Ko Tie menyadari, dia baru saja disembuhkan Oey Yok Su, tenaganya belum pulih keseluruhannya. Dan ia tidak bisa mempergunakan tenaga berkelebihan. Kembali dia tidak menangkis dua serangan itu, dia mengelak dengan lincah sekali.
Tapi Phan Chin Shia sama sekali tidak memberikan kesempatan kepadanya, beruntun dia menyerang dengan gencar. Setiap serangannya mengandung maut.
Ko Tie suatu kali sudah tidak bisa menghindar dari serangan Phan Chin Shia, karenanya terpaksa sekali ia menangkis.
"Dukkkk!" tangan mereka saling bentur, namun waktu itulah mata Ko Tie berkunang-kunang, karena ia mempergunakan tenaga berlebihan. Kuda-kuda ke dua kakinya tergempur, malah tubuhnya seketika terjungkal rubuh bergulingan di lantai.
Disaat itu, tampak Phan Chin Shia telah meluncur lagi menerjang Ko Tie. Dia menghantam dengan telapak tangan kanannya, telak sekali mengenai dada Ko Tie.
Ko Tie mengerang sedikit, mulutnya memuntahkan darah segar dua kali, mukanya pucat pias. Ia kembali terluka di dalam.
Namun dirinya tengah terancam bahaya yang tidak kecil. Dia memaksakan diri buat merangkak bangun, tapi Phan Chin Shia telah menghantam lagi sampai Ko Tie bergulingan pula di lantai.
Tiba-tiba terdengar jeritan yang menyayatkan hati, dua orang tentara kerajaan di luar ruang sidang Tie-kwan itu telah menjerit dan jatuh di tanah tanpa bernapas lagi. Disusul melangkah masuk seseorang yang mengenakan jubah berwarna hijau, di tangannya memegang seruling, itulah yang tadi dipergunakan memukul perlahan kepada ke dua tentara kerajaan itu.
Dia seorang tua, dan tidak lain dari Oey Yok Su, salah seorang datuk rimba persilatan yang memiliki kepandaian terlihay dan adat yang ku-koay sekali.
"Phan Chin Shia, ternyata engkau mengumbar kepandaianmu buat melakukan banyak kejahatan!" berseru Oey Yok Su dengan suara yang dalam menyeramkan, tangannya menggoyang-goyangkan perlahan serulingnya, dan kakinya pun melangkah perlahan. Perlahan tindakan kakinya, tapi tubuhnya melesat cepat sekali, tahu-tahu dia telah berada di samping Phan Chin Shia.
Phan Chin Shia ketika mengenali siapa orang yang baru datang itu, tubuhnya menggigil.
"Oey Locianpwe..... kau.....?!" tanyanya.
Baru saja dia bertanya sampai di situ, justeru seruling Oey Yok Su telah bergerak. Perlahan. Dan Phan Chin Shia melihat bergeraknya seruling itu, dia bermaksud hendak menghindar. Namun belum keburu dia menggerakkan sepasang kakinya, justeru di saat itu seruling dari Oey Yok Su telah mengetuk perlahan kepalanya.
Phan Chin Shia menjerit dengan suara yang menyayatkan hati, menjatuhkan diri di lantai bergulingan sambil memegangi kepalanya. Dari telinga, hidung, mulut dan matanya telah mengalir darah yang deras sekali. Dia pun cuma bisa bergulingan di lantai tidak terlalu lama, sebab kemudian dia telah putus napas, diam tidak bergerak.
Yang Uh Tie-kwan dan Ma Ie Tie-kwan jadi ketakutan. Sambil memutar tubuh hendak melarikan diri dari tempat itu, mereka berseru-seru: "Pengawal! Pengawal..... tangkap penjahat!"
"Hai, kamu berdua ke mari!" bentak Oey Yok Su dengan suara yang dingin. Wajahnya walaupun telah tua, sangat angker sekali seperti muka mayat, dingin tidak berperasaan.
