Morphine | OngNiel

By Ongkang75

142K 15.7K 2.9K

Kang Daniel x Ong Seongwoo Ong morphinenya Daniel, begitu juga Daniel morohinenya Ong . Perjalanan anak-a... More

INTRO
Chapter 1: Limelight
Chapter 2: Hong?
Chapter 3: Sempurna?
Chapter 4: Ong in Crisis
Chapter 5: Ga Wajar
Chapter 6: BAPER
Chapter 7: SKIP A BEAT
Chapter 8: Hate Being Alone
Chapter 9: Daddy's Secret
Chapter 10: Pemeran Utama
Chapter 11: Yesterday
Chapter 12: Awkward
Chapter 13: Untung ada Stalker
Chapter 14: 100.000 Won
Chapter 15: SEWOT
Chapter 16: Leaked
Chapter 17: Stolen
Chapter 18: Melted
Chapter 19: Momen Bersama
Chapter 20: THE ACT
~ end of part one ~
Chapter 21: Gabut!
Chapter 22: Di Gantung
Chapter 23: Over the Rainbow
Chapter 24: CONFUSED
Chapter 25: Declaration
Chapter 26: Posesif
Chapter 27: Bobo Siang
Chapter 28: Piece of Danik's Childhood
Chapter 29: Nafsu Birahi vs Cinta Tulus
Chapter 30: Stay with Me
Chapter 31: Drunk
next chapter announcement
Chapter 32: Come and Go
Chapter 33: Ciluk Ba!
ENERGETIC MV IS OUT!!!
Chapter 34: Bohong? Bercanda? Beda Tipis.
Chapter 36: Betrayed
Chapter 37: Seongwoo's Choice
Chapter 38: The Truth
Chapter 39: 10 Years Old Seongwoo
Chapter 40: Morphine
Book 1 END: Explanation
Chapter 41 | 01 Going Back
UPDATE & Tuker Album Wanna One
Q&A

Chapter 35: Bargain

1.8K 230 102
By Ongkang75

siapa yg beli albumnya???


Sakit kepala. Terdapat aroma yang menusuk tajam saluran pernapasan, membuat seketika itu juga hilang kesadaran.

Itulah terakhir yang dapat teringat, sebelum akhirnya kini terbangun dalam kegelapan.

Tidak ada cahaya yang dapat ditemukan oleh mata. Saat ini pemuda itu dapat merasakan dirinya sedang terduduk bersandar pada sebuah kursi. Masih sakit kepalanya tak mampu berfikir dengan jernih.

Berusaha untuk menyentuh keningnya, pemuda itu bermaksud untuk menekan-nekan sumber rasa sakit yang menerpa bagian kepala. Namun tak bisa dirinya menggapai itu, karena saat ini kedua tangannya terikat tak bisa bergerak pada kaki-kaki kursi.

Seongwoo, pemuda malang yang tidak mengerti apa maksudnya ini, berusaha menarik tangannya keluar dari simpul tali itu. Tapi percuma, nampaknya sampul ini terlalu ketat dan sempurna.

Seongwoo tidak dapat menemukan celah, namun ia dapat merasakan suhu pada ruangan itu dingin. Begitu dingin tubuhnya seperti daging dan darahnya akan membeku. Nafasnya tidak lagi terasa hangat, sesak dadanya membautnya sulit nernafas. Seperti ada embun yang kini melapisi paru-parunya. Sudah ada ikatan juga yang melingkar pada bagian dadanya.

Kaki-kaki Seongwoo saat ini juga tidak bisa ia gerakan, semua gerakannya terkunci. Pada suhu sedingin ini, Seongowo bisa merasakan tubuhnya begitu kaku. Kesemutan, kata yang tepat untuk medeskripsikan keadaan tubuh Seongwoo saat ini.

Bau.. bau ini seperti bau daging dan darah. Mengidentifikasi dari keadaan ini, Seongwoo mengetahui dimana ia berada sekarang.

