Sugar Rush [WonShua]

By IchaKym

33K 3.5K 995

Namanya Wen Junhui, orang yang sudah membuat Wonwoo dan Jisoo berpacaran berkat ramuan cinta buatannya, padah... More

-Chapter 01-
-Chapter 02-
-Chapter 03-
-Chapter 04-
Chapter 05
-Chapter 06-
-Chapter 07-
-Chapter 08-
-Chapter 09-
-Chapter 10-
-Chapter 11-
-Chapter 13-
-Chapter 14-
-Chapter 15-
-Chapter 16-
-Chapter 17-

-Chapter 12/13-

1.6K 178 80
By IchaKym

This story owned Kak Furi

.

"Sugar Rush"

Wonwoo X Jisoo

SVT © Pledis Entertainment

Wizard!AU, Typo(s), OOC, BxB

.

Thanks to :
Shushua-ya,fangirleus,JoshuaHongJisoo9,claudy-14,RenaCheolSooBaby,Nana__kim,OrangeBlossom31,dafacho,byun_mimi,mingwongyu,RestianaSari,Guixiancho3424,faurizzz,shuashu_,AdindaHong,VanL_07 (yang udah komen di chapter sebelumnya)
_______________________________________

Saat itu musim dingin, tahun keduanya di SVT Academy.

Seungcheol baru saja diterima menjadi salah satu anggota tim quidditch asramanya, Thyme, dia senang bukan kepalang. Keinginannya sejak tahun pertama ini tercapai berkat kerja kerasnya selama ini. Seungcheol tersenyum puas. Dia akan belajar dan terus belajar untuk menjadi yang terbaik. Dia tidak ingin mengecewakan asrama kebanggaannya ini.

Kali pertama Seungcheol bergabung dengan tim quidditch asramanya ia langsung menjalani latih tanding dengan asrama Ivy. Latihan pertamanya merupakan yang paling berkesan baginya karena selain ia bisa menambah kawan dari kalangan senior, ia juga mendapat teman dari asrama Ivy.

Lalu Seungcheol melihat anak lelaki yang tanpa sengaja menginjak tali sepatunya sendiri. Dia terjatuh, tapi caranya terjatuh benar-benar lucu. Seungcheol tak kuasa menahan tawanya. Dengan punggung tangan menutupi mulutnya, satu tangan yang lain terjulur untuk membantu anak itu bangun.

"Lain kali hati-hati." Itu adalah kalimat yang pertama kali Seungcheol ucapkan pada anak lelaki itu. Ia kini sudah tak tertawa lagi, malah beralih mengikatkan tali sepatu anak itu. "Salju belum turun terlalu banyak tapi jalanan licin bukan main."

"Terimakasih." cicit anak itu. Dia mendongakkan kepalanya dan mereka pun bersitatap untuk beberapa sekon.

Bohong kalau Seungcheol tidak terpaku ketika melihat rupa anak yang baru saja ditolongnya. Dia punya kontur wajah yang unik. Kulitnya putih sama seperti kulit Seungcheol. Sepasang netra bundar itu mengingatkannya pada kelereng yang sering ia mainkan bersama Adiknya dulu. Bibir sedang itu mengerucut tipis. Hidungnya kembang kempis dan telinganya memerah karena dingin.

Hanya butuh sepersekian detik untuk membuat Seungcheol jatuh pada anak itu.

Buru-buru Seungcheol mengalihkan atensinya. Ia melihat anak itu tak memakai sylanya dengan benar, maka Seungcheol membenahinya. Anak itu tak memakai pakaian penghangat lain selain jaket snowboarding bulu domba. Seungcheol sendiri tak memakai pakaian penghangat yang lebih, tapi ia membawa banyak hot pack dalam sakunya jadi Seungcheol menempelkan dua hot pack dipipi anak itu. "Pegang ini."

Anak itu menurut saja meski ia sedikit keheranan dengan tingkah Seungcheol. Sementara yang lebih tua melepas beanie hitam yang dipakainya lalu memasangkannya pada kepala anak itu untuk membuatnya lebih hangat.

Tanpa sengaja, Seungcheol melihat sebuah garis di ujung syal anak itu. Hanya ada satu garis, itu artinya lelaki di hadapannya ini adalah anak tahun pertama. Tapi bukan dari asramanya. Warna kuning itu sudah cukup menjelaskan kalau anak itu berasal dari asrama Ivy.

