The Right One

Oleh misslarmes

284K 20.4K 393

[Completed] Kisah tentang pencarian satu orang yang tepat. Lebih Banyak

Sinopsis
Prolog
SATU
DUA
TIGA
EMPAT
ENAM
TUJUH
DELAPAN
SEMBILAN
SEPULUH
SEBELAS
DUA BELAS
TIGA BELAS
EMPAT BELAS
LIMA BELAS
ENAM BELAS
TUJUH BELAS
DELAPAN BELAS
SEMBILAN BELAS
DUA PULUH
DUA PULUH SATU
DUA PULUH DUA
DUA PULUH TIGA
DUA PULUH EMPAT
DUA PULUH LIMA
DUA PULUH ENAM
DUA PULUH TUJUH
DUA PULUH DELAPAN
DUA PULUH SEMBILAN
TIGA PULUH
TIGA PULUH SATU
EPILOG
New Story

LIMA

9.4K 662 5
Oleh misslarmes


Backsound  akhir: Rossa-Tega

****


Dita baru saja keluar dari ruang siarannya siang ini. Arloji di lengan kanannya menunjukan pukul dua siang. Sudah waktunya makan siang.

Ia melangkahkan kaki menuju lift sembari sesekali membalas chat dari grup chatting dengan sahabat-sahabatnya. Terkadang, pandangannya yang terlalu fokus dengan ponsel membuatnya tidak begitu memerhatikan jalan sehingga menabrak seseorang yang berjalan dihadapannya.

Dita tengah berdiri didepan lift dengan pandangannya yang masih tertuju pada ponsel.

Ting...

Pintu lift pun terbuka. Dita melangkahkan kakinya untuk masuk ke dalam lift. Pandangannya yang sedari tadi fokus dengan ponsel, kini beralih pandangan menuju sederetan tombol yang terletak di bagian kanan dan kiri lift. Ia menekan tombol lantai dasar. Kemudian pandangannya kembali beralih pada ponsel.

Dita merasakan liftnya mulai bergerak turun selama beberapa detik, sampai pada akhirnya pintu tersebut kembali terbuka di lantai berikutnya.

Seorang pria dengan kemeja berwarna biru langit dan celana bahan berwarna hitam itu muncul, setelah pintu lift terbuka sempurna.

"Ekhem," pria itu berdekhem, membuat Dita mengalihkan pandangannya dari layar tipis tersebut.

Ia sedikit terkejut menyadari keberadaan pria itu yang tiba-tiba muncul di sampingnya. Namun, Dita menutupinya dengan senyum dan sapaan.

"Hei," sapa Dita dengan senyum ramah. Pria itu membalasnya dengan senyuman khas dan dua lesung pipi di kedua pipinya yang muncul.

"Asik banget, sih. Sampe ga sadar gitu ada orang disekitarnya," goda Vino. Dita hanya menanggapinya dengan tawa kikuk.

"Mau makan siang, ya, Dit?" tanya Vino yang dibalas anggukan kepala oleh wanita tersebut.

"Bareng, yuk," tambahnya. Dita terlihat menimbang-nimbang jawabannya selama beberapa detik, "boleh, deh." Namun, di detik berikutnya ia mulai menerima ajakan Vino.

Tidak lama setelah Dita menerima ajakan Vino, pintu lift pun terbuka. Menampilkan pemandangan lantai dasar.

Mereka berdua segera melangkah keluar dari lift sembari terus mengobrol. Obrolan ringan tentang pekerjaan masing-masing.

Vino mengelurakan kunci mobil dari saku celana begitu melihat mobilnya yang terparkir di parkiran. Ia menekan tombol buka kunci pada kunci mobil tersebut. Kemudian ia segera membuka pintu pengemudi, begitu pun dengan Dita yang membuka pintu penumpang.

Vino menghidupkan mesin mobilnya, kemudian ia mulai menjalankan kendaraan beroda empat tersebut.

"Ngomong-ngomong, mau makan dimana, nih?" tanya Vino begitu mobilnya mulai keluar dari pekarangan kantor.

"Eumm, yang enak dimana?" bukannya memberi jawaban, Dita malah balik bertanya.

