ANXIETY

By anemone42

38.9K 2.8K 357

Mereka adalah guru dan murid sebelum menjadi kekasih. Sekarang mereka bukan siapa-siapa, cuma rekan kerja dan... More

Obsession
You
Destiny
Young Doctor
Revenge
Fantasi
Bau Perempuan
Cinta Monyet
Kegundahan
Pengumuman (Author's Note)
Pria Homo Mati Saja
Ketidakpastian
Kesalahan
Untuk Orang Sakit
Another Ending: Anxiety

Tuhan Mencintaimu

12.2K 467 35
By anemone42

First published on wattpad Sep 20, 2018



ANXIETY

"Love. Obsession. Uncertainty."

***

Secarik kisah dari ribuan eksemplar buku cerita kehidupan.

***

Aku adalah makhluk buas untuk imajinasiku. Aku pemikir brutal yang membabi buta atas keinginan-keinginan tak masuk akal. Menurutmu, apakah takdir yang membuat kita bersama? Menurutku bukan. Tuhan mencintaimu, karena itu sekarang kita berpisah, tapi aku memerangkap diriku sendiri bersamamu, memaksa renggang usia kita seolah bukan masalah, berpaling dari moral sosial, karena aku.. pendosa.

Kau bilang, "langit itu seperti laut!" Aku ingin mempercayai kata-katamu, mempercayai setiap hal yang kau lakukan. Dengan binar yang berkerlap kerlip di matamu, aku ingin menyaksiksan bagaimana langit dan laut yang begitu jauh jaraknya pun bisa bergandengan seperti yang kau sebutkan. Dengan begitu, aku tak perlu takut atas keraguan yang kusimpan dan kupendam diam-diam.

Aku takut...

Kau belum tahu bagaimana terbangun di pagi hari dan isi kepalamu langsung diserang banyak hal. Kau belum tahu bagaimana berhemat dan memenuhi kesenanganmu itu adalah dua hal kontradiksi. kau belum tahu cara bercakapmu memiliki arti. kau belum tahu seberapa rumit suatu hubungan, karena kau belum tahu bagaimana rasanya menjadi orang dewasa.

Tapi itu tidak apa-apa, Eren.. itu bukan masalahmu atau masalahku. Lihatlah sekarang, dimana kita, dengan siapa, mengenakan apa, dan apakah kau tersenyum? Selama kau bisa lihat aku, aku akan membuatmu tersenyum dan begitulah kita melewati hari. Sejauh apapun sesuatu memisahkan kita, akan kuingat... langit pun bisa menyentuh laut di ujung horizontal.

Eren,

"Mister Levi!"

Ya, seperti itu, Eren. Lambaikan tanganmu padaku, sebut namaku dengan nada itu. Melodi yang selalu aku ingin dengar di musim dingin, supaya es mencair. Melodi yang ingin aku simpan di saku, supaya bisa kumainkan dimanapun. Melodi yang selalu ingin aku genggam, karena tiada hari cerah tanpa melodi itu. Melodimu berseru dengan lantang, meyakinkanku, kau menginginkanku sebesar aku menginginkanmu meski hasratmu itu hanya sesaat.

Sesaat sampai kau...

melewati usia remaja.

***

ANXIETY

"Love. Obsession. Uncertainty."

***

Kau bisa tertawa sesukamu, kau bisa menangis ketika kau ingin, kau boleh berteriak dan marah jika kau memang merasakan itu, tapi aku... kedua tanganku, yang kulitnya menebal dan tak lagi berdarah jika cuma duri melukainya atau pisau dapur menggoresnya, bukan hanya rantai yang membelilitnya. Ular-ular melilit dan tertidur di kedua tanganku. Aku bisa menggerakannya, tapi bagaimana jika ular-ular itu terbangun? Tapi jika aku tak bergerak, bagaimana aku bisa mempertahankan hidupku?

Bahkan tangan ini tak mampu meraihmu untuk aku genggam dalam pelukan dan kuberitahu padamu bahwa aku tak ingin melepasmu, aku ingin kita berjabat tangan tanpa mempedulikan apa yang mungkin orang lain pikirkan, tanpa memikirkan apa akibat dari yang kita lakukan terhadap masa depanmu.

"Mr Levi, aku menyukaimu!"

Berapa juta kali kau telah mengatakannya padaku? Apa kau tak cukup yakin perasaanmu itu tersampaikan?

"Hei, Mr Levi... katakan kau juga menyukaiku."

