~Justin Butterfield's POV~
Aku tak tahu apa yang harus aku lakukan. Otak ini selalu memikirkan Giselle. Dan itu membuat ku semakin merasa bersalah. F*ck off!! I hate my life. Aku menjambak rambutku frustasi. Kemudian otak ku mengingat apa yang Giselle katakan tadi di makam.
Apa maksud dari perkataannya? Kenapa kalian melindungi aku saat kecelakaan itu? Kenapa tidak membiarkan aku mati? Aku ingin bersama kalian saja. Andai kecelakaan itu juga tidak terjadi. Pasti kalian disini. Kalimat Giselle itu terus terngiang. Apa yang sebenarnya pernah terjadi dengan gadis itu? Tunggu dulu, kenapa aku tertarik dengan topik yang berhubungan dengannya? Kenapa aku memikirkan ini? Argh, ini membuat aku gila.
Ku ambil kunci mobil ku. Aku ingin menenangkan diri. Ini terlalu berlebihan. Kau tak perlu meminta maaf padanya Justin. Yeah, you don't have to. Tunggu, apa yang aku katakan? Ini membuat ku bingung.
------------------------------------------------
Esok pagi, aku memasuki kelas. Dan kulihat, Giselle sudah duduk ditempatnya. Dia memasang headset sambil membaca yang aku rasa itu adalah novel. Saat aku ingin duduk ditempatku, aku lihat dia segera beranjak dan keluar dari kelas. Well, dia menghindariku. Calm down, jangan diambil pusing. Kemudian aku melihat sebuah kliping dimejaku. Dan ada note yang ditempel didepannya.
Tugas ini sudah kuselesaikan. Tugasmu yang mengumpulkan. Kau menjelaskan bagian yang kita kerjakan, aku akan menjelaskan bagian ku.
-Giselle
Kejadian kemarin terputar lagi. Baiklah, dia adalah the one and only girl who can make me crazy this morning. Aku menaruh tas ku, kemudian membuka kliping itu. Dan benar. Dia mengerjakannya lengkap. Sangat lengkap. Bisa jadi, aku dan dia adalah kelompok dengan nilai terbagus. Aku harus berterimakasih. Dan baiklah, meminta maaf juga. Baiklah, aku bertekad.
---------------------------------------------------------
~Author's POV~
Istirahat tiba. Justin hendak meminta maaf dan berterimakasih. Karena Giselle, dirinya mendapat nilai bagus. Kelompok mereka mendapat nilai tertinggi. Dia mendapati bahwa Giselle telah keluar kelas daritadi. Selama dikelas, Giselle terlihat biasa saja. Namun, Justin merasakan bahwa Giselle mencoba menghidarinya. Dia tidak mau berbicara atau selalu mengalihkan pandangan jika matanya dan Justin bertemu.
Saat dipanggil kedepan, Giselle menjaga jarak dengan Justin. Dan itu membuat Justin gregetan setengah mati. Dan sekarang, Giselle menghilang. What a great girl. Justin segera bergegas menuju loker Giselle.
And lucky Justin. Giselle is in her locker . Justin segera menghampirinya. "Giselle." panggil Justin. Giselle hanya cuek dan sibuk merapikan lokernya. Disebelahnya ada Miranda yang menatap Justin dengan bingung. Kenapa Justin menghampiri Giselle? Itulah pertanyaan Miranda. "Miranda, bisa kau tinggalkan kami? Aku ingin-" omongan Justin terpotong.
"Tidak. Kau disini Miranda!" potong Giselle acuh.
"Giselle, aku ingin bicara dengan mu." mohon Justin.
"Kalau mau bicara, katakan saja!"
"Tidak disini."
"Kurasa apa yang kau akan katakan sama sekali tidak penting. Aku lapar, permisi."
