO DAVIAN!"

Suara teriakan keras dari lantai bawah membuat Lula tersentak dari tidurnya. Dua jam yang lalu Lula sudah sampai dirumah dan tidak ada siapa-siapa. Mama dari pagi sudah pergi bantu-bantu ke tempat saudara yang akan mengadakan pesta pernikahan. Papa tidak ada di rumah, beliau pulang dari luar kota lusa nanti, Arka sedang kuliah dan tidur di rumah lama mereka, kebetulan keluarga Naladhipa belum mempekerjakan asisten rumah tangga, hanya ada Pak Rudi selaku supir pribada keluarga mereka.

Lula mengerjap beberapa kali, teriakan itu mampu membuat jantungnya berdegup kencang karena tersentak tiba-tiba. Lula melirik jam di atas dinding yang menunjukkan pukul dua belas siang. Kepalanya terasa begitu berat akibat menangis, ia beranjak berdiri menuju cermin, terlihat jelas matanya yang sembab.

"KAMU BUKAN JAGOAN!"

Lula terdiam.

"MAU JADI APA KAMU?!"

Kemudian Lula berlari menuju pintu kamar, lalu bergerak cepat menuruni tangga. Baru sampai di lima tangga teratas, Lula harus memberhentikan kembali langkahnya.

"Maafin aku, Ma. Aku kelepasan."

"Kelepasan kata kamu?" Mama bertolak pinggang dihadapan Zio yang menunduk, "Apa yang kamu pikirkan saat berkelahi hah? Apa untungnya?"

Zio membisu.

"Di skors empat hari, itu yang kamu mau?" Mama menggeleng tak percaya, "Kamu hampir membunuh anak orang! Harus dilarikan ke rumah sakit karena ulah kamu!"

Lutut Lula bergetar mendengar sederet kalimat terakhir yang Mama ucapkan. Apa yang di lakukan Zio hingga Mama semarah itu? Lula mengenal kakaknya, Zio tidak pernah sekalipun membuat masalah di sekolah, bahkan Zio sama sekali tidak peduli dengan lingkungan sekitarnya.

"Ma, aku ngelakuin ini ada alasannya." Zio mengangkat kepalanya, membela dirinya sendiri karena merasa tidak bersalah. Namun memberitahu Mama alasannya seperti ini juga tidak mungkin. Bahkan punggung tangannya lecet dan bengkak akibat meninju dinding terlalu keras.

"ALASAN?!" Mama kembali berteriak.

"Mama!" Lula berlari dan menarik Zio ke belakangnya, "Jangan marah-marah, kita selesain baik-baik. Dengerin penjelasan Kakak, baru menarik kesimpulan. Pasti kakak ada alasan kenapa berkelahi."

"Lo alasannya."

Jantung Lula mencelos mendengar bisikan samar Zio. Kakinya semakin gemetaran, tangannya memengang erat tangan Zio agar tubuhnya tidak terjatuh.

Mama tampak terkejut melihat kehadiran Lula di rumah pada jam sekolah. Mama ingat betul kalau Lula berangkat bersamanya menaiki mobil. Sekelebat pertanyaan muncul di kepala Mama, kemudian langsung mendapat jawaban.

"Aku sakit." tahu jika Mama nanti akan bertanya Lula langsung menyergah dengan alibi yang dapat diterima, "Makanya pulang."

"Sakit?" Mama berjalan mendekat lalu menakupkan tangannya di dahi Lula, "Enggak panas. Kamu sakit apa?"

Lula menggigit pipi dalamnya, lalu menggeleng cepat, "Sekarang udah sembuh, mungkin banyak pikiran."

"Banyak pikiran?" Mama menatap Lula penuh selidik, namun Lula mengabaikan tatapan itu.

Lula membalikan tubuhnya menghadap Zio, mengamati lebam di wajah Zio yang tidak jauh berbeda dengan Alvi. "Bego." cibirnya tanpa suara.

"Mama belum selesai sama kamu, Zio!"

Lula kembali menghadap Mama, "Wajah kakak biar aku yang obatin, Ma. Nanti omongin secara baik-baik setelah aku selesai obatin kakak. Mama istirahat aja, pasti capek, kan?" lalu kembali menatap Zio, "Ayo ikut ke kamar."

