HURT
"Pada kenyataannya, orang yang kita sayang adalah orang yang paling mampu menyakiti hati kita."
MOBIL berwarna hitam memasuki pekarangan rumah Aldira. Aldira yang sedang terduduk di balkon rumahnya menengok ke arah garasi. Ia melihat wajah bahagia dari Doni yang baru saja keluar dari mobil. Dengan segera Aldira keluar dari kamarnya.
"Papa," sapa Aldira mengejutkan Doni yang baru saja membuka pintu rumah.
Doni tersenyum ke arah Aldira. Firasat baik mendatangi Aldira. "Bahagia banget."
"Sanul sanul," ucap Doni dan segera berjalan cepat ke arah sofa. Ia merebahkan tubuhnya dan menghirup nafas dengan senyumannya yang masih mengembang.
"Sanul apaan?"
"Balik dong."
"S-a-n-u-l. Lu--nas? Utang papa udah lunas semua?" Suara Aldira yang memekik menggema di ruang tamu membuat Lina keluar dari arah dapur.
"Yang bener, Pa?" Tanya Lina.
Doni menegakkan tubuhnya dan menepukkan tangannya pada sofa agar Lina duduk di sebelahnya.
"Tangan kanan papa dulu yang berkhianat itu udah di penjara sekarang. Keluarganya bantu ngelunasin 50%. Lumayan lah, ada kembalian karena papa udah bayar sekitar 60%."
"Bagi upah dooongg," bujuk Aldira yang sudah duduk di sebelah Doni di sisi yang lain.
Doni menaikkan kedua alisnya ke arah Aldira. "Upah apa?"
"Upah buat bayar Nadine, upah ngempet makan di kantin, upah gak shopping, upah--"
"Sana kerja lagi aja biar dapet upah."
"Yang bener?" Tanya Aldira memasang wajah serius.
"Tapi dicoret dari kartu keluarga."
Pukulan mendarat di bahu Doni yang sedang tertawa. Lina hanya menggeleng melihat Doni yang justru membalas pukulan Aldira.
Tangan Aldira mengambil uang yang mengintip di saku kemeja Doni dan beranjak pergi. "Upah, hehe," ucap Aldira seraya menunjukkan selembar uang 20.000.
Doni hanya tersenyum dan membiarkan Aldira pergi ke kamarnya.
Aldira menaruh uang yang ia rebut dari Doni di atas meja belajarnya. Ia melirik sekilas ke arah sticky note yang dulu sempat ditulis oleh Arsen ketika ia sakit. Mata Aldira tertuju pada layar handphonenya yang menyala menandakan ada notif yang masuk.
Ibu jari Aldira memencet notif yang ternyata e-mail dari Vigo dengan malas.
From : vigoarmadikta@yahoo.co.id
To : aldiralonadirga@yahoo.co.id
Hi, Dir. Sorry baru sempet ngabarin, hp gue ilang di bandara dan gak bisa ngehubungin lo.
Oh ya, sebelumnya gue mau ngomong. Lo tau kan gue orangnya gampang kepengaruh. Kepengaruh sm keadaan. Sebagai contoh waktu kita putus karena Nadine. Gue gamau itu terulang lagi dan nyakitin lo lagi.
Misal gue disini ternyata nyaman sm seseorang yg ada di sekitarku, itu pasti bakal nyakitin lo. Gue gak bisa LDR, Dir.
Gue harap lo bisa pahami and selalu posthink! Jgn lupa bahagia:)
Aldira hanya tersenyum masam dan menaruh handphonenya tanpa mengirimkan balasan pada Vigo. Perasaannya dari awal bertemu dengan Vigo lagi memang sudah tidak enak.
Punggung Aldira sudah mendarat di kasurnya dengan matanya dengan perlahan menutup. Memasuki alam tidurnya. Melupakan sejenak kenyataan dunia.
***
Sinar matahari membuat Aldira terbangun dari tidurnya. Suara seorang lelaki juga menyadarkan dia.
"Udah sampe sekolah," ucap Doni membangunkan Aldira yang tertidur di kursi sebelah kursi kemudi.
"Emh." Kedua tangan Aldira ia rentangkan lurus. Matanya ia usap pelan memeriksa debu yang mengering di unjung kelopak matanya.
Aldira mencium tangan Doni dan tersenyum manis. "Anterin gini terus ya, Pa. Biar bisa lanjutin tidur di mobil tiap hari."
Doni hanya tertawa dan mendorong Aldira pelan untuk segera keluar dari mobil.
Aldira turun dari mobilnya dengan wajah yang ia usahakan untuk bahagia. Moodnya sudah hancur ketika membaca e-mail dari Vigo semalam. Kakinya terus melangkah menyusuri koridor menuju kelas dan duduk di kursinya dengan tenang.
"Ada pr gak, Din?" Tanya Aldira pada Nadine yang duduk di sebrang mejanya.
Nadine tersenyum sumringah. "Lo, udah gak jutek lagi ke gue, Dir?"
"Perasaan dari kemarin sebelum gue mau nyamperin Tabita di lapangan, gue udah ngajak lo ngobrol deh."
