Temu baru bukan berarti pisah dengan yang sebelumnya
******
Naura POV
Pada sebuah batas sesal yang berharap agar lekas meniada. Menamatkan segala derai lantaran telah habis sirna. Tampaknya semua itu hanya sebuah angan yang akan tetap demikian. Aku tak mengerti di mana letak salah yang menjadi masalah, pun sulit memahami tiap persoalan yang tanpa permulaan tahu-tahu sudah berada di permukaan. Jujur, sampai detik ini tak kumengerti mengapa begini? Memiliki perasaan terlarang pada seseorang yang bahkan jasanya melebihi gunung dan lautan.
Kau,
Mungkin semua bentuk kata terima kasih tetap tidak menguraikan balasan. Atas jasa yang telah diberikan. Namun, di balik jasa yang tertuai itu ada derai. Dan dengan perasaan berkobar aku masih sulit untuk bisa mengesampingkan tiap-tiap kejadian. Aku bukan daun yang gugur dengan tidak menyalahkan angin, pun bukan air hujan yang rela dihempaskan oleh awan. Aku adalah perempuan berperasaan, seorang putri yang tidak rela jika ibunya menyalahi hal apapun yang menjadikan dirinya sebagai seorang ibu. Maaf ibu, tapi sungguh aku membencimu.
Rumah sunyi ini, keluarga dengan segala ego yang aku tinggali membuatku tangguh untuk tetap teguh meski berkali-kali jatuh. Jadi ketahuilah, di sini penyebab hingga aku tumbuh menjadi sosok yang jauh dari keramaian, kurang kasih sayang, dan bertingkah seolah tidak memiliki perasaan. Muka datarku menggambarkan sesosok orang yang begitu dingin, tatapan membunuh dari sepasang mataku mampu membuat orang mengelak untuk berpaling. Kuakui akibatnya cukup mengenaskan. Kesendirian, tiada teman, tidak ada hari dengan canda dan tawa riang. Seperti apakah itu? Aku tak mengenalnya.
Namun, saat aku tak mengatakan bahwa diriku tidak ingin merasakan bukan berarti aku tidak menginginkan. Memiliki kebahagiaan dengan banyak teman, bermain seharian tanpa ada yang dikhawatirkan, juga dengan keramaian yang sebetulnya ingin sekali kurasakan. Pada kenyataannya aku masih manusia normal yang menginginkan kenyamanan. Setidaknya dengan satu orang yang sanggup membuatku merasakan demikian. Tapi tidak. Bahkan sampai detik ini, waktu di mana aku telah menginjakkan kaki di dunia putih abu-abu, tetap tidak ada yang menghilangkan kegelisahan yang kian membuncah.
Aku geram remuk redam. Pada puing-puing keadaan yang bersisa hanya ada luka yang akan terus menganga. Entah sampai kapan, lara dengan banyak derai air mata. Bermacam pilu mendayu-dayu beserta rasa ngilu yang dihasilkannya.
Seperti sekarang contohnya. Banyak pasang mata menyorot tertuju padaku kala langkah kakiku menderap di lantai ruang serbaguna. Namanya ruang Graha Loka Wiyata atau biasa disingkat GLW. Banyak kepala menoleh untuk melihat siapa yang dipanggil oleh kakak ketua osis super tampan. Dan sialnya itu aku. Aku benci di mana banyak anak memandangiku dengan tatapan membunuh seolah iri kalau akulah yang dipanggil untuk maju. Sebagiannya lagi baper ketika tiba-tiba ketos tampan itu menghampiriku lalu menggandeng tanganku saat langkahku terlalu lamban.
Sial!
Malas sekali untuk maju ke depan dengan cara seperti ini. Telingaku memanas sesaat setalah siulan terdengar dari kalangan cowok. Lebih lagi tidak sedikit dari mereka yang berteriak cie dan semakin memecah suasana. Di belakang sana jeritan para cewek menggema hingga penjuru ruangan. Ah, andai saja kakak kelas anggota osis di belakangku tadi tidak memaksaku untuk maju, mana mungkin aku mau.
Sesampainya di depan, ketos tadi menginstruksi padaku untuk menyejajarkan diri bersama salah seorang cowok. Sepertinya dia dari kelas sebelah. Jangan kalian mengira bahwa siulan dan ledekan cie tadi adalah karena aku dan kakak ketua osis. Huft, aku tidak secantik dan secocok itu bersama dia. Tindakan yang dilakukan peserta MOS tadi bukan lain untuk meledekku dengan cowok di sampingku sekarang. Untuk melaksanakan permainan gombal-menggombal. Karena permainan ini mengharuskan adanya peserta laki-laki dan perempuan. Jadilah di sini aku sekarang. Ah, ini yang lebih mengesalkan.
"Oke, nama kamu siapa?" tanya ketos yang jika aku lihat di cocard-nya, nama dia adalah Yuan Adwi P. Entah apa kepanjangan dari P itu yang pasti panggilannya adalah Yuan. Pertanyaan Kak Yuan barusan ditujukan untuk cowok di sampingku.