"Jadi, kau dari asrama Ivy." Seungcheol membuka pembicaraan. "Tahun pertama dan sudah bergabung dengan tim quidditch?"

Anak itu mengangguk pelan. "Kepala asrama yang merekrutku langsung. Ini suatu kehormatan bagiku, dan rasanya aku perlu belajar banyak dari kalian. Salam kenal, namaku Yoon Jeonghan. Tahun pertama dari asrama Ivy."

Yoon Jeonghan. Nama yang seindah sosoknya. Seungcheol pikir ia rela jatuh untuk Jeonghan.

"Aku Choi Seungcheol, tahun kedua dari asrama Thyme. Senang bisa bertemu denganmu." Seungcheol sedikit tersenyum ketika mengakhiri kalimatnya. Tapi senyumannya langsung luntur begitu Seungcheol mendapati wajah Jeonghan semakin merah. "Apa kau benar-benar kedinginan? Wajahmu semakin merah. Atau, jangan katakan padaku kalau kau sedang sakit."

Jeonghan buru-buru menggeleng. Wajahnya memerah? Oh jelas, itu bukan karena dingin, melainkan karena perlakuan lelaki yang lebih tua satu tahun darinya itu. Sudah menolongnya mengikat tali sepatu, membenahi letak syalnya, memberikan hot pack dan beanie selayaknya seorang kekasih. Jeonghan belum pernah merasakan bagaimana rasanya memiliki kekasih, dan melihat perlakuan Seungcheol padanya tak ayal membuat ia membayangkan bahwa seperti inilah rasanya memiliki kekasih.

"Aku baik-baik saja, Senior. Sungguh." Jeonghan berusaha sebaik mungkin agar Seungcheol tak curiga padanya. "Eumm, terimakasih untuk semuanya."

"Tak masalah." Seungcheol tersenyum. Ia lalu menepuk puncak kepala Jeonghan. "Sebaiknya kita ke lapangan, latihan akan dimulai sebentar lagi."

Hari itu, adalah hari yang tak akan pernah dilupakan baik oleh Seungcheol maupun Jeonghan.

.

Choi Seungcheol. Jeonghan tidak akan pernah lupa pada sosok yang banyak membantunya di hari pertamanya latihan quidditch.

Senior beda asramanya itu tak berhenti membuatnya kagum. Kemampuannya jauh lebih baik dari Jeonghan meski lelaki itu bilang kalau hari itu adalah hari pertamanya latihan. Jeonghan tergerak untuk menjadi sepertinya, ia juga tak ingin mengecewakan asramanya dengan menampilkan penampilan yang buruk. Sepanjang sisa latihan hari itu, Jeonghan tak sekalipun melepaskan pandangannya dari Seungcheol.

"Kau tahu, kurasa aku menyukai seseorang."

Jisoo menyambutnya begitu ia memasuki asrama. Sebenarnya ia lelah, tapi Jisoo tak akan berhenti mengoceh sebelum ia menaruh atensi pada curahan hatinya. Jadi setelah mendudukkan dirinya di kursi malas, Jeonghan langsung memusatkan perhatiannya pada Jisoo.

"Siapa?"

"Senior Choi Seungcheol, dari asrama Thyme. Tahun kedua."

Jawaban Jisoo sontak membuat Jeonghan meremat beanie milik Seungcheol di saku jaketnya. Ini terdengar konyol baginya. Bagaimana bisa ia terpesona pada orang yang disukai oleh Jisoo? Tapi Jeonghan juga tidak sebodoh itu untuk mengungkapakan bahwa ia juga tertarik pada Seungcheol.

"Sejak kapan?"

Jeonghan mendadak merasakan tenggorokannya kering. Amat kering sampai ia tak bisa menyembunyikan suaranya yang parau. Tapi melihat binar di wajah Jisoo, membuat Jeonghan tidak mau merusak kebahagiaan sahabat yang sudah ia anggap sebagai Adik kandungnya itu.

"Mmm, sejak seminggu yang lalu?"

