Song : 三个人的错 (San Ge Ren de Chuo=Tiga Orang yang Salah)
Sepuluh tahun kemudian,
Masih di Era Kekaisaran Dinasti Qin,
Matahari pagi menyinari bumi Kerajaan Dinasti Qin yang sedang berkecamuk menghadapi serangan-serangan yang digencarkan oleh kerajaan kecil yang berada di sekelilingnya.
Kaisar Qin Er Huang saat itu yang masih muda dan tidak cakap mengurus pemerintahan sebuah kerajaan besar yang tidak lama didirikan oleh seorang Kaisar bernama Qin Shi Huang, yang merupakan sosok Kaisar yang terkenal dengan ambisinya membangun sebuah tembok pertahanan di perbukitan perbatasan Dinasti Qin dengan suku bar-bar yang berada diluar sana yang kini dikenal dengan Mongolia.
Sepeninggal Qin Shi Huang yang wafat di usia yang relatif muda, Dinasti Kekaisaran Qin merosot parah karena penerus tahta bukan lah kaisar yang bijaksana melainkan seorang boneka yang tunduk pada kasim yang berkuasa di istana sehingga membuat pemberontakan terjadi dimana-mana.
Seorang gadis yang mengenakan han fu berwarna merah muda, berambut panjang hitam nan indah duduk di sebuah kursi di taman yang dipenuhi berbagai jenis bunga yang sedan bermekaran.
Wajahnya cantik, kulitnya putih mulus dan bibirnya kecil membuatnya bak seorang dewi yang tersesat dari khayangan ke muka bumi tempatnya berpijak.
Jemari lentiknya bergerak lincah memegang busur dan menggesek erhu tsb dan senyuman manis mengiringinya tenggelam menikmati kegiatan santainya itu.
Gadis yang berumur kurang dari dua puluh tahun itu sangat mahir memainkan er hu, sungguh seorang wanita idaman semua laki-laki di zaman itu.
"Miao Yi"
suara panggilan dari seseorang menginterupsi kegiatan yang sedang dinikmatinya itu dan dengan refleks memalingkan pandangannya dari er hu dihadapaannya ke arah sumber suara.
Terlihat seorang gadis kecil yang berumuran tak jauh darinya berlari menghampirinya dengan cepat menyeret hanfu-nya yang panjang sampai menyentuh tanah dengan lincah tanpa terlihat kewalahan sedikitpun.
Wajahnya lebih cantik daripada Miao Yi biarpun rambutnya tidak seindah yang dimiliki Miao Yi dan kelakuannya yang sama sekali tidak lemah lembut membuatnya sedikit berbeda dengan gadis muda pada umumnya.
"Zhi Er.... Ada apa?" seru Miao Yi dengan suara lemah lembutnya menanyakan kehadiran Zhi Er padanya.
Gadis itu adalah Lü Zhi yang kini sudah mencapai
usia remaja.
Zhi Er menghampiri Miao Yi dan memegang lengannya seraya melihat er hu yang berada di hadapan Miao Yi, "Aduuuuh... Miao Yi sudah ku bilang jangan menghabiskan waktu santaimu hanya dengan memainkan alat musik yang tidak akan membuatmu menjadi wanita yang sesungguhnya..."cetus Zhi er dengan bete memandang er hu yang dipegang Miao Yi.
Namun Miao Yi tidak menimpali, memilih untk diam mendengarkan ceramahan Zhi er sembari kembali menggesek-gesek er hu.
Zhi er yang berdiri di samping menatap Miao Yi yang serius memainkan alat musik itu tanpa minat, "Kita harusnya belajar sesuatu yang juga dipelajari oleh pria seperti kungfu untuk membela diri saat kita ditindas dan belajar menulis, itu yang membuat kita lebih berguna" lanjut Zhi er menggurui, tidak mau diam.
Miao Yi yang mendengarkan menjadi bingung apa maksud dari semua perkataannya, seketika Miao Yi menghentikan kegiatannya, mendongakkan kepala memandang Zhi er,
"Apa maksudmu, Zhi Er? Bisa memainkan er hu adalah ketrampilan yang wajib dimiliki oleh seorang gadis muda seperti kita, gadis yang lemah lembut dan menurut duduk di rumah, kelak kalau sudah saatnya kita dinikahkan dengan pria yang sudah ditetapkan kita akan menjadi seorang istri yang dikagumi oleh suaminya sendiri dan kau harus tunduk pada nasip bahwa seorang perempuan tidak boleh melebihi laki-laki" sahut Miao Yi dengan tak kurang panjang lebar lalu menunduk kembali.
Zhi Er mengerutkan dahi mendengarkan penjelasan Miao Yi yang panjang lebar dan membuatnya bete, "Miao Yi-ah..... sudah saatnya kita sebagai perempuan untuk berpikir lebih terbuka. Ingat! Perempuan seperti kita juga makhluk yang diciptakan Tuhan jadi kita harus bisa tangguh seperti laki-laki masa kini. Kita tidak bisa hanya membiarkan hidup kita dikekang oleh seorang laki-laki yang menjadi suami kita kelak...., "suara Zhi Er yang lantang panjang lebar menimpali ucapan Miao Yi membuat Miao Yi menghela napas dan menatap dengan tatapan pasrah untuk tidak melanjutkan perdebatan.
