Tell Me Why

By rsaaam_

6.5K 865 188

(Republish 2019) 3 hal yang Azka benci didunia ini; 1. Gelap 2. Permen karet 3. Cewek Melda tidak tau apa ala... More

Prolog
1. Revan
2. Ruang Musik
3. Forget
4. Insiden diparkiran
5. Tired
6. Pertolongan Kedua
7. Anniversary
8. Don't follow me!
9. Move
10. Drama
11. Masalah Azka
12. Latihan Drama
13. Berangkat bareng
15. Rooftop
16. (Don't) Care
17. Baper
18. Les Private
19. Kecelakaan
20. Baikan
21. Fahri
22. Tugas Azka
23. Sahabat Lama
24. Tidak Masuk
25. Rasanya Familiar
26. Azka si Tutor Gitar
27. Azka dan Kevin
28. Sebuah Rencana
29. Makanan Untuk Azka
30. Membuka Hati
31. Permen Karet
32. Teka-teki
33. Terkuak

14. Renggang

169 24 1
By rsaaam_

Hari ini Melda tidak masuk. Azka semakin dihantui rasa bersalah karena sudah berkelahi dengan pacarnya Melda bernama Fahri itu. Tetapi, demi apapun ini semua ulah Fahri. Dia yang memancing amarah Azka hingga meluap-luap. Bahkan dirinya tak sedikitpun salah, malahan dialah yang menolong Melda. Azka tidak habis pikir dengan isi pikiran Melda yang entah kenapa mau berpacaran dengan cowok seperti Fahri. Ya, walaupun secara fisik dia hampir sempurna dimata cewek. Ah bodo amat bagi Azka.

"Eh Ka, semalem Melda kan terakhir sama lo. gimana keadaan dia?" Megan mengunyah snack yang ia beli dikantin tadi. Azka membalikkan tubuhnya agar menghadap kearah lawan bicaranya.

"Dia udah mendingan sih, Cuma pipinya bonyok gitu,"

Resty berdehem, "Lo juga tuh bonyok gitu. Gimana sih ceritanya kok lo bisa berantem sama Fahri? Ngerebutin Melda ya kalian?" tebak Resty. Bola mata Azka nyaris lompat keluar. pertanyaan macam apa itu?.

Azka menggeleng cepat, "gile lo. gue? sama Fahri ngerebutin Melda? Yakali. Lo kira gue suka sama dia apa?"

"Trus gara-gara apa?" Nabila mengeluarkan suaranya setelah ia siap membaca buku biologi.

"Ck, pokoknya salah paham gitu lah. Mending kalian jengukin Melda dan minta penjelasannya sama dia aja, udah males gue ngejelasinnya." Azka bangkit dan berjalan menuju kebingkai pintu kelas. Setelah lima menit berdiri disana, ia memutuskan untuk kekelas lamanya untuk menemui Gilang dan Frans karena kebetulan sekarang sedang jam istirahat.

"Sombong kali kalian ku tengok,"

"Eh setan,monyet, anj- buat kaget saja kau Ka," Frans mengucapkan sumpah serapahnya saat terkejut tiba-tiba Azka duduk didepan mereka yang sedang menonton youtube lewat ponsel Gilang.

Gilang menoyor kepala sahabatnya itu, "Sombong pala lu peyang nyet! Lo tuh kemana aja? Udah semalem berantem sama si siapa tuh anak Ipa du-."

"Fahri." Sahut Azka datar.ia benar-benar frustasi dibuatnya. Tidak dikelasnya, tidak disini semua membicarakan tentang perkelahiannya semalam yang mendadak booming diSMA Nusa Bangsa.

"Hanjeerr, gue kesini buat ngindarin pertanyaan anak-anak dikelas tentang semalem. Eh disini malah kalian berdua yang nanya-nanya. Udah ah gue neg dengernya." Azka memasang wajah masamnya sambil membuka ponselnya.

