Related

By kameels

236 3 0

Adek gue banyak yang naksir, jir. - Raka Skip. Lah, temen kakak gue kok cogan semua? - Rania Skip. Gue bakala... More

01

34 3 0
By kameels

My second story🙋
Ceritanya ada yang bakalan aku privat ye, jadi jgn lupa buat follow dulu. Eheh
Jangan lupa voment yop!
Happy reading, and big love from kameels

Oya, satu lg, ini genre nya beda bgt sama ceritaku yg awal eheh, entah lah mood-ku pen gitu aja bawaannya :D

Well, semoga suka.. jgn lupa tinggalkan love and comment ya gaes.. tengkyuuu❤

______

Rania side's.

Setelah perjalanan jauh yang cukup panjang, akhirnya aku sampai di depan rumah. Dengan cepat kakiku melangkah dan membuka pintu rumah.

"Gue pulaaang." Ucapku setengah berteriak sambil nyengir lebar.

Eh? - Rania

Aku langsung tertegun saat melihat beberapa lelaki tampan tengah menghentikan aktivitasnya dan menatapku aneh. Aku mengerutkan kening dan menggaruk kepalaku pelan.

Gue gak salah alamat, kan? - Rania

Kakiku mundur beberapa langkah dan melihat bentuk rumah yang sudah lama tidak aku kunjungi. Aku benar-benar merasa yakin bahwa ini adalah rumahku. Tapi, mereka siapa?

"Ran, udah sampe?" Tanya seseorang sambil berjalan mendekati. Aku mengerutkan kening dan mendapati kak Raka tengah tersenyum miring padaku.

Itu kakak gue, kan? - Rania

"Eh malah melongo." Ucap kak Raka kemudian. Aku langsung nyengir lebar dan memanyunkan bibirku pelan tengah berpikir. "Gak mau masuk?" Tanya kak Raka lagi.

Aku nyengir lagi dan bergegas masuk kedalam rumah.

"Barang-barang Lo mana, Ran?" Tanya kak Raka di ambang pintu. Aku menoleh dan mengatakan bahwa barang-barang ku akan dikirim melalui jasa pengiriman barang.

Aku menghempaskan diri di atas sofa depan televisi. Beberapa lelaki yang tadi menatapku aneh langsung kembali melanjutkan aktivitasnya di ruang tamu.

Ah, rasanya rindu sekali dengan rumah ini. Semenjak SMP, aku harus dengan rela meninggalkan rumah kesayangan ini karena memilih untuk boarding school.

Dan kini, saat aku menginjak SMA, Mama mengijinkan ku untuk bersekolah di sekolah umum seperti anak lainnya. Aku sungguh-sungguh penasaran dengan kehidupan masa SMA itu seperti apa, Kata orang sih sungguh menyenangkan.

"Ka, dimana sih stik PS yang Lo bilang?" Tanya seseorang dari belakangku. Aku mengerutkan kening dan membalikkan badanku menatapnya.

Wih, ganteng anjir. - Rania

"Eh?" Orang itu menatapku kaget lalu tersenyum manis. "Si Raka mana?" Tanyanya kemudian.

Aku menggaruk leherku yang gatal tiba-tiba dan mengatakan bahwa kak Raka sepertinya ada di kamar. Orang itu mengangguk mengerti, menatapku sekilas sambil tersenyum dan bergegas menuju kamar kak Raka.

Tanganku bergerak mengambil remote dan menyalakan televisi. Aku merebahkan diri di atas sofa dengan menjadikan tangan kiriku sebagai bantalan.

"Ka, gue numpang ke wc." Teriak seseorang lagi yang membuatku langsung terduduk dan menoleh ke asal suara.

Ganteng gila. - Rania

Orang itu tersenyum padaku dan bergegas menuju kamar mandi yang berada tak jauh dari tempatku berada.

Temen-temen kak Raka ganteng-ganteng anjir. - Rania

Kakiku kini melangkah menuju kamar, rasanya tidak enak rebahan di sofa dengan lelaki yang terus berlalu-lalang melewatiku.

Aku merebahkan diri di atas kasur dan menatap langit-langit kamar yang berwarna putih polos. Senang sekali bisa pulang ke rumah!

"Rania! Rania!" Panggil kak Raka dari ruang tamu. Aku yang sedang bersantai seperti ini dengan malas bergegas turun ke ruang tamu.

Malu ih banyak cowok ganteng. - Rania

Pipiku merah dengan sendirinya saat aku menghampiri kak Raka yang tengah berkumpul bersama teman-temannya yang sangat tampan itu. Aku menatap kak Raka yang menyuruhku untuk segera duduk disampingnya.