Saat masih berusaha menerka-nerka apa yang terjadi, terdengar ada suara gema dari arah depannya. Lampu ruangan itu menyala perlahan, dari ujung ruangan di depan Seongwoo, terus bergilir hingga lampu yang berada tepat diatas Seongwoo.

Cepat ia harus menutup kelopak matanya, karena cahaya yang masuk ke dalam matanya terlalu kontras dengan keadaan sebelumnya.

Seongwoo perlahan membuka matanya, ia dapat melihat sekelilingnya dipenuhi daging ikan yang sedang dibekukan. Seongwoo tidak terlalu terkejut, namun kepalanya saat ini sudah tidak lagi mampu berpikir jernih lebih jauh. Matanya mulai sakit, dan giginya menggigil. Ia berada disini sudah terlalu lama.

Dari depan masuklah orang-orang berpakaian setelah hitam jas, dengan seseorang yang berpakaian berbeda, sedikit mencolok berwarna cokelat masuk ke dalam ruangan itu. Ruangan pembeku daging.

"Hoaaa.. neomu juowoyoo.." (dingin sekali). Itu kata sambutan yang Seongwoo dapat dari orang-orang tersangka yang telah menculiknya ini.

Seongwoo tidak bisa memberikan ekspresi lain, selain amarah. Ia berusaha menggerakan tubuhnya, berusaha melepaskan dirinya dari ikatan itu.

"Eitt... eitt.. eittss... pelan-pelan sayang.." ujar orang itu disana, berdiri di tengah dan di depan, nampak seperti pemimpin diantara mereka semua.

"Kau.. Ong Seongwoo..? nama mu unik." ujar pria itu kemudian duduk pada kursi lipat yang disiapkan oleh pria lainnya dengan setelan jas hitam.

"Sangking uniknya, bukankah itu nama buatan?" tanya pria tersebut pada Seongwoo, menatap lekat kulit wajah Seongwoo yang membiru.

"Kau salah orang.." ujar Seongwoo acuh. "Aku bukan berasal dari orang kaya, percuma kau meminta uang tebusan atau semacamnya."

Kata-kata Seongwoo itu sontak membuat orang tersebut tertawa,

"HAAA? Kayaa..? aku tidak membutuhkan itu sayang. Kau tau? Nilai dirimu itu lebih dari yang kau kira.." ujar sang pria itu di balas Seongwoo dengan tatapan tak mengerti.

"Well.. bagaimana aku harus menjelaskannya yaa.." tanya pria itu pada dirinya sendiri. Sedang melipat tangannya di depan dada. Pria itu nampak memiliki rambut abu-abu, ia mengenakan setelan jas warna cokelat dan dari wajahnya ia terlihat sebagai orang dengan tipe yang banyak bicara dan penuh omongan kosong.

"Well.. mungkin kau akan tertarik dengan hal ini, aku mengenal siapa ayahmu.." ujar pria itu.

Mendengar itu Seongwoo sama sekali tidak berkutik, ia tidak pernah mengingat bagaimana ayahnya meninggal. Tapi yang Seongwoo tau waktu itu hanya kecelakaan, dan sejak saat itu hidup Seongwoo berubah dengan ibunya. Seongwoo berusaha untuk tidak memberikan perubahan ekspresinya.

"Tidak tertarik?" tanya orang itu sambil memperhatikan kuku-kukunya.

"Well.. bagaimana kalau aku bilang aku tau kenapa ayahnya mu meninggal, dan siapa yang membunuh ayahmu." ujar pria itu seakan mengetahui isi pikiran Seongwoo.

"Aku juga tau alasan sebenarnya mengapa kau sekarang hidup bersembunyi, yang ibumu pun tidak pernah sanggup untuk menceritakannya padamu."

Seongwoo masih terdiam. Pria itu masih menunggu Seongwoo untuk memberikan ekspresi terkejutnya.

"Apa? Kau tidak tertarik? Yaa!! Apakah kau benar mengantarkan orang yang tepat?" protes pria itu kepada mereka, orang-orang berpakaian hitam yang berdiri di belakangnya.

