Ehm sebelumnya ada yang mau kujelasin dulu ^^
Mungkin ada beberapa readers yang bingung, "Lho katanya Strigoi takut matahari ama perak? Kok Dongwoo bisa sekolah di siang hari?"
Hehehe makasih pertanyaannya HyunNaNewclear udah ngewakilin itu semua ^^
Aku udah duga bakalan ada pertanyaan kek gitu HAHAHAHHAA /ketawasetan/
Jadi, Strigoi itu emang takut ama matahari dan perak pas lagi mode asli/mode vampirnya.. Kenapa Dongwoo bisa keluar di siang hari? Soalnya dia dalam mode manusia gitu ^^
Ada part chapter dimana Dongwoo ama Heechul bertarung kan? Itu kalo diperhatiin, scenenya sore hari, pas matahari mulai tenggelem.. Strigoi dalam mode asli pas sore hari ga terlalu lemah disitu, tapi ga brani keluar pas matahari benar" terang.. Cuman bisa brani keluar pas dalam mode manusia gitu ^^
Kuharap ini bisa jelasin tentang Strigoi, salahku juga ga jelasin secara detail di awal, maaf :")
Ada juga yang nanya, "itu kenapa Selamat tinggal Nam Woohyun?" Soalnya kalo kubikin "Selamat tinggal Lee Howon" yang ada aku makin nyesek 😢😢 /ampun/
Udah kan? Kalo ada yang bingung lagi, bisa ditanyakan dan kujawab di chap selanjutnya hehe ^^
Kamsahamnida~ /deepbow/
.
.
.
.
.
.
.
"Selamat tinggal, Nam Woohyun."
Happy Reading ^^
Woohyun terperangah mendengar kalimat Han Geng barusan, "H-hyung, mworago?"
SYAT
Untunglah Woohyun langsung melompat mundur saat kayu-kayu Moza yang saling melilit menjadi beberapa pedang bagi Moza, menyerang secara mendadak. Hanya saja bahunya sempat tergores sedikit, namun sakitnya tidak seberapa dibanding dengan saat bertarung di mimpinya itu.
Belum selesai dengan itu, Han Geng kini melompat dan menyerang Woohyun dengan cakarannya. Kini Han Geng dalam mode vampirnya, iris merahnya menatap Woohyun nyalang namun ada rasa sendu, membuat Woohyun sedikit bingung dengan arti tatapan namja itu.
"Hyung, kau kenapa eoh?! Sadarlah!"
Han Geng tidak menjawab, hanya menyerang secara terus-menerus bersama dengan pedang-pedang kayu Moza yang menyerang Woohyun tanpa henti.
"Lawan aku Nam Woohyun!!"
CRASH SYAT
"ARRGGHHH"
Cakaran Han Geng berhasil mengenai pipi kiri Woohyun dan tebasan pedang kayu Moza mengenai dadanya, untungnya tidak menembus hingga ke dalam.
"Hah..hah..argh..."
Han Geng menatap datar Woohyun yang membungkuk merintih kesakitan, "Kau ingin bertemu dengan Guardianmu kan? Hanya satu jawaban di ujian keduamu ini." Bahkan nada bicara namja matang itu, lebih dingin dari biasanya.
"Kau, atau aku yang mati."
DEG
Woohyun membulatkan matanya, "M-mwo?"
DUAGH
Gerakan Han Geng sangat cepat, bahkan Woohyun tidak sadar bahwa namja itu berlari ke arahnya dan menendangnya kini. Punggung Woohyun terbentur oleh batang pohon yang membuat batang itu retak parah dan membuat Woohyun tersungkur.
"Jangan karena kau segan padaku, kau tidak ingin menyerangku, Nam Woohyun!"
GREB
"A-akh..."
Han Geng melesat menghampiri Woohyun dan menarik kerah seragam Woohyun yang bahkan sudah 5 hari belum diganti, dan mengangkatnya lebih tinggi darinya dengan satu tangannya, "Ha-haruskah, Hyung?"
Han Geng tersenyum sinis, "Kau takut eoh?"
