Suara gemericik hujan memecah kesunyian malam. Membasahi setiap atap rumah warga kotayang kebanyakan penghuninya telah terlelap ke alam mimpi. Tinggal di dalam salah satu kota besar di Negeri Beruang Merah, tentu membuat para penghuninya senantiasamenjalani hari seperti kawanan lebah pekerja. Berdengung ke sana-ke mari,memadati lalu lintas setiap hari. Bisa mendapat malam yang damai, bergumuldalam selimut hangat, tentu merupakan anugerah tersendiri yang patut disyukuri.
Namun, tampaknya tak semua warga dapat merasakan nikmat itu. Sang pemuda berambut pirang pucat—nyaris putih—tampak masih bergulat dengan selimutnya. Membalik tubuhnya ke sana kemari, dengan ekspresi gusar yang tampak sangat tak nyaman. Nafasnya menderu, tampak keringat dingin meluncur turun dari dahinya. Ia tak tenang, tapi ia tak dapat melawan, sampai, sebuah suara yang hangat memanggil namanya.
"Kizune...."
.
.
.
"Kizune, bangun! Ayo, kau tak mau terlambat ke sekolah kan?"
Dan kedua kelopak mata itu mengerjap terbuka. Sudah pagi? Sejak kapan?
"Selamat pagi, Kizune. Hei, jangan bengong begitu. Ayo bangun, Ibu akan menunggu diruang makan." Dan sebuah kecupan hangat mendarat di keningnya.
Bocah berumur sepuluh tahun itu menguap pelan. Sambil mengusap-usap kedua kelopak matanya dengan jarinya yang mungil. Kedua kelereng biru itu akhirnya telah sadar sepenuhnya.
"Ohayou, Kaasan[1],"ucapnya pelan.
"A-a-a-a.Kita sudah tidak tinggal di Jepang, Kizune. Gunakanlah Bahasa Inggris," balas ibunya sambil berlalu keluar dari dalam kamar.
Si bocah yang dipanggil Kizune itu mengangguk. Ia menyibak selimutnya dan meluncur turun dari atas ranjang. Gumaman pelan meluncur dari mulutnya ketika permukaan karpet berwarna putih itu menggelitik telapak kakinya, yeah, musim salju di Rusia jelas jauh lebih dingin dibandingkan di Negeri Sakura. Walau sudah delapan bulan Negeri Beruang Merah ini menjadi tempatnya bernaung, Kizune kecil tampaknya masih belum bisa membuat tubuhnya beradaptasi dengan lingkungan.
"Dingin, dingin, dingin!" gumamnya berulang kali sambil berjinjit-jinjit menuju kamar mandi.
Setelah selesai membersihkan diri dan bersalin baju, bocah berambut pirang pucat itu segera menuruni tangga menuju ruang makan, sebuah ransel berwarna coklat telah tersampir di punggungnya. Aroma gurih kaldu langsung menggelitik indra penciumannya begitu ia duduk di meja makan. Ia menolehkan pandangannya ke samping, oh, ada semangkuk sup yang telah terhidang di sana. Kedua alisnya terangkat, dan pandangannya masih terpaku di sana.
"Sup Miso. Hari ini dingin. Jadi Ibu ingin memasak sesuatu yang hangat dan berkuah,"jawab ibunya yang sedang mencuci alat masak. Ah, sepertinya wanita berkebangsaan Jepang itu menyadari komentar non-verbal yang ditujukan putranya.
Kizune mengambil mangkuk sup itu dan mulai mengaduk kuah kaldunya dengan sendok sambil mengamatinya lamat-lamat. Ah, sudah berapa lama ia tidak menyantap masakanJepang? Jujur, sedikit banyak ia merindukan cita rasa Asia. Sejak pindah ke negeri tempat kelahiran sang ayah yang berkebangsaan Rusia, ia hampir tidakpernah melihat ibunya memasak makanan khas Negeri Sakura, agar lidahmu bisa cepat beradaptasi, begitu alasan yang dikatakan ibunya tiap kali Kizune bertanya padanya.
Nyam, nyam.
