Return

By PurnamaPagi

2.2K 349 250

Dika membenci dirinya yang dulu berprestasi namun tak pernah punya teman. Ia beralih menjadi pembangkang dan... More

Lembar 1
Lembar 2
Lembar 3
Lembar 4
Lembar 5
Lembar 6
Lembar 7
Lembar 8
Lembar 9
Lembar 10
Lembar 11
Lembar 12
Lembar 13
Lembar 14

Prolog

466 58 60
By PurnamaPagi

13 Januari 2018

Aku memandang gedung sekolah bertingkat di hadapanku. Sekolah berlantai tiga yang berdiri kukuh di pinggir jalan. Tembok kusam dan cat dinding yang mengelupas juga turut menambah kesan angker di dinding rapuh yang dulu kujadikan akses untuk membolos.

Lalu-lalang siswa berseragam putih biru juga tampak ramai di sekitaran gedung. Mungkin memang sekarang waktunya jam istirahat.

Sekujur tubuhku kaku. Melihat setiap sudut bangunan penuh kenangan yang tak terlupa: putih biruku, manis kelamnya jalan penuh lika-likuku, dan kawan seperjuangan yang enggan ku lupakan hingga detik ini. Aku tak akan melupakannya. Aku merindukan masa-masa yang tak dapat terulang kembali itu.

Sulit rasanya kaki ini beranjak pergi. Masih tertawan dengan sekelebat bayangan yang masih terulang layaknya piringan kaset yang terus berputar. Ingin ku luapkan segala kerinduanku pada sahabat dan teman seperjuanganku dulu. Namun, apa daya kami terpisah sekian jauhnya oleh jarak.

Kapan kuingat terakhir kali kami melakukan hal rutin setiap senin mendatang; membolos meloncati pagar dengan satpam galak yang merong-rong layaknya anjing kesetanan--mengejar kami hingga kami kewalahan. Kuingat hal itu, sangat. Keadaan berbanding terbalik dengan semestinya kini. Masa indahku tak akan sama seperti dulu.

Terkungkung dalam kurungan kokoh bernama kurikulum. Terjerat dan saling beradu dalam persaingan dunia pendidikan, dan merasa terasingakan dari dunia canda tawaku oleh satu hal bernama belajar.

Kami berlima terpisah, putih biru berganti putih abu. Namun tak semenyenangkan itu, putih abuku seolah semu, tak secerah putih biruku. Andaikan aku tahu jika sekolah swasta tak lebih baik dari sekolahku dulu yang biasa saja. Andai Bapakku tak kecewa dan tak menyekolahkanku di sekolah semacam kurungan pelajar itu. Sudah jelas aku tak mau melewati masa SMA seorang diri tanpa kawan dan rekan satupun. Bully, cercaan, dan makian kualami. Membunuh karakterku secara halus hingga menjadi seorang yang sangat pendiam dari belakang. Padahal, sebelumnya aku seorang pembangkang.

Aku menyeka ujung mataku yang agak berair. Semua kenangan itu membuat dadaku semakin sesak. Hingga pandanganku bertemu dengan seseorang di ujung kantin. Kulitnya tampak keriput seiring dengan waktu yang terus melahap umurnya. Kumis tebalnya tak akan pernah ku lupa hingga detik ini. Pak Hasan, satpam sekaligus musuh bebuyutanku dulu. Dia yang selalu menangkap basah aku dan para gerombolan berandalku jika ketahuan bolos. Mengejar kami sekuat tenaganya dan menggiring kami ke guru BK hingga kami mengumpat-umpatnya dengan kesal.

Dia beranjak mendekatiku. Entah dia masih ingat atau lupa dengan kebadungan yang pernah aku perbuat semasa SMP. Aku membiarkannya duduk di sebelahku. Di bangku taman sekolah, tempat biasa para alumni duduk di sini sembari bernostalgia dengan kawan lama dan guru-gurunya setiap hari libur.

"Apa kabar, Dika, siswa ternakal sepanjang sejarah?" Pak Hasan tertawa renyah. Baru aku mau menjawab pertanyaannya namun dia sendiri yang menjawab pertanyaan itu, "Bapak rasa tidak baik-baik saja. Pasti merindukan gerombolan berandalmu yang kini terpisah dan entah dimana. Bapak sudah menduga kamu akan kemari, tapi tidak menduga kamu datang seorang diri."

"Ya, ada benarnya. Usai SMP, rasanya aku kehilangan napasku. Memasuki jenjang yang lebih tinggi tak sepenuhnya lebih baik. SMA swasta, ya, karakterku mulai berubah. Sifatku yang mudah berkawan menjadi pendiam dan lebih suka menyendiri. Selalu dituntut ini-itu untuk mengedepankan kedisiplinan, belajar, atau apapun berembel-embel pendidikan yang menurutku membosankan."