Miao Yi mendengus, menelengkan kepala, "Ya... ya... ya...... aku tidak punya tenaga untuk menjawab perkataan mu itu, Zhi Er. Aku mengalah karena setiap aku baru mengeluarkan sepatah kata kau malah menjawabku dengan sepuluh patah kata, kau sungguh gadis yang bawel" ucap Miao Yi mengalah yang kembali melanjutkan kegiatan menggesek er hu-nya. Tak berminat untuk meladeni Zhi er yang bawel dan cerewet itu daripada Miao Yi merasa dongkol berdebat tidak penting dengannya.
Begitulah kedua gadis muda itu yang sangat berbeda kepribadiannya selalu berargumen. Masing-masing dari mereka tidak ada yang menyadari kelak mereka akan menjadi wanita yang mencetak sejarah yang sampai beribu tahun dikenal orang.
Zhi Er yang iseng kemudian merebut er hu dari Miao Yi dan dengan asal menggeseknya dengan kencang. Sengaja untuk membuat Miao Yi kesal.
"Apa yang sedang kau lakukan? Kembalikan er hu milikku?" Miao Yi tersentak dan berusaha merebut kembali er hu nya yang kini berada di tangan Zhi Er.
Tetapi dengan cepat Zhi Er berlari menjauhi Miao Yi seraya terus menggesek-gesek dengan asal er hu yang dipegangnya membuat Miao Yi melangkahkan kakinya berlari mengejar Zhi Er.
"Ayooo... Kejar lah aku sampai dapat kalau kau mau merebut kembali er hu milikmu, Miao Yi?" Seru Zhi Er seraya terus berlari dengan cepat di taman.
Miao Yi yang kewalahan berlari menyeret pakaiannya yang panjang dan berat itu tertinggal jauh di belakang Zhi Er yang lebih lincah dan gesit.
"Kembalikan padaku, Zhi Er! Jangan berlari lagi" seru Miao Yi kembali terus berusaha mengejar Miao Yi.
Zhi Er yang usil dan iseng terus saja berlari dan sempat-sempatnya menoleh untuk menertawai Miao Yi yang payah tidak bisa mengejarnya, " Kau begitu payah, Miao Yi! Mengejarku saja tidak bisa... Bagaimana kelak kalau terjadi perang besar di negri Qin dan kita harus berlari untuk menyelamatkan diri kita masing-masing? Kau pasti mati lelah duluan sebelum terkena senjata tajam dari tentara musuh kita," ejek Zhi er dengan jahil
Mendengar ejekan dari Zhi Er, Miao Yi berdecak kesal, mendengus dan menghentikan langkahnya, "Aku tidak akan mati karena lelah berlari menyelamatkan diri, aku akan mati karena dirimu, Zhi Er. Ayo kembalikan lah er hu punyaku......jangan bermain-main lagi"
Suara merdu Miao Yi membuat Zhi Er tersenyum lebar, yang sebenarnya sangat mengagumi sosok Miao Yi yang menjadi teman mainnya dari kecil.
Miao Yi dengan pembawaan yang tenang dan elegan membuatnya seperti sesosok yang di ciptakan oleh Tuhan untuk menyeimbangkan dirinya yang cenderung tidak bisa diam, blak-blakan dan ceplas ceplos.
Kehadiran Miao Yi dalam hidupnya benar-benar berarti baginya dan membuatnya sangat mengasihi Miao Yi yang dianggap seperti saudaranya sendiri.
Apapun yang menjadi miliknya selalu akan dibagikan kepada Miao Yi, selalu ingin membuat Miao Yi bahagia tinggal dirumahnya.
"Aku akan kembalikan er hu padamu tapi ada syaratnya?" Ucap Zhi Er yang berdiri di posisi lumayan berjauhan dengan Miao Yi yang ngos-ngosan itu.
"Syarat apa, Zhi Er?" Tanya Miao Yi dengan penuh minat dan cepat karena saking ingin mendapatkan kembali er hu yang direbut oleh Zhi Er.
Zhi Er melempar senyum evil yang membuat Miao Yi langsung bisa menebak apa yang ingin Zhi Er katakan,
"Kau pasti ingin mengajakku menyelinap keluar lagi ya kan? Aku tidak mau...... nanti Tuan dan Nyonya bisa marah" cetus Miao Yi menolak dengan kening yang berkerut.
Zhi Er mengernyitkan dahinya dan mencebikkan bibirnya lalu menghentakkan kaki dengan gemas ke tanah beberapa kali seperti anak kecil yang sedang ngambek, "Tidak usah takut, hanya sebentar saja dan ayah ibu tidak akan tahu karena mereka lagi pergi dari subuh hari" desis Zhi Er mengajak dan meyakinkan Miao Yi.
Melihat Miao Yi hanya diam saja tidak mengiyakan membuat Zhi Er gregetan lalu mengangkat er hu milik Miao Yi ke udara dan diayunkan dengan kencang berkali-kali, "Aku akan melemparkan er hu ini kalau kau tidak mau ikut aku menyelinap keluar......" cetus Zhi Er mengancam dengan suara lantangnya dan sontak membuat Miao Yi membelalakkan kedua bola matanya menyadari er hu kesayangannya hendak di lempar oleh Zhi Er.
