Round and Round [COMPLETED]

Por deyrubydey

128K 5.2K 210

JUST REMIND YOU! Beberapa chapter atau part diprivate, jadi untuk melengkapi harus follow terlebih dahulu set... Más

0. Blurb
1. Cessara Lathifa
2. Gamaliel Rahadi
3. Ancaman
4. Worry
5. Masalah (lagi)
6. Perpustakaan
7. Who's Care?
8. Hujan dan Apartemen
9. Video Sialan
INFO URGENT
10. Kiss Basket ball
11. Sebotol Frestea
12. Pembelaan
13. Closer
14. Nasi Goreng
16. Pacar Gama?
17. Chating
18. Shy Shy Cat
19. Go Home
20. Dia datang
21. Soldier on Cry
22. Dating Romantis(?)
23. We are back?
24. How to be sweet girl?
25. Kanjeng Ratu Marah
26. Oh my Lord!
27. Tolong Tahan Gama
28. Akhir Bahagia?
Special Chapter - Patah Hati
29. Hurt
30. Jangan
31. Rescue me
32. Sebenarnya
I'm Sorry
33. Kembali
34. Egois
FALSENESS
35. Akhirnya kita...
36. Lanjut

15. Tawuran like a hell

2.8K 156 2
Por deyrubydey


####

Mobil sedan milik Gama berhenti disebuah jalanan sepi pinggiran ibukota. Hanya ada sebuah warung kecil disana dengan lahan parkir yang cukup luas. Memuat beberapa mobil sport bermerek terpakir disana sembari sang pemiliknya berkunjung diwarung itu. Tak terkecuali Gama sendiri yang sudah datang sembari ditemani oleh Sara saat ini.

Sebenarnya begitu mereka jalan dari Apartemen tadi mulut Sara sudah sangat gatal ingin bertanya kemana Gama akan membawanya pergi. Tapi mengingat ancaman Gama tadi pagi, membuat Sara menelan seluruh pertanyaan itu dalam benaknya sendiri selama perjalanan berlangsung.

“Kita dimana?” Tanya Sara kelepasan karena sangat bingung dengan keadaan disekitarnya saat keluar dari dalam mobil. Ini benar-benar tempat tersepi yang pernah Sara kunjungi seumur hidupnya. Dan, itu cukup membuat Sara bergidik ngeri sebenarnya.

Gama berdiri disamping Sara, membenarkan letak rambutnya yang berantakan sebelum menjawab pertanyaan gadis itu. “Basecamp gue.”

Sara melirik cengo, “Lo seriusan? Tempat sepi kayak kuburan gini lo anggap basecamp lo?”

“Kenapa? Takut lo?” Gama mendecih pelan sebelum mengambil langkah lebar meninggalkan Sara yang masih memerhatikan keadaan sekitarnya.

“Woi, paketu akhirnya datang juga kawan!” Sapa Iyan begitu melihat Gama masuk ke dalam warung kecil itu.

Ada banyak gerombolam anak muda disana. Jumlahnya mungkin hampir 50 orang lebih. Dan percaya atau tidak mereka semua adalah anak buah Gama. Entah itu dari kelas sepuluh, kelas sebelas, maupun seniornya sendiri. Karena mereka hadir dan langsung membentuk Avenger geng, dan menunjuk Gama sebagai ketuanya.

“Tumben telat, biasanya paling awal dateng?” Ucap Rangga yang duduk paling pojok warung dengan kedua tangan memegang ponsel. “Mak, bikinin mie kuah telor pedes ya. Buat Rangga nih, laper.” Teriak Rangga pada sosok wanita yang tak lain pemilik warung tersebut.

“Iya, Mas Rangga. Lah itu, si Mas Gama nggak mesen juga toh?” Ujar Wanita itu kala mendapati Gama berada didekat pintu warung.

“Gama pesen—”

“Gama! Lo kok tega ninggalin gue sih?!” Dan Sara tiba-tiba masuk kedalam warung dengan suara lantangnya.

Semua orang yang kebanyakan laki-laki didalam warung pun langsung memusatkan mata mereka pada Sara. Sedikit tercengang karena Gama tak pernah sekalipun membawa seorang gadis ke tempat basecamp. Apalagi gadis ini Sara. Sara yang terkenal player dan segala kelakuan buruknya disekolah.

Sara sendiri kebingungan. Perasaan mobil didepan tidak begitu banyak, tapi kenapa jumlah orang yang ada diwarung ini begitu banyak dari perkiraannya? Tak mau berlarut berpikir, lantas Sara reflek menggerakan tangan kanannya untuk memukul lengan Gama disampingnya.