Jeonghan membulatkan mulutnya. Jadi ia memang sudah keduluan. Dalam hati Jeonghan tertawa pilu. Mungkin aku kurang beruntung, lain kali kalau aku menyukai orang lain aku harus memastikan kalau dia bukan orang yang disukai oleh Jisoo.

"Dan selama seminggu kau merahasiakan hal ini dariku, Jisooie? Ah, hatiku terluka." Jeonghan mengerucutkan bibirnya. "Bagaimana bisa kau menyukainya?"

Jisoo menundukkan kepalanya. Tapi Jeonghan tetap saja bisa melihat rona merah di wajah Jisoo. "Waktu itu ketika kelas Profesor Yoongi... Dia membantuku membawakan buku-buku ke ruangannya beliau. Setelah itu dia membelikanku makanan di kafétaria dan mengantarku sampai ke asrama. Dia benar-benar orang yang baik. Dia juga tampan."

Jeonghan mengangguk mengerti. Jadi Seungcheol memang baik pada semua orang. Lalu ia kembali menertawakan dirinya dalam hati. Bagaimana bisa ia dengan bodohnya menyukai Seungcheol di pertemuan pertama mereka? Dan saat itu Jeonghan memang butuh bantuan. Ia yakin Seungcheol membantunya sampai sejauh itu karena pada dasarnya ia memang orang yang baik.

Pemuda bermarga Yoon itu mengelus puncak kepala Jisoo. "Aku mendukungmu kalau memang ia orang yang baik menurutmu." Setelahnya Jeonghan menepuk pundak Jisoo. "Aku duluan, oke? Hari pertamaku latihan quidditch benar-benar melelahkan. Kupikir aku akan tidur lebih awal malam ini."

Jisoo mengangguk, ia balas menepuk pundak Jeonghan. "Jangan memaksakan dirimu, Hannie. Istirahatlah."

Atau mungkin lebih tepatnya Jeonghan butuh tempat untuk menumpahkan tangisnya.

.

Hari itu Seungcheol tidak punya jadwal latihan, tapi ia tetap datang ke lapangan untuk menyaksikan latihan quidditch asrama Ivy. Matanya tak pernah lepas pada satu sosok yang telah berhasil menjungkirbalikkan dunianya sejak oertemuan pertama.

Yoon Jeonghan.

Ketika jeda latihan, Seungcheol buru-buru turun untuk menghampiri Jeonghan. Dia memberikan sebotol air dan handuk oada lelaki yang lebih muda.

"Kau telah bekerja keras hari ini." ucap Seungcheol. "Kau juga banyak berkembang. Aku kagum pada cepatnya kau belajar."

Seperti biasa, Jeonghan memandang Seungcheol kikuk. Meski ini bukan lagi pertemuan pertama mereka tapi Jeonghan tak bisa bersikap biasa saja ketika Seungcheol justru mengingatkannya pada Jisoo. Tapi Jeonghan diajarkan sopan santun oleh kedua orang tuanya sehingga ia tak bisa menolak pemberian Seungcheol diiringi ucapan terimakasih.

Seungcheol menepuk pundaknya. Menyadarkan Jeonghan dari lamunannya. "Aku akan menunggumu sampai latihan selesai."

Mau tak mau kening Jeonghan berkerut. "Kenapa?"

"Aku ingin mengajakmu pergi ke suatu tempat." jawab Seungcheol. "Pernah dengar tentang Danau Safir?"

Jeonghan mengangguk singkat. Tunggu, ini bukan mimpi kan?

"Kita akan pergi kesana setelah latihanmu selesai. Jangan khawatir. Aku akan mengantarmu pulanh sebelum pemeriksaan." Tangan Seungcheol kini beralih ke puncak kepala Jeonghan. Mengelus surai lembut Jeonghan. Lalu Seungcheol mendekatkan wajah ke arahnya, membisikkan kata-kata yang membuat bulu kuduknya meremang. "Dan aku tidak ingin mendengar penolakan darimu, manis."

Jeonghan tergagap. "I-itu terdengar seperti--'

"Kencan?" Seungcheol menyela ucapannya. "Baguslah kalau kau berpikir seperti itu. Karena aku juga memikirkan hal yang sama denganmu."

Pipi Jeonghan tak bisa lebih merah lagi dari ini. Mungkin kalau disandingkan dengan kepiting rebus warnanya akan sama.

