My lovely PATIENT

By Husnaalana

301K 22.7K 719

Qory Adisabela. Pskiater muda yang sedang menyelesaikan gelar Doctornya itu mendapat tugas akhir yang benar-b... More

Prolog
Jatuh cinta itu mudah?
Let's start to Flirting!
Misi Pertama
My Lovely Shoes VS My Lovely Patient
"Pertemuan Selanjutnya"
Persekongkolan
The next step
A Troubel Monday
Lunch
The day of my patients
Let's go home
At Home
Next Mission
fifty Shades of Dave
Reuni
Here For You
Just Give me Hug
That Trouble Night
After Storm
A Warm guy
The Drama
Pretend?
A Confusing Day
WARNING!
Another Side
A Celebrate?
Beautifull Place
Another Storm
The Feel
The next crazy mission
A Long Time Ago
A Long Night
Desire
Where Are You?
Should I Go?
Dinner
Trouble is a friend
Decide
Days Like a Year
Chance
Between Sacrifice and Desire
DONE!
Kado Terindah
Epilog

Wellcomeback to the hell!

8.2K 588 16
By Husnaalana


Pagi itu Bela dan Tami berjalan beriringan menuju mesin absen yang terletak di pintu khusus departemen kejiwaan sambil mengobrol seperti biasa.

"Ya ampuun, jadi sepatu yang sebelah lagi?" Tanya Tami setelah Bela menceritakan kejadian semalam.

"Nggak tahu dimana. Lagian males nyari. Percuma juga kan kalau ketemu. Yang sebelahnya udah hanyut di culik ombak," Bela mengacak sekilas rambutnya. Kebiasaan barunya setelah punya rambut pendek, kalau kesal.

"Ya nggak apa-apa kali. Buat penawar rindu," Bela mendadak menghentikan langkah menyadari perkataan Tami.

Iya-ya, kenapa dia nggak nyari yang satunya lagi? Seenggaknya dia bisa mengkoleksi yang sebelah dari pada nggak sama sekali. Sebegitunya ya Bel, cewek kalau kehilangan barang bagus apalagi mahal. Nggak relanya, nggak udah-udah.

Selain itu dia juga bisa ngobrol sama Dave lebih lama untuk mengenal pria itu lebih dekat kan? Mck!

Bela mendengus sambil menggeleng frustasi mengingat dia langsung bilang pulang gara-gara Dave mengatakan kalimat yang bisa membuatnya meleleh malam itu. Nggak tega menahan waktu pria itu lebih lama.

"Kenapa?" Tanya Tami ikut menghentikan langkah di sampingnya.

'Baru sadar, ngelewatin kesempatan dapet informasi dari Dave," jawabnya menghela nafas.

"Tenang masih ada tiga minggu lagi kok. Besok kan weekend. Tanya sama pak Haris dimana dia. Trus samperin deh," Tami memegang sebelah bahunya.

Ah, benar. Dia cuma perlu melakukan pertemuan selanjutnya untuk mendapatkan kesempatan itu lagi. mendadak dia mengingat perkataan Dave semalam, saya perlu nama kamu untuk pertemuan selanjutnya. Bela mengangguk-angguk menjawab Tami sebelum keduanya melanjutkan langkah.

Tinggal beberapa langkah lagi sampai didepan mesin absen, seseorang menyeruak ke tengah-tengah mereka. Bela dan Tami mengernyit karena lengan mereka di tabrak sesuatu yang kenyal.

"Ups. Nggak sengaja," kata dokter Sandra jelas pura-pura. Lalu memasukkan kartu absennya duluan.

"Sory ya. Saya duluan," kata dokter Sandra setelah berbalik sambil membusungkan dada dengan wajah nggak bersalah.

Tatapan Bela dan Tami teralihkan melihat ukuran dada Sandra yang terlihat lebih menonjol dari biasanya. Wanita itu pasti baru melakukan oplas payudara. Tahu mereka memperhatikan dadanya, lantas Sandra mengibaskan kerah jas dokternya membuat dada jumbo wanita itu semakin terpampang sebelum beranjak pergi. Bela dan Tami saling menoleh.

