Baru saja Lian duduk dimeja kantin kampusnya. Suara cempreng Bella membuat Lian menahan malu dan kesal. Sahabatnya yang satu ini beda dari yang lain. Gaya fashionable. Barang barangnya update. Paras ayu dan anggun Bella sungguh memikat. Tapi sayang kelakuannya yang kayak anak balita.
"Lian eh Li" Lian yang merasa dipanggil namanya kembali menolehkan kepalanya kesumber suara. Bella yang berdiri tak jauh darinya sedang mengatur napasnya. Terlihat ngos ngosan abis lari marathon kali ya?
"Apa deh?"
"L..lo tau nggak..." napas Bella tak beraturan hingga kakinya langsung melangkah menuju tempat duduk disebelah Lian.
"Tenangin dulu baru ngomong" Segelas air putih diberikan Lian pada Bella. Bella langsung menegak air itu hingga tandas. Kasian juga ini anak, apa nggak dikasih minum dirumah eh?
"Lo tau nggak..."
"Nggak"
Bella merengut. Bibirnya manyun hingga membuat tawa Lian terlepas.
"Itu yang punya univ ini katanya sering nyamar gitu. Trus katanya juga jadi the most wantednya di univ ini. Mereka apa pada nggak tau apa yang jadi the most wantednya univ ini ternyata pemiliknya ya?"
Lian membulatkan kedua matanya. Kata kata Bella baru saja dicernanya. Dan tadi apa kata Bella? Sering nyamar? apa waktu itu yang ditabraknya adalah Albern? si pemilik univ ini? benarkah?
"Hoi ngelamun aja" Jus yang dipegang Lian yang semula utuh tinggal seperempatnya. Ini siapa yang minum coba?
Seketika Lian menatap gadis disebelahnya yang tak lain adalah Bella. Bella dengan tampang tak berdosanya menelan semua jus yang berada dimulutnya dengan sekali tegak. Setelah itu Bella tersenyum manis pada Lian. Boleh gak bakar orang???
"Trus dia nyamarnya jadi anak kuliahan juga?"
"Jelaslah. Emang mau nyamar jadi apa? tukang kebun? tukang parkir?apa tukang ngupil?" kata Bella gemas. Eh beneran tukang ngupil? jijik gue
"Hehe ya kali aja Bell" kekeh Lian sambil membayangkan seorang Albern yang menyamar menjadi apa yang baru saja disebut Bella. "Lo pernah ketemu sebelumnya sama pak Albern?" tanya Bella. Wait! Pak? Pak Albern? tua banget dia ya?wahaha
Lian memgangguk semangat menanggapi pertanyaan Bella barusan. "Kapan?" tanya Bella lagi. " Dulu pas gue dikejar sama Darrell dan gue nubruk tuh orang" Lian yang seakan tertampar karna ucapan dari mulutnya barusan. Ini mulut gue kagak bisa diatur deh. Dan liat saja sebentar lagi miss keponya Bella akan beraksi
1
2
3
"Heh?! CIYUSAN LO? DEMI APA?!" apa kan gue bilang ini anak bakal kepo.
"Demi rumput yang bergoyang. Dan ayo kita ke perpus!" seret Lian
Selama di perpustakaan semua materi untuk skripsi Lian hancur total. Bella yang masih dengan miss keponya terus memberondong Lian dengan berbagai pertanyaan. Entah dari wajah Albern yang dari jarak dekat seperti apa, Albern anaknya siapa, lain sebagainya deh.
Buku diatas meja yang akan menjadi penuntun skripsi Lian masih dianggurkan Lian. "Lo bisa diem sebentar gak? gue masih mau cari bahan buat skripsi. Dan lo kenapa nggak cari juga heh?!" Bella tersadar, dan segera ngacir menuju rak rak buku yang super tinggi. Lian hanya tertawa cekikikan melihat tingkah Bella.
====****====
"Lo tolol apa bego hah?!" bentak Erland pada sahabatnya yang kini tengah menatap jendela dengan tatapan kosong. Albern. Dia sedang duduk menyandar tembok dengan pikiran kacau. Dua hari berturut turut hatinya seakan tergores kaca. Perih
Sahabatnya inilah yang bisa menemaninya saat ini. Maminya? lebih sibuk dengan bisnisnya. Dia sendiri memilih mengambil cuti selama seminggu. Menenangkan pikiran. Hanya itu yang ingin didapatnya.