Aku menghela napas, melanjutkan, "Sepanjang SMA ini, aku berubah total. Selalu dikucilkan dan tak punya kawan. Mereka yang berprestasi selalu membanggakan diri, dan aku selalu disentak untuk mendapatkan hal itu. Semua orang tahu, Bapakku yang memintanya." Aku berkata sejujur-jujurnya pada satpam itu. Memorinya tentangku masih melekat sepertinya sejak tiga tahun terakhir berlalu.

Pak Hasan menyundut rokoknya sembari mendengarkanku. Sulit dipercaya aku bisa mengobrol dengannya yang jelas-jelas satpam garang yang selalu aku takuti dulu. "Berapa umurmu?"

"Delapan belas. Tak lama lagi memasuki perguruan tinggi," jawabku singkat.

Lelaki paruh baya itu mengeluarkan kepulan asap rokok dari mulutnya. Entah kenapa aku tak terbiasa dengan bau rokok--padahal dulu aku pernah mencobanya sesekali.   "Pernah dapat ranking selama masuk SMA?"

"Aku selalu menjadi yang pertama di kelas. Semuanya kuperjuangkan dari titik nol. Ditambah dengan prestasi dan kejuaraan lain yang susah payah kudapat demi buat Bapakku bangga, dan itu yang mengantarkanku dengan beasiswa pendidikan di luar negeri."

"Luar biasa. Nampaknya banyak perubahan dari yang tadinya terendah di kelas dan selalu remedial, menjadi pintar dan berbakat. Bapak gak nyangka kamu bisa masuk beasiswa dari sekolah swasta ternama itu." Lelaki itu menepuk-nepuk pundakku.

Aku tertawa miris menanggapi satu hal--dimana ranking menjadi patokan, "Ranking bukan jaminan segalanya."

Aku tak selera lagi berbicara banyak dengan Pak Hasan. Kembali bosan dengan obrolan seputar pendidikan yang membuatku kembali teringat saat-saat dulu. Aku beranjak dari bangku taman sekolah itu. Memperhatikan gerombolan siswa-siswi memecah ke luar gerbang sekolah. Denting bel pulang berbunyi nyaring di setiap sudut sekolah.

Sebelum waktu mengikis memoriku yang semakin sesak, aku menyusuri setiap jengkal langkahku di bangunan sekolah ini. Mengingat apa pun yang kuingat sembari bernostalgia. Sebelum aku meninggalkan negeri ini lusa. Karena di masa putih biruku, aku belajar banyak hal yang kubutuhkan.

Apa pun itu, masa-masa itu tak bisa terulang dua kali. Masa ketika diriku yang tak tahu diri ini pernah berniat menyia-nyiakan hidup yang sudah Tuhan berikan dengan segenap kebaikannya padaku. Juga masa ketika aku yang sangat kekanak-kanakan itu mulai menata masa depanku sendiri dan mencari arti lain dari jati diri itu sendiri.

Aku akan mencoba mengulang kembali kisahku. Kembali ke masa itu dan mencicipi lembar demi lembar kenangan yang sempat terlupa. Aku merindukan semuanya.

***

Lembar pertama segera terbuka
Aku yang dulu leluasa untuk bahagia tak pernah kehabisan cara untuk mendapatkannya.

Dan kini...
Jika yang kuingin dapati ialah kawan sekawan dan lawan sebaya, aku akan memulai kembali untuk pergi ke masa lalu.
Kudapati itu dan banyak kisah yang telah berlalu.

Banyak perlawanan, kesetiaan, tantangan, jati diri, dan... cinta.

...Cinta untuk semua yang memulainya dengan warna.

-Ardhika Sanjaya

***

Continue Reading

You'll Also Like

3.9K 824 7
Apa itu cinta? Apa dia berwujud? Atau tidak? Kenapa jika mencintai seseorang harus jantung yang merasakan debarannya. Tetapi... jika terluka bukan ha...
417 51 22
Di balik semarak kehidupan remaja masa kini-dengan media sosial, deretan target nilai sempurna, dan tawa di antara bangku sekolah-tersimpan cerita ya...
13.3K 547 53
Gue punya kekurangan dalam diri gue, karena itu gue sering di bully. Sampai pada suatu saat teman gue bilang, "Kalau Lo enggak punya kekurangan gue m...
185 11 12
Terkadang kita tak mengerti apa yang sebenarnya di inginkan oleh hati, terkadang sebuah hal kecil dapat membuat kita tersenyum dengan tulus atau bahk...
Wattpad App - Unlock exclusive features