"Benar tuan.." ujar salah satu dari mereka.

"Well.. bila dilihat-lihat kau memang mirip ayahmu." balas orang itu lagi.

Seongwoo sedang mencampur aduk pikirannya, dari siapa orang ini, apa yang dia mau, dan bagaimana keluar dari tempat ini. Mirip ayahnya dia bilang?

"Okee.. kalau gitu biar aku langsung beri tau kepada kamu, sebuah... kejutan..." ujar pria itu menunduk memangku dagunya seperti berpikir.

"HOAAAA!!" tiba-tiba pria itu berteriak, bermaksud untuk menakut-nakuti Seongwoo.

"HAHAHAHAAA.. dasar bocah sombong, tidak bergerak sama sekali. Refleksmu kurang baik sepertinya."

"Refleksku baik-baik saja sampai kau meninggalkanku di tempat dingin ini."

"Aku? Bukan aku, tapi kau seharusnya marah kepada orang-orang ini," ujar pria itu menunjuk pada orang-orang berjas hitam. "Mereka yang mengurungmu disini," ujar pria itu.

"atas perintahmu." balas Seongwoo.

"Well.. tepat, tapi kurang tepat. Kau tau, ada orang yang lebih besar dan penting yang terlibat dalam hal ini. Aku hanya sebagai pegawai baik yang nurut, tidak seperti ayahmu." ujar pria itu sontak membuat Seongwoo kesal mendengarnya.

"Kau tau.. ayahmu dibunuh saat di Busan, dan saat itu ia dibunuh karena dijebak oleh sahabatnya sendiri untuk menjadi gubernur Busan," pria itu menjelaskan sambil menatap lurus ke arah Seongwoo.

"Aku ingat waktu itu aku masih bekerja dibawah ayahmu, namun hal sepertinya tidak berjalan sebagaimana yang diharapkan. Ayahmu memang bejat waktu itu sampai harus menjualmu kepada orang itu, sang sahabatnya sendiri. Kau tau mereka terlibat dalam jaringan penjualan anak dibawah umur. Sebenernya tidak sepenuhnya salah ayahmu, saat dia harus membiarkan kamu dijual agar dirinya tetap selamat."

Penjelasan itu jelas membuat Seongwoo terhentak terkejut dengan fakta-fakta yang dikeluarkan oleh orang itu. Di suhu yang rendah ini, Seongwoo teringat akan kejadian di Jembatan Gangnam, saat dirinya dan Daniel kesana, saat itu ia ingat bahwa memori-memori kecil muncul dalam benaknya. Trauma dan kepedihan.

Mendengar penjelasan orang itu, Seongwoo tertegun. Ia kini mengenal akan memori itu, ayahnya waktu itu sedang menjual Seongwoo di jembatan, dekat sungai Han. Ia ingat 9 tahun lalu, disaat tengah malam, ayahnya menyerahkan dirinya pada seseorang, dan ia masuk ke dalam sebuah mobil sedan dan kemudian dengan cepat mobil itu pergi meninggalkan ayahnya yang masih berdiri di pinggir sungai Han, dibawah jembatan. Seongwoo teringat bagaimana dirinya terus menatap pada jendela mobil belakang, menangis terus memanggil ayahnya.

Seongwoo yang sekarang, kini masih terduduk disana. Air matanya menetes saat itu juga, mengingat memori itu, memori yang saat ini sudah ia kenali.

"Wae...? kenapa aku dijual?" tanya Seongwoo dengan tatapan kosongnya ke arah bawah. Ia tidak tau hidupnya tidak seberharga itu bahkan oleh ayahnya sendiri.

"Sedikit sulit untuk dijelaskan. Intinya sekitar 10 tahun lalu, keadaan tidak semudah yang dibayangkan. Ayahmu terlibat dalam sebuah kekuasaan yang memaksanya harus bekerja kotor. Malang nasib ayahmu ketika ia terbunuh, sedangkan saat ini sahabatnya sedang menikmati kekayaannya, Kang Jongin."

