Hujan lagi. Padahal ini hari Minggu dan tak ada yang berharap kalau hari ini akan hujan. Memang tidak besar, tapi cukup untuk membuat seluruh pakaianku basah. Aku baru saja keluar dari supermarket saat hujan deras itu tiba-tiba turun membasahi tanah. Musim semi baru saja dimulai, tapi akhir-akhir ini hujan turun tanpa henti seperti sedang perang dengan tanah. Beruntung aku membawa payung kesayanganku.
Saat aku baru saja akan membuka payungku, aku mendengar seseorang memanggil namaku dari belakang.
"Hoshijima Miyuki?"
Aku menoleh. Disana berdiri seorang pemuda berbadan tinggi yang sedang menenteng kantong belanjaan di tangan kirinya. Wajahnya cukup tampan. Matanya teduh namun tajam di saat yang sama. Wajahnya tampak ramah. Rambut lurusnya jatuh menutupi dahinya. Entah kenapa, tapi aku merasa pernah melihat wajah itu.
"Kau... Hoshijima Miyuki kan?" tanyanya lagi, memastikan kalau dia tak salah orang.
Benar juga. Aku pernah sekelas dengannya saat semester satu.
"Maruyama Yuta?" tanyaku. Aku memandangnya dengan wajah datar.
Sesaat setelah aku memanggil nama itu, dia tersenyum. Saat itulah aku tahu bahwa aku tak salah orang.
Maruyama Yuta. Lelaki yang cukup populer di kampusku. Aku sekelas dengannya pada satu mata kuliah di semester satu. Aku tak tahu dia pintar atau tidak, tapi aku bisa bilang kalau dia memang bekerja keras. Kini semester dua sudah tiba dan karena aku berada di jurusan yang sama dengannya, aku yakin akan sering bertemu dengannya.
"Kau sedang apa di sini? Apa kau sendirian?" tanya Yuta padaku.
"Iya, aku tadi ada sedikit urusan. Saat baru saja akan pulang, tiba-tiba saja hujan turun," ujarku. "Kau sendiri bagaimana?"
Yuta tertawa kecil seakan menertawakan dirinya sendiri. "Aku juga mau pulang, tapi aku lupa membawa payungku," katanya.
Aku tertegun. "Kalau begitu pulang saja denganku. Rumahku dekat dari sini. Setelah sampai ke rumahku, kau bisa pakai payungku sampai ke rumahmu. Kembalikan saja kapan-kapan," kataku. Aku memang bukan tipe orang yang mau sok ramah atau berbasa-basi, tapi tak ada salahnya membantu orang lain.
Yuta terdiam dan berpikir sejenak, sepertinya mempertimbangkan tawaranku. "Memangnya tidak apa-apa?" tanyanya, merasa tak enak.
"Jangan khawatir," ujarku. "Aku tidak akan menawarkan bantuan padamu kalau aku tidak mau membantumu." Aku serius saat mengatakan itu.
"Baiklah kalau begitu, terima kasih."
Aku membuka payung putih dengan motif hati warna merah jambu milikku dan Yuta pun ikut melompat masuk ke dalamnya.
Di sepanjang perjalanan pulang, suasana benar-benar sunyi. Aku tak mengucapkan sepatah katapun, dan begitu pula dengan Yuta. Yang terdengar hanyalah suara rintik hujan yang menghantam payungku. Yuta yang sepertinya sudah tak nyaman dengan suasana kaku ini kemudian memulai pembicaraan.
"Kau sepertinya tak banyak bicara ya?" tanyanya.
Aku menoleh sekilas pada Yuta kemudian kembali melihat ke arah jalan. "Sebenarnya aku banyak bicara. Hanya saja saat bertemu dengan orang baru, aku takut dan tak tahu mau bicara apa. Dan kalaupun berhasil bicara, pasti bicaraku melantur. Aku bahkan tak akan bisa melihat mata mereka. Aku takut mereka akan menganggapku aneh."
"Tapi bukankah kau harus menatap lawan bicara saat sedang berbicara dengan mereka?"
"Aku tahu, tapi bagiku itu benar-benar sulit."
"Jadi itu kenapa wajahmu selalu terlihat ketus," kata Yuta seolah baru saja menemukan sesuatu.
