Back To You (GxG)

By Yaya_ID

568K 40.9K 3.1K

Peringatan : Tidak disarankan untuk yang emosian 😈 Endingnya takkan seindah khayalan. Ngasih tau aja sih 🤣 ... More

Prolog
1. Small World
2. Sketch Book
3. Rain
4. Friendship
5. Cafe
7. Hospital
8. Going Home
9. Apartment
10. Apartment (2)
11. Ooppss..
12. Jealous
13. Watch Out!
14. Distraction
15. Relationship
16. Chance
17. Abby
18. I Wanna Hold You
19. Confession
20. Plus One
21. With You
22. A New Beginning
23. Let Me
24. Family
25. Rumour
26. Pumpkin (?)
27. Heartbreaker
28. Third Person
29. Be My Friend
30. Coming Home
31. Meet Up
32. The Truth
33. In Between
34. Memories
35. About Us
36. I'm Yours
37. Love Isn't Always As You See It
Rain's Past
Andrew's Past
38. Father
39. I Love You, Rain
40. Back To You
Epilog
Thank You to All Readers + Q&A
Join Group

6. First Day

13.3K 987 45
By Yaya_ID

Hari ini aku mengikuti interview di café Rilassato. Aku memutuskan untuk mencoba peruntungan, mana tahu ada rezeki aku untuk bisa bekerja di sini. Kalau tidak diterima ya berarti belum rezeki aku, walau pastinya ada rasa kecewa. Astaga memikirkannya saja sudah ada rasa kecewa.

Hari ini aku memutuskan untuk mengenakan kemeja warna putih, celana kulot warna hitam dan flatshoes hitam. Katanya saat interview itu yang pertama diperhatikan adalah penampilan kita. Memang kesannya jadi seperti seseorang yang sedang melamar pekerjaan untuk jadi pegawai kantoran atau anak magang di perusahaan, tapi tidak ada salahnya kan untuk mencoba memberikan kesan sopan?

Ada sekitar 13 orang yang datang untuk interview hari ini. Lumayan banyak nih saingan aku. Kami menunggu di dalam café sambil menunggu giliran untuk dipanggil oleh owner café. Kebanyakan pelamar adalah perempuan, hanya tiga orang yang laki-laki. Yang dibutuhkan cafe ini hanya satu orang, jadi kemungkinannya adalah 1:13 atau persentasi sekitar 7,69 %. Astaga aku menghitung apa sih?

Salah satu perempuan yang duduknya sedikit terpisah sedang asyik bermain ponsel tanpa memedulikan sekelilingnya sambil mengunyah permen karet. Dia mengenakan baju kaos hitam yang dipadankan dengan jaket blue jeans, celana ripped jeans hitam, dan sepatu kets Converse warna putih yang entah ori atau KW. Dia niat kerja atau mau ngegaul sih sebenarnya?

Senada dengannya ada satu lagi perempuan yang sedari tadi sibuk dengan ponselnya sambil dadah-dadah dan berbicara dengan hebohnya, aku menduga dia sedang live di salah satu sosmednya. Entah ada yang menonton atau tidak, aku tidak peduli juga sih, cuma merasa lucu saja melihatnya. Dia mengenakan kemeja warna biru yang kancingnya dibiarkan terbuka dan menampakkan tank top hitamnya, celana jeans dan sepatu kets warna biru dan ransel hitam yang hanya disampirkan sebelah bahu saja.

Sementara yang lainnya terlihat normal saja dan sibuk dengan ponsel masing-masing. Aku pernah membaca bahwa salah satu hal yang mesti kita hindari saat menunggu interview adalah bermain ponsel karena kesannya kita itu gampang bosan. Jadi, aku hanya duduk diam saja memperhatikan mereka. Sepertinya hanya aku dan salah satu perempuan di dekat meja bar itu yang terlihat normal secara pakaian ,ya, karena cuma kami berdua yang mengenakan celana kulot sementara yang lainnya mengenakan celana jeans, celana yang harus dihindari saat interview bahkan saat bekerja pun tidak boleh mengenakan celana jeans kecuali tempatnya bekerja mempunyai kebijakan sendiri untuk hal itu.

Satu persatu kami dipanggil dan aku mulai gelisah karena namaku tidak kunjung dipanggil juga. Setelah menunggu sekian lama, akhirnya namaku dipanggil dan diminta untuk mengikuti karyawan yang bernama Putri untuk menuju ke tangga yang menuju lantai atas, ruangan owner café. Aku jadi penasaran seperti apa owner-nya.

