UNA (Complete)

By byndhirsm

22.5K 1.7K 198

Kalo dibuka isinya tentang hidup Una semua. Hati-hati enek karna dia banyak bacot. Kenapa? Karna ini memang b... More

Rating Untuk Pembaca | Wajib Baca!
UNA - Prolog
UNA - Chapter 1 : Siapa Una?
UNA - Chapter 2 : Kutu Item Una
UNA - Chapter 3 : Siomay Bukan Makanan Kesukaan Una Lagi!
UNA - Chapter 4 : Salah Paham Teman-Teman Una
UNA - Chapter 5 : Erga Minta Maaf Ke Una
UNA - Chapter 6 : Impian Una
UNA - Chapter 7 : Kekesalan Una
UNA - Chapter 8 : Planning Erga atau Una?
UNA - Chapter 9 : Luka Una
UNA - Chapter 10 : Misinya Una Atau Erga?
UNA - Chapter 11 : Sampai Kapan, Una?
UNA - Chapter 12 : Laporan Nisa dan Una
UNA - Chapter 13 : Malapetaka Una
UNA - Chapter 14 : Pengakuan Una
UNA - Chapter 15 : Vanessa, Nisa dan Una
UNA - Chapter 16 : Semua Sia-Sia, Una
UNA - Chapter 17 : Una Gak Bisa Nangis
UNA - Chapter 18 : Una mau jadi panitia?
UNA - Chapter 20 : Una Gak Ngerti Sama Erga
UNA - Chapter 21 : Erga Gak Kayak Biasanya, Na
UNA - Chapter 22 : Una Sakit
Hey Heyyy!!!
UNA - Chapter 23 : Una Pulang
UNA - Chapter 24 : Una Sekolah Lagi
UNA - Chapter 25 : Erga dan Una Dimata Mereka
UNA - Chapter 26 : Siapa tuh, Na?
UNA - Chapter 27 : Apa Yang Lo Pikirin, Na?
UNA - Chapter 28 : Baju Untuk Una
UNA - Chapter 29 : Make Up Untuk Una
UNA - Chapter 30 : Acara Una
UNA - Chapter 31 : Malapetaka Una " lagi "
UNA - Chapter 32 : Bukan Itu Yang Una Mau
UNA - Chapter 33 : Bunda Gak Seburuk Yang Una Pikir
UNA - Chapter 34 : Vanessa Balik, Na
Update Karna Ada Waktu
UNA - Chapter 35 : Itu Uka, Na?
UNA - Chapter 36 : Permainan Yang Gak Una Ngerti
UNA - Chapter 37 : Cerita Bimo Untuk Una
UNA - Chapter 38 : Jawaban Untuk Segala Pertanyaan Una
UNA - Chapter 39 : Kencan Una
UNA - Chapter 40 : Kejujuran Yang Una Dengar
Curhat Bentar
UNA - Chapter 41 : Perubahan Untuk Una
Bukan Update
UNA - Chapter 42 : Kebohongan Untuk Una
UNA - Chapter 43 : Vanessa Mengakui
UNA - Chapter 44 : Erga Yang Berbeda
UNA - Chapter 45 : Kecurigaan Una
UNA - Chapter 46 : Una Yang Penasaran
UNA - Chapter 47 : Una Menduga
UNA - Chapter 48 : Rencana Una dan Bimo
UNA - Chapter 49 : Kesedihan Erga
UNA - Chapter 50 : Kepedihan Erga
UNA - Chapter 51 : Rencana Una Selanjutnya
UNA - Chapter 52 : Semua Kebetulan
UNA - Chapter 53 : Pembalasan
UNA - Chapter 54 : Akhir dari semuanya
UNA - Chapter 55 : Erga kembali
UNA - Chapter 56 : Nia dan Erga diantara Una
UNA - Chapter 57 : Acara Erga dan Una
UNA - Chapter 58 : Cantik
UNA - Chapter 59 : Berdua Saja
UNA - Chapter 60 : Dansa yang Aneh
UNA - Chapter 61 : Beneran gak sih?
UNA - Chapter 62 : Pandangan Mereka
UNA - Chapter 63 : Bang Irman
UNA - Chapter 64 : Perbincangan Malam Itu
UNA - Chapter 65 : Erga Belum Tau
UNA - Chapter 69 : Broken
UNA - Chapter 70 : Bukan Urusan Una
UNA - Chapter 71 : Divorce
UNA - Chapter 72 : Menjauh
UNA - Chapter 73 : Semakin Dekat
UNA - Chapter 74 : Would You Be My Girlfriend?
UNA - Chapter 75 : Realita
UNA - Chapter 76 : Foto Buku Kenangan
UNA - Chapter 77 : Ketemu Dia Lagi
UNA - Chapter 78 : Sakit...
UNA - Chapter 79 : Sialan ya lo!
UNA - Chapter 80 : Kabar Buruk
UNA - Chapter 81 : Bunga Tidur
UNA - Chapter 82 : Petir di Siang Bolong
UNA - Chapter 83 : Erga
UNA - Chapter 84 : Waktu Itu...
UNA - Chapter 85 : Ujian
UNA - Chapter 86 : Cinta Itu Menyadari
UNA - Chapter 87 : Girls with Their Talk
UNA - Chapter 88 : Penjelasan Kembali
UNA - Chapter 89 END : Perpisahan
UNA - Epilog
UNA - Extra Part
Ucapan Terimakasih
OST. UNA
Pay Attention Please!