"Lo masih inget sama dia, gak?" Tanya kak Raka pada teman-temannya. Mataku mengabsen satu-persatu teman kak Raka yang tengah duduk acak di ruang tamu.

Asli ganteng-ganteng semua! - Rania

"Adek Lo, kan?" Tanya seseorang yang tadi berteriak untuk menumpang ke kamar mandi.

Kak Raka mengangguk dan menatapku sekilas. "Lo inget mereka, gak?" Tanya kak Raka padaku. Aku mengerutkan kening dan menggeleng pelan karena tidak kenal dengan mereka.

Kak Raka tertawa renyah dan mengenalkan teman-temannya dari ujung kiri menuju ujung kanan.

"Yang pake baju merah itu si Ilham." Ucap kak Raka menunjuk seorang lelaki yang tadi sempat menanyakan keberadaan kak Raka saat aku sedang duduk di sofa.

"Itu si Adam." Ucap kak Raka sambil menunjuk seorang lelaki yang memakai baju denim polos. Aku mengangguk dan mengingat ia yang tadi menumpang ke kamar mandi.

"Itu si Fahri, nah itu si Bohay." Ucap kakakku dan menarik napas pelan saat selesai menyebut mereka satu persatu.

"Enak aja, gue Boy. Bukan Bohay." Ucap Boy sambil bersungut-sungut pada kak Raka. Kak Raka tertawa renyah dan mengedikkan bahu menatapku sekilas.

"Namanya boy, Ran. Tapi Lo bisa panggil dia Bohay." Ucap kak Raka sambil menyeringai jahil pada Boy. Aku ikut tertawa kecil dan langsung menutup mulutku karena melihat tatapan Boy yang kesal pada kak Raka.

"Ran, jangan panggil gue Bohay, ya. Kecuali kalo Lo mau gue bikin jadi Bohay." Ucap Boy sambil menyeringai jahil padaku dan kak Raka. Aku menatap Boy sedikit jengah dan kak Raka malah menatap Boy dengan kesal.

"Eh awas Lo berani sama adek gue." Ucap kak Raka sambil menatap Boy dan melemparkan botol air mineral kosong padanya.

"Adek Lo cantik juga, Ka." Ucap Adam sambil nyengir dan mengerling jahil padaku. Kak Raka memanyunkan mulutnya dan melemparkan botol air mineral kosong pada Adam.

"Awas Lo macem-macem sama adek gue." Ucap kak Raka galak yang dibalas dengan seringaian kecil dari Adam. Aku menatap mereka berdua merasa lucu.

Mataku melirik pada Ilham yang tengah memainkan handphonenya tanpa berniat mengikuti obrolan kami.

"Yah, Lo inget mereka, kan? Temen SD gue." Ucap kak Raka sambil menatapku sekilas.

Aku mengerutkan kening dan menatap teman kak Raka satu persatu.

Eh? - Rania

"Temen kakak yang nyebelin itu?" Tanyaku dengan spontan dan kaget pada kak Raka. Kak Raka sedikit mengernyitkan kening dan kemudian mengangguk mengiyakan.

Kok bisa? - Rania

Kok bisa mereka jadi ganteng-ganteng gini? - Rania

Anjir, mimpi apa gue semalem bisa ketemu cogan-cogan kayak begini? - Rania

"Iya mereka." Jawab kak Raka sambil membuka tutup botol mineral yang berisi separuh. Ia menenggaknya dan menghela napas pelan.

"Lo balik lagi aja kesana. Nanti malah digodain sama temen gue." Titah kak Raka menyuruhku pergi. Meskipun aku merasa berat hati karena disuruh pergi meninggalkan pemandangan yang tidak membosankan ini, akhirnya aku memilih untuk bergegas menuju kamar. Toh aku tidak punya alasan untuk berdiam diri disana.

***

Author side's.

Raka dan keempat temannya tengah mengobrol ria saat Boy nyeletuk tentang Rania.

"Ka, adek Lo cantik dah. Buat gue boleh kali?" Tanya Boy sambil nyengir kuda.

Raka melemparkan botol yang berisi setengah pada Boy dan menatapnya galak. "Gak boleh, enak aja!"

"Yeh, buat gue aja. Ya gak, Ka?" Tanya Adam sambil mengerling pada Raka.

"Nggak. Gak boleh." Jawab Raka sambil menggeleng-gelengkan kepalanya cepat.

"Lo kan ada si Indira, Dam." Ucap Fahri sambil membuka bungkus camilan.

"Taubat Lo taubat." Ilham ikut menimpali tanpa mengalihkan pandangannya dari layar handphone.