Aku berjalan menaiki undakan anak tangga sambil berdoa dalam hati untuk mengatasi rasa gugupku. Aku mengetuk pintunya dan membuka pintunya begitu ada sahutan yang mempersilahkan aku masuk. Suara perempuan. Oh owner-nya perempuan, ya? Aku penasaran dan perlahan membuka pintunya.

"Assalamu'alaikum. Selamat pagi," sapaku kepada sosok perempuan yang duduk di sofa hitam minimalis di tengah ruangan. Sebuah laptop dengan lambang apel yang tergigit menyala di depannya. Sebuah headset menggantung di salah satu telinganya, sepertinya dia sambil menerima panggilan.

"Wa'alaikumsalam. Selamat pagi. Silahkan duduk," sahutnya sambil tersenyum ramah. Cantik sekali perempuan ini.

"Iya, terima kasih, Bu," sahutku sambil duduk dengan posisi menghadap dia. Dia sedikit terkejut saat aku duduk.

"Kenapa duduk di sana? Tidak duduk di posisi yang lebih dekat dengan saya?" tanyanya sambil tersenyum.

"Mmhh maaf, Bu, bukannya saya bermaksud tidak sopan, tapi kalau saya duduk di hadapan Ibu bukannya jadi lebih memudahkan Ibu untuk mengamati saya?" sahutku dengan gugup takut menyinggung perasaan. Masa belum apa-apa sudah kasih kesan jelek.

"Hahaha.. nice answer. Saya suka mendengarnya," sahutnya sambil tertawa, ya ampun cantik sekali. Dia mengambil berkas di atas meja yang sepertinya surat lamaran milikku. "Oke, langsung saja dan santai ya. Saya Rosaline, saya salah satu owner café Rilassato ini. Silahkan kamu perkenalkan diri dulu, ya," ucapnya sambil tersenyum. Dia menyilangkan kaki dan meletakkan salah satu tangan di atas lututnya sementara satu tangannya yang lain memegang berkas lamaran milikku.

Salah satu owner? Berarti ada lagi selain perempuan cantik satu ini? Keren sekali, aku jadi iri. Cantik, pintar, mandiri, ramah pula.

"Pagi, Bu Rosaline. Perkenalkan nama saya Yara Ananda, umur 20 tahun. Mahasiswi semester 6,  jurusan Akuntansi. Saya belum pernah bekerja sebelumnya." Aku langsung terdiam karena aku tidak tahu mau bilang apa lagi. Aku bingung karena ini pengalaman pertama aku. Aku berusaha untuk tetap tenang meski aku sebenarnya ingin sekali kabur dari sini karena tiba-tiba saja aku merasa gugup kembali.

"Yara Ananda, nama yang bagus. Hobi kamu apa?" tanya Bu Rosaline kembali sambil tersenyum dan membuatku kaget dengan pertanyaannya yang sepertinya tidak berhubungan sama sekali.

"Hobi saya mendengarkan musik, membaca, dan menggambar," sahutku dengan takut-takut.

"Kamu suka seni ya sepertinya. Oke, apa alasan kamu melamar pekerjaan di sini?"

Kalau aku bilang karena iseng atau coba-coba pasti akan dikira akunya tidak serius, hanya main-main. Kalau aku bilang ingin mencari pengalaman, apa tidak terkesan sombong? Seolah aku sudah banyak melakukan banyak hal.

"Saya ingin membantu meringankan beban orang tua saya. Terlebih saya juga membutuhkan uang untuk biaya skripsi dan wisuda saya nanti. Semoga saja kalau saya diterima bekerja di sini, saya bisa membantu orang tua dari segi ekonomi." Menjawab dengan jujur menjadi pilihanku.

Bu Rosaline tersenyum mendengar jawabanku. "Seandainya kamu diterima di sini, apakah kamu akan berhenti saat nanti kamu lulus kuliah?"

"Saya tidak berani berandai-andai, tapi jawabannya saya saat ini, saya akan terus bekerja di sini bila diperkenankan," jawabku sedikit ragu.

"Saya tidak memaksakan seseorang untuk terus bekerja di sini bila suatu saat nanti menemukan pekerjaan yang jauh lebih baik dari yang café ini dapat tawarkan, Yara. Hanya saja saat memulainya dengan baik, akhirilah dengan baik pula. Paham maksud saya?" sahutnya sambil tersenyum tapi dengan ketegasan dalam nada bicaranya. Sesekali dia melirik ke arah layar macbook-nya dan tersenyum.