BRUAGH
Han Geng melempar tubuh Woohyun ke sisi kanannya, "Perasaan tidak tega adalah perasaan terlemah manusia. Kau tidak akan menjadi kuat karena itu."
Han Geng melangkahkan kaki jenjangnya menuju posisi Woohyun terlempar, "Ujian kedua ini cukup mudah, kau hanya diharuskan memilih apakah aku atau kau yang mati. Dengan begitu, Guardianmu akan muncul, Nam Woohyun."
Kini Han Geng sudah berada di depan Woohyun. Woohyun masih tidak sadarkan diri akibat lemparan Han Geng tadi, hingga namja matang itu memutuskan untuk menarik kembali kerah Woohyun, bersiap memukul namja itu.
GREB
Sebuah tangan mencengkram erat pergelangan tangan Han Geng yang kini mencengkram kerah namja yang terkapar tadi. Woohyun membuka matanya, dan langsung membanting tubuh Han Geng hingga namja itu kini berada di bawah namja yang lebih muda.
Seiring Woohyun menahan pergerakan Han Geng, kayu-kayu Moza mengarah menuju Woohyun bersiap untuk menusuk Woohyun. Namun gerakan Woohyun lebih cepat, ia menghindar mundur dan sedikit berlari menjauh dari ujung kayu itu, memeluk dari samping seluruh batang suluran kayu Moza yang kecil namun beruncing dengan lengannya dan menariknya bersamaan dengan dirinya yang berlari melompat ke arah Han Geng yang masih takjub dengan gerakan cepat Woohyun itu.
BRAK
"H-Hyun.."
Kini posisi Woohyun berada di atas Han Geng, menduduki perut namja itu beserta suluran-suluran kayu runcing Moza yang menahan pergerakan seluruh tubuh Han Geng dengan kedua tangan Woohyun sebagai penindih suluran itu.
Runcing-runcing suluran itu menyusut dan menjadi tumpul, agar tidak mengenai pemanggilnya. Moza yang berada di kejauhan, lebih memilih diam menunggu perintah lain pemanggilnya.
"Mianhae Hyung, hah...aku tidak bisa membunuhmu." Keringat membanjiri seluruh wajah Woohyun, ia juga tidak menyangka bisa memiliki tenaga ekstra seperti itu.
"Aku tidak peduli jika harus mempertaruhkan nyawa untuk melindungi kalian terutama Sunggyu, tapi aku tidak bisa tidak peduli jika itu berurusan dengan nyawa kalian."
"Jadi aku memilih, hah..hah.. tidak mengorbankan nyawaku ataupun mengorbankan nyawamu, Han Geng hyung. Karena urusanku masih panjang untuk berlatih dan melindungi Sunggyu, jadi aku dan kau sama-sama belum boleh mati." putusnya final dan terkekeh walaupun nafasnya masih memburu.
Han Geng tersentuh mendengar jawaban namja yang berada di atasnya, "Lalu, bagaimana tentang Guardianmu?"
"Aku tidak peduli, aku akan mencari cara untuk melindungi Sunggyu dan kalian tanpa bantuan Guardian itu." Ujarnya yang kini bangkit dan berdiri dari duduknya, bersamaan sesuatu cukup besar, terlempar mengenai kepalanya.
Pletak!
Woohyun mengaduh kesakitan di kepalanya dan Han Geng terkejut mendengar sesuatu terjatuh, "Kenari?"
"Dasar manusia bodoh! Apa kau lebih kuat dari kami hah?!"
Woohyun dan Han Geng sontak mengalihkan pandangannya menuju asal suara. Moza yang melihat kedatangan makhluk lain, menghampiri dua namja itu.
"Ternyata kau, Garvas." Ujar Moza datar.
"Haahh, kenapa harus aku yang bersama Feeder bodoh ini.." lanjut makhluk itu dan terbang perlahan menghampiri dua namja dan Guardian wanita itu.
"K-kau.." Woohyun menatap tidak percaya yang ada di hadapannya, ia bahkan mengucek kedua matanya beberapa kali dan menatap makhluk itu.
"Kau.. benar-benar Guardianku?"
Pletak!