"Apaa.. maksudmu?" - Kang Jongin? Terdengar cukup familiar bagi Seongwoo.

"Kau tau, Kang Jongin dan ayahmu saat itu ada diposisi yang sama. Mereka adalah anak buah dari mafia dan juga pendukung politik calon presiden saat itu. Namun mereka melakukan kegiatan gelap dengan koneksi politiknya, yaitu mereka melakukan jual beli anak."

Seongwoo tertegun mendengarnya. Ayahnya melakukan hal seperti itu? Untuk mencari nafkah?

"Namun karena satu dan dua hal, mereka kemudian kekurangan anak untuk dijual. Karena sudah mepet waktunya, Jongin cukup licik memanipulasi ayahmu untuk menjual dirimu dan kemudian mengkhianati ayahmu. Karena suasana politik saat itu memanas akhirnya ayahmupun dituduh sebagai orang yang telah menjual anaknya sendiri pada publik dan dikenal sebagai dalang di balik penjualan anak korea selama 5 tahun. Ayahmu kemudian dibunuh, karena sahabat ayahmu itu menjebak dirinya. Padahal dia sudah mengkorbankanmu untuk menyelamatkan dirinya sendiri."

"Apaa..?" Seongwoo tidak tau harus marah, sedih, atau apapun itu sekarang. Dia tidak tau ayahnya bisa sampai memperlakukan dirinya seperti itu. Seperti tidak ada harganya, untuk menyelamatkan dirinya sendiri. Orangtua macam apa?

"Kejadian menarik adalah hal selanjutnya. Sahabat ayahmu itu bukannya membawamu ke pasar gelap bersama anak-anak lainnya, namun kau malah dibawa olehnya. Menjadi bahan cabul dan pemuas sex sesama jenis dirinya. Ia sepertinya punya penyakit pedofilia karena lama-lama bekerja sebagai pemasok penjualan anak." ujar pria itu lagi berhasil membuka selembar demi selembar memori Seongwoo.

Seongwoo mengingis kesakitan, sakit dan takut. Trauma itu kembali kepadanya. Iaa.. ia ingat saat menjadi objek sex oleh sahabat ayahnya itu. Seongwoo ingat bagaimana orang itu menimpa tubuhnya, memaksanya melayani nafsu sex orang itu. Seongwoo... Seongwoo ingat semua rasanya, rasa sakit, rasa pedih, dan rasa pasrah itu.

Seongwoo ingat memori itu, memori yang muncul saat malam tahun baru bersama Daniel kemarin. Seongwoo, tidak bisa menahan tangisannya saat trauma dan memori itu kembali menghantuinya.

"Wooo.. woo... wo... tidak perlu menangis seperti itu." ujar pria disana memberikan tissue pada Seongwoo.

Namun tidak ada balasan ramah dari Seongwoo. Saat ini wajah Seongwoo sudah dilumuri tangisannya. Isakannya membuat dirinya semakin sesak nafas di tempat itu. Banyak yang tidak dimengerti oleh Seongwoo, nampaknya cerita orang itu tidak semua terhubung antar titik satu dengan titik lainnya. Seongwoo tau, tidak seharusnya ia percaya begitu saja pada kata-kata orang ini. Namun ucapan orang itu seperti tepat mengenai sasaran, seakan menarik memori Seongwoo keluar satu persatu. Bila tidak ada memori baru yang muncul setiap menitnya, memori yang ada itu akan terulang-ulang terus dalam otak Seongwoo. Membuat dirinya harus terus menahan rasa sakit itu, rasa trauma yang timbul dari kejadian masa lalu.

"Semenjak itu kau jadi aib yang tersembunyi bagi sahabat ayahmu itu. Dia membunuh ayahmu, dan menyembunyikan dirimu dan ibumu. Bahkan ibumu juga tidak mengetahui kejadian ini. Ia berusaha menyembunyikan ini untuk menjaga nama baiknya," ujar pria itu lagi kembali ke kursinya, sambil menggunakan tissue yang ditolak Seongwoo itu untuk menghembuskan ingus yang kini sudah keluar dari hidungnya.