Yang Uh Tie-kwan dan Ma Ie Tie-kwan jadi merandek, mereka tengah ketakutan, juga Oey Yok Su memanggil dengan suara yang berpengaruh sekali, mereka jadi merandek dan akhirnya menghampiri dengan takut-takut.
"Lo-enghiong..... kami adalah pembesar negeri yang menjalankan tugas, karena itu..... kami tidak punya salah apa-apa dengan Lo-enghiong......!" kata Yang Uh Tie-kwan dengan sikap ketakutan sekali.
"Hemmm, justeru pembesar negeri seperti engkau inilah yang perlu dibasmi! Tidak ada seorang manusia busuk yang bisa lolos dari tangannya Oey Loshia.....!"
"Ampun Lo-enghiong......!" menghiba Yang Uh Tie-kwan dan Ma Ie Tie-kwan yang segera menekuk kedua kaki mereka, berlutut mengangguk-anggukkan kepalanya. Lenyaplah harga diri mereka karena mereka kuatir dibunuh oleh pendekar tua yang memiliki kepandaian tinggi itu.
Sedangkan para pengawal di ruangan tersebut jeri untuk maju, mereka telah melihatnya Phan Chin Shia yang memiliki kepandaian tinggi, mereka ketahui sebagai tukang pukul andalan ke dua pembesar tersebut telah dapat di bunuh begitu mudah. Tentu saja para tentara kerajaan itu tidak mau membuang jiwa dengan konyol, walaupun tadi ke dua Tie-kwan itu telah perintahkan mereka maju. Semuanya hanya berdiri diam saja dengan hati kebat-kebit.
Oey Yok Su tertawa dingin, dia bilang: "Baiklah, sekarang aku mengampuni kalian, tapi di lain waktu, Oey Loshia tidak akan mengampuni manusia-manusia seperti kalian!"
Setelah berkata begitu, serulingnya mengetuk perlahan pundak ke dua Tie-kwan itu. Ke dua Tie-kwan itu menjerit kesakitan dan mereka rubuh pingsan tidak bergerak lagi.
Jika nanti mereka tersadar, maka mereka akan menjadi manusia lumpuh yang tidak bisa berjalan dan juga tidak bisa menggerakkan tangan mereka. Memang Oey Yok Su mengampuni jiwa mereka, tapi tidak mengampuni hukuman mereka. Walaupun nanti mereka tetap hidup, ke dua Tie-kwan itu hidup dengan menderita sekali.....!
Oey Yok Su yang wajahnya tetap dingin tidak memperlihatkan perasaan apapun juga, telah berjongkok untuk menggendong Ko Tie, yang hendak dibawanya meninggalkan ruangan sidang Tie-kwan tersebut.
Tapi waktu berjongkok seperti itu, tiba-tiba muka Oey Yok Su berobah dan memperdengarkan suara dengusan "Hemmm!" yang perlahan. Ia merasakan dari belakangnya menyambar beberapa batang senjata rahasia.
Tanpa menoleh dia menggerakkan serulingnya, terdengar suara "tranggg, tranggg!" beberapa kali, dan senjata rahasia yang ditimpukan seseorang buat membokongnya, telah terpental, menyambar ke arah dari mana datangnya tadi.
Seketika terdengar suara jeritan beruntun dua orang, di susul dua sosok tubuh yang melarikan diri dari ruangan itu. Mereka berdua tidak lain dari Gorgo San dan Kiang-lung Hweshio.
Mereka sejak tadi menyaksikan apa yang terjadi, dan juga menyaksikan datangnya Oey Yok Su, yang terkenal sangat lihay itu. Mereka berdua pun jeri.
Memang ke dua Tie-kwan itu mereka kendalikan, buat menangkap Ko Tie, dan mereka hendak membunuh Ko Tie dengan meminjam tangan dari ke dua Tie-kwan tersebut.
Namun siapa tahu, justeru Tie-kwan-tie-kwan itu yang telah dibayar oleh Oey Yok Su. Malah jago-jago andalan ke dua Tie-kwan itu, yaitu Phan Chin Shia, telah kena dibinasakan Oey Yok Su dengan cara yang begitu mudah.
