Daydream*

By Jucifer4plus

659 72 34

Menjadi transformasi paling berbeda di keluarga bukanlah hal yang mudah bagi Junex. Ayahnya, Antonio adalah p... More

Chapter 01 : Serangan Seribu Beker
Chapter 02 : Kelas Khusus Jack Rose
Chapter 03 : Anomali dan Ketidakadilan
Chapter 04 : Perlawanan "Spontan"
Chapter 05 : Demonstrasi Kaum Bodoh
Chapter 06 : Kelompok Telat
Chapter 07 : My Freak Family
Chapter 08 : Anggota Baru
Chapter 09 : Masa Lalu Sahabat Kecil
Chapter 10 : Ritual Pengakuan Dosa
Chapter 11 : Kemunculan "Daydream"
Chapter 12 : High-Body Program Si Duta Kota
Chapter 13 : Kelas Paling Ribut Sejagat
Chapter 14 : Rahasia Keanu
Chapter 15 : Rahasia Keanu Bag. 2
Chapter 16 : Pentas Olahraga Sekolah
Chapter 17 : Sang Pemenang, Awal Kehancuran
Chapter 18 : Teror Jack Rose
Chapter 19 : Pelaku Teror?
Chapter 21 : Olimpiade Nasional
Chapter 22 : Liburan Keluarga
Chapter 23 : Damn Camp Day
Chapter 24 : Junex dan Keanu
Chapter 25 : Puncak Teror
Chapter 26 : Titik Terang
Chapter 27 : Lawan dan Kawan
Chapter 28 : Real Bandit
Chapter 29 : Road to Test!
Chapter 30 : Grand Final

Chapter 20 : Bersama Sahabat

12 0 0
By Jucifer4plus

Kepala Joe benar-benar akan terbakar setelah melihat keenam pemberontak berjingkat-jingkat masuk gerbang.

"Berhenti!" Suara Joe begitu menggelegar. Kali ini suaranya mampu menyamai suara di balik mikrofon. Keenam siswa itu berhenti.

Joe merepet dan mengumpat sendiri, bahkan saat berjalan menghampiri kelima siswa itu. Ia benar-benar gemas melihat tingkah mereka pagi ini.

"Apa-apaan kalian ini? Apa kalian sadar ini jam berapa? Apa kalian masih merasa pantas masuk kelas?" bentak Joe membabi-buta.

"Pak, aku telat," lapor Junex polos.

Joe memukul kepala Junex dengan buku tebal berkali-kali seraya berkata, "Jangan mencoba membuatku mengatai nenek-nenek lagi!" Lalu ia melihat Elid yang sesungguhnya sudah bersiap-siap tertawa mendengar perkataannya, namun akhirnya ia nampak kecewa. Kemudian ia memukul kepala Elid pula dengan keras.

Elid memegang kepalanya. "Lho, kok aku juga dipukul, Pak."

Joe tidak menyahut. Ia juga tidak nampak menyesal telah melakukan itu. Sekarang ia mengamati Tobi sambil melipat tangan.

"Apa kamu sadar kamu bau apa?"

Tobi bingung, lalu menggeleng. "Maksud bapak?"

Joe memukul kepala Tobi kuat. "Kamu bau rokok, Anak Badung. Apa kamu tidak sadar itu berbahaya bagi kesehatan?"

Tobi meringis sambil mengelus-elus kepalanya. Ia masih bingung melihat sikap Joe. Entah mengapa hari ini guru itu begitu sensitif sekali.

Tanpa berkata apa pun guru itu langsung memukul kepala Mondi dengan kuat.

"Aduh, sakit, Pak," ringis Mondi. Joe nampak menikmati rengekannya.

Joe melihat Sacquin yang menunduk dengan lesu. Ia sebenarnya ingin menghukum anak itu. Tapi begitu melihat wajah polos siswa itu, ia menjadi tidak tega. Ia mendesah pelan, lalu menepuk-nepuk kepala Sacquin pelan. "Sacquin, kamu balik saja ke kelas," katanya simpul membuat semua mata melotot kepadanya, terutama Lea.