Tapi, Seungcheol bilang dia tak ingin mendengar penolakan. Jadi--

"Baiklah."

Jeonghan mengusap punggung tangan Seungcheol. "Kau melamun, senior?"

"Benarkah?" Seungcheol menggaruk tengkuknya karena malu tertangkap melamun di depan Jeonghan. "Maaf, dan, sepertinya kita sudah membuat Wonwoo menunggu terlalu lama."

"Oh, astaga, aku benar-benar melupakan anak itu kalau saja senior tidak mengingatkanku." Jeonghan menepuk dahinya. "Dari pasti marah padaku."

Seungcheol tertawa pelan, lantas mengusak surai Jeonghan. "Pergilah. Aku tahu anak itu amat menyeramkan ketika sedang marah."

"Kau benar senior, anak itu lebih menyeramkan dari naga Hungaria ketika sedang marah." Jeonghan sedikit panik mengingat waktu yang ia habiskan bersama Seungcheol kali ini cukup lama dan entah Wonwoo sedang mengucapkan sumpah serapah apa di luar sana karena Jeonghan membuatnya menunggu. "Ka-kslau begitu, aku pergi dulu, senior. Dan jangan sekali-kali lagi melakukan hal yang aneh seperti tadi."

"Tentu." Seungcheol mengangguk. "Ah, Jeonghan--"

"Ya?"

Ragu-ragu, Seungcheol menatap wajah Jeonghan namun ia langsung mengalihkan pandangannya. "Tidak jadi. Aku mendadak lupa dengan apa yang ingin kukatakan."

"Selalu saja pelupa." Jeonghan tertawa kecil. "Ya sudah, kali ini aku benar-benar pergi, ya, senior."

Seungcheol melambaikan tangannya. "Sampai jumpa lagi."

Diam-diam, yang lebih tua tersenyum kecut seraya melambaikan tangannya pada yang lebih muda. Oke. Seungcheol, nikmati dulu semua ini untuk memperbaiki hubunganmu dengannya sebelum kau mengajaknya kencan. Ya, tentu saja, aku masih punya banyak waktu sebelum mengajaknya pergi. Tapi, kemana aku harus mengajaknya untuk kencan pertama nanti?

.

.

"Mungkin Jungkook benar."

Taehyung memandang Hanbin tak percaya, seolah jawaban yang ia harapkan bukanlah itu. Hanbin menggedikkan bahunya. "Tidak ada yang salah dari seorang pure-blood yang mencintai seorang half-blood. Tak ada hukum yang melarang hal itu."

"Tapi--"

"Dengarkan aku sampai selesai, Taehyung." Hanbin memandang tajam Taehyung. "Kau jelas pernah berada dalam posisi Adikmu. Kau pernah mencintai seorang half-blood sebelum kau memutuskan untuk melabuhkan hatimu pada Jungkook. Kau pernah mencintai Lee Taeyong, dulu, sebelum ia memilih untuk menghabiskan sisa hidupnya dengan seorang manusia. Dan jelas, tak ada hukum yang melarang kita, baik pure-blood maupun half-blood untuk berhubungan dengan manusia. Itu sah-sah saja untuk dilakukan. Kau yang seorang pure-blood pernah mencintai seorang half-blood, dan ketika dia memilih untuk pergi kau melepas dan menghargai keputusannya. Kenapa kau tidak bisa berlaku sama pada Adikmu? Kenapa kau tidak melepas Adikmu untuk menentukan pilihannya dan menghargai setiap keputusan yang ia buat?"

Taehyung meremat gelas anggurnya. "Aku hanya menginginkan yang terbaik untuk Adikku. Dulu, aku memang melepas dan menghargai keputusan Taeyong untuk meninggalkanku, tapi apa kau tahu kalau aku jelas terluka kala itu?! Apa kau tahu sedalam apa luka yang ia tinggalkan dan bagaimana aku menemukan diriku hampir menuju kehancuran?! Aku hanya tidak ingin Adikku merasakan apa yang dulu kurasakan, itu saja. Sesimpel itu."

