Kedai Irama

By jasiaveya

2K 165 137

Rama suka kopi hitam, tetapi kulitnya tidak hitam. Rama dulu suka ke kafe, tetapi semenja... More

satu - kebetulan nama
dua - kecelakaan ira
tiga - banyak berkorban
empat - pelukan terima kasih
lima - kedai irama buka
enam - kegiatan rama
tujuh - traktiran penuh cerita
delapan - murid baru
sembilan - di mobil kala itu
sepuluh - sendiri
sebelas - suatu kabar
dua belas - jangan katakan lagi
tiga belas - hari tanpa mereka
empat belas - terbiasa
lima belas - mereka yang bingung soal perasaan
enam belas - senjata makan tuan
tujuh belas - karena angin
delapan belas - seperti irama
dua puluh - malam di rumah rama

sembilan belas - malam hari yang dingin

31 3 6
By jasiaveya

PART KESEMBILAN BELAS : malam hari yang dingin

***

Setelah mengantar Ira ke rumahnya, Rama menyempatkan ke rumah Fano untuk mengambil motornya. Di malam hari, Rama menghempaskan tubuhnya di kasur sehingga menimbulkan suara yang keras dan menyebabkan sprai yang terpasang di kasurnya menjadi lepas di satu sudut.

Ia memejamkan matanya beberapa detik kemudian duduk di pinggir ranjang.

Bundanya belum datang semenjak kemarin pagi. Hal itu sering terjadi sejak setahun belakangan membuat Rama menjadi khawatir.

Diambilnya ponsel berwarna hitam doff dan jarinya segera mencari nama 'Bunda' di daftar kontak ponselnya.

Panggilan pertama tidak ada jawaban.

Panggilan berikutnya Rama mencobanya lebih lama, tetapi malah suara pria yang menyahut.

"Hm?" Suara berat pria itu membuat Rama mengernyit.

"Mana Bunda?" Tanya Rama.

"Oh, lo anaknya si pelacur?" Ucap pria tua itu sarkas.

Mendengar Bundanya dikata seperti itu, Rama memukul kasurnya keras. "Jangan sembarangan ngomong! Di mana Bunda sekarang?!"

"Tempat biasa," ucapnya kelewat santai membuat Rama semakin menggeram.

Sialan.

Rama segera memutuskan sambungan teleponnya. Ia mengacak rambutnya kesal.

Ia sudah tahu masalah apa yang menyebabkan Bundanya menjadi hancur seperti ini, hancur dalam artian sering keluar malam dan tidak pulang berhari-hari, tidak mempedulikan anak-anaknya di rumah yang ingin kembali kasih sayang dari seorang Ibu.

Walaupun begitu, Rama masih sayang kepada Bundanya itu. Tidak peduli betapa hancurnya beliau sekarang, Rama masih ingin melihat Bundanya tersenyum bahagia karena dirinya. Karena sebetulnya ia sadar, dirinya masih sangat jauh dari kata sempurna.

Ia selama ini hanya bisa menyusahkan orang tua saja sampai Ayahnya meninggal dan Rama menyesal. Sangat menyesal.

Dan Bundanya adalah satu-satunya harapan yang ia punya untuk melihat kesuksesan dirinya kelak. Ia harap begitu.

Rama mengganti singletnya dengan baju lengan panjang, bulan ini adalan bulan yang sering hujan, ia putuskan untuk memakai pakaian yang menutupi semua tubuhnya dengan sempurna.

Lalu ia melanjutkan kegiatannya untuk ke kamar adik perempuan satu-satunya yang ia punya--yang berada di sebelah kamarnya. Dengan perlahan ia membuka pintu cokelat yang tidak terkunci itu.

Rima Ayana, adik Rama segera menoleh melihat kakaknya masuk ke kamarnya.

"Kenapa, Bang?"

"Gue mau nyari Bunda. Lo diam di kamar aja, ya. Kalau mau makan tinggal panggil Bi De aja," ucap Rama.