Miao Yi menjulurkan kedua tangannya seolah bisa meraih er hu tsb,"Jangaaaan... Aku akan ikut denganmu. Jangan melemparkan er hu punyaku"
Melihat respon Miao Yi yang begitu dramatis membuat Zhi Er terkekeh dan tersenyum puas penuh kemenangan.
Begitulah Miao Yi memang selalu dibuat tak bisa berkutik oleh tingkahnya itu. Hanya bisa pasrah menurut saja.
Lalu Zhi Er melangkahkan kakinya berlari ke arah Miao Yi berdiri dan menyerahkan kembali er hu miliknya, "Ini ambillah..." ucap Zhi Er seraya menjulurkan tangannya yang memegang er hu pada Miao Yi dan dengan cepat tangan Miao Yi mengambilnya, lalu mengelusnya dengan penuh perasaan.
Tanpa babibu Zhi Er meraih lengan Miao Yi dan menariknya pergi," Ayo kita menyelinap keluar sekarang juga" seru Zhi Er setengah berbisik di telinga Miao Yi
Miao Yi yang tangannya ditarik kasar oleh Zhi Er hanya bisa pasrah melangkahkan kakinya mengikuti Zhi Er.
~~<<<~~~~~~~~~~~~*****~~~~~~~~~~~~<
Tak beberapa lama kemudian kedua gadis cantik itu berhasil menyelinap ke luar kediaman Lu dan berjalan di alun-alun kota.
Zhi Er begitu excited memperhatikan sekelilingnya, jalanan yang lebar dengan kedua sisi yang dipenuhi banyak pertokoan lalu juga ada yang berjualan jajanan kecil,makanan dan berbagai pernak pernik pun ada.
Zhi Er setengah berlari-lari saking semangatnya sampai meninggalkan Miao Yi di belakang yang kewalahan mengejarnya dengan han fu yang melekat di badannya.
"Zhi Er-ah, tunggu aku" teriak Miao Yi seraya berlari mengejar Zhi Er tapi Zhi Er tidak menoleh sama sekali seolah-olah sudah menemukan dunianya sendiri.
"Cepat lah, Miao Yi! Kau lambat sekali" teriak Zhi er dari kejauhan.
Sampai sore hari kedua gadis muda itu menikmati saat senangnya berada di luar, melakukan apa saja yang mereka inginkan, menyenangkan memang makanya Zhi er suka menyelinap ke luar untuk berpetualangan sejenak karena gadis yang berasal dari keluarga terpandang pada zaman itu pada umumnya di didik untuk menjadi anak rumahan, belajar menyulam, berpuisi dan memainkan alat musik.
Begitu membosankan untuk seorang Lu Zhi yang jiwanya selalu ingin bebas dan ingin berbeda dengan gadis yang hidup terkekang tanpa boleh melakukan apa yang dirinya suka.
Sedangkan Miao Yi adalah anak penurut dari kecil dan statusnya yang hanya menumpang di keluarga Lu membuatnya tidak berani membantah ucapan Tuan dan Nyonya Lu sedikit pun. Bahkan kerap kali kalau Zhi er membuat kesalahan Nyonya Lu malah menghukum Miao Yi karena merasa Miao Yi tidak mendidik dan membimbing Zhi er dengan baik.
Zhi Er dan Miao Yi kini berada di pinggir sebuah bukit yang berada di pinggiran kota sedang duduk istirahat melepas lelah setelah keluyuran hampir seharian.
"Indahnya....."Kagum Miao Yi pada pemandangan yang sedang di lihat mata kepalanya sendiri.
Zhi Er yang berada di sampingnya memegang lengannya, "Kalau duduk dirumah kita tidak akan bisa melihat pemandangan seindah ini, Miao Yi. Makanya kita harus sering-sering menyelinap ke luar saat ayah dan ibu tidak ada" ucapnya dengan girang.
Miao Yi mengerutkan dahi sejenak, " Tidak bisa... nanti kalau Tuan dan Nyonya tahu mereka akan marah...cukup sekali ini saja kita menyelinap ke luar"
Zhi Er menggelengkan kepalanya sehabis Miao Yi menghabiskan kata-kata yang keluar dari mulutnya," Mengapa kau begitu takut dimarahi ayah dan ibu? Ada aku jadi kau tidak perlu takut...." ujar Zhi Er sembari menepuk-nepuk punggung Miao Yi dengan lembut sehingga membuat Miao Yi tersenyum terharu merasa Zhi Er selalu baik padanya.
Dari kecil sampai dewasa mereka selalu bersama-sama, biarpun perlakuan yang didapatkan oleh Miao Yi berbeda jauh dari Zhi Er tapi itu tak membuat persahabatan mereka retak. Status sosial mereka beda, Zhi Er adalah seorang putri kesayangan keluarga berada sedangkan Miao Yi hanyalah seseorang yang dipungut oleh Tuan Lu di jalan atas dasar rasa kasihan Zhi er sepuluh tahun lalu.
Zhi er mendongakkan kepala memandang langit, "Miao Yi... Kalau kau bisa memilih kau berharap kelak kau bisa menikahi pria seperti apa?" Suara merdu Zhi Er tiba-tiba menanyakan sesuatu yang tak pernah ditanyakannya kepada Miao Yi.
