#PREM
Aku terbangun dan merasakan sakit di seluruh tubuhku. Tubuhku rasanya kaku dan kepalaku masih sangat pusing. Aku mengerjapkan mata beberapa kali dan menyadari bahwa aku sedang berada di rumah sakit.
"Kau sudah bangun?" Suara Knott yang sedang duduk di sampingku mengejutkanku. Aku memandangnya sejenak, dan kemudian berusaha untuk bangun. "Jangan banyak bergerak dulu, bodoh. Tubuhmu masih lemah," Kata Knott lagi, sembari kembali membantuku berbaring dengan nyaman. "Kau haus? Lapar? Atau butuh sesuatu? Katakan saja padaku."
"Aku haus Knott. Tolong ambilkan aku air," Knott langsung bergerak ke arah meja dan menuangkan air ke dalam gelas kosong. Setelah itu, dia pun membantuku untuk minum.
"Terimakasih," Ucapku. "Berapa lama aku pingsan?"
"Sejak semalam." Kata Knott.
Aku menghela nafas panjang. "Aku pikir, aku mimpi buruk semalam," Kataku. Dan Knott langsung menatapku tajam. "Aku tau, aku tau. Itu bukan mimpi. Benar kan?"
"Apa yang kau bicarakan Prem?"
"Euh, lupakan. Aku tidak ingin membicarakannya. Maaf, aku merepotkanmu, Knott."
"Yah, lagipula kau sudah biasa melakukannya. Aku juga sudah terbiasa di repotkan olehmu. Jadi bagiku tidak ada masalah." Ujarnya.
Aku tersenyum kecil. "Kau memang selalu bisa di andalkan,"
"Aku baru saja berbicara dengan dokter, Prem. Semalam, mereka melakukan CT Scan padamu, karena waktu kau di larikan ke UGD, kau sempat sadar dan mengeluhkan sakit yang hebat di kepalamu."
Aku terdiam mendengar penuturan Knott. Jika benar begitu, itu artinya sekarang Knott sudah tau kondisiku yang sebenarnya.
Ku lihat Knott mengusap wajahnya sambil menghela nafasnya dengan berat. Matanya menatap tajam ke arahku seakan meminta penjelasan.
"Karena kau diam, ku rasa kau sudah tau. Aku benar kan Prem?"
Aku akhirnya tersenyum kecil pada Knott, "Tentu saja aku tau. Ini tubuhku. Aku bisa merasakannya."
"Lakukanlah operasi Prem. Kau masih bisa sembuh dengan operasi."
"Kau gila Knott? Kau tau apa resikonya jika aku melakukan operasi? Aku bisa kehilangan ingatanku sepenuhnya."
"Prem... dengarkan aku. Kau harus melakukannya. Ini demi kesembuhanmu, Prem."
"Tidak, aku tidak akan mau melakukannya. Aku tidak ingin melupakan semuanya. Aku tidak ingin melupakan keluargaku, melupakan kau, melupakan Arthit, melupakan Bright dan Toota, juga teman-temanku yang lain.. aku tidak mau!"
"Dan yang terpenting kau juga tidak mau melupakan Wad, begitu kan maksudmu?" Ujar Knott sarkas.
Aku kembali diam sejenak. Aku kumudian bersusah payah untuk bangun dan merubah posisiku menjadi duduk.
"Sudah ku bilang jangan-,"
"Aku sudah tidak apa-apa Knott." Aku menyela kalimat Knott. Knott pun menyerah dan akhirnya membiarkanku untuk duduk di tepi ranjangku. "Knott, aku tidak bisa melakukan operasi itu. Aku benar-benar tidak mau kehilangan semua kenangan indahku. Karena itu adalah satu-satunya yang ku punya sekarang, Knott."
"Tapi kalau kau tidak melakukan operasi, kau bisa kehilangan nyawamu, Prem! Kau tau itu?" Knott membentak dan terlihat sangat geram dengan perilaku ku.
Aku terdiam.
"Ku mohon jangan keras kepala kali ini, Prem. Lakukanlah operasinya agar kau bisa sembuh."
"Sejujurnya, jika aku boleh memilih, aku tidak ingin bangun hari ini, Knott. Karena aku sudah sangat lelah. Aku tidak tau harus bagaimana menghadapi hidupku. Sepertinya mati adalah pilihan yang lebih baik untukku."
