Secret Feeling

By zharzanindya02

1K 587 106

Kisah tentang Diandra si Alien yang berusaha ditaklukan oleh pangeran 'pencitraan' 'Mungkin kita saling suka... More

Secret Feeling : dua
Secret Feeling : tiga
Secret Feeling : empat
Secret Feeling : lima
Secret Feeling : enam
Secret Feeling : tujuh
Secret Feeling : delapan
Secret Feeling : sembilan
Secret Feeling : sepuluh
Secret Feeling : sebelas
Secret Feeling : Dua belas
Secret Feeling : Tiga belas
Secret Feeling : Empat belas
Secret Feeling : lima belas

Secret Feeling : Satu

178 77 31
By zharzanindya02

"Cowok lolok yang memiliki tingkat pencitraan sangat tinggi,ugghh Dirga cupu,- Diandra"

*****

Diandra sedang memasukkan beberapa novel ke dalam tasnya pagi ini. Buku pelajaran? Urusan nanti, yang penting novel dulu. Diandra anak SMA kelas 11 di SMA 9 Bandar Lampung. Diandra termasuk kategori 'bad' kalo urusan penampilan.

●Kuku hitam, check

●Rambut pink, check

●Coker leher, check

●Tindik lidah, check

●Anting sebelah, check

●Rok di atas lutut, check

●Tato di leher,check

Begitulah deskripsi untuk menggambarkan penampilan Diandra. Penampilan urakan membuatnya tidak memiliki teman, tapi apa ia sedih? Tentu aja enggak. Ayah bundanya sudah tidak tau harus ngomelin Diandra seperti apa lagi. Diandra mempunyai kakak laki laki tapi terkadang kakaknya lupa kalau ia punya adik seperti Diandra.

"Kok gue cakep ya pagi ini, berangkat ahhh udah mau telat"

Padahal jam kamarnya sudah menunjukkan pukul 8 dan Diandra masih sangat santainya. Ia menancapkan gas dan berlalu dengan cepat. Ia tiba di sekolah pukul 08:25 dan gerbang pun sudah ditutup. Ia berjalan mengendap endap mencari celah lewat belakang. Diandra masuk ke sekolah dengan mulus ia berjalan mundur sembari melihat sekeliling.

"Ekhemm"

"Ee..ehh? Pak botak, samlekum pak" cegir Diandra yang sudah menyadari bahwa ia telah ke'gep'.

"Jam berapa ini Diandra?"

"Ooohh bapak mau pamer jam tangan baru ya ke saya, makanya bapak sok nanya jam berapa. Tenang pak saya peka kok, itu jam baru kan pak" celoteh Diandra

"Andra!!! Saya ini serius ya, untung Dirga ngasih tau saya tempat dimana biasanya kamu mengendap endap"

"D I A N D R A pakk bukan Andra"

'Cihh ternyata Dirga yang ngasih tau tempat ini' batin Diandra

"Ikut saya ke bk!"

"Heeew, iya pak "

Diandra berjalan lemas mengikuti pak botak di depannya. Sesekali ia melihat banyak kakak tingkat dan adik tingkat yang membicarakannya dengan berbisik bisik. Diandra hanya menatap angkuh sembari mengangkat dagunya.


'Ihh kak Diandra masuk bk lagi kayaknya'

'Makin cantik aja Diandra'

'Iihh kampungan banget sih tuh orang'

'Gue makin ngefans sama kak Diandra'

'Cantik tapi aneh'

'Denger denger dia anak pungut bener gak sih...?'

'Orang tuanya nikah karena saham katanya...!'

'Menyedihkan...'

Sebuah suara dari ribuan suara sukses membuat langkah Diandra terhenti. Ia berbalik dan menatap tajam kearah gerombolan siswi yang sedang rumpi. Ia mendekati orang yang membuatnya merasa terpancing.

"Gak usah usik hidup gue!"

Terdengar penuh penekanan disetiap katanya, Diandra menatap siswi itu dengan tajam dan dingin membuat siswi itu bergidik ngeri dan menunduk. Diandra kembali pergi melangkah ke ruang bk.