"Yaelah Ka, biasa aja kali. Lagian kenapa kau berantem terus aku liat, kurang-kurangin lah. Kan sebentar lagi kita mau ujian, kalau kau tak naik kelas macam mana?" Frans menggeleng-geleng kan kepalanya seraya menepuk bahu Azka. "Asal kalian tau dia yang mancing gue,"

"Yaudah lah nyet, gak usah dipikirin lagi. Seenggaknya kalo lo yang bener lo harus lawan, kita gak boleh diinjek-injek seenaknya sama dia, mentang-mentang pinter jadi sok,"

"Iya betul kata Gilang, setuju aku."

Gilang mempause filmnya yang sedang ia tonton itu. lalu mengunci layar ponselnya. "Tapi kalau gue liat-liat si Melda itu cantik juga ya,"

Frans mengangguk cepat, "Iya Ka, tak tertarik kah kau sama dia?"

Azka yang semula fokus pada ponselnya yang sedang membuka aplikasi instagram langsung menoleh. "Gila lo berdua, dia udah punya pacar bego."

"Berarti kalau belum punya, lo mau dong?"

***

Resty, Megan, dan Nabila mengemas alat-alat tulis mereka karena bel pulang sudah berbunyi lima menit lalu. Guru yang mengajar pun sudah keluar dan kelas mereka hampir sepi. Valdo dan Kevin menghampiri mereka dan akan mengajak pulang bersama seperti biasanya.

"Eh kita jenguk Melda yuk?" ajak Resty sambil menggendong tas ranselnya dipundak. Senyum Kevin seketika merekah mendengar nama itu. ia kini menjadi lebih semangat setelah seharian tidak melihat Melda disekolah. Hanya suratnya yang datang tadi pagi. "Ayuk, setuju banget gue dah,"

"Yaudah kita singgah ke-supermarket dulu beli buah-buahan," semuanya mengangguk setuju. Resty, Megan, Nabila, Kevin dan Valdo pun berjalan beriringan menuju lapangan parkiran disekolah mereka yang hampir sepi. Semua murid telah pulang ketujuan mereka masing-masing dan mendadak melek yang tadinya mengantuk karena mendengar bunyi ajaib itu.

Resty dan Valdo jalan lebih dulu menggunakan motor matic milik Valdo karena mereka yang akan membeli buah-buahannya. Sedangkan Kevin dengan motor besarnya menyusul dengan jok belakang yang senantiasa selalu kosong. Dan Megan yang menebeng dengan Nabila yang setiap harinya selalu bawa mobil.

Resty memencet bel rumah Melda yang terlihat sepi. Hanya mobil Melda yang terparkir dihalaman rumahnya. Mereka melihat pintu rumah Melda bergerak kebelakang dan muncul wanita paruh baya yang masih terlihat cantik dan awet muda. "Eh kalian, masuk nak, masuk," Indah mempersilahkan teman-teman putrinya itu masuk dan duduk disofa ruang tamunya.

"Emm, gimana kalau kalian langsung kekamarnya aja? Soalnya dari tadi Melda gak ada keluar kamar. Badannya anget, pipinya masih sakit katanya, sampe gusinya berdarah. Dia juga gak mau ngomong dari tadi," mendengar penjelasan Indah, air muka teman-temannya mendadak panik dan resah. Sebenarnya apa yang terjadi sama Melda? Apa dia ada masalah lain?

"Yaudah tante, kami langsung keatas ya?"

"Iya kalian langsung kekamarnya Melda aja,"

Mereka berlima langsung menaiki satu persatu anak tangga untuk sampai kekamar Melda. Resty sudah panik dengan keadaan teman sebangku sekaligus teman sejak SMPnya itu. ia membuka pintu kamar Melda dan melihatkan seorang gadis tengah duduk dengan bersenderkan senderan kasur besarnya sambil memegang ponselnya. "Eh kalian?" Melda kaget sampai-sampai bahunya bergerak terkejut.