Dan apakah aku perlu mengatakan hal yang sama padamu? Eren, dengar, ada orang yang berkata mereka menyukai hujan, tapi ketika hujan datang, mereka membuka payung. Ada orang yang berkata mereka menyukai matahari, tapi di siang hari mereka mengerut menghindari silau. Ada orang yang berkata mereka menyukai angin, tapi ketika hilir angin malam tiba, mereka menutup jendela dan pintu. Itu membuatku takut ketika kau berkata kau menyukaiku, Eren.

***

ANXIETY

"Love. Obsession. Uncertainty."

***

"Kau bohong,"

Aku tersenyum, berusaha membuat wajah ceria serupa yang biasa kau buat.

"Kau bohong!"

Aku tak lagi sebebas dirimu. Jika aku harus berbohong, itu karena hal terbaik yang harus kulakukan sebagai seseorang yang telah mengarungi kehidupan lebih banyak daripadamu.

"Kau tahu, aku tak pernah ingin tumbuh dewasa." kataku. "Dan aku terperangkap dalam tubuh begini. Aku kira aku bakal menjadi sosok Peter Pan, tapi ternyaat aku tak bisa terbang."

Apa kau akan tertawa mendengar lelucon ini? Mungkin kau tak mengerti, dan itu tidak apa-apa.  Bagimu, aku selalu menjadi pria dewasa yang mengerti banyak hal. Akan kujadikan itu sebagai pengingat dan kekuatan, begitu pikirku. Pikiran yang kelewat optimis.

Aku mengira-ngira apa yang kau pikirkan ketika kepalamu menunduk menatap sepasang sepatu usang yang kau bilang itu menjadi sepatu favoritmu di hari pertama kau menerimanya, di hari ulangtahunmu, sebuah kado yang kuberikan dari gajih pertamaku, dan kau tak tahu seberapa mahal sepatu itu dan aku bersusah payah mendapatkannya dengan mengurangi jatah makan. Kenyataanku ini berbanding terbalik dengan pikiranmu. Lelaki dewasa yang mapan, begitu kau memanggilku.

Sekonyong-konyong ku muntahkan kekhawatiran yang kuyakin kau tak mengerti. Kau menganggapnya lelucon bodoh, aku yakin itu. Karena jika kukatakan lebih jelas lagi, Eren, kau dan aku akan lihat seperti apa ketakutan yang kupendam. Aku tidak seperti yang kau pikirkan.

"Kau bohong!"

Apa yang tak aku dustakan kepadamu? Kesehatanku? Kisahku? Keluargaku? Pekerjaanku? Biaya sewa apartemenku? Kenapa kau tuduh aku berbohong sekarang ketika aku telah melakukan itu sejak awal? Demi mendapatkanmu, Eren.. demi membahagiakanmu, telah kubuang akal sehat dan harga diri. Kau telah membuat pendosa ini merasa bersalah, dan perasaan bersalah adalah larangan pertama bagi seorang pendosa. Kau tak tahu penderitaan yang kurasakan, Eren. Kau tak pernah tahu karena aku pendusta yang handal. Dusta, ini keahlianku dan kau menyebutnya pengkhianatan, karena kau percaya semua yang kuucapkan adalah kebenaran dan kau pun mengikuti tiap kata-kataku.

Jika aku tak pernah berdusta, apakah aku akan pernah menggengam tanganmu? Apakah kau akan mengatakan kata-kata yang membuatku khawatir suatu hari nanti kau akan melupakan kata-kata itu? Kata-kata sederhana yang menghangatkan hatiku seperti 'terimakasih!', 'aku suka dasimu, Mr Levi', dan 'aku ingin tumbuh tinggi supaya aku bisa melindungimu'. Apa bahkan kau akan berada di sini dan mengenalku? Aku perlu berdusta, Eren. Tapi satu hal yang tak kudustakan; alasan dibalik pendustaan ini.

"Eren,"

"Mr Levi, kenapa kau tak pernah bercerita padaku?"

Bagaimana bisa aku melakukannya? Sekalipun kau mengerti, apa yang bisa kau lakukan setelah itu? Karena bahkan aku, yang lebih tua darimu, meringkuk di sudut ruangan terpenjera keegoisan. Bagaimana seorang remaja sepertimu bisa menghadapi situasi begini? Apa kau ingin katakan kau lebih dewasa dariku? Kau mampu membuat keputusan dan berjalan yakin di atas pilihanmu? Apa kau bahkan bisa membeli rokok dan menegak sake di usiamu?