"Woahh.. disini dingin sekali. Aku tidak tau bagaimana kau bisa tahan disini." ujar pria itu di balas dengan tatapan tajam Seongwoo saat ini.

"Kau punya satu kesempatan untuk membalaskan dendammu. Terserah membalas dendam ayahmu dibunuh, atau membalas dendam karena pelecehan, atau karena telah membuat hidupmu seperti ini. Tapi aku bisa membantumu bila kau mau menjadi saksi untuk menjatuhkan dia. Mengungkap segala keterlibatan dia. Kau satu-satunya saksi hidup yang masih ada." ujar pria itu masih diberikan tatapan benci oleh Seongwoo.

"Jangan menatap aku seperti itu, aku sengaja menunggumu berumur seperti ini, agar kau siap. Harusnya kau berterima kasih kepadaku yang telah membantumu mengetahui kebenaran sebenarnya, yang tidak ada orang yang berani mengakuinya. Kau adalah korban disini, dan aku adalah malaikat yang membantumu," ujar pria itu mendekat pada Seongwoo lagi.

Ia menaruh tangannya pada dagu Seongwoo.. "fakta berikutnya akan benar-benar menyakitkan..." ujar pria itu menatap Seongwoo dengan ekspresi malang.

"Kau siap?" tanyanya denan senyum mengejek yang benar-benar membuat Seongwoo ingin meludahi orang tersebut.

"Sahabat ayahmu itu adalah... ayah kekasihmu sendiri,"

..

deg

..

deg

..

Heningg... Seongwoo merasakan dirinya seperti tersambar petir. Ada trisula yang menusuk tepat di hatinya. Ia tidak bisa berpikir jernih karena syaraf otaknya saat ini sudah seperti mati membeku. Dirinyaa... ia tidak bisa percaya begitu saja kata-kata orang ini.

"Tidakk.. tidak mungkin...." Seongwoo berusaha meyakinkan dirinya sendiri.

"Well.. kau bisa memeriksa berita-berita yang ada di internet.. Agar mungkin kau lebih percaya.." ujar sang pria itu menepuk pipi Seongwoo. "Intinya, dia bisa sampai saat ini karena dirinya telah mengkhianati ayahmu. Bertindak bagaikan pahlawan, menikmati semua pujian, dan semua kesempatan untuk menjadi kaya dan berpolitik. Itu semua karena ia mengkhianati ayahmu, dan membuat hidupmu seperti ini."

"Ingat, namanya Kang.. Jong...in" lanjut orang itu, memberikan penekanan pada setiap patahan nama orang itu, orang yang telah membuatnya hidup seperti ini, orang yang ternyata adalah ayah dari orang yang selama ini selalu bersamanya, ayah kekasihnya. Kang Daniel.

Orang itu melepaskan tangannya pada dagu Seongwoo. Sontak kepala Seongwoo langsung jatuh begitu saja lemah.

Kata-kata pria itu membuat mata Seongwoo terbelakak lebar akan fakta menyakitkan. Seongwoo tidak tau harus percaya atau tidak, namun sejauh ini semua kata-kata orang itu masuk akal. Sejalan dengan memori Seongwoo yang hilang namun saat ini perlahan muncul. Seongwoo benci, benci akan dunia, benci terhadap orang-orang dengan kekuasaan yang menindas orang-orang kecil, orang-orang yang tidak punya harapan.

"Aku akan memberimu waktu, bila kau mau untuk membantuku menjadi saksi dan melawan orang itu. Kemudian kau juga jangan bilang pada siapapun masalah ini. Bila ada yang tau, mungkin aku tidak akan segan harus kehilanganmu dan membunuhmu. Aku disini hanya membantumu untuk membalas dendam, dan menjatuhkan si brengsek Kang Jongin." orang itu kini sedang memeriksa ponselnya.