Giselle segera menarik tangan Miranda yang bingung untuk meninggalkan Justin. Justin sendiri hanya melihat kepergian Giselle lalu membuang nafas keras. "Gagal lagi." gumam Justin kesal. Lalu dia menyusul Giselle dan Miranda menuju kantin.
-----------------------------------------------------
Giselle menikmati sandwichnya dan jus jeruk. Sedangkan Miranda menyantap burger dan milkshake coklatnya. Saat mereka sedang menikmati, seseorang segera duduk disitu. Giselle dan Miranda melihat orang itu. "Hi, can I sit in here? Yang lain sudah penuh." sapanya. "Dengan senang hati." ujar Giselle segera beranjak. "Wait, Giselle! Don't go!" cegah orang itu.
"What do you want Justin?" tegur Giselle dingin.
Orang yang ternyata Justin itu menghembuskan nafasnya keras. "Look, kenapa kau menjadi menjengkelkan seperti ini?" gerutu Justin kesal. Kesabarannya sudah habis. "Kau tak sadar diri, huh?" tantang Giselle.
"Baiklah, aku minta maaf soal kemarin. Aku hanya bercanda. Mengerti?"
"Bercanda mu tidak lucu."
Giselle segera pergi darisana. Justin beranjak dan mengejarnya. Sampai akhirnya Justin menggapai tangan Giselle. "Just let me go!!!" teriak Giselle. Masa bodoh dengan apa yang diucapkan Giselle, Just"in menarik tangannya sampai keatap sekolah. Saat disana, Justin baru melepaskan tangan Giselle. "What the hell are you doing?" tanya Giselle kesal. "Aku hanya berniat meminta maaf. Tapi kau tidak mau mendengarku." balas Justin. Giselle hanya membuang muka.
"Look at me!" seru Justin.
Giselle tidak mau menuruti apa yang Justin perintahkan. Sampai Justin memengang kedua bahunya. "Look at me!!" serunya dengan mengguncangkan kedua bahu Giselle. Akhirnya Giselle melakukannya. "What am I supossed to do to make you forgive me, Giselle McArtie?" tanya Justin.
"Nothing." jawab Giselle.
"Are you already forgive me?"
Giselle hanya mengangguk. Dia tidak tahan dengan sifat Justin yang keras untuk meminta maaf. Jadi, dengan terpaksa dia memaafkan Justin. "Tapi dengan satu syarat. Jangan mendekati ku dalam radius 3 meter! Dan jangan mencampuri urusan ku!" ujar Giselle. Justin hanya terbengong mendengar syarat itu. Karena tak ada respon dari Justin, Giselle berencana meninggalkan Justin. Namun saat hendak berbalik, dia merasakan seseorang memeluknya dari belakang.
"Apa yang kau-" omongan Giselle terpotong.
"Just tell me everything!"potong Justin dengan berbisik.
"What I must to tell you?" balas Giselle.
"About them."
"Who?"
"Charlie, Raphael, Walter, Joe, and Alex."
Justin dapat merasakan tubuh Giselle menegang ditempat. "How do you know about them?" tanya Giselle kaget. "I was following you. And I heard everything that you said. Just tell me now!"
"I can't."
Tanpa diaba-aba, Giselle melepaskan pelukan Justin dan berjalan pergi meninggalkannya. Justin hanya terdiam. Entah dirinya atau sesuatu yang lain dalam dirinya ingin mengetahui lebih banyak tentang Giselle. Dia merasa, sesuatu yang terjadi pada Giselle sangat berat. Kehilangan Charlie, Raphael, Walter, Joe, dan Alex. Lalu dalam selang waktu yang tak begitu lama, Harry, Liam, Louis, Niall, dan Zayn juga ikut pergi bersama mereka. Justin akan mencaritahu sendiri kalau begitu.