Hei, Eren...

sekarang katakan mantra itu. Katakan dengan segera. Bangunkan ular di kedua tanganku. Buat mereka menggigitku, dan biarkan bisanya merayap ke jantung, supaya kita bisa sama-sama terbebas.Kau tahu, selama jantung ini berdetak, hatiku tidak akan menyerah dan terisi penuh dengan banyak harapan yang membuatku sekarat, dan kau tak tahu sekarat menyiksamu lebih kejam daripada kematian. Katakan mantra itu, Eren. Katakan kau ingin mengakhiri ini. Biarkan aku memiliki kehidupan yang bebas, yang tak mengenal kasih, yang mengenal kekerasan adalah bagian dari keadilan hidup, yang tak mengenal perlindungan dan hanya tahu memperjuangkan diri sendiri.

"Mr Levi.. aku.. Aku ingin jadi seseorang yang bisa kau andalkan, aku juga ingin memberimu sesuatu istimewa dan mahal, tolong berhenti berbohong dan katakan semua keluh kesalmu padaku, supaya aku berguna untukmu!"

Ah, Eren...

Bukan itu kata-kata yang kutunggu.

Kenapa kau mengatakan itu dan membuat keadaan lebih rumit? Kenapa kau memberi pria tua ini uluran tangan dan membuatku sulit kehilanganmu? Apa kau ingin tunjukan bahwa aku tak lebih dari orang tua biasa? Aku hanya manusia yang menua tanpa kedewasaan, begitu? Eren, bisakah kali ini kau berhenti bertingkah seolah kau tahu apa yang harus kau lakukan? Karena kau telah membuat pria tua ini bingung. Kau telah membuat pria tua ini mabuk setiap hari, kau telah mengoyak hatinya dalam letupan kebahagiaan, yang pria tua ini tak sadar tiap letupan telah membawa dirinya lebih dekat ke garis kematian. Ego yang kau pupuk dan kau balut dengan cinta, pria tua ini tak memiliki wadah yang cukup untuk perasaan sebesar itu. Jadi kau tahu Eren, daripada mencintainya, kau malah berusaha mempermanjang waktu sekarat pria tua ini.

Ingatkah kau hari dimana kau menghabiskan waktu luangmu di apartemenku? Aku mencuri dengar percakapanmu dengan ibumu di telepon. Kau bilang, "aku ada kerja kelompok. Tugas bahasa Inggris." Dan kau tahu apa yang sedang kau lakukan ketika itu? Kau berbaring di kasurku, mengendus bauku, lalu kau mendesah memanggil namaku. Atau hari Minggu kita, kau ingat? Kau bersamaku, di atas sofa usang di balik selimut yang tak kau lepas sejak semalam, kau tertidur sementara aku menikmati lembar demi lembar bacaan yang tak benar-benar aku baca, karena kepalaku sibuk mengontrol diri menjagamu dari sentuhan buasku, dan di waktu bersamaan aku menahan perasaan was-was jika sewaktu-waktu pintu apartemenku diketuk dan aku melihat wajah garang kedua orangtuamu. Aku tahu, kau pun menjadi seorang pendusta karena aku. Kau katakan pada orangtuamu kau menginap di rumah teman, kan?

***

ANXIETY

"Love. Obsession. Uncertainty."

***

"Oy, Levi.. sampai kapan kau akan menonton foto usang itu?"

Levi menyelipkan selembar foto di tangannya ke dalam dompet, kemudian melupakan rekan kerjanya yang lagi-lagi memergokinya melamun sambil menatap foto sang mantan kekasih.

"Ini waktunya kau masuk kelas, Levi."

"Berisik. Aku sudah tahu."

Levi meninggalkan ruang guru tanpa suara, menyusuri koridor dengan dentum hak sepatu menggema di antara pilar-pilar sekolah. Tawa anak-anak mengaum dan sesekali terdengar teguran guru mereka. Suasana seperti itu, Levi kira dia akan berhenti merasakannya jauh-jauh hari. Levi kira dia akan membenci hal itu. Levi kira, dia tak akan tahan memilikinya menjadi bagian hidup. Enam tahun lamanya sejak dia berniat mengundurkan diri dari pekerjaan ini, tapi tertahan oleh sesuatu yang tak bisa dia mengerti. Kesimpulan semula tentang dirinya mengidap penyakit kejiwaan, pedopilia, bukan alasannya. Dia tak memiliki hasrat yang serupa kepada murid lain selain Eren Jaeger.

"Mereka takut padamu." Hange meneguk susu kedelainya sambil mengganggu jam istirahat Levi. "Apa kau tak bisa lebih bersahabat dengan anak-anak? Oh! Lihat, itu Petra. Semua murid menyukainya. Apakah ada murid yang menyukaimu seperti mereka menyukai Petra?"

"Aku tak membutuhkan mereka menyukaiku. Mereka menyeganiku. Aku mendidik mereka, bukan membuat mereka jatuh cinta."