Suapan pertama benar-benar menyenangkan—enak. Tofu[2] yang lembut itu terasa meleleh di lidah, menguarkan aroma rempah yang ringan dan tak berlebih. Lagi, bocah berambut pirang itu menyendok suapan kedua. Dansebuah senyum tipis merekah di wajahnyatanpa sadar.
"Enak?"tanya ibunya sambil menempati kursi di sebelahnya. Bibir ranum sewarna mawaritu terkekeh geli melihat tingkah putra semata wayangnya.
Ya, Kizune memang anak yang pasif, tak seperti kebanyakan bocah laki-laki seusianyayang gemar bercanda dan menunjukkan ekspresinya, ia tak terlalu mahir dalam hal itu. Karena itu, bagi ibunya, sebuah senyuman di wajah putranya sudah cukupmenjelaskan betapa senang ia menyantap sarapannya pagi ini.
Setelah memakan habis sarapannya. Si bocah laki-laki langsung meletakkan mangkuk itu kewastafel dan mengambil ranselnya.
"A-a-a.Kizune, hari ini kau tidak perlu naik tramvai[3] ke sekolah."Panggilan ibunya membuat langkahnya terhenti. Ia menoleh ke si pemanggil dengan alis terangkat.
"He? Kenapa?"
"Karena Ayahmu akan mengantarmu hari ini."
Kedua iris biru itu melebar, namun, bukan karena ucapan ibunya. Ia memutar kakinya dan berbalik, kemudian memegang jas lab putih yang tersampir di pundak ibunya, pandangannya terpaku di sana.
"Ada penelitian lagi Bu?"
"Ah, bukan, bukan penelitian. Hanya saja, Ibu diminta untuk membantu operasi dirumah sakit pusat."Iris hitam itu melebar, tampakagak terkejut dengan pertanyaan putranya yang mengganti topik tiba-tiba.
"Hmm..., operasi apa?" balas Kizune, datar, pandangannya masih terpaku pada ujung jaslab putih yang ia genggam.
"Eh? Anak sulung seorang pejabat Negara mengalami meningitis kronis, dan kemarin malam dilarikan ke rumah sakit. Hasil diagnosa kemarin mengatakan, penyebabnyaadalah infeksi jamur," jawab ibunya sambil merapikan barang-barangnya.
"Ibu akan pulang malam seperti biasa?"
"Maaf Kizune, sepertinya malam ini, Ibu tidak bisa pulang. Lagipula, jarak rumah sakit itu terlalu jauh." Wanita paruh baya itumelepaskan genggaman putranya dengan lembut, kemudian mengelus kepala si bocah dengan sayang.
"Maaf ya. Tapi nanti malam kau tidak sendirian kok. Ayahmu bilang hari ini tak ada kasus yang harus ia selidiki. Dan tidak ada rapat di perusahaan. Jadi Ibu minta dia menemanimu," ujarnya, nampak berusaha menghibur.
Kizune hanya mengangguk. Air mukanya tak menunjukkan ekspresi apapun. Ia tak peduli dengan hal itu, walau ayahnya ada di rumah, itu takkan mengubah apapun. Ia hanya berbalik dan berjalan keluar rumah. Saat jemarinya menyentuh knop pintu,bocah itu menolehkan kepalanya, oh, ada hal penting yang lupa ia sampaikan.
"Ibu! coba suntikkan langsung obat anti jamur tertentu pada anak itu, ke dalam cairanserebrospinal melalui reservoir Ommaya[4]"
"Ahahahaha, memang itu yang ingin Ibu lakukan," balas ibunya sambil tersenyum. Ia melambaikan tangannyadari arah dapur.
"Dan nanti malam jangan tidur terlalu larut, aku menyayangimu." Pesan penting yang sesungguhnya hanya bisa terucap sebagai bisikan samar. Setelahnya, Kizune berbalik meninggalkan rumah, dengan senyuman palsu yang diukir dengan paksa.
Umurnya 10 tahun, dania tahu betul apa arti kesepian.