Gama langsung saja memelototi Sara. Keras sih tidak, hanya saja ada rasa malu yang harus ditanggung Gama sekarang didepan teman-temannya, itu masalahnya.

“Jahat lo ya, ninggalin gue didepan? Lo sendiri yang ngajak gue kesini, malah main tinggal. Kalo gue diculik gimana? Gue disekap, dimutilasi, diperkosa, terus dibunuh. Lo mau tanggung jawab?! Gue nggak mau ya, kalo ada berita kematian gue dikoran gara-gara ditinggal temennya pergi—”

“Bawel lo,” Sela Gama sambil menjejalkan sepotong roti yang sudah Gama buka bungkusnya untuk menutup penuh mulut Sara. “Diem dan duduk sini.” Lanjutnya menekan kedua pundak Sara untuk duduk disalah satu kursi dengan mulut tersumpal roti.

“Gila, Gama berani bawa macan betina kesini.” Desis Farel berdecak kagum atas kejadian yang disaksikannya tadi.

Mendengarnya pun membuat Sara melotot tajam. Ia segera melepas roti dimulutnya, “Apa lo bilang?! Macan betina?! Oh my god, gue dikata macan betina?!”

Gama yang melihatnya pun segera kembali menjejalkan roti itu kedalam mulut Sara. “Diem atau gue tinggal disini.”

Sara merengut, menggerutu pelan sembari memakan sedikit demi sedikit roti yang dijejalkan Gama tadi dengan gerakan kesal. Benar-benar ya, bahkan didepan temannya sekalipun Gama tidak ingin membuat Sara merasa menang sendiri. Jahat memang.

Gama menghela nafas, berkacak pinggang dan kembali menatap anak buahnya disana. “Yoga janjian jam 12, dijalanan belakang sekolah. Gue mau setengah ikut dibelakang gue, terus setengah lagi stand by dipengkolan DPR. Paham? Intinya kalo gue butuh bantuan, kalian udah siap disana.”

“Jadi mainnya tawuran beneran nih?” Celetuk Deka usai mendengar instruksi Gama.

“Yoga mau diapain juga nggak bakal kapok. Orang dia dendam kesumat banget sama Gama Cuma gara-gara pacarnya dulu suka sama Gama.” Sahut Gagas menimpali Deka.

“Oh, si Andini kan? Udah gue duga sih, bakal berlarut-larut kayak gini.” Ujar Iyan lalu kembali menatap Gama, “Kalo si Yoga minta duel sama lo Gam?”

“Gue yakin Yoga bakal main curang nanti, jadi Gue setuju rencana Gama kali ini.” Bukan Gama melainkan Rangga yang menjawab. “Terus, Sara juga mau lo bawa kesana Gam?”

“Kenapa nama gue disebut-sebut?” Terang saja Sara langsung konek begitu namanya disebut Rangga tadi. Lalu manik matanya pun langsung menjurus pada Gama yang balik menatapnya. “Lo beneran mau tawuran? Astaga, gue hidup dijaman apaan sih, isinya remaja labil berotak setengah hobi tawuran.”

Gama menatap malas Sara, “Gue tinggal dia disini.” Cetusnya yang mendapat pelototan Sara.

“Apaan? Dih, gue mau ikut. Gue mau lihat gimana kalian tawuran. Lo sendiri yang ngajak gue kesini, masa gue Cuma duduk diem di warung nungguin kalian tawuran.” Protes Sara kesal.

“Gue nggak ngajak lo dalam masalah ini, okay? Gue ngajak lo itu karena ada masalah lain yang harus kita selesain nanti setelah ini. Jadi, gue harap lo tetep diem disini sampe gue balik ntar.”

“Bodo amat. Intinya gue ngikut lo.” Putus Sara yang langsung disambut sorak sorai teman Gama diwarung.

Dan keputusan sepihak dari Sara yang membuat Gama hanya bisa mendengus karena mendapat persetujuan dari teman-temannya. Sialan.

***

“Masih lama ya? Tawurannya?” Tanya Sara menguap kecil.

Sudah setengah jam ia, Gama, dan kawanannya menunggu dijalanan sepi yang Sara tahu area belakang sekokahnya. Gadis itu sudah cukup merasa bosan, ditambah keinginan untuk buang air kecil sudah ditahannya sedari tadi. Sara yang duduk didalam mobil pun belingsatan tidak jelas sampai Gama menegurnya.

“Kenapa?”

“Kebelet.” Cicit Sara tanpa memandang Gama. Hanya ada suara dengusan kecil sampai Laki-laki itu memanggil Rangga dan berkata sesuatu.

