"Tidak perlu malu apapun dengan pekerjaanmu. Justru berbanggalah karena dengan kamu bekerja, kamu bisa mendapatkan uang dari hasil kerja kerasmu tanpa harus meminta belas kasih dari orang lain." -Utia Megantara
.
.
**
Waktu weekend itu seperti anugerah bagi para pekerja office hours. Namun berbeda bagi Utia Megantara yang mempunyai sistem kerja shifting, weekend seperti saat ini membuatnya dituntut harus tetap bekerja. Bekerja sebagai frontliner di Mal Serentika yang ada diJakarta merupakan sebuah rasa syukur untuknya. Mencari pekerjaan tidak mudah, apa lagi untuk Utia yang hanya lulusan SMA. Lahir dari keluarga yang sederhana membuatnya banyak belajar tentang mensyukuri hidup.
Bohong jika gaji Utia sebagai frontliner mencukupi kebutuhannya. Utia selalu mewajibkan dirinya menyisihkan gajinya untuk orang tua dan juga adiknya, walaupun hanya sedikit. Setidaknya Utia bisa sedikit meringankan beban kedua orangtuanya yang sudah tidak lagi bekerja.
Utia termasuk dalam kategori wanita yang tidak hemat, boros juga tidak. Ya, mungkin kadang Utia suka pergi jalan bersama teman-temannya atau berbelanja di Mal tempatnya bekerja. Apalagi Mal Serentika banyak bekerja sama dengan tenant-tenant yang mempunyai brand internasional. Kalau dihitung dari lantai satu sampai lantai lima, lebih dari lima ratus tenant yang menempatinya.
Bekerja selama satu tahun lebih membuatnya belajar banyak tipe-tipe karakter orang. Dari yang suka marah-marah hingga yang suka menggodanya karena lekuk tubuh Utia tercetak jelas jika memakai uniform. Dengan dress pendek berwarna ungu diatas lutut yang memperlihatkan kaki jenjangnya walaupun sudah tertutupi stocking warna hitam. Utia tidak termasuk wanita yang jelek, Utia justru termasuk kategori wanita yang lumayan manis. Bertubuh tinggi namun berisi, kulit sawo matang, mata yang tajam, hidung yang mancung. Banyak yang memuji Utia itu manis apa lagi ketika matanya yang tajam sudah dipolesi oleh eleyner. Tapi bagi orang yang tidak mengenalnya menganggap Utia itu judes. Padahal Utia tipe orang yang humoris dan galak.
Utia melenguh dalam hati. Kakinya sudah mulai terasa pegal padahal masih jam delapan malam. Pengunjung yang datang semakin malam semakin bertambah. Entah untuk sekedar makan, nonton, hangout bersama teman dekat. Tapi kadang Utia tidak sedikit menemukan orang-orang yang sering dilihatnya setiap hari.
Apa enggak bosen ya ke Mal terus?
Lagi-lagi Utia melenguh, hingga ibu-ibu bertubuh gempal menghampirinya dengan membawa seorang bocah laki-laki yang sedang cemberut. Buru-buru Utia merubah raut wajahnya menjadi tersenyum manis. Kalau sampai supervisornya tau Utia membuat customernya complaint karena attitude yang buruk. Utia bisa dikirim kekantor pusat untuk ikut Service Excellence lagi.
BIG NO!
"Permisi mbak," tanya ibu tersebut dengan nada tergesa-gesa namun tidak segan membalas senyum Utia.
Tangan kanan Utia terangkat keatas menyentuh dada kirinya yang tersemat berupa pin smile, mengartikan bahwa sebelum memberi salam kita harus tersenyum terlebih dahulu.
"Selamat malam ibu, ada yang bisa saya bantu?" Tubuh Utia sedikit membungkuk memberi salam.
"Ih, mbak cantik banget sih. Dandannya pinteran banget. Itu bulu matanya bisaan banget pakenya. Saya kalau pake kecolok terus."
"Terima kasih Ibu."
"Itu pasti pake bulu mata Syahrini ya? Mahal deh pasti."
"Oh, enggak kok bu. Saya pakai bulu mata biasa."
"Mami ayo, beli ice cream Haagen Dazs."
"Iya nanti. Mami ke toilet dulu." Matanya beralih kepada Utia yang masih tersenyum, "Eh iya, tadi dimana mbak toiletnya?"
"Ibu lurus saja dari sini, nanti ketemu tenant Terminal Games ibu bisa belok kekiri." Utia memberikan arah yang ditunjukkan, Ibu bertubuh gempal tersebut hanya mengangguk mengerti.
"Oke mbak, terima kasih. Ayo, buruan."
"Terima kasih kembali ibu."
**
Jam 9:50 PM
Sepuluh menit lagi jam pulang. Utia sudah merapikan meja conter tempatnya berjaga hari ini. Menumpuk file-file harian dan barang-barang temuan yang akan diserahkan kepada supervisor. Laci-laci sudah dikunci rapi dan ditaruh kedalam pouch supaya nanti yang mendapatkan shift pagi tidak bingung mencari.
Dering telepon didekat komputer berdering. Membuat Utia yang baru meletakkan vas bunga mendengus sebal.
Ini udah malem keles!
"Selamat malam. Mal-"
"Cun," panggil seseorang diseberang telepon.