UNA - Chapter 19 : Ada Yang Aneh, Una

282 26 3
By byndhirsm

***

Kata-kata Dio terus terngiang-ngiang di otak gue.

Dari mana dia tau kalo gue suka sama Uka?

Gue gak berhenti mandangin Uka sama Vanessa yang lagi-lagi duduk depan-depanan sama gue di meja kantin.

Sekarang pikiran gue kacau gara-gara Dio. Pipi gue kerasa panas banget setiap kali mikirin kata-kata Dio yang seakan ngancem gue.

Kenapa Dio bisa tau?

Gue terus mainin siomay gue. Ya, akhirnya gue makan siomay lagi setelah sekian hari gue gak makan siomay karna kepikiran Uka sama Vanessa terus. Tapi sekarang malah gak napsu.

" Hei, guys! "

Gue langsung kesentak kaget pas ada yang nyapa orang-orang yang duduk satu meja sama gue. Gue reflek ngedongak dan ngeliat siapa yang nyapa.

Dan ternyata itu Dio.

" Eh! Yo! Makan makan! " sapa Afra ke Dio.

" Sip! Gue udah tadi. Gue kesini cuma mau ngomong kalo nanti ada rapat. So... Jangan sampe pada lupa ya! "

Gue natap dia dengan tatapan gak suka.

Nge-fake nya itu loh!
Jago banget!

Gue bisa liat tangan dia yang ada di bahu Uka. Sesekali nepuk untuk tanda keakraban.

" Oke sip! " kata yang lain. Kecuali gue, dan Erga.

Erga kenapa gak ngomong dari tadi ya?

Gue ngelirik Erga. Dia sekarang lagi pake headset. Keliatannya gak peduli gitu sambil main hp. Dia kenapa sih?

" Oke kalo gitu. Sampai ketemu pas pulang nanti, guys! " kata Dio yang akhirnya ninggalin meja gue. Meski mata dia masih ngeliat kearah gue.

Sialan emang Si Dio. Kenapa dia kayaknya gak suka sama gue.

" Eh gue denger-denger, luka dimuka Dio itu karna dihajar sama anak sekolah kita tau! " ini kenapa tiba-tiba Adit ngegossip sih?

" Iya! Gue juga denger dari anak-anak kalo pelakunya anak sekolah kita sendiri. " kata Afra yang jadi ikutan.