"Aku hanya takut. Bukannya sengaja bersikap seperti itu," kataku. Mungkin terdengar seperti alasan klise, tapi begitulah keadaannya.
"Iya, aku tahu," kata Yuta. "Tapi sebaiknya kau mulai berubah. Cobalah berbicara dengan orang asing terlebih dahulu. Lama-lama kau akan terbiasa."
Aku bisa merasakan kalau dia tulus mengatakan itu untuk membantuku menjadi pribadi yang lebih baik. Aku sama sekali tak merasa kalau dia menganggapku aneh atau semacamnya.
Aku tersenyum kecil kemudian berkata, "Terima kasih atas saranmu, Maruyama-kun."
"Ah, panggil saja aku Yuta," ujarnya santai.
"Baiklah, Yuta."
Kami terus berjalan dan tak terasa, kini kami sudah sampai di depan rumahku. Saat melihat rumahku, Yuta memandangnya dengan terkagum-kagum. Harus kuakui, rumahku memang termasuk rumah yang cukup besar.
"Ini rumahmu?" tanya Yuta.
"Iya," jawabku. "Lain kali, kalau kau punya waktu, mainlah ke sini," kataku lagi. Kali ini kurasa aku hanya berbasa-basi.
Yuta mengangguk sambil tersenyum. "Tentu saja. Kalau begitu, payungmu kupinjam dulu, ya!"
Aku mengangguk sambil balas tersenyum pada Yuta. Yuta pun kembali berjalan menerjang hujan menuju rumahnya. Diam-diam aku merasakan jantungku bergetar. Yuta sepertinya orang yang baik. Dia tak menganggapku aneh seperti orang kebanyakan. Aku sebenarnya sedikit berharap kalau aku bisa menjadi lebih dekat dengannya.
Malam itu, aku sedang mengerjakan tugas di kamarku saat tiba-tiba saja ada pesan masuk ke ponselku. Saat aku melihat nama pengirimnya, aku sedikit terkejut. Pesan itu ternyata dari Yuta. Buru-buru aku membuka pesan itu untuk melihat apa isinya.
"Miyuki..." begitu bunyi pesannya.
Aku terdiam sejenak. Aku merasa terheran-heran dengan pesan yang kuterima dari Yuta. "Apa maksudnya ini? Dia hanya memanggil namaku."
Aku pun membalas, "Ada apa, Yuta?"
"Apa kau sedang sibuk?" tanya Yuta lagi dengan membalas pesannya.
"Sedikit. Aku sedang mempersiapkan materi untuk presentasiku besok. Materinya terlalu banyak :'( Memangnya kenapa?" Aku kembali membalas. Yuta sepertinya bukanlah orang yang langsung mengatakan keperluannya, pikirku. Dia orang yang suka menjaga tata krama dengan berbasa-basi.
"Ah, biarlah kalau kau sedang sibuk. Memangnya apa materi untuk presentasimu?"
"Kebudayaan. Omong-omong, kau masih belum mengatakan ada apa."
"Ah, aku hanya ingin berterima kasih atas payung yang kau pinjamkan dan menanyakan beberapa kosakata yang tak aku tahu padamu. Bisa lain waktu, tenang saja. Kalau begitu lanjutkan saja pekerjaanmu."
"Baiklah, terima kasih."
Dan Yuta pun tak membalasnya lagi. Aku sesungguhnya sedikit bingung. Kenapa dia harus bertanya dulu apa aku sibuk atau tidak? Kenapa tak langsung saja mengatakan keperluannya padaku? Bukanlah akan lebih mudah seperti itu? Kalau aku jadi dirinya, aku pasti akan melakukan hal itu. Atau mungkin memang aku yang aneh?
***
Hari ini benar-benar membosankan. Tak ada seorangpun yang mengajakku bicara. Yah, aku mengatakan itu bukan karena aku ingin orang-orang berbicara padaku atau apa. Aku tahu mereka tak berbicara padakau karena aku yang menjaga jarak pada mereka. Agar aku tak membuat kesalahan saat berbicara dengan orang lain, aku akan memainkan ponselku, walaupun sebenarnya tak ada apa-apa di dalam sana.