"Dasar kau bajingan bodoh!! Berpisah dengan laki-laki semacam Wad bukanlah akhir dari dunia, Prem! Mengertilah! Kau pantas untuk mendapatkan orang yang lebih baik daripada si bajingan itu! Lagipula, ini adalah kesempatan yang tepat, agar kau bisa melupakannya. Ikutlah denganku ke Jepang. Dokter yang menanganimu menyarankan seorang dokter spesialis di Jepang, yang bisa membantu untuk operasimu. Jika akhirnya pun kau akan benar-benar melupakan semuanya, kami, teman-temanmu yang akan membantumu untuk mengingat semuanya lagi. Teman-temanmu semuanya ada di sampingmu, ketika nantinya kau akan memulai hidupmu yang baru, Prem. Jadi kau tidak perlu khawatir. Tidak akan ada yang berubah di hidupmu, kecuali satu hal. Yaitu soal si bajingan itu. Akan ku pastikan padamu, bahwa kau tidak akan pernah mengingatnya lagi. Kau tidak akan pernah mengingat lagi kejadian mengerikan semalam. Semuanya hanya akan menjadi mimpi buruk yang tak berarti bagimu. Aku akan pastikan itu padamu. Jadi kumohon... lakukanlah operasinya. Demi keluargamu, dan juga teman-temanmu. Aku mohon Prem..."
Aku memandang Knott yang sedang menghiba padaku. Aku mencerna satu persatu kata-katanya. Apa yang di katakan Knott memang benar. Operasi itu akan sangat membantuku. Terutama untuk melupakan lelaki itu. Aku memejamkan mataku sejenak, "Beri aku waktu untuk berpikir Knott. Saat ini... aku masih tidak bisa berpikiran dengan jernih. Aku masih butuh waktu untuk menata kembali hidupku. Dan aku tidak ingin mengambil keputusan terburu-buru. Ini semua sangat berat untukku Knott."
Knott menundukkan kepalanya sambil menghela nafasnya, "Baiklah, aku mengerti. Ini memang keputusan yang berat untukmu. Tapi aku yakin, kau pasti tau mana yang terbaik untuk hidupmu."
"Hm, sekali lagi terimakasih Knott. Aku tidak seharusnya membuatmu berurusan dengan hidupku yang berantakan ini. Tapi aku bersyukur, kau dan juga yang lainnya masih ada disini untukku. Terimakasih,"
"Semenjak kita berlima saling mengenal, kau, Ai'Arthit, Ai'Bright, dan Ai'Totta juga, sudah ku anggap sebagai saudaraku sendiri, Prem. Jadi kapan pun kalian membutuhkanku, aku akan selalu ada untuk kalian."
Aku tersenyum, "Aku juga begitu, Knott. Aku juga sudah menganggap kalian semua seperti saudaraku sendiri. Aku merasa sangat bodoh, karena sempat berpikiran ingin mati hanya gara-gara lelaki yang sudah jelas-jelas tidak mencintaiku. Aku lupa jika aku punya begitu banyak orang berharga di sampingku yang lebih mencintaiku."
Knott menyeringai, "Setidaknya kau menyadari itu, bajingan."
"Hoy Hoy Hoy... Friend... we're coming!"
Tidak lama, tiba-tiba Bright, Arthit dan Kongpob datang ke ruang rawatku sambil membawa beberapa bungkusan di tangan mereka.
"Ai'Bright... apa ini semua? Kalian seperti habis merampok supermarket?" Kata Knott. Aku tertawa.
"Au, Ai'Knott, kan kau bilang menyuruhku menginap malam ini untuk menjaga Prem? Mana enak jika tidak ada snack dan Beer?" Kata Bright.
"Anak ini sudah gila. Bagaimana bisa kau membawa masuk Beer ke rumah sakit? Ckckck..." Knott hanya menggeleng-gelengkan kepalanya dengan takjub.
"Hey Prem," Arthit menyapaku.
"Sawadee Khrub, P'Prem," Kongpob yang berada di sampingnya juga memberi salam.
"Prem, bagaimana keadaanmu? Aku sangat panik ketika Knott memberitauku kalau kau masuk rumah sakit." Kata Arthit.
"Aku tidak apa-apa, Arthit. Knott terlalu melebih-lebihkan." Ucapku. Knott langsung menatapku dengan wajah jengah, membuatku tertawa geli. "Emm.... Kongpob,"
"Khrub P'Prem,"
"Emm... aku mau tanya padamu. Hari ini... hari ini... bagaimana keadaan..."