Miao Yi menatap Zhi Er sejenak, dan memutar bola matanya berpikir," Aku ingin menikahi seorang Kaisar.... agar aku bisa menjadi permaisuri yang dihormati banyak orang dan takut kepadaku" jawab Miao Yi dengan terus terang, blak-blakan.
Zhi Er memandang Miao Yi penuh arti dan tersenyum lebar," Wah.... kalau kau berhasil menjadi seorang permaisuri kau tidak boleh melupakan diriku... sahabat baikmu juga saudara dekatmu"
Miao Yi terkekeh, " Aku akan membuatmu berlutut dihadapanku, Lu Zhi......"
serunya diiringi senyum yang mengandung misteri tersembunyi yang tidak di sadari Zhi er,
"Kalau kau ingin menikahi pria seperti apa?" Tanya Miao Yi kembali.
Zhi Er memegang dagunya sejenak dengan tangan kirinya berpikir sesaat," Tentu saja Aku ingin menikah dengan pria pilihanku sendiri.,.."
"Kalau aku berhasil menjadi seorang permaisuri aku akan mengeluarkan titah untuk menikahkanmu dengan seseorang yang bukan pilihanmu" timpal Miao Yi dengan cepat, memberikan tatapan yang sebetulnya sulit diartikan hanya saja Zhi Er merasa Miao Yi hanya ingin bercanda saja.
Zhi Er mencubit lengan Miao Yi dengan gemas,"Kau menyebalkan!!!!"
"Hei... nona manis"
Tiba-tiba terdengar suara pria yang menginterupsi mereka berdua dan sontak membuat Miao Yi dan Zhi Er terkejut.
Lalu muuncul lagi pria lain sedang mabuk dan hendak menganggu mereka.
"Mau apa kau? Menjauhlaaah" bentak Zhi Er memasang wajah garang.
Sementara Miao Yi dengan cepat bersembunyi dibelakang Zhi Er yang lebih pemberani untuk menghadapi dua pria berandalan itu.
"Nona... kau begitu cantik, ayo ikut kami dan bersenang-senang" ujar salah satu pria yang tubuhnya tambun mendekat ke arah Zhi Er.
Salah satu dari mereka hendak memegang Miao Yi tapi dengan cepat di tangkis oleh tangan Zhi Er yang gesit.
"Ku bilang jauhi kami... bedebah" teriak Zhi Er kembali berniat mengusir kedua pria itu, kedua matanya menajam sempurna dan rahangnya mengeras.
Salah satu pria yang postur tubuhnya lebih kurus mengeluarkan sebilah pisau mengancam Zhi Er, " Nona sebaiknya kau menurut pada kami atau kalau tidak aku akan melukaimu" cetusnya sembari menghunuskan pisau kepada Zhi er sehingga membuat Zhi er menggerakkan matanya fokus pada pisau tajam itu.
Zhi er menggertakkan gigi lalu menatap pria itu dengan marah.
Miao Yi sontak panik, "Bagaimana ini Zhi Er?" ujarnya seraya menarik baju Zhi Er yang berdiri dihadapannya. Wajahnya memucat seketika, tangannya gemetaran dan napasnya menderu-deru kencang.
Beda dengan Zhi Er yang jauh lebih bernyali, lebih pemberani tidak takut menghadapi mereka karena dirinya mengerti ilmu kungfu biarpun hanya sedikit namun Zhi er merasa yakin bisa mengalahkan kedua berandalan itu, apalagi mereka sedang teler.
Seketika Dengan tangannya yang lincah dan gesit Zhi Er mencoba merebut pisau yang dipegang pria yang lebih kurus itu. Jurus penangkis di layangkan oleh tangan kanannya yang bergerak dengan sangat cekatan, sementara tangan kirinya melumpuhkan tangan kiri pria kurus itu dengan menarik dan melipatkan ke punggungnya.
Dengan sekejap mata berhasil merebut dan membuang pisau itu jauh-jauh hingga jatuh terpelanting entah kemana rimbanya.
Lalu Zhi er mengeluarkan jurus, mendorong tubuh pria itu hingga terhempas jatuh ke tanah dengan kencang tanpa mempunyai kesempatan untuk melawan,
"Rasakan kau!!! Masih berani maju???" Cetus Zhi er menantang diiringi senyum penuh kemenangan,
Pria kurus itu mendengus kesal, lalu mencoba bangkit, menatap penuh amarah terhadap Zhi er. Tanpa babibu kembali pria itu berlari mendekat menyerang Zhi er.
Seketika pertarungan terjadi, Zhi Er kembali mengandalkan kungfu yang dikuasainya menepis semua jurus serangan, berusaha untuk melumpuhkan pria berandalan itu. Berkat ilmu bela dirinya, pria kurus itu di pukul mundur dengan tendangan kakinya bertubi-tubi hingga membuat pria itu meringis kesakitan.
"Kurang ajar......,"
Umpat pria kurus itu saat dirinya kewalahan dan hanya berdiri sambil mengelus perutnya yang ditendang itu.
Zhi er berdecih dan tersenyum miring, "Kau kira aku mudah di tindas??? Akan ku patahkan lehermu kalau kau masih tidak mau enyah dari hadapanku" seru Zhi er sembari masih dalam posisi kuda-kuda, bersiap memukul kalau saja pria itu masih nekad.