---------------------------------------------------
Naomi kini sedang berada diapartemen William Anderson (Zayn dan yang lain). Dia sedang menyiapkan semuanya disini. Nanti malam dia ingin mengajak Giselle kesini. "Harry, kau sudah memanggabg steik itu?" tanya Naomi, memastikan. "Yep, semua yang didapur sudah selesai. Mungkin akan aku hangatkan saat Giselle dan kau datang." jawab Harry. "Niall, kau sudah menyiapkan semua hiasan?" tanya Naomi kepada Niall yang sedang mencomoti popcorn yang sengaja mereka siapkan."Yep." jawab Niall.
"Hentikan aktivitasmu itu, bung! Nanti habis!" seru Liam.
"Aku lapar." jawab Niall cuek.
"Niall." tegur Naomi membantu Liam untuk menghentikan Niall.
"Baik-baik." jawab Niall akhirnya.
Niall menghentikan kegiatannya. Naomi memasukan popcorn itu ketoples besar supaya bisa dikonsumsi saat movie marathon nanti. Ya, di susunan acara, mereka akan mengajak Giselle untuk movie marathon. Mengingat besok adalah tanggal merah. "Naomi, can I talk with you?" tanya Niall. "Ya, apa itu?" balas Naomi.
"Tidak disini. Karena kau lihat pengganggu-pengganggu itu bukan?" balas Niall.
"Kau bilang kami pengganggu?" tanya Harru tidak percaya.
"Haz, tenang! Niall butuh sedikit privasi. Mungkin." sambung Liam.
"Ah, ingin membicarakan sedikit intim bersama Naomi rupanya."
"Sebaiknya kita bergabung dengan Zayn dan Louis yang sedang menyiapkan film-film untuk nanti."
Harry dan Liam segera pergi meninggalkan Niall dan Naomi. "Berbicara intim, huh?" tanya Naomi memastikan.
"Uhm, bisa dibilang begitu." jawab Niall sedikit gugup.
"Apa itu? Kau bisa memulainya, sekarang!"
"Naomi Jones, would you be mine?"
Naomi yang tadinya sedang fokus untuk memasukan sisa popcorn, diam seketika. Pernyataan Niall benar-benar membuatnya sedikit terkejut, namun membuatnya senang. "Niall, are you serious?" tanya Naomi. "I am." jawab Niall.
Naomi benar-benar tergagap. Dia harus jawab apa untuk Niall. Walaupun, hatinya memang untuk Niall, tapi ini terlalu mendadak. "Yes, I would." jawab Naomi akhirnya. Niall tersenyum. "Kau sudah resmi menjadi kekasihku." ujar Niall. Naomi hanya tersenyum simpul. "Sekarang, pertanyaan selanjutnya." lanjut Niall lagi. Naomi hanya bingung. "Will you marry me?" tanya Niall yang langsung bersimpuh didepan Naomi dengan mengeluarkan kotak beludru bewarna biru laut.
"WHAT????"
-----------------------------------------
~Justin Butterfield's POV~
Aku habis menghubungi Asa untuk meminta nomor Naomi. Giselle tidak mau menceritakan kecelakaan itu, dan aku harus tahu. Entah kenapa, aku sangat penasaran. Apalagi saat mendengar rekaman itu. Dan sekarang aku sedang menelpon Naomi.
"Halo?" sapa Naomi.
"Hi, this is Justin Butterfield, Asa's brother." balas ku.
"Oh, hai Justin. What's up?" balas Naomi.
"Bolehkah aku bertanya sesuatu?"
"Bertanya apa?"
"Uhm.., aku tahu ini terdengar aneh dan lancang. Tapi aku ingin bertanya soal, Giselle. Boleh?"
"Giselle? Sure. Apa yang ingin kau tanyakan?"
"Bisa kau ceritakan, kecelakaan yang terjadi 11 tahun lalu?"
Bisa kurasakan, Naomi diam. Kurasa dia kaget. Dan bingung. Bagaimana aku tahu tentang kecelakaan itu. Demi Tuhan, aku penasaran. Bagaimana itu semua terjadi? "Naomi, are you there?" tanya ku memastikan. "Uhm, yeah. But before I explain that, how do you know about Giselle's accident?" balas Naomi.