"P'Prem, mau menanyakan soal Wad ya?" Kongpob langsung menebaknya dengan tepat.
Ku lihat Knott dan Bright kembali memandangku dengan glaring death mereka. Tapi aku tidak peduli. Hatiku masih tidak bisa tenang melihatnya yang juga begitu hancur semalam. Aku tau aku bodoh, karena sudah mengkhawatirkan orang yang jelas-jelas tidak peduli padaku. Tapi... entahlah... aku juga tidak mengerti dengan perasaanku sendiri.
"Sebenarnya... Wad menghilang hari ini, P'Prem." Ujar Kongpob.
Aku mendelik kaget.
"Yah, kami sama sekali tidak bisa menjangkaunya hari ini. Di cari di dormnya, tidak ada. Ponselnya pun tidak aktif. Aku tidak tau dia kemana. Seharian ini, aku dan tim juga sangat mengkhawatirkannya." Jelas Kongpob.
"Hmh," Bright tertawa meledek. "Benar-benar pengecut. Dia tidak bisa menyelesaikan masalahnya sendiri dan berujung dengan melarikan diri. Benar-benar tidak bisa dipercaya. Sudahlah Prem! Lupakan saja dia! Untuk apa kau mengkhawatirkan manusia yang tidak punya perasaan sepertinya! Dia bahkan tidak pantas lagi di sebut sebagai seorang manusia!" Lanjut Bright.
"Euh, aku tau. Tenanglah Bright, " Kataku menenangkan Bright yang kembali mendidih karena mengingat perilaku Wad semalam.
"P'Prem... kalau aku boleh tau... apa yang sudah Wad lakukan pada P'Prem?" Tanya Kongpob. Arthit pun juga memandangku, seakan dia juga penasaran dengan apa yang sudah terjadi.
Tapi aku tidak bisa menceritakannya pada mereka semua. Bukan karena aku tidak mau, tetapi kembali mengingat kejadian semalam membuatku kembali merasa hancur. Aku tidak ingin mengingatnya lagi. Aku benar-benar ingin melupakan semuanya.
Apa.. memang itu yang terbaik? Melupakan semuanya?
"Kalau kau tidak bisa mengatakannya, biar aku yang cerita!" Bright menyela. "N'Kong, sekarang kau dengarkan aku baik-baik ya. Temanmu yang bernama Wad itu, yang kelakuannya sudah seperti binatang itu, berselingkuh di belakang Prem! Semalam, kami bertiga memergoki dia sedang bercumbu dengan laki-laki lain di Bar. Benar-benar menjijikkan! Aku benar-benar merasa ingin muntah jika mengingatnya." Rutuk Bright.
Kongpob dan Arthit saling bertukar pandang dengan raut wajah mereka yang terlihat sangat terkejut.
"Sudah sudah. Lupakan soal itu! Prem, istirahatlah. Kami akan disini menjagamu." Kata Knott. Aku pun menurut dan kembali membaringkan tubuhku di ranjang.
"Aku mengantuk. Aku akan tidur siang sebentar ya," Kataku. Mereka tidak menjawabku. Aku hanya mendapatkan tatapan-tatapan iba dari mereka semua. Aku kemudian menutup mataku erat-erat, mencoba untuk tidur agar aku bisa berhenti memikirkannya.
Aku ingin melupakannya.
--00--
#KONGPOB
Malam itu, seusai menjenguk P'Prem, aku dan P'Arthit memutuskan untuk pulang, karena P'Knott dan P'Bright sudah ada disana untuk menjaga P'Prem. Namun aku masih bisa melihat raut wajah khawatir di wajah P'Arthit. Aku tau, P'Arthit masih sangat mengkhawatirkan keadaan P'Prem. Mereka sudah berteman selama bertahun-tahun, jadi aku tidak terkejut jika mereka saling peduli satu sama lain seperti ini.
"P', boleh aku menginap di apartemenmu hari ini?" Ucapku, ketika aku sudah mengantarnya sampai di depan pintu apartemennya.
"Apa? Kenapa?" Tanyanya.
"Besok kan weekend, P'. Aku ingin menghabiskan waktu bersamamu. Dan lagipula... aku tau P' masih sangat khawatir pada P'Prem. Karena itu, ijinkan aku disini, untuk menemani P'Arthit."
