_______________PROLOG_______________
"Tidak apa kalau namaku tidak disebut dalam doamu lagi. Sebut saja nama orang lain. Masih banyak di sekitarmu."
Terbata-bata Alin mengucapkan kalimat-kalimat itu. Ada yang mencekat tenggorokannya ketika dia berbicara. Nadanya gemetar dan kaku. Tapi, dia mencoba senatural mungkin.
"Aku sudah tidak mau mengingat dan diingat olehmu."
Setelah salam diucapkan, Alin pergi meninggalkan seseorang yang dari tadi abu-abu, bingung atas rentetan kalimat Alin. Tapi, ada yang aneh. Rasanya seseorang itu menjadi sesak napas sampai tidak bisa menimpali perkataan Alin.
"Ah, apa ini?"
Dia berusaha menepis. Tapi, tidak bisa.
______________Just Waiting_______________
Alin yang keturunan Tionghoa-Jawa ini baru tiga tahun menjadi seorang mu'alaf. Dia sedang giat-giatnya belajar tentang Islam. Selain itu, dia juga sedang disibukkan dengan berbagai tes untuk bisa masuk ke salah satu Universitas di negeri sakura. Baru tiga puluh persen tes yang berhasil ia lewati dengan hasil memuaskan. Masih ada tujuh puluh persen lagi untuk bisa sepenuhnya lolos dan mendapatkan satu bangku impian di Universitas Tokyo.
Tidak ada keraguan sama sekali di hati Alin. Dia yakin setidaknya delapan puluh lima sampai sembilan puluh persen akan berhasil dalam tes-tes tersebut. Hanya satu yang membuat gelisah hati Alin. Ilham.
Tiga malam berturut-turut Ilham hadir dalam mimpinya. Tidak jelas apa maksud sebenarnya. Alin tidak mendirikan salat Istikharah sebelum tidur. Tidak juga memohon kepada Tuhan agar dia bermimpikan Ilham. Tapi, entah mengapa Ilham datang di saat yang sangat tidak tepat. Tes semakin berat, Alin harus lebih fokus. Tapi, kini fokusnya sedikit buyar karena Ilham.
"Ahh! Menyebalkan! Kamu nggak aku harepin dateng sekarang. Aku jadi nggak bisa konsen!" gerutunya.
Malam semakin larut. Tumpukan buku, modul, kamus di atas meja Alin banyak yang belum tersentuh. Tapi, kantuk mulai menyergap. Dua jam kemudian dia tertidur tak berdaya. Tangannya memegang sebuah amplop, Bukan sebuah buku.
@@@
Tiga bulan berlalu. Alin berhasil mendapatkan satu bangku di Universitas Tokyo.
Seminggu sebelum pengumuman, Alin menemui Ilham di sebuah Mushala samping SMAnya. Ilham biasa mengajar mengaji anak-anak di Mushala itu. Sengaja Ilham memilih Mushala kecil dibandingkan masjid. Alasannya : Limited. Karena di Masjid tentu sudah banyak kegiatan rohis. Padahal, sangat diperbolehkan siswa mengajar ngaji di sekolah walaupun santrinya anak-anak luar sekolah. Tapi, Ilham lebih memilih Mushala.
"Dia memang sederhana." Gumam Alin..
Alin menunggu Ilham di depan mushala. Hari itu cuaca sedang hujan. Hujan semakin lama semakin lebat. Alin berusaha menghindari cipratan air.hujan dengan duduk lebih ke dalam. Sepuluh menit lagi Ilham selsai mengajar. Hari sudah sore. Alin memang harus segera pulang, menyiapkan segala keperluannya untuk nanti tinggal di Jepang. Tapi, masalag ini juga tidak kalah penting. Ini sangat mengganggu hati dan pikirannya.
Lamunan Alin buyar saat Ilham berdehem dan mengucap salam.
"Assalaamu'alaikum"
"Wa'alaikumussalam" Jawab Alin setengah kaget.
"Sudah menunggu lama?"
"Emmm.. Nggak juga."
"Hujannya lebat. Mau masuk?"
"Nggak usah. Cuma bentar kok."
"Ada hal apa?"
Alin berpikir keras. "Apa perlu dia bilang atau urungkan saja."
"Eemmmm..."