Dan semua luka dihatinya hanya 'dia' penyebabnya. Perempuan penyuka hujan. Bukan penyuka lagi sebutannya. Tapi lebih ke maniak hujan. Ya, Lian. Brilian Aklesia. Cinta masa kecilnya yang baru dia ingat setelah bertemu yang kedua kalinya dulu dengan perempuan itu.
Flashback On
"Kamu mau jadi pangeranku? pangeran di negeri hujan ini. Kita bisa bersatu dan membuat semua orang akan menyukai hujan, sama seperti kita" celoteh anak perempuan mungil dengan rambut yang dikuncir kuda. Manis. Dengan lesung pipitnya dikedua belah pipi anak itu.
"Siap! Aku akan menjadikanmu ratuku Putri Lian" Albern kecil dengan ketampanan anak laki laki yang diatas batas wajar. Masih berumur lima tahun, sudah memiliki wajah rupawan. Dengan kecerdasannya juga, saat ini Albern sudah memasuki sekolah dasar.
"Dan ratuku akan selalu mendampingiku hingga maut yang akan memisahkan" lanjut Albern kecil. Jari kelingkingnya diangsurkan didepan wajah Lian. Meminta Lian juga menerima janji itu.
"Iya. Aku akan selalu berada disampingmu rajaku."
Setelah berjanji seperti itu, keesokan harinya Lian bersama keluarganya meninggalkan kota sekaligus negara ini. Karna masalah pekerjaan papanya yang meminta untuk berpindah pindah tempat. Dari negara A ke negara B. Dan seterusnya hingga batasnya berakhir. Tak tau harus menunggu ratunya, atau justru semakin menjauh antara satu sama lain.
Dan janji itu seakan lebur. Terbawa oleh derasnya air hujan.
Flashback Off
"Secara kalian gak sadari, kalian itu udah terikat" Benar kata Erland. Kami sudah terikat. Tapi jika Lian mengingat semuanya apa Lian juga akan mengakui jika dia juga terikat dengan dirinya? sama seperti yang difikirkannya saat ini? Atau malah menolak dan memilih Darrell itu?
Mengingat nama laki laki yang beberapa hari belakangan ini dekat dengan Lian. Membuatnya pansa saja. Cemburu? oke bisa dikatakan seperti itu. Bahkan cinta yang dulu pernah singgah dan melebur terbawa hujan, kini kembali lagi.
"Dan lo dengan mudahnya melepas apa yang lo mau? itu bukan lo Al"
Albern masih tetap diposisi awalnya. Pandangannya juga menerawang ke langit cerah siang ini.
Sebegitu mudahnya gue ngelepas apa yang udah gue perjuangin? apa itu terlihat seperti pengecut? tentu saja!
"Dan kalo lo masih tetep sama hati kecil lo itu, mending lo jadi perjaka tua aja Al" ini anak bikin tambah bete. Masa sohib sendiri malah dikatain gitu sih.
"Gak usah nambah nambahin yang jelek Er. Dan ya gue gak bakal nyerah sama cowo yang jauh lebih muda dari gue. Apalagi yang udah ngerebut cinta gue" widih bahasanye ye sok sokan. wkwkwk
"nah gitu dong. itu baru sohib gue" Erland merangkul bahu Albern. "Jadi dari dulu gue bukan sohib lo?" Erland tertawa nyengir. "Emang bukan" Satu tonjokan mengenai lengan Erland.
"Sialan lo" umpat Albern yang kini tengah tersenyum kecil.
"Dan sekarang apa yang mau lo lakuin?" Albern terdiam. Pikirannya berkelana memikirkan berbagai rencana. Pertama menyingkirkan cowo kecil itu. Kedua buat Lian merasa nyaman dengan dirinya. Ketiga miliki hati dan jiwa Lian. Simpel, tapi sulit dilakukan.
Erland larut pada pikirannya juga. Sahabatnya ini butuh pencerahan dan pemulus rencananya. Demi ketek tetangga sebelah ini biasanya sih gampang nyelesainnya. Tapi kenapa ngadat? Erland mengacak rambut tebalnya.