"Sebenarnya siapa sih cewek di sini?" kata Lea protes. Junex dan Elid menatap cewek itu sambil berbisik-bisik. Ia bisa mendengar mereka mengatainya sebagai cewek yang tidak dianggap.

Joe memukul kepala Lea dengan kuat. "Jangan banyak protes."

"Kami, Pak?" Junex dan Elid bertanya serentak dengan mata berkaca-kaca ala puppy eyes. "Kami juga masuk kelas kan?"

"Kalian dihukum," sahut Joe sambil buang muka.

"Nggak adil," pekik Elid dan Junex dengan membuang muka pula.

"Nggak apa-apa kok kalau aku dihukum, Pak. Aku juga telah melanggar aturan," kata Sacquin akhirnya sambil tersenyum.

Joe bingung melihatnya. Kenapa anak ini justru memilih dihukum bersama sahabatnya dibandingkan masuk kelas dan belajar?

"Ok, ok, ok," katanya seakan-akan pasrah. Ia menebarkan pandangannnya kepada kelima murid itu, mengkode kepada mereka supaya mendengar perkataannya dengan seksama. "Baiklah. Aku akan menghukum kalian. Dan aku pastikan kalian akan jera setelah melakukan ini. Kalian dihukum untuk membersihkan seluruh kamar mandi di Sayon."

Kelima siswa itu menganga seperti orang bodoh. Hanya terdengar kicauan burung.

"Seluruh... toilet... Sayon," kata Joe lagi dengan penuh penekanan terhadap kata yang dituturkannya.

"Apa???" seru kelima anak itu serentak.

"Kenapa ekspresi kalian seperti itu? Aku rasa hukuman ini tidak terlalu berat?"

"Nggak berat dari mana? Bapak pikir toilet di sini cuma satu?" protes Lea. Ia nampak tidak terima.

Alis Joe mengernyit dengan tatapan licik. "Mau dilaksanakan atau hukumannya ditambah menjadi lebih ringan...?"

"Ya, ya, ya. Kami bersihkan," kata Junex buru-buru, lalu buang muka. Joe membalas dengan buang muka pula.

Keenam siswa itu berjalan ogah-ogahan sementara Joe tersenyum geli.

"Ya, ampun. Ini toilet atau kandang sih." Junex menjepit hidungnya dengan kuat. Ia memejamkan matanya seakan tidak tega melihat kondisi toilet di ujung kiri Sayon. Kamar mandi ini memang terkenal sangat kotor dibandingkan toilet lainnya.

"Aku bisa mati di sini," kata Tobi merasa mual. Rasanya ia ingin muntah.

"Pak Joe jahat banget sih. Masa cewek secantik aku ini membersihkan toilet sejorok ini," Kata Lea dengan gaya centil yang kelihatan memuakkan. Hari ini ia sengaja memakai berpenampilan menarik. Ia mengenakan bandana berwarna pink dan menggunakan cardigan kotak-kotak yang terbuat dari rajutan.

Junex dan Elid berbisik satu sama lain. Mereka tidak segera merespon Lea. Mereka menahan senyum dan berusaha meyakinkan dirinya sendiri bahwa mereka lebih suka Lea yang tomboy dibandingkan bergaya seperti itu. Sungguh nampak tidak pantas.

"Jangan mencoba mengata-ngatai aku yang aneh-aneh," kata Lea gemas sambil menjawil telinga kedua cowok itu. Junex dan Elid pun meringis kesakitan.

"Sebaiknya kita langsung menyelesaikan ini secepat mungkin," kata Sacquin dengan membawa perkakas kebersihan ke dalam toilet itu. Kehadirannya membuat yang lain justru mengikutinya.

Sepuluh menit berlalu mereka tengah membersihkan toilet, dan hampir selesai. Dan saat itu pula tangan mereka terasa kebas dan sangat melelahkan. Junex dan Elid masih menggosok-gosok dinding dengan kuat. Lea dan Sacquin menyiram-nyiram lantai dan dinding dengan menggunakan ember. Mondi dan Tobi nampak kelelahan bergantian membawa seember air.