“Kenapa harus gue?” Ucap Rangga sambil mencuri lirikan ke arah Sara.

“Pake nanya sih lo.” Tukas Gama sebelum kembali menatap Sara dikursi penumpang. “Deket sini ada toilet umum kayaknya, lo sama Rangga kesana. Gue tunggu disini.”

“Kenapa harus dia? Nggak ada cowok lain apa?” Balas Sara sedikit kesal.

“Mending buruan pergi daripada nggak keburu ntar.”

“Iya, iya, gue pergi.”

Sara lekas turun dari mobil. Menyuruh Rangga berjalan didepan untuk menunjukan letak toilet umum itu dimana sambil menjaga jarak. Gama bisa memaklumi jika Sara sebegitu antinya dengan Rangga. Karena dia pun sendiri juga demikian. Tapi yang namanya sahabat sekaligus sepupu, mau tak mau Gama juga harus memaafkan Rangga atas kesalahannya dulu.

“Gam, yoga dateng bawa pasukan. Bener kata lo.” Ucap Deka sedikit berteriak karena dia berada diluar untuk memantau sementara Gama masih duduk berdiam didalam mobil.

“Lo bilang anak-anak yang dipengkolan, suruh siap siaga.” Sahut Gama begitu turun dari mobilnya. “Yang lain, jangan ngelakuin apapun sebelum gue kasih perintah.”

“Plan selanjutnya apa?” Tanya Gagas menyulut sepuntung rokok yang terselip dibibirnya.

“Gue coba nego sama Yoga, biar nggak ada tawuran. Karena jujur aja tawuran terakhir kemaren bikin gue nggak mau makan banyak korban lagi kali ini.” Ucap Gama dengan pandangan lurus menatap sekelompok anak motor dengan dua mobil yang berhenti 50 meter didepannya.

“Salam hormat, Gama anaknya Bapak Rahadi.” Sapa seorang laki-laki berwajah tampan namun memiliki gurat kejahatan diwajahnya. Dan saat ia berdiri didepan dari kawanannya, sudah dipastikan jika itu adalah Yoga.

Gama berdehem, maju melangkah demi berdekatan dengan sosok Yoga. “Lead to lead? Kenyataannya, Group by group, Yoga Saputra?”

Yoga tertawa kecil, bersidekap dada dan memandang remeh Gama. “See? Pasukan ayam lo nggak sebanding sama gue sekalipun gue lawan mereka semua Gam.”

“Tutup mulut lo anjing!” Teriak Farel yang mulai terpancing emosi.

“Ugh, selebgram. Ada gitu selebgram ikut tawuran? Kalo temen gue ngevideoin lo tawuran dan nyebarin di internet, yakin nggak lo masih terkenal?” Tantang Yoga sengan smirk yang kentara diwajahnya.

“Halah, banyak bacot lo. Suruh anak buah lo kesini deh, dikandang mulu perasaan. Kenapa? Takut dibikin kocar-kacir sama kita-kita?” Iyan menyahut dengan lantang. Sedikit menimbulkan percikan emosi dikubu lawan, namun nyatanya Yoga tetap tenang sambil tersenyum licik.

“Sabar dulu, gue mau kasih tunjuk sesuatu buat Gama dulu. Biar lebih berkesan gitu,” Yoga menoleh kebelakang, mengkode sesuatu hingga seorang laki-laki berwajah asing muncul dari arah belakang Yoga.

Gama terdiam. Rahangnya mengeras seiring dengan ingatan yang terus berputar dikepalanya. Laki-laki itu, adalah laki-laki yang sama dengan laki-laki yang sempat ia temui di club bersama Sara  tempo hari. Dia, laki-laki yang mengaku sebagai mantan kekasih Sara.

“Megan...” Desis Gama dengan tangan yang mengepal kuat.

“Lo kenal dia, Gam?” Tanya Gagas.

Gama tidak menjawab, hanya saja pikirannya mendadak kalut saat teringat akan sesuatu yang mengganjal pikirannya sedari tadi. “Rangga mana? Belum balik dia?”

“Loh, bukannya dia nganter Sara ke toilet? Setau gue belum balik dia,” Deka melirik ke arah Farel yang justru mengendikan kedua bahunya.

“Apa lo lagi nyari mereka, Gamaliel Rahadi?”