"Itunya yang nabrak lengan kita?" tanya Bela.

"Hoeek!" Bela dan Tami kompak mengusap-ngusap lengan bekas di tabrak payudara sintetis Sandra.

"Ihh...jijik banget Bel!" seru Tami masih mengusap-usap.

"Haha...aku apalagi," sahut Bela tertawa.

"Ya ampuun. Dia ngapain sih. Badannya kan udah ideal. Muka lagi, udah cakep. Penampilannya juga udah ala-ala model cover majalah playboy. Masih kurang puas juga?" tanya Tami heran.

"Haha..pacarnya kali yang kurang puas. Aku denger-denger gosipnya sih, dia punya pacar baru." jawab Bela teringat pembicaraan perawat saat di toilet.

Dokter Sandra, selain dikenal dokter seksi, juga dikenal paling totally kalau mendekati pria. Itu terbukti dari gandengannya yang bisa ganti-ganti dalam hitungan bulan terkadang hitungan minggu. Jadi nggak heran kalau ada kemungkinan Sandra oplas demi memuaskan pacar-pacarnya.

"Tuh Bel. Minta tips deketin laki-laki sama dia," kata Tami sambil memasukkan kartu absennya ke mesin. Sekarang gantian kartu Bela.

"Nggak ah. Nanti aku di jual lagi sama pacar-pacarnya buat biaya oplas bokong selanjutnya. Hihi.." keduanya langsung cekikan sambil berjalan ke ruangan masing-masing.

Siang hari menjelang jam makan siang, Bela berjalan ke sentral monitor di lantai satu. Dia baru saja mengantar kepergian pasien yang berhasil sembuh total.

"Dokter nggak ikut makan siang bareng kita?" Tanya perawat Jeny, asistennya.

"Kemana?" Tanya Bela tanpa mengalihkan pandangan dari layar monitor. Dia sedang memeriksa data salah satu pasien.

"Restoran Pizza depan RS kita dok. Ditraktirin dokter Sandra loh. Katanya mau ngenalin pacar barunya,"

"Dokter Sandra?" Tanya Bela menoleh. Jeny mengangguk.

"Oh..pantesan," ucap Bela menahan senyum teringat penampilan baru dokter Sandra pagi tadi.

"Kenapa dok?" Tanya Jeny lagi.

"Nggak apa-apa. Saya kayaknya nggak diajak tuh," Bela lanjut men-scroll layar didepannya.

"Loh, kata dokter Sandra seluruh pegawai di departemen kejiwaan di undang, dok," kata Resti perawat lain ikutan.

"Iya dok. Kita juga ikut," sambung dokter Rio residen tahun kedua yang baru datang bersama beberapa dokter junior lainnya.

Bela menghela nafas. "Hm-ya. Tapi saya mau makan siang sama dokter Tami," jawab Bela malas.

Mereka ini memang nggak tahu atau pura-pura sih, dokter Sandra dan Bela itu saingan di sini. Lebih tepatnya Sandra yang menganggapnya begitu. Kalau dia mah, nggak suka cari musuh. Masalah pasiennya yang nggak waras sudah terlalu menyita waktu, nggak sempat kalau ditambah masalah orang normal lagi.

"Sory yah," kata Bela sambil menutup dokumen data pasien di komputer.

"Yah..nggak ada yang belain kita dong kalau residen dokter Sandra ngebully," celetuk dokter muda lain yang masih didengar Bela sebelum beranjak.

Bela berjalan ke arah lift, dia mau ke ruangan Tami yang ada di lantai teratas. Karena cucu bos besar, selain Dokter tetap, Tami juga menduduki salah satu jabatan staf eksekutif di RSJ ini.

Bela mendongak keatas memperhatikan layar yang menunjukkan angka lift. Saat itu tiba-tiba seseorang menabrak keras tubuhnya.

"Ahh! Sss..." ringisnya sambil memegangi kepalanya yang terbentur dinding karena tubuhnya di tabrak dari belakang. Saat menoleh ke belakang, ternyata salah satu pasiennya yang menabrak.