"Jun, kamu nggak khawatir dengan semua teror yang telah terjadi?"

Junex menoleh. Ia tahu benar siapa yang berkata itu. Ia hanya mendesah singkat, lalu menjawab, "Kenapa aku harus khawatir?"

Elid melanjutkan kerjanya yang sempat terhenti. Ia tersenyum dan sadar tidak akan menemukan jawaban yang memuaskan dari Junex. Ia memilih mengangguk sendiri.

"Tapi, Junex telah melewati hal-hal sulit selama ini," kata Sacquin menyambung. Junex menoleh kepadanya. Cowok itu menunduk sambil menyerahkan seember air kepada Junex.

"Sekalipun mereka ternyata bukan Jack Rose, kita harus mengakhirinya," kata Lea singkat, namun tidak terlihat serius. Mungkin karena ia sedang sibuk menyapu lantai dengan sapu lidi.

Junex berhenti sejenak, lalu melanjutkannya dengan cepat. "Aku percaya semua baik-baik saja..."

"Kami nggak tega hanya kamu yang mengalami itu. Kami seakan tidak bisa berbuat apa," potong Elid, membuat Junex benar-benar menghentikan tangannya.

Junex balik dan menoleh kepada sahabat-sahabatnya. Mereka semua serius menatapnya. Ia bisa melihat ada iba di balik wajah mereka. Untuk kali ini wajah mereka serasa satu warna, yaitu warna perhatian.

Ia menunduk dan berpikir. Ia semula sudah memutuskan akan memendam perasaan ini sendiri. Ia akan menghadapinya sendiri karena ia tidak ingin satu pun dari mereka mengalami teror itu. Tapi... Dengan melihat perhatian mereka, Junex merasa pertolongan mereka juga sangat dibutuhkan. Ia tidak bisa berjalan sendiri. Ia butuh mereka untuk membantunya menyelesaikan segalanya.

Aku harus memutuskan...

"Aku nggak tahu apa alasan mereka menerorku tanpa menganggu kalian. Tapi, aku percaya mereka ada maksud tertentu. Untuk itu... Bantu aku mengetahui segalanya," kata Junex mantap. "Dan aku pikir Jack Rose lah pelaku semua ini, sebab aku selalu menemukan kertas bergambar mawar sebelum kecelakaan."

Aku putuskan... Aku tidak sendiri lagi... Aku bersama kalian...

"Kenapa kamu harus berbohong?" Lea nampak marah.

"Apa kamu bermaksud membela mereka?" tanya Elid dengan tidak percaya. Sampai-sampai sikatnya dibuang begitu saja.

Junex diam. Ini sudah terlanjur, ia sudah mengatakan segalanya. "Aku tidak pernah bermaksud membela Jack Rose atau apa. Hanya saja aku takut kalian mengalami yang sama denganku. Aku ingin kalian baik-baik saja tanpa harus mengalami teror ini. Aku tidak mau membuat sahabatku menderita."

Terlebih lagi, ia tidak mau begitu mereka mengetahui selama ini yang melakukan teror adalah Jack Rose, mereka akan langsung menyerang kelas khusus itu. Itu pasti makan membuat mereka menjadi sasaran teror selanjutnya. Jelas, Junex tidak ingin mereka mengalami itu. Oleh karena itu ia selalu berusaha membohongi sahabat-sahabatnya seolah-olah membuat Jack Rose tidak pernah melakukan apa-apa.

Keempat sahabatnya takjub. Elid, Sacquin dan Lea mendekati Junex. Elid mencubit pipinya. Lea mengubrak-abrik rambut cowok itu, dan Sacquin menepuk-nepuk bahu Junex.

"Kamu tidak perlu melakukan itu," kata Lea sedikit terharu.