"Ya, terserah. Lo sukanya makan apa?" Vino menolehkan kepalanya pada Dita selama beberapa detik, kemudian ia kembali fokus pada jalanan di depan.

"Banyak yang gue suka. Bingung," Dita menghela nafas sembari mengangkat kedua bahunya.

"Makan di restorant deket Mall yang ada didepan jalan sana aja, ya. Kan banyak pilihannya, tuh." Dita menganggukan kepalanya, tampak menyetujui ucapan Vino.

Vino pun segera melajukan mobilnya menuju tempat yang mereka tuju.

Tidak perlu waktu lama untuk mereka tiba di restorant tersebut. Jalanan yang mereka lalui, kebetulan tidak sedang macet siang ini. Hanya memerlukan waktu 15 menit untuk mereka tiba di restorant itu.

Dita membuka pintu kursi penumpang, saat Vino mematikan mesin mobilnya. Vino pun melakukan hal yang sama, setelah memastikan mobilnya dalam kondisi yang benar dan aman untuk diparkirkan.

Mereka berdua jalan bersisian, sembari mulai melangkah masuk menuju restorant.

"Selamat datang," ucap salah seorang pelayan sembari membukakan pintu masuk. Dita melemparkan senyum kepada pelayan tersebut.

"Untuk berapa orang?" tanya pelayan itu dengan ramah.

"Dua," jawab Dita.

"Smoking atau non smoking area?" tanyanya lagi. Kali ini Dita memilih diam dan melirik Vino.

Pria itu menggeleng pelan begitu mendapatkan dua pasang mata tengah menatapnya.

"Biar saya antar," lanjut pelayan wanita itu yang mulai melangkah menuju dua meja kosong yang terletak di bagian pojok.

Dita menarik salah satu kursi. Sementara Vino menarik kursi yang berhadapan dengan kursi Dita.

"Ini buku menunya," pelayan wanita itu meletakan dua buku menu di atas meja.

"Mau pesan sekarang atau nanti?" tambahnya.

"Sekarang." Balas Dita, yang membuat pelayan wanita itu mengeluarkan buku note kecil dari sakunya.

Dita membolak-balik buku menu.

"Saya mau... eum... nasi goreng ayam, " ucap Dita yang membuat pelayan tersebut menuliskan pesanan di buku note kecil miliknya.

"Minumnya, jus stroberi." Tambah Dita.

"Lo mau pesen apa, Vin?" Dita menutup buku menunya. Kemudian beralih menatap Vino yang masih membolak-balik buku menu.

"Soto ayam sama nasi, deh, Mba." Ucap pria tersebut.

"Minumnya?" tanya sang pelayan.

"Es teh manis." Tambah Vino.

Pelayan wanita itu menuliskan pesanan Vino di buku kecil. "Ada lagi tambahannya?" tanya sang pelayan yang dijawab gelengan kepala oleh Dita.

"Biar saya ulangi pesannya, ya," Dita mengangguk. "Nasi goreng ayam, satu. Soto ayam plus nasi, satu. Minumnya, satu jus stroberi dan es teh manis." Dita menganggukan kepalanya lagi.

"Kalau begitu, bisa saya angkat buku menunya, ya," pelayan itu mengangkat dua buku menu dari meja Dita dan Vino. "Untuk pesanannya bisa ditunggu 15 menit." Tambahnya sebelum melangkah menjauh dari meja Dita dan Vino.

Dita mengalihkan pandangannya pada Vino, ia menatap pria itu dengan tatapan menyelidik.

"Lo ga ngerokok? Atau... gengsi ngerokok didepan gue?"

Vino melemparkan pandangannya pada Dita. Membuat mata cokelat tuanya menemui sepasang mata cokelat tua yang berada di hadapannya.

Bibir Vino terangkat naik, ia tersenyum simpul. "Gue ngerokok. Tapi, bukan perokok berat yang gabisa jauh dari batang tembakau selama kurang dari sejam." Ucapnya yang membuat Dita menganggukan kepala sembari membulatkan mulutnya membentuk huruf o.

"Terus, sekarang lagi ga kepengin ngerokok?"