"Hanya karena dia Adikmu bukan berarti ia akan punya kisah cinta yang sama denganmu." Hanbin menenggak kembali anggurnya. "Aku sudah melihat mereka, dan percayalah, ikatan yang Adikmu punya dengan Jisoo itu benar-benar kuat. Tidak mudah bagi mereka untuk melepaskan satu sama lain."

"Tetap saja anggapan di masyarakat akan buruk, jika itu menyangkut penyihir berdarah murni yang bersama dengan penyihir berdarah campuran. Meski Ayah dan Ibu tidak terlalu memikirkannya, tapi keluarga besarku akan menekan Wonwoo dan Jisoo hingga mereka menyerah atas hubungan mereka."

Hanbin memijit pelipisnya lalu menghisap sheeshanya seraya memikirkan sebuah solusi atas perdebatan panjangnya bersama Taehyung ini. Hanbin benar-benar mengutuk sifat keras kepala Taehyung yang terkadang menyusahkan sebagian orang, seperti saat ini -karena Taehyung yang menyita waktunya yang biasa ia habiskan untuk bersenang-senang dengan naga, basilisk, hipogriff, maupun cockatrice; tidak aneh kalau Hanbin dikenal sebagai pecinta satwa gaib melebihi Profesor Woobin.

"Cinta selalu menemukan caranya sendiri untuk bersatu, Taehyung. Itu sedikit kutipan yang kudapat dari Miss Jiwon. Itu belum seberapa bagi mereka, dan mereka tidak akan hancur semudah itu. Tantangan untuk mereka memang banyak, tapi sebanyak apapun itu, tidak akan bisa menghancurkan ikatan mereka. Jadi percayakan saja bahwa semuanya akan baik-baik saja. Adikmu tidak akan terluka seperti apa yang kau alami dulu."

Taehyung diam memegang gelas anggurnya sementara Hanbin masih asik menghisap sheesha. Mungkin setelah ini Taehyung akan mendapat sedikit pencerahan--

"Hey, Hanbin, aku punya solusi untuk ini." Taehyung tiba-tiba saja memandang Hanbin dengan binar cerah.

"Apa itu?"
Taehyung menyeringai. "Bagaimana dengan manjodohkan Adikku dengan Kim Hanbyul, Adikmu?"

Hanbin mendecih. Solusi apanya, kalau begini anak itu malah memperumit keadaan. "Kau pasti sudah gila, Taehyung."

.

.

Kali pertama Wonwoo melihatnya adalah hari dimana asrama mereka ditentukan.

Dia tampak mencolok diantara anak-anak satu angkatan. Rambut ash grey nya berkibar tertiup angin, dia menggunakan mantel beludru rose-gold, tingginya mungkin tak jauh beda dengan Wonwoo, tapi Wonwoo yakin ia masih lebih tinggi dari anak itu. Senyumnya mengembang ketika namanya dipanggil, dan Wonwoo bersumpah dia tidak pernah melihat seseorang sebahagia itu hanya dengan dipanggil namanya.

Hong Jisoo.

Wonwoo mematri nama itu dalam benaknya. Dia melihat anak itu berjalan santai naik ke podium. Senyumnya tidak luntur, dia dengan penuh rasa percaya dirinya memamerkan deretan giginya yang tertata rapi. Sepasang netranya melengkung membentuk sebuah sabit. Benar-benar indah.

Anak itu sudah berada di atas podium, dengan Topi Seleksi bertengger di kepalanya. Wonwoo waswas, menebak-nebak sekiranya di asrama mana anak itu ditempatkan.

Wonwoo sempat kehilangan fokus selama beberapa detik, dan ketika dia melihat panji kuning berkibar serta sorak sorai dari ujung kanan, ia mendesah kecewa. Jisoo ditempatkan di asrama Ivy. Kepala asrama mereka, Byun Baekhyun, merangsek maju dan menarik Jisoo menuju barisan mereka.

Dan entah kenapa, Wonwoo sedikit kecewa saat anak itu tidak berada di asrama yang sama dengannya -asrama Elm.

