Switch.
by tapiokadaiki-ki
Ryosuke belongs to YURI!! —maaf dipaksa Ryosuke ngetik begituuuu~ ( ̄︿ ̄)
I don't own anything except the story line.
Warning: Typo(s). MAYBE OOC! SUPER GAK JELAS. ABSURD. BAHASA INGGRIS & JEPANG ACAK ADUL. DLL.
This is Ryosuke Yamada × Reader fanfiction inspired by Kimi no Nawa —But, of course it will be different.
Nggak akan sama seperti Kimi no Nawa kok.
Gak suka fanfic Ryo×You? Gampang, tinggal klik back atau close. Jadi, plis jangan flame soal pairing, kay? (Karena ini juga dibuat atas request seorang temanku, bukan aku yang ingin, lagipula ichiban ku Daiki, dan OTP ku YamaChine. Jadi, kalau ada yang tidak berkenan sama fanfic ini, maaf.)
.
A/N: Jadi ini Fanfic Ryosuke×Reader. Kalian senang? Saya tidak. /dislepet(?)/
Request dari seseorang yang namanya tidak ingin di sebut~~
So, noname-chan.. douzo~
NB:
◆ Disini Yamada Ryosuke tinggal di rumah bersama orang tua dan adiknya. (Entah aslinya dia benar tinggal dirumah atau di sebuah apartment.)
◆ Namamu, kubuat berdasarkan yang jarang dimiliki orang Indonesia. (Dan kebetulan adalah nama pasaran di jepang. HAHA.) Kenapa? Biar tidak ada kesenjangan sosial(?) /BUKAN.
◆ Bukan namaku (Aku gak punya nama yang aneh. Kecuali mungkin akan terdengar aneh kalau suatu saat namaku jadi Arioka Kiki 😂 *dihajar*)
◆ Tolong beritau aku jika ada nama seorang fans Ryosuke dari Indonesia yang sama seperti nama yang kubuat. Supaya nama di fanfic ini bisa ku ubah. Kenapa? Biar tidak ada kesenjangan sosial. (INI FANFIC ×READER. Jadi sebisa mungkin aku nggak mau terlihat mengkhususkan satu reader. Siapapun itu. Bahkan yg request fanfic ini. MAAF.)
◆ Menggunakan sudut pandangmu. (untuk saat ini.) Mungkin akan ada sudut pandang Ryosuke. (MUNGKIN.)
◆ Happy reading, dan jangan lupa voment~ 😘
.
.
***
[Prolog]
.
Seperti biasa, aku terbangun karena cahaya matahari memasuki kamarku, sedikit menyilaukan mataku yang masih terpejam.
Ini hari minggu. Aku tau dan aku sengaja ingin bermalas-malasan hanya untuk hari ini saja. Tapi seperti biasa juga, kurasa Mama tidak pernah mengizinkanku bermalas-malasan sedikitpun. Sekalipun di hari libur.
Dapat kurasakan dari suara tirai yang tengah tergeser, sepertinya Mama berusaha membuka jendelaku.
"Nii-san, asa dayo! Okite!"
Aku mengerang, sebelum membalikkan tubuhku memunggungi sumber cahaya, aku bahkan mendengar Mama membangunkanku dengan bahasa Jepang. Kurasa aku tengah bermimpi.
Lagipula Nii-san? Sejak kapan aku berubah gender?
Aku pun terkekeh sebelum menyusun kata dari bahasa Jepang ala kadarnya yang kupelajari dari anime ataupun dorama yang pernah ku tonton.
"Nii-san janai yo, Mama. Musume dayo, musume."
Lalu kutarik selimutku sampai menutupi kepalaku. Namun belum saja aku kembali ke dunia mimpi, dapat kurasakan tarikan pada selimutku hingga untuk pertama kalinya aku mengetahui jika terjatuh dari tempat tidur itu begitu menyakitkan!
"Haa~h? MAMA JANAI YO! MISAKI DAYO!"
Teriakan gadis yang samar-samar kulihat tengah berkecak pinggang di hadapanku membuatku mengucek mataku pelan.