Vino menggeleng cepat. "Mungkin....,sekitar dua jam lagi gue akan kepengin." Pria itu mengangkat kedua bahunya.

"Kalo mau ngerokok, jangan deket-deket gue, ya. Gue ga suka asepnya. Ganggu." Ucap Dita terus terang.

"Iya, engga." Balas Vino enteng.

"Okay," Dita menganggukan kepalanya.

"Omong-omong, lo abis rapat lagi sama Pak Gunawan?"

Vino mengangguk. "Iya," balasnya.

"Tapi, kok lo sendiri? Bukannya, minggu kemarin ada dua temen lo yang ikut rapat juga?"

"Iya, mereka gabisa dateng. Yang satu sakit, yang satunya nemenin istrinya lahiran."

"Oh, udah pada nikah?" Vino mengangguk lagi, "dua-duanya baru aja nikah tahun kemarin. Tapi, yang satunya udah dapet anak duluan,"

"Lo sendiri, gimana?" tanya Dita sembari menopang dagunya dengan satu tangan.

Vino mengernyitkan dahinya, tampak bingung dengan ucapan wanita yang berada di hadapannya.

"Maksudnya?"

"Lo udah nikah?" jelas Dita.

Vino sedikit terkejut mendengar pertanyaan Dita. Sementara wanita itu malah memasang ekspresi santai yang datar.

"Kelihatannya aja, gimana?" tanya Vino, yang membuat Dita melirik ke arah jari manis kedua tangan pria di depan.

"Belum," jawabnya enteng.

"Nah, yaudah." Tambah Vino.

"Pasti, lo sering digodain sama dua temen lo yang udah nikah itu, kan?" tebak Dita.

"Ya gitu, deh. Jadi jomblo di umur segini emang ga enak banget. Yang ngegodain gue itu tiap hari ada aja." Vino bercerita dengan ekspresi kesal sekaligus pasrah. Membuat Dita mengulum senyum menatap pria di hadapannya yang rupanya bernasib tidak jauh beda dengannya.

"Gue juga ngerasain, kok, Vin." Dita menganggukan kepala sembari tertawa kecil.

"Apalagi kalo ada yang abis lahiran atau istrinya lahiran. Pasti gue ditanyain 'kapan nyusul?'. Halah," Vino lagi-lagi berdecak sebal sembari menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi. Ekspresinya membuat tawa kecil Dita menjadi tawa yang sedikit kencang. Mengundang beberapa pasang mata menatap mereka.

"Heh, sttt." Vino meletakan satu telunjuknya didepan bibir tipisnya itu. Mengisyaratkan Dita agar diam, karena ia menyadari bahwa beberapa pasang mata sedang menatap ke arah mereka.

Dita mulai menutup mulutnya agar suara tawanya tidak menggelegar.

"Ketawanya jelek banget, sih, Dit. Hahahaha," ledek Vino begitu Dita mulai berhenti tertawa.

"Emang. Lo bukan orang pertama yang bilang itu." Dita berdecak sebal.

"Lo juga bukan perempuan pertama yang gue temuin yang punya tawa jelek."

Dita melirik kearah Vino, "oh ya?" Dita menaikan satu alisnya.

Vino mengangguk cepat. "Serius." Jawabnya.

"Emangnya siapa aja yang ketawanya jelek kaya gue?"

"Banyak. Perlu gue sebutin?" Dita mengangguk yakin. Ia ingin membuktikan bahwa Vino berkata demikian bukan bermaksud untuk menghiburnya.

"Klara, Aluna, Dian, Cynthia, Karnisa, Sila, Sheryl,"

Dita memperhatikan wajah Vino ketika menyebutkan nama-nama perempuan itu. "Banyak juga, ya." ucap Dita menghentikan perkataan Vino.

"Masih ada lagi. Tapi, gue lupa. Dia temennya si Bayu. Siapa, ya..." Vino mencoba mengingat nama wanita tersebut. Sementara Dita hanya tersenyum simpul melihat wajah pria itu yang ekspresinya nampak bingung. Dita baru menyadari bahwa Vino memiliki banyak ekspresi apabila sedang berbicara. Dan semua ekspresinya nampak lucu, seperti emoticon yang ada di ponsel.