Zio menghela napas pasrah tangannya ditarik oleh Lula menuju ke kamar atas. Sebelum itu ia menyempatkan melirik Mama yang masih bersidekap garang menatapnya.

Setelah sampai kamar, Lula mendudukan Zio di atas tempat tidur, lalu mengambil handuk kecil beserta air dingin untuk mengompres lebam di wajah kakaknya.

"Gila," komentar Lula mengamati wajah babak belur Zio, memar ungu kebiruan hampir memenuhi tiap sudut wajah Zio. Seragam yang biasanya rapi kini terlihat berantakan, dua kancing teratas bajunya terbuka, rambut berantakan, serta noda darah membercaki bajunya.

"Gue bisa bersihin sendiri." Zio menunduk sekaligus menyingkirkan tangan Lula yang bergetar dari wajahnya. Supaya Lula tidak perlu melihat darah di wajahnya. Sebab ia paham, jika adiknya begitu phobia akan darah.

Namun Lula tetap keras kepala untuk membersihkan luka kakaknya, "Biar dibilang apa? Jagoan?" omelnya dengan wajah yang ditekuk, "Kakakku Arzio Davian nggak suka berantem."

Zio kembali menyingkirkan wajahnya dari tangan Lula, "Udah. Tangan lo gemeteran." protesnya.

Lula menatap Zio sejenak, "Berantem sama siapa?" tanyanya serak.

"Ngapain sih ke Rajawali segala?" Zio tidak membentak Lula, namun nada dingin itu menembus tepat ke jantung Lula, "Siapa dia berani-beraninya mau nyium adek gue?!" amuk Zio, bayangan wajah menjijikan Gio kembali terlintas dikepalanya.

Jantung Lula mencelos, "Lo ... liat?"

"Liatlah!" Zio mengepalkan kuat tangannya, "Di depan mata gue dia berani perlakukan lo kayak tadi. Di depan orang banyak dia mau cium lo. Dia sama aja nginjak gue dan ngerendahin lo. Gue nggak terima. Kalo Arka tau soal ini, Gio bisa habis di tangan Arka." Zio mengatupkan rahangnya, wajahnya memerah menahan amarah.

Lula tertegun, kemudian menggeleng, "Jangan kasih tau abang, gue nggak mau masalahnya jadi panjang."

"Kenapa?" Zio menyergah, "cowok kayak dia pantes kali dikasih pelajaran."

Lula menjatuhkan handuk ditangannya ke dalam wadah yang berisi air dingin. Kepalanya menunduk, bibirnya bergetar, "Gue juga nggak tau kalo Gio-"

"Ya makanya!" Zio menyela, suaranya meninggi membuat Lula memejamkan mata ketakutan. Kemudian mengusap wajah gusar, rasa kesalnya masih menumpuk siap meledak. Tetapi Lula bukanlah sasarannya. "Tapi gue bersyukur, lo baik-baik aja."

Kepala Lula terangkat, matanya berkaca-kaca, "Lo diskors karena gue." ujarnya dengan bibir bergetar.

"Pindah sekolah sekalian gue nggak peduli. Selagi itu bersangkutan dengan masalah adek gue."

Di skors sama sekali tidak masalah, Zio mungkin akan menyesal seumur hidup jika membiarkan mereka yang berani menyakiti adiknya.

Lula menyeka air matanya, "Tapi kenapa tadi lo nggak nolongin gue?" pertanyaan itu keluar begitu saja dari bibir Lula.

"Telat." Zio membuang napas gusar, "Tetangga depan lebih dulu ambil aksi. Gue... emang nggak berguna." katanya menyesal.

Lula menggeleng sembari terisak bahagia, "Semuanya salah gue." isaknya pelan, lalu kembali menatap Zio, "Gio masuk rumah sakit?" tanyanya ingin tahu.

"Enggak, tapi Reo."

Lula menghentikan isakannya, menatap kakaknya terkejut, "Lo mukulin Reo?"

"Iyalah!" Zio menyergah cepat dengan wajah yang kelewat jengkel, "Mampus sekalian lebih bagus!"