Gorgo San dan Kiang-lung Hweshio tidak berani memperlihatkan diri. Mereka penasaran. Untuk melampiaskan penasaran mereka, maka mereka menyerang dengan senjata rahasia buat membokong.
Namun Oey Yok Su benar-benar lihay. Tanpa menoleh ia bisa menyampok kembali senjata rahasia itu, yang menancap di punggung dan di lengan Gorgo San dan Kiang-lung Hwesio, membuat mereka menjerit kesakitan, dan melarikan diri.
Untung saja Oey Yok Su memang tidak bermaksud mengejar mereka. Jika memang Oey Loshia menginginkan jiwa mereka, berapa cepatnya mereka melarikan diri, jangan harap bisa terlepas dari tangan Oey Loshia, si sesat tua ini.
Dengan muka yang tetap dingin tidak berperasaan, Oey Yok Su mengangkat tubuh Ko Tie yang tengah pingsan tidak sadarkan diri, dibawa meninggalkan tempat itu.
Oey Yok Su membawa Ko Tie ke sebuah penginapan, dan juga telah merawatnya. Ia menguruti dan memberikan obat kepada Ko Tie.
Tocu pulau To-hoa-to ini memang hebat dan mujijat obat-obat ciptaannya. Walaupun bagaimana parahnya luka yang diderita oleh Ko Tie, pemuda itu bisa disembuhkan dengan cepat.....!"
Ternyata, Oey Yok Su waktu berpisah dengan Ko Tie, bukan bersungguh-sungguh meninggalkan pemuda itu. Setelah mengetahui Ko Tie adalah murid Swat Tocu, memang ia jadi tidak menyukai pemuda itu, karena ia beranggapan Swat Tocu seorang jago persilatan yang angkuh dan tidak pernah mau hadir dalam Hoa-san-lun-kiam. Karenanya ia pun menyesal telah mengobati Ko Tie.
Tapi, rasa penasaran hendak melihat berapa tinggi kepandaian Ko Tie, sebagai murid Swat Tocu, membuat Oey Yok Su mengikutinya.
Ketika tiba di kota tersebut, ia segera mencari rumah makan buat mengisi perut, dan di waktu itulah ia kehilangan jejak Ko Tie. Hal ini membuat Oey Yok Su semakin penasaran. Dia mencarinya ke sana ke mari, sampai akhirnya ia mendengar perihal seorang pemuda yang hari itu akan dijatuhi hukuman mati.
Cepat-cepat Oey Yok Su pergi ke kantor Tie-kwan dan benar saja, ia melihat Ko Tie yang tengah disidangkan, malah keselamatan Ko Tie tengah terancam oleh Phan Chin Shia.
Tanpa berpikir panjang lagi, Oey Yok Su segera turun tangan buat membunuh Phan Chin Shia dan menolongi Ko Tie.
Kemudian barulah membawa pemuda itu ke rumah penginapan untuk diobatinya, karena dilihatnya Ko Tie dalam keadaan terluka parah di dalam tubuhnya. Dia pun telah memberikan obat yang paling mujarab dan langka, hasil ciptaan dan ramuannya sendiri selama mengasingkan diri di To-hoa-to.
◄Y►
Waktu Ko Tie membuka matanya tersadar dari pingsannya, yang pertama kali dilihatnya adalah seorang laki-laki tua berjenggot panjang, dengan muka yang dingin tidak memperlihatkan perasaan apapun juga, memakai kopiah dan baju panjang warna hijau, yang tidak lain dari pada Oey Yok Su.
Segera juga Ko Tie hendak bertanya, tapi Oey Yok Su telah mencegahnya dengan mengulap-ulapkan tangannya. "Jangan bicara dulu, luka di dalam tubuhmu cukup parah......!"
Ko Tie mematuhi perintah Oey Yok Su. Ia berdiam diri saja. Kemudian melihat dirinya berada di atas pembaringan di dalam sebuah kamar.
Ia jadi tambah heran. Dan menduga-duga entah dia berada di mana.