Kenari yang berada dalam gigitan makhluk itu, terlempar karena ulah makhluk itu, "Yak! Dimana sopan santunmu Feeder muda?! Berterimakasihlah padaku karena sudah mau muncul dan menerimamu, dasar bodoh!" Bentak makhluk itu dengan suara khas anak kecil dan kenari yang dilempar tadi, kini kembali pada pemiliknya.
Kini Han Geng sudah berdiri dan suluran kayu Moza sudah kembali pada Moza, "Siapa namamu?" Tanya Han Geng.
"Aku, Garvas. Guardian si Feeder bodoh, Nam Woohyun."
"KENAPA KAU KECIL SEKALI?!"
Pletak!
Kenari itu kembali terlempar, "ITU KARENA KEKUATANMU MEMANG KECIL, BODOH!"
"AKU INGIN YANG BESAR DAN HEBAT LEBIH DARI POHON ANEH ITU!"
Pletak!
"Apa maksudmu?" Tanya Moza dingin setelah menjitak kepala Woohyun.
"HYUUUNNGGG KENAPA GUARDIANKU SEPERTI TIKUS BEGINI SIH???" Rengek Woohyun pada Han Geng.
Pletak!
"AKU SEJENIS MUSANG, BODOH!"
"SAMA SAJA!"
"BEDA!"
"SAMA!"
"BEDA!"
Han Geng kembali menghela nafasnya, "Haaahhh kapan selesainya ini~ KALIAN TOLONG BERHENTI !!!!"
Adu mulut antara Guardian dengan Feeder itu terhenti saat mendengar suara menggelegar dari namja yang dikenal tenang itu, bahkan sang Guardian wanita juga gemetar saat mendengar suara menyeramkan pemanggilnya.
Tuh kan bener, Han Geng hyung lebih menyeramkan dari Heechul hyung :(
"Haaahh akhirnya. Jadi Garvas, kau adalah Guardian Woohyun?"
Garvas sedikit bergidik saat mendengar sang Dhampir memanggilnya lembut, 'Aromanya seorang Dhampir, tapi kenapa auranya yang tadi lebih mengerikan dari Guardian manapun? Vampir memang mengerikan..'
"Garvas?"
"A-ah, ehem! Ne, aku Guardian dari Feeder ini. Dan aku, seorang Guardian petarung!" Ujarnya bangga dengan suara bak anak kecil itu.
"Pfftt, petarung? Bahkan aku yakin kau hanya bisa melempari kenarimu saja." Ejek Woohyun.
"Diam kau Feeder bau! Ini karena kekuatanmu masih belum stabil, sehingga aku tidak bisa muncul dengan diriku yang berkekuatan penuh!"
"Mwo bau kau bilang?! Woohyun mencium tubuhnya sendiri, 'memang bau sih, aku kan belum mandi 5 hari'
"Setidaknya ini aroma latihan keras!"
"Bukan aroma itu yang kumaksud ! Tapi aroma yang menunjukkan kau seorang Feeder, babo!"
'Mereka bertengkar lagi, haaahh'
'Untung tuan Han Geng tidak secerewet manusia itu'
Han Geng dan Moza hanya menatap jengah pasangan baru Guardian dan Feeder itu, "Woohyun-ah, apa kau mau makan atau mandi dulu? Ada sungai jernih tak jauh dari sini, kau hanya cukup berjalan lurus dari sini, Hyun-ah. Kalau mau ayo kau mandi sekarang, dan aku akan menyiapkan makanan untuk kita."
"Kurasa aku mandi dulu hyung." Ujarnya dan langsung melangkahkan kakinya ke sungai, "Kenapa kau ikut?" Tanyanya pada Guardian yang terbang di samping kepalanya.
"Aku Guardianmu, tentu saja aku akan ikut kemanapun pemanggilku pergi meskipun aku tidak mau." Ujar Garvas yang langsung memeluk kenari itu dan mengalihkan pandangannya ke arah lain seperti sedang merajuk.
Wajah tertekuk Woohyun kembali cerah dan terkekeh melihat ekspresi imut Guardiannya itu, "Kau imut sekali~ Pipimu seperti hamster, tapi lebih imut Gyu-ie sih~" ujar Woohyun sembari menguyel-uyelkan pipi tembam Garvas.