"Bukan sayah!! Bukan saya pelakunya!!" Teriak pasiennya bernama Roby sebelum kabur ke luar RS sambil memegangi kedua telinga.

"Dok! Pasien kambuh!" Teriak suster Ayu yang sebelumnya mengejar Roby.

Bela mengerjap kaget dan tanpa pikir panjang segera berlari menyusul Roby.  Ketika sampai di depan jalan masuk, Anak itu ditangkap pria tinggi berjas biru yang baru tibadi depan pintu masuk. Lari Bela melambat begitu melihat siapa pria itu.

Dave? Ngapain?  tanyanya dalam Hati begitu sampai didepan Dave, bukannya mengurus pasien dia malah terdiam memandangi pria itu.

*

Sepuluh menit sebelum jam makan siang kantor, Dave mendegar pintunya di ketuk dan tanpa menunggu persetujuannya, seseorang masuk. Siapa lagi yang berani begitu kalau bukan Haris, sahabat sekaligus sekertarisnya.

Haris tersenyum berjalan ke mejanya sambil menenteng paper bag berukuran sedang ditangan kanannya.

"Ini sepatu khusus pesanan kamu," kata Haris meletakkan paper bag di meja Dave. Pria itu menutup dokumen yang sudah di tanda tangani sebelum memeriksa pemberian Haris.

"Thank's," ucap Dave setelahnya.

"Baru kali ada permintaan harus barang pilihan. Biasa juga asal pilih yang penting mahal," kata Haris duduk sambil mengangkat sebelah kaki di meja Dave. "Selain kado ulang tahun, menebus janji yang batal dan tanda perpisahan, kali ini untuk yang mana?" lanjut Haris bertanya.

Dave mendengus. "Nggak tiga-tiganya. Yang ini beda." Ada senyum dibibirnya mengingat si calon pemilik sepatu.

"Beda ya?" Ulang Haris. Sebelah alisnya terangkat melihat senyum Dave.

"Yap," Dave bangkit mengambil jasnya yang tergantung di sandaran kursi lalu mengenakan jas biru gelap itu.

"Aku ngantar ini dulu," kata Dave mengangkat paper bag berisi sepatu wanita lalu beranjak menuju pintu.

"Kemana?" Tanya Haris. Dave terus berjalan tidak berniat menjawab. Pria itu tidak ingin memberitahu karena memang tidak penting.

"Lama?" Tanya Haris kesekian kalinya saat Dave sudah sampai di belakang pintu.

"Cuma ngasih ini aja.Nggak pakai nginep," Jawab Dave tahu arti 'lama' yang di maksud Haris. lalu membuka pintu dan keluar. Haris cuma nyengir mendengarnya.

Ekspresinya berubah setelah punggung Dave menghilang di balik pintu. Pria itu tidak memberitahu tujuannya lagi. Kali ini dia tidak perlu khawatir karena Dave tidak dalam kondisi marah atau terluka, seperti sebelum-sebelumnya.

Sesampainya di RSJ Sentosa Raharja, Dave keluar dari mobil yang di parkir sembarangan di depan pintu masuk RS. Karena dia CEO Bank yang berinvestasi besar di sini, jadi tidak bermasalah dengan satpam yang sudah mengenalnya.

Baru beberapa langkah masuk, seorang pasien remaja laki-laki berlari kearahnya. Yang menjadi perhatian Dave adalah dokter yang mengejar dibelakangnya. Lantas Dave langsung menjatuhkan bag paper dari tangan dan menangkap tubuh anak laki-laki itu. Pria itu mengernyit melihat dokter yang sampai didepannya terdiam memandangnya.

"AARG!! LEPAS!! BUKAN SAYA PELAKUNYA!!" anak itu berteriak histeris sambil berontak berusaha melepaskan tangan Dave. Sekaligus menyadarkan wanita di depannya.

"Security!!" panggilnya. Kedua satpam yang berjaga, segera menghampiri.

"Bawa pasien kembali ke ruangannya!" suruh dokter yang Dave kenal bernama Bela itu.

Wanita itu menarik pasien dari tangan Dave dan menyerahkannya ke satpam. Untung pasien itu langsung diam tidak berontak lebih terlilhat ketakutan saat dibawa dua orang bertubuh kekar bersama seorang suster.