"Tidak apa-apa, bilang saja."
"Baiklah."
Akhirnya Alin menguatkan diri.
"Ilham..
Nggak apa-apa aku nggak disebut dalam do'amu. Sebut saja nama-nama lain. Masih banyak di sekitarmu."
Terbata-bata Alin mengucapkan kalimat-kalimat itu. Ada yang mencekat tenggorokannya ketika dia berbicara. Nadanya gemetar dan kaku. Tapi, dia mencoba senatural mungkin.
"Aku sudah nggak mau mengingat dan diingat olehmu."
Setelah salam diucapkan, Alin pergi keningglkan seseorang yang daritadi abu-abu, bingung atas rentetan kaliman Alin tadi. Tapi, ada yang aneh. Rasanya dia sesak nafas sampai tidak bisa menimpali perkataan Alin.
"Ah, apa ini?"
Dia berusaha menepis. Tapi, tidak bisa.
@@@
Dua hari setelah tiket dipesan. Tiba saatnya Alin meninggalkan Indonesia. Meninggalkan keluarga, teman-teman dan Ilham. Ada sesuatu yg justru terus menggelayuti pikirannya setelah pertemuan itu. Dia kehilangan.
Alin mendengar bahwa Ilham sudah meminang seorang gadis, entah siapa. Maka dari itu, Alin berusaha keras menepis nama Ilham dari ingatannya, dari hatinya.
Pesawat akan landing di Narita International Airport sekitar jam delapan malam. Ada waktu semalam untuk mengistirahatkan badan sebelum besoknya harus registrasi ke Universitas. Dengan modal bahasa Jepang yang cukup baik, Alin sangat percaya diri bisa secepatnya beradaptasi di Tokyo. Tapi, impian sebenarnya bukan hanya kota Tokyo dan Tokyo Tower. Tapi, Kobe. Alin ingin sekali mengunjungi Masjid Kobe. Yang dia tahu, banyak mu'alaf Jepang di sana. Dia sungguh sudah tidak sabar.
---
Bulan demi bulan Alin lewati dengan maju mundur. Persaingan di Universitas Tokyo sangat ketat. Banyak Mahasiswa bunuh diri karena tidak kuat menahan beban mental. Prestasi anjlok, berarti siap diejek mahasiswa lain atau mendapatkan pandangan kurang menyenangkan. Alin sudah sering mendapatkan perlakuan demikian. Apalagi dia mangenakkan jilbab yang memang terasa aneh dipandang oleh sebagian besar mahasiswa. Pernah suatu hari Jilbab Alin ditarik paksa oleh beberapa Mahasiswi yang anti agama. Sedih memang. Tapi, Alin tetap berusaha kuat menahan cobaan. Pernah juga Alin berpikir untuk melepas Jilbabnya.
"Toh, gak ada teman Muslim yang tau." Pikirnya kala itu. Tapi, niatnya diurungkan ketika dia teringat Ilham.
"Kalo Ilham udah nikah, semoga aku.dapet yang lebih baik dari Ilham. Aku nggak mau lepas jilbab dan agamaku."
---
Tak terasa tiga tahun berlalu. Suka duka sudah Alin rasakan. Walaupun dia orang berada di Indonesia. Tapi, tetap saja tidak mudah menahan banyaknya godaan dan tetap harus belajar berhemat. Tinggal di Tokyo adalah suatu beban tersendiri. Biaya hidup sehari-hari sangat mahal. Ditambah lifestyle remaja di sini sudah tidak layak dicontoh. Free sex sudah bukan hal yang tabu lagi. Semuanya bebas sebebas bebasnya.
Libur Musim panas kali ini Alin menyempatkan untuk mengunjungi Masjid Kobe lagi. Ini sudah ketiga kalinya dia berkunjung ke Masjid Kobe. Jadwal kuliah yang sangat padat sangat tidak memungkinkan dia untuk pergi ke Kobe sering-sering.
Cuaca cerah hari ini. Sangat mendukung perjalanannya menuju Kobe. Alin tiba di Kobe dua puluh menit setelah waktu dzuhur. Memaksanya untuk sholat lebih lambat daripada biasanya. Alin berlari menuju Masjid secepat mungkin. Tanpa disadarinya sabuah buku diary jatuh. Ada seseorang yang memungutnya. Tapi, Alin sama sekali tidak menyadarinya. Alin tetap saja berlari menuju Masjid.
