Ke esokan paginya, Dewa langsung menemui Ibundanya yang sedang asik menyiram tanaman di belakang rumah yang baru saja mereka beli, tak jauh dari pusat kota Denpasar.
Bu Dayu terlihat sangat bahagia sekali, senyumnya merekah tanpa henti. Tangannya semangat menggenggam selang hijau, sesekali menggesernya ke kanan, kemudian berpindah ke kiri dan begitu seterusnya.
Dewa melihat senyum bahagia itu, membuatnya tak tega untuk merusak senyum itu. Tapi, harus bagaimana? Mau tidak mau, suka tidak suka, hal ini harus dia bicarakan secepatnya karena dia hanya punya waktu hanya hari ini saja.
"Mi...." panggil Dewa sembari duduk di bangku di tengah halaman. Bangku itu menghadap langsung ke arah bunga-bunga yang sedang di siram oleh buk Dayu.
Mendengar panggilan putra semata wayangnya, wanita setengah bayaa itu segera mematikan keran dan meletakan selang itu ke tempatnya. Masih dengan senyuman, Buk Dayu menghampiri Dewa dan ikut duduk di sampingnya.
"Kenapa, Wa?" Tanyanya sambil membersihkan kedua telapak tangannya yang basah
"Mami, tumben nyiram bunga pagi-pagi. Keliatannya mami seneng banget. Kenapa sih?" Dewa berbasa-basi
"Ya, mami seneng sekarang mami sudah tinggal di tempat dimana mami di lahirkan. Dan yang paling penting adalah, sekarang kamu sudah berkeluarga. Itu kebahagiaan tiada tara buat mami." Jawabnya dengan senyuman
Dewa terdiam. Dia tidak tau bagaimana kecewa maminya, jika tau Dirinya harus segera pergi. Dia tidak punya banyak waktu, sebentar lagi Wiliam pasti akan menemukan keberadaannya. Mendung menyelimuti wajah tampan Dewa.
"Mam, ada yang ingin aku bicarakan." Kini wajah Dewa berubah serius. Melihat itu, senyum manis Buk Dayu seketika pudar bersama angin yang lewat.
"Ada masalah apa lagi?" Tanyanya dengan wajah khawatir sekaligus tidak suka
"Mam....aku harus segera meninggalkan bali. Aku harus pergi."
"Pergi? Lagi? " kerutan spontan terlukis di wajah senjanya.
Dewa sangat tau itu bukanlah yang di inginkan Maminya. Dia merusakan kebahagiaan semua orang dalam waktu singkat. Tapi, harus bagaimana? Dia tidak bisa membiarkan orang-orang yang di cintainya celaka karena dirinya. Lagi pula, ini bukanlah pertama kalinya Dewa meninggalkan Maminya, pindah kesana dan kesini, dari satu negara ke negara yang lain. Dan dia berharap Maminya akan mengerti posisi yang di hadapinya saat ini. Setuju atau tidak, Dewa akan tetap pergi. Tapi, dia ingin setiap kepergiannya mendapatkan restu dari orang tuanya.
Untuk Dewa sendiri, ini bukanlah hal yang mudah. Mengingat statusnya saat ini, ada seorang wanita yang sekarang harus dia lindungi dan pertanggung jawabkan. Karena itu adalah kewajibannya sebagai seorang suami.
"Mam...'' Laki-laki berusia 27 tahun itu menggenggam kedua tangan ibundanya. Buk Dayu tidak tahan membendung air matanya lebih lama lagi. "Maafkan aku. Kali ini aku benar-benar harus pergi. Demi keselamatan mami dan yang lainnya." Sambungnya
Buk Dayu menatap putra semata wayangnya dengan bercucuran air mata. "Mami ingin kamu berhenti melakukan pekerjaan itu. Kapan semua ini berakhir? Mami ingin kamu tidak perlu lagi sembunyi sana sini, seperti saat ini."
"Iya. Dewa janji, ini yang terakhir. Setelah masalah ini selesai, aku tidak akan melakukannya lagi." Ucapnya bersungguh-sungguh
"Lalu bagaimana dengan Cinta? Apa kamu akan meninggalkan dia? Kalian baru menikah sehari,Wa. Ya tuhan!" Lirih frustasi Buk Dayu
"Aku sudah memberitahu kan hal ini, keputusan ada di tangannya. Dia ingin ikut atau tidak. Aku tidak mau memaksanya, karena aku tau dunia dia ada disini." Ucapnya sendu
Buk Dayu hanya bisa mendesah pasrah dan frustasi. Baru saja dia tersenyum bahagia, sekarang hanya dalam waktu sekejap kebahagiaan itu menguap seperti gelembung. Lagi-lagi dia harus berjauhan dengan putra satu-satunya. Jarak dan waktu memisahkan mereka, untuk kesekian kalinya dia kembali seorang diri di rumah besar.