Dia memang bukan Mama, tapi sejak kapan di kamarku ada gadis Jepang?
Ketika aku kemudian sepenuhnya tersadar, aku pun menatap gadis yang masih memasang tampang kesal padaku. Kemudian aku melontarkan pertanyaan yang sejak tadi menghantui kepalaku.
"Kamu, siapa?"
Gadis itu mengernyitkan dahi, sebelum berujar dengan kata yang sama sekali tidak kupahami.
Aku tidak bisa bahasa Jepang, ingat?
Bahasa jepang yang ku kuasai hanyalah sekedar haik, iie, watashi, ore, omae—yah mungkin kalau dalam bahasa inggris, orang-orang mengatakan itu setara dengan yes no yes no saja.
Tapi meskipun begitu, kemampuan bahasa Inggrisku terbilang bagus. Toefl-ku bahkan mencapai 550 meskipun aku akui grammar-ku sangatlah buruk. Entah bagaimana aku bisa lulus ujian Toefl. Haha.
Kembali lagi dengan gadis tadi, sepertinya aku harus mencoba bertanya dengan bahasa Jepangku yang ala kadarnya?
Well,
"Ano, anta wa.. dare?"
Tunggu—suaraku?
"Nii-san?"
Lagi-lagi gadis itu memanggilku Nii-san memangnya aku cowok apa? Jelas-jelas aku mempunyai da—
Aku menatap horror tanganku yang ku letakkan tepat di atas dadaku.
DADAKU HILANG!
DAN TANGANKU! INI TANGAN COWOK!
Ketika aku memandangi kedua tanganku, gadis tadi ikut menggenggamnya, sebelum salah satu punggung tangannya menempel pada dahiku, dapat kutangkap pandangan penuh ke khawatiran ketika aku melihat matanya.
Gadis itu kemudian beranjak, menghilang di balik pintu kamar ini setelah sebelumnya berujar sesuatu dengan bahasa Jepang.
Setelah kepergian gadis tadi, aku menuju cermin yang terletak di sudut kamar ini. Aku bahkan baru menyadari jika ini bukan kamarku, astaga!
Dan betapa terkejutnya diriku ketika wajah yang kudapati di depan cermin adalah wajah seorang YAMADA RYOSUKE!
kuulangi,
YAMADA RYOSUKE!
Dia member Hey! Say! JUMP. Seorang Ace grup dan aktor yang tentu saja terkenal karena dia Idol!
Tapi bagaimana bisa? Lalu dimana tubuhku? Bagaimana orang tuaku? Dan bagaimana aku menjalani hidup sebagai cowok?!
Mati aku. Mati aku. Mati aku. Mati a—tunggu—
Aku harus tenang. Tidak boleh berteriak. Apalagi panik.
Ini cuma seperti anime-anime yang pernah aku tonton. Jadi tidak perlu berlebihan. Dan jangan panik.
Tenang. Jangan panik.
Tenang. Tarik nafas, keluarkan.
Tenang.
Tenang.
Tenang.
Te—BAGAIMANA BISA TENANG?!
Tidak aku tidak berteriak. Maksudku belum. Tadi hanya berteriak di dalam hati sambil menjambak rambutku—maksudku rambut Ryosuke.
Bagaimana ini?
Bagaimana?
"TIDAK MUNGKIN TIDAK BERTERIAK?! AKU HARUS BAGAIMANAAA?! MAMAAAA!"
.
.
.
.
.
Tsuzuku.
.
.
***
.
A/N (Lagi) :
Hei, bertemu lagi di fanfic baru. Ini fanfic request sih. Dan belum tau akan jadi berapa chapter. Plotnya sudah di kepala, tapi ceritanya masih panjang sepertinya.
Mengingat, akunya males banget kalo ngetik, jadi chaper 1 akan di publish kapan-kapan kalau sudah selesai diketik hehe
Ino(Okei) mata na!
Jakarta, 27 Juli 2017
Sign, tapiokadaiki-ki.