Sesampainya disana ia melihat Dirga yang tampaknya juga dipanggil oleh Bk. Diandra melangkah masuk dan langsung dihadapi guru bk yang bisa dibilang terdengar killer. Diandra disuruh duduk disebelah Dirga. Ntah mengapa alasan Dirga berada disini karena 'notabene-nya' ia adalah anak yang pintar dan rajin tapi yang jelas keberadaanya membuat Diandra merasa kesal dan jengkel. Dirga yang mengetahui perubahan mimik wajah Diandra hanya memberikan tatapan aneh.

"Kamu tau apa kesalahan kamu?" Tanya bu bk

"Saya telat bu "

"Kesalahan selanjutnya?!"

"Lah apa lagi emang bu? Ettdahh bu hidup dibawa santai aja lah jangan serius serius nanti saya takut terus pingsan gimana"

"DIANDRA! Semua nilai kamu jeblok dan perlu dipertimbangkan untuk kamu naik kelas atau tidak!"

"Jadi?"

"Dirga akan jadi tutor sebaya kamu, tidak ada penolakan"

Diandra terbengong 'cengo' begitu pula dengan Dirga. Sepertinya Dirga juga tidak tau alasan ia dipanggil ke ruang bk tapi setelah mengetahui ini ia terlihat sangat syok.

"Tapi bu kenapa harus saya?"

"Iya bu kenapa harus dia?"

"Ibu pikir kalian sudah lama berteman dekat jadi lebih mudah untuk belajar dan mengajar"

"Lahh saya pikir ibu manggil Diandra buat dihukum gara gara ngerjain saya kemarin bu?!" Protes Dirga

"Urusan jadwal bimbingannya ibu serahkan ke kamu aja ya Dirga, kamu yang atur pokoknya dalam waktu sebulan nilai nilai Diandra ibu harap ada peningkatan"

Guru bk tersebut mengakhiri dengan keputusan final. Dirga dan Diandra melangkah keluar dari ruang bk. Diandra melangkah acuh ke arah kelasnya namun sebuah tangan besar menghentikan langkahnya. Diandra berbalik karena tubuhnya ditarik orang tersebut.

"Hemm apa? Gak usah pegang pegang bisa gak sih lo?" Tanya Diandra ketus

"Kenapa tadi kamu gak nolak buat tutor sebaya dengan aku?" Tanya Dirga gak kalah dingin

"Heeh siapa juga yang mau tutor sebaya sama lo cupu mending gw shopping dari pada belajar yang buat gue ugghhhh GAK PENTING"

"Aku juga gak mau ngajarin anak liar kayak kamu tapi aku gak mau sikap aku tercoreng karena kamu, nanti aku bakal kasih daftar hari kita belajar dan kamu harus mau"

"...whatever..."

Ucap Diandra lalu pergi meninggalkan Dirga. Dirga menatap kesal Diandra yang sudah semakin menjauh. Dari awal masuk sma Dirga sudah kurang suka dengan sikap Diandra yang semena mena, mulai dari menentang guru, bolos, kasar, cuek,dll. Seolah semua sifat buruk sudah terlalu komplit di diri Diandra. Dan sialnya Dirga harus menjadi tutor sebaya Diandra yang notabene 'rival'. Diandra dan Dirga tidak sekelas tetapi kelas mereka bersebrangan.

Diandra sudah duduk mantap di kursi kelasnya. Ia duduk di kursi pojok seorang diri. Dulu Diandra sempat memiliki teman sebangku tetapi semenjak teman sebangkunya masuk rumah sakit dan koma 5 hari karena ia pukul satu kelas tak ada lagi yang mau duduk bareng dengannya. Diandra memasang 'earphone'-nya dan mendengarkan lagu dengan volume full.

Hingga tanpa sadar guru yang tengah mengajar masuk dan menatap Diandra aneh. Guru tersebut menatap ke Diandra dengan tatapan aneh karena Diandra sedang asik menggoyang goyangkan tubuhnya dan menggumam dengan cukup keras mungkin orang yang melihatnya menganggap ia kerasukan.