" Tunggu, emangnya Si Dio kenapa? " tanya Nisa yang jadi ikut-ikutan.

" Lah? Lo gak tau, Sa? Jadi kalo gak salah kejadiannya tuh abis yang gossipnya Erga sama Una pacaran. Pas besoknya muka Dio bonyok. Emang sih karna mungkin kelas lu di atas, jadi mungkin lu kurang tau. Anak-anak IPA pada heboh soalnya dia lebam-lebam gitu mukanya. Ya... Alhamdulillah nya dia udah mendingan sekarang. Masih rada lebam gitu sih di pipi sama dibibir. Lu liat gak tadi? " jelas Adit ke kita semua.

" Oh... Pantesan aja kok gue pas liat muka Dio gak kayak biasanya. Kayak luka-luka gitu. " kata sambil ngangguk-nganggukin kepala.

Jadi bener yang gue kira. Lebam-lebam yang di muka Dio itu karna pukulan.

" Dio sih jarang cerita. Tapi kalo yang gue tau dari anak-anak pelakunya itu anak sekolah sendiri. Pada gak tau sih kapan Dio digebukin gitu. " tambah Adit.

" Tapi gue sempet nanya juga sih ke temen-temen deket Dio. Katanya mereka kurang tau kenapa. Kayak Si Wahyu, terus Ezra, terus Aryo. Temen-temen dia yang deket kayak gitu aja gak tau. " kata Afra yang masih ngeramein pembicaraan ini.

" Gue kasian sama Dio. Kalo emang pelakunya anak sekolah sendiri, kasian juga. " kata Uka yang ikut join dalam pembicaraan ini.

" Lo juga kali, Ka. Lo inget gak, Ka. Si Dio ngasih buah ke lo karna dia prihatin sama lo? Itu kan dia selesai check up ke dokter. " kata Adit yang bener-bener bikin gue kaget.

Dio ngasih buah ke Uka?

Dia baik atau apa?

" Oh ya? Kok kamu gak cerita, Ka? " tanya Vanessa ke Uka.

" Ya... Maaf, Nes. Aku baru cerita. Iya, jadi dia ke rumah aku buat jenguk. Ya... Tiba-tiba aja gitu dia ke rumah buat jenguk. Aku sama dia juga kurang akrab. Tapi aku seneng sih dia mau jenguk aku. "

Penjelasan Uka bikin gue makin dibuat heran.

Sebetulnya Dio itu nge-fake atau apa?

Tiba-tiba Erga bangun dari kursi. Dia keliatan masih pake headset dia. Dia mau kemana?

" Lah, Ga? Mau kemana? " tanya Tian ke Erga.

Erga langsung ngelepas satu headsetnya.

" Oh... Gue mau ke kelas. Baru inget ada PR Bu Parma. Gue balik duluan ya. " kata Erga, dan gue tau itu boong.

" Wah! Cepetan, Ga. Utang lo banyak tuh! " kata Adit yang bercanda.

Erga cuma ketawa-tawa aja. Dia langsung pergi setelahnya.

Perasaan gue bener-bener campur aduk. Gue takut ada yang aneh-aneh. Padahal masalah gue sama temen-temen gue baru aja selesai. Masa mau ada masalah lagi sih?

***

Gue sama yang lain akhirnya ngumpul di aula sekolah.

Keliatan udah lumayan rame. Cuma gue gak liat Erga disini. Kemana lagi tuh orang. Mana dia tim gue lagi.

" Na, " gue langsung nengok pas Vanessa manggil gue.

" Kenapa, Nes? "

" Si Erga kemana? Kok gue gak liat dia? "

Gue cuma bisa geleng-geleng. Sebetulnya dia kemana sih?

Akhirnya Fabian mulai rapatnya.

" Oke, berhubung Dio telat datengnya. Kita mulai aja. " kata Fabian.