"Difft amftt sofftttt PANLAH PADA GUARDIANMUUUU!!!!" Teriaknya setelah berhasil melepaskan diri dari uyelan gemas Woohyun.
"Kau lebih cocok jadi peliharaan daripada Guardian, Garvas."
"Aish! Dan kau lebih cocok menjadi Warlock daripada seorang Feeder karena aromamu itu!"
Ejekan satu sama lain menghiasi langkah mereka yang menuju sungai.
Tak berapa lama kemudian, Woohyun sudah selesai dengan kegiatan membersihkan dirinya tanpa mengganti pakaian lamanya, dan mendekati Han Geng yang memasak, "Hyung, apa kau membawa pakaian ganti untukku?"
"Tentu saja, ada di rumah pohon Hyun-ah." Ujar Han Geng sembari menyiapkan mangkuk rotan yang dibuat oleh Moza dengan dibungkus oleh daun di hutan itu.
"Gomawo hyung" Setelahnya Woohyun melangkahkan kakinya menuju rumah pohon itu, hingga ia merasa tubuhnya mengambang di udara.
Moza membantu Woohyun agar cepat sampai di rumah pohon mereka yang cukup tinggi itu dengan suluran kayunya yang melilit di pinggang Woohyun. Garvas juga ikut terbang menyusulnya.
Tak berapa lama kemudian, Woohyun sudah berganti pakaian dengan dibantu Moza pada saat turun. Kini dua namja itu sedang menikmati makanan mereka dengan bersandar di batang Moza dan Garvas hanya menikmati kenari yang tak pernah habis itu di atas kepala Moza.
"Hyung, bolehkah aku bertanya sesuatu?" Han Geng hanya mengangguk sebagai jawabannya, karena ia sedang mengunyah makanannya.
"Kenapa..aku bisa mendapatkan Garvas? Bukankah aku memilih untuk tidak ada pengorbanan nyawa?" Tanya Woohyun dengan tatapan polosnya.
Han Geng menelan makanannya dan meminum air mineral miliknya, "Itulah jawabanmu." Jawaban singkat Han Geng mendapat respon heran dari namja di sampingnya.
Han Geng menaruh mangkuknya yang telah kosong dan menatap Woohyun, "Mianhae aku..berbohong sebenarnya. Tidak ada pilihan harus membunuh siapa untuk memanggil Guardianmu itu. Sebenarnya ini ujianmu untuk memilih, apakah kau mengikuti keegoisanmu untuk memanggil Guardian dan membunuh sesamamu, atau kau mengalah tidak memanggil Guardian dan memilih melindungi sesamamu."
"Semua manusia memiliki kelebihan dan kekurangan, termasuk keegoisan diri sendiri. Hanya manusia yang memiliki berjiwa besar yang mampu membuat Guardian itu muncul, Hyun-ah.."
Kini iris hijau tenang milik Han Geng menengadah ke atas, memandang Garvas yang sedang menikmati kenari kesayangannya, "Garvas pasti tersentuh mendengar keputusan akhirmu, dimana kau lebih memilih melindungiku dan mencari cara lain untuk menjadi kuat tanpa Guardian jika syarat untuk mendapatkannya adalah membunuh sesamamu."
Woohyun tidak melepaskan pandangannya pada Han Geng, dan terhenyak saat sebuah tangan besar mengusak surai legamnya, "Jeongmal gomawo Woohyun-ah.." ucap Han Geng lembut dan menatap teduh Woohyun.
Woohyun tersenyum melihatnya, "Aku hanya melakukan hal yang semestinya, hyung." Dan menatap Garvas yang kini berbincang dengan Moza menggunakan bahasa yang hanya dimengerti oleh sesama mereka.
"Melihat Garvas, aku jadi merindukan Gyu-ie.."
.
.
.
"Hyung"
"Ne Gyu-ie?"
"Kapan aku bisa sekolah lagi?"