"Vin," lagi-lagi Dita menginterupsi ucapannya.

"Apa?"

"Lo sadar, ga, sih? Kalau lo itu punya banyak eskpresi pas lagi ngomong?" perlahan, bibir pria tersebut mulai terangkat. "Masa, sih?" ucapnya dengan senyum kikuk.

"Serius." Dita mengangguk.

"Lo juga sadar, ga, sih, Dit?"

"Apa?"

"Kalo..., lo itu bawel." Dita mendecak sebal mendengar ucapan Vino. Sementara pria itu tertawa melihat wanita di hadapannya memanyunkan bibir.

"Kurang ajar!" Ucapnya diikuti dengan tatapan sinis Dita yang membuat tawa Vino semakin keras.

"Dita?" tawa Vino seketika hilang begitu menyadari ada seorang pria tengah berdiri di samping meja mereka.

Dita menolehkan kepalanya ke sumber suara tersebut. Suara bariton yang sangat ia kenal itu membuat dirinya seperti tersengat listrik begitu mendengarnya.

Pria dengan kaos polo berwarna biru dongker itu berdiri tepat di samping kanan Dita. Wajahnya membuat Dita merasakan dadanya sesak. Seperti ada debu vulkanik di sekililingnya yang membuatnya sulit bernafas sekarang.

"Ezra," ucapnya pelan.

Perlahan pria itu tersenyum tipis. Ada sesuatu yang kembali hancur saat Dita menatap senyum itu lagi. Sesuatu yang ia coba rangkai dan susun ulang itu roboh dan hancur berkeping-keping lagi hanya karena seulas senyum tipis dari pria yang menurutnya 'brengsek' itu.

"Lagi makan siang, ya?" tanyanya dengan ramah.

Dita menganggukan kepalanya pelan. Bibirnya terasa kaku, lidahnya terlalu kelu untuk digunakan.

"Kebetulan," pria itu membuka tas hitamnya dan mengeluarkan sebuah undangan. Dita tahu betul undangan apa itu.

"Datang, ya." Ezra menyodorkan undangan itu pada Dita. Wanita itu tersenyum tipis sembari menerimanya. Dita masih memilih bungkam, dan tidak berniat menjawab ucapan Ezra.

"Yaudah. Aku permisi, ya. Dita..." Ezra melirik ke arah Vino. "Vino," ucap pria di hadapan Dita memperkenalkan dirinya.

"Iya, Vino." Ucap Ezra dengan senyum ramah. Kemudian ia menyodorkan tangannya pada Vino. Pria itu melirik tangan Ezra, kemudian menjabatnya. "Saya Ezra." Ucapnya ramah.

"Kamu teman barunya Dita, ya?" Vino mengangguk. Pria itu memperhatikan Ezra dan senyum ramahnya yang tak kunjung hilang itu.

"Kalau bisa kamu datang juga ke pernikahan saya. Kalau mau," Vino melirik ke arah Dita begitu mendengar pria itu mengucapkan kata 'pernikahan', ia memiliki firasat bahwa ada yang tidak baik dengan suasana sekitarnya. Membuat semuanya terasa semakin canggung.

"Saya permisi dulu." Ucap Ezra. Vino menganggukan kepala sembari senyum. Begitupun dengan Dita.

Wanita itu menatap punggung Ezra yang perlahan menjauh. Hatinya masih terasa sakit, padahal ia sudah putus sekitar tiga minggu yang lalu.

Vino memperhatikan raut wajah Dita yang berubah drastis. Wanita itu kini tampak lesu. Senyumnya hilang dengan mudahnya. Ia menerka-nerka tentang apa yang terjadi di sekitarnya barusan. Mengapa Dita mendadak lesu bertemu dengan pria itu?

Pesanan mereka pun datang tidak lama kemudian.

Dita tidak memperhatikan makanannya. Ia menatap undangan pernikahan yang terletak diatas meja itu dengan tatapan nanar.

Seharusnya nama wanita yang tertulis di sana adalah namanya, bukan nama wanita itu.