Megan, Resty,dan Nabila duduk dibibir ranjang Melda sebelah kiri. Dan Valdo serta Kevin duduk dibibir ranjang sebelah kanan Melda. "Nih Mel dari kita," Valdo menaruh kantong plastik berisi pastel buah-buahan diatas nakas. "Makasih ya, ngerepotin banget."

"Nggak kok Mel, lo gak ngerepotin," Kevin mengelus-elus kepala Melda. "sakit apa lo? pasti gara-gara semalem ya?"

***

Melda mengangguk. Air mukanya berubah mendadak sedih jika mengingat kejadian semalam. Ditambah lagi Fahri sama sekali tidak menghubunginya sejak tadi malam. Bahkan sudah berulang-ulang kali Melda menelpon, sms, line, bbm, dm, sudah semua media sosial ia coba tak satupun ia mendapat balasan dari kekasihnya itu. mungkin salah jika ia waktu itu menolong Azka. pertama, ia yang kena batunya. Kedua, hubungannya dengan Fahri menjadi sasarannya. Tetapi Melda tidak boleh jahat, Azka sudah banyak kali menolongnya. Mungkin kali ini waktu yang tepat untuk membalasnya.

"Mel?" Resty menyentuh bahu Melda karena merasa Melda melamun dan tak mendengarkan mereka berbicara. "lo kenapa Mel?" tanyanya panik.

"Hah? Umm, gak. Gue gak pa-pa. Cuma kepikiran aja,"

"Kepikiran Fahri maksud lo?" tebak Kevin dengan sengit. Ia memutarkan bola matanya. kemudian tertawa remeh, "cowok kek gitu lo perjuangin. Kalau dia sayang sama lo, gak mungkin dia mau ngegedein masalah kecil karena lo dianter Azka gitu,"

Melda menoleh serius kearah Kevin. Menatap manik matanya sedalam mungkin. Bagaimana Kevin bisa tau?

"Lo ta-tau dari-."

"Gue dibelakang lo waktu itu, pas gue mau nolongin lo eh udah ada Azka, yaudah deh."

Nabila menoleh sekilas kearah Megan dan mendapati sahabatnya itu dengan raut wajah sedih. Sementara Melda hanya mengangguk mendengar penjelasan Kevin. Pintu kamar Melda terbuka menampilkan sang Mama dengan nampan yang diatasnya terdapat minuman serta makanan ringan. "Ini dimakan ya,"

"Iya, makasih tante ngerepotin jadinya," Kevin tersenyum ramah. "Ah Kevin kayak gak biasa aja," Kevin hanya terkekeh kemudian fokus pada Melda setelah mamanya itu keluar.

"Fahri sama sekali gak ada hubungin gue dari tadi malem, dan gue hubungin pun dia gak ngerespon apa-apa." Melda memulai ceritanya sambil menunduk sedih. Air matanya yang tadi ia tahan karena mendadak mamanya datang, tumpah keselimut tebalnya yang bermotif stich. Resty yang ada tepat disebelahnya mengelus-elus bahu sahabatnya itu. ia mendadak ikut sedih saat melihat air mata Melda. Nabila dan Megan hampir saja mengeluarkan air mata mereka dan cepat-cepat mereka hapus.

Melda merasakan dagunya diangkat lalu tangan Kevin bergerak menghapus air mata itu. "lo gak boleh nangis Mel, gue ada disini. Kita semua ada, dan bakalan selalu ada buat lo," bahu Melda naik turun seiring isak tangisnya yang hampir pecah. Ia melempar sembarang ponselnya hingga jatuh kelantai. Untung saja ponselnya dibaluti sampul hp yang tebal.

"G-gue, gue gak bisa jauh dari Fahri," lirihnya terbata-bata disela isak tangisnya. Yang cewek berusaha menenangkan. "Udah Mel, udah. Lupain aja dulu Fahri sementara waktu ini, lo harus sembuh dulu," Nabila menggenggam tangan Melda yang bergetar hebat dan dingin itu. sementara Kevin dan Valdo membiarkan ketiga teman ceweknya itu menenangkan Melda.