Adam memanyunkan mulutnya dan mengambil camilan dari pangkuan Fahri. "Adek Lo beneran cantik, Ka. Seriusan buat gue aja lah." Ucap Adam sambil memasukkan makanan kedalam mulutnya.

"Eh Lo, disuruh taubat malah gak nyadar." Kali ini Boy yang menimpali.

Adam menoleh pada Boy dan menatapnya kesal. "Boy, cewek itu diadakan untuk menjadi pemuas cowok. Jadi, kita puas-puasin aja sepuasnya." Jawab Adam tak tahu diri.

"Ah Lo, Dam. Insaf Lo, udah karma baru aja kerasa." Ucap Boy lagi sambil fokus memainkan PES di layar laptop milik Raka.

"Nanti lah gue insafnya, kalo cewek udah musnah." Jawab Adam asal sambil terkekeh geli sendiri. Raka menatapnya sangsi dan mendengus pelan.

"Lah Lo, Dam. Kapan benernya kalo gitu mah." Ucap Fahri sambil mendengus pelan.

"Taubat, Dam." Ucap Ilham lagi.

"Iya-iya gue taubat." Ucap Adam sambil memanyunkan mulutnya sebal.

"Nanti tapi," tambah Adam sambil nyengir lebar.

Raka mengambil bantalan kursi dan melemparkannya pada Adam.

"Terkutuk Lo dasar!" Teriak Raka dengan sebal. Adam hanya nyengir lebar dan memilih untuk pindah duduk mendekati Boy.

"Eh, Ka?" Panggil Adam kemudian pada Raka. Raka menoleh dan menatap Adam dengan ekspresi 'apa' padanya.

"Minta nomor cewek." Jawab Adam sambil nyengir lebar.

"Dasar bocah lawak!" Kali ini Fahri yang melempar Adam dengan camilan yang tengah ia makan.

***

Rania side's.

Setelah tertidur beberapa lama, aku bergegas turun menuju dapur. Perutku keroncongan minta jatah untuk segera diisi. Mataku menoleh pada ruang tamu yang sudah sepi. Sepertinya teman kak Raka sudah pulang.

"Nyari siapa Lo?" Tanya kak Raka yang baru saja keluar dari kamar mandi. Aku menatapnya sekilas dan membuka pintu kulkas.

"Nggak." Jawabku sambil menghela napas saat melihat isi kulkas yang kosong melompong. Mataku menoleh pada kak Raka yang belum bergerak dari depan kamar mandi.

Kak Raka menatapku dengan ekspresi 'apa' yang sangat kentara di wajahnya.

"Lapar kak." Ucapku sambil mengelus perut dan memasang ekspresi menyedihkan.

"Ya makan." Jawab kak Raka acuh sambil berjalan menuju kamarnya. Aku memanyunkan bibirku sebal dan memilih untuk beranjak menuju kamar.

Sutet anjir. - Rania

Aku kembali merebahkan diri dan menghela napas pelan. Kasihan sekali perutku.

Terdengar bunyi handphoneku bergetar, aku bergerak mengambil handphone dan mendapati nomor asing tengah mengirimiku pesan.

<Hai Raniaaa>

Aku mengerutkan kening dan menggaruk kepalaku yang tidak gatal.

Siapa, ya? - Rania

Belum juga aku membalas pesannya. Ternyata orang yang mengirimkan pesan terlebih dahulu mengenalkan siapa dirinya.

<Gue Adam>

Adam temen kakak gue? - Rania

<Temen kakak Lo>

Adam kembali mengirim pesan tanpa sempat dibalas olehku. Aku langsung menutup mulut tertahan dan menepuk-nepuk pipiku gemas.

Demi apa gue di chat cogan kayak Adam? - Rania

Aku berjingkrak-jingkrak bahagia dari dalam hati. Tanganku bergerak mengetik beberapa kalimat untuk membalas pesannya.

<Oh hai kak Adam. Dapat nomorku dari mana?>

Ah tidak, tidak! - Rania

Aku langsung menghapus pesan dan kembali memikirkan ulang untuk membalas pesan dari Adam. Aku harus terlihat jaim dan manis.

Tanganku kembali menyentuh papan tombol qwerty di layar handphone.

<Oke kak Adam.>

Ah, tidak, tidak! - Rania

Aku lagi-lagi menggelengkan kepala dan menghapus ketikan pesan yang akan dikirimkan pada Adam.

Jika aku membalas terlalu singkat, nanti bisa-bisa Adam menganggap ku sebagai perempuan yang jual mahal. Dan bisa saja Adam malah tidak mau menghubungiku lagi.