Pria berpostur tambun yang sedari tadi hanya diam memperhatikan dengan penuh antisipasi, menggertakkan gigi, mendengus kesal lalu maju menghampiri pria kurus yang sedang meringis kesakitan, "Kita maju bersama-sama bung..... Kita keroyok dia hahahahahahha" ucapnya seraya memandang Zhi er dengan tatapan ala binatang buas lalu tertawa tidak jelas.
Zhi er langsung mundur beberapa langkah karena sedikit panik melihat tingkah berandalan yang menggila seakan kehilangan kewarasan.
"Hati-hati, Zhi er.... Jangan sampai mereka menyakitimu" seru Miao Yi yang bersembunyi di balik sebuah pohon kecil yang berada tidak jauh. Miao Yi yang hanya diam mematung tidak bisa berbuat apa-apa karena dirinya sama sekali tidak menguasai ilmu bela diri seperti Zhi er. Sesaat Miao Yi baru mengerti pendapat Zhi er yang mengatakan perempuan memang harus mempelajari ilmu bela diri untuk mempertahankan diri kalau ada yang hendak menindas. Miao Yi menggigit bibir bawahnya mengingat ucapan Zhi er itu.
"Ayo kita lumpuhkan dia"
Sahut pria kurus itu diiringi dengan menyeringai penuh kelicikan lalu menarik kedua alisnya saling melirik satu sama lain dengan pria tambun itu.
Tanpa babibu kedua berandalan itu pun menyerang Zhi er dengan kekuatan penuh dari kiri kanan sementara Zhi er mengeluarkan segala jurus yang dipelajarinya untuk menangkis dan melawan kedua pria berandalan itu yang kompak menyerang, membuatnya dalam seketika mulai kewalahan dan posisinya di pepet mundur, sedikit demi sedikit langkahnya mendekat pada bibir bukit tanpa Zhi er sadari karena saking sibuknya menangkis segala serangan yang dialamatkan kepadanya.
Perhatian matany tersita habis tanpa bisa lagi menengok sekeliling atau meleng sedikit, Zhi er bisa celaka terkena jurus mematikan dari kedua pria yang menyerangnya dengan kekuatan bak seekor banteng mengamuk.
"Bedebah kalian"
Bentak Zhi er sesaat karena merasa marah di serang bersama-sama oleh kedua pria itu. Kedua tangannya terus dengan gesit mengeluarkan jurus ilmu kungfu untuk mempertahankan diri.
Miao Yi yang di terpa rasa takut, panik dan cemas itu melihat langkah kaki Zhi Er semakin memundur membulatkan kedua matanya, dirinya tercekat dja kelimpungan tidak tahu harus bagaimana?!?
Kehabisan ide, Miao Yi mengambil langkah seribu mendekat, hendak berusaha ikut membantu Zhi Er melawan mereka.
Miao Yi mengepalkan kedua tangannya memberanikan diri hendak menonjok pria tambun itu dari belakang biarpun dirinya sendiri gugup bukan main.
Saat langkahnya sudah mendekat, belum apa-apa dengan satu tendangan dari salah satu pria itu membuat Miao Yi terlempar jauh dan tubuhnya terlempas ke atas bebatuan yang ada disudut bukit itu,
Spontan Zhi Er tersentak melihat Miao Yi di serang, fokus matanya teralihkan dan membuat pria tambun yang bertarung dengannya mendapat kesempatan menyerangnya, " Mati kau!!!!" Teriaknya saat menjulurkan kaki kekarnya menendang perut Zhi Er dan membuatnya seketika terlempar dari bukit.
"Aaaaaaarghhhhhhhh"
Teriak Zhi Er sembari membelalakkan kedua matanya saat menyadari dirinya terhempas dari atas bukit. Tak menyerah, Zhi er mengayun-ayunkan kakinya ke depan untuk menginjak bibir bukit namun kakinya tidak kuasa untuk menggapai sedikit pun.
Tidak ada yang bisa dilakukan lagi untuk menyelamatkan diri. Hanya pasrah menatap lurus menanti tubuhnya jatuh ke dasar dan mati mengenaskan.
Seketika Zhi er di selimuti ketakutan luar biasa, tidak menyangka dirinya akan mati dengan cara sedemikian rupa.
"Miao Yi........." teriaknya sesaat tubuhnya sudah melayang semakin terjatuh di udara dan tangannya dijulurkan berusaha menggapai sesuatu untuk dipegangnya, namun kekuatan gravitasi membuatnya semakin cepat tertarik ke bawah hingga semakin dalam menerpa jurang.
Miao Yi yang sudah terkapar tidak sama sekali bisa bergeming, hanya melihat dengan pasrah Zhi Er jatuh dan memanggilnya dengan suaranya yang sudah lemas "Zhi er.......,,,,,,..........."
Dan lalu pingsan.
----@&$)$$$$$))()$$&($$&&
Zhi Er membuka matanya sesaat setelah sadar, dan menyadari dirinya bergelantungan di rotan panjang menjulur dengan berantakan di dasar bukit.
"Apa aku sudah mati? Apa ini surga?" Gumamnya
Matanya menatap sekeliling mencoba mencari tahu tempat apakah itu, dan kemudian Zhi er mencoba mencubit pipinya sendiri.
Merasakan sakit saat mencubit, Zhi er tersenyum tak percaya dirinya masih hidup.