Heechul menghentikan aktifitas membaca majalahnya saat mendengar pertanyaan adiknya, dan tersenyum mengejek, "Bilang saja kau merindukan Feedermu eum~"
Blush
"A-aniya!" Ujar Sunggyu yang mengalihkan pandangannya ke arah lain. Heechul yang melihat tingkah menggemaskan Sunggyu, terkekeh pelan.
"Dia tidak sekolah juga, dia bersama Han-ie sekarang." Ujarnya dan menaruh majalahnya saat Sunggyu mulai duduk di sampingnya.
"Han Geng hyung? Mereka kemana?" Tanya Sunggyu.
Heechul menyandarkan tubuhnya pada sofa itu, merilekskan tubuhnya, "Melatih Woohyun untuk bisa menjadi seme yang bisa memuaskanmu."
Blush
"HYUUUUUNNGGGG~~~~~"
Heechul tertawa keras melihat tatapan menyeramkan bagi Sunggyu -namun tidak bagi Heechul-, ekspresi dimana Sunggyu menyipitkan matanya namun rona merah pekat menghiasi wajah Moroi itu.
"AHAHAHAHAHAHA Arraseo arraseo, Han-ie memang melatih Woohyun, untuk bertemu dengan Guardiannya. Kau tau kan ia seorang Feeder? Ia juga memiliki Guardian walaupun kecil kemungkinannya."
Kini Heechul mengarahkan duduknya menghadap adiknya, "Woohyun seorang seme yang pastinya memiliki naluri untuk melindungi pasangannya, jadi biarkan ia melatih dirinya untuk menjagamu Gyu-ie~" ujar Heechul sambil mengusap sayang surai madu Sunggyu saat menatap kekhawatiran di wajah adiknya itu.
"Percayalah padanya ne?"
Sunggyu menghela nafas dan mengangguk, "Hyung aku ingin meminta tolong padamu." Heechul melebarkan matanya dan menyiapkan fokus pendengarannya, pasalnya ini pertama kali seorang Kim Sunggyu meminta tolong padanya.
"Tolong latih aku untuk menjadi kuat hyung."
"Tidak untuk saat ini." Belum selesai Sunggyu berbicara, Heechul sudah memberikan penolakan.
"Hyuunngg dengarkan aku~ Ini sudah dua minggu hyung, kau tau pasti kalau kondisiku sudah memulih sempurna. Aku tidak mau membuat kau, Han Geng hyung dan bahkan Woohyun berusaha melindungiku namun aku tidak sekuat kalian.."
"Aku tau hyung diberi gelar The Great Assassin saat masa perang lalu, bahkan aku yakin kekuatanku tidak sebanding dengan kekuatanmu. Aku..hanya tidak ingin membuatmu malu karena aku adikmu... Aku tidak mau menyesal kedua kalinya seperti aku..kehilangan appa dan eomma..." Sunggyu menundukkan wajahnya, dan menatap serius Heechul.
"Jadi, tolong latih aku Hyung. Aku akan berusaha untuk bisa melindungi kalian, dan bertarung di samping Woohyun saat 'waktu itu tiba' ". Ucap Sunggyu mantap dengan kilatan kesungguhan yang mampu Heechul rasakan.
Karena bagi Kim Heechul, 'berusaha' akan lebih bermakna ketimbang 'ingin' .
Heechul terharu mendengar penuturan dewasa adiknya itu, "Kurasa, kau sudah tidak labil lagi eum~" ujarnya yang mengusap sayang wajah Sunggyu dan memeluknya erat.
"Aku menyayangimu, Kim Sunggyu. Kau segalanya bagiku, aku tidak mau kau terluka seperti masa lalu." Ucapnya sembari mengusap sayang surai madu Sunggyu.
"Jika itu permintaanmu, aku tidak akan main-main lagi Gyu-ie. Bersiaplah besok saat matahari mulai terbit, kita ke tempat ritual kita."
"Bukankah masa ritual sudah lewat jauh yaa hyung?"
Heechul menggeleng, "Hari itu saat aku menitipkan makanan untuk Woohyun yang sudah sadar, kau ingat aku dan suamiku pergi kan setelahnya? Eum sebenarnya aku memiliki janji dengan seorang wanita bayaran, dan aku langsung membawanya ke tempat ritual kita dan menghabisinya disana bersama Han-ie."