Kenapa takdir begitu kejam?
Tapi, ini bukanlah salah siapa-siapa, bukan juga takdir. Tapi, salah dia. Seandainya saja, dia tidak membawa Dewa ke Amerika dan membesarkannya di sana, pasti Dewa tidak akan terlibat dalam urusan yang membahayakan dirinya. Dan seandainya saja, waktu itu dia tidak menceritakan semuanya. Dewa tidak akan masuk ke dalam lembah hitam yang membunuh Suaminya.
"Mami tidak tau harus bicara apa lagi?" Buk Dayu memalingkan wajahnya.
Dewa berusaha menghibur Maminya. "Aku janji, setelah ini aku akan menemani mami hingga usia senja. Kita akan tinggal bersama selamanya."
"Iya. Kapan?!" Buk Dayu setengah berteriak frustrasi
"Hari itu pasti akan datang dan Mami harus sabar. " Dewa tersenyum pahit.
Ibu dan anak itu kemudian berpelukan, salingan mencurahkan air mata kepedihan. Buk Dayu memeluk erat putranya, rasanya dia tidak akan pernah rela melepaskan anaknya pergi lagi. Keinginannya sederhana, dia hanya ingin hidup bersama dalam damai dengan putra semata wayangnya itu, harta satu-satunya yang dia punya.
Namun, keinginan sederhana itu tidak pernah tercapai. Sejak kecil, Dewa sudah di kirim ke amerika bersama ayahnya untuk menempuh pendidikan. Ayah Dewa atau yang lebih akrab di kenal Dave di amerika itu, adalah seseorang yang memiliki profesi yang sama seperti Dewa saat ini.
Baru kemudian di umurnya yang ke 20 tahun, Buk Dayu berhijrah ke Amerika karena suaminya mengalami sakit berat. Disana Buk Dayu mengembangkan bakatnya di pidang fashion, hingga menjadi disainer ternama. Sementara Dewa mengikuti jejak Ayahnya, sejak belia memang dia sudah dididik untuk menjadi penerus profesi itu.
Awalnya Buk Dayu tidak menyetujuinya, karena itu adalah pekerjaan yang berbahaya. Tapi, ambisi dan tekad Ayah Dewa sangat besar hingga tak seorang pun dapat menentangnya.
(-0-0-0-)
Amerika, USA
"Heii!!! Jorge......!!!!" Teriak Jonh dengan nada marah, pagi ini kepala cyber agent rahasia itu maengamuk tanpa alasan seperti wanita yang sedang PMS.
Jorge menghentikan langkahnya denga enggan ketika mendengar suara khas yang selama ini paling di hindari oleh paŕa karyawan lainnya. Dengan malasnya, Jorge membalikan badannya dan berusaha menyuguhkan senyuman semanis madu ke hadapan seniornya itu atau bisa di bilang juga adalah atasannya.
"Come here, NOW!!!!" Teriaknya lagi menekankan kata akhir kalimatnya.
Layaknya orang yang sedang di kejar anjing bluedoser , Jorge berlari terbirit-birit melalui lorong sepanjang 100 m itu. Sementara Jonh menunggu Jorge si ujung lorong dengan wajah memerah padam bak kereta api yang siap melaju.
Laki-laki bertubuh raksasa dengan kulit putih langsat, berambut pirang dan memakai setelan jas mahal, berkacak pinggang di ujung lorong. Dialah Jonh Louser, seorang kepala Unit Cyber di Lembaga SA. Sebuah lembaga rahasia yang bertugas menyelesaikan khasus-khasus rahasia.
Sementara bawahannya yang saat ini sedang asik berlari, dia adalah Jorge Maxing, Ketua Department Teknologi. Department yang bertugas menciptakan alat-alat canggih sebagai pelengkap operasi. Semua alat-alat aneh yang tidak terbayangkan oleh siapapun di ciptakan oleh Departmentnya.
"Y-yes..Sir?" Tanya gagap karena ketakutan.
"Alat macam apa ini?" Jonh melemparkan sebuah kotak hitam selebar jari. "Kwalitas kameranya jelek sekali, mana tidak ada suaranya. Bagaimana misi bisa berhasil? Hah?" Gerutunya.
Jorge mengambil kotak hitam itu, membolak-baliknya atas-bawah. "Benarkah?" Ucapnya seperti orang idiot.
"Sini, liat! Liat itu!" Jonh menyeret Jorge kedalam ruangannya kemudian menunjukan sebuah komputer di atas mejanya.
"Masa semua mukanya datar! Kamera macam apa itu? Kau pikir elien!? Suaranya tidak ada seperti orang gagu."
Memang benar, orang-orang di rekaman itu seperti tidak memiliki wajah.
"Kau tau bagaimana sulitnya aku dapat merekam ini, dan hasilnya hanya wajah elien? Kalau begini, siapa yang akan percaya? OH ASTAGAA!!"
"Maafkan aku Jonh. Sepertinya bawahanku salah memberimu kamera. Lain kali akanku periksa sebelum di berikan kepadamu." Jawabnya menyesal.
"Maaf...Maaf!! Sudah berapa kali ku katakan, kesempatan tidak datang dua kali!! Kalau sudah begini, siapa yang mau bertanggung jawab?" Omelnya dengan kekesalah memuncak.
Sejak dulu, Jonh memang di kenal tegas dan memiliki profesionalitas tinggi. Bagi laki-laki campuran german- itali itu, urusan pribadi tidak boleh di bawa kedalam urusan pekerjaan. Dan itu sudah menjadi prinsip kerjanya yang dia terapkan pada bawahannya. Jonh di kenal tiada ampun bila menegur ataupun memberikan hukuman bagi setiap kesalahan yang di lakukan bawahannya.
"Sekali lagi aku minta maaf sir, atas kelalaian ini. Aku berjanji hal ini tidak akan terulang lagi. " ucap Jorge menyesal. Dia menundukan kepalanya tanda bahwa dia mengakui kesalahannya.
"Baiklah terserah!" Sahutnya masih dengan wajah kesal.
"Mmm...Jonh, kau ingin kopi?" Tanyanya basa-basi berusaha meredakan amarah laki-laki sebayanya itu.
John hanya mengangguk gengsi, ya. Dia paling tidak bisa menolak tawaran sebuah kopi. Karena minuman hitam ini adalah minuman favoritenya, sampai-sampai teman-temannya menyebutnya Maniak Kopi.
"Mau rasa apa?" Tanya Jorge lagi dengan nada yang di buat-buat
"Cappucino.." jawab Jonh setengah hati hampir tak terdengar.
Jonh berlagak tidak mendengar dan kemudian bertanya lagi pertanyaan yang sama.
"Apa?"
"Cappucino!" Jawabnya lagi dengan nada yang lebih tinggi, tapi masih terkesan berbisik-bisik.
Lagi-lagi Jonh menggodanya dengan berpura-pura tidak mendengarnya.
"Kau bilang apa?" Jorge setengah berteriak, seperti sedang bicara di tengah-tengah mesin pembangunan
"CAPPUCINO BRENGSEK!" Teriak Jonh kesal sekesal-kesalnya, bola matanya hampir saja keluar dari matanya. Kali ini Jorge benar-benar menybalkan. Jonh menyadari bahwa dirinya sedang di permainkan oleh rekan kerjanya itu.
Dengan secepat kilat Jorge berlari pergi sambil tertawa terbahak-bahak, dia puas sekali. Sangat!!
Sementara dari kejauhan, Jonh sedang melempar barang apa saja yang ada di sekitarnya ke arah Jorge yang berlari terbahak-bahak.
"Jonh, ada apa? Tingkahmu seperti orang stres saja." Suara Kevin tiba-tiba muncul dari arah belang.
"Diam kau!!!!" Pekik Jonh sembari memasuki ruangannya dengan wajah kesal.
"Heiii...Brother what happen?" Laki-laki bertampang maskulin itu berusaha menghibur sahabatnya.
Kevin dan Jonh bekerja pada satu department yang sama. Mereka bertiga termasuk Dewa adalah sahabat dekat sejak kecil, yang sama-sama di didik oleh Ayah mereka masing-masing untuk meneruskan pekerjaan mereka. Ayah Dewa, Kevin dan Jonh adalah pendiri SA sejak tahun 80-an. Dan saat ini, lembaga paling berpengaruh di Amerika di pegang oleh mereka. SA adalah lembaga rahasia yang sangat sulit di jangkau oleh masyarakat biasa. Dikarenakan identitasnya yang sengaja di sembunyikan, oleh sebab itu tidak banyak warga Amerika yang mengetahui keberadaannya.
"Lihat saja nanti, jika dia kembali tidak akan ku ampuni.!" Gerutu kesal Jonh membuat Kevin menggeleng-gelengkan kepalanya
"Kau ini kenapa? Habis putus dari jessica ?" Goda Kevin sembari sibuk membolak-balikkan dokumen di mejanya.
"Heii, Kampret diam kau! Dengar ya, aku tidak punya waktu untuk berkencan dengan siapapun. Tidak seperti dirimu yang menjajakan hatimu di sembarang tempat. "
"Heii....jangan sembarangan menuduhku!! Memang dasar kau tidak laku!" Kecam Kevin tidak terima dengan tuduhan yang dilayangkan Jonh.
"Tidak laku? Heh! Aku lebih tampan darimu." Jawab Jonh menyombongkan diri dengan lagak khasnya yang selalu membelai rambut cetarnya.
"Percuma saja tampan tapi, hatimu lumutan seperti fosil!!!" Ejek Kevin tidak mau kalah
"Sekali lagi kau bicara, aku hajar kau!" Jonh tersulut emosi membuat Kevin langsung membungkam mulutnya dengan senyum jahil
"Jonh, bagaimana kabar Ayahmu?" Kevin beralih topik
Laki-laki blesteran German-itali itu menatap Kevin dengan tatapan menyelidik, memicingkan mata dan menaikan kedua alisnya..
"Jangan memandangku seperti itu, kau membuatku jijik." Protes Kevin
"Tumben menanyakan Ayahku. Kenapa? Apa kau akan melapor lagi padanya?"
Kevin tertawa singkat. "Hei...aku tak sejahat it kawan. Kemarin, Ayahku menanyakan Ayahmu, katanya dia ingin kita makan bersama. Kau, aku, dave, dan ayahmu. "
Jonh mengangguk mengerti.
"Sepertinya dalam waktu dekat ini, kita tidak bisa. Karena setelah Dave sampai di Hallstatt, aku harus segera kesana untuk mengambil chipsnya." Jawabnya dengan wajah serius
"Iya, kau benar. Oya, aku sudah menyiapkan keamanan untuk ibun dave dan keluarganya di bali. Jadi, dont worry!" Sahut Kevin dengan gaya riang khasnya
"Sekarang, kita tinggal menyusun rencana untuk menjebak wiliam si pembuat brengsek itu!!. Dan masalah kita selesai!!" Mereka berdua setuju, tersenyum bersama tak sabar menanti hari dimana Wiliam berhasil mereka tangkap. Sudah lebih dari 3 tahun, William menjadi target penangkapan SA, namun penjahat kelas kakap itu selalu saja berhasil melarikan diri dengan berbagai macam cara.
(-0-0-0-0-)
Setelah berbicara dengan Maminya, Laki-laki yang saat ini menjadi inceran Wiliam itu segera memasuki kamarnya. Kamar itu terlihat lengang, tidak ada siapapun. Hatinya menduga-duga, mungkin Cinta sudah mengambil keputusan untuk tetap tinggal di sini. Ya, dia bisa mengerti itu karena Dewa sangat tahu bagaimabna Cinta tidak bisa meninggalkan Ajiknya. Mungkin, saat ini wanita itu sedang pergi kerumah Ajiknya. Pikir benaknya.
Ah... dia tidak punya waktu untuk memikirkan hal semacam itu. Saat ini yang terpenting adalah melindungi chips itu.
Laki-laki bertubuh tinggi ala orang indonesia itu, dengan wajah khas orang indonesia namun tidak mengurangi sediktpun ekstitensinya di mata para wanita bule sekalipun. Senyumnya yang manis dan pembawaannya yang tegas, gagah, berani dan berkarisma membuat dia tak kalah tampan dengan bule-bule di sana.
Dengan gerakan gesit, Dewa menarik sebuah koper hitam berukuran sedang dari dalam lemarinya. Kemudian dengan cepat dia mengeluarkan bajunya yang ada di lemari dan memasukannya dengan asal-asalan ke dalam kopernya.
Tiba-tiba dari balik pintu muncul Cinta dengan koper besar di tangannya. Gadis itu menarik ganggang koper itu hingga di unjung pintu. Dia melihat suaminya sedang buru-buru memasukan baju kedalam koper yang di letakan terbuka di atas kasur.