"Saya paham, Bu," jawabku sambil tersenyum gugup.

"Oke, ada yang ingin kamu tanyakan?" tanyanya sambil menatapku. Aku terpaku melihat bandul liontinnya, bagus seklai. Tapi sepertinya aku pernah melihatnya, di mana ya?

"Mmhhh.. tidak ada, Bu," sahutku sambil membenarkan posisi dudukku.

"Kerjakan soal akuntansi dasar berikut ini, ya. Waktunya 15 menit saja. Tidak perlu buru-buru," ucapnya sambil memberikan dua lembar kertas, kertas soal dan kertas kosong.

Aku segera meraihnya dan menjawab soalnya, gampang lah ini pikirku. Aku mengerjakannya dengan cukup cepat karena hanya penjurnalan biasa dan soal matematika dasar. Sepertinya aku mengerjakannya tidak sampai 15 menit deh. Aku menyerahkan lembaran milikku dan dibacanya sejenak. Sekilas aku lihat dia tersenyum.

"Baiklah. Saya rasa cukup. Dalam waktu 2x24 jam nanti, kamu akan dikabari mengenai hasil interview­ dan tesnya."

"Baik, Bu. Terima kasih banyak. Selamat pagi," pamitku sambil berdiri dan menjabat tangannya dengan gugup dan segera berjalan menuju pintu keluar.

Aku menarik nafas panjang setelah berada di luar pintu untuk meredakan kegugupanku. Aku sampai tidak sempat lagi mengamati sekitarku saat berada di ruangan itu.

Aku segera pulang menuju kost, aku ingin segera nonton drakor.

~

Aku baru saja menerima chat dari Bu Rosaline dan aku hampir saja menjatuhkan ponselku saking terkejutnya dengan isi chatnya. Aku diterima? Aku punya pekerjaan? Aku akan punya penghasilan sendiri?? Astaga aku senang sekali. Malam ini aku harus ke café dan bertemu kembali dengan Bu Rosaline. Aku segera membalas chatnya dan menyatakan aku akan datang ke sana sesuai jam yang ditentukan dan tidak lupa berterima kasih karena telah diterima bekerja.

Tentu saja aku tidak bilang dengan orang tuaku karena mereka pasti tidak akan mengizinkan aku bekerja sebelum aku lulus kuliah. Aku hanya akan memberi tahu Mbak Ningsih, karena dia yang selalu kasih aku dorongan untuk mengajukan lamaran karena aku sebelumnya ragu-ragu. Dia pasti akan ikut senang mendengar kabar gembira ini. Aku segera berlari ke kamarnya untuk berbagi kebahagiaan.

Sebelum jam tujuh malam aku sudah tiba di café Rilassato. Ada mobil mewah putih mutiara yang waktu itu pernah aku lihat keluar dari area parkir, mirip dengan mobil Rain, atau memang itu mobil Rain? Aku bergegas masuk untuk memastikannya. Aku mengedarkan pandanganku ke seluruh penjuru café, dan aku melihat dia di meja yang sama dengan pertama kali aku melihatnya di sini. Dia terlihat cantik banget sekaligus keren dalam balutan kemeja putih, dalaman kaos hitam polos. Rambutnya digerai dengan sebagian menutupi wajahnya. Dia sedang duduk sambil menopang wajahnya dengan sebelah tangannya.

Aku ingin mendekatinya tapi aku takut dikira sok akrab dan lagi aku takut diomelin sama dia di depan publik begini, mungkin saja dia nanti malu kalau disamperin cewek 'ndeso kayak aku ini. Aku jadi urung melangkahkan kakiku. Bersamaan itu, Putri, salah satu waitress, memanggilku dan katanya aku sudah ditunggu di lantai atas. Dia juga mengucapkan selamat atas diterimanya aku bekerja di café ini. Setelah mengucapkan terima kasih, aku segera naik ke lantai atas untuk bertemu dengan Bu Rosaline.

***

Setelah semua pelamar selesai di-interview dan melaksanakan tes, ada dua pelamar yang lulus dan memenuhi syarat, salah satunya adalah Yara. Sebenarnya harus ada pengerjaan soal psikotes dulu, namun sangat terburu-buru untuk persiapannya dan membutuhkan posisi kasir dengan segera.

"Jadi siapa yang ingin kamu rekrut jadi karyawan barumu?" tanya Ocha melalui sambungan Skype.