"Something happen between us, and I will explain you latter."
"Fine. Baiklah, semua berawal dari saat aku makan siang. Bersama kakak mu dan teman-teman ku. Saat aku menoleh untuk melihat tv, ternyata sedang ada berita kecelakaan bus taman kanak-kanak yang ditabrak big red bus. Kukira itu bukan bus Giselle. Tapi nyatanya itu busnya. Giselle mempunyai 5 sahabat lelaki yang seumuran. Aku tidak tahu kejadian secara detail. Yang aku tahu, sepertinya 5 sahabatnya itu melindungi Giselle. Dugaan ku, mereka mengerubungi Giselle saat kecelakaan itu. Karena aku dengar sendiri dari Giselle yang saat itu berteriak terus dan mengatakan itu."
"Maksudmu, Charlie, Raphael, Walter, Joe, dan Alex?"
"Ya, mereka. Aku tak akan bertanya, karena kau sudah bilang akan menjelaskannya nanti."
"Haha, baiklah. Aku akan menjelaskan semuanya disaat kita bertemu nanti."
"Well, I'm right here. Turn around!"
Wait, what? Aku segera memutar badanku. Naomi sudah berdiri sambil melambaikan tangannya dengan senyuman hangat. Aku hanya bisa tersenyum. Lalu dia melangkah mendekati ku. "Kau akan menjelaskannya?" tagih Naomi. "Later?" tawarku. Naomi hanya terkekeh. "Aku mengundangmu diacara kejutan untuk Giselle. Kau bawa mobil?" tanya Naomi. Aku hanya mengangguk. "Ikuti mobilku ya! Kakakmu sudah ada disana." ujar Naomi.
Naomi cantik dan baik. Andai dia kakak ku, kuharap Asa menemukan istri yang seperti Naomi. "Aku akan mencari Giselle." ujar Naomi. "Aku akan menunggu dimobil. Telepon aku jika kita akan berangkat." ujarku. Naomi mengangguk dan melambaikan tangan. Lalu pergi meninggalkan aku untuk mencari Giselle. Aku menghembuskan nafas, lalu menutup loker. Dan menuju ke mobil Maserati yang Asa belikan minggu lalu.
-------------------------------------------------------
~Giselle McArtie's POV~
Aku terkejut mendapati Naomi yang menghampiri kelasku. Teman-temanku terbengong melihat dia. Ada yang bilang dia cantik, ada yang hanya bengong mengagumi kecantikannya. Well, aku sependapat. "Giselle, aku akan membawa mu kesuatu tempat." ujarnya langsung tanpa menyapa ku. "Kesuatu tempat?" tanyaku bingung.
"Yup. Kejutanmu menunggu." jawab Naomi.
"Maksudmu kejutan yang harusnya beberapa hari yang lalu?"
"Iya. I'm sorry for that. Tapi aku yakin, hari ini kejutan mu siap."
Aku nampak menimbang. Tapi akhirnya aku mengangguk. Ini pasti kejutan yang luar biasa. Setiap Naomi memberikan kejutan, pasti aku suka. "Kalau begitu ayo! Jangan membuat semuanya menunggu!" seru Naomi lembut. Aku mengangguk dan segera berpamitan kepada teman-teman ku. Aku bergegas keluar bersama Naomi menuju lapangan parkir. Aku kaget, kenapa bisa mobil Justin yang mewah itu bisa ada dimobil Naomi dan kenapa dia tersenyum saat melihat aku dan Naomi datang? "Apa yang dia lakukan disitu?" tanyaku bingung.
"Dia akan ikut. Asa sudah berada disana." jawab Naomi.
"What?"