Bela mengusap kepala sambil menghela nafas sebelum menatapnya. Saat itu tatapan Dave tertuju pada warna merah ke biruan di keningnya. Seketika tangan Dave terulur menyentuh luka memar itu.

"Dokter Bela!" wanita itu spontan menoleh kearah lain.

"Pasien melukai diri sendiri!" kata suster menyodorkan jarum suntik beberapa langkah disamping mereka.

Bela kembali menoleh ke arah Dave. Pria itu mengangguk, mempersilahkan mengurus pasien terlebih dahulu. Wanita itu sempat menatap ragu sebelum menyusul suster dan mengambil jarum suntik itu.

Bela menarik penutup jarum dengan mulut sekaligus berusaha menarik tangan pasien yang bergerak-gerak meski sudah di pegangi satpam. Disamping mereka brankar rumah sakit sudah di siapkan petugas.

"Ayo pak, angkat pasien!" ucap Bela kepada satpam setelah pasien sudah pingsan karena obat bius.

Wanita itu ikut naik ke brangkar yang didorong satpam menuju lift khusus darurat. Bela bersimpuh disisi pasien sambil membuka jas dokternya dan melilit pergelangan tangan pasien supaya darahnya tidak terus keluar.

Dave menghela nafas melihat pasien itu di bawa dengan brangkar rumah sakit. Tapi kerutan alisnya tak kunjung hilang melihat dokter wanita yang sibuk merawat pasien itu. Lihatlah, dia sendiri juga terluka, dan Dave tidak suka melihatnya.

Setelah brangkar itu masuk ke dalam lift, Dave merunduk mengambil Paper bag yang tadi di jatuhkannya. Pria itu menoleh sekilas ke arah pintu lift yang masih setengah terbuka memperlihatkan Bela masih berusah menutup luka di tangan pasien.

Dave mengangguk kemudian beranjak ke mobilnya. Sepertinya bukan saat yang tepat untuk memberikan sekarang.

**

Setelah selesai mengobati Roby, Bela buru-buru berlari  menuju lantai utama lewat tangga darurat karena pintu lift tak kunjung terbuka. Wanita itu sampai di loby dengan nafas terengah. Bela menghirup nafas dalam-dalam berusaha memasukkan oksigen ke dalam paru-paru sambil mengedarkan pandangan mencari keberadaan Dave.

Setelah berhasil mengatur nafas, wanita itu berjalan menyusuri lantai utama hingga melewati jalan masuk RS.

"Pak, lihat laki-laki yang bantuin nangkep pasien tadi nggak?" Tanya Bela pada dua satpam yang tadi juga menolong.

"Oh pak David dok?" Bela mengangguk. "Sudah pergi dari tadi mbak,"

Bela mengalihkan pandangan sambil mengusap kepala. "Makasih pak," katanya segera berbalik setelah satpam itu mengangguk.

"Disini rupanya aku cariin. Makan siang, yuk," ajak Tami yang baru menghampirinya.

"Hm. Kita pesan OB aja ya makan di ruangan kamu. Ada yang mau aku diskusiin soal pasien," Bela langsung menarik Tami berjalan ke arah lift.

"Yah...tapi aku pingin makan pizza di depaaaan," Bela menghentikan langkah.

"Aku yakin kamu nggak akan mau setelah tahu ada orang nggak penting yang merayakan sesuatu disana,"

"Orang nggak penting?" Tanya Tami.

Bela buru-buru mengangguk. "Nggak usah ya??" Tami menatap ragu sesaat sebelum menghela nafas mengalah.

"Okeh ayuk!" Bela langsung menarik lagi tangan Tami padahal dia baru mau membuka mulut, belum meng-iyakan.

"Aku lihat catatan medisnya bagus, obatnya pas, dan perawat juga bilang Roby menunjukkan tanda-tanda sembuh seminggu ini," jelas Bela membicarakan Roby setelah mereka duduk berhadapan di ruangan Tami.

"Bukti lain nggak ada?" Tanya Tami meletakkan kedua siku di meja, mulai penasaran.