Ia marah pada Ezra, kesal juga. Tapi, ia berbohong apabila ia berkata bahwa ia membenci pria itu.

Ezra masih memiliki ruang sendiri di hati Dita. Belum ada yang bisa membuatnya keluar dari ruang itu.

"Dit," Vino menyentuh punggung tangan Dita yang tergeletak diatas meja dengan lembut.

Wanita itu mengangkat kepalanya. Matanya menemui manik mata gelap milik Vino.

"Gue tau lo ga baik-baik aja," ucap pria itu pelan. "Seperti yang gue bilang kemarin. Kalo emang lo sedih, ya ga usah ditutup-tutupin. Itu manusiawi." Tambahnya.

Dita menghela nafas berat. Ia memaksakan seulas senyum tipis terlukis di bibirnya. Namun, bukannya senyum tipis yang telukis di wajahnya, wanita itu malah terlihat sedang tersenyum miris dengan senyum miringnya.

"Dia... Ezra. Mantan gue," Dita kembali mengalihkan pandangannya dari Vino. Matanya kini tengah menatap kearah undangan yang terletak di mejanya.

"Lo bener, Vin. Gue emang belum bisa ngelupain dia." Lagi-lagi senyum miris itu terlukis di bibirnya.

Vino hanya diam. Ia tidak ingin membuka mulutnya di saat-saat seperti ini. Hanya tidak mau semuanya bertambah rumit.

"Salah ga, sih?! kalo gue masih sayang sama seseorang yang sebentar lagi akan berumah tangga?" Dita mengangkat kepalanya. Ia menatap Vino dengan tatapan yang sulit diartikan.

"Engga," jawab Vino lugas. Vino menatap Dita dengan penuh keyakinan. "Ga salah, Dit. Rasa sayang itu gabisa dipilih untuk siapa. Itu natural, datengnya dari hati." Tambahnya.

Dita menggigit bibir bawahnya kencang. Dadanya benar-benar terasa sesak. Matanya memanas.

Vino menyadari mata Dita yang mulai berkaca-kaca. Tangannya yang bebas ia gunakan untuk merogoh sakunya dan mengambil sapu tangan. Kemudian ia menyodorkannya pada Dita.

"Nangis aja. Ga usah malu." Ucap Vino sembari menyodorkan kain tipis berwarna biru tua itu.

Dita menerimanya. Ia segera menghapus airmata dan membersihkan hidungnya menggunakan sapu tangan itu tanpa rasa malu.

"Makasih," ucapnya pelan sembari terus menghapus airmatanya yang terus mengalir. Vino mengangguk pelan.

"Kalo mau nangis, nangis aja. Gue tungguin. Gue ga akan nyentuh makanan ini sampe lo selesai nangis." Vino menepuk pelan punggung tangan Dita.

Dita hanya diam mendengar ucapan Vino. Ia kehilangan mood-nya untuk berbicara atau basa-basi.

Gadis itu menghapus airmatanya yang terus mengalir dengan sapu tangan. Ia mencoba menahan isakan tangisnya agar tidak terdengar seluruh pengunjung restoran.

Vino menopang dagunya dengan satu tangan sembari terus memerhatikan wajah wanita itu yang memerah. Pria itu menatap lekat-lekat wajah Dita. Sementara wanita di hadapannya itu nampak tidak peduli dengan tatapan Vino padanya.

"Lo cantik kalo lagi nangis," celetuknya sembari terus menatap Dita.

Wanita itu akhirnya melemparkan pandangannya pada Vino. "Lo orang kedua yang bilang itu." ucapnya dengan suara serak dan sedikit gemetar.

"Oh ya? Siapa yang pertama?" Vino menaikan satu alisnya, menunggu jawaban Dita.

"Temen gue pas masih sekolah." Jawab wanita itu enteng.

"Yah, seharusnya gue jadi orang pertama yang bilang itu ke lo." Dita mengangkat kedua bahunya. Kemudian ia mulai meraih garpu dan sendoknya.