Naomi hanya berjalan, sementara aku hanya terbengong. Oke, ini artinya aku akan berdekatan dengan Justin. Aku harus memutar otak agar dia tidak berdekatan dengan ku minimal dalam radius satu meter. Dan maksimal sejauh-jauhnya. Itu harus. Aku memutuskan berjalan untuk segera masuk kedalam mobil Naomi, dan aku berhasil. Dan tak lama, mobil Naomi dan Justin pergi darisitu beriringan.
-------------------------------------------------
Kami tiba di lobby apartemen yang beberapa hari lalu aku, Naomi, Asa, dan Justin kunjungi. Dan itu membuatku menjaga jarak untuk tidak berdekatan dengan Justin.
-----------------------------------------------------------------------------------------
~Author's POV~
Justin merasakan Giselle menjaga jarak darinya. Dan itu membuat Justin tidak nyaman. Berkali-kali dia mencoba mendekat, tapi Giselle selalu bisa menjaga jaraknya. "Guys, aku ingin memberitahu pada kalian. Suprise ini tidak diperuntukan hanya untuk Giselle. Justin juga bisa. Tapi itu terserah. Dan satu hal yang harus kalian tahu. Jangan terkejut dengan apapun yang akan ditunjukkan nanti.Ingat, jangan terkejut! Kalian mengerti?" tanya Naomi.
Giselle dan Justin bingung. Tapi mereka mengangguk tanda mengerti. Setelah itu, Naomi mengetuk pintu. Tak lama pintu terbuka. Terlihat Asa membuka pintu itu. Naomi tersenyum dan Asa membalasnya. Asa juga tersenyum kepada Giselle dan Justin. "Ayo masuk!" ajak Naomi. Giselle dan Justin mengikuti Naomi. Sampai akhirnya mereka di ruang tengah. "Well, mana suprise yang ingin kau berikan?" tagih Giselle penasaran.
Menurut Giselle, tidak ada yang aneh dengan apartemen itu. Dia hanya melihat apartemen itu seperti apartemen biasa pada umumnya. Tidak ada yang aneh. Begitu juga Justin. Naomi yang mendengar pertanyaan itu hanya tersenyum. Setelah beberapa menit. Naomi mulai menjawabnya. "Suprise mu ada dibelakang. Berputarlah!" seru Naomi sambil tersenyum. Giselle dan Justin sempat berpandangan. Lalu mereka memutuskan memutar badan mereka secara berbarengan.
Saat berputar. Giselle maupun Justin hanya diam kaku. Mereka tak percaya dengan apa yang ada dibelakang mereka. "Hai Giselle." sapa 5 orang. Dan mereka adalah suprise untuk Giselle. Walau suprise ini bukan diperuntukan untuk Justin, tapi dia cukup terkejut dengan apa yang ada dihadapannya.
"Kau sudah besar ternyata." ujar salah satu dari 5 orang itu.
"Liam, dia sudah besar. Dia sudah menjadi remaja." sambung seorang yang lain.
Mereka tersenyum. Giselle melangkah mendekat. "Ini bukan mimpikan?" tanya Giselle. Mereka ber-5 menggeleng. Lalu berlari menghambur memeluk mereka. "I miss you, guys!!" ucap Giselle yang sudah menangis. "We miss you so much too!!!" balas Harry. Diantara Liam, Louis, Niall, dan Zayn, Harry lah yang paling erat memeluk Giselle. Giselle menangis sesenggukan. Harry mengelus punggung Giselle lembut.
Tak lama, mereka melepaskan pelukannya. "Ini benar kalian? Aku tidak bermimpi-kan?" tanya Giselle sambil mencubit pipinya. Harry, Liam, Louis, Niall, dan Zayn hanya tertawa mendengar itu. "No sweetty, you're not." jawab Zayn. "Aku sangat merindukan kalian. Jadi selama ini kalian, masih hidup?" tanya Giselle nyerocos.
"Iya sayang. Kami selamat dari kecelakaan itu." jawab Louis.