Gama lantas menoleh kembali ke arah Yoga. Dan disana, sosok Sara dan Rangga sedang ditawan oleh beberapa anak buah Yoga. Rangga jelas dalam keadaan tidak baik melihat dari luka memar diwajahnya. Dan yang paling membuat Gama marah adalah saat mendapati Megan ikut menawan Sara yang terlihat sangat ketakutan karena wajahnya mendadak pucat pasi.

Gama tertawa pelan, “Main tawan menawan sekarang, huh?” Gama maju selangkah, melayangkan tatapan tajam pada Yoga yang justru terkekeh ditempat. “Lepasin mereka atau gue bikin anak buah lo mati disini.”

Yoga menggeleng sembari berdecak, “Woi, woi, woi, santai dulu. Kita main-main sebentar dong. Jangan terlalu buru-buru.”

“Bacot lo!”

BUGH!

Dan amarah Gama pun meledak bersamaan dengan pukulan kerasnya yang menghantam pipi kanan Yoga. Benar-benar keras hingga laki-laki itu jatuh tersungkur diatas aspal dengan ujung bibir yang mulai mengeluarkan darah segar.

“Bangun nggak lo!”

Gama kembali maju menarik kerah baju Yoga, hendak memberikan pukulan lagi sebelum Deka dan Gagas langsung melerai dan menyeretnya untuk menjauhi Yoga. Sekali mereka terlambat, Gama akan habis ditangan anak buah Yoga yang siap menggempur tadi akibat Gama memukul Yoga duluan.

“Gam! Tenang! Lo bilang nggak mau banyak korban, tapi lo malah mancing tawuran.” Ucap Iyan dengan nafas menderu karena ikut terbakar emosi.

“Woi! Pengecut lo sampah! Beraninya main sandra! Inget ya, tawuran sejati itu nggak ngelibatin cewek didalemnya!” Teriak Farel murka.

“Namanya juga cepu Rel, sekali loser yaa tetep loser.” Sahut Gagas mendecih dengan tatapan remeh.

Yoga yang mendengarnya pun mulai naik pitam, “Okay, karena gue gentle. Gue lepasin mereka. Guys, lepasin.”

Sara dan Rangga langsung dilepas dan sedikit dilempar ke arah kawanan Gama. Gama yang paling depan segera meraih tubuh Sara, memperhatikan tubuh Sara dari bawah sampai atas untuk memastikan keadaan gadis itu baik-baik saja.

“Lo nggak apa-apa?” Tanya Gama menatap khawatir Sara.

Sara menggeleng samar, namun nyatanya ada air mata yang keluar dari bola mata gadis itu. “Gue takut Gam,” Gumam gadis itu sedikit bergetar.

“Lo aman sekarang sama gue. Nggak ada yang berani nyakitin lo lagi, okay?” Gama buru-buru menoleh ke arah Farel dibelakangnya, “Rel, bawa Sara sama Rangga ke basecamp. Jagain mereka sampe gue balik kesana. Bawa mobil gue.”

“Terus lo gimana?” Tanya Farel usai menangkap kunci mobil yang dilemparkan oleh Gama.

Gama menatap ke arah depan, matanya berkilat tajam sesuai dengan emosi yang menggebu dalam darahnya.

“Gue harus selesaiin ini sampe tuntas.”

####

Tbc.

Okay, baru sekianyg dilanjut. Sisanya? Aku ingin feedback ah:v Voted tambah jadi 12+ bisa ga yaaa....

Btw, congrats to uri EXO for comeback Ko Ko Bop 😍

Salam cinta untuk kamu gebetan yg pernah memberi harapan, lalu aku ditinggalkan,

@deaajengss (on IG)

Seguir leyendo

También te gustarán

154K 7.9K 54
[Revisi] Kamu(R) telah memberiku sepasang sayap, hingga bisa membuatku terbang. Aku terlampau bahagia hingga aku tak menyadari bahwa sayap yang kau b...
309K 15.4K 71
Entah kebahagiaan atau malah kekangan yang dia rasakan saat ini. Bahagia mempunyai banyak kakak laki-laki dan semuanya tampan. "Kenapa Tuhan memberim...
8M 359K 66
-END- ❗️❗️ CERITA INI CUMA BUAT FUN AJA, JANGAN TERLALU DI BAWA HATI KARENA INI FIKSI ❗️❗️ #24 in Teen Fiction (May 31, 2018) #11 in Teen Fiction (Ma...
131K 5.8K 59
[DIHARAPKAN FOLLOW TERLEBIH DAHULU, SEBELUM MEMBACA] # 3 in wattysid2018 (11-06-19) # 1 in bullying (12-06-19) # 1 in teenfiction (07-07-19) Hanya...
Wattpad App - Desbloquea funciones exclusivas