Hawa dingin mencium kulitnya ketika pintu mobil Rolls-Royce Silver Wraith tahun 1959 itu dibuka. Kizune masuk dan mengambil tempat di sudut, sesekali menepuk jok kulit putih itu agar terasa nyaman baginya. Bukan, ia bukan tak nyaman denganjok mobilnya—siapa yang bisa merasa tak nyaman berada dalam mobil mewah?—Juga bukan salju yang membawa hawa dingin ke jaringan epidermisnya, ada hawa dingin lain yang dipancarkan oleh si pengemudi mobil dihadapannya. Seorang pria paruh baya dengan rambut pirang pucat—persis sepertirambut Kizune—sudah duduk di kursi pengemudi, memunggungi Kizune. Wajahnya yangdingin dan datar seperti pahatan batu pualam memandang lurus ke depan.
"Morning, Dad," sapa si bocah berambutpirang pucat, tak ada ekspresi apapun dalam nada bicaranya.
"Morning. What took you so long in there?" balas lawanbicaranya—ayahnya.
"Just chat with Mom. Is it wrong?" jawab Kizune. Ia berusaha membuatsuaranya terlihat tenang, namun, ia tak dapat menahan diri untuk takmenggertakkan giginya.
Aku hanya mengobrol dengan Ibu, apa salah? Apa sebuah obrolan kecil tak bisa membuatmu menunggu? Apa sebegitu pentingnya pekerjaanmu hingga kau selalu meninggalkan Ibusendirian? Lalu dulu, untuk apa kau membesarkanku jika pada akhirnya kau mengabaikanku dan tak pernah ada di sisiku seperti ini? Tapi ia tak mampu, ia hanya bisa diam dan menelan semua kata-katapemberontakkan itu ke dalam hatinya.
Sang lawan bicara tak merespon. Pria paruh baya itu segera menyalakan mesin mobil Rollsnya dan mulai melaju, membelah jalanan Kota Saint Petersburg.
Tak butuh waktu lama, mobil Rolls itu telah membawanya sampai ke sekolah. Kizune sengaja meminta ayahnya untuk menurunkannya beberapa belokkan agak jauh darisekolah. Karena, selain tahu bahwa ayahnya pasti punya urusan yang lebih penting, ia juga tak mau sang ayah menyaksikan apa yang akan terjadi berikutnya.
BRAK!
Tinju yang keras menghantam telak wajahnya ketika ia sedang berjalan di belokkan pertama.
"Itu dia! Kau pembunuh! Anak pembunuh!!" jerit marah seorang anak laki-laki berambut coklat memekakkan telinganya. Anak itu dua tahun lebih tua darinya.
Sepasang tangan menangkap tubuh Kizune ketika ia jatuh tersungkur kebelakang. Keduatangan yang mungil, namun cengkramannya kuat, penuh dengan amarah. Seorang anakberambut pirang—yang seumur dengannya—memegangi tubuhnya kuat.
"Kau menghancurkan keluargaku!"
BRAK!
Satu pukulan mendarat ke dagunya.
"Karena Ayahmu memecat Ayahku seenaknya. Keluarga kami menjadi kacau!"
BRAK! BRAK!
Pukulan beruntun menghantam perut dan dadanya.
"Adikku hampir putus sekolah, perekonomian keluarga kami jatuh, semua itu karena kau! Bajingan sialan! jika bukan karena Ayahmu, Ayahku takkan mengakhiri hidupnya seperti ini!!"
Kizune memejamkan matanya, bersiap untuk menerima pukulan lagi, tapi tidak, tidak ada yang terjadi. Perlahan, iris biru itu membuka, di hadapannya, teracung sebuah kertas kelabu, kertas koran.
'Putus asa, Seorang Karyawan Perusahaan X Nekat Mengakhiri Hidupnya'
Tulisan itu tercetak besar-besar di halaman utama, di sebelahnya, terdapat foto seorang lelaki paruh baya dengan tubuh menggantung di langit-langit. Sebuah tali tambang penuh darah—yang disensor tentu saja—mengikat lehernya. Kedua iris biru itu melebar, napasnya tercekat, seseorang telah mati, dan itu karena dia.
Anak pirang yang sedaritadi memegangi tubuh Kizune mendorongnya dengan kasar,membiarkan tubuhnya menghantam kerasnya aspal jalanan.
"Aku benci padamu."
Kata-kata itu menampar keras wajahnya seperti sebuah palu besi, dingin, dan telak,dipenuhi kebencian yang tersurat. Ia menunduk, tetap diam, pandangan matanyajatuh pada batu bata merah yang menutup jalan.