"Hmm.. tidak ada signal disini, ngomong-ngomong karena kemarin kau keburu ketahuan diculik. Karena orang-orang bodoh ini," ucap orang itu sambil memukul salah satu kepala orang disana dengan ponselnya.

Seongwoo sangat tidak menyukai bagaimana cara orang itu berlaku. Tidak menghargai orang lain. Meski orang itu adalah orang yang menculiknya. Tapi seperti ayahnya, orang-orang itu terpaksa melakukan hal ini kan? Karena pekerjaan, uang, dan kekuasaan.

"Bila nanti kau kembali pada teman-temanmu, dan mungkin.. kekasihmu.." kata-katanya berhenti. Seongwoo langsung merasakan ada sesuatu hal yang tidak mengenakan. Apa katanya? Mungkin?

"Aku rasa kau bisa bilang kau salah diculik. Seperti kata-katamu pertama kali. Lagipula untuk apa menculikmu yang bukan siapa-siapa, benarkan?"

Kata-kata orang itu, kembali menusuk Seongwoo memberikan contoh nyata akan orang kecil tidak berdaya seperti Seongwoo, tidak akan dianggap atau diperhitungkan di dunia ini. Bahkan oleh orang rendah seperti mereka ini. Namun semua ini terlalu sulit untuk Seongwoo hadapi, ia selalu berusaha selama ini, dan hanya ingin hidup baik. Namun fakta dan sakit ini malah muncul kembali. Yang terburuk adalah, justru latar belakang orang yang ia cintai, Kang Daniel adalah penyebab dari semua penderitaan yang ia alami selama ini.

Orang itu membalikan badannya, memberikan gestur tangannya kepada orang-orang bawahannya. "Well.. aku rasa kita bisa melepaskan dia sekarang.. Keluarkan dia dari sini sebelum ia bunuh diri dan menjadi daging beku."

Seongwoo masih terdiam, tatapannya kosong. Ia benar-benar tidak tau harus berbuat apa ketika ia keluar dari sini. Rasanya saat ini bila harus memilih, Seongwoo rela untuk tinggal di ruang pendingin terkutuk ini di banding untuk menghadapi lagi dunia luar.

Orang-orang itu kemudian melepaskan ikatan Seongwoo. Seongwoo masih terduduk disana menunduk, ia tidak dapat merasakan lega sama sekali ketika ikatan itu terlepas dari badannya. Ia berusaha merasakan pergelangan tagannya yang membiru. Sulit ia gerakan, sesulit tubuhnya bergerak, sulit pikirannya saat ini berpikir jernih, dan sulit saat ini dirinya mengerti perasaan yang sedang bercampur aduk. Ayahnya, ayah Daniel, ibu, dan Daniel..

Mereka mendorong Seongwoo, berjalan menelusuri tangki pendingin daging ini. Ia kemudian terhenti saat ia sekarang berdiri di belakang pria yang dari tadi berbicara, saat ini sedang memegang gagang pintu keluar.

"Ingat, aku akan datang lagi padamu, walau di Seoul akan lebih sulit karena itu area kekuasaan ayah kekasihmu. Tapi well, aku akan berusaha bila kau bisa memberiku kabar yang baik."

Seongwoo benar-benar ingin melayangkan pukulannya pada wajah orang itu. Namun semua jaringan tubuh untuk bergeraknya, otot-otot Seongwoo, dan seluruh sendinya saat ini sedang mengilu kaku. Ia tidak mampu untuk fokus mengumpulkan kekuatannya.

"dan Ingat, jangan beritau siapapun tetang ini." ujar pria itu kemudian membuka pintu tanki pendingin it. Berjalan keluar lebih dahulu, dan membiarkan Seongwoo dibawa oleh pria-pria berpakaian hitam itu. Mereka pergi kearah berlawanan, Orang itu sedang memperhatikan Seongwoo, sang bocah malang.

Bocah itu berjalan, tubuhnya didorong oleh orang-orang berpakaian hitam itu, nampak bibirnya pucat. Ada aliran air mata yang seperti membeku menghiasi pipinya, matanya merah, nampak lebam dibawah matanya itu.