"Aku belum mati..... aku masih hidup"
Tubuhnya yang terhempas dari atas bukit beberapa jam lalu terlilit di tanaman rotan yang jumlahnya banyak sekali hingga menjadi satu kesatuan yang akhirnya menyelamatkan seorang Lu Zhi.
Butuh perjuangan untuk melepaskan diri dari tanaman rotan yang melilitnya sampai akhirnya Zhi er berhasil melompat ke tanah.
Dilihatnya pergelangan tangan kirinya lecet sedikit berdarah dan keningnya juga lecet sedikit, dan rambutnya sudah antah berantah, acak-acakan. Pakaiannya pun sudah kusut tak berbentuk.
Menyadari tempat tersebut agak terpencil sehingga tidak mungkin ada yang bisa menolongnya, Zhi Er berjalan melangkah pergi tanpa tujuan dengan perasaan tak karuan karena Miao Yi masih berada di atas bukit sana. Terus saja Zhi er melangkah tak terarah, mengambil arah lurus sembari celingak celinguk melihat ke sekeliling dengan tatapan bingung, sendu merasa dirinya terdampar dan tersesat sendirian.
Langkah kakinya yang gesit itu tak sadar telah membawa Zhi Er ke suatu tempat yang terlihat seperti perkebunan yang tak terurus.
Zhi Er memandang sekeliling dan sejauh matanya menatap hanya ada rerumputan yang panjang menjulang,
"Miao Yi.... Kau dimana?" seru Zhi Er berharap dapat menemukan Miao Yi segera karena tempat yang kini dipijaknya begitu sepi.
Tak ingin berdiam diri, Zhi Er terus melangkah menyusuri tempat itu, saking penasarannya ingin mengetahui lebih banyak tentang daerah itu.
Dengan hati-hati Zhi Er melangkahkan kaki jenjangnya dan menyeret han fu nya yang sudah berantakan tanpa merasakan beban padahal han fu itu begitu panjang dan terdiri dari beberapa lapis kain.
Sesekali ekor han fu itu tersangkut di antara ranting rumput yang liar membuat Zhi er sedikit kewalahan lalu memiilih untuk mengangkat ekornya dengan kedua tangan.
Dirinya kemudian mencapai sebuah tempat yang terlihat seperti barak tentara militer, karena merasa ingin tahu lebih lanjut dengan tempat yang tak pernah dilihatnya Zhi Er terus melangkahkan kakinya setengah menyelinap mendekat ke barak tsb.
Lalu dengan hati-hati mendongakkan kepalanya melihat apa yang ada dihadapannya di balik rerumputan panjang.
Dilihatnya dua orang pria kekar yang mengenakan pakaian dengan jubah yang menunjukkan kedua pria itu sepertinya adalah panglima perang.
Kedua pria itu duduk sedang merembukkan sesuatu dengan serius dengan segerombolan tentara yang berbaris rapi di sekelilingnya.
Zhi Er semakin penasaran siapakah sebenarnya mereka? Mengapa mereka seperti sedang bersiaga untuk berperang?
Apa jangan-jangan mereka adalah panglima perang dari kerajaan kecil yang selama ini menggencarkan serangan kepada Kerajaan Dinasti Qin?
Dalam sesaat, Kepala Zhi Er dipenuhi teka-teki tsb sembari mencuri pandang dengan penuh minat.
Tanpa Zhi Er sadari seekor ular liar tengah bergerak menuju ke arahnya, siap menggigit seorang Lu Zhi yang tengah sibuk mengintip di balik rerumputan panjang tak terawat itu.
"Ssssssssssssssss"
"Sssssssssssss"
Zhi Er yang sedang memfokuskan perhatiannya menatap lurus ke depan tiba-tiba merasa ada suara desis yang menuju ke arahnya.
Jantungnya berdebar kencang menebak apa itu suara desis ular? Zhi Er tetap berusaha tenang meskipun rasa cemas dan panik mengerubuti pelan-pelan.
"Sssssssssssssss"
Suara desis kembali terdengar di telinganya dan membuatnya panik, dan perlahan-lahan Zhi er menoleh dan seketika berteriak saat menyadari seekor ular berukuran besar sedang mendekatinya, ular itu bahkan sudah menggeliat sampai ekor han fu-nya yang berada di tanah......
"Aaaaaaaaaaaah.......toloooong"
Karena tersentak, Zhi Er berteriak kencang merasakan paniknya melihat ular itu.
"Siapa itu?"
Sebuah suara pria terdengar bergema menyadari ada seseorang dibalik rerumputan yang berteriak minta tolong.
Dengan secepat kilat, pria itu berlari ke arah rerumputan dan terus mendekat hingga akhirnya menemukan seorang gadis muda yang cantik yang tak lain adalah Zhi Er yang sedang panik menghadapi seekor ular yang sedang ingin menyerangnya.
Refleks Pria kekar tinggi menjulang itu meraih pedang yang menempel di jubahnya menghunus, lalu menusuk dan memelintirkan pedangnya ke badan ular itu dan dengan seketika ular itu bernasip naas di mata pedang tajamnya. Lalu pria itu melemparkan ular tsb ke tanah dengan kasar.