Bela menggeleng. "Bahkan CCTV-nya juga menunjukkan anak itu nyaris nggak pernah bermimpi buruk lagi,"

Tami mengerutkan alis ikut memikirkan salah satu pasien Bela. Tepat saat itu ada yang mengetuk pintu ruangan. OB yang membawa makan siang mereka masuk setelah Tami mempersilahkan.

"Makasih ya cun," ucap Bela pada OB yang bernama nasrun tapi biasa di panggil Acun.

"Iya dok. Sami-sami," jawab acun senyum lebar menampakkan gigi besar-besarnya lalu ke luar ruangan.

"Yaudah makan dulu. Nanti aku ikut tes anak itu. Kita diskusiin lagi, aku juga penasaran," Tami mulai menyendok nasi soto pesanan mereka.

Bela mengangguk lalu ikut menyuap. Tapi belum sampai sendoknya ke mulut, gerakannya terhenti teringat pasien lain juga yang baru datang.

"Ah ya. Tadi Dave kesini," katanya lalu lanjut menyendokkan nasi ke mulut.

"Ohya? Lanjutin-lanjutin," kata Tami antusias.

*

Bela menghempaskan tubuh di kursi setelah sampai di ruangannya. Dia baru saja selesai mewakili prof. Rima menghadiri perkuliahan di salah satu kampus kedokteran.

Tapi sampai saat ini pikirannya tidak teralihkan dengan masalah Roby. Mengingat Bela cukup keras berusaha untuk menyembuhkan anak itu. Dan ketika hasilnya menunjukkan tanda-tanda sembuh, anak itu tiba-tiba kambuh.

Bela menghela nafas sambil memijit pelipisnya. Menyembuhkan pasien sakit jiwa itu butuh perjuangan keras seperti menyusun kepingan lego hingga puncak tertinggi dengan resiko setiap keping yang kalau satu saja diusik, akan hancur semuanya.

Dan melihat kambuhnya Roby, Bela sepertinya harus menyusun ulang legonya kembali dari keping pertama. Wanita itu mengambil gelas berisi air putih di meja sebelum menenggaknya hingga habis dalam satu tegukan.

Bela melirik jam di tangannya, menunjukkan tepat pukul lima sore, jam pulangnya. Lantas dia segera berkemas merapikan laporan medis dimeja dan membawanya pulang.

Berhubung ini adalah hari jum'at, berarti dua hari ke depan adalah hari normalnya. Selain 5 hari dalam seminggu yang menjadi hari tergilanya menghadapi pasien.

"Udoh mao pulang dwok?" Tanya Jeny sambil mengunyah keripik pisang.,begitu melihatnya keluar ruangan.

Bela menggelengkan kepala melihat kelakuan asistennya yang agak 'berantakan' soal atitute tapi nggak soal merawat, untungnya.

"Hadeuuh..telen dulu ah Jen,"

"Hehe..iya dok. Ada pesen?" tanya Jeni yang hafal, kalau mau weekend Bela selalu menitipkan pesan soal pasiennya.

"Ha iya. Kamu bantu pantau Roby ya. Bilang sama suster Ayu, kirimi laporan apa saja yang dilakukan anak itu empat jam sekali selama dua hari kedepan."

Jeny langsung meletakkan toples keripik sebelum mengangguk. "Siap dok,"

"Yaudah saya duluan. Jangan ngemil sendiri," kata Bela menyerobot satu keripik Jeni yang langsung nyengir sambil berlalu.

Bela berjalan melintasi jalan setapak yang menghubungkan RS dengan komplek tempat tinggalnya. Berhubung pasiennya kalau kambuh nggak lilhat jam, jadi Bela lebih milih menyewa di komplek perumahan milik RS. Selain hemat waktu juga hemat ongkos.

I don't need...
your honesty..

its already in your eyes, and I'm sure my eyes they speak for me..

Begitu sampai di depan pagar, Bela mendengar nada panggilan hapenya berdering. Ada panggilan dari Ira, dokter residen tahun ke tiga yang dianggap adiknya sendiri. Wanita itu menggeser pagar sebelum mengangkat panggilan sambil berjalan masuk.