P'Arthit terdiam sejenak sambil memandangku, "Kongpob," Panggilnya.
"Khrub P'?"
"Jika... kau menjadi Wad... apa kau juga akan melakukan hal yang sama?"
Aku mengernyitkan dahiku bingung, "Apa maksud P'Arthit?"
"Jika... aku sudah tidak bisa membuatmu bahagia... apa kau juga akan berpaling dariku dan memilih orang lain?"
"Hey, P'Arthit..." Aku langsung menghentikan kata-katanya. Aku kemudian menangkup wajah P'Arthit dan mengusap pipinya lembut. "P'Arthit ini bicara apa? P'Arthit pasti tau kan kalau aku tidak akan mungkin berbuat hal sekeji itu pada P'Arthit. Aku sangat mencintai P'Arthit. Jadi mana mungkin aku menghianati P'Arthit?" Kataku.
"Hm, aku tau." Ujarnya sambil tersenyum lembut. "Aku percaya padamu, Kongpob. Aku.. hanya kasihan pada Prem. Baru kali ini, aku melihatnya selemah ini. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana perasaannya saat ini. Aku tidak bisa membayangkan... kalau apa yang Prem alami terjadi padaku... aku... mungkin-,"
"P'Arthit.. ku mohon jangan berpikiran seperti itu. Aku tidak akan pernah meninggalkan P'Arthit. Jangan di pikirkan lagi ya. P'Prem juga pasti akan baik-baik saja. Dia masih punya kita semua. Benar kan?"
P'Arthit tersenyum kecil, "Hm. Masuklah, Kong. Kau boleh menemaniku malam ini."
Aku tersenyum lebar. Aku mengecup bibirnya cepat, kemudian langsung melangkah masuk ke dalam apartemennya.
Kami kemudian duduk berdua di sofa. Aku mengaitkan tangan kananku di leher P'Arthit, dan mengusap dadanya pelan. P'Arthit menyandarkan tubuhnya dengan nyaman di bahuku.
"Aku masih tidak percaya jika Wad bisa melakukan hal seburuk itu pada P'Prem, P'. Selama ini aku sangat percaya padanya, tapi kali ini perbuatannya sangat mengecewakanku." Kataku.
"Hm aku tau. Aku juga sangat kecewa pada Wad. Ada apa dengannya sebenarnya? Aku pikir selama ini dia sangat mencintai Prem,"
"Aku harus segera menemukan Wad P'. Dia harus menjelaskan sendiri padaku, kenapa dia bisa berbuat hal seperti ini pada P'Prem. Aku masih tidak yakin Wad melakukan ini hanya karena P'Prem tidak pernah mau berhubungan sex dengannya. Pemikiran Wad benar-benar sangat dangkal. Itu benar-benar tidak seperti Wad yang aku kenal."
"Jangan terlalu dipikirkan, Kong. Aku tau kau sudah cukup terbebani dan cukup lelah dengan semua urusan kegiatan SOTUS. Jangan memikirkan masalah lain dulu. Jangan paksakan dirimu. Masalah ini, akan kita selesaikan pelan-pelan. Aku pikir Wad juga butuh waktu untuk mengintropeksi dirinya."
"Aku hanya berharap dia tidak melakukan hal-hal buruk selama dia menghilang, P'."
"Aku tau kau khawatir pada temanmu, Kongpob. Tapi dia sudah dewasa. Dia pasti bisa menentukan mana yang terbaik untuk dirinya."
Aku menganggukkan kepalaku sambil mencium kepala P'Arthit cukup lama.
"Kau tau Kong, aku beruntung karena aku memilikimu sebagai kekasihku. Aku benar-benar sangat beruntung, Kong."
Aku tertegun. Bahagia langsung menyelimuti hatiku. Aku memeluk P'Arthit lebih erat dengan kedua tanganku dan mencium puncak kepalanya. Aku merasa memiliki seluruh isi dunia ketika P'Arthit mengatakan kata-kata tersebut kepadaku. Aku benar-benar merasa menjadi manusia yang paling bahagia di dunia, karena aku mendapatkan cinta yang begitu besar dari orang yang juga sangat ku cintai.