"Besok deh keputusannya. Aku pulang nanti sore ke Jogja, Bang Reno sudah mulai sehat. Lagipula aku juga punya janji dengan client Ayah di Jogja, aku diminta untuk membantu pekerjaannya lagi. Mendadak sekali, padahal aku berencana di sini hingga 4-5 hari lagi," sahutku sambil memijit kening yang mendadak sakit.

"Kamu berbakat di dunia bisnis, kamu tahu itu. Makanya Ayahmu mempercayakannya padamu. Kamu capek?" tanyanya dengan nada cemas, terlihat dari tatapan mata dan raut mukanya.

"Iya, aku paham itu. Tidak capek kok, hanya saja aku sebenarnya ingin Bang Reno yang meneruskan usaha Ayah nantinya. Tapi, mereka berdua tidak pernah akur sejak lama. Aku tahu Abang sebenarnya ingin bisa dipercaya meneruskan tapi dia sendiri juga terlalu malas untuk menunjukkan minatnya." Aku menghela nafas mengingat Ayah dan Bang Reno yang tidak pernah lagi bertegur sapa.

"Kenapa dia tidak meneruskan pendidikannya? Kan bisa kejar paket C, lanjut kuliah setelah itu."

"Kamu seperti tidak tahu Bang Reno saja. Aku juga maunya dia melanjutkan pendidikannya, bukan untuk orang tua kami, tapi untuk dirinya sendiri," sahutku tanpa menyadari ada seseorang yang mendengarkan percakapanku. "Dia tidak bisa terus-terusan begini, dia harus memikirkan masa depannya. Sebenarnya dia tidak punya pilihan selain meneruskan usaha Ayah."

"Kamu bicarakan lagi deh sama dia. Cuma kamu yang omongannya didengar olehnya."

"Nantilah aku ajak bicara lagi. By the way, terima kasih sudah membantuku di sana." Aku tersenyum tulus atas bantuannya.

"Iya, Baby. Siap-siap berkemas gih. Nanti kena macet pula kalau kamu berangkatnya mepet waktu. Pastikan tidak ada yang ketinggalan lagi seperti waktu itu. Jangan lupa makan dulu. Berdoa sebelum berangkat." Bawelnya kumat.

"Iya, Nyonyah. Siap laksanakan." Aku tersenyum sambil sedikit membungkukkan badan dan disambut dengan tawanya. "See you," ucapku sambil mematikan sambungan.

~

Akhirnya kami memutuskan untuk memperkerjakan Yara di café dan Ocha yang menghubungi serta menemuinya malam ini untuk memberitahu mengenai apa saja yang harus dikerjakan, tanggung jawab dan haknya, dan lain sebagainya. Aku tidak mau menemui Yara sebagai owner café karena mungkin akan membuatnya merasa tidak nyaman. Untungnya Ocha memahami maksudku.

Aku memilih turun ke café sebelum Yara datang dan duduk di tempat biasa yang kebetulan kosong. Sementara aku sedang bersantai menikmati kopiku sembari mempelajari berkas kerjaanku, Yara melangkah masuk. Tepat waktu juga dia, kurang sepuluh menit dari waktu yang dijanjikan. Sekilas aku melihat dia memakai kemeja biru, seperti ada sulaman sesuatu di bagian dadanya, entah apa, tidak terlihat jelas dari tempat aku duduk. Tak lama dia segera naik ke ruanganku untuk menemui Ocha.

Selang sepuluh menit kemudian aku bergegas keluar dari café dan memilih untuk ada di dalam mobil saja. Aku tidak mau nanti dia tiba-tiba saja menghampiri aku, tentunya tidak enak dilihat oleh pegawai yang lain walau sebenarnya Yara tidak tahu kalau aku adalah owner di sini. Aku sedikit membuka kaca mobilku, membiarkan udara malam merasuki paru-paruku dan berharap dapat mendinginkan kepalaku. Aku bertengkar dengan Bang Reno saat aku berusaha membujuknya untuk memikirkan pendidikan dan masa depannya. Aku tahu itu bentuk protesnya akan sikap orang tua kami tapi semoga saja setelah mendinginkan kepalanya dia akan mulai memikirkan masa depannya dengan lebih baik lagi. Aku melamun entah berapa lama sampai Ocha masuk ke mobil mengagetkan aku. Rupanya dia telah selesai dengan Yara dan urusan lainnya di café.

"Baby," sapanya sambil membuka pintu mobil dan duduk di sampingku.

"Eh?? Iya? Sudah?" Aku terlonjak kaget mendapatinya yang tiba-tiba datang. Seperti penampakan saja.

