Namaku Malika. Malika Arsyana Hermawan. Tidak, bukan itu kebenaranya margaku bukan Hermawan. Namun entah siapa nama asli ayahku yang cocok untuk menggantikan marga Hermawan tersebut.
Aku hanya seorang ciptaan tuhan yang tidak berarti apa-apa. Seorang dengan darah kotor yang mengalir di tubuhnya.
Aku bukan orang kaya, bahkan aku juga bukan orang yang berasal dari keluarga terpandang. Aku adalah aku. Seorang manusia kotor. Manusia kotor yang berasal dari kedua orang tuaku. Orang tua yang dengan teganya menelantarkan anak dengan kulit kemerahan dan di lapisi selimut saat masih bayi. Orang tua yang tega meninggalkan anaknya di tempat yang asing. Orang tua yang dengan teganya meninggalkanku di tempat yang jauh dari kesan kebahagiaan.
Apakah mereka masih hidup?
Apakah orang tuaku masih hidup?
Tuhan jawab aku, jika mereka saat ini bahagia, tersenyum dan tanpa perasaan bersalah memikirkan tentang diriku. Aku mohon Bunuh saja mereka. Ambil saja, ambil saja mereka.
Tuhan aku ingin kau melenyapakan kedua orang tuaku yang membuatku seperti ini.
Membuatku menjadi anak orang lain.
Membuatku menjadi bagian dari keluarga Hermawan.
Dan membuatku merasakan rasa sakit yang benar-benar menjadi beban dalam hidupku.
Diary Biru. Hanya Diry Biru inilah teman setiaku. Teman yang tidak pernah mengeluh jika aku mencurahkan seluruh isi hatiku.
Diary Biru yang tidak akan pernah membocorkan rahasiaku.
Diary biru, Diary Biru yang sangat berarti untuk ku.
Diary Biru dari seseorang yang sangat berarti di dalam hatiku.
Dan inilah Curahan hati pertamaku untuk Diary Biruku.
Halaman pertama yang ku tulis.
Halaman pertama yang ku gores dengan tinta hitam.
Halaman pertama yang menjadi rahasiaku bersama Diary Biru.
Halaman pertama yang menyedihkan.
Dan halaman pertama yang menjadi pembuka untuk Halaman-halaman selanjutnya.
📖📝📖