Sorry for typos
This story inspired by K Drama 'Master Sun'
Warning : Tulisan bercetak miring, untuk hantu. "..."
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
"Kau indigo?" Bobby bertanya memastikan.
"Iya, sama seperti Jinan hyung, hanya ada sedikit perbedaan saja."
Bobby semakin melebarkan mata sipitnya, dia kaget sungguh. Jadi, kesimpulannya adalah namja di depannya yang dulu pernah menciumnya adalah seorang indigo dan kakak namja ini yang notabennya sedang diincar oleh Hanbin juga seorang indigo.
Tidak, tidak ia tidak percaya pada yang namanya hantu. Semua itu tidak ada, mereka hanya ada karena imajinasi semata. Kim Bobby tidak pernah percaya pada hal seperti itu, mereka tidak nyata.
.
.
.
.
.
"Hyung.. Bobby hyung.." Donghyuk menggoyang goyangkan tangannya di depan muka Bobby yang membuat namja kelinci itu kaget dan sadar dari lamunannya.
"Kau melamun hyung?"
"Ani." Jawab Bobby singkat.
"Kau benar-benar indigo?" Bobby tanpa sadar mengucapkan dengan keras apa yang ada dipikirannya.
"Tentu saja." Donghyuk mengangguk dengan yakin.
"Tunggu, jangan bilang Jinan hyung tidak memberi tahumu soal ini?" Donghyuk memusatkan seluruh perhatiannya pada Bobby, Bobby sudah tidak bisa berkata apa-apa lagi ia hanya mengangguk untuk pertanyaan Donghyuk itu.
"Astaga, apa yang harus kulakukan. Jinan hyung pasti akan memarahiku kalau sampai dia tahu." Donghyuk mengacak rambutnya frustasi, gawat ini benar-benar gawat. Donghyuk kira namja disebelahnya ini sudah tau akan kemampuannya dan Jinhwan, karena Jinhwan tidak sembarangan mengenalkannya pada siapapun, meskipun itu adalah temannya.
"Hyung, jangan katakan pada siapapun tentang ini okay? Anggap saja aku tidak pernah mengatakan apapun."
"Hyung?" Donghyuk melambaikan tangannya di depan wajah Bobby berualang kali.
"Aigo~, hyung jebal jangan mengatakan pada Jinan-hyung, ya ya ya" Tangan Donghyuk kini tak lagi melambai di depan wajah Bobby, tetapi berubah menjadi mengatup di depan dada seperti orang yang sedang berdoa.
"Baiklah." Bobby menjawab dengan suara lirih.
"Jinjja?" Bobby mengangguk.
"Gomawo hyung." Tanpa sadar Donghyuk menggenggam dan mengguncangkan tangan Bobby yang paling dekat dengannya, karena terlalu senang.
Donghyuk dengan cepat mengambil ponselnya yang ada di saku jaketnya saat mendengar benda itu berbunyi.
"Hyung, aku ada urusan. Aku pergi dulu ya. Bye bye sampai jumpa nanti." Donghyuk melambaikan tangannya setelah mengembalikan ponselnya ketempat semula.
"Bye juga, noona." Bobby dengan kaku memutar kepalanya ke arah dimana Donghyuk tadi melambai sambil mengatakan 'noona' dan yang membuat Bobby semakin melotot adalah tidak ada orang sama sekali di sampingnya saat ini.
Sial, tau begini lebih baik dia tadi langsung pergi. Benarkan Bobby??
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
"Akhirnya selesai juga." Jinhwan menghela nafas lega saat melihat kearah jam dinding yang telah menunjukkan pukul 5 sore. Ya, jam kerja Jinhwan habis pukul 5 sore, ia tidak mau mengambil shift malam karena Donghyuk yang tidak bisa ia tinggalkan dan sebenarnya dia juga takut jika harus pulang malam, kalian tau sendiri kan alasannya?
"Noona, aku pulang dulu." Jinhwan melambaikan tangannya pada salah satu pegawai yang sibuk merapikan baju baju yang tidak pada tempatnya.
"Eoh, kau tidak mengganti seragammu dulu?" Yeoja itu meninggalkan sejenak pekerjaannya untuk melihat Jinhwan yang masih dibalut seragam kerjanya.