"Aw.." Hange menahan dagunya di atas kedua tangan. "Kata-katamu menyentuh sekali.. aku tak mengira kawan bejadku bisa sangat lembut. Oh, tapi kau sangat beruntung, Levi."

Levi mendelik, mencari raut terang Hange yang memang selalu seterang matahari pagi yang mengusik tidur.

"Kau mungkin tak disukai banyak murid, tapi kau disukai oleh seseorang yang disukai banyak murid. Maksudku si guru muda itu, Petra. Hei, berhentilah menatap pacar lamamu. Kau tidak hidup untuk masa lalu. Apa yang kurang dari Petra?"

Levi diam tak menggubris, menatap langit biru yang bersih dari awan, mengingat-ingat apakah tadi pagi dia mendengar ramalan cuaca?

"Hei, Levi..."

"Hn?"

"Petra mengira kau patah hati karena tak bisa memacari sepupumu, Mikasa."

Levi menaikkan sebelah alis.

"Foto di dompetmu itu bukan selembar foto berisi satu orang kan?" kata Hange menjelaskan. "Dia tidak tahu kalau Mikasa adalah sepupumu."

"Ah," Levi terperangah menyadari maksud Hange.

"Aku tak tahu kenapa kau putus dari Eren ketika kau tak bisa melupakannya setelah 6 tahun."

"Diam, kau mata empat."

Hange menguncang-guncang kotak susunya, memastikan dia tak melewatkan tetes terakhir. "Apa Mikasa tak tahu Eren pernah pacaran denganmu?"

"Kau pikir aku akan membuat pengumuman semacam itu?"

Hange mendengus menahan tawa. "Aku ingin lihat bagaimana wajahmu ketika kalian berkumpul di acara keluarga."

"Keluarga apa?"

"Kau dengan Mikasa.. Ups, maaf.. aku lupa keluargamu terlalu rumit. Perkumpulan keluarga sepertinya bukan sesuatu yang umum ya?"

"Hange, enyahlah."

"Berapa kali Eren berganti pacar setelah putus darimu?"

"Enyahlah!"

Hange mengerut, mengerti benar ini memang waktunya dia harus memberi waktu sendirian untuk Levi. Sambil berlalu, Hange mengumpat, "dasar pecundang. Kalau suka, tinggal kejar saja."

Berapa kali Eren berganti pacar?

Pertanyaan Hange menohok ulu hati Levi. 

Levi mengeluarkan dompetnya, mencabut selembar foto dan merobeknya menjadi potongan abstrak. Tangannya bergerak cepat seperti kenangan yang mulai menghambur dalam benak. Tiba-tiba terlintas jumlah waktu yang dia habiskan bersama Eren kemudian membandingkannya dengan lamanya Eren bersama Mikasa.

Apakah empat tahun, tiga ribu, sepuluh ribu atau dua ratus juta tahun, itu tak akan memberi arti apapun. Eren tak lagi kekasihnya yang berkata, "aku ingin bersama Mister Levi selama-lama lama lama-lamanya". Eren yang berkata seperti itu hanya hidup selama tiga tahun di SMP. Percuma saja menyimpan fotonya.

Potongan-potongan bagai remah-remah kue itu jatuh ke dalam tong, menumpuk sampah-sampah lain.

"Eren.."

Kematian bisa memisahkan apapun. Waktu pun bisa menciptakan jarak yang amat renggang. Dalam hubungan apapun, kematian dan waktu selalu mampu membelahnya. Tapi, itu tidak berarti tidak ada hal yang lebih keras selain kematian dan waktu untuk memisahkan mereka.

"Eren Jaeger.."

Levi mendengung, menyenandungkan sebuah lagu yang anehnya masih dia ingat setelah enam tahun berlalu dari terakhir kali dia mendengarnya.

.

.

.

Bersambung.

Continue Reading

You'll Also Like

134K 8K 5
[Threeshoots Complete] ..................................................... Shingeki no Kyojin @ Hajime Isayama Levi Ackerman x Eren Jaeger . . Levi...
12.3K 2.2K 3
Shingeki no Kyojin @ Hajime Isayama Levi Ackerman x Eren Jaeger Slight : Harem! Eren Genre : Romance, School, Drama, Humor Rate : M [Threeshoot Compl...
16K 1.7K 30
Pertemuan di bawah hujan saat Musim Panas, membuat Hanji Zoe jatuh cinta untuk pertama kali dalam hidupnya. Kehidupan seorang Guru dan wanita dewasa...
82.7K 8.4K 95
Levi dikirim oleh Ibunya ke sebuah sekolah yang sangat terpencil dan jauh dari keramaian kota, ia dipindah sekolahkan karena terlalu nakal dan sering...
Wattpad App - Unlock exclusive features