Aku rindu moment bersama kita dulu.
Gery mengobrak-abrik kamarnya, semua barang yang ada di kamarnya kini sudah berserakan di lantai. Amarah yang bergemuruh didadanya tidak bisa ia bendung lagi. Kenapa Nayla harus berubah pikiran? Padahal rencana mereka akan berhasil sebentar lagi. Hal itulah yang membuat Gery tidak bisa menahan emosinya, ia begitu kecewa pada Nayla.
"Nay, aku akan buktikan padamu, jika tanpa bantuanmu, aku pun bisa mencapai tujuanku, aku akan buktikan itu."
Mata Gery menyala, amarahnya bekobar. Gigi-gigi nya saling beradu.
***
Sesil terus memegangi perutnya. Ia terasa sangat lapar. Mau masak juga bahan-bahan di dapur sudah pada habis, membuat Sesil tidak bisa berbuat apa-apa. ini sudah pukul 10 malam dan Reyhan pun belum pulang dari kantor. Akhirnya Sesil hanya mampu menyandarkan tubuhnya di sofa seraya menonton tayangan televisi kesukaanya.
Selama menonton tayangan televisi, Sesil tidak bisa menikmatinya, ia terus memegangi perutnya yang terasa sangat sakit karena belum diisi apapun.
Suara pintu terbuka berhasil membuat Sesil terlonjak, ternyata itu adalah Reyhan yang baru pulang dari kantor. Sesil mengembangkan senyum merekahnya, rasa bahagian tiba-tiba menyelimuti dirinya.
"Kenapa kau belum tidur? Ini sudah malam," ucap Reyhan to the point karena melihat Sesil yang tengah menyadarkan tubuhnya lemas di sofa.
"Aku tidak bisa tidur, aku lapar, semua bahan untuk masak habis, Rey. Jadi aku nggak masak malam ini." Ucap Sesil lirih.
Reyhan mengembuskan napas panjang, ia meletakan tas dan berkas kantornya di sofa.
"Ayo ikut denganku, kita makan diluar saja. Aku tidak mau kalau sampai kau sakit karena tidak makan." Ajak Reyhan pada Sesil, mata Sesil seketika berbinar.
"Yang benar Rey?" Tanya Sesil memastikan.
"Iya aku beneran. Cepat kau besiap. Aku menunggumu di garasi."
"Ah, kau ini baik sekali, okey, aku akan bersiap."
Sesil menuju kamarnya untuk bersiap. Semangatnya sudah menggebu , ia begitu senang.
Reyhan menyandarkan punggungnya pada mobil Ferrari nya. Tangannya besedekap, ia sedang menunggu Sesil saat ini. Ia terus-menerus melirik jam tangan yang melingkar di tangannya.
"Sesil kemana? Nanti keburu malam." Gumam Reyhan.
"Aku sudah siap." Sahut Sesil dari arah pintu, Reyhan terlonjak.
"Kau ini mengagetkanku saja." Ucap Reyhan karena merasa terkejut dengan kedatangan Sesil.
"Ayo kita berangkat, aku sudah lapar,"
"Iya, iya." Reyhan dan Sesil menaiki mobil, Reyhan menyalakan mesin dan mulai melajukan mobilnya membelah jalanan ibu kota yang sangat ramai di malam hari.
***
Sesil terus-menerus memonyongkan bibirnya, ia saat ini sedang kesal pada Reyhan. Kenapa Reyhan membawanya makan di warung sederhana pinggir jalan? Sesil kurang suka tempat seperti ini.
Reyhan terus melirik kearah Sesil yang terus-menerus memonyongkan bibirnya, Sesil sama sekali tidak menyentuh nasi goreng yang ada di hadapannya.
"Kenapa makanannya tidak di makan? Tadi kau bilang kau lapar."
Sesil berdecih, "Kenapa kau membawaku ke tempat seperti ini, ini tidak steril tau nggak Rey,"
Reyhan menggeleng-gelengkan kepalanya, "jangan menghina seperti itu, aku sengaja mengajakmu kesini, ya sekali-kali lah kita makan disini jangan makan di restoran berbintang terus, lidahku sudah bosan dengan makanan seperti itu, aku ingin merasakan sesuatu yang berbeda."
"Tapi..."
"Sudah, dimakan saja, lagian ini enak," Reyhan menyuapkan nasi goreng ke dalam mulutnya lantas mengunyahnya dengan lahap.
Sesil mengembuskan napas panjang, ia mulai menyiduk nasi goreng itu lantas di masukannya kedalam mulutnya. Sesil membulatkan mata, kepalanya mengangguk-angguk, senyumnya merekah.
"Kau benar, ternyata ini enak," decak Sesil. Ia kembali menyuapkan nasi goreng itu ke dalam mulutnya.
"Makanya, jangan menilai sesuatu sebelum kau merasakannya,"
"Iya-iya, dasar bawel," ngeyel Sesil. Reyhan kembali menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah Sesil. Tapi bagaimana pun Reyhan sangat senang, karena moment yang sangat ia rindukan akhirnya terjadi kembali, moment berdua bersama Sesil.