Seminggu kemudian Wonwoo memaksa untuk pindah ke asrama Thyme. Seminggu berada di asrama Elm, ia benar-benar merasa tertekan karena banyak orang yang berekspetasi tinggi padanya, Wonwoo tidak suka itu. Terlebih tidak sedikit yang  membandingkan dirinya dengan kakak tirinya, Kim Taehyung. Wonwoo tahu ia jelas kalah dibanding kakaknya itu, tapi Wonwoo tidak punya ambisi untuk menyamai kakaknya. Ia ingin menjalani hidup sebagai Jeon Wonwoo, tanpa paksaan ataupin ekspetasi tinggi yang dibebankan padanya. Ia ingin hidup dengan caranya sendiri.

Pagi itu Wonwoo berangkat terburu-buru. Lelah berdebat dengan Profesor Yongguk membuatnya tidur kelewat batas dan berakhir dengan keterlambatannya. Wonwoo sedikit berlari menyusuri koridor, seraya mengumpat kenapa jarak dari asrama ke kastil utama cukup jauh.

Lalu tiba-tiba ia dihadapkan pada kejadian yang tak pernah dia harapkan sama sekali.

Entah karena Wonwoo terus berlari tanpa memperhatikan sekitarnya, ataupun karena anak itu bertingkah kelewatan, mereka bertubrukkan di koridor.

Wonwoo sering membaca atau mendengar kejadian yang dramatis ini. Dan Wonwoo benar-benar tidak menyukai ide bagaimana dua orang yang bertabrakan tanpa sengaja pada akhirnya akan menjalin kisah cinta. Menurutnya sedikit tak masuk akal, tapi kini ia terkena karmanya sendiri.

Wonwoo bertubrukkan dengan seseorang tanpa sengaja dan berakhir mengagumi sosok yang bertubrukkan dengannya itu.

Tentu Wonwoo ingat dia. Si anak bermantel rose-gold di hari penentuan asrama mereka, Hong Jisoo. Kini anak itu tidak memakai mantel beludru rose-gold lagi, melainkan rambutnya yang kini berwarna rose-gold. Harus Wonwoo akui Jisoo cocok dengan warna itu.

"Ini masih pagi dan kau sudah melakukan satu tindakan yang ceroboh."

Mungkin ucapan Wonwoo kelewat ketus sampai Jisoo menatapnya kaget. Ia tergagap. "Ma-maafkan aku... eung.. Jeon Wonwoo?"

Sesungguhnya Wonwoo tak pernah berniat mengucapkan kalimat itu, tapi ia sendiri bukan orang yang cukup pandai mengendalikan kata-kata yang keluar dari mulutnya.

"Aku sudah sangat terlambat dan kau membuatku benar-benar tidak bisa masuk kelas Profesor Jaehwan." ucap Wonwoo. "Haruskah aku mengucapkan terimakasih untuk itu, Hong Jisoo?"

Jisoo terlihat panik. "Aku... benar-benar minta maaf! Aku tak sengaja!"

"Kalau kau benar-benar bersalah setidaknya menyingkirlah dari tubuhku." Wonwoo menatap tajam Jisoo. Ia tidak bohong, ini benar-benar membuatnya tersiksa. "Atau sebenarnya kau diam-diam menikmatinya, huh? Menabrak dan berakhir di atas tubuhku, menduduki bagian selatan tubuhku tanpa niatan untuk bangun? Apa kau punya niat untuk membuatku terangsang?"

"E-eh!" Wajah Jisoo merona merah. Wonwoo tertawa dalam hati. Benar-benar lucu. Jisoo tampak salah tingkah sendiri. Ia buru-buru menjauhkan tubuhnya dari Wonwoo. "Ma-maafkan aku! A-aku tak bermaksud begitu. Sungguh!"

"Aku tidak percaya dengan apa yang kau ucapkan."

"Oi!" Jisoo menatap tajam pada Wonwoo, meski sebenarnya hal itu justru membuatnya terlihat menggemaskan. "Kau benar-benar menyebalkan! Aku sungguh tidak berniat melakukan hal itu, dan aku benar-benar minta maaf padamu. Lalu kau bilang kau tidak percaya padaku? Kau menyebalkan! Lihat saja wajahmu itu, benar-benar tipe orang yang menyebalkan! Pasti kau dari asrama Elm."

"Sebenarnya aku sudah pindah ke asrama Thyme."

Jisoo tampak terkejut atas ucapan Wonwoo. "Y-ya pokoknya itu lah! Aku tak perduli dari asrama mana kau berasal, tapi kau benar-benar menyebalkan! Setidaknya hargailah permintaan maafku."