Nadine memutar bola matanya seraya berpikir. "Tapi kan lo kemarin kayak buru-buru gitu ya gue kira masih marah."
"Lah pala lu sahabat lagi sakit di lapangan masa' gak khawatir?" Jawab Aldira tanpa berpikir.
Nadine hanya tertawa mendengar Aldira yang sudah bisa selepas ini padanya.
"Gimana keadaan Tabita, Dir?" Tanya Nadine pada Aldira yang sibuk merogoh earphone di dalam tasnya.
"Tauk dah."
"Dir?"
"Lo belom jawab pertanyaan gue. Ada pr gak?" Ucap Aldira mengulangi pertanyaannya.
"Gak ada Aldira cantik. Gimana keadaan Tabita?"
Aldira tersenyum dan mendapatkan earphone yang sudah berada dalam genggamannya. Ia menggerakkan tangannya untuk menyumbat lubang telinganya dengan earphone seraya menjawab pertanyaan Nadine. "Udah gapapa dia. Katanya sih besok udah masuk. Lo sini duduk sama gue."
***
Aldira berada di kantin saat pulang sekolah. Murid-murid sudah dibubarkan tetapi Aldira memilih untuk memanjakan perutnya terlebih dahulu. Ia menyantap semangkuk bakso dengan lahap.
"Belom pulang juga lo, Dir?"
Tangan Aldira berhenti bergerak tetapi mulutnya terus mengunyah makanan yang ada untuk segera menjawab pertanyaan Nadine yang sudah ada di hadapannya.
"Pelan-pelan aja makannya," ucap Nadine melihat Aldira yang kembali menyuap suapan terakhir ke dalam mulutnya.
Aldira meminum teh yang tidak begitu dingin dengan beberapa tegukan dan habis. "Gue mau curhat nih."
"Curhat apa?" Tanya Nadine antusias mendengar ucapan Aldira.
"Kenapa sih gue selalu nethink?"
"Negative thinking? Contohnya?"
Aldira menjauhkan mangkuk bakso dan gelas yang sudah kosong dari hadapannya. "Lo yang waktu ketemu sama Vigo di mall."
"Ya nama--"
"Arsen yang nolongin Tabita kemarin di lapangan."
Nadine membulatkan matanya sempurna. Ia kemarin sudah mengira Arsen akan bertindak seperti itu sehingga Nadine yang melihat Arsen dari kejauhan mencegah Aldira untuk mendekat. Entah pemikiran seperti apa yang mengharuskan Nadine mengutamakan menjaga perasaan Aldira daripada menolong Tabita yang waktu itu sudah tergeletak.
"Din?"
"Bukan diri lo yang memerintah otak lo buat ber-negative thinking. Tapi mindset lo yang gak mudah percaya sama orang buat lo ragu akan cintanya."
Aldira menyerap ucapan Nadine dengan cepat. Perkataan Nadine memang benar dan langsung merasuk ke hatinya. "Gue harus apa, Din?"
"Rubah diri. Gak semua hal patut buat lo curigain kan? Sesayang-sayangnya doi lo ke lo saat ini, dia juga bakal capek merasa gak lo percayai," jelas Nadine lagi.
Aldira menatap nanar ke arah gelas yang sudah kosong. Bukan menyesali minumannya yang sudah habis. Tetapi menyesali apa yang selama ini ia perbuat pada Vigo.
"Gue tau lo nyesel. Dulu lo sayang sama Vigo tetapi lo juga yang bikin Vigo gak nyaman. Tapi takdir udah berkata demikian, Dir. Untuk saat ini, Vigo bukan untuk lo."
"Terus siapa yang buat gue, Din? Seseorang yang bakal gue usahain agar gue percaya sama dia, gak negative thinking tentang dia," sela Aldira.
"Arsen."
"Arsen berbuat baik sama semua orang, Din. Lo tau itu."
Nadine tersenyum. "Merpati menyebarkan pesonanya yang indah pada semua orang. Tetapi merpati hanya punya 1 rumah."
***
"Aturan buat lo sama Aldira cuman 1 itu kok. Gak ada yang lain. Yang lain bebas lo mau improvisasi sendiri."
Nadine berbicara dengan seorang lelaki yang kini berada di hadapannya. Di sebuah food court mall mereka duduk saling berhadapan.
"Jadi gue cuman harus ngertiin dia?"
Nadine menjentikkan jarinya pertanda ucapan lelaki itu tepat pada sasaran.
"Aldira itu aneh, suka berubah, gak pasti, sementara gue harus ngertiin terus."
"Lo niat berjuang gak sih, Sen?"
Arsen. Lelaki itu membuat suara ketukan di meja dengan jari-jemarinya. "Gue niat buat berjuang. Tapi jangan salahin gue kalo gue tiba-tiba berhenti."
"Kok lo ngomong gitu?" Tanya Nadine dengan raut wajah yang tidak setuju.
"Perasaan orang gak bisa dipaksain, Din. Kalo gue sama Aldira cocok ya lanjut. Gak ada aturan dalam mencintai."
***
BERSAMBUNG