Kapan lagi coba gue dapet chat dari cowok cogan kayak Adam? - Rania

<Oh kak Adam. Gak nyangka nih di chat sama cogan>

Begitu? - Rania

Ah, tidak, tidak! Kayaknya lebih bagus yang jaim aja! - Rania

Aku berencana menghapus kembali kalimat yang akan ku kirimkan pada Adam saat kak Raka masuk kedalam kamarku dengan tiba-tiba.

"Mau gue beliin apa?" Tanya kak Raka sambil menatapku sekilas. Aku menarik senyum kecil dan memanyunkan bibirku tengah berpikir.

Yeh kakak gue bae juga. - Rania

"Nasi goreng aja deh, kak." Ucapku kemudian. Kak Raka mengangguk dan pergi menghilang dari kamarku.

Aku kembali menatap layar handphone dan terbelalak kaget saat kalimat terakhir yang akan ku hapus malah terkirim pada Adam.

Mampus gue! - Rania

Tak lama terdengar kembali bunyi pesan masuk. Aku memejamkan mata merasa takut dan akhirnya memilih untuk memberanikan membuka pesan.

<Ehehey, ngarep ya di chat sama cogan kayak gue?>

Aku menghela napas pelan dan menutup wajahku dengan kedua tangan.

Malu anjrit. - Rania

***

Adam side's.

Aku yang mencuri nomor Rania dari Raka berpikir dengan keras untuk mendekatinya. Rania sepertinya asik jika kujadikan sebagai teman jalan atau semacamnya.

"Si Rania udah ada anjingnya, Dam." Ucap Ilham yang tengah rebahan menonton film di dalam kamarku. Aku mengernyitkan kening dan menatap Ilham sekilas.

"Si Rania emangnya udah punya pacar?" Tanyaku polos.

"Itu, si Raka, dia anjingnya." Jawab Ilham tak perduli.

Aku mengedikkan bahu dan menatap layar handphone. Bagaimana ya caranya?

"Jangan maen-maen mulu lah, Dam." Ucap Ilham sambil menghela napas pelan membenarkan posisinya jadi duduk. "Apalagi Lo mau deketin si Rania, dia kan adeknya si Raka." Tambah Ilham serius.

Aku mendengus dan menatap Ilham sekilas. "Gue jadiin temen jalan doang, Ham. Lo kaku amat sih." Jawabku sambil mengetik beberapa pesan pada Rania.

"Eh, tapi kok Lo tahu gue mau deketin adek si Raka?" Tanyaku merasa heran.

"Gue udah hapal sikap idiot Lo." Jawab Ilham tanpa menoleh dari layar televisi.

Eh kampret Lo. - Adam

Setelah mengirim beberapa pesan. Tak lama Rania membalas dengan balasan yang tak terduga.

<Oh kak Adam. Gak nyangka nih di chat sama cogan>

Aku langsung terkekeh geli membaca pesannya.

Tanpa diduga Ilham melemparku dengan bantal tepat mengenai kepala. Handphoneku langsung terjatuh ketanah saat bantal itu mengenai ku yang belum ada persiapan.

"Eh setan Lo!" Makiku kesal dan menatapnya galak.

Ilham balas menatapku galak dan beranjak keluar dari kamar.

"Lo yang setan, onta!" Jawabnya sangsi.

______

Ceritanya setan ngatain setan begitchu😒
Jangan lupa vomment egeh,
Terimakasiii

💮 Eonii ahjummaku yang ngsh video asek, hadiah kuliah pertama jah. Thnkyou somuch. Ini untukmu EGEH
You are my penicillium lah

Ehe he he.

Continue Reading

You'll Also Like

5.2K 279 27
Mutiara "Dasar cowok songong,ngeselin,nyebelin,cowok kepedan, gue keselll sama lo Rafa!!" Rafa "Dasar lo cewek judes,gak tau malu,maunya menang terus...
49.5K 3.8K 45
Sumpah ini cerita pertama gw kek alay bet anjir akwkw. Mana banyak salahnya. Tapi sengaja gak unpub, buat kenang2an. Fiksi Remaja & Percintaan denga...
Naufal By tysss_

Teen Fiction

1.4K 148 14
"Lo jahat Pal, kenapa lo suka sama gue? Kenapa Pal?!" tanya Afra teriak. "Rasa cinta tumbuh karna terbiasa, mungkin karna gue udah terbiasa sama lo R...
2.5K 49 6
Well, emang udah takdir gue ngejar para lelaki dingin. "Aku udah cape banget tau ka lari lari mulu. Lari ngejar hati kaka, ngejar cinta kaka, ngejar...
Wattpad App - Unlock exclusive features