Zhi Er dibuat kaget setengah mati menyadari ular itu terpenggal menjadi beberapa bagian dan masih menggeliat di tanah.
Pria itu adalah Xiang Yu, seorang panglima perang dari Kerajaan Chu
"Siapa kau?" tanyanya dengan suara datar menatap Zhi Er yang tengah terduduk dengan penuh ketakutan dimatanya sembari memegang pedangnya yang sudah di luruskan.
Mata Zhi Er melotot memperhatikan pria itu, dilihatnya pria itu gagah perkasa, tampan dan sangat berwibawa..... seketika membuat Zhi Er terpana. Kedua mata sipitnya serasa tersihir untuk menatapnya dengan penuh penasaran hingga membuat Zhi er mematung dengan bibir kelu.
Merasa tidak mendapatkan jawaban dari seorang gadis yang sedang mempelototinya, Xiang Yu menajamkan matanya, "Aku bertanya padamu, siapa kau, Nona? Dan sedang apa kau disini?" tanyanya dengan suara dingin dan lebih datar.
Zhi Er yang sedari tadi menatap penuh minat terhadap Xiang Yu menjahit mulutnya, membungkam seribu bahasa, kedua tangannya menggenggam erat pinggiran han fu-nya. Dirinya grogi dan gugup.
"Apa kau bisu dan tuli? Hah???"
Suara Xiang Yu meninggi seketika merasa dirinya diacuhkan oleh gadis cantik yang penampilannya agak kacau itu.
Seketika suara Sang Panglima membuyarkan gadis bernama lengkap Lü Zhi itu dari lamunannya, tercekat menelan ludahnya mendengar bentakan pria kekar nan gagah perkasa kepadanya, "Aku tersesat, Tuan. Tadinya aku bersama saudaraku berada di atas bukit lalu kami di serang orang tak di kenal dan aku terjatuh lalu aku berjalan tanpa arah dan langkahku membawaku kemari...." jelas Zhi Er dengan suara pparau, tatapannya sendu dan pilu. Kedua fokus matanya tidak lagi berani menatap Xiang Yu yang garang itu. Grogi..... Gugup dan takut.
Xiang Yu menatap sejenak wajah gadis muda yang berada di hadapannya, dilihatnya seorang perempuan yang sangat cantik, bibirnya tipis, matanya bulat dan sipit tapi kening dan pergelangan tangannya terluka. Xiang Yu pun terkesima dengan kecantikannya, memandang dengan penuh rasa ingin tahu.
"Siapa namamu?" tanya Sang Panglima dengan mimik muka penasaran.
Zhi Er yang masih dalam posisi duduk kembali menatap Xiang Yu yang juga menatapnya dengan tatapan penuh arti, sama-sama saling memperhatikan dengan seksama sosok yang kini sedang berada dihadapan masing-masing, " Namaku Lu Zhi, Tuan. Saya berasal dari kota Shanfu"
"Benarkah? Kau bukan mata-mata dari Kaisar Qin?" "tanya Xiang Yu dengan nadanya yang rendah dan seketika dibalas gelengan kepala oleh Zhi Er yang bingung mengapa pria itu malah mengiranya seorang mata-mata? Seketika Zhi er merasa gusar dan dongkol.
"Apa aku terlihat seperti seorang mata-mata? Mana ada mata-mata secantik diriku? Kau buta ya?" Zhi er tidak terima disebut mata-mata dan refleks membela diri dengan suara yang meninggi.
Mendengarkan gadis dihadapannya lancang padanya, Xiang Yu menatapnya dengan tatapannya yang mulai tajam mengintimidasi, mencoba untuk percaya apakah gadis itu tidak berbohong? Dari kota sampai ke sana butuh waktu hampir seharian dan bagaimana ceritanya dia bisa tersesat sampai ke sebuah barak tentara yang tak seharusnya dikunjungi seorang perempuan. Kalau bukan mata-mata trus apa lagi? Bidadari yang lupa jalan pulang atau siluman rubah yang sedang dikejar para pemburu siluman?
Tatapannya itu membuat Zhi Er mematung membeku tak berani bergerak, bergidik ngeri kalau-kalau pria gagah perkasa itu akan menghunuskan pedangnya pada dirinya atau melemparnya ke udara lalu menyambutnya dengan jurus kungfu yang bisa membuatnya tewas seketika. Napasnya menderu memikirkan semua itu.
Zhi er merutuki dirinya sendiri karena merasa dengan lancang meninggkan suaranya.
"Hei.... ada apa?"
Sebuah suara rendah menginterupsi dan mencairkan suasana.
Itu adalah Liu Bang, rekan Xiang Yu yang juga sama-sama menjabat sebagai panglima tertinggi militer Kerajaan Chu.
Liu Bang yang muncul dari balik punggung Xiang Yu seketika melongo, mengerutkan keningnya dalam-dalam melihat seorang gadis cantik sedang dalam posisi duduk menatap Xiang Yu dengan tatapan penuh ketakutan dan memancarkan kengerian sedangkan Xiang Yu menatapnya dengan mata yang memicing tajam dan terlihat garang.
"Siapa gadis cantik ini? Mengapa dia terlihat berantakan, da ge?" tanya Liu Bang penasaran seraya terus memperhatikan Zhi Er dengan intens lalu menelengkan mata ke arah Xiang Yu hendak mencari jawaban.