"Dan Naomi, kau tahu tentang ini? Dan mnyembunyikannya dariku?" sambung Giselle yang langsung beralih menatap Giselle sebal.
"Aku baru tahu saat aku di Orlando. Mereka muncuk bersama Luke." jawab Naomi mengangkat tangannya.
"Luke? Dimana dia?" tanya Giselle mencari sosok Luke.
"Dia di Australia." jawab Niall.
"Kalian berhutang, kalian harus menceritakan pengalaman kalian selama 11 tahun bersembunyi dari aku dan Naomi." ucap Giselle sambil berkacak pinggang.
"Siap, tuan putri." balas mereka semua.
"Baiklah. Pestanya dimulai." teriak Harry.
Mereka semua berteriak. Lalu mereka mengambil makanan dan melakukan semuanya untuk melepas rindu. Mereka bercanda dan bersenda gurai. 11 tahun tanpa bersama mereka, membuat Giselle menikmati kejutan ini.
------------------------------------------------------------------------
Kini jam menunjukan pukul 11 malam. Mereka tidak merasakan cepatnya waktu berlalu. Kini mereka tengah berkumpul untuk duduk. "Apa yang akan kalian bicarakan?" tanya Giselle. "Giselle, kami ingin kau tahu satu hal." ujar Liam. "Keputusan kami memberitahumu, karena kau bukan anak umur 5 tahun lagi. Kau sudah 16 tahun. Dan kami pikir, kau berhak untuk tahu." lanjut Zayn.
"Apa itu?" tanya Giselle menyelidik.
"Kehadiran kami yang masih hidup, membuat semua orang yang mengetahui keberadaan kami dalam bahaya. Termasuk kau, Naomi, dan Justin." ucap Harry.
Giselle melirik Justin sekilas yang terlihat menunduk seperti memikirkan sesuatu. Kemudian dia memandang mereka berlima lagi. "Lalu?" tanya Giselle lagi. Perasaan aneh menggeruguti batinnya. Tapi entah, dia yakin itu berhubungan dengan Justin. "Kami sepakat, Justin akan melindungimu dari semua itu." ujar Louis bersamaan.
"WHAT? Kalian bercanda." ujar Giselle tidak percaya.
"Dia sudah berjanji untuk menjagamu, dan dia sudah menyanggupi itu." jawab Harry.
"Janji? Menyanggupi?"
#Flashback ON
Disaat yang lain menikmati pesta, Niall, Harry, dan Asa mengajak Justin mengobrol di balkon apartemen. "Ada apa?" tanya Justin. "Kami ingin membicarakan sesuatu padamu." jawab Asa.
"Tentang apa?" tanya Justin bingung.
"Keselamatan Giselle." jawab Niall.
"Keselamatan Giselle? Memangnya dia dalam bahaya?"
"Lebih tepatnya kau, Naomi, dan Giselle." lanjut Niall.
"Tapi kami dengar dari Asa, kau bisa karate dan kemampuan insting dan pertahan diri mu kuat. Jadi kami yakin, dan juga ingin kau menjaga Giselle." sambung Harry.
"Bahaya macam apa?" tanya Justin penasaran.
"Bahaya dari seseorang yang tengah buron selama 11 tahun mungkin?" jawab Niall.
"Aku tidak mengerti." jawab Justin.
"Kau mungkin sudah mendengar kecelakaan kami di Paris 11 tahun lalu." ucap Harry.
Justin mengangguk. "Nah, itu akibat sabotase seseorang. Dia adalah musuh kami. Lebih tepatnya musuh Harry. Dia sudah buron semenjak bukti-bukti yang kami kumpulkan terkumpul." jawab Niall.
"Setiap kami lakukan pengerebekan, di lokasi keberadaannya, dia selalu lolos. Kami takut, dengan berkeliarannya dia diluar, bisa membahayakan nyawa orang-orang yang mengetahui kami. Walau kenyataan, dia belum tahu keberadaan kami." jawab Harry.