Di waktu itu Oey Yok Su telah bilang lagi dengan suara yang sabar: "Hemmmm, engkau masih tertolong, karena aku datang belum terlambat. Jika memang aku tiba terlambat satu-dua detik lagi, tentu engkau telah menjadi mayat.....!"
Ko Tie mengangguk saja, karena ia ingat akan pesan Oey Yok Su agar dia tidak bicara dulu. Ia pun menyadari, tentunya sekali ini Oey Yok Su pula yang telah menolonginya.
"Untuk mennyembuhkan benar-benar luka di dalam tubuhmu itu, memerlukan waktu duapuluh hari. Setelah itu engkau masih perlu beristirahat duapuluh hari pula, barulah luka di dalam tubuhmu benar-benar sembuh!"
Menjelaskan Oey Yok Su pula: "Hemm, ada seseorang yang memfitnah kau, apakah engkau mempunyai musuh?!"
Ko Tie menggeleng. Dan ia berdiam dengan otak bekerja keras.
Karena ia pun heran, bahwa ia telah difitnah seperti itu, dan orang itu yang belum diketahuinya siapa, telah memperalat ke dua Tie-kwan tersebut. Beruntung dia masih bisa tertolong dan Oey Yok Su pula yang menolonginya.
Segera Oey Yok Su membuka baju si pemuda, dia kemudian bilang: "Selama aku menguruti sekujur tubuhmu, engkau harus menahan nafasmu, buanglah sekali-sekali dengan teratur dan perlahan-lahan!"
Ko Tie mengangguk lagi.
Dirasakannya tangan Oey Yok Su hangat sekali menguruti sekujur tubuhnya. Cuma saja Ko Tie merasakan betapa dadanya sesak dan sakit. Ia merintih.
"Tahan! Sakit yang bagaimana hebat sekalipun, engkau harus dapat menahannya, jika tidak, tidak bisa ditolong lagi!"
Ko Tie mulai menggigit bibirnya dengan merintih perlahan, tapi ia mengangguk, bahwa ia akan mematuhi pesan Oey Yok Su, untuk bertahan dari sakit yang dideritanya.
Oey Yok Su bekerja sebat sekali. Seluruh jalan darah di tubuh Ko Tie, yang berjumlah tigaratus empatpuluh tujuh, telah diurut semuanya, dan kemudian katanya dengan keringat masih memenuhi keningnya:
"Kini engkau telah lolos dari keadaanmu yang gawat...... selanjutnya hanyalah tinggal membuka jalan-jalan darahmu! Kerahkan lweekangmu!" Sambil berkata begitu, Oey Yok Su meletakkan telapak tangannya pada perut Ko Tie.
Ko Tie menuruti lagi perintah Oey Yok Su. Dia telah mengerahkan lweekangnya.
Namun gagal.
Lweekangnya dan tenaga murninya telah acak-acakan, tidak bisa disatukan. Malah, tenaga dalamnya itu telah buyar tidak bisa menembusi beberapa jalan darah terpenting di tubuhnya. Diam-diam Ko Tie mengeluh, dia menyadari, sekali ini ia benar-benar terluka parah sekali.
Di waktu itu Oey Yok Su bilang dengan suara yang tawar: "Berusaha terus untuk mangerahkan lweekangmu!" Kemudian Oey Yok Su memejamkan matanya, dia mengerahkan lweekangnya.
Ko Tie merasakan, dari telapak tangan Oey Yok Su mengalir hawa yang hangat sekali, seperti bola api, yang menerobos masuk ke dalam tubuhnya. Bola api itu seperti berputar-putar di sekitar perutnya.
Tapi tetap saja sin-kang Ko Tie tidak bisa disatukan, buyar dan tidak bisa menembusi beberapa jalan darah terpenting di tubuhnya.
Ko Tie mencoba terus, berulang kali dia menyalurkan sin-kangnya, untuk dipusatkan menjadi satu.
Walaupun berulang kali gagal, dia tidak berputus asa. Ia mengerti, sebelum ia berhasil mempersatukan tenaga dalamnya dan hawa murninya, tidak mungkin ia bisa sembuh.