Rima mengangguk. "Iya, deh. Hati-hati ya, Bang. Bawa Bunda ke rumah dengan selamat."

Rama tersenyum dan mengacak pelan rambut Rima. "Percaya sama Abang."

Rima menyengir. "Rima mau ngerjain tugas presentasi untuk besok dulu."

"Iya, jangan sampai begadang. Kalau gak bisa selesai sekarang, kerjain besok pagi juga bisa."

"Oke! Hati-hati, Bang!"

"Yo!"

Rima adalah saudara satu-satunya yang Rama punya. Rima sangat berprestasi, setiap bulannya bisa menyumbangkan satu piala untuk SMP-nya. Sangat berbeda dengan Rama yang hanya bisa tauran, nongkrong, dan bolos di sekolah.

Walaupun begitu, Rama harap dirinya bisa menjaga Rima dengan sikapnya yang memang seperti ini. Rama hanya tidak ingin mengganggu konsentrasi belajar Rima yang hilang begitu saja karena masalah keluarganya.

Di luar rumah Rama udara sangat dingin. Untung tidak hujan dan Rama harap nanti tidak akan ada hujan.

Dengan tergesa-gesa, Rama menggas motor ninjanya, perasaannya masih tertuju pada Bundanya yang entah bagaimana kabarnya sekarang.

Ia harap baik-baik saja.

***

Ira menutup jendela kamar sekaligus gordennya sehingga langit malam pun tak lagi tampak dari kamar sederhana itu.

Ia merebahkan tubuhnya di kasur. Diambilnya ponselnya yang berbunyi dari nakas yang terletak di samping kasur hijau itu.

Ada panggilan dari sebuah nomor telepon.

"Halo?" Sapa Ira pertama kali.

Lalu Ira pun mengobrol dengan orang di seberang sana yang merupakan pihak dari sebuah hotel yang ingin bekerja sama dengan kedai irama, kata pihak hotel yang dari suaranya terdengar seperti bapak-bapak berumur lima puluh itu, ia ingin bekerja sama dalam hal dessert yang tersedia di kedai irama.

Kesempatan bagus. Ira juga sepertinya sudah tahu nama hotel itu sebelumnya.

Setelah memberi alamat hotelnya dan meminta Ira untuk menemuinya sekarang juga, pria tua itu menutup sambungan teleponnya.

Dengan tergesa-gesa, Ira pun menghubungi Gani untuk menemaninya keluar malam ini, selagi besok tidak ada tugas.

Namun, kenyataannya Gani ada remidi ulangan harian pelajaran Fisika besok. Benar-benar perempuan itu. Kerjaannya di sekolah hanya remidi, remidi, dan remidi.

Ira pun memutuskan untuk berangkat sendiri menggunakan ojek online.

Setelah selesai menggunakan sweater rajut yang dibuat oleh Almarhumah Ibunya saat ia baru masuk SMA, Ira mulai mengunci semua pintu di rumahnya dan segera keluar.

Ira segera memesan ojek untuk mengantarkan dirinya ke hotel itu lewat aplikasi di ponselnya.

***

Dengan perasaan yang berkecamuk, Rama memarkirkan motornya di tempat parkir hotel yang biasa Bundanya kunjungi akhir-akhir ini.

Bundanya kenal dengan pemilik hotel itu. Rama yakin Bundanya pasti sedang ada di ballroom hotel mewah itu.

Setelah sampai di ballroom hotel, ternyata ada acara di sana. Banyak pasangan yang sudah berumur lima puluhan berdansa dengan pasangannya. Rama pun berusaha mencari-cari keberadaan Bundanya. Dengan berlari-lari dan beberapa kali menyenggol lengan orang disana, Rama akhirnya menemui Bundanya yang sedang duduk di salah satu kursi berwarna putih.

Bundanya sedang melamun dan beliau sendiri.

Rama segera menghampiri Bundanya itu. Lalu duduk di samping kanannya.