Seharusnya Wad juga bisa menyadari itu. Wad benar-benar sangat bodoh karena telah menyia-nyiakan P'Prem. Dia juga mendapatkan cinta yang begitu besar dan begitu tulus dari P'Prem, tetapi hanya karena P'Prem tidak pernah menunjukkan itu padanya, Wad jadi berpaling kepada orang lain. Benar-benar tidak bisa dipercaya. Itu sama sekali tidak seperti perilakunya. Jujur aku masih tidak percaya bahwa temanku itu bisa melakukan hal sekeji itu. Tetapi saat melihat reaksi P'Prem, P'Knott dan P'Bright yang terlihat begitu sangat membencinya saat ini, aku rasa apa yang mereka katakan itu semuanya benar.
"Kongpob... kau ingat pada pria bernama P'Gun itu?" Ujar P'Arthit tiba-tiba. "Apa kau pikir... ini semua ada hubungannya dengan pria itu?"
"P'Gun...?" Kataku lirih.
Aku baru ingat soal pria itu! Mantan kekasih Wad yang bernama P'Gun itu memang menemui Wad kemarin. Dan setelah aku memberikannya nomor dorm milik Wad, semuanya menjadi seperti ini. Apa jangan-jangan benar dugaan P'Arthit kalau ini semua ada hubungannya dengan pria itu?
"Euh, sudahlah. Tidak usah dipikirkan Kongpob. Lagipula ini juga bukan urusan kita. Oh iya, kau mau minum apa Kongpob? Aku punya coklat panas. Kau mau?" Kata P'Arthit melepaskan pelukanku, lalu kemudian berjalan menuju dapurnya.
"Hm, boleh P'..." Kataku.
P'Arthit kemudian mulai sibuk melakukan sesuatu di dapur seiring dengan suara gelas kaca yang mulai terdengar berdentingan. Aku tersenyum. Dengan perlahan aku berjalan menuju ke arah P'Arthit dan merengkuh pinggangnya dari belakang.
"Hey, Kongpob... ada apa? Lepaskan aku. Aku sedang membuatkanmu minuman." Protesnya.
"Aku sangat merindukanmu P'Arthit..." Ujarku seduktif, sambil mencium tengkuk leher P'Arthit.
"Ayolah Kongpob. Hentikan. Kau bilang kau ingin coklat panas,"
"Aku tidak menginginkan coklat panas lagi. Aku-,"
Drrrrtt.... Drrrrrttt...
"Emm... T-Telepon... telepon.. aku harus mengangkatnya." Suara ponsel milik P'Arthit membuat 'kegiatan' kami itu berhenti. P'Arthit segera melarikan diri dariku dan mengambil ponselnya yang berada di meja makan.
Telepon sialan!
"Halo... |Oh, kau... iya... ada apa? | Hmm... besok? Ku rasa aku bisa. | Hm, baiklah. Katakan saja jika latihan basketmu sudah selesai, dan aku akan menyusul | Baiklah, sampai bertemu besok. | Bye..."
P'Arthit kemudian memutuskan sambungan teleponnya.
"Siapa yang berani-beraninya mengganggu romansa kita, P'Arthit?" Ucapku sarkas. P'Arthit melirikku dengan tajam.
"Aku justru bersyukur karena Na meneleponku di waktu yang tepat! Aku jadi bisa selamat dari manusia buas sepertimu."
Aku tertegun.
Na? Pitcher??
Laki-laki itu benar-benar...
"Pitcher meneleponmu P'?"
"Hm, dia memintaku untuk menemuinya besok. Karena pertemuanku dengan dia kemarin kan batal gara-gara kau!" Ujar P'Arthit.
"Oohh, jadi aku bersalah ya karena menggagalkan pertemuanmu dengan Pitcher? Baiklah, kalau begitu aku minta maaf!" Kataku kesal. Aku kemudian berjalan ke arah sofa dan duduk disana sambil menyilangkan tanganku di dada.
P'Arthit terlihat sedikit terkejut dengan reaksiku. Dia terlihat kebingungan karena aku merajuk padanya. Dengan sedikit ragu, dia berjalan menghampiriku.
"Kongpob... kau marah?"
Aku diam.
"Hey Kongpob... aku minta maaf, aku tidak bermaksud seperti itu."
Aku masih diam.
"Baiklah, baiklah. Aku menyerah. Sekarang, apa yang harus aku lakukan agar kau mau memaafkanku?"
Aku langsung memandangnya. "Kalau ku beri tau... kau mau melakukannya untukku P'Arthit?"