"Diandra!" Teriak pak Anton

Tak ada jawaban dan kelas masih hening melihat ke arah Diandra. Pak Anton geram dan mendekati Diandra.

*Brakk

Suara gebrakan meja terdengar mengglegar di kelas. Semua melihat ke pak Anton yang sudah sangat marah ke Diandra. Menyadari dirinya menjadi pusat perhatian Diandra melepas earphone-nya dan menatap malas ke arah pak Anton. Sudah menjadi makanan sehari hari bagi Diandra jika ia dimarahi oleh semua guru, termasuk pak Anton.

"Ada apa pak?" Tanya Diandra

"Sebelum marah saya lebih besar lebih baik kamu keluar dari pada menggangu proses belajar mengajar"

"Tapi sayakan juga murid di sini, saya berhak mendapatkan ilmu"

"Saya bilang keluar ya keluar!"

Diandra memilih melangkah keluar dari kelas dari pada kupingnya pekak karena suara pak Anton. Disebrang kelas tampak Dirga yang tengah fokus kepada guru yang mengajar di depan. Diandra curiga bahwa Dirga hanya melakukan 'pedekate' atau mungkin juga pencitraan. Diandra memilih ke atap sekolah dan menikmati semilir angin yang sejuk. Tiba tiba sebuah tangan menepuk pundak Diandra. Ia berbalik dan melihat wajah seseorang yang sudah menjadi rivalnya sejak masuk SMA 'Bima'. Bima menatap sinis dan duduk disebelah Diandra.

"Lo bakal tutor sama Dirga si cupu?"

"..."

"Woy gue lagi ngomong sama lo"

"Y"

"Berani taruhan?"

"Jangan ganggu gue, mood gue lagi gak bagus buat berantem"

"Gue berani bertaruh kalo lo bakal jatuh cinta sama Dirga cupu"

"Mitos"

Diandra pergi meninggalkan Bima dalam sunyi. Diandra berjalan sendiri di koridor sekolah yang sedang sepi. Ia merasa ada seseorang yang mengikutinya dari belakang. Diandra mulai merasa kurang nyaman dan tiba tiba orang tersebut memegang bahu kanan Diandra. Dengan gerakan cepat Diandra memplintir tangan orang tersebut hingga ia berteriak kesakitan.

"Lepas woyy cewek kuli" teriak kesakitan cowok itu.

"Hehh lo siapa berani berani mengang gue!!" Ketus Diandra

"Gue cuma mau nanya ruang guru ada di mana, woii lepas dong sakit gila"

Mendapat alasan yang cukup logis Diandra melepaskan cowok itu. Namun hal tak terduga terjadi. Cowok itu menarik lengan Diandra membuat cewek itu jatuh dalam pelukan dan membuat kedua mata mereka saling beradu tatap. Waktu seolah berhenti dan dunia serasa sedang berpihak kepada mereka. Tiba tiba sebuah dehaman membuat mereka tersadar dan menghentikan aksi peluk pelukan. Sebuah tatapan sinis...

...bersambung...

#####

Vote dan komen jan lupa
Kalo ceritanya agak gak jelas mohon di maafkeun yak, tq

Continue Reading

You'll Also Like

9.2K 725 37
Hanya mencoba menulis
6.1K 1K 32
**** "dandy boleh ga dinda minta satu permintaan?" tanya dinda "apaan tuh?" tanya dandy balik "dandy mau gak, janji sama dinda bakal jadi temen yang...
12K 650 38
[My first story on wattpad] [18+] "Masalalu melukaiku, merobek asa dan semangat hidupku. Jika aku masih disini sekarang, ingatkan aku untuk mencari p...
841K 26.8K 27
"Sampai kapanpun aku nggak mau dijodohkan" teriak gadis cantik kepada keluarganya "Mau atau tidak mau,kamu harus menerimanya.karena ini perjanjian ke...
Wattpad App - Unlock exclusive features