"Bunda," panggilnya dengan suara pelan, tetapi Rama yakin Bundanya mendengar suara itu meskipun musik berdentuman karena ia membisikkan ke telinga Bundanya.

Disentuhnya lengan Bundanya yang dingin. "Bunda..."

Bundanya hanya diam dan terus melamun.

Rama bahkan hampir lupa dengan pria tua yang menjawab sambungan teleponnya tadi jika tidak ada yang berdeham.

"Hm?" Pria tua itu menaikkan satu alisnya yang membuat Rama muak seketika.

Rama tahu, pria tua itu adalah pemilik hotel ini. Namun, Rama tidak tahu namanya, lagipula Rama tidak ingin tahu. Tidak penting baginya.

Pria yang masuk ke kategori orang yang Rama benci.

Andai pria tua itu umurnya sepantaran dengan Rama, ia tak segan-segan memberi bogam mentah ke wajah sombongnya.

Tanpa mempedulikan pria tua itu, Rama segera membujuk bundanya untuk pulang kembali ke rumah. "Bunda, ayo pulang. Rima menunggu di rumah."

Bundanya tetap diam dengan tatapan kosongnya melihat ke depan.

"Mana mau dia pulang," sahut pria tua itu sambil menyeruput minuman di gelasnya.

Rama terus membujuk bundanya tanpa menghiraukan pria itu.

"Kalau sama gue, dia mau sih. Mau gue yang anter dia pulang? Sekalian bisa---"

Pria tua itu benar-benar menganggap bundanya sebagai pecundang dan Rama tidak tahan dengan hal ini.

Tangan Rama yang sedari tadi gatal untuk membogem wajah keparat itu, ia putuskan untuk menggebrak meja yang berada di depannya dengan keras. Sehingga ia pun menjadi pusat perhatian para tamu yang sedang berdansa.

"Anda tidak tahu apa-apa, Pak tua. Cukup diam dan jaga mulut anda." Ucap Rama seraya memandang tajam ke arah pria tua itu, yang dipandang malah menampilkan senyum miringnya.

Rama sangat muak, emosinya yang tidak dapat ditahan langsung mencuat. Rama langsung berlari menuju pria tua itu lalu mengintari meja bulat itu dan tanpa ragu, Rama melayangkan tinjunya ke wajah pria tua itu.

Nafas Rama terengah-engah. Semua orang kini menatapnya. Kecuali bundanya.

Pria tua itu menatapnya tajam dan menyentuh wajahnya yang mengeluarkan darah sedikit demi sedikit.

Tuhan, maafkan Rama yang telah berdosa memukul orang yang lebih tua darinya. Namun, apakah dosa jika ia melakukan hal yang salah untuk melindungi bundanya?

Saat Rama ingin memukulnya lagi, tangan Rama dicekal oleh tangan yang lebih kecil darinya.

"Cukup, Rama...," ucap gadis itu seraya memegang sebuah buku nota di tangan kirinya.

***

9 Juli 2017

A.n : Terima kasih sudah meluangkan waktunya untuk membaca kedai irama yang sudah lebih dari setahun ini! :)

Wkwk, berasa ngomong sendiri sih, karena gatau sebenarnya masih ada/nggak yang mau baca kedai irama. Tapi tapiii yang masih baca, aku apresiasi banget banget banget, kokkk♡
Oh iya, kalau ada sesuatu yang mengganjal di cerita ini (mungkin : typo, kesalahan EBI, konflik yang tak masuk akal, atau bahasa asing yang salah) kalian bisa komen sepuasnya kok, wkwk.

Love ya.



Continue Reading

You'll Also Like

382 80 22
Cinta kita memang tidak semudah yg dibayangkan,tidak semanis yg dirasa susu,tapi cinta kita tidak sepahit coffee.. Memperjuangkan dan mempertemukan k...
946 60 6
Bukan karena lambat bekerja, Ara lembur lagi bagai kuda. Ara duduk sendiri di cubicle, mata lelah, kopi sachet ketiga di tangan, layar laptop menyala...
Wattpad App - Unlock exclusive features