P'Arthit memecingkan matanya, "Jangan bilang... kalau kau mau- mpphh,"
Sebelum P'Arthit sempat menyelesaikan kalimatnya, aku langsung menciumnya dengan cepat. Aku mengunci bibir P'Arthit dengan bibirku dan mengulum serta menyesapnya pelan. P'Arthit awalnya memberontak, namun lama kelamaan, dia pun mulai larut dalam permainanku, dan balas melumat bibir atasku.
Setelah ciuman kami terlepas, kami berdua saling menempelkan kening sambil berusaha menormalkan nafas kami yang menderu. Aku memandang P'Arthit. Dalam jarak sedekat ini pun, P'Arthit terlihat sangat mempesona. Pipinya yang putih, kini berubah menjadi pink dengan bibirnya yang sudah sedikit membengkak karena ulahku barusan.
P'Arthit benar-benar sangat menawan.
"Ai'Oon... I want you..." Bisikku seduktif di telinganya.
--00—
#ARTHIT
Aku terbangun karena merasakan ada sentuhan lembut di kulit kepalaku. Aku mengerjapkan mata, untuk menyesuaikan dengan cahaya pagi itu. Aku mengulat dan meregangkan badanku yang terasa sakit semuanya akibat kelakuan Kongpob yang cukup brutal semalam.
Cup.
Sebuah kecupan kecil di layangkan di bibirku. "Good morning, Honey," Kongpob ternyata sudah berdiri di samping tempat tidurku sambil mengusap-usap kepalaku dengan sayang.
Aku menautkan alisku kesal, "Honey my ass!! Badanku sakit semua! Ini semua gara-gara kau, Kongpob."
"Au, tapi semalam kau menikmatinya, bukan, P'Arthit? Kau bahkan terus memohon padaku untuk melanjutkannya!"
"Berisik!!" Dengusku.
Kongpob tertawa pelan, sambil kembali mengecup bibirku. "Alright, I'll make up for you, Hun. Now, wake up, aku sudah buatkan P'Arthit roti panggang dengan selai strawberry, and pink milk too."
"Okay..."
Aku mengusap mataku kasar dengan punggung tanganku, sambil kemudian duduk di tepi ranjang. Kongpob masih berdiri di depanku, menungguku dengan sabar, hingga nyawaku terkumpul seluruhnya.
"Aaahh.." Aku merintih ketika merasakan sakit dan perih yang luar biasa di bagian belakangku.
"P'Arthit? Ada apa?" Tanya Kongpob.
"Masih berani bertanya!!" Sungutku.
Kongpob tertawa kecil, kemudian membungkukkan badannya, hingga wajahnya sejajar dengan wajahku.
"Maafkan aku P'Arthit, aku menyakitimu ya?" Ujarnya lembut, membuatku wajahku kembali bersemu merah karenanya. "Kalau begitu... P'Arthit tunggu disini sebentar."
Kongpob kemudian berlari ke arah dapur dan terlihat mencari sesuatu. Tidak lama kemudian, dia kembali dengan membawa meja kayu kecil milikku, dan meletakkannya di kasur, tepat di depanku.
"Karena badan P'Arthit masih sakit, P'Arthit sarapan di tempat tidur saja. Aku yang akan melayanimu." Kongpob kemudian kembali ke dapur dan membawa sepiring roti panggang dan susu strawberry yang dia letakkan di meja kecil tersebut.
"Breakfast in bed is ready... Makanlah P'Arthit." Ucapnya.
Aku tersenyum malu. Aku yakin wajahku kembali merona merah sekarang. Kongpob adalah benar-benar kekasih yang sempurna. Apa yang bisa lebih baik daripada 'sarapan di tempat tidur' yang telah kekasihmu siapkan khusus hanya untukmu? Yah, aku sudah pernah merasakan ini sebelumnya, saat kakiku terluka setelah lari keliling lapangan 54 kali 2 tahun lalu. Saat itu, ketika Kongpob menyiapkan makanan dan minuman untukku di tempat tidur, aku pikir itu adalah hal yang sangat mengganggu. Namun ketika dipikirkan baik-baik, itu juga merupakan titik awal, dimana aku mulai menyadari bahwa hatiku bergetar untuk seorang Kongpob.