Seongwoo berhenti sejenak, menyesuaikan tubuhnya yang membuat sakit sekujur tubuhnya ketika ia melangkah. Syaraf-syaraf dan semua jaringan tubuhnya seakan meleleh ketika terkena sinar matahari siang.

Seongwoo masuk ke dalam mobil, mobil yang berbeda dengan orang tadi yang kemudian masuk ke mobil yang berbeda. Seongwoo kemudian diantarkan dengan mobil hitam sedan itu ke stasiun terdekat.

Kosong.. Seongwoo menatap kosong kebawah. Selama perjalanan ia hanya bisa mengulang memorinya, dan kata-kata orang itu. Kebenaran? Seongwoo masih harus mengkonfirmasinya. Namun kepada siapa? bagaimana ia bisa mendapatkan kebenaran itu?

Ibu? Tidak mungkin..

Mereka meninggalkan Seongwoo di salah satu halte bus, memberikan beberapa receh uang untuk Seongwoo kembali menaiki transportasi umum untuk kembali ke hotel.

Seongwoo menyimpan tangannya di dalam kantong celananya setelah memasukan beberapa uang receh ke dalam mesin bus itu. Ia berjalan untuk mencari kursi yang kosong. Sejauh ia memandang orang-orang nampak sibuk sendiri dengan urusannya masing-masing. Namun ada satu bocah yang terus menatapnya, seakan tertarik dengan wajah Seongwoo yang nampak masih tertinggal rasa dingin yang mebuatnya menggigil.

Seongwoo duduk disana di kursi paling belakang. Ia dapat merasakan ada getaran di celananya. Ia kemudian meronggoh isi kantornya itu dan mengambil keluar ponselnya.

Dingin.. layar ponselnya itu berembun. Seongwoo berusaha menyapu layar ponsel pintarnya itu. Fakta bahwa barang itu adalah pemberian Daniel, secara tidak langsung itu adalah pemberian ayahnya Daniel juga.

Seongwoo memperhatikan sudah ada rentetan nomor telepon dari kontak yang satu-satunya ada di ponsel Seongwoo. Panggilan tidak terjawab. Ada sekitar lebih dari 50 kali sepanjang malam sampai pagi ini.

Pukul 09.00 pagi. Delapan jam sudah nampaknya Seongwoo menghilang. Getaran ponselnya itu tidak dapat dirasakan Seongwoo sebelumnya karena suhu dingin membuat tubuhnya kaku, atau mungkin Seongwoo tadi terlalu terlarut pada ucapan pria itu. Atau memang signal tidak bisa masuk kesana, apalagi itu adalah ruangan yang dilapisi besi untuk menyimpan daging. Seongwoo ingat bagaimana gelap dan tanpa celahnya ruangan itu. Signal sepertinya tidak berhasil masuk kesana.

Entah benar atau tidak, namun Seongwoo benar-benar merasa dirinya sangat tidak berharga.

Seongwoo menerima panggilan,

Daniknya Owong is calling..

Seongwoo tidak tau harus mengangkatnya atau tidak. Daniel pasti saat ini sedang khawatirkan?

Belum sempat Seongwoo memutuskan, namun panggilan itu sudah menghilang. Seongwoo lalu memperhatikan seluruh notifikasi panggilan itu. Nampak lebih dari 50 panggilan tidak terjawab, semua berasal dari nomor yang sama. Terlihat dari jamnya, nampaknya Daniel tidak tidur semalaman.

Beberapa ada panggilan dari nomor yang tidak dikenal. Seongwoo juga membaca notifikasi GARIS dia, dan juga ada beberapa pesan sms yang masuk.