Saat aku sedang duduk sendirian di kursiku, tiba-tiba seseorang menyodorkan sebuah benda yang tampak tak asing. Tentu saja, itu payung bermotif hati milikku. Aku yang semula menunduk melihat payung itu kemudian mendongak untuk memastikan siapa orang yang memberikan payung itu.
"Oh, Yuta!" seruku kaget.
"Terima kasih atas payungmu," ujar Yuta sambil tersenyum.
Aku mengangguk sambil meraih payungku dari genggaman Yuta dan memasukkannya ke dalam ranselku.
"Kau mengambil kelas ini juga?" tanya Yuta.
"Iya," kataku singkat.
"Kau benar-benar tak banyak bicara saat berada di kampus, ya?" tanya Yuta lagi.
"Yah, mungkin saja. Sepertinya ini sudah menjadi kebiasaanku."
"Rasa takut itu tak seharusnya kau jadikan kebiasaan."
Setelah mengatakan itu, Yuta tersenyum dan berjalan pergi, mencari tempat duduk yang ada di bagian belakang kelas.
Kata-kata Yuta terasa menggema di telingaku. Rasa takut itu tak seharusnya kau jadikan kebiasaan. Kata-kata itu memang benar. Aku terlalu dihantui rasa takut sehingga aku nyaman menjadi diriku yang sekarang. Sejujurnya aku ingin menghilangkan rasa takutku. Aku ingin punya teman-teman untuk berbagi cerita dan menghabiskan waktu bersama, namun hal itu benar-benar sulit.
Malam itu aku kembali mendapat pesan dari Yuta. Lagi-lagi pesannya hanya berisi namaku. Karena bingung harus menjawab apa, Aku pun kembali menjawab dengan pesan yang sama persis seperti kemarin.
"Apa kau tahu artinya difference?" tanya Yuta dalam pesan balasannya.
"Difference artinya perbedaan. Kau bisa mencarinya di kamus manapun," jawabku.
"Ah, benar juga. Aku lupa."
"Kau ini bagaimana, jangan sampai lupa."
"Iya, terima kasih. Omong-omong, Miyuki. Apa yang membuatmu begitu takut untuk bersikap ramah pada orang baru?"
Setelah membaca pesan itu, aku terdiam sejenak. Aku sudah tahu kalau Yuta hanya bertanya soal pelajaran untuk basa-basi. Aku tak yakin bagaimana harus menjelaskannya. Semuanya begitu rumit. Aku begini tentu saja bukan tiba-tiba. Aku menjadi diriku yang sekarang karena peristiwa masa laluku.
"Aku takut mengecewakan dan dikecewakan orang lain," balasku.
"Memangnya kenapa? Ceritakan saja padaku."
Aku menghela nafas sambil menatap datar ponselku. Yuta sepertinya tak akan berhenti sebelum mendapatkan jawabannya. Apa aku harus menceritakannya? Tapi aku baru mengenalnya. Apa mungkin aku berpikir terlalu jauh? Kurasa menceritakan masa laluku pada orang seperti Yuta tak akan menyakiti siapapun.
"Dulu, aku pernah punya seorang sahabat lelaki. Aku dan dia benar-benar kompak. Kemanapun kami selalu pergi bersama. Sampai suatu hari, tiba-tiba saja dia mengatakan kalau dia menyukaiku, lebih dari sekedar sahabat. Aku memang menyayanginya, tapi hanya sebagai sahabat, tidak lebih. Karena itu aku pun menjauhinya. Aku tahu itu adalah keputusan yang salah. Aku seharusnya mengatakan saja apa yang kurasakan dan menjelaskannya sampai dia mengerti. Tapi aku malah menjauhinya. Mengecewakan. Itulah kenapa aku takut, hingga sekarang. Aku pernah mencoba membuka diriku untuk berteman dengan orang-orang baru, tapi mereka semua malah memanfaatkanku. Aku tak kuat jika harus mengalami semua itu lagi."
Aku terdiam memandangi pesan yang baru saja kukirimkan pada Yuta. Mengingat kejadian itu lagi benar-benar membuatku sedih. Kehilangan sahabat yang kita sayangi memang bukanlah hal yang mudah. Apa lagi kehilangan itu karena ulah kita sendiri.