"Hm,"
"Lo udah beberes conter?"
"Hm,"
"Ham-hem, ham-hem, aja lo kalo ditanya."
"Gue lagi capek Tan," ucapku sambil melepas heels.
"Capek ngapain? Baru gajian udah capek. Paling gigi lo doang kering."
"Serah."
"Eh cun, pulang dugem yuk. Di Alexis aja yang deket. Gue baru dapet gadun baru."
"Ati-ati lo kalo ngomong. Ini telepon direkam bencong."
"Ye, yang penting kan kita enggak ngomongin bisnis."
"Siapa bilang? Tuh tadi lo abis ngomong gadun."
"Itu beda lagi kampret."
"Sama aja."
"Jadi gimana?"
"Apanya?"
"Mau dugem gak? Tenang duit lo aman."
"Gue lagi males tan,"
"Elah, males aja lo piara. Ajak si Ronald."
"Ck, dia pasti lebih milih ke Apollo dari pada Alexis Tan."
"Sok tau lo."
"Ye gak percaya. Serah lo."
"Tai."
"Elo jamban."
"Awas lo ya diloker gue botakin."
"Ye ngancem."
"Bodo."
"Bhay."
***
BRAK!
"HEY LADIES JANGAN MAU DIBILANG MATRE. KITA JUGA BUTUH DUIT BUTUH BELAIAN. BILA DUIT HABIS CARI GADUN LAGI."
Bunyi bantingan pintu ruangan khusus frontliner wanita, disusul dengan suara nyaring milik wanita yang penampilannya sudah berantakan membuat Utia, Carla, Anis yang ada diruangan tersebut menoleh kaget. Pasalnya setiap orang yang mau memasuki ruangan ini harus mengetuk pintu terlebih dahulu karena ruangan ini sangat privat bagi wanita.
Namun begitu melihat yang memasuki ruangan ini adalah Vera membuat orang yang ada diruangan itu memutar bola matanya sarkastik.
"Ampun deh Tan, suara lo berisik banget." Utia yang sedang membersihkan wajahnya menggunakan kapas mendelik pada Vera yang biasa dipanggilnya Tan alias Tante sedang menjadikan heelsnya sebagai microphone.
"Ih, bagus gini juga. Gue tuh lagi menyuarakan isi hati kaum wanita," ucapnya menarik-narik rambut Utia yang sudah rapi dikuncir. Lalu tangan satunya yang masih menenteng heels melemparkan begitu saja heelsnya didekat rak sepatu tanpa berniat menaruhnya dengan benar.
Kesal dengan sikap Vera yang seenaknya, Utia membalikkan badannya lalu tangannya terjulur memukul paha Vera yang sudah melepas stockingnya, "Lo tuh kebiasaan banget."
"Aduh, paha gue merah nih."
"Bodo amat." Utia mendelik pada Vera yang sedang mengaduh. Mungkin orang lain selain Utia tidak ada yang berani melawan atau menegur Vera karena sikapnya yang seenaknya. Selain karena Vera sangat dekat dengan Utia, Vera juga punya mulut dan tangan luar biasa pedas. Sementara Carla dan Anis hanya tertawa sambil merapikan lokernya masing-masing.
Gerakan tangan Vera terhenti begitu mendengar ketukan pintu dari luar, dengan wajah cemberut, Vera berjalan membukakan pintu. Senyumnya seketika merekah begitu mengetahui bahwa Zein keturunan arab yang mengetuknya. Dengan bewok tipis memenuhi sekitar rahangnya yang tegas, kulit putih, serta hidung yang mancung.
"Ayang Zein, paha aku merah tau dipukul Utia. Coba kamu periksa deh," adu Vera sambil menaikkan dressnya semakin keatas dengan tubuh yange bergelayut manja didaun pintu.
Laki-laki yang dipanggil Zein itu hanya tersenyum pada Vera tidak berniat sama sekali membalas ucapan Vera yang frontal. Matanya justru melirik pada Utia yang memasang wajah seolah-olah ingin muntah.
"Tia, pouch Mal 2 kamu taruh dimana?"
Merasa dipanggil namanya, Utia menoleh pada Zein yang masih berdiri diambang pintu.
Ganteng banget sih Zein!
"Gue taruh dimeja Pak Kamil."
"Oh, oke. Soalnya Pak Kamil justru malah nyariin."
"Lah, gimana sih itu aki-aki."
"Zein, kok Utia doang sih yang ditanya? Akunya enggak?"
"Tante Vera mau ditanya apa?" Tanya Zein dengan wajah polos.
"Ih, jangan Tante dong?"
"Trus apa?"
"Hmm. Sayang, cinta, baby, atau sweetheart juga boleh Zen."
"Jijik banget sih lo!"
"Sirik aja ih."
"Kelamaan lo gue tinggal ya."
"Iya. Iya. Iya. Cemburuan dasar."
"Aku dulan ya Tia, Tante Vera."
"Iya baby Zein. Kapan-kapan boncengin aku pakai ninja kamu ya. Jangan Utia mulu. Hati-hati sayang."
Kali ini Zein tertawa mendengar ucapan Vera, namun Vera justru memberikan kecupan jarak jauh begitu melihat punggung tegap Zein sudah berjalan menjauh.
***
15 April 2017