"Halo Ra, kamu apa ka—"

"Stop!" Bela mengernyit mendengar Ira berseru.

"Beliin aku eskrim di mini market depan komplek ya mbak?" lanjut Ira.

Bela semakin bingung dengan permintaan gadis itu. Yang dia tahu, Ira masih penelitian untuk tesisnya di luar kota. Trus maksudnya minta beliin eskrim, dikirim pakai paket naik pesawat, yang sampainya besok begitu?

"Apa-an sih. Memangnya nggak ada es krim disana?" tanya Bela malas tapi tetap meladeni joke Ira sambil melanjutkan jalan.

"Stopp!! Jangan jalan terus loh mbak!" seru Ira lagi membuat Bela langsung memutar kepala mencari keberadaan Ira yang pasti disekitarnya. Kalau nggak dari mana dia tahu gerakannya? Tapi Bela tidak menemukan gadis itu.

"Kamu di mana?"

"Dengan siapa? Semalam berbuat..apa? Hahaahaaa..." bukannya menjawab Ira malah cekikikan sambil nyanyi dengan suara cemprengnya.

"Ih! mbak pulang aja."

"Mck! Mbak iss! Itu, lihat ke depan. Di jendela."

kedua alis Bela spontan terangkat begitu melihat kepala Ira menyembul di balik tirai jendela rumahnya. "Ya ampuun! Kamu udah pulang?"

"Mm. Buruan, beliin aku eskrim duluuuu..mbaaak! kalau nggak, nggak aku bukain pintu," tlit! seru Ira langsung menutup telepon. Ya Allah, rumah-rumah siapa juga.

Bela mendengus sambil menggigit bibir menahan omelannya sebelum berbalik untuk membeli eskrim. Iya. Satu-satunya dokter residen yang bisa menyuruh-nyuruh Bela yang dokter senior ya cuma Ira.

Adik kelas dengan segala kegilaan dan sifat 'anti-ambil pusingnya' itu, berhasil membuat Bela tertawa dalam hidupnya, mereka bahkan tinggal bersama, lebih tepatnya Ira menumpang di rumahnya.

Ibarat kata, kalau sama Ira dia bisa gila-gilaan, ketularan anak itu, balik normalnya ya sama Tami. Ah..Bela benar-benar rindu suara cempreng gadis itu.

**

Keesokan paginya, Bela terbangun saat alarm jam kerjanya berdering. Dia lupa mengganti jadwal. Karena terbiasa masih kerja di hari sabtu, jadi Bela bangun saja, haus juga. Tadi malam nggak sempat minum keasyikan ngobrol sama Ira dikamar, bangun, tahu-tahu sudah pagi.

Bela mengucek-ngucek mata sambil keluar kamar. "Hoaaaaallohuakbar!!" tadinya dia mau menguap, tapi gara-gara melihat ruang TV-nya yang lebih mirip kapal pecah, dia jadi nyebut.

Wanita itu menghembuskan nafas, tarik lagi, hembus lagi, tarik lagi, hembus lagi, berusaha menahan kesal sambil memperhatikan DVD drama korea, kripik, kue kering dan sukro yang berserakan di karpet. Wanita itu memejam melihat kertas bungkusan burger dan kentang goreng yang tinggal setengah bertebaran di meja.

Bela mengusap kasar rambutnya. Belum cukup berantakan, dia juga melihat bekas tumpahan air di karpet yang lumayan lebar, lengkap dengan gelas tergeletak sembarangan di samping kaki seseorang. Kaki?

Matanya langsung terbuka lebar melihat siapa pemilik kaki. "MAUDY SAIRAAAAAA!!! BANGUNN!!"

Bela nyaris melompat ke sofa dan menepok-nepok bokong Ira dengan geram. Gadis yang tergeletak mengenaskan dengan mulut terbuka di sofa itu, bahkan tidak terbangun padahal teriakannya sudah membahana.

"Bangun-bangunn!! bangun Iraa!!" Bela mulai menggoncang-goncang tubuh Ira.

"Hooaaaammmhh..." dengan nggak tahu dirinya gadis itu malah menguap selebar buaya sambil menarik tangan keatas.