"Kau seharusnya berhenti menyalahkan dirimu sendiri. Apa yang sudah berlalu biarlah berlalu seperti angin. Sekarang, kau hanya harus berusaha untuk tidak mengulang kesalahan yang sama."
"Kurasa kau benar."
"Apa kau ingin menjadi dirimu yang lebih baik lagi?"
"Tentu saja."
"Nah, besok temuilah aku. Aku akan mengajarimu sesuatu."
Aku menggeleng kebingungan. Sebenarnya apa yang ada di otak Yuta sekarang ini? Apa kira-kira yang akan diajarkannya padaku?
***
Seperti yang sudah diperintahkan Yuta, hari ini aku menunggu kelas Yuta selesai. Aku berdiri di depan kelas Yuta sambil menggenggam tanganku yang sudah dibanjiri keringat dingin. Entah kenapa, memikirkan diriku yang akan bertemu Yuta saja rasanya sudah aneh.
Tak lama waktu berselang, Yuta keluar dari kelasnya dengan senyum manis di wajahnya. "Kau sudah menunggu lama?" tanyanya.
Aku menggeleng. Kupandang wajah Yuta selama dua detik kemudian aku kembali mengalihkan mataku ke arah lain. Memandang wajah orang lain benar-benar sulit bagiku.
Yuta yang sepertinya memperhatikan apa yang baru saja kulakukan kemudian terdiam. Ia kemudian mengisyaratkan padaku untuk duduk di sebuah kursi panjang yang ada di dekat mereka dan aku pun menurut.
"Untuk apa kita duduk di sini?" tanyaku dengan wajah datar normalku, menyembunyikan keringat dingin yang mengalir di telapak tanganku.
"Aku akan melakukan sebuah terapi padamu," jawab Yuta.
"Terapi? Terapi apa?" aku bertanya lagi dengan bingung.
Bukannya menjawab, Yuta malah membalikkan bahuku agar aku berhadapan dengannya. Aku terkejut, tapi sesegera mungkin aku menundukkan kepalaku.
"Jangan menunduk, lihat mataku," kata Yuta.
Aku menelan ludah. Keringat dingin yang semula hanya mengalir di tanganku kini juga mulai mengaliri punggungku. "Aku tak bisa."
"Kau bisa. Cobalah. Hanya lima detik," ujar Yuta meyakinkan.
Untuk yang kesekian kalinya, Aku kembali menelan ludah. Perlahan aku berusaha menatap mata Yuta. Mata Yuta yang besar dan teduh. Entah kenapa saat melihat kedua mata itu dalam-dalam, aku merasa tenang. Seolah terhipnotis, aku tak mendengar suara apapun di sekitarku. Lima detik terasa seperti lima jam. Akhirnya aku pun kembali mengalihkan pandanganku. Aku tak kuat lagi. Aku takut.
"Lumayan," kata Yuta. "Nanti kita coba sepuluh detik."
"Untuk apa? Aku tak mau mencobanya lagi," dengusku sambil menyilangkan kedua tanganku di dada.
"Memangnya kau mau seperti ini terus selamanya? Kalau begini terus, apa kau pikir kau bisa mendapatkan pacar?"
"Apa pentingnya pacar untukku? Aku bisa hidup sendiri!"
Yuta terdiam. Tiba-tiba saja ekspresinya berubah serius. "Hidup sendiri?" cibirnya. "Biar kuberitahu. Kau tak akan pernah mau hidup sendiri."
Atmosfirnya tiba-tiba saja berubah. Suara Yuta yang biasanya terdengar ramah kini berubah dingin dan berat. Aku bingung dengan perubahan sikap Yuta yang terjadi mendadak. Sepertinya ia tersinggung dengan apa yang baru saja kukatakan.
"Lalu apa yang harus aku lakukan?" tanyaku. Aku sebenarnya heran pada diriku sendiri. Aku tak mengerti kenapa aku malah bertanya seperti itu. Yuta bukanlah siapapun. Aku tak harus menuruti semua kata-katanya. Aku tak perlu berubah hanya karena dia menyuruhku untuk berubah. Tapi di sisi lain, aku merasa tak bisa menolaknya.