Kedua kakak-beradik itu berjalan pergi, beberapa umpatan kasar meluncur keluar darimulut sang anak yang lebih tua. Kizune berdiri, menepuk-nepuk celana panjangnyayang berdebu, anak itu tetap diam, menunduk, sejurus kemudian, sebuah seringai tipis tertoreh di bibirnya.
"Khehehehe...." Bocah berumur sepuluh tahun itu terkekeh pelan. Membuat kedua kakak-beradik itu berhenti melangkah, dan berbalik menatap dirinya. Si adik mundur selangkah, ada sesuatu dalam nada tertawanya yang membuat ia tak nyaman, merasa takut.
"Ayahmu yang meninggal, lalu kenapa menyalahkanku? Ia yang bunuh diri, maka itu keputusannya. Che, Ayahmu itu lemah, dia pikir hanya dengan mati bisa menyelesaikan masalah? Aneh, dia itu orang pengecut yang hanya berani lari dari masalah tanpa memikirkan orang lain di sekitarnya. Meninggalkan keluarganya begitu saja, dengan semua masalah yang dia sebabkan, coba kau pikir, apa itu bisa di sebut sebagai "rasa sayang"???" Kata-kata tajam itu keluar dari mulut si bocah yang masih tertunduk. Kedua iris biru itu mendelik, menatap tajam ke arah kedua bola mata sang kakak yang melebar.
"K..kau," geraman tertahan dari mulut sang kakak, api kemarahan kembali membakar jiwanya, tinjunya mengepal, dan tanpa ragu melayang ke arah si bocah pemilikkedua iris biru yang menantangnya.
Tapi, tinjunya tak menemukan sasarannya. Sebuah kepalan tangan mungil dengan mudahmenangkapnya, bersamaan dengan itu, si pemilik tangan menatapnya dengan pandangan dingin.
"Kenapa?Kau marah karena aku benarkan?"
Bagaimana mungkin ia menangkaptanganku dengan mudah? Rasa kaget membuat sangkakak terdiam. Tanpa menunggu lagi, ia menyentak tangan Kizune dan menggandeng tangan sang adik, membawanya menjauh.
"Bocah sinting." Umpatan samar itudilontarkan sang kakak yang berjalan menjauh. Oh, tapi itu masih cukup kerasuntuk tertangkap kedua indra pendengaran Kizune.
Bocah itu diam, sudah tak memperdulikan apakah ia akan terlambat ke sekolah. Gerimis pelan membasahi kepalanya, Kizune mengenakan jaket yang ia bawa, menarik hoodienya dalam-dalam menutupi wajahnya dan mulai melangkah keluar daribelokkan. Ia menggigit bibir. Menahan tangis. Sesak melingkupi dadanya. Anakitu diam sesaat, menatap kesibukan jalan Kota Saint Petersburg yang mulai ramaidi padati kendaraan. Titik air semakin banyak, membuat jaketnya segera basahdisiram hujan. Di tengah guyuran hujan, sang bocah berambut pirang pucat menangis dalam diam.
Ia tahu, bocah sepuluh tahun itu paham betul bahwa seharusnya ia merasa bersyukur,dirinya jauh lebih beruntung dibanding kebanyakan anak yang kekurangan. Iatahu, harusnya ia bisa mengerti, dibalik sifat dingin sang ayah, pasti adasesuatu yang baik untuknya. Tapi tidak bisa, ia tidak bisa. Silahkan saja menyebutnya sebagai anak yang egois, ia tak peduli, karena rasa iri yang membakarjiwanya telah melumpuhkan logikanya.
Ia iri, iri pada merekayang bisa selalu memiliki satu-sama lain, dan memiliki "sosok" yang dapatdijadikan tempat bergantung—sosok seorang ayah.
Bersamaan dengan tenggelamnya sang raja siang, warna jingga senja mulai memudar, terganti dengan warna ungu kelam yang mulai memanjati kaki langit. Sang ratu malam mengintip dari peraduannya, perlahan, menampakkan sinarnya pada dunia. Si bocah berambut pirang pucat berdiri diam di depan pintu rumahnya. Setelah memastikan dirinya tak tampak "berantakan" barulah ia melangkah masuk ke dalam. Tak ada yang boleh tau tentang peristiwa yang menimpanya tadi siang.