'Pasangan sadis..'
Sunggyu berdehem menetralisir ketakutannya, "Apa aku mendapat jatah Hex Blood hyung?"
"Tentu saja! Maka dari itu besok kau ikut denganku untuk mengambil jatahmu itu Gyu-ie~"
(Hex Blood : darah korban wanita yang dijadikan tumbal ritual dan menggunakan mantra khusus pada saat penyiksaan pada korban, lalu darah korbannya diminum dan disiram di tubuh Moroi agar kekuatan mereka kembali utuh dan penuh. Darahnya bisa disimpan menggunakan jimat bernama Red Charm agar energy dalam darah itu tetap stabil.)
Sunggyu semakin mengeratkan pelukannya, "Gomawo hyung-ie~ Aku juga menyayangimu, sangat."
.
.
.
Tak terasa sudah hampir 2 bulan Woohyun dan Han Geng berlatih, dan 2 bulan itu Woohyun dan Sunggyu tidak sekolah. Kalian bingung bagaimana absensi mereka? Tanyakan pada Kim Heechul dengan segala otak liciknya.
Woohyun dan Garvas selalu berlatih keras bersama Han Geng dan Moza, dengan pertarungan-pertarungan antar keduanya maupun dengan Monster Hole yang hanya para Guardian saja yang bisa menggunakan kekuatan itu untuk memanggil para monster yang mereka gunakan sebagai objek latihan mereka.
Han Geng bisa merasakan perubahan pada Woohyun, kini namja itu tampak lebih kuat daripada sebelumnya. Ia tidak semanja waktu lalu, hanya saja sifat cerewet dan tidak mau mengalah masih melekat setiap ia berdebat dengan Garvas.
Seperti saat ini.
"Gyu-ie~ Bogoshippeo~" ujar Woohyun yang masih memeluk gemas Garvas.
"Namaku Garvas, bukan Gyu-ie aish! Lepaskan pelukanmuuuuuuuuuuu~!!!!" Ronta Garvas tanpa sadar mengeluarkan nada merengek dengan nada anak kecilnya itu.
"Bahkan rengekanmu seperti Gyu-ie, AKU MAKIN MERINDUKANMU CHAGIYAAA~~~" Teriak Woohyun semakin erat memeluk Garvas.
"DASAR FEEDER GILA ! BERHENTI BERTERIAK DAN LEPASKAN PELUKAN KOTORMU INI NAM WOOHYUUUUUNNNNNNN!!!!"
Han Geng selalu menghela nafas lelah dan Moza yang selalu menjitak kepala Feeder dan sesama Guardian itu jika sudah merasa jengah.
.
.
.
Malam hari, Woohyun terbangun dari tidurnya. Ia ingin buang air, kemudian Moza yang berada di bawah rumah pohon itu, mengulurkan sulurnya untuk membantu Woohyun turun.
"Gomawo Moza." Dan Woohyun melangkahkan kakinya menuju pohon yang cukup jauh dari sana.
Setelah menyelesaikan hasratnya, ia bermaksud kembali ke rumah pohon sebelum ia melihat sesuatu kecil yang terduduk di atas batu pinggir sungai, "Garvas?"
Melihat tatapan Garvas yang melamun menatap langit, ada rasa iba di hati Woohyun dan melangkah pelan mendekati Guardiannya.
"Jika kau ingin mengagetkanku, bermimpilah sendiri!" Sarkas Garvas tiba-tiba, namun hanya kekehan yang Garvas dengar.
"Aniya, aku memang ingin duduk disini." Ujar Woohyun lembut sembari mengusap sayang tubuh Garvas bak musang besar.
'Andaikan saja ini peliharaan..'
Pletak!
"AKU BUKAN PELIHARAAN!" Woohyun terkejut karena lemparan kenari dan ucapan Garvas yang tau isi hatinya, namun ia tertawa melihat ekspresi menggemaskan Guardiannya.
"Habisnya kau menggemaskan sih, apa kau tidak tidur?"
