Hujan rintik-rintik di siang bolong bukanlah sesuatu yang asing di kota yang dijuluki kota hujan ini. Di tengah kota yang selalu padat dengan transportasi umum, terdapat satu kafe yang sangat nyaman untuk sekedar duduk atau bercengkerama dengan orang lain. Di balkon lantai dua kafe tersebut, tampak seorang gadis bertopang dagu memandangi jalan raya yang begitu padat diiringi suara klakson yang saling bersahutan. Kepulan asap dari cangkir kopi yang ada dihadapannya tak begitu ia pedulikan. Rambut ikal sepunggungnya ia biarkan tergerai, menari mengikuti arah angin membawanya.
"Vero, sorry ya lama?" Tanya seorang gadis dengan rambut sebahu yang baru saja datang. Terdapat titik air di bajunya yang cukup tipis.
Gadis itu menoleh seraya tersenyum. "Eh, Ra. Santai aja kali." Ujar gadis bernama Vero tersebut.
"Kok lo kesini ngedadak banget sih, Ver? Untung hari ini gue gak kuliah sampe sore."
"Gue lagi bete aja dirumah sendirian."
"Vero..! Indrii..!!" Panggil seorang lelaki bertubuh gempal yang berjalan kearah mereka.
"Reza ih, malu-maluin deh! Kan udah gue bilang, kalo ditempat umum jangan manggil nama." Jelas Indri.
"Terus gua harus manggil kalian apa dong? Kurcaci merah jambu?" Kilah Reza.
Indri melirik bajunya dan baju Vero yang ternyata berwarna sama, merah jambu.
"Sial! Nyebelin banget sih lo." Indri meninju lengan kiri Reza.
"Za, gue tau kalo gue sama Indri itu pendek, tapi ya nggak usah diperjelas gitu dong.." ujar Vero.
"ahahaha, maapin dah, Ver." Reza lalu duduk didepan mereka. "So, jadi kenapa lo tiba-tiba datang ke Bogor hari ini? Kangen gua ya?" Tambahnya.
"Gue butuh bantuan kalian nih gengs."
Indri dan Reza hanya menatap Vero dengan santai tanpa menginterupsi sahabatnya.
Setelah yakin mereka mendengarkan, Vero melanjutkan ucapannya.
"Jadi gini, komunitas gue mau bikin acara tahunan. Dan untuk tahun ini rencananya mau ajak komunitas lain yang ada se-Jabode aja. Nah, gue denger di Bogor ini banyak banget komunitas sosial yang penggeraknya pemuda inovatif dan target mereka adalah anak yatim atau anak jalanan."
"Terus gue harus gimana?" Tanya Indri.
"Pernah denger Bogor Ngariung?"
"Kayaknya nggak asing sih. Kalo gak salah temen gua juga sering ikut ngumpul."
"Nah, kebetulan banget! Minta kontaknya dong, Za.."
"Gampang. Gua kirimin langsung." Reza mengeluarkan ponselnya dan mengotak-atiknya sekejap.
"Cuma karena itu doang?" Tanya Indri yang wajahnya kini mulai cemberut. Namun dibalas cengiran lebar Vero.
"Ngapain lo repot-repot kesini kalo cuma minta kontak doang? Padahal kan lewat whatsapp juga bisa. Bego lo, Ver." Ujar Reza.
"Dih, biarin. Bego-bego gini juga laku. Emangnya kalian? Ahahaha.."
"Serah lu dah, Ver. Cewek mah selalu benar. Kecuali Indri tapi ya."
Kira memukul tangan Reza dengan keras. "Ih, Reza mah. Kok gue lagi sih yang kena? Gue udah mencoba jadi anak baik loh ini."
"Preet! Baik dari Hongkong!"
"Yaelah, kalian kapan bisa akur sih? Hati-hati jodoh loh."
"Gua? Sama nenek lampir ini? Ogah!!"
"Dih, siapa juga yang mau sama lo? Dasar remahan keripik lo!"
"Halah, bise aje nih kembalian micin."
"Iiih, Rezaaa!!!"
Sementara itu, Vero hanya tertawa melihat tingkah konyol kedua sahabatnya itu.
Indri dan Vero sudah bersahabat sejak keduanya duduk di bangku sekolah dasar, sementara Reza baru ia kenal ketika mereka satu sekolah pas sekolah menengah atas. Meski kini mereka tidak mengambil kampus dan jurusan yang sama, tapi mereka selalu meluangkan waktu untuk sekedar bertukar cerita atau bersenang-senang melepaskan penat yang ada.