Ekspresi Yuta yang semula kaku perlahan mencair. Dia menghela nafas kemudian berkata, "Cobalah berbicara dengan orang asing yang sama sekali tidak kau kenal. Saat kau berhasil, beritahu aku."
Aku mengangguk tanda mengerti kemudian beranjak dari tempat dudukku dan mulai melangkah pergi. Sebelum aku melangkah terlalu jauh, Yuta pun memanggil namaku.
"Miyuki!"
Aku menghentikan langkahku tapi tidak memiliki kekuatan untuk menoleh.
"Hati-hati," kata Yuta.
Aku mengangguk pelan kemudian kembali melanjutkan langkahku.
***
Hari ini aku berjalan-jalan sendirian di sebuah toko buku. Aku sudah kehabisan novel untuk dibaca. Aku sangat suka membaca novel dan menulis buku. Untuk menghasilkan karya yang bagus, aku harus terus membaca novel. Maka itu aku tak pernah betah kalau aku sudah kehabisan bahan bacaan.
Aku sangat suka bermain ke tempat yang penuh dengan buku. Toko buku, perpustakaan, dan tempat-tempat semacamnya, dimana kau bisa menghirup aroma buku baru dan buku-buku tua yang nyaris hancur dimakan zaman. Seperti hari ini, aku mendapati diriku menyusuri rak-rak buku di toko buku langgananku. Banyak buku yang sepertinya baru datang.
Ada sebuah buku yang tiba-tiba saja menarik mataku. Buku itu bersampul biru tua dengan sebuah gambar hati di depannya. I Love You. Itu judulnya. Aku suka itu. Sangat sederhana tapi meninggalkan kesan yang mendalam. Kurasa aku akan membelinya.
Saat aku hendak mengambil buku itu, seseorang tiba-tiba mendahuluiku mengambilnya. Aku menoleh, kemudian mendapati seorang pemuda yang sedikit lebih tinggi dariku sedang memandangi buku itu sambil tersenyum. Wajahnya benar-benar manis. Rambut hitamnya tampak lembut dan berkilau. Matanya juga tampak lucu. Aku merasakan jantungku melompat-lompat kecil saat aku memandangi wajahnya itu.
"Sederhana sekali judul buku ini, ya?" katanya. Aku meyakinkan diriku kalau dia hanya berbicara sendiri, tapi kemudian dia menoleh padaku dan bertanya, "Apa kau akan membelinya?"
Aku terkejut. Dia ternyata berbicara padaku. Dan yang buruknya, aku tak tahu harus berkata apa. Aku hanya diam mematung disana, seperti manekin yang tak bernyawa.
Pemuda itu sepertinya penasaran dan justru mendekat padaku. "Siapa namamu?"
Aku menelan ludah lalu menjawabnya sebisaku. "M-miyuki. H-hoshijima M-miyuki." Aku terbata-bata dan tanganku berkeringat seketika.
"Kau lucu, benar-benar lucu," katanya. Dia kemudian menyodorkan buku di tangannya padaku dan tersenyum. "Namaku Amasawa Kenichi. Senang bertemu denganmu. Aku yakin kita akan bertemu lagi."
Setelah mengatakan itu, pemuda bernama Kenichi itu kemudian pergi berlalu seperti angin.
Aku menghela nafas lega seakan baru saja terlepas dari krisis yang mencekik leherku. Bertemu dengan orang yang baru memang selalu sesulit itu bagiku. Tapi jika kuingat lagi, aku tak pernah benar-benar merasa tertekan saat bertemu dengan Yuta. Pertemuanku dengannya bisa dibilang cukup normal.
Hari ini aku sedang menunggu kelasku sendirian. Sambil menyeruput kopi di tanganku, aku menyandarkan punggungku di kursi taman. Aku melihat sekitar dan tak sengaja mataku menangkap Yuta yang sedang berjalan bersama teman-temannya. Tak hanya laki-laki, tapi Yuta juga punya banyak teman perempuan. Dia kemudian melihat ke arahku dan berjalan mendekatiku.
"Sedang apa kau sendirian di sini?" tanya Yuta.
"Menunggu kelas," jawabku singkat.
"Ikutlah denganku, pasti membosankan menunggu kelas sendirian."