Aku masih ingat betul bagaimana dia dengan tulus menyiapkan bubur dan susu strawberryku, dan membawanya ke tempat tidurku, karena aku sama sekali tidak bisa menggerakkan tubuhku saat itu. Aku juga masih ingat betul, ketika dia juga menawarkan diri untuk menyetrika baju-bajuku. Dan yang paling ku ingat adalah, wajah khawatirnya yang dia tunjukkan padaku, ketika aku lupa meminum obatku. Namun, begitu brengseknya aku, bukannya berterimakasih, aku malah marah-marah padanya karena dia dengan berani menyuruh-nyuruhku yang notabene adalah seniornya. Padahal dia melakukannya karena dia sangat mengkhawatirkanku.
Jika mengingat masa-masa itu... aku benar-benar merasa sangat konyol. Bagaimana bisa Kongpob jatuh cinta dengan orang yang sudah menyuruhnya meneriakkan 'Aku suka laki-laki!' di depan semua orang, di hari pertamanya masuk kuliah. Bukannya balas dendam padaku, dia malah membalasku dengan memberikan aku cinta yang begitu luar biasa seperti ini.
Aku menyesap susu strawberry ku dan melahap roti panggangku. Kongpob masih duduk di sebelahku dengan tenang, sambil menatapku yang sedang makan. Sama persis dengan 2 tahun lalu.
"Kongpob, kau tau kan, kalau aku tidak bisa makan dengan tenang jika kau terus menatapku seperti itu." Kataku.
"Kau terlalu manis, P'Arthit. I can't take my eyes off of you.."
"Idiot" Kataku. "Kenapa kau tidak makan juga?"
"Kalau begitu suapi aku, P'."
"Huh! Merepotkan!" Dengusku kesal. Aku lalu memotong roti pangganggku dan menyuapkannya ke mulut Kongpob. Kongpob tersenyum tulus sambil terus mengunyah rotinya. Aku terkekeh geli melihat wajahnya yang sangat imut jika sedang makan seperti ini.
"Oh iya P'Arthit. Tadi, P'Knott menelepon ke ponsel P'Arthit. Tapi karena P'Arthit masih tidur, jadi aku yang mengangkatnya."
"Knott? Ada apa? Apa ada masalah dengan Prem?"
"Emm.. aku rasa tidak, P'Arthit. P'Knott bilang, hari ini P'Prem sudah diperbolehkan pulang karena kondisinya sudah cukup stabil."
"Au, benarkah? Syukurlah kalau begitu..."
"Hm, dia mengatakan agar kita tidak perlu terlalu khawatir pada P'Prem. Karena untuk sementara, dia yang akan mengawasi dan menjaga P'Prem."
"Syukurlah. Setidaknya, pada saat-saat seperti ini, Knott ada di samping Prem. Kau tau kan Kongpob, di antara kami berlima, Knott sudah seperti kakak tertua, walau pun kenyataan yang sebenarnya Bright adalah yang paling tua di antara kami. Tapi Knott adalah yang paling peduli pada masalah teman-temannya. Sampai-sampai, kami jarang sekali mendengar cerita pribadinya, karena kami semua terlalu sibuk meminta Knott untuk menyelesaikan semua masalah kami." Ucapku sembari tertawa ringan.
"Jadi... aku rasa P'Prem akan baik-baik saja selama P'Knott ada bersamanya. Benar kan P'Arthit?"
"Aku rasa begitu, Kong,"
"Hm, aku setuju P'. Dan soal Wad... biar jadi urusanku. Aku akan menghandle si pembuat masalah itu."
Aku tertawa kecil, "Kau benar-benar harus mengurusnya dengan baik. He's your team member after all."
"Akan ku pastikan dia mendapatkan hukuman yang setimpal, P'Arthit."
Aku mengangguk sambil tersenyum tipis. "Euh Kongpob, kau masih ingat kan, soal apartemen baru yang ku bicarakan padamu waktu itu?"
"Ingat P'. Kenapa?"
"Hari ini... aku mau bertemu pemilik yang sebelumnya untuk mengurusi beberapa syarat dan dokumen kepindahan. Aku juga ingin melihat apartemennya, apakah sesuai atau tidak. Dan aku juga butuh pendapatmu, karena kita akan tinggal berdua disana. Kau mau menemaniku kesana kan?"
Kongpob tersenyum cerah dengan mata berbinar, "Aku mau P'! Aku mau! Aku juga ingin melihat... bagaimanakah tempat tinggal yang akan ku tinggali bersama istri tercintaku." Ujarnya antusias.