Pas Fabian mau lanjut ngomong, tiba-tiba pintu aula kebuka. Semua anak-anak panitia langsung nengok ke pintu, termasuk gue.

" Sorry, sorry! Gue telat. "

Gue liat Dio kayak abis keringatan gitu. Kalo dia udah dateng, terus Erga kemana?

" Nah! Akhirnya dateng juga. Yaudah kita bisa mulai. "

" Tunggu! " gue langsung ceplos buat berhentiin Fabian.

" Ketua panitia kelompok gue belom dateng. " kata gue agak ragu.

" Oh iya, bener juga. Si Erga kemana? " kata Fabian itu bertanya-tanya.

Gue ngelirik kearah Dio. Sedangkan Dio, tentu dia ngeliat kearah gue yang dengan jelas-jelas nyebutin nama Erga. Gue gak suka sama dia.

Pintu aula lagi-lagi kebuka. Gue langsung nengok kearah pintu.

Akhirnya... Erga dateng juga!

Tapi Erga gak jauh beda kayak Dio. Dia keliatan keringetan gitu. Sebetulnya mereka tuh abis ngapain sih? Bikin gue suudzon aja.

" Sorry, gue telat. " kata Erga sambil jalan kearah gue.

Muka dia keliatan kaku banget. Mata dia terus ngeliat kearah gue. Gue jadi khawatir gini sama dia.

Erga langsung duduk di sebelah gue.

" Lo abis dari mana sih, Ga? " tanya gue sambil bisik-bisik.

" Maaf, gue ada urusan bentar. " jawab dia. Nada bicaranya itu, keliatannya dia abis marah.

" Yaudah, kita bisa mulai sekarang? "

Selesai rapat, gue sama Erga langsung ke parkiran. Erga dari tadi gak ngomong sama sekali. Dia kenapa sih?

Erga langsung ngeluarin motornya. Setelah dia naik, dia langsung ngasih helm dia buat gue.

" Ga, " panggil gue.

" Hemm... " jawabnya aja males-malesan kayak gitu.

" Lo kenapa sih, Ga? Kok dari rapat mulai sampe selesai lo diem aja? Lo... Marah ya sama gue? " tanya gue agak ragu.

Dia gak jawab. Malah keliatan kayak diem gitu sambil mandang lurus kedepan. Dia kenapa sih.

Gue nyentuh pundak dia. Pelan-pelan gue tepuk beberapa kali.

" Ga? " panggil gue lagi.

" Hemm... " tuhkan... Nih anak bengong deh.

" Lo kenapa sih? Gue tanyain, malah bengong. " kata gue dengan nada kesel.

" Gue gapapa. Udah, naik. "

Tuhkan. Aneh deh.

Selama perjalanan balik, dia juga gak ngomong. Malah makin bikin gue khawatir. Kenapa sih lo, Ga?

" Ga? "

" Hemm... "

" Lo marah ya sama gue? Kok diem aja? "

" Gak, Na. "

Singkat gitu jawabnya.

" Ga, gue mau nanya deh. "

" Hemm... "

Tuhkan.

" Lo... Pernah gak, cerita sama orang lain kalo... Gue suka sama Uka? "

Tiba-tiba Erga langsung ngerem mendadak. Otomatis gue langsung meluk pinggang dia sekenceng mungkin. Gila! Erga mau gue mati ya?!

" Erga! Lo tuh ya! "

" Gue gak pernah ngasih tau siapapun. Jangan pernah ngira gue pernah ngasih tau orang lain soal lo yang suka sama Uka. Cuma gue yang tau, Una! "

Gue langsung mati kutu pas Erga ngomong kayak gitu. Perlahan gue lepas pelukan gue dari pinggang dia. Gue takut, Erga lagi marah besar.

" Ma-maaf, Ga. Gue... Cuma nanya kok. Gue percaya kok sama lo. "

Dia gak jawab. Dia langsung jalan gitu aja.