Selesai menunaikan sholat, Alin melihat ranselnya. Tapi, betapa terkejutnya dia saat mendapati ranselnya telah terbuka. Dia segera mengecek barang-barang di dalamnya. Dompet dan yang lainnya aman. Hanya satu yang tidak ada, diary. Segera Alin keluar Masjid dan menyusuri jalanan sekitar Masjid yang tadi ia lewati. Tapi, dia tetap tidak menemukan apa yag dicari. Dia terpaksa harus merelakan semua catatan hatinya hilang begitu saja.
@@@
Sebulan setelah kunjungannya ke Kobe ada seorang tamu datang ke flatnya. Seorang laki-laki paruh baya dengan pakaian koko. "Pasti orang Islam, orang Indonesia." Gumam hatinya.
"Assalaamu'alaikum"
Pintu diketuk sekali lagi. Pada ketukan ketiga, Alin suda membuka pintu.
"Wa'alaikumussalam. Are You Indonesian?" Tanya Alin Ragu.
"Iya dek, bapak orang Indonesia."
"Alhamdulillaah. Bapak mencari siapa? Sepertinya saya baru melihat bapak di sini."
"Saya mencari pemilik diary ini. Sudah dari sebulan lalu saya ingin mencari. Tapi, baru sempatnya sekarang."
"Subhanallah.. Ini diary saya pak. Terimakasih sudah repot-repot mengembalikan."
"Sama-sama, dek. Sebelumnya bapak minta maaf."
Percakapanpun berlanjut hingga sore. Bapak tersebut ternyata adalah salah satu imam Masjid Kobe. Namanya Pak Sanusi, biasa dipanggil Satoshi di sini. Bapak tersebut yang ternyata menemukan dan memungut diary Alin sebulan lalu. Bapak Sanusi juga.meminta maaf atas keterlambatannya mengembalikan diary Alin. Sekaligus minta maaf karena telah sedikit membaca isinya. Guna mencari alamat pemilik. Ada satu nama di dalam diary yang Pak Sanusi baca, Ilham. Tapi, Pak Sanusi tidak memberitahukannya kepada Alin. Dalam hati Pak Sanusi hanya terseyum.
"Dek, masih ada yang ingin bapak sampaikan."
"Silakan Pak."
"Bapak sebetulnya pernah melihat Dek Alin di Masjid Kobe setahun lalu. Dan Bapak baru ingat setelah agak lama memperhatikan wajah Dek Alin. Maklum bapak sudah tua." Pak Sanusi tertawa riang.
"Ada seseorang yang ingin meminang Dek Alin untuk menjadi istrinya."
"Apa?"
"Iya, dek. Ini benar."
"Siapa pak?"
"Enam bulan lagi Bapak kesini dengan membawa orang tersebut jika Dek Alin menyetujuinya."
Setelah itu Pak Sanusi pamit dan berpesan agar Alin sholat dan segera menghubungi Pak Sanusi jika sudah ada jawaban. Alin mengiyakan.
----
Selepas mengantar Pak Sanusi ke depan pintu, Alin langsung mengambil buku diarynya. Dipeluknya erat-erat. "Ilhamku kembali." Bisiknya. Diary itu dia sebut Ilham karena memang semua kisahnya tentang Ilham, Ilham, dan Ilham.
Semasa SMP dulu Ilham adalah pacarnya. Entah kenapa Ilham yang Agamis mau saja berpacaran dengannya. Malah, waktu itu Alin masih menjadi pacar orang lain. Tapi, Ilham terang-terangan merebut paksa secara halus Alin dari tangan Rio. Dan yang paling mengherankan adalah karena Alin masih seorang budha pada waktu itu, sedangkan Ilham anak pesantren.
Gaya pacaran Ilham yang membosankan membuat Alin jengah dan memutuskan untuk tidak melanjutkan hubungan mereka. Hanya tiga bulan saja mereka pacaran. Tapi, Alin sedetikpun tidak pernah benar-benar meninggalkan Ilham di hatinya. Ilham punya tempat tersendiri di hati Alin. Dan Alinpun tidak pernah mau berpacaran dengan lelaki lain selepas Ilham.