Sepi menyapa dirinya ketika pintu yang terbuat dari kayu mahoni itu terbuka. Tak ada orang. Kizune memutar matanya jengah kemudian menarik hoodie yang menutupi wajahnya. Ah, sudah kuduga, "dia" tak mungkin ada di rumah. Ia melangkah menaiki tangga, menuju kamarnya. Seusai menaruh ransel coklatnya danberbersih, ia merebahkan dirinya, pandangannya terpaku pada langit-langit. Ia bangkit dalam posisi duduk, kedua iris biru itu menyapu setiap sudut kamar. Ada lemari pakaian berukuran sedang, meja belajar, teropong, laptop, dan barang-barang yang tak bisa dimiliki oleh kebanyakan anak biasa. Jika dipikir, hidupku masih jauh lebihberuntung dibandingkan mereka. Reka adegan kejadian yang menimpanya siang tadi kembali terputar dalam ingatannya. Ah, apakah kata-katanya 'agak' terlalukasar pada kedua kakak-beradik itu? Sedikit rasa sesal menghinggapi dirinya.Kizune menggeleng, nasi sudah menjadi bubur, ia tak mungkin bisa menarik lagi kata-katanya. Lagipula ia ingin melupakannya, kejadian itu membuat ia terpikir tentang ayahnya, dan ia benci itu.
Bocah berumur sepuluh tahun itu beranjak turun dari atas ranjang, ia menyambar ponselnya dan mengetik sederet angka di sana. Hmm, kira-kira Ibunya sedang apa ya sekarang?
"Ibu, selamat malam, bagaimana operasinya?" ujar Kizune, tepat setelah nada 'tutttutt' panjang berhenti terdengar.
"Malam Kizune. Operasinya lancar, tak banyak yang terjadi. Ini semua berkat doa dankerjasama rekan-rekan di rumah sakit. Tapi, Ibu merasa agak pegal sekarang, duh,coba kau ada di sini, Ibu bisa menyuruhmu memijat punggung, hahahahaha." Suara Ibunya menyambutnya di seberang, tawa renyahnya terdengar bahagia.
Kizune menghela napas lega, operasinya lancar, syukurlah, dengan begitu ibunya takkan terlalu sibuk dan bisa tidur dengan nyenyak malam ini.
"Syukurlah kalau begitu," jawab Kizune, sebuah senyuman merekah di wajahnya.
"O, ya. Kizune, terimakasih untuk saranmu tadi pagi. Itu sangat membantu. Ibusempat khawatir pada keadaan anak itu awalnya. Karena meningitis kriptokokus[5]itusudah cukup parah, Ibu memilih menggunakan AmfoterisinB[6]. Ibu telah menggunakan semacam Ibuprofen setengah jam sebelum menyuntikkan anti jamur itu. Tapi tetap saja, kau tahukan amfoterisin bisa merusak ginjal."
"Tapi Bu, sekarangkan ada versi baru dari amfoterisin B. Mungkin lain kali Ibu bisamencobanya, yang ku tahu, itu bisa mengurangi efek samping yang ditimbulkan."
"Benarkah?Ahaha~ beritahu Ibu kalau begitu."
Ah, ini dia yang membuat hubungan Ibu dan anak ini berbeda—menarik. Memang bukan percakapan normal untuk bocah berusia sepuluh tahun. Tapi bagi Kizune, mendalami "dunia"yang ditekuni oleh kedua orang tuanya adalah sesuatu yang menyenangkan. Kesibukkan selalu menjadi cara terbaik untuk melupakan hal-hal takmenyenangkan, seperti mengisi kesepiandalam dirinya. Bocah berusia sepuluh tahun itu lebih senang berlarut-larut membaca, menenggelamkan dirinya dalam berbagai kisah menarik dalam baris demibaris sebuah buku. Jadi jangan heran jika ternyata bocah kecil ini memiliki otak yang jauh lebih encer dibandingkan dirimu.
"Ah, Kizune, Ibu harus pergi. Masih ada beberapa hal yang harus Ibu pastikan."
Sebuah jeda mengisi, Kizune menahan diri untuk tidak menyuarakan protesnya, tentu,Ibunya pasti masih harus bekerja.