***
Vero sampai di rumah tepat jam sebelas malam diantarkan oleh Reza. Ia langsung naik ke lantai dua, dimana kamarnya berada. Setelah kepindahan orangtuanya ke Semarang bulan lalu, rumah itu kini jadi lebih sering remang-remang, bahkan terkadang gelap gulita saat ia pulang. Dari ruang tengah ia bisa melihat bayangan kakaknya yang berdiri di balkon menghadap ke keramaian kota yang terlihat jauh di depan mata.
Ketika Vero sampai di depan pintu kamarnya, sayup-sayup terdengar suara sengau kakaknya. Vero yang terusik memutuskan untuk menghampirinya sejenak sebelum masuk ke kamar.
"Kak Meira nangis?"
Meira yang terkejut saat itu lantas mengusap genangan air mata di pipinya.
"Kenapa baru pulang, Ver? Dari mana aja?" Tanyanya, mencoba mengalihkan topik pembicaraan.
"Kakak nangis kenapa sih? Jawab dong.."
Meira malah terdiam dan masuk ke dalam ruangan.
"Kak Meira putus sama kak Dito?"
Meira menggeleng. "Nggak kok. Kamu tidur aja gih, udah malem. Besok masih kuliah kan?" Meira masuk ke dalam kamarnya yang berseberangan dengan kamar Vero.
Vero menyusul kakaknya dan menahan pintu saat akan tertutup.
"Ver, kita lanjut besok aja ya? Kakak ngantuk."
"Nggak bisa, kak. Jelasin, atau Vero telepon kak Dito?"
"Jangan, Ver!"
"Jadi?"
"Sebenernya.."
"Sebenernya kenapa kak?"
"Lusa kakak tunangan."
"Iya? Wah, selamat ya kak.." ujar Vero seraya memeluk kakak semata wayangnya itu. "Tapi kok kakak malah nangis? Harusnya kan seneng karena kak Dito ngelamar kakak." Tambahnya setelah melepas pelukan mereka.
"Bukan Dito yang akan menjadi tunangan kakak."
"Hah? Maksud kakak apa? Kakak punya selingkuhan?"
"Hush! Ngaco kamu.. Gak ada ya di kamus kakak buat ngeduain orang, apalagi Dito, orang yang udah tiga tahun selalu ada disamping aku. Nemenin dikala suka maupun duka, penya-"
"Penyabar menghadapi segala sifat kakak." Seru Vero memotong ucapan kakaknya.
"Ih, kamu ya. Kualat loh ngeledekin aku."
"Bukan ngeledekin kak, tapi ya karena udah saking hafalnya apa yg mau kakak bilang."
"Ngeles mulu.."
"Terus kakak mau tunangan sama siapa kalo bukan sama kak Dito?"
"Sama anaknya temen Ayah."
"Kakak kenal?"
Meira hanya menggeleng.
"Kak Dito tau tentang ini?"
"Belum. Kakak bingung gimana ngejelasinnya. Kamu kan tau sendiri, Dito lagi nyiapin segalanya sebelum dia nikahin aku. Aku bingung.."
"Ya apalagi aku kak.." Vero terdiam menatap wajah lelah kakaknya. "Gini deh, mending sekarang kakak tidur dulu. Nanti Vero bantu cari solusinya. Oke?"
"Thanks ya, Ver. Kamu emang adik terbaik deh." Meira memeluk adiknya sekilas sebelum masuk ke kamarnya. Sementara Vero mengangguk kecil dan melangkahkan kakinya ke arah pintu balkon yang masih terbuka.
Usia Vero dan Meira hanya terpaut 2 tahun. Sehingga tak heran mereka begitu akrab. Bahkan sudah tidak ada lagi rahasia diantara mereka berdua. Kakaknya adalah seorang penyiar radio sekaligus pemilik kedai kopi dibilangan Cibubur, Jakarta Timur, yang notabene jaraknya dari rumah hanya beberapa kilometer saja. Sedangkan Vero sendiri adalah mahasiswa tahun terakhir jurusan psikologi di salah satu universitas negeri di Jakarta.
Kecerdasannya yang diatas rata-rata dan dengan diimbangi ilmunya, maka tak heran jika ia cenderung lebih dewasa dibanding kakaknya.
***
Ps: Typo berseliweran 😁