"Aku Galuh Ilyas Pradanu," jawab cowok itu. Aku cuek, sama sekali tak menggubrisnya.
Barulah setelah bertanya pada cowok itu Kak Yuan mendekat ke arahku untuk menanyakan hal yang sama.
"Aku." Untuk beberapa saat aku menjedanya. "Naura Aqila."
*****
Galuh POV
Dalam dunia pendidikan kedua malaikat pelindungku mempunyai mimpi yang sangat besar, sebanyak buih lautan tak cukup sebagai pembanding, seisi jagad raya pun tak bisa dijadikan tolok ukur. Itulah mengapa aku disekolahkan di sini, sekolahan favorit. Semasa SMP akulah siswa terbaik dalam singgasana per rankingan, pendiam nomor satu dari keseluruhan, dan tersopan sepanjang pengetahuan guru. Namun, semua itu tidak berlangsung lama.
Ditahun 2019 ini aku lulus, melanjutkan ke jenjang menengah atas, ke jenjang reformasi sikap, perilaku, dan kesosialan. Orang tuaku mungkin bangga anaknya bisa masuk sekolahan favorit, tetapi tidak denganku. Karena apa? karena sudah sejak lama aku bersaing dengan orang-orang pandai, pandai menyombongkan diri, pandai dalam kecurangan, dan pandai dalam keegoisan. Semua itu terjadi ketika singgasana kelas terbaik diduduki mereka. Kelulusan itu entah langkah awal menggapai cita atau mungkin mengenal derita.
Dipuji karena lebih pandai, di remehkanlah mereka yang berandai-andai. Aku benci suasana seperti itu, betapa menyakitkan hati mereka . Detik ini juga tidak ada lagi diam yang menghanyutkan, pandai karena mengharap pujian, dan persaingan melengserkan kawan. Tepat pada Masa Orientasi Siswa, dengan pengalaman sosialku yang rendah aku mulai memberanikan diri bergabung menumpahkan segala keluh kesah bersama orang-orang asing yang belum kukenal sebelumnya.
Naura Aqila, begitu jawab gadis di sampingku sesaat setelah Kak Yuan menanyakan namaku. Dari sorot matanya redup, pandangan menunduk, dan dari gaya bicaranya ragu. Gadis pemalu, pikirku kala itu. Hari pertama MOS kami berdua kena tunjuk, maju bermain gombal-menggombal. Aku terentak kaget, gombal-menggombal? Dengan gadis pemalu ini? Ah sial. Dalam batinku menggerutu.
Tidak ada yang mengalir di genangan dalam meski di isi air terus-menerus. Ya mungkin itu adalah pepatah yang cocok bagi kami berdua. Dimana air adalah paksaan untuk menggombal dan genangan itu adalah aku dan Naura, diam meski di isi air terus-menerus. Aku memang sudah lama dibekali sikap pendiam, tetapi kali ini tak akan kusia-siakan langkah awal untuk dikenal sebagai seorang humoris, meski aku sendiri tak tahu apa yang harus ku gombalkan kepada Naura.
Mencoba untuk memasang mimik wajah selucu mungkin, seperti yang pernah kutonton diacara-acara TV. Tanpa sebab mulutku melontarkan kata,
Naura
Sontak membuat peserta MOS yang lain tertawa. Terutama kaum hawa yang terlihat baper karena suasana.
"Kakak belum nyuruh loh." Kak Yuan mengatakannya sembari menahan tawa, tetapi dengan tatapan tegas.
Entah apa yang ada di pikiranku namun bibir tahu-tahu mengucapkan nama gadis itu, Naura. Ah, dia memang lumayan cantik.
*****
Naura POV
Dalam termangu aku berseru, pada diam yang paling nyaman. Menyerukan apa yang tidak bisa aku serukan dalam kenyataan. Mendiamkan apa yang sebenarnya terucap dalam lubuk paling dalam. Anggaplah aku sedang berbicara, bercerita, bercanda tawa, tapi tidak dengan sesama. Aku mengatakannya dalam hati, satu-satunya yang tidak akan pernah mengkhianati sembari menikmati kesendirian. Sebab itu adalah hal ternyaman, paling menenangkan.
Waktu istirahat kugunakan untuk melihat keadaan. Taman sekolah ini memang cukup luas. Bahkan di depan kelas pun tampak seperti sebuah taman. Untuk beberapa saat aku terlena oleh keadaan. Pohon rindang dengan banyak bunga menambah taman SMA Pradipta semakin asri. Di sudut taman terdapat dua tempat sampah pun dengan kran beserta sabun untuk cuci tangan. Di sisi lain tanaman hidroponik menggantung di tiap segi tepi kelas. Menambah aura Adiwiyata kian terlihat.
"Naura." Aku terenyak. Panggilan itu membuyarkan pikiranku dengan segala imajinasi yang sedari tadi menggelayut di pikiran.