Wonwoo menepuk-nepuk seragamnya lalu berdiri. Kini ia bisa melihat bahwa tinggi mereka hampir sama -atau memang sama. Wonwoo tidak tahu pasti tapi ia menyukai bagaimana tinggi badan mereka terlihat pas.

Pemuda Jeon itu menyeringai. "Tapi tidak semudah itu mendapat maaf dariku."

DEG!

Jisoo terbangun di kamarnya sendiri dengan peluh bercucuran. Ia memandang sekeliling kamarnya dan mendapati Jun serta Minghao menatapnya khawatir.

"Kenapa kalian ada disini? Mana Jeonghan?"

"Dia sedang latihan." Minghao duduk di pinggiran kasur Jisoo seraya menyimpan segelas air di atas meja nakas. "Kau tidak sadar selama seminggu, ngomong-ngomong."

"Apa?!" Jisoo membulatkan matanya. "Seminggu?! Apa yang terjadi?"

"Well, banyak yang terjadi. Mau kuceritakan darimana?" Jun mendudukkan dirinya di samping Minghao. "Seminggu ini kami cemas menanti kapan kau bangun karena kau sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda akan bangun."

"Kepalaku sedikit pusing." Jisoo memijat pelipisnya. "Apa aku melewatkan Ujian Tengah Semesterku?"

"Kau bahkan melewatkan pertandingan persahabatan antara asrama Ivy dan asrama Thyme. Sayang sekali asrama kita kalah." Minghao berinisiatif untuk memijat kepala Jisoo. "Dan kau tahu siapa yang membuat asrama kita kalah?"

Jisoo menggelengkan kepalanya. "Siapa?"

"Pacarmu, Jeon Wonwoo!" jawab Jun dan Minghao berbarengan.

Jisoo mengerutkan dahinya. "Tunggu, kupikir aku baru saja mendengar sesuatu yang ganjil disini. Wonwoo dari asrama Thyme itu? Pacarku? Tidak mungkin! Hubungan kami lebih buruk daripada musuh dan kalian bilang dia pacarku? Itu mustahil. Mana mungkin aku berpacaran dengannya?"

"Tapi seminggu yang lalu kalian bahkan sempat berciuman disini."

Raut wajah Jisoo berubah keruh. "Wonwoo tidak mungkin jadi pacarku karena aku sangat membencinya! Lagipula, siapa dia?"

Jun dan Minghao saling berpandangan. Benar bahwa Sugar Rush bisa menghilangkan ingatan seseorang yang memakannya, baik itu sebagian atau seutuhnya. Dan tampaknya Sugar Rush benar-benar bekerja pada Jisoo...

"Jawab aku, kenapa kalian bisa mengatakan kalau Wonwoo adalah pacarku?"

______________________________

To Be Continued…
______________________________

Hai gaes~
Maaf baru nongol lagi disini 🙇
Dan, mungkin ini adalah chapter trpanjang yg icha ketik 👉 3K word ㅠ.ㅠ

Oh iya, Icha mau ngasih tau.. Kalau chapter ini mungkin bisa jadi Chapter 12 ataupun Chapter 13
Soalnya Icha belum dapet info dari Kak Furinya :")

Makasih bgt pokoknya bwt yg selalu setia nungguin + voment ff ini^^

Skrg juga jgn lupa voment sebanyak-banyaknya ya 😉😙

#사랑해 ❤💙💖💚

Continue Reading

You'll Also Like

168K 4.7K 31
wonwoo atau wonu terjebak dalam sebuah perjanjian dengan teman sekelasnya yaitu Choi Mingyu wonwoo pria cantik dan manis harus menghadapi kenyataan p...
83.2K 8.4K 14
awalnya baekhyun cuma iseng doang ngebajak hapenya luhan, yang lagi chat-an ama ntahlah siapa, mungkin teman kali. tapi kok lama lama, si doi malah b...
70.1K 10.6K 64
tentang persahabatan antara Chaelisa dan Jisoo
85.7K 11.6K 78
I HAVE A LOVER ~ Mencoba mengenal Jisoo dari sudut pandang yang berbeda.
Wattpad App - Unlock exclusive features