Rasa lelah karna perusahaanya yang kini banyak tawaran. Ditambah para wanita, yang tak lain hanya teman kencannya saja, terus menggodanya. Entah tawaran menjadi simpanan, bahkan tawaran menghangatkan ranjang sekalipun. Erland hanya geleng kepala melihat para wanita genit yang benar benar ekstrem. Bagaimanapun wanita seharusnya tidak berkelakuan seperti itu. Dan sebenarnya Erland sendiri paling benci dengan perempuan yang yahh ekstrem seperti itu.
"Mungkin dengan lo nyamar lagi boleh deh kayaknya Al" Albern menolehkan kepalanya pada Erland. Mencerna setiap katanya hingga akhirnya sebuah rencana tersusun begitu saja diotaknya.
"Good idea. Thanks my brother"
Sebuah senyum terukir dibibir Albern. Lesson for you darl
====*****====
Sepatu Converse hitam, kemeja yang dibiarkan terbuka, rambut agak diberantakin, parfum maskulin menguar dari tubuh laki laki itu, yang tak lain adalah Albern. Hari ini ia akan melancarkan semuanya. Seperti perkataan Erland kemarin siang yang mencoba untuk menyamar lagi. Sebenarnya ia sendiri jengah selalu menyamar seperti anak kuliahan. Mulanya dulu menyamar karna ingin mengetahui perkembangan dari univ maupun pelajarnya. Tapi setelah itu semuanya kembali normal lagi. Sampai kemudian Lian masuk ke univnya. Pertemuan pertamanya setelah sekian tahun, dimana ia sendiri saat itu tengah menyamar untuk yang terakhir kalinya. Tak disangkanya malah bertemu dengan gadis itu. Membuatnya setiap hari terus uring uringan. Entah ingin menjaga dan memiliki.
Semua berubah saat aku bertemu denganmu lagi Lian
Setelah mengambil kacamata hitam raybannya Albern segera mengambil kunci mobilnya. Keinginannya untuk cepat sampai di kampus. Ingin bertemu dengan Lian. Masa bodoh dengan univnya sendiri. Ia juga sudah menyerahkan pekerjaan di univnya pada pamannya. Sedangkan ia sendiri mengurus perusahaan yang memiliki banyak anak dimana mana.
Tepat pukul sembilan pagi Albern sudah sampai di kampus psikologi. Kampus dimana Lian menuntut ilmunya. Dan disini semuanya akan dimulai. Senyum kecil tersungging dibibir Albern. Dengan segera Albern keluar mobil, menutupnya dan melepas kacamata hitamnya.
mahasiswa yang berlalu lalang menatapnya penasaran. Antara merasa tersaingi ketampanannya, bahkan ada yang ingin menonjoknya saat ini juga.
Mahasiswa sekarang, gumam Albern sembari menyandang tasnya.
Inginnya sih jalan jalan dulu, tapi keburu perut yang sedari tadi ndangdutan minta saweran, akhirnya ia berjalan menuju kantin. Sepiring nasi goreng dan segelas teh hangat dapat mengatasinya. Setelah kenyang Albern kembali lagi ke tujuan awalnya. Dipasangnya lagi kacamata hitam pada matanya.
Let's do it
====*****====
Darrell, Lian, Bella, dan Malca tengah berjalan sambil tertawa bersama. Semua orang yang memandangnya mengira mereka adalah anak terkenal. Tapi memang benar adanya. Wajah keempatnya rupawan. Darrel dengan postur tinggi tegapnya ditambah wajah bak dewa Yunani. Dan ketiga cewek itu juga tak kalah menarinya dari Darrell.
"Lo tau ternyata pemilik univ ini suka nyamar. Hahaha ngapain dia ya? kurang kerjaan apa?" celoteh Malca diiringi tawa ketiganya. "Keknya ada maksud tersendiri dia ngelakuin itu deh" suara Lian menghentikan tawa mereka semua.
"Eh lo bela om itu Li? jahat bener lo gak sehati sama kita, ya nggak?" kata Bella yang langsung diangguki oleh Malca, dan Darrell. "Gue nggak bela kok, gue kan punya feeling aja. Gue calon kuliah dipsikolog gunanya apa sih?" kata Lian sebal.
"Hehe iya iya, kita kan nggak ngerugiin feeling anak psikolog" Satu cubitan terasa dilengan Darrell. Rupanya sahabat cantik Lian ini, a.k.a Bella juga anak psikolog dan dia nyatanya gak mau kalah sama sohibnya sendiri.