"Sudah kok. Sekalian aku perkenalkan dia dengan karyawan lainnya. Aku lihat tadi mejamu kosong, aku yakin kamu pasti menunggu di mobil," jelasnya sambil berkaca membenahi tatanan rambutnya.

Dia masih mengenakan pakaian kerjanya hanya saja blazernya sudah tidak lagi melekat di badannya. Lengan kemeja biru mudanya tergulung hingga sebatas siku. Kancing atasnya terbuka satu menampakkan bandul liontinnya yang terlihat kontras dengan kulit putihnya. Celana kulot hitamnya langsung ditanggalkannya dan berganti dengan memakai jeans yang selalu ada di jok belakang mobilku.

"Kamu kenapa tidak berganti pakaian di ruanganku saja sih?" tanyaku heran dengan kelakuannya dan mengalihkan pandanganku, pura-pura membenahi penampilanku sendiri.

"Kalau aku ganti di ruanganmu, kamu tidak lihat dong saat-saat seksiku begini. Hahaha," jawabnya sambil tertawa.

"Aku sudah bosan melihatnya," jawabku asal sembari mengambil T-Shirt putih yang aku gantungkan di belakang jok Ocha.

Dia melepaskan kemejanya dan berganti dengan T-Shirt putih. Hanger-nya beralih fungsi untuk menggantung kemejanya.

"Hahaha andai orang lain yang melihat, mungkin akan bereaksi yang berbeda," sahutnya yang langsung membuatku melotot kearahnya. Andai dia tahu kalau aku panas dingin melihatnya.

"Awas saja kamu begitu di depan orang lain selain suamimu," ancamku serius.

"Hahahaha tentu saja aku tidak akan segila itu, Baby. Cukup kamu saja." Tawanya berderai. "Yuk ah pergi, kita makan ya. Aku lapar nih," ucapnya sembari mengelus perutnya.

"Aku bukan suamimu," sungutku sambil menjalankan mobil keluar dari area parkir café.

~

Hari ini cukup melelahkan bagiku. Aku harus bertemu dengan client Ayah dan meeting yang cukup membuat kepalaku berdenyut, tapi aku akuin saja kalau aku menyukainya. Tantangan tersendiri untukku walau sebenarnya aku kurang suka berinteraksi dengan orang lain tapi demi membuktikan bahwa aku mampu, aku harus bisa menaklukkan tantangannya. Sangat tidak nyaman ketika kita diremehkan oleh orang lain tanpa melihat terlebih dahulu kemampuan yang kita miliki. Seperti waktu aku bekerja di kantor Ayah yang di Jakarta, semua memandang aku sebagai anak pemilik perusahaan bukan sebagai aku. Maka akan aku buktikan bahwa aku memang berbakat dalam dunia bisnis seperti orang tuaku.

Aku langsung menuju café setelah segala urusanku dengan client Ayah selesai. Aku melangkahkan kakiku memasuki café yang sepertinya sangat ramai. Aku sepertinya melupakan sesuatu tapi apa, ya? Otakku terlalu capek untuk berpikir saat ini apalagi berusaha mengingat hal-hal lain. Tapi, sepertinya ini sesuatu hal yang penting.

Aku berusaha mengingatnya sembari melangkahkan kaki dan begitu melewati meja kasir aku baru ingat hal apa yang aku lupakan sesaat sebelumnya. Yara. Aku lupa dia bekerja di sini sejak hari ini dan aku tidak bisa menghindarinya karena dia juga sempat melihatku yang melewatinya bahkan dia tersenyum padaku tapi aku mengabaikannya. Sempat ekor mataku menangkap ekspresi terkejutnya.

Bodoh! Kenapa bisa aku melupakan hal ini? Aku berusaha menghindari dia walau nantinya juga pasti akan ketahuan. Walau sebenarnya akupun bingung kenapa aku harus menghindarinya, toh dia hanya seseorang yang pernah aku temui secara tidak sengaja. Yah anggap saja saat ini aku tidak ingin dia tahu kalau aku adalah owner cafe ini karena aku tidak ingin dia berpikiran kalau aku menerima dia bekerja di sini karena aku yang mengenalnya atau karena kasihan.