"Alin, aku nggak akan pernah lupa untuk menyebut nama kamu dalam do'aku. Aku janji. Kalo aku lupa, Allah akan menghukumku. Dan aku nggak mau dihukum Allah."
Itu kata-kata terakhir yang diucapkan Ilham pada Alin saat Alin memutuskan hubungan mereka.
Alin sadar, selama dia dengan Ilham, Ilham selalu menjaga kehormatannya. Mungkin karena Ilham besar di pesantren, Ilham jadi sangat pendiam dan acuh. Tapi, tetap terlihat kalau dia bertanggung jawab dan manis. Alin sering melihat Ilham mengaji, sholat, dan lain sebagainya. Begitupun Ilham, Ilham menemani Alin ke Vihara, membeli keperluan imlek, dan yang lainnya. Tak pernah sekalipun Ilham menyinggung perihal Agama. Katanya, Ilham mau seperti idolanya, Nabi Muhammad. Alin pun tergerak hatinya untuk mencari tahu dan banyak membaca tentang idola Ilham itu. Siapa dia? Darimana asalnya? Bagaimana sikap dan sifatnya? Alin terus dihantui rasa penasaran. Dan dua tahun setelahnya Alin resmi menjadi seorang mu'alaf. Tak lagi ke Vihara, tak lagi berpakaian mini. Tapi, memang Alin membutuhkan waktu satu tahun lebih untuk mengenakan jilbab secara sempurna. Dia masih terasa kaku di awal. Tapi, kemudian merasakan nyaman yang susah untuk dijelaskan. Alin pun banyak mengikuti kegiatan ke Islaman di sekolahnya. Dia semakin dan semakin cinta terhadap Islam.
Lembar demi lembar ia baca diary kesayangannya itu. "Ilham, apa kamu sudah bahagia? Semoga saja."
Kemudian Alin teringat perkataan Pak Sanusi sore tadi. "Siapa pemuda itu? Kalo seorang imam saja mau diamanahi untuk melamarkan seseorang. Insya Allah agama pemuda itu baik. Ahh! Lebih baik aku sholat saja."
Alin bergegas menuju kamar mandi dan berwudhu sebelum rasa kantuknya datang menggoda. Didirikannya sholat Istikhoroh. Berdo'a memohon petunjuk tentang sang pelamar.
@@@
Seminggu kemudian, Alin sudah memegang jawaban. Ia akan menerima lamaran tersebut. Alin juga sudah mengabarkan keluarganya bahwa dia telah dilamar. Keluarganya.yang demokratis selalu menyerahkan keputusan apapun kepada Alin selama hal itu baik. Alin sangat berbahagia. Walaupun dia tidak tahu siapa pelamar itu. Tapi, dia hanya yakin atas jawaban sholat-sholatnya. Dihubunginya Pak Sanusi. Alin.mengabarkan siap menerima. Pak Sanusi mengucap hamdallah dan berjanji lima bulanan lagi akan datang menemui Alin bersama-sama pemuda yang melamar Alin. Alin siap menunggu.
----
Kesibukan tugas-tugas akhir membuat Alin sedikit lupa perihal lamarannya. Alin hanya fokus dan fokus terhadap segudang materi, tugas, dan lain sebagainya. Sampai dia lupa kalau seminggu lagi Pak Sanusi akan datang. Tadi pagi Pak Sanusi menelpon Alin.untuk memastikan bahwa minggu depan Alin ada waktu senggang. Alin berjanji akan mengusahakan.
Seminggu kemudian...
Pak Sanusi ternyata hanya datang seorang diri. Pemuda yang dijanjikan tidaj bisa datang karena tengah sibuk. Pak Sanusi mengajak Alin ke Kobe untuk.melihat langsung pemuda itu. Alin bersiap-siap dan mereka berangkat.
Tiba di kobe ba'da Ashar. Alin segera mendirikan sholat Ashar. Hari ini Masjid Kobe sedikit berbeda. Ramai dan banyak hiasan bunga di sana sini.
"Apa mau ada yang menikah di sini Pak?" Tanya Alin kepada Pak Sanusi ketika melewati satu ruangan penuh ornamen bunga mawar. Bunga kesukaan Alin.