"Iya iya yang anak psikolog juga. Gak usah nyubit segala kali, cubitan lo itu bikin biru nih" Bella terkekeh dan mengacungkan jari tangannya mmebentuk maksud 'peace'. Darrell yang gemas dengan kedua tangannya langsung mencubiti kedua pipi Bella. Dan aksi cubit itu terus berlanjut hingga nada dering tanda panggilan masuk dari smartphone Lian menginterupsi mereka berempat.
Lian mengangkat smartphonennya bermaksud meminta persetuan mereka untuk mengangkat telepon. Satu nama tertera dilayar smartphone Lian. Mama. Ada apa mama nelpon? tumben banget
"Ya ma?"
"....."
"Apa?!"
"....."
"Iya ma aku kesana sekarang. Bye"
Lemas. Pikiran kabur. Itu yang dirasa Lian saat ini. Apalagi setelah telfon dari mamanya. Argh! pengen makan orang!!!
"Li?" Malca menepuk bahu Lian yang tertutupi blazer hitamnya. "Apa?"
"Lo? kenapa? lesu bener?" Lesu? yang bener aja! mama abis ngasih tau kalo sekarang udah ada di bandara. Dan pesawatnya lima belas menit lagi mau take off. Iya itu enyak gue mau buka butik di Amerika, sama temennya yang kemarin itu. Siapa namanya? lupa gue.
"Oemji, gue ke bandara dulu Ca, Bye" Lian segera melesat pergi. Menghiraukan segala macam panggilan maupun makian karna menabrak orang. Mereka gak tau ini situasi gawat banget! ugh
Di bandara mamanya bersama tante Kayla. Ini udah keinget namanya -.-. Dua wanita cantik yang masih cantikan gue. Ekhem emang iya. Bawa koper gede. kek mau pindahan aja ini mama. Anaknya aja gak disapa abis lari lagi. Keringet sampe netes gini gak kasian apa nyak gue? hiks
"Hai ma" sapa Lian dengan senyumnya yang tak pernah luntur dibibirnya. Tante Kayla memberi senyum pada Lian dan menyodorkan tisu padanya. Melihat keringat yang meluncur dipelipis Lian membuatnya merasa bersalah karna planningnya ini dengan Vani.
Suara pengeras suara membuat mereka bertiga terdiam. Panggilan untuk pesawat yang ditumpangi oleh mama Lian, dan tante Kayla akan bersiap untuk take off.
"Van" senggol tante Kayla pada mama Lian. "Oke"
"Lian, dengerin mama dulu" Lian hanya mengangguk, matanya terfokus pada layar smartphonennya. Dengan geram Vani merebut samrtphone Lian. Menggenggamnya dan membawanya dibelakang tubuh.
"Mama apa apaan sih? aku masih mau balesin mention"
"No! dengerin mama dulu, ini penting oke" Lian mengangguk malas. Kedua tangannya bersedekap didada. Matanya kini telah tertuju sepenuhnya pada mama cantiknya."Kamu mama tinggal dua bulan, dan kamu gak usah ngurus butik mama yang ada disini. Kamu cuma harus nyelesain kuliah kamu dan mam-" Lian menatap mamanya menyelidik. Mamanya seakan teringat sesuatu yang tak seharusnya diberitaukan pada putrinya ini. Mamanya kenapa?
"Dan mama?"
Mama Lian menggeleng pelan dan mengembalikan smartphone putrinya. "Kamu jangan nakal. Dan ya kamu gak boleh ngedugem lagi" mata Lian melotot kaget. Mama tau hobinya yang suke ke klub malam?
Mama Lian dan tante Kayla berjalan menjauhi Lian. Saat Lian akan berbalik berniat akan ke kampus, sebuah suara kembali memanggilnya. "Lian!" mama ada apalagi sih? ini katanya anaknya suruh cepek ngelarin tuh kuliah. ini mau berangkat malah dipanggil lagi -_-
"What's up ma?"
Mama Lian memberitahu sesuatu melewati ekor matanya. Apaa- kampret itu ngapain heh!
Albern tengah berdiri tak jauh darinya. Menatap mama Lian dengan tersenyum. Sama mama aja mau senyum manis kek gitu, nah ke gue? eh tapi ngapain juga?
"Albern akan nemenin kamu ngurus kuliah dan mama udah nitipin kamu sama nak Albern"
Jeeeeggggeerr
Mama!!!!ARRGGGGHHH
TBC