Melda menutup mulutnya dengan tangan kanannya sambil berusaha meredam isak tangisnya. Hingga tangan yang digenggam Nabila ia lepaskan dan ia menghambur kepelukan Kevin yang ada tepat disebelah kanannya dan menumpahkan segala kesedihannya disana. Kevin membalas pelukan itu seraya mengelus-elus punggung Melda. Nabila kembali menoleh pada Megan. Megan hanya memutarkan bola matanya seraya menghembuskan napas kasarnya. Tiba-tiba ponsel Kevin bergetar.

"Hallo Ma? ...... Iya, aku dirumah temen..... Sekarang?...... Iya iya Ma." Kevin memutus sambungan telponnya dengan sang Mama. "Gue duluan ya, soalnya nyokap minta dianterin."

Valdo memutar bola matanya."Yah cepet banget lo ah Vin,"

"Mendadak nih Val. Oh iya Mel, lo gak usah inget Fahri dulu. Lupain aja sementara waktu ini, kalau ada apa-apa lo hubungi gue, okay?" Kevin mendaratkan kecupan kilatnya dikening Melda. Melda memelotot saat itu juga tapi ia tak terlalu memikirkannya. "Gile lo njay, cewek orang."

Kevin tak menanggapi ia segera mengambil tasnya lalu keluar dari kamar Melda. Sedangkan Megan, yang melihat itu semua, jangan Tanya air matanya sudah tumpah meruah didetik yang sama saat Kevin mencium Melda. Ia menutup mulutnya menahan tangisnya agar tak pecah lalu mengambil tasnya dan berlari tanpa pamit. Melda yang melihat itu semua hanya cengo.

"Megan? Lo kenapa Gan? Megan!!" Megan tak menghiraukan teriakan Melda yang meneriaki dirinya itu. ia tetap berlari dan menuruni anak tangga.

"Megan kenapa?" Melda menoleh kearah Nabila dan Resty untuk meminta penjelasan. Resty hanya menggeleng karena ia sama dengan Melda, tak tau apa-apa.

Nabila mengambil tasnya yang ia taruh disofa kamar Melda. "Seharusnya lo hargai perasaan Megan, dia udah lama suka sama Kevin. Dan seenak jidat lo, lo peluk Kevin tadi, didepan Megan, Mel!! Ditambah lagi Kevin nyium lo, mungkin Megan sedih banget. Lo seharusnya jadi sahabat itu, tau. Masak selama setahun lebih sahabatan lo gak tau kalau Megan suka sama Kevin, sahabat macam apa lo! dasar penikung!!" Nabila keluar dari kamarnya. Hati Melda sangat tertohok bagai ditusuk belati tajam yang sangat dingin. Melda lagi-lagi terdiam mencoba mencerna kata demi kata yang diucapkan oleh Nabila tadi. Sama halnya dengan Resty yang tak habis pikir karena Nabila membentak Melda yang kini keadaanya sangat buruk.

Fahri+Megan+Nabila = Renggang.

---------------------------------

Continue Reading

You'll Also Like

DANADYAKSA By uba

Teen Fiction

2M 198K 70
Danadyaksa adalah laki-laki dengan hidup yang sangat sederhana. Cibiran dan hinaan sering didapatkannya dari teman-teman satu sekolahnya terutama per...
710 279 31
Apa yang terjadi jika seorang cewek yang terkesan introvert dipertemukan dengan cowok yang super fake? --- Tujuan utama kepindahannya kali ini hanya...
280K 7.1K 54
PLAGIAT DILARANG MENDEKAT!!! AWAS... PENULIS GALAK :v SILAKAN DIBACA CERITANYA, BUKAN DICOPY! BELUM DIREVISI, HARAP MAKLUM KALAU ADA TYPO BERTEBARAN...
1.4M 48K 84
Alletta mendengus kesal, "Gue benci sama lo Azka!" "Gue gak nyuruh lo buat suka sama gue." balas Azka dengan ketus. ---------- Azka adalah cowok pa...
Wattpad App - Unlock exclusive features