Semilir angin yang berhembus seakan menusuk tulang, entah kenapa angin malam ini terasa sangat dingin. Sesil yang sudah memakai kaos lengan panjang pun masih merasakan hawa dingin itu menusuk tulangnya, ini benar-benar dingin.
Reyhan yang melihat Sesil seperti kedinginan hanya mampu menautkan kedua alis.
"Dingin ya?" Tanya Reyhan pelan.
Sesil menjawab dengan anggukan, kedua tangannya masih setia menciptakan hawa panas, dengan kedua telapak tangan yang ia gesekan.
Reyhan melepas jas kantornya, tanpa permisi Reyhan menyelimutkan jas kantornya itu ke tubuh Sesil. Sesil terlonjak, matanya membulat.
"Pakailah, ini akan membantu tubuhmu menghangat," Reyhan menyunggingkan senyum manisnya.
"Tapi Rey, ini sangat dingin, memangnya kau tidak kedinginan?"
"Aku kedinginan, tapi aku masih bisa menahannya, dan kau lebih membutuhkan jas itu dari pada aku."
Penglihatan Sesil lagi, lagi, dan lagi mulai kabur, air mata mulai kembali menggenang di pelupuk matanya tetapi cepat ia seka karena takut Reyhan mengetahuinya. Sesil masih merutuki dirinya yang dengan bodohnya meninggalkan pria sebaik Reyhan. Reyhan kembali melanjutkan aktivitas makannya.
***
Pukul 23.30 Sesil dan Reyhan baru sampai ke rumah, tadi di perjalanan mereka tejebak macet, jadilah mereka baru bisa pulang selarut ini.
Sesil langsung menuju sofa merebahkan tubuhnya sejenak, sementara Reyhan sedang membereskan tas, dan berkas kantornya yang ia taruh di sofa tadi.
Sesil menjerit dan memeluk Reyhan dengan spontan ketika senua lampu padam, entah kenapa terjadi mati lampu mendadak gini, padahal Sesil sangat takut akan kegelapan.
Reyhan kaget bukan main mendapati tubuhnya yang di peluk oleh Sesil secara tiba-tiba, jantungnya berpacu dua kali lebih cepat.
"Rey, aku takut Rey!" Ronta Sesil seraya memeluk erat tubuh Reyhan.
"Tenang Sil, lagian ini cuma mati lampu,"
"Tapi aku takut gelap Rey," Sesil tidak mau melepas pelukannya dari Reyhan.
"Sudah, tenang, sebaiknya kita ke kamarmu untuk mengambil lilin," ajak Reyhan pada Sesil.
Sesil memegangi tangan Reyhan erat, ia tidak ingin kehilangan jejak Reyhan di kegelapan, Sesil mengekori Reyhan.
Satu buah lilin sudah Reyhan nyalakan, semua sudut kamar Sesil kini sedikit terang karena cahaya yang ditimbulkan dari lilin. Sesil masih setia memegang erat tangan Reyhan.
"Sil, sebaiknya kau tidur, ini sudah malam,"
"Aku masih takut Rey, aku benar-benar takut, disini gelap, gak kaya dirumahku yang terang walau mati lampu,"
Rumah Sesil yang dahulu memang sudah di desain khusus olehnya, semua lampu rumahnya akan tetap menyala walau sedang mati lampu, semua lampu itu sudah di desain sedemikian rupa agar bisa menyala di tengah kelegapan mati lampu.
"Terus kau tidak ingin tidur?" Tanya Reyhan.
Sesil menekuk wajahnya, ia benar-benar takut. Reyhan kembali mengembuskan napas panjang.
"Yasudah, aku akan menemanimu disini sampai kau benar-benar tidur,"
Mata Sesil kembali berbinar, "Sungguh Rey?"
"Iya, cepatlah naik ke tempat tidurmu,"
Sesil langsung naik ke tempat tidurnya, tangan Reyhan masih setia Sesil genggam. Sesil membaringkan tubuhnya, sementara Reyhan memposisikan dirinya duduk disamping Sesil dengan punggung ia sandarkan pada ujung ranjang.
"Cepatlah tidur, kau tidak perlu takut, karena aku akan menjagamu disini,"
Sesil mengangguk, perlahan ia menutup matanya, tak butuh waku lama, ia tertidur pulas, tangannya masih menggenggam tangan Reyhan walau dalam keadaan tidur. Aslinya Reyhan hendak pindah ke kamarnya, tapi dia tidak mau membangunkan Sesil agar melepas genggamnya, akhirnya Reyhan membiarkan Sesil agar terus menggenggam tangannya.
Rasa kantuk mulai menyerang Reyhan, dengan sekuat tenaga Reyhan menghalau rasa sakit itu, tapi tidak bisa, akhirnya Reyhan ikut-ikutan terlelap dengan Sesil yang berada di dekapannya.
***
Tbc
Gimana part ini?