Café ramai di hari Senin malam, kebanyakan adalah para karyawan kantoran yang melepas penat setelah suntuk bekerja di awal minggu. Rabu malam, Jumat malam, weekend dan apabila ada tanggal merah besoknya, pasti café ramai pengunjung. Di samping café ada lahan kosong yang dulu aku beli untuk investasi, sepertinya bisa aku manfaatkan untuk lahan parkir, sementara lahan parkir yang sekarang akan aku jadikan bagian dari café untuk smoking area dengan konsep outdoor. Aku sudah memikirkan hal itu sejak beberapa bulan yang lalu, saat ini aku sedang mengumpulkan modalnya. Tentunya aku perlu tambahan pegawai lagi nanti dan membeli perabotan baru. Sungguh bukan jumlah uang yang sedikit untuk mewujudkannya.

Aku mengamati Yara dari kejauhan. Aku melihat dia sedang fokus dengan layar komputernya sambil melakukan perhitungan karena satu tangannya dengan cekatan menari di atas panel kalkulator. Keuntungan kasir adalah tidak berinteraksi langsung dengan para pelanggan karena pembayaran dilakukan langsung saat selesai pemesanan. Jadi setelah selesai, pelanggan bisa langsung pulang tanpa mesti menunggu untuk pembayaran di kasir. Aku sedikit mengadaptasi konsep beberapa coffee shop ternama.

Sesekali dia mengalihkan pandangannya sejenak dari layar untuk melayani transaksi pembayaran. Dia selalu tersenyum dan menyapa tiap pelanggan yang melewatinya walau terlihat canggung, mungkin hanya karena dia belum terbiasa. Semoga saja dia betah dan tidak menimbulkan kekacauan selama bekerja di sini. Dia mengenakan seragam café sesuai dengan ketentuan yang ada, untungnya masih ada seragam lebih yang muat di badannya yang kecil itu walau terlihat agak sedikit kebesaran. Seragam polo shirt warna hitam dengan tulisan Café Rilassato yang di-print di bagian belakangnya, sementara bagian depannya ada logo café di bagian dada sebelah kiri. Sementara untuk celana aku membebaskan mereka untuk mengenakan celana jeans asalkan bersih dan rapi dan mengharuskan mereka mengenakan sepatu apa saja asalkan berwarna hitam.

Yara mengenakan tag bertuliskan 'Trainee' yang disematkan di dadanya. Rambutnya diikat tinggi dan sudah menjadi ketentuan juga bagi karyawan perempuan untuk merapikan rambutnya agar tidak mengganggu selama bekerja. Aku membebaskan tatanan rambut mereka asalkan bersih dan rapi. Tentunya semua karyawanku harus bersih, rapi, dan wangi.

Seketika dia berpaling menatap aku yang sedang menatapnya. Dia berusaha tersenyum dan melambaikan tangan ke arahku tapi aku lebih memilih untuk diam saja. Aku meraih cangkir kopiku dan segera menghabiskannya. Aku merapikan bawaanku dan segera berdiri. Setelah memastikan tidak ada yang tertinggal, aku segera melangkahkan kaki menuju pintu keluar. Saat melewati Yara, dia menoleh kepadaku dan tersenyum lagi menampakkan gigi gingsul di sebelah kanan. Aku baru menyadarinya kalau dia punya senyum yang manis. Saat dia tersenyum, matanya yang besar terlihat lebih hidup. Aku membalas senyumnya sekilas kemudian bergegas keluar dari sana sebelum dia menyapaku lagi.

Aku segera pergi menuju ruanganku sambil menunggu Ocha. Aku merebahkan badan di sofa, badanku rasanya capek sekali hari ini. Aku memejamkan mataku mencoba untuk sedikit meredakan denyutan di kepalaku. Entah kenapa malah bayangan senyum Yara yang terlintas dipikiranku. Tanpa sadar aku jadi ikut tersenyum. Hingga aku akhirnya terlelap entah berapa lama sampai Ocha membangunkan aku dan bilang kalau café sudah tutup.

Continue Reading

You'll Also Like

79.7K 4K 24
🎖#1 in ceritasekolah 🎖#1 in wattpadpastel Maaf, kalau ceritanya ngalur ngidul dan penulisan kosa kata yang belum tepat. Enjoy!^^
3.9K 276 61
Rangking : #3. Weird Girl (27 Agustus 2019) #2. Teen Girl (25 Oktober 2019) #3. Teen Girl (02 November 2019) #4. Weird Girl (25 Oktober 2019) #5...
81.4K 5.9K 18
Males bikin deskripsi Kalau penasaran langsung baca aja Update sesuai mood😇 Jangan lupa vote dan komen sebanyak-banyaknya
Wattpad App - Unlock exclusive features