"Celetukan gue berhasil buat seseorang berhenti nangis, kali ini." sindir Vino yang melihat Dita mulai mengaduk makanannya. Sementara wanita yang disindir itu baru menyadari bahwa airmatanya sudah berhenti mengalir hanya karena meladeni celetukan pria itu.

***

Karena tidak ada jadwal siaran lagi. Dita memutuskan untuk langsung pulang ke rumah begitu Vino menanyai kemana tujuan mereka setelah selesai makan siang.

Dita melepaskan sabuk pengamannya saat mobil Vino berhenti tepat di depan pagar rumah miliknya. Saat tangannya ingin membuka pintu mobil, Vino menghentikannya dengan menyentuh pundak sebelah kanan wanita itu.

"Dit," ucapnya pelan.

"Apa?"

"Eumm... gue ada pertanyaan rese buat lo," Dita mengernyitkan dahinya saat mendengar ucapan Vino.

"Pertanyaan rese?" Vino mengangguk. "Eumm... ,gue mau nanya soal..., undangan." Ucapnya yang membuat Dita terdiam.

"L-lo mau dateng ke pernikahan itu?" tanya Vino hati-hati.

Dita mendadak membeku mendengar pertanyaan Vino. Wanita itu rasanya sudah hampir lupa dengan pernikahan dan undangan itu karena keasikan mengobrol dengan Vino selama makan siang dan perjalanan pulang. Namun, pria itu malah mengingatkannya lagi.

"Eumm... ga usah dijawab. Gapenting." Tambah Vino yang tak kunjung mendapat respon dari Dita.

"Dateng." Ucap Dita begitu melihat ekspresi dan gelagat kikuk Vino.

"Sendirian?" tanya Vino lagi. Kali ini, Dita mengangkat bahunya sebagai jawaban.

"Gue yang temenin, mau?" Dita mematung di tempatnya mendengar tawaran Vino. Pria ini memang sering kali memberikan tawaran padanya. Tapi kali ini, tawarannya terasa berbeda.

"S-serius?" tanya Dita gugup. Vino mengangguk mantap.

"Mau atau engga?" ulangnya.

Dita tampak menimbang-nimbang jawabannya.

"Eum... boleh aja, sih. Kalo lo sendiri ga keberatan." Ucap Dita.

"Ya, engga, lah. Gue yang nawarin, masa gue yang keberatan." Vino tertawa kecil.

"Mana hp, lo?" Vino menadahkan tangannya.

"Buat apa?"

"Simpen nomor gue. Nanti, lo bisa hubungin gue kalo udah siap. Sekalian kasih tau hari sama jamnya." Dita mengeluarkan layar tipis itu dan langsung memberikannya pada Vino.

Vino mengetikan nomornya di ponsel Dita. Kemudian menyimpannya. Setelah itu, pria itu mengembalikan ponselnya pada Dita.

"Nih, udah." Dita kembali meraih ponsel dan langsung memasukannya kedalam tas.

"Yaudah, gue balik ya, Vin." Ucapnya. Vino mengangguk sembari mengangkat satu tangannya dan melambai.

TBC

****

Hai semuanya, maaf ya lama ga update. Aku lumayan sibuk kemarin-kemarin dengan ujian. Doain aku lolos tes ya, beloved (;

Sepertinya aku akan mulai update cepet.

Jangan lupa vote&komennya ya.

Lanjutkan Membaca

Kamu Akan Menyukai Ini

447 81 18
Persahabatan yg terjalin karna masa SMA,dan mereka semua berhasil mencintai dalam diam,sehingga ada yang memberanikan diri untuk menyatakan perasaan...
739 346 20
baca deh kak, seru lohh, tentang gadis di sekolah militer gitu, ada kekuatan keren yang bisa muncul kalo ada pertukaran darah, isi nya gak seneng-se...
3.5K 72 12
Sebuah cerita yang berkisah pada percintaan seorang remaja hingga beranjak dewasa, dimana untuk meraih cinta itu sendiri penuh dengan lika - liku tan...
1.7K 325 23
Really adalah cerita tentang Pengorbanan, Cinta, dan Perjuangan Yang Abadi *Yang sangat susah pastinya!* Different But S...
Aplikasi Wattpad - Akses fitur eksklusif