Setelah Alvi dan Lula pulang, Zio langsung menarik Reo keluar dari UKS. Ketidakberdayaan Reo sehabis dipukuli Alvi membuatnya semakin mudah menumbangkan Reo. Akibat ulahnya, Reo harus dilarikan ke rumah sakit.

Lula menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan. Malu rasanya dilecehkan orang lain sampai diketahui oleh kakak sendiri. Selama ini tidak pernah ada yang berani mengganggunya apalagi menyentuhnya, tapi setelah Deon pergi, sekelilingnya berubah menjadi monster menakutkan.

Lula mengangkat kepalanya dengan wajah sembab, teringat sekelebat wajah yang akhir-akhir ini bersemayam di dalam kepalanya, "Alvino-"

Zio menoleh, "Dia pasti dapet masalah setelah ini."

Lula mengangguk, "Gue tau."

"Menurut lo kenapa dia seberani itu datang ke Rajawali cuma buat berantem sama Reo?" tanya Zio.

Lula menatap Zio dengan wajah sembabnya, diam beberapa saat sebelum akhirnya menggeleng polos. Membuat Zio menghela napas pelan.

"Semuanya karena lo."

Lula terdiam.

Zio menunduk, "Gue males mengakui ini, tapi ... gue percaya kalo Alvino bisa ngelindungin lo." lalu Zio menatap Lula sendu, "Siapa sih yang mau ngumpanin diri ke kandang singa? Nggak ada. Tapi dia ngelakuin itu."

Lula menelan ludah, jantungnya berdegup tak beraturan. Ucapan Zio mencadi tamparan kuat pada hatinya.

"Cuma karena nggak terima adek gue dilecehkan, dia berani dateng ke Rajawali sendirian." diakhir kalimat Zio tertawa samar.

Lula meremas wadah ditangannya. Wajah babak belur Alvi kembali membayang. Lebam-lebam itu terbayang jelas. Alvi ... berkelahi hanya karena menyelamatkan harga dirinya.

"Setelah ini mungkin dia bakalan di hukum, diskors atau yang lebih parah dikeluarin dari sekolah. Mungkin itu hal biasa bagi dia, tapi jangan liat dari sisi buruknya. Ngapain dia repot-repot ke Rajawali cuma buat berantem? Apalagi masih jam sekolah, buat ulah di Rajawali. Cuma karena satu cewek." Zio menatap adiknya, "Cuma karena nyelamatin harga diri lo yang udah diinjak-injak Reo."

Lula menggigit bibir bawah kuat. Tubuhnya bergetar. Ada sesuatu yang mendesak dibalik dadanya. Kemudian timbul pertanyaan, mengapa Alvi rela melakukan itu hanya demi orang baru sepertinya?

"Kenapa lo dateng ke Rajawali?" tanya Zio kemudian.

Lula mengangkat kepala dengan mata berkaca-kaca, lalu menggeleng lemah.

"Karena lo peduli." Zio menjawab, "Bohong kalo lo bilang nggak peduli." sergahnya lagi, "Lo peduli, makanya ke Rajawali. Kalo nggak peduli, mungkin sampe detik ini lo masih di Merpati."

Lula tidak menjawab. Perktaan Zio menjadi cekikan kuat pada lehernya. Ia sendiri tidak tahu dengan perasaannya. Seperti berada dititik yang putih, namun gelap juga menyelimuti.

"Lambat laun lo pasti bakal menyadari kalo Alvino udah berhasil merebut posisi Deon." Zio menimpali kebungkaman Lula, "Disini..." Zio mengetuk pelan dahinya dengan jari telunjuk, "dan disini." lalu memegang dadanya sendiri.

Lula tertegun. Batinnya menolak. Posisi Deon tidak mungkin tergantikn oleh Alvi yang bahkan belum setengah tahun ini dikenalnya. Bagaimana mungkin?

"Mana mungkin," Lula menyahuti pelan suara hatinya tanpa sadar.

Mendengar itu Zio menarik senyum tipis, "Ternyata lo belum berdamai sama masa lalu, ya?" gumamnya yang langsung menarik perhatian Lula. Kemudian menghela napas, "Lupain."

Namun Lula tidak merespon.

"Mata lo sembab gitu. Kompres gih. Jangan kebanyakan tidur nanti pusing." Zio menasehati.