"Tidak perlu, terima kasih."
Tak puas dengan jawabanku, Yuta mengambil tasku dari pangkuanku lalu berkata, "Aku memaksa. Ayo ikut." Ia kemudian tertawa kecil sambil berjalan dengan menenteng tasku di tangan kanannya.
Aku akhirnya terpaksa ikut karena aku tahu Yuta tak akan mengembalikan tasku. Sebenarnya aku sedikit merasa senang karena Yuta memaksaku untuk ikut dengannya. Aku jadi merasa kalau dia tak akan meninggalkanku sendirian.
***
Beberapa minggu berlalu begitu saja dengan kejadian yang hampir sama setiap harinya. Kini bukan hanya mengirim pesan, Yuta juga mulai menyerangku dengan telepon tanpa akhir. Hampir setiap malam Yuta meneleponku hanya untuk menanyakan hal-hal yang menurutku tak begitu penting. Sekali menelepon, bisa hampir tiga jam aku berbicara dengannya. Aku tak tahu kenapa tapi aku sudah mulai terbiasa dengan hal itu. Awalnya, setiap kali dia meneleponku, aku akan merasa cemas karena tak tahu harus bicara apa. Jantungku juga akan mendadak berdetak cepat. Tapi lama-kelamaan, mungkin karena sudah terlalu hafal dengan apa yang akan dibicarakan Yuta, aku jadi tak kaget lagi.
Malam ini pun sama. Yuta kembali meneleponku. Seakan sudah tahu kalau dia akan menelepon, aku mengangkat teleponnya dengan benar-benar santai.
"Moshi moshi?"
"Miyuki! Kau sedang apa?" tanya Yuta.
"Aku? Sedang menulis novelku. Memangnya kenapa?"
"Novel? Wah, novel apa yang kau tulis?"
"Seperti biasa. Novel tentang cinta. Kau kan tahu aku selalu menulis novel dengan genre yang sama."
Selama ini Yuta selalu bertanya semua hal tentangku, bahkan sampai hal-hal kecil seperti itu. Dia juga selalu bercerita tentang dirinya padaku. Tanpa disengaja, kami pun jadi tahu baik tentang satu sama lain. Padahal kami belum lama berteman. Aneh memang, tapi itulah yang terjadi.
"Cinta, ya? Memangnya lelaki seperti apa yang ingin kau cintai nantinya?" Yuta mulai mewawancaraiku seperti reporter.
"Memangnya kenapa kau ingin tahu?" tanyaku.
"Kau ini bagaimana. Aku kan temanmu, bukankah wajar kalau aku ingin tahu tentangmu?"
"Itu benar, tapi..."
"Sudah, ayo cepat beritahu aku."
Aku menghela nafas. Rasa ingin tahu Yuta memang sangat besar. Terkadang terlalu besar malah. Jika dia ingin tahu sesuatu, dia tak akan berhenti bertanya sampai aku memberitahunya.
"Aku hanya ingin pria yang baik."
"Tak mungkin hanya itu," kata Yuta tak percaya.
"Memang kenyataannya begitu."
"Cobalah lebih spesifik lagi."
"Aku ingin bertemu dengan lelaki yang baik, lucu, sopan, dan yang paling penting, dia tak pernah menyerah atas diriku. Itu saja."
"Kalau kau ingin pria yang lucu, pacaran denganku saja. Sekarang juga aku bisa meminta izin pada ayahmu agar mengizinkanku menikahimu," kata Yuta sambil tertawa.
Kalau Yuta mengatakan itu beberapa minggu yang lalu, jantungku mungkin akan melompat keluar. Tapi rayuan-rayuan semacam itu sudah terlalu sering kudengar darinya sampai-sampai aku kebal. Terkadang aku berpikir kalau Yuta mengatakan itu pada semua perempuan yang dikenalnya. Dia memang cukup populer di kalangan wanita.
"Lucu sekali, Yuta," cibirku.
"Kenapa kau bicara sedikit sekali? Apa kau sudah mengantuk?" tanyanya.
"Iya, aku sangat mengantuk. Bisakah kita bicara lagi lain waktu?" Aku jujur. Aku tak suka berpura-pura atau berbasa basi. Aku akan mengatakan apa yang ada di dalam pikiranku, bahkan pada Yuta sekalipun.