Mondi Dan Tobi saling menatap satu sama lain. Mereka mengernyit dahi licik. Tanpa terduga, begitu mengangkat seember air, mereka langsung menyiram keempat siswa itu. Mereka terbahak-bahak setelah mendapati keempat temannya megap-megap.

Lea menatap Tobi yang nampak tertawa dengan pecah. Baru pertama kali ia melihat Tobi seperti itu. Dan... Cowok itu nampak lebih tampan dari semula. Muka dingin Tobi kini tampak manis dan sangat menarik. Ia mulai menyenangi melihat wajahnya, dan ia merasa pipinya panas. Astaga, ada apa ini, katanya dalam hati sambil menyentuh kedua pipinya.

"Hei, kamu kenapa? Kenapa pipimu memerah? Kamu seakan baru disiram air panas." Junex kebingungan melihat Lea. Ia melihat Lea curi-curi pandang terhadap Tobi, kemudian kembali mengamati cewek itu. Lea nampak merona. Jangan-jangan... "Oh, jangan bilang kamu mulai tertarik terhadap..."

Lea langsung membekap mulut Junex dengan kuat, lalu memukul-mukul kepalanya. "Jangan sampai siapa pun tahu, Bodoh!"

Junex meringis. Merasa tidak terima ia langsung mengambil seembar air, lalu menyiramnya ke arah Lea. Tapi sayang, Lea segera mengelak dan yang terkena sasaran adalah Elid.

"Oh, mulai bermain ya," kata Elid dengan gaya nakalnya. Ia mengambil seember air. Junex langsung berlindung di belakang Sacquin yang menjadi ketakutan. Meski Sacquin menolak, tapi Elid tetap menyiramnya.

Kejadian itu memicu teman lain saling menyiram satu sama lain. Mereka berperang air tanpa memperdulikan apapun. Mereka tertawa dan menghabiskan sisa hukumannya dengan bermain bersama teman-temannya. Meski nampak kekanak-kanakan, mereka seperti terbakar kebahagiaan.

"Anak-anak, apa hukuman kalian sudah..." Joe belum sempat menyelesaikan perkataannya sebab seseorang menyiramnya. Sekejap tubuhnya basah kuyup. Itu membuat matanya menyala-nyala dan napasnya tersengal-sengal. Apalagi setelah mendapati pelakunya adalah Junex.

"JUNEEEX!" jerit Joe seperti orang kesurupan. Saat mendekat dan hendak memukul kepala Junex, ia disiram lagi oleh Elid.

"ELIIID!" cercahnya seperti orang kepanasan.

"Maaf, Pak Joe. Aku tidak sengaja," kata Elid. Semua sahabatnya sudah cengengesan.

"Hehehe, maaf, Pak... Kami..."

Junex tersiram. Ia bahkan tidak bergerak sedikitpun karena masih belum percaya bahwa Joe yang menyiramnya. Apa-apaan ini? Ini semakin tidak masuk akal saat Joe terbahak-bahak menertawainya. Jangankan Junex, kelima siswa lainnya juga terbengong-bengong.

Joe sudah selesai tertawa, tapi ia merasa perutnya masih geli dan sedikit sakit. Ia tersenyum canda. "Baiklah, ayo kita bermain perang-perangan," serunya dengan semangat.

Ya, ampun. Pak Joe nampak kekanak-kanakan. Pantas saja ia belum menikah sampai sekarang, pikir keenam siswa itu.

"OK," sorak keenam siswa itu dengan penuh semangat pula. Mereka terima saja yang akan terjadi, sebab ini adalah saat-saat yang sangat jarang.

Joe bersama kedua anak buahnya, yaitu Sacquin dan Tobi, sementara di pihak Junex memiliki anggota sebanyak tiga orang, yaitu Lea, Elid dan Mondi.

"Okey, Joe. Aku tidak akan membiarkanmu menang," kata Junex seolah seperti kapten. Joe sedikit tersinggung saat cowok itu menyebut namanya lancang, tapi segera disamarkannya perasaan itu. "Ayo, serang mereka..."

"Jangan kamu pikir kamu bisa menang," kata Joe dengan gaya tidak mau kalah. "Ayo, serang mereka..."