02.57 AM "Owongg.. kalau baca ini please kabarin Danik."

05.24 AM "Siapapun lu yang nyulik Seongwoo, lu gak akan selamat.."

06.02 AM "Seongwoo tenang aja, Danik pasti bakal nemuin Owong.."

08.31 AM "Siapapun yang berurusan sama Ong Seongwoo, berususan juga sama Kang Daniel! sebelum lu nyesel, balikin Seongwoo segera! Apapun yang lu mau! Tapi jangan apa-apain Seongwoo. pleassee... Owong bales Daniikk.. please..."

09.02 AM "Gue akan lakuin apapun yang lu mau, please balikin Ong Seongwoo.."

Ada tetesan air mata jatuh mengenai ponsel itu. Seongwoo tidak bisa menahan seluruh hangat hatinya ketika ia membaca pesan-pesan itu. Memang bodoh, tapi itu benar-benar pesan dan harapan Daniel untuk Seongwoo, untuk bisa nemuin Seongwoo. Daniel saat itu sudah pada titik jenuhnya, sampai ia harus menyerah begitu saja.

"Danik.." Seongwoo memanggil namanyaa sambil terisak.

Ia meremas tangannya pada ponsel itu..

Saat itu juga panggilan masuk, ponselnya bergetar di kuatnya remasan tangan Seongwoo yang saat itu sedang mengeluarkan seluruh emosinya.

Panggilan dari orang yang sama.

Daniknya Owong is calling..

Seongwoo dengan cepat menekan tombol hijau disana, namun Seongwoo tidak sanggup mendekatkan ponsel itu pada bibirnya. Tangannya kini terlalu lemah untuk hanya sekedar mengangkat ponselnya itu. Seluruh emosinya sudah memuncak, tetesan air mata jatuh bertubi-tubi.

Seongwoo hanya bisa terisak, ia menangis. Entah kenapa pedih sekali rasanya, rapuh hati dan seluruh perasaannya. "Danikk.." suara Seongwoo terdengar dari kejauhan.

"Dan.. Danik..." suara Seongwoo terbata-bata, "Danik tulus kan cinta sama Owongg..?" tanya Seongwoo pada ponsel itu, pada ponsel yang tidak berdering, pada ponsel yang kini dihujani air mata, pada ponsel yang tidak mengeluarkan cahaya, karena saat itu juga ponsel Seongwoo mati begitu saja, berubah menjadi gelap.

Baterainya.. baterai ponsel Seongwoo...

habis.

...

to be continue..

Ini lucu bgt OngNiel selalu bareng dan ditakdirkan bersama

MON 7' AUG 11 AM - Chapter 33: Bekas-Bekas (Leftovers)

TUE 8' AUG . 11 AM - Chapter 34: Bohong? Bercanda? Beda Tipis

WED 9' AUG - 11.00 AM - Chapter 35: Bargain

THU 10' AUG - 11.00 AM - Chapter 36: Betrayed

FRI 11' AUG - 11.00 AM - Chapter 37: ???

FRI 11' AUG: 11.00 PM - Chapter 38: ???

SAT 12' AUG - 11.00 AM - Chapter 39: ???

SAT 12' AUG - 11.00 PM - Chapter 40: ???

SUN 13' AUG - 11.00 AM - End of Part 2.

THANKS GUYS!

Continue Reading

You'll Also Like

236K 27K 27
COMPLETED Ini hanya tentang Sunoo, seorang lelaki bak matahari tenggelam yang bersinar indah dibalik ketidaksempurnaannya. Start : July 6, 2021 ...
66.7K 5.7K 26
Jake hanya berniat menolong Sunghoon, memberikan perhatian yang seharusnya bisa membuatnya merasa dihargai. Namun, tanpa disadari, perhatian itu mula...
29.7K 253 1
Satu malam yang tak terencana mengubah hidup Park Sunghoon, seorang CEO muda yang berkuasa, dan Jake Sim, seorang remaja 16 tahun yang polos. Ketika...
55.5K 9.5K 26
'Sesungguhnya ku.. berpura pura Relakan kau pilih cinta yang kau mau' -Tangga-Utuh Seonho yang emang baru baru ini deket banget sama Guanlin harus me...
Wattpad App - Unlock exclusive features