"Aniya, aku akan menggantinya di rumah. Aku tidak meninggalkan makanan sama sekali, kasihan dongsaengku jika dia sudah pulang." Jelas Jinhwan dengan tangan mungilnya yang sibuk mengenakan sweaternya.
"Baiklah, hati-hati di jalan. Jangan mau jika diberi permen oleh orang yang tidak di kenal, jangan gampang percaya pada orang asing, jangan-"
"Yayaya, aku mengerti." Perkataan pegawai tadi terpotong oleh suara Jinhwan yang terdengar jengkel. "Satu lagi aku bukan anak kecil yang akan di tawari permen oleh orang asing." Lanjutnya.
"Bye, noona."
"Dasar." Pegawai wanita itu menggelengkan kepalanya, bagaimana ia tidak khawatir pada namja mungil itu, tubuhnya yang dibalut sweater warna merah yang oversize dan tas yang ada dipunggungnya, terlihat seperti bocah JHS yang pas untuk diculik.
...
"Cepat cepat cepat." Jinhwan mengetukkan kakinya konstan di dalam lift, dia paling benci jika harus berada di dalam lift sendirian seperti sekarang ini.
Jinhwan tersentak saat mendengar suara isak tangis seseorang.
"Sial, sial, sial." Jinhwan menggerutu tanpa henti saat melihat layar ponselnya yang berwarna hitam. Bagus sekali, ponselnya mati di saat dia mulai ketakutan karena isak tangis itu kini berubah menjadi kikikan menakutkan yang membuat tengkuk Jinhwan meremang.
Ting
Bunyi lift terbuka seperti nyanyian di telinga Jinhwan, dengan cepat ia berlari menuju kearah apartementnya.
"Hah..hah..sial, harusnya aku tadi menunggu hingga ada orang yang masuk ke dalam lift terlebih dahulu."
"Jinan??"
Jinhwan tersentak dari acara berlarinya dan memutar tubuhnya ke arah belakang menuju sumber suara.
"Refleks yang menyebalkan." Jinhwan dengan cepat membalikkan tubuhnya dan berjalan lagi menuju apartemen. Ya dia tidak berlari lagi sekarang.
"Jinan"
Jinhwan masih melanjutkan jalannya.
"Jinannn~"
Jinhwan masih acuh dan pura pura tidak mendegarnya.
"Jinan~"
BRAKKK
Jinhwan menutup pintu apartemennya dengan tidak santai, alias membantingnya dengan penuh cinta.
"Sial, sial, sial" Jinhwan masih bertahan menyandar pada pintu apartemennya.
Tok Tok Tok
Pintu yang diketuk dengan keras dan terus menerus membuat Jinhwan yang masih mengatur nafasnya kaget.
Apa sekarang Hantu bisa mengetuk pintu apartemen, Jinhwan memang berpikiran sempit saat sedang ketakutan seperti ini.Padahal seharusnya dia sudah terbiasa.
Semakin lama ketukan yang terdengar semakin keras, dan membuat Jinhwan dengan terpaksa membuka pintu apartementnya.
"Apa yang terjadi padamu?Kenapa kau berlari secepat itu? Apakah ada yang mengejarmu? Siapa? katakan padaku, jangan hanya diam saja." seseorang yang ada di depan pintu itu menyerangnya dengan pertanyaan-pertanyaan beruntun dan yang pasti dengan sangat cepat.
"Hanbin?" Ya, orang itu adalah Hanbin, entah apa yang merasuki Jinhwan, dia hanya diam saja saat Hanbin dengan cepat memeluk tubuhnya.
"Hanbin..."
"Ya aku disini" Hanbin membalas lirih panggilan Jinhwan.
"Hanbin..Hanbin..Hanbin.." Terus seperti itu, Jinhwan memanggil nama Hanbin dan membalas pelukan Hanbin dengan erat.
"Hanbin..Hanbin..Hanbin.." Jinhwan menenggelamkan wajahnya ke dada Hanbin.
.
.
.
.
.
.
.
TBC
A/N : Yuhuuuuuuu
Ada yang kangen Ji ngga? /krik krik krik krik/
Maapin ya ngga pernah update, tiba-tiba males ngetik, ehe
Pendek ya??
Aneh ya??
Biarin lah, lagi khilap Ji nya
Udah ahhhh, see you in next chapter
If you like it don't forget to vote and comment
Saranghaee:*