Joe langsung menyiram sasarannya, Junex, tapi cowok itu segera mengelak. Ia mengejek-ejek Joe, namun anak buah Joe, Tobi dan Sacquin, langsung menyiramnya kembali dan kali ini berhasil. Joe pun terbahak-bahak melihatnya.

Tidak terasa ketujuh manusia terlarut dalam permainan kekanak-kanakan itu. Memang nampak memalukan. Tapi... Entah mengapa, mereka nampak menikmatinya. Masalah yang semula ada di pikiran menjadi buyar hingga tidak ada lagi beban. Menciptakan keceriaan memang nampak sulit. Namun sesungguhnya tidak sesulit yang dibayangkan. Untuk membuat keceriaan yang total hanya butuh kesederhanaan, seperti melakukan permainan ini. Tidak salah kalau anak-anak lebih menyenangkan dan mudah ceria dibandingkan dewasa.

"Kalian gila," kata Joe sambil menggelepar di lapangan tua. Ia mengajak semua muridnya itu untuk melarikan diri ke lapangan belakang.

"Bapak juga," kata Junex yang terdampar di samping gurunya. Ia melihat Joe menatapnya. Lalu mereka menertawai satu sama lain.

Joe bangkit dari baringannya. "Terima kasih, Anak-anak. Jujur, aku tidak pernah sebahagia ini," katanya dan keenam siswa itu menatapnya dengan serius. "Kesibukan, stress, pusing. Semua hilang dalam sekejap begitu melakukan hal bodoh ini. Kalian semua benar-benar bodoh, tapi sangat menyenangkan."

Junex bangkit, lalu menepuk-nepuk bahu gurunya. "Terkadang hal bodoh dan kekanakan bisa menjadi menyenangkan, Pak. Dan di saat kita menemukan kesenangan, di situlah kita menemukan diri kita sendiri."

Joe menoleh kepada siswanya itu. Junex benar, pikirnya. Kesibukan di kantor serta mengajar telah mengikis perlahan-lahan sifat aslinya. Ia ingat dulu ia adalah orang yang sangat ceria, tapi sekarang senyum pun begitu jarang dilakukannya.

"Kami pulang dulu ya, Pak. Ini sama saja kami sudah bolos sekolah," kata Elid dengan canda setelah melihat jam tangannya.

Tanpa persetujuan guru itu, keenam siswa itu mulai bergerak. Mereka bangkit dengan susah payah mengingat letihnya hari ini.

"Tunggu dulu, Anak-anak. Aku ingin mengatakan sesuatu kepada kalian."

Keenam pemberontak itu berhenti melangkah. Mereka serentak menatap Joe yang masih duduk di lapangan itu.

"Ini menyangkut Jack Rose," kata Joe singkat. Junex mendekat menghampiri Joe, dan mendengarkannya dengan seksama.

☆☆☆

"Pak Joe, bisa langsung ke ruanganku," Kata Jack memerintahkan melalui telepon.

Semenit kemudian, Joe hadir dengan membawa beberapa berkas. Ia pikir mungkin bapak kepala sekolah ingin memeriksa beberapa berkas yang telah diselesaikannnya. Ia juga begitu bingung sebab ini kali pertama kepala sekolah menelponnya langsung ke ponselnya, selain masalah Junex yang terakhir kali.

"Ada apa, Pak?" kata Joe setelah ia dipersilahkan duduk oleh atasannya.

Jack masih belum menjawab. Ia nampak bimbang ingin mengatakan sesuatu. Ia mulai membuka berkas-berkasnya dengan sibuknya, lalu menatap Joe dengan serius. Tapi tidak begitu lama, ia mulai melihat sekitarnya, seperti mencurigai segalanya. Ia seolah memastikan tidak ada satu pun orang yang akan mendengarkannnya, selain Joe. Lalu ia kembali fokus pada Joe lagi.

"Aku rasa kita punya lebih," kata Jack. Ia nampak puas setelah berhasil mengatakan itu, tapi sayangnya itu tidak membuat Joe mengerti.