"Baik bu, ah, selamat malam."
"Selamat malam, jangan lupa berdoa sebelum tidur. Ibu akan pulang besok pagi, jaa ne~[7]Kizune-kun[8]."
Dan layar touch screen itu menghitam, bersamaan dengan suara 'tutt tutt' panjang yang mengakhiri percakapan.
Kizune menguap pelan, tersenyum sambil masih mengamati ponselnya. Sebuah kurva manis tersungging di bibirnya, rasa kantuk mulai menghinggapi dirinya. Tangan mungilnya menangkup, dan dalam sebuah bisikkan samar, terlantun doa untuk seorang wanita paruh baya.
"Kami-sama[9]tolong jaga dia, sebagaimana dia selalu menjagaku selama ini. Aamiin."
Sejurus kemudian, bocah kecil itu sudah terlelap ke alam mimpi.
.
.
"Apa yang kaukatakan?!"
"Tapi semua itu benarterjadi Tuan."
"TUTUP MULUTMU!!!"
Jerit amarah yang tertangkap indra pendengarannya membuat kedua iris biru itu membelalak dalam keterkejutan. Kizune—yang telah terbangun dari tidurnya—segera menyambar jaket yang ia kenakan tadi siang, dan berlari menuruni tangga.
Siapa?
Batinnya heran, ia yakin benar bahwa suara yang ia dengar barusan bukanlah mimpi semata. Walau teredam derasnya hujan, bocah itu yakin bahwa sang pemilik suara berada didekatnya. Ia berbelok menuju ruang tamu, perlahan memelankan langkahnya danmenajamkan telinganya.
Ada dua orang yang tengah berdebat sengit di luar rumahnya.
Dua suara saling bersahutan dalam bahasa Russia. Suara pertama—yang ia yakini sebagai suara seorang pemuda berusia 20 tahunan—terdengar lebih pelan, namuntetap tegas. Sedangkan suara kedua, menyanggah setiap kata dengan nada yanglebih kasar, adalah suara yang tak lagi asing baginya.
"A-ayah?"dengan agak terbata, ia memanggil si pemilik suara kedua.
Pintu dari kayu mahoni itu sudah terbuka, menampilkan sosok ayahnya yang sedangberdebat dengan sosok seorang polisi, dari jas mantel sang ayah yang telahbasah diguyur hujan, tampaknya dua sosok itu telah berdebat cukup lama di luar.
"Ada apa?" Dengannada tegas ia bicara, Kizune maju selangkah dan menginterupsi percakapan.
Yang ditanya tak menjawab, sang ayah tetap diam, pandangannya jatuh ke dinginnyaaspal jalanan. Kedua iris biru yang selalu terlihat tajam itu tak bergeming, tampak kosong. Mendengar suara sang anak, pikirannya mengembara entah kemana. Wajahnya kalut, napasnya menderu dan tangannya terkepal, ia tampak sedang bergelut dengan dirinya sendiri, seakan ingin manampik semua kenyataan yang terjadi.
"Sudah malam, kau lebih baik segera tidur nak. Kami—"
"Cepat masuk."
Kata-kata polisi itu dipotong oleh suara tegas sang ayah.
"Tunggu dulu! Ada apa Yah? Kau harus memberitahuku!"
"Kubilang masuk!"
Itubukan permintaan, tapi perintah. Ia menggenggam tangan bocah berambut pirang pucat itu dan menariknya ke dalam rumah.
Kizune tak tinggal diam, ia memang hanya anak-anak, namun ia tidak bodoh, ada sesuatuyang salah dan ayahnya sedang berusaha menyembunyikannya. Intuisinya menjerit, menyulut perintah ke pada sel-sel otaknya untuk segera menyentak kencang genggaman sang ayah dan melepaskan diri.
"Kizune!"
Tak memperdulikan panggilan dari si pria paruh baya, Kizune segera berlari menembus hujan. Kemudian, dengan cekatan menyetop taksi yang dapat ia temukan. Bocah itu tak tahu apa yang merasukinya, kata-kata itu meluncur keluar begitu saja ketika sang sopirbertanya ke mana tujuannya. Mobil taksi itu segera melesat menuju rumah sakit pusat, tempat sang ