Jadi Terbalik [SELESAI]

De agreyohana

31.3K 2K 350

Apa jadinya jika 2 cowok "Most Wanted" memperebutkan seorang cewek yang dikenal "Cupu" di SMA Taruna? Percaya... Mais

[0] Prolog
[1] Pahlawan Pertama
[2] Paksaan
[3] Pantai
[4] Sunset
[5] Langkah Pertama
[6] Maaf ?
[7] Sesak
[8] Penolakan
[9] Berubah
[10] Berubah (2)
[11] Jadian
[12] Dansa
[13] Pernyataan
[14] Hanya Sahabat
[15] Jatuh
[16] Benci
[17] Usaha
[18] Pindah?
[20] Lusa
[21] Berdua Lagi
[22] Seharian Berdua
[23] Sayang
[24] Love Terbalik
[25] Makasih
[26] Belum Merelakan
[27] Gagal
[28] Handycam
[29] Bahagia (END)
[30] Epilog

[19] Jangan Pergi

923 47 12
De agreyohana

-ELSHA-

"Ada yang mau gue omongin sama lo, Sha" kata David lalu menarik tangan gue menuju teras.

"Gue ganti baju dulu, ya"

"Gak usah. Kayak gini aja!" tegas David.

"Yaudah, gue pamit aja sama bi Inah bentar" David menggeleng.

"Lama!" katanya sambil menarik tangan gue ke luar pagar.

"Nih helmnya" David menyodorkan helm putihnya.

"Ngg..."

"Kenapa? Lo masih gak bisa masangnya?" dengan polos, gue mengangguk.

"Hhh... maju dikit" gue maju selangkah mendekati David.

"Dah! Cepetan naik" suruhnya. Gue mengangguk lalu menaiki motor sport David. Perlahan David melajukan motornya meninggalkan rumah gue.

***

"Lo mau ngomong apa sih, Dav?" tanya gue setelah lebih dari sepuluh menit David terdiam menatap hamparan air danau di hadapannya.

Dia menghela nafas lalu merebahkan tubuhnya di rerumputan dengan kedua tangan sebagai alasnya. Gue menoleh menunggu jawaban David.

"Lo mau tinggal di Inggris?" tanyanya to the point. Gue melotot kaget. Bahkan sekarang David juga udah tau gue mau pindah? Secepet ini mereka -Fero dan David -tau tentang kepindahan gue?

"Kok... Lo tau, sih? Tadi siang Fero, sekarang lo. Kalian kompakan, apa?" gue terkekeh geli mencoba bersikap seperti biasa terhadap David.

"Kenapa lo mau pindah? Lo mau tinggalin gue? Bukannya lo bilang lo gak bisa jauh dari gue? Lo udah gak butuh gue?" tanyanya bertubi. Gue menolehnya sambil tertawa pelan.

"Pertama, kenapa gue mau pergi?Sebenernya gue gak mau, tapi..." gue melirik David sekilas.

"Tapi apa?" tanya David tak sabar. Gue tersenyum sambil mengingat masa lalu gue di sekolah dulu.

"Inget gimana gue dulu? Culun, jelek, dijauhin semua orang dan dibully. Gue pengen pindah karena itu" balas gue lirih.

"Tapi lo udah gak kaya dulu, kan? Lo sekarang cantik!" ujar David tulus.

"Kalo sekarang disuruh milih, gue bakalan milih buat netep di Jakarta. Gue gak pengen pindah..." Gue menghela nafas berat sebelum melanjutkan kalimat gue lagi.

"Gue butuh kalian, temen pertama gue. Tapi, gue bisa apa? Tante Elma telpon dan dia bilang 2 minggu lagi dia tiba disini. Di Inggris, dia pasti udah daftarin sekolah gue. Salah gue yang gak pernah bilang sama dia kalo beberapa bulan ini gue betah tinggal dan sekolah disini. Gue telat, Dav. Dan sekarang, gue gak mau ngecewain dia" sambung gue.

"Apa lo pikir kepindahan lo gak buat gue atau Fero kecewa?" David bangun lalu menatap gue yang terdiam.

"Gue bukan siapa-siapa yang kalian butuhin. Toh, dulu gue gak pernah masuk ke kehidupan kalian. Kalian bisa, kan, tanpa gue?"

"Tapi, sekarang lo udah masuk ke kehidupan gue, dan lo gak bisa seenaknya pergi!" tegas David.

"Gue gak tau harus gimana. Gue..."

"Tetep stay di samping gue! Janji sama gue, lo gak akan pindah?" David menggenggam kedua tangan gue erat lalu mendekatkannya ke dadanya.

"Gue gak bisa janji, David" gue melepaskan tangan David lalu beranjak bangun.

"Mending lo pulang sekarang, gue juga mau pulang" David mengernyit lalu ikut bangkit.

"Gue anter?" katanya menawarkan. Gue menggeleng.

"Gue bisa sendiri dan tolong jangan paksa gue" sahut gue lalu berlalu dari hadapan David. Dia hanya menatap punggung gue nanar yang mulai menjauh.

***

Melda tersenyum saat dilihatnya Ivan mengendarai motornya menuju gerbang. Cepat-cepat ia berdiri dan mencegahnya.

"Melda tepat janji, kan?" sambarnya cepat. Ivan menggeleng lalu membuka kaca helmnya.

"Lo bawa sarapan apa buat gue?" tanyanya sambil melirik kotak bekal Melda.

"Oh ini... brownies coklat." jawab Melda sambil menyodorkannya ke Ivan.

"Lo tunggu sini, gue mau parkir motor gue dulu" Melda mengangguk lalu kembali duduk di dekat pos satpam. Tak berapa lama, Ivan kembali dengan ransel di pundak kanannya.

"Tadi Melda buat menurut resep. Terus gak di bantu Bunda, jadi kalo gak enak maaf, ya?" jelas Melda lebih dulu.

"Kalo gak enak, selama satu minggu lo harus buatin gue bekal. Sebagai hukumannya!" ancam Ivan asal. Melda terkekeh lalu mengangguk.

Sementara itu, Ivan mencomot sepotong brownies yang sudah di potong segiempat kecil oleh Melda.

"Gimana? Enak gak?" tanya Melda khawatir. Ivan masih mengunyah sambil memainkan bola matanya.

"Gak enak!" ketusnya lalu mencomot sepotong brownies lagi.

"Gak enak kenapa Ivan makan lagi?" tanya Melda bingung.

"Heh, buang-buang makanan itu mubadzir! Lagian lo susah payah buatnya. Gue cuma menghargai usaha lo" tandas Ivan.

"Sesuai janji, lo harus buatin gue bekal selama seminggu" sambung Ivan lalu menyuapkan potongan ketiga ke mulutnya.

***

Gue menyusuri tiap lekuk bangunan sekolah gue saat istirahat. Langkah gue berhenti pada tangga penghubung kelas yang lumayan sepi.

Tiba-tiba gue teringat saat Fero ngejailin gue dulu bareng Ivan dan Reza.

"Kalo udah disana, gue pasti bakal kangen sekolah ini" batin gue sedih.

"Andai gue gak pernah deket dengan David dan Fero, andai gue tetep cupu dan gak punya temen seorang pun. Mungkin gak sesulit ini buat pindah, ninggalin mereka yang begitu baik sama gue" gumam gue pelan

"Gak usah banyak berandai-andai. Gue gak suka lo ngomong kayak gitu, seolah lo nyesel deket sama gue" suara seseorang yang gue kenal terdengar. Gue menoleh kaget ke belakang.

"Fero..." Fero tersenyum sambil mendekat dengan gaya khasnya, kedua tangan diselipkan di saku celananya.

"Kalo lo tetep cupu dan gak punya temen kaya dulu, mungkin lo selamanya akan jadi bully-an anak anak disini" sambung Fero lagi. Gue tersenyum.

"Itu lebih baik. Gue bisa pindah sesuka gue tanpa ada beban" sahut gue egois.

"Tapi sayangnya keadaan sekarang gak kaya gitu. Bisa lo tetep stay disini? Gue butuh lo" katanya lirih.

"Maaf gue gak bisa!" tegas gue lalu berjalan melewati Fero.

"Kalo gitu, gue juga pindah ke Inggris" sontak langkah gue terhenti.

"Terserah" sahut gue acuh, lalu beranjak pergi. Gue yakin Fero cuma gertak, karena dia gak mungkin ngelakuin hal nekat kaya gini.

***

Gue menatap kalender di meja belajar gue. Sudah ada banyak bulatan hitam disana, lalu pandangan mata gue berganti pada bulatan merah yang gue bulati beberapa hari yang lalu.

"Udah hari ke sembilan, tapi gue belum juga bisa bilang gak sama tante Elma. Padahal lima hari lagi dia dateng" gue menghela nafas berat lalu meraih kalender meja gue.

"Gue gak pengen pergi, tapi kenapa susah buat nolak tante Elma? Gue gak mau ngecewain dia..." lirih gue lalu menaruh kembali kalender meja gue.

"Mungkin gue emang harus pergi..."