"Siapa yang kau sebut istri, bodoh? Aku ini laki-laki tau!" Kataku sambil memukul kepalanya pelan. Kongpob tertawa terbahak-bahak.
"Lihat, lihat... sikapmu yang seperti ini membuatmu sangat cocok untuk menjadi istriku, P'. Hahaha..." Ujarnya lagi.
"Idiot Kongpob!"
Kongpob tertawa lagi. "Oh iya P'Arthit... emm... bukankah... P'Arthit ada janji... dengan Pitcher hari ini?"
"Ah, benar aku lupa!" Kataku sambil menepuk jidatku. "Aku akan menemuinya jam 3 sore di kedai minuman dekat Kampus."
"Kalau begitu... apa boleh aku ikut denganmu menemuinya?"
"Au, tentu saja Kongpob! Tentu saja kau harus ikut. Aku memang mau mengajakmu untuk ikut denganku menemuinya, Kongpob."
"B-Benarkah P'Arthit??" Kata Kongpob sambil tersenyum lebar.
"Bukankah itu sudah sangat jelas? Jika aku tidak mengajakmu, aku harus mengajak siapa lagi?"
"Tidak tidak.. maksudku... aku pikir... kau akan bertemu dengan Pitcher... berdua saja.." Kongpob mempoutkan bibirnya dengan lucu.
"Jangan bilang kau cemburu lagi pada, Na?"
"Heuh.. bukankah itu wajar P'? Dia begitu tampan dan pintar. Jago olahraga dan musik. Tubuhnya juga sangat atletis. Semua gadis menggilainya sekarang."
"Kau bicara begitu, seperti kau yang juga menaruh rasa padanya saja. Lagipula apa menurutmu aku ini seorang gadis? Hah? Jangan bodoh, Kongpob!"
"Bukan begitu maksudku, P'. Aku tidak akan mungkin menaruh rasa pada Pitcher! Tapi maksudku... Pitcher terlihat bisa menggoyahkan hati siapapun. Aku hanya takut, jika kau sering berdekatan dengannya, dia akan menggoyahkan hatimu dan merebutmu dariku."
"Jangan pernah kau berpikiran bodoh seperti itu, Kongpob. Sejak dulu dan sampai kapan pun, Na hanya ku anggap sebagai adikku saja. Tidak akan pernah lebih dari itu. Dengarkan aku ya Kongpob, aku tidak peduli, jika Na, atau siapapun orang di luar sana menaruh perasaan kepadaku. Aku benar-benar tidak peduli! Karena yang aku tau, aku hanya mencintai kau saja, dan itu kenyataannya. Aku tau aku pernah mengatakan ini padamu, tapi aku akan mengatakannya lagi sekarang," Aku meraih tengkuk leher Kongpob dan menariknya mendekat ke arahku. "Aku tidak tau, akan seperti apakah masa depanku. Tapi aku ingin kau tau, bahwa sekarang, saat ini, detik ini, kau adalah satu-satunya orang yang sangat spesial bagiku. Dan kau adalah satu-satunya orang... yang aku cintai."
Kongpob terdiam di hadapanku. Matanya yang bening menatapku lekat dengan penuh cinta. Perlahan, kedua sudut bibirnya terangkat, menampakkan deretan giginya yang putih dan rapi. Senyum Kongpob selalu berhasil membuat jantungku berdetak kencang. Membuat aliran darahku melesat cepat mengalir di dalam tubuhku. Membuat perutku mencelos aneh, namun dilain sisi juga begitu nyaman dan menenangkan.
"Apa yang masih kau ragukan dariku, Kongpob?" Tanyaku lagi. Kongpob menggeleng pelan. "Bagus." Aku lalu kembali menarik leher Kongpob ke arahku, serta menciumnya cepat, tepat di bibirnya.
Kongpob mendelik terkejut, "Au, itu untuk apa P'Arthit?"
"My morning kiss for you.."
Kongpob tersenyum lebar.
Aku harap ini bertahan selamanya.
***
I'll not talk too much, sampaikan saja komplain-komplain kalian di kolom komentar.. Hahaha... 😜😜😜
Jangan lupa klik bintang if you like it... Dan kritik saran juga jangan lupa. I'd love to hear anything from all of you...
Love you to the moon and back, Love you always and forever... 😘😘