Joe mengernyit dahi. "Aku tidak mengerti, Pak."

Jack begitu susah payah mengatakannya secara langsung. Mulutnya seakan kaku mengatakan yang ia inginkan. "Kita punya uang yang lebih," katanya akhirnya. Nampak sekali ia begitu susah mengatakannya.

Joe masih belum mengerti. Ia malah mengeleng.

"Aku punya tugas untukmu," kata Jack. Suaranya memelan. Tatapannya pun begitu dekat dengan Joe. "Aku minta kamu memanipulasi beberapa data administrasi keuangan dari kelas Jack Rose."

Tidak! Ini tidak mungkin!

"Tidak, Pak. Aku tidak berani. Aku tidak mungkin... Astaga, bagaimana mungkin bapak berpikir seperti itu," kata Joe gelagapan saking tidak percayanya. Ia baru memahami maksud atasannya.

"Kenapa tidak mungkin?" Terlihat ia sudah mulai nyaman untuk berbicara. Nadanya sudah mulai arogan. "Uang tambahan sekolah dari kelas Jack banyak tersisa. Aku tidak percaya, harga yang sudah kita tetapkan meninggalkan banyak sisa seperti ini. Daripada tidak dipergunakan, sebaiknya uang itu menjadi milik kita. Hanya saja kita harus memanipulasi beberapa data keuangan. Kita buat tambahan data pengeluaran di dalam laporan."

Astaga. Ternyata kepala sekolah sepicik itu. Itu korupsi.

Joe menggeleng. "Aku tidak bisa, Pak. Aku tidak akan pernah mau. Bapak coba saja dengan guru lain. Aku benar-benar tidak setuju dengan ini," Joe menolak dengan suara bulat. Ia bangkit dari kusi, lalu segera beranjak.

"Aku telah mempercayaimu mengurus anak berandalan yang terlambat itu. Apa kali ini kamu tidak bisa aku percayai lagi?"

Joe tidak berbalik. "Aku rasa aku memang bisa mengatasi mereka, Pak. Tapi melakukan hal haram itu, aku benar-benar tidak sanggup."

"Ayolah. Kenapa kamu begitu munafik, Joe. Seberapa besar kamu mendapatkan gaji sebagai guru biasa?" Kata-kata kepala sekolah sangat menyakiti hati Joe.

"Maaf, Pak. Aku benar-benar tidak bisa." Joe melangkah menuju pintu. Saat ia menyentuh pedal pintu, Jack memanggilnya.

"Meskipun begitu, aku masih sangat mempercayaimu. Termasuk mempercayai kalau kamu tidak akan memberitahu ini kepada siapa pun sebab aku akan tetap melaksanakannya," kata Jack.

Joe tidak menyahut. Ia keluar dan menutup pintu kantor itu dengan perlahan-lahan.

Semenjak itu Joe menjadi jarang dipanggil oleh kepala sekolah dalam pengaturan dalam administrasi. Seorang guru bernama Rio menjadi guru kepercayaannya.

☆☆☆

Continue Reading

You'll Also Like

1K 117 19
Berawal ketika memasuki masa SMA. Kata orang, masa SMA adalah masa dimana kita bisa menghabiskan waktu dengan teman-teman sebelum akhirnya harus berp...
20K 2K 50
Ia kira hidupnya akan berjalan mulus saja tanpa ada gangguan yang membuat jalan hidupnya berkerikil, ternyata kehidupan di Sekolah Menengah Atasnya...
8.4K 362 15
ARGA ADITAMA PRAYOGA. cowo yang terkenal dingin,plus cuek, dan memiliki paras yang sempurna.tetapi laki laki itu selalu memasang wajah datar. arga ad...
11K 3K 18
Tujuh remaja dengan latar belakang yang bertolak belakang-anak pengusaha, buruh, yatim piatu, hingga pelarian dari masa lalu---dipertemukan oleh satu...
Wattpad App - Unlock exclusive features