"Mana mungkin Guardian tidur, lihat saja Moza!" Ujar Garvas yang memandang Moza berdiri tegak di bawah rumah pohon mereka.
"Ah begitu.. Tapi kenapa raut mukamu seperti itu?" Garvas menatap Woohyun bingung dengan mata besarnya, namun terlihat imut bagi Woohyun.
"Aku bisa merasakan itu, apa kau ada masalah?"
'Feeder ini berubah, setidaknya dia semakin dewasa dan stabil hmmm, tapi..'
"Aku tidak apa-apa, Woohyun-ah. Eum, bolehkah aku bertanya padamu?" Woohyun mengangguk antusias sembari menatap langit.
"Apa kau sangat ingin memiliki Guardian yang besar dan hebat? Apa kau menyesal memiliki Guardian seperti diriku?"
Woohyun terkekeh mendengar pertanyaan lucu Guardiannya, "Awalnya iya aku ingin memiliki Guardian lebih tangguh dari Moza, dan menuruti semua perintahku, seperti yang Han Geng lakukan pada Guardiannya."
"Namun setelah kita bertarung bersama, aku menilai hal lain. Bahwa tidak hanya kekuatan fisik dan otak untuk menjadi kuat, tapi ini juga." Ujar Woohyun sembari menyentuh dadanya dan menatap Garvas sekilas, kemudian kembali menatap langit.
"Jika aku memiliki Guardian yang lebih tangguh dan bisa kuperintah apapun, aku merasa jahat dan egois karena aku hanya menyuruhnya, tidak ikut bertarung bersamanya." Kini Woohyun menatap Garvas yang kini menatapnya penuh.
"Aku ingin bertarung bersamanya juga, bersama Guardianku, seperti Han Geng hyung dan Moza lakukan saat bertarung. Jujur saja aku suka melihat kerjasama mereka saat bertarung dengan kita waktu lalu."
Woohyun kini mengusap sayang tubuh kecil Guardiannya, "Garvas, aku mengakui diriku sebagai Feeder lemah, namun aku siap dengan segala konsekuensinya agar aku bisa lebih tangguh dan bisa melindungi Sunggyu, Heechul hyung dan Han Geng hyung tanpa harus membuat mereka terluka.. Jadi, maukah kau bekerjasama denganku untuk melindungi mereka?" Ujar Woohyun menatap teduh Garvas.
"Dan aku tidak menyesal mendapatkan Guardian sepertimu, kurasa Guardian menggemaskan sepertimu cukup hehehe~" lanjut Woohyun sembari mengusak kepala kecil Garvas.
Garvas terhenyak mendengar penuturan tulus Feeder pemanggilnya, kemudian mengalihkan pandangannya ke arah lain, "S-sebaiknya kau tidur, kita harus b-berlatih lagi besok."
Woohyun terkekeh mendengar ucapan gugup Guardian kecil itu, "Hahaha arraseo, jaljayo Garvas~" Woohyun bangkit dari duduknya dan meninggalkan Garvas seorang diri kembali.
Garvas tersenyum saat melihat punggung Woohyun yang menjauh, kemudian kembali menatap langit malam.
'Terima kasih Woohyun.. Aku tidak menyangka, ada manusia yang memiliki kekuatan hati sepertimu.. Hatimu sangat tulus dan polos hahaha~'
Kini tubuh Garvas dihujani oleh butiran cahaya kemerahan yang hanya menyirami dirinya. 'Aku tidak menyangka secepat ini aku bisa kembali ke wujud asliku, berkat Feeder itu'
Garvas menutup matanya seiring butiran cahaya kemerahan itu semakin menutupi tubuhnya.
'Saya berjanji akan membantu dan melindungi Anda, Tuan Nam Woohyun.'
TBC
Nah tuh Guardian nya Woohyun udah muncul, tapi sosok aslinya chap depan yaa :v
Kuharap tidak mengecewakan :")
Jja vote dan comment di tunggu, kritikan dan saran ditunggu ~ ^^
Kamsahamnida~ /deepbowbarengGarvasversimusang/
Garvas : Jangan terpesona liat sosok asliku di chapter depan yaaa~~ Pay pay :*