"Iya benar. Ba'da Isya acaranya. Kamu hadir, ya. Pakai pakaian terbaikmu. Ini kan juga acara yang baik. Maka dari itu dek Alin pakai pakaian yang terbaik."
"Iya. Tapi, baju saya di Tokyo semua."
"Ya sudah nanti Bapak pinjamkan punya istri."
"Baiklah."
Alin sama sekali tidak mencium gelagat aneh. Ya, pernokahan memang.sebuah acara sakral dan sangat baik. Makanya, semua perkataan Pak Sanusi masuk di akal Alin.
----
Ba'da, Isya...
Selesai sholat Isya di rumah Pak Sanusi, Alin dihampiri istri Pak Sanusi, Bu Zainab. Bu Zainab menyerahkan gamis berwana pink yang cantik, sederhana. Tapi, sangat anggun. Bu Zainab menyuruh Alin segera berhias. Acara segera dimulai. Bergegas Alin.merias dirinya. Sepuluh menit kemudian Alin sudah berdiri di pintu, Bu Zainab menoleh dan mambaca tasbih berulang kali.
"Kamu cantik sekali nak. Mari.kita berangkat."
"Siapa yang mau menikah, Bu?" Tanya Alin penasaran.
"Kamu benar-benar mau tahu?"
"Iya."
"Kamu."
Alin melongo.
"Yang benar, Bu?"
"Iya. Calon suamimu tidak datang ke Tokyo karena tengah sibuk mempersiapkan semuanya. Termasuk baju ini." Jawab Bu Zainab sambil menunjuk baju yang dikenakan Alin.
"Benarkah? Subhanallah. Dia baik sekali."
"Iya."
Sujud syukur Alin kepada Allah. Pernikahannya ada didepan mata. Para malaikat berbondong-bondong turun ke bumi Kobe untuk menjadi saksi pernikahan Alin.
"Terimakasi Allah." Ucap syukur Alin sekali lagi ketika ijab dan kabul sudah diucapkan. Alin belum juga.melihat wajah sang suami dengan jelas. Tapi, kemudian Bu Zainab mempersilakan Alin menghampiri dan menyalami suaminya. Dan betapa terkejutnya Alin ketika dia berhasil sepenuhnya melihat wajah sang suami.
"Ilham! Apakah benar ini kamu?"
"Iya Alin."
"Subhanallah. Kamukah.suami saya sekarang? Yang tadi mengucapkan ijab dan kabul?"
"Iya Alin."
Air mata tak sanggup dibendung Alin. Tumpah seketika karena rasa syukur yang sangat besar. Disalami dan diciumnya tangan Ilham. Ilham mencium kening Alin. Semua hadirin berkaca-kaca. Bu Zainab sudah menghabiskan setengah kotak tissue. Pak Sanusi yang menjadi wali pun ikut terharu. Semua bahagia. Allah menjadi saksi dan ribuan malaikat tersenyum. Sedangkan syaitan lari karena geram dan malu.
Disini, ya di Masjid kota impian Alin. Terukir kenangan yang lebih dari indah dari pelangi, lebih harum dari melati, lebih dan lebih lagi.
Allah mempertemukan dua insan yang sangat jauh dari jarak pandang mata, berlawanan arah, dipisahkan untuk kemudian dipertemukan dalam keadaan lebih baik dalam waktu yang lebih tepat. Allah maha mengatur segala hal, yang membolak-balikkan hati manusia. Yang sudah menetapkan jodoh di Lauhul Mahfudz. Kita hanya menunggu, hanya menunggu dengan terus memperbaiki diri. Biarkan Allah yang mengatur segalanya.
_______________EPILOG_______________
"Aku mencintamu."
"Aku juga, istriku."
Dalam pesawat menuju Indonesia Alin tak pernah melepaskan genggaman tangan Ilham. Cintanya sudah berlabuh. Pelabuhan terbaik yang sudah Allah berikan. Pelabuhan terbaiknya kini sudah disampingnya. Siap menjaganya siang dan malam, mengimami sholat lima waktunya. Indah sekali. Semakin erat alin menggenggam jemari Ilham. Tak mau lagi berpisah.
__________Ending
thanks for reading_________
_alQueen_March, 21 2014_