"Kami hanya ingin, kau menjaga Giselle. Melindunginya. Dari segala.bahaya. Giselle adalah segalanya untuk kami." ujar Niall.
Justin menegang saat mendengar cerita tentang orang buronan itu. "Siapa namanya?" tanya Justin bergetar. "Lautner,Taylor Lautner." jawab Harry. "Dia alumni di St. Alexander Middle School." sambung Asa. Mendengar itu, Justin tidak percaya. Alumni sekolah ternama dan bergengsi di London, bahkan Inggris bisa menjadi buronan.
Melihat ketegangan Justin, Harry tahu apa yang harus dia lakukan. "Tenanglah buddy! Kami akan melidungi kalian berdua. Kami melindungi kalian, kau melindungi Giselle." ujar Harry. "Yang terpenting, adalah nyawa Giselle, dan tentunya dirimu. Karena Giselle tidak tahu apapun tentang ini. Walaupun kau juga, tapi kemampuan mu melindungi diri bisa diandalkan. Sedangkan Giselle, dia tidak bisa melakukan apapun." ujar Niall.
Justin menyerap kalimat Niall dan Harry. Dia mengerti maksud dari mereka. Giselle hanya gadis lugu dan polos. Dia tidak tahu apapun. "Baiklah." jawab Justin akhirnya. "Aku akan melindungi mu. Itu janji ku." ucap Asa. Justin mengangguk. "Asa akan memberitahu semua tentang Taylor. Kau bisa bertanya jika sudah sampai rumah." ucap Harry. Justin mengangguk yakin.
#Flashback OFF
Giselle hanya diam. "Taylor berbahaya, jadi kami sepakat meminta Justin untuk melindungi mu." ujar Naomi. "Bukan hanya aku yang melindungi mu, tapi mereka juga melindungi kita." sambung Justin angkat bicara. "Baiklah. Itu keputusan kalian. Aku tak bisa berbuat apapun." ujar Giselle pasrah. Mereka lega mendengarnya. "Aku menginap disini ya?" tanya Giselle. "Dengan senang hati sayang. Kau bisa tidur dikamarku." ajak Louis. "Lou, aku bukan anak 5 tahun lagi. Aku sudah besar." gerutu Giselle saat Louis hendak menggandengnya.
"Owh, biarkan itu terjadi. Aku melewatkan 11 tahun perkembangan mu." balas Louis.
Semua orang tertawa. Giselle hanya terkekeh. Sedangkan Justin hanya tersenyum. Mereka merasa ada sesuatu yang lebih akan terjadi diantara mereka.
-------------------------------------
~Giselle McArtie's POV~
Aku tak bisa tidur. Aku memikirkan keputusan mereka semua supaya Justin menjaga ku. Aku tak mau, tapi, aku tak bisa membantah. Mereka ternyata mengintai ku dan melindungiku dari jauh selama ini. Aku tak bisa melawan dan protes. Bisa kuakui, Justin memang orang yang tepat dipilih mereka untuk melindungi ku dari Taylor Lautner yang kejam itu. Kurasa, niatku untuk menjauh dari Justin akan batal. Karena keadaan seperti ini sekarang. Dan tanpa aku sadari, mataku sudah mulai terlelap.
⑧~⑧~⑧~⑧~⑧~⑧~⑧~⑧~⑧~⑧~⑧~⑧~⑧~⑧~⑧~⑧~⑧~⑧~⑧~⑧~⑧~⑧~⑧~⑧~⑧~⑧~
Gimana part ini readers? Mengcewakan ya? Atau seru?
Maaf late post ya!!
Dan hei, foto Giselle, Justin, Connor, Riley, sama Toby ada di Part 1, 2, 4, 5, 6 lohhh
Ga banyak omong, langsung Keep READ, VOTE, and GIVE M EYOUR COMMENT
Thankyouuuu