"Ihh!! Bangun!" Bela memukul Ira lagi dengan bantal sofa.

"Aduhh! Apaan sih mbaaak. Pagi-pagi udah kayak tarzan. hoaamh..." Ira mengelus-elus perutnya yang di pukul Bela sambil menguap lebar.

"Kamu tuh, dokter kelakuan kayak orang utan! Jorok banget. Bangun!" bela memukul Ira lagi dengan bantal yang sama.

"Mck! Ganggu aja, orang lagi mimpi basah juga," omel Ira sebelum bangkit

"Hauh! kebanyakan makan sukro gitu, korslet . Mana ada perempuan mimpi basah. Dasar penderita schizofrenia akut!" balas Bela ikut mengomel sambil menyusun bantal sofa.

"Siapa bilang?" tanya Ira nggak juga beranjak. "Itu buktinya," dan bodohnya Bela malah mengikuti telunjuk Ira yang menunjuk tumpahan air di karpet bekas sepakan kaki gadis itu.

"IRAA EIIDDAAAAANNN!!" Bela langsung melempari Ira dengan bantal yang tadi disusunnya. Sementara orang utan itu sudah kabur ke kemarnya. Hih!

Matanya memandangi pintu kamar Ira yang tertutup rapat dengan tatapan setajam silet dan nafas ngos-ngosan emosi. Wanita itu mengalihkan pandangan ke sekeliling ruang TV sambil nyebut-nyebut dalam hati. Ini satu-satunya yang paling menyebalkan kalau ada Ira, rumahnya nggak pernah bersih. Bela memandangi sekeliling ruang TV dengan nanar. Wellcomeback to the hell!

Dua jam berikutnya, Bela sudah merapikan rumahnya. wanita itu menghempaskan tubuh di sofa ruang TV sambil mengelap keringat yang keluar hasil dari mengelap, menyapu, mengeringkan, dan mencuci piring dengan kaos kedodoran yang di pakainya. Iya dia memang paling cepat kalau urusan kerjaan rumah. Makanya tarzannya langsung keluar melihat kelakuan Ira.

Bela bangkit lagi dan berjalan ke gudang yang beralih fungsi jadi tempat baju kotor dan mesin cuci berada. Tadi dia sempat mencuci bajunya dulu sebelum membereskan rumah. Jadi sekalian rumah beres, baju kotor juga beres. Yah, weekend is dayclean, untuk dia sebenarnya.

Semua pekerjaan rumahnya lancar di kerjakan Bela, sampai dia melihat sosok tinggi itu berdiri dibalik pagar yang menatapnya dengan sorot tepana, saat dia menjemur pakaian.

Tubuhnya mematung tidak bergerak memandang pria itu. "D-Dave..." ucapnya lebih mirip bisikan.

What the hell, he doing  now? here?

Schizofrenia : penderitanya selalu berusaha melarikan diri dari kenyataan hidup dan berdiam dalam dunia fantasinya. Tampaknya dia tidak bisa memahami lingkungannya dan responnya selalu maniacal atau kegila – gilaan.

hay readers cakeps, didalam komen boleh mengkritik atau ngasih saran loh..

cuma mau ngasih tau aja, manatahu manatempe berminat ya kan..

boleh bangeet pasti di tanggapi. Anyway, thank's for reading yaa ;)

Continue Reading

You'll Also Like

1.2M 73.7K 42
[Romance] Follow dulu, baru dibaca. Avram Gian Pradipto -Dokter dengan tingkat kegagalan operasi 0%- Wanita itu melihatku tajam. Tanpa rasa terkeju...
1.2M 58.4K 63
DPD (Sequel Dosen Bucin & DSM) ♥️Yuk Follow Dulu Sebelum Baca♥️ --- Deaby Emma Ellona Putri Brahmana (Dea), seorang desainer muda berbakat yang karya...
5.3M 80.4K 10
[Telah Terbit] Menjadi seorang sekretaris merangkap sebagai asisten pribadi seorang big boss tidak pernah masuk ke dalam daftar tujuan hidup seorang...
Wattpad App - Unlock exclusive features