Xiang Yu melirik Liu Bang, "Dia bilang dia tersesat hingga kemari tapi mengapa aku jadi berpikir kalau dia adalah seorang mata-mata dari Kaisar Qin?"
Ucapan Xiang Yu membuat Liu Bang kembali memperhatikan Zhi Er yang sedang ketakutan itu. Panglima Liu itu menebar senyum tipis menyadari sosok gadis itu begitu cantik menawan.
Liu Bang pun memfokuskan kedua matanya dengan seksama memandang Zhi er yang kebingungan menatap dengan cengo. Insting Liu Bang menangkap bahwa gadis itu tidak memiliki niat jahat atau apapun itu.
"Ku rasa tidak mungkin dia seorang mata-mata. Lihat lah dia terluka" ujar Liu Bang membela.
Belum sempat Xiang Yu menimpali,
"Ayo Nona bangun dulu"
Liu Bang melangkah mendekat kepada Zhi Er dan membantunya untuk bangkit dengan memegang lengan kanannya.
Perhatian Zhi Er beralih kepada Liu Bang yang juga sama gagah perkasanya dengan pria galak di sampingnya,
"Siapa kalian?" Tanya Zhi Er dengan blak-blakan sesaat sudah bangkit dan berdiri di samping Liu Bang.
Seketika Liu Bang dan Xiang Yu saling melirik mendengar pertanyaan Zhi Er.
Liu Bang terkekeh lalu kembali menatap Zhi er, " "Kami adalah orang yang sebentar lagi akan menumbangkan Kaisar Qin Er Huang yang bodoh itu dan mendirikan sebuah dinasti baru" jelas Liu Bang dengan penuh percaya diri.
Sontak Zhi Er melototkan matanya, "Kalian adalah panglima perang?" Tanya Zhi Er seraya menutup mulutnya tidak percaya kalau dirinya bertemu dengan dua sosok panglima perang gagah. Mimpi apa ini?
Dari kecil dirinya sering mengagumi pria-pria dari kalangan militer tetapi tidak pernah terbayangkan olehnya kini dirinya berjodoh untuk bertemu dengan panglima perang yang tampan, gagah dan berwibawa sperti dua lelaki dihadapannya itu.
"Apa kau tidak mengenal kami sama sekali? Ku kira nama kami berdua sudah cukup terkenal sampai di Kerajaan Qin." tanya Liu Bang kembali seraya mengerutkan dahi.
Berpikir sesaat, Zhi er mencoba menebak tetapi dirinya terlalu penasaran untuk berpikir lagi, "Memang kalian siapa?" Zhi Er bertanya dengan penuh minat tanpa melepas tatapan sedikit pun. Matanya bergerak memandang Xiang Yu dan Liu Bang bergantian.
Liu Bang tersenyum lebar, sementara Xiang Yu yang pelit bicara hanya diam saja memamerkan ekspresi datar dan dingin sama sekali tidak berminat untuk banyak bicara, " Aku Liu Bang dan dia Xiang Yu, kami adalah Panglima perang dari Kerajaan Chu......." cetus Panglima Liu.
Zhi er menjadi semakin terkesima dan menatap kedua pria kekar itu dengan tatapan penuh kagum dan merasakan pesona yang terpencar dari penampilan mereka....... Sepasang mata indah yang sipit memandang Liu Bang yang hangat dan setia memamerkan senyum lebar itu membuat Zhi er terpikat dalam seketika.
Lalu Zhi er giliran menggerakkan matanya memandang Xiang Yu, pria kekar tinggi menjulang itu terlihat dingin dan cuek sekali. Zhi er menebar senyum tipis memperhatikannya, merasa hatinya langsung terusik dengan sosok itu.
"Ayo nona lukamu harus di obati dulu. Ikutlah denganku...." Liu Bang kembali mendekat pada Zhi Er, meraih tangannya memapahnya pergi meninggalkan Xiang Yu yang terus menatap penuh intimidasi terhadap Zhi Er. Entah apa yang ada di isi kepala Panglima Xiang itu.
Zhi Er yang menurut dipapah pergi oleh Liu Bang terus menoleh ke belakang menatap sosok Xiang Yu yang menarik perhatiannya sementara Xiang Yu hanya menatap lurus tanpa memperdulikan Zhi er.
Sedangkan Sang Panglima Liu menelengkan kepala, menatap dengan senyuman yang tak kunjung diredupkan dari wajah tampannya memapah Zhi er untuk berjalan mendekat pada barak militer.
Liu Bang memperhatikan dari samping dengan posisi yang berjalan berdampingan merasa terpukau memandang lekuk wajah gadis itu. "Oh Dewa.....dia terlihat begitu cantik.... begitu menarik perhatian"
Sesaat Zhi er menelengkan kepala menatap Liu Bang dan tersenyum tipis, "Terima kasih, Tuan kau mau membantuku......" ucapnya dengan hangat.
Senyum lebar pun merekah di wajah Sang Panglima Liu, "Tidak perlu sungkan......" sahutnya.
Pelan-pelan Liu Bang memapah Zhi er sampai memasuki area barak militer dengan terus saja mengambil kesempatan untuk menatapnya.
Liu Bang merasa dalam seketika gadis cantik menawan itu membuat hatinya berasa hangat dan tergugah.
**********************************************