***

Setelah pulang tadi, Erga susah gue hubungin.

Gue telfon gak diangkat, gue chat gak dibales. Sebetulnya kemana sih dia?

Aduh... Jangan bikin gue gila buat nyari lo doang dong, Ga!

Apa... Ini rasanya jadi Erga ya yang nyariin gue sampe kayak orang gila?

Aduh... Ga, lo tuh kenapa sih?

" Una! "

Kok itu kayak suara...

" Na! "

Erga!

Gue langsung lari dan nengok dari jendela.

Erga!

Muka dia kenapa?!

Gue langsung keluar dari rumah pohon gue dan pelan-pelan turun dari rumah pohon.

Gue langsung lari ke Erga. Spontan gue pegang wajah dia yang sekarang penuh luka, lebam, dan darah yang ngalir dari pelipis dan sudut bibir dia.

" Erga! Lo kenapa?! " kata gue yang udah bener-bener panik.

Dia gak jawab pertanyaan gue. Tapi tiba-tiba dia meluk gue.

Erga...

Meluk gue?

Dia meluk gue. Erat banget. Gue gak tau kenapa dia meluk gue seerat ini. Tapi gue rasa dia... Kayak ada masalah. Masalah yang berat banget.

" Na, maaf ya. Gue masuk gitu aja tanpa izin. Soalnya pagernya gak dikunci. Terus Papa, Mama, Bunda Alya juga gue panggilin gak ada yang nyaut. "

" Semuanya lagi pada pergi, Ga. "

Dia masih meluk gue. Gue biarin dia meluk gue. Gue yakin dia lagi ada masalah.

" Na, kalo... Nantinya ada sesuatu yang nimpa kita. Gue mohon, lo... Percaya sama gue. Cuma lo, cuma lo yang gue percaya. "

Kata-kata dia bikin gue nyesek.

Sebetulnya lo kenapa, Ga?

" Lo jawab gue dulu. Lo kenapa, Ga? Kenapa sampe babak belur gini? " tanya gue sambil coba untuk ngelepasin pelukan dia, tapi dia nahan dengan kuat.

" Jangan dilepas, Na. Satu menit aja. Gue... Capek. "

Kenapa yang gue denger dari Erga dia kayak bukan cuma luka di luar aja. Tapi luka didalem juga.

" Gue sayang, Na. Sama lo. "

Aduh... Si Erga kenapa sih?

" Iya, Ga. Gue juga sayang sama lo. Kan lo temen gue. "

" Seandainya rasa sayang yang gue dapet dari lo bisa lebih. "

Maksudnya?

***

Part ini gue bikin diiringi lagu Did That Hurt? dari Danny Elfman untuk soundtrack film Fifty shades of Grey yang gue rasa cocok untuk awal-awal part. Sedangkan untuk scene akhir gue diiringi lagu The Scientist dari Coldplay.

I hope you like it!

Happy reading! 💕

Continue Reading

You'll Also Like

39.8K 1.8K 36
Sebuah pertanyaan. Bagaimana caranya untuk bahagia? . . . Seorang perempuan yang hidup tanpa kebahagaiaan, kini mendapatkannya dengan mudah. Carany...
2.8M 170K 56
[Completed] Kisah seorang Edlynne Kalaya Andromeda. Kalaya, gadis kecil berkulit putih pucat, bermata hazel terang, rambut tebal panjang dan lurus...
131 15 10
[FOLLOW SEBELUM BACA] CERITA ORIGINAL HANYA ADA DI AKUN : moonskyther, selain itu berarti PLAGIAT. BLURB : Kehidupan selalu memiliki misterinya se...
161K 15.9K 59
💢Stop plagiat "Aku hanyalah rumah yang tak pernah dipilih untuk pulang." "Hidup tanpa bisa mengingat apapun, apa masih bisa disebut hidup?" Karel tu...
Wattpad App - Unlock exclusive features