"Ngurah...." panggil Cinta pelan
Dewa langsung menghentikan kegiatannya, dan menengok kearah sumber suara. Dia tidak menjawab , hanya memandang Cinta dengan tatapan tanpa arti. Dewa tau, Cinta ingin mengatakan sesuatu, dan dia mrnunggu untuk itu.
"Aku akan ikut bersama mu." Lanjutnya lagi
Dia terkejut mendengar ucapan Cinta, kemudian meletakan baju terakhir yang ada di tangannya ke dalam koper. Menutup erat koper itu dan memastikan semuanya sudah aman. Setelah itu, dia berjalan mendekati Wanita berdarah bali itu yang masih setia berdiri seperti pantung di dekat pintu. Wajahnya terlihat takut, tapi juga seperti sedang menduga-duga apa yang akan di katakan laki-laki di hadapannya.
"Apa kamu sudah memikirkannya matang-matang?" Ucap laki-laki makulin itu dengan nada dingin
Cinta mengangguk. Ragu tapi pasti
"Kenapa?" Tanya Dewa lirih. Dia memandang lekat mata Cinta yang menorehkan kesedihan disana. Seolah mencari-cari sesuatu di hazel hitamnya.
"Aku tidak ingin kau pergi bersamaku karena terpaksa." Lanjutnya lagi. Dia berkata acuh tak acuh, Terdengar seperti sebuah peringatan.
"Jujur ini berat untukku, tapi sudah menjadi kewajibanku untuk menemanimu kemanapun. Dan tidak mungkin aku seegois itu, karena ini sudah menjadi risikoku menikah denganmu." Jelas Cinta panjang lebar tanpa keraguan sedikitpun
"Jadi kau menyesal?" Entah kenapa jawaban Cinta itu membuat Dewa merasa tidak senang. Ada siluet ke kesalan di mata Dewa, ini pertama kalinya dia terlihat sekesal itu.
"Hah? Kapan aku bilang seperti itu?" Cinta menatap Dewa tidak mengerti. Dia benar-benar tidak mengerti dengan watak laki-laki satu ini, yang suka berubah-ubah setiap waktu.
Dewa memalingkan wajah dan berjalan mengambil kopernya dengan kasar. Raut wajahnya sangat tidak bersahabat, menandakan suasana hatinya yang sedang buruk. Hanya dengan sebuah kalimat biasa, berhasil membuat moodnya turun drastis.
Cinta berjalan mendekati suaminya, menyentuh tangan kanan Dewa dengan tangan kirinya dengan lembut. Ya. Seperti itulah yang di lakukan Cinta jika sedang membujuk seseorang. Hatinya yang lembut membuat siapa saja tidak akan tahan berlama-lama marah kepadanya. Seketika itu, Dewa langsung mengalihkan pandangannya fokus pada Cinta. Apa yang di lakukan Cinta membuat hatinya sedikit tersentuh. Dia bisa merasakan kelembutan di balik sentuhan tangan wanita itu.
" aku pergi karena aku ingin bersamamu." Jawabnya Lembut
Mereka bersitatap beberapa saat, terhanyut dengan mata masing-masing.
"Kenapa?" Tanpa disadari kata itu lolos dari mulut Dewa.
Cinta gelagapan menjawab pertanyaan Dewa. "Ya...karena...mmmm...YA KARENA KAU ADALAH SUAMIKU SEKARANG!" Jawabnya penuh penegasan berusaha menyembunyikan kegugupannya.
"Hanya itu?" Dewa sengaja menggoda Cinta,melihat sikap gugupnya membuat hatinya merasa senang dan puas.
"Iya....memangnya ada jawaban lain?" Jawabnya dengan nada songong.
#INTERMETION
HUH... SORRY agak lama, soalnya baru selese uts.
Btw, jangan bingung ya dengan Dewa, Ngurah, dan Dave . Mereka itu satu orang kok.
Dewa itu nama aslinya
Dave itu nama palsunya
Dan
Ngurah itu panggilan kesayang Cinta ke dave...hehe
Jadi, gimana part ini.?
Jangan lupa vote dan komentnya ya
Jangan sungkan kasi saran dan kritiknya :)
Oya satulagi, makasi buat semua yang selama ini udah ngikutin semua cerita-ceritaku semoga kedepannya bisa kasi yang lebih bagus lagi.
See you next part :)
Thank you for reading :)♡♡