Sebenarnya aku terkejut mendapati Galuh berada di depanku sekarang. Bahkan baru saja memanggilku. Namun, sebisa mungkin kuperlihatkan ekspresi sebiasa dan sedatar-datarnya. Mungkin akan terlihat cuek sekali. Tapi yang benar saja, apa dia tidak malu dengan kejadian sebelumnya sehingga menghampiriku secara langsung?
Flash back on
Untuk saat ini anak lain masih meledek kami, Aku dan Galuh karena akan melaksanakan permainan yang sebenarnya membuatku kesal. Sangat. Karena hal itu akan mengundang keramaian. Dan Aku tidak suka keadaan menjadi ramai bahkan ricuh karena Aku.
"Naura," panggil Galuh pelan dan sengaja penuh penghayatan, memulai permainan yang bahkan belum mendapat instruksi dari Kak Yuan. Hais, dia terlalu semangat. Tidak. Peserta MOS lain yang jauh lebih semangat. Mereka menantikan ucapan Galuh selanjutnya, penasaran gombalan macam apa yang akan dilontarkan cowok itu. Bahkan beberapa di antaranya ada yang berteriak histeris seolah itu adalah sebuah belaian. Bisa aku lihat Galuh begitu semangat dengan binar di wajahnya, seakan menggombali cewek itu adalah pekerjaan paling menyenangkan.
"Kalo mau gini aja cowok jadi semangat banget," sindirku dalam hati dan menggerutu kesal. Andai saja itu bisa kukatakan. Ah, semoga saja Galuh tidak macam-macam dengan gombalannya.
"Naura, kau lihat itu?" cowok itu menunjuk ke arah cahaya matahari. Aku mengangguk saja menuruti perintahnya. Tapi tidak untuk lain kali.
"Apa yang kau lihat?" tanya Galuh serius
Aku sudah menemukan jawabannya lantas bertanya untuk memastikan, "Seberkas cahaya?"
"Kamu salah Naura, yang kamu lihat adalah bongkahan masa depan," jelas Galuh membenarkan. Membuatku untuk berpikir dua kali. Keningku mengerut tanda bingung.
"Coba kamu pejamkan kedua matamu," pintanya riang
Sekali lagi aku menurut saja.
"Sekarang coba kamu buka." Aku merasakan Galuh pindah posisi, tepat searah garis pandangku sehingga aku bisa merasakan cahaya tadi tergantikan oleh bayangan seseorang yang tidak lain adalah dia. Perlahan kerutan pelipis mataku terangkat dan perlahan pula mulai terbuka sempurna.
"Benarkan apa yang aku bilang?" candanya tersenyum penuh kemenangan.
Aku tersenyum, menunduk malu. Tapi tunggu, aku tidak sedang baper, kan?
Flash back off
Bagiku, seorang perempuan pendiam, hal semacam tadi bukanlah hal biasa. Aku berpikir setelah mengatakan gombalan tadi Galuh mungkin akan menghindar tapi tidak, cowok itu justru berada di hadapanku sekarang, memanggil namaku tanpa ragu atau canggung.
"Naura.... Ara?" serunya lagi dari jarak beberapa meter dari tempat aku berdiri. Tangannya melambai kepadaku.
Panggilan Galuh tidak kusahuti, aku hanya menoleh ke arahnya seolah mengatakan, "Apa?"
Cowok itu mendekat dengan berlari kecil. Sesaat Aku memandanginya, cowok tinggi, alis tebal, badan tegap, kulit putih, dan rambutnya sengaja sedikit diberantakkan. Ku akui dia termasuk dalam cakupan cowok ganteng yang biasa dikenal dengan cogan. Masa bodo.
"Ra, ini Aku!" ujarnya setiba di hadapan.
Ya dia memang dia, bukan? Si Galuh?
"Jahat kamu, Ra. Masa nggak kenal. Kayak udah lama aja nggak ketemu."
Dahiku mengerut, tetap diam dengan kebingungan untuk menunggu penjelasan. Cowok satu ini bersikap seolah-olah dirinya bukanlah Galuh, tapi orang lain yang pernah menjadi bagian yang kukenal. Ya aku memang kenal, mengenalnya sebagai Galuh.
"Ya kamu Galuh, kan?" tanyaku jadi sedikit ragu.
Dia berdecak, "Bukan, Ra. Masa udah lupa sih sama aku?"
Bukan Galuh?
Ada apa dengan dia? Setahuku selama ini Aku tidak mengenal cowok siapa pun bernama Galuh. Sahabat lama? Aku tidak punya. Bahkan daftar nama teman cowok pun masih bisa dihitung. Semoga saja tidak ada sesuatu dan mengubah yang tadinya masa bodo jadi sebaliknya.
Mungkin
"Kalau bukan Galuh terus siapa?"
"Kamu lupa ya, aku kan..."
.
.
.
Bersambung
Oiya, jadi ini adalah cerita kolaborasi Aku dan W. Aku sebagai Naura dan W sebagai Galuh. Penasaran siapa W? Pantengin terus cerita ini pokoknya :v
Sampai jumpa di part selanjutnya
Salam Wivi tapi tetep susah signal :v