***

"Lo bawa apa?" Ivan duduk di samping Melda sambil melirik kotak bekalnya. Ini sudah hari kelima Melda membuatkannya bekal.

"Kali ini Melda buat... TARAAA!!! Nasi goreng spesial pake french fries" Melda membuka tutup kotak bekal berwarna hijau muda itu. Ivan tersenyum lalu meraihnya.

"Lo masih tau aja apa yang gue suka" kata Ivan sambil menyendokkan nasi goreng ke mulutnya.

"Always... Eh iya, Ivan mau Melda bawain apa besok?" tanyanya sambil memperhatikan Ivan yang sangat lahap.

"Apa yang lo buat pasti gue makan, asal jangan pake pelet biar gue suka lagi sama lo" sontak Melda memukul bahu Ivan.

"Enak aja! Ini tuh murni, gak pake aneh-aneh. Ivan kalo ngomong suka ngaco" sahutnya kesal.

"Oh, ya? Terus kenapa gue bisa suka lagi sama lo?"

***

"Fero sama Ivan kemana sih? Tiap pagi ngilang mulu. Biasa juga ngumpul bareng gue di kantin" dumel Reza. Sesekali ia menatap pintu kantin berharap kedua temannya itu datang.

"Gue rasa, sekarang cuma gue yang jomblo. Gak setia kawan!" racaunya kesal lalu bangkit meninggalkan kantin.

***

Gue harap, lo tetep disini!

Gue membaca segaris kalimat pada kartu ucapan yang tertempel manis pada bunga mawar putih yang tergeletak manis di atas meja gue. Pandangan gue mengedar mencari siapa yang paling mungkin menaruh bunga ini di atas meja gue.

"Cuma dua, kalo gak David ya Fero. Temen gue kan cuman mereka." batin gue lalu beranjak keluar.

"Bunganya cantik, gue suka.. Tapi, maaf gue gak bisa batalin itu, Dav" David mendongak tak mengerti mendengar ocehan gue.

"Lo ngomong sama gue?" tanyanya dengan tampang bingung. Gue mengangguk lalu memilih duduk di sampingnya.

"Thanks ya, David. Buat bunganya" gue melambaikan bunga mawar putih di tangan gue ke depan wajah David.

"Bunga? Buat lo? Kapan gue ngasihnya?" tanya David bingung

"Loh, bukannya lo yang ngasih gue bunga ini? Ini tulisan lo, kan?" David membaca segaris kalimat pada kartu ucapan yang gue sodorin. Mendadak dia tersenyum tak berarti.

"Ini sih, tulisan Fero!"

"Hah? Fero?" David mengangguk sambil tersenyum geli.

"Tulisan dia masa iya lo gak hapal?" ledek David.

"Ish... lo itu!" gue memukul bahu Davud pelan.

"Oke, gue harus cari Fero sekarang. Dah.. David!" gue bangkit lalu meninggalkan David yang tersenyum penuh arti.

"Gue tau, bukan sama gue bahagia lo. Fero yang bisa buat lo bahagia dan gue harap dia gak ngulangin kesalahan yang sama. Karena kalo sampe itu terjadi, gue yang akan rebut dia dari lo, Ro!" batin David.

Dia menatap punggung Elsha yang mulai menjauh.

***

"Akhirnya ketemu juga sama nih anak!" gue menghampiri Fero di pinggir lapangan.

Dia sedang memeluk sebuah gitar sambil memejamkan matanya. Di sebelah Fero, ada Sera -ketua ekskul paduan suara yang berparas cantik dan terkenal dengan suaranya yang sangat bagus jika bernyanyi.

"Mereka ngapain?"

***

Fero & Elsha

Continue lendo

Você também vai gostar

Crush De cndyyyy

Ficção Adolescente

128K 6.7K 36
[SELESAI] Nathalia sudah melupakan masa lalunya. Dia sudah berusaha mati-matian untuk melupakan masa lalu nya. Dia fikir dia sudah berhasil membuan...
7.2K 455 48
Cerita tentang dua insan yang memiliki banyak perbedaan, namun hanya takdir yang mempertemukan mereka. Sehingga mereka dipersatukan untuk saling bers...
5.1K 519 67
Namanya Aruna, nama lengkapnya Aruna Langit Rinjani yang memiliki arti yaitu warna langit kemerahan di atas gunung Rinjani. Kalau kata Darren, Aruna...
2.6M 131K 28
Tersedia di Gramedia terdekat. Atau bisa dibeli di shopee : Ibiz Store, Tokopedia : IbizStore atau hubungi admin 08886813286. "Bolehkah ... saya me...
Wattpad App - Desbloqueie funcionalidades exclusivas