Lula mengangguk, "Kompresin." rengeknya manja.

Zio mendecak, "Bentar. Gue ganti baju dulu." jawabnya sembari beranjak.

Lula menahan tangan Zio agar tetap duduk, lalu menarik senyum lebar, "Mukanya dikompresin dulu." ujarnya. Tangannya segera meremas handuk kecil yang tercelupkan air dingin lalu ditempel ke wajah Zio, "Berapa hari nggak masuk sekolah?" tanyanya.

Zio meringis ketika Lula menekan kuat lebamnya, "Empat hari."

"Akhirnya pernah diskors juga!" Lula tertawa kecil, sedangkan Zio mendecak pelan, "Padahal udah kelas tiga. Nggak takut ketinggalan pelajaran?" tanyanya.

"Pindah sekolah juga gue nggak peduli." jawaban Zio membuat Lula sengaja menekan lebamnya, "Agh, sakit, La!" pekiknya segera menjauhkan wajah dari tangan Lula.

"Makanya kalo ngomong jangan sembarangan!" Lula cemberut.

"Demi lo juga." sahut Zio.

Kemudian Lula menarik senyum lebar tanpa rasa bersalah, "Sayang kakak!" cengirnya membuat Zio mendecak geli. "Boleh nggak gue minta maaf?"

"Enggak."

"Kakak babak belur gini jugakan karena gue." kata Lula.

"Tapikan lo nggak minta." balas Zio.

Lula memainkan jari tangannya, "Ya tetep aja gue merasa bersalah."

"Mau buat gue marah beneran ya, La?" tanya Zio akhirnya, sebal melihat Lula yang sok menunjukan ekspresi sedih.

Lula refleks menggeleng. Mana bisa dirinya bertengkar dengan Zio, bisa galau satu hari non-stop!

"Sini dikompresin lagi." ujar Lula. Zio hanya menurut sesekali meringis merasa perih pada lebamnya.

Kemudian Lula menghela napas pelan. Pikirannya kembali terlempar ke perakataan Zio mengenai posisi Deon yang tergantikan oleh Alvi.

Benarkah posisi Deon berhasil digantikan oleh Alvi? Namun mengapa perasaan Lula tidak ingin mengakui itu? Pada dasarnya, posisi Deon tidak akan tergantikan oleh siapapun. Sekalipun dengan Alvi.

Alvi tidak se-spesial itu.

Bohong.

Lula tersentak ketika suara hatinya berbisik ke telinganya sendiri, seolah-olah menjawab pertanyaan dipikirannya. Ia segera menggeleng.

"Sshh..." Zio meringis, membuat Lula tersadar karena menekan lebamnya terlalu kuat.

"Kak," Lula memanggil setelah jeda selama sepuluh detik, "Lo... salah." gumamnya.

Zio mengernyit, "Salah?"

Lula sempat diam, sebelum bibirnya melontarkan, "Alvino nggak akan pernah berhasil merebut posisi Deon."

Yang kemudian berhasil membuat Zio menaikan satu alisnya.

"Karena dia punya posisi sendiri, tanpa perlu merebut posisi orang lain."

TBC

Ini ngetiknya dalam keadaan ngantuk parah, maafkeun jika rada-rada. Hehe

|26 november 2017|

Continue Reading

You'll Also Like

1.1M 25.9K 61
SMA Sakti digemparkan oleh Elvano Faresta -sang ketua kelompok balap mobil liar- yang secara tiba-tiba menjadikan Stella Lala sebagai kekasihnya. Nam...
302K 11.7K 49
Alva dan Andrea mempunyai kepribadian yang hampir sama. Keduanya adalah most wanted di sekolah, karena pesona mereka masing-masing. Itulah yang membu...
12.5K 597 55
[SELESAI] Mohon maaf bila ada cerita yang kurang lengkap. Semua part sedang saya Revisi. Jadi, mohon pengertiannya🙏🙏 ¤¤¤ #931 Wattpad 2019#793 Rind...
6.8M 349K 29
TERBIT 📖 - "Siapa yang bernama Sayang di sini?" teriak panitia itu, membuat sebagian orang di sana menahan tawa sekaligus penasaran. "Ayo ngaku aja...
Wattpad App - Unlock exclusive features