"Baiklah, tidur saja sana," kata Yuta dengan nada kecewa.
"Baiklah, aku tidur."
"Jangan tidur," kata Yuta lagi.
"Kau kan tadi sudah mengizinkanku untuk tidur."
"Seharusnya kau bilang 'Oh, tidak, aku tidak mengantuk. Lanjut saja bicaranya, Yuta. Aku akan mendengarkanmu.' Seperti itu. Bukankah begitu caranya kau bicara dengan teman?"
"Kau tahu, aku tak suka berpura-pura atau berbasa basi. Kalau aku memang mengantuk, kenapa aku harus mengatakan hal yang sebaliknya?"
"Tapi aku masih ingin menceritakan sesuatu padamu."
Dan akhirnya aku pun kembali mendengarkan cerita Yuta—yang sebenarnya lebih pantas disebut pidato. Lagi-lagi aku tidak kaget. Kenapa? Karena Yuta selalu begitu. Selalu. Jika sudah larut malam, dia akan bertanya apakah aku mengantuk atau tidak, lalu menyuruhku tidur, namun kembali mencegahku untuk tidur. Aku benar-benar tak mengerti bagaimana jalan pikirannya. Tapi karena dia temanku, aku tak sampai hati untuk menutup teleponnya saat dia sedang bercerita padaku.
Berkat berteman dengan Yuta, aku jadi bisa lebih sabar saat menghadapi orang lain. Aku juga tak segugup dulu saat bertemu dengan orang baru. Aku banyak berubah dan perubahan itu adalah perubahan yang baik. Walaupun kadang Yuta membuatku kesal, tapi aku tak bisa berhenti berterima kasih pada Yuta. Dia membuatku merasakan bagaimana rasanya punya teman dekat.
Saking dekatnya Yuta denganku, teman-teman sekelas kami di kampus mengira kalau kami mempunya hubungan spesial. Berbeda denganku yang selalu berusaha menjelaskan pada setiap orang kalau tak ada hubungan seperti itu diantara kami, Yuta justru terkesan santai dan membiarkan orang-orang berpikir begitu. Saat kutanya kenapa dia tak menjelaskan apapun pada orang-orang, dia hanya menjawab, "Kalau kau tak merasa, tak perlu menjelaskan apapun. Seandainya aku menjelaskan pada mereka, belum tentu juga mereka akan percaya."
"Itu memang benar. Tapi bagaimana kalau ada perempuan yang menyukaimu lalu mendengar kabar tentang kita? Kau yang akan kesusahan nantinya," kataku.
"Tidak akan. Kau tak perlu mengkhawatirkan hal yang tidak-tidak."
Dan aku pun hanya bisa diam. Yuta benar-benar keras kepala. Aku tak bisa mengubah pendiriannya tak peduli apapun yang aku katakan padanya. Dia selalu beranggapan kalau kita tak akan pernah tahu apa yang akan terjadi, maka itu jalani saja. Aku terkadang berharap kalau aku bisa sesantai dia. Aku cenderung memikirkan segala sesuatunya secara berlebihan, tapi dalam beberapa hal aku juga bisa sangat tak peduli.
Aku benci pada diriku yang seperti itu. Tapi sepertinya semua ini terjadi karena Yuta pernah berkata suatu hal padaku. Hari itu aku dan Yuta sedang mengerjakan tugas bersama dan dia tiba-tiba saja bercerita padaku.
"Dulu aku tak punya teman. Semua orang di sekitarku menjauhiku. Makanya saat melihatmu, aku tahu bagaimana jadi dirimu."
Aku memandangnya dengan bingung dan berkata, "Tapi bukankah kau punya banyak teman sekarang?"
Yuta menggeleng. "Mereka semua hanya teman yang datang dan pergi. Aku pernah berdoa pada Tuhan agar aku diberi teman sejati dan kurasa Tuhan mengirimkanmu untukku."
Kata-kata Yuta itu begitu menyentuh sampai aku tak tahu harus berkata apa. Mendengar kalau aku adalah sesuatu yang berarti, aku merasa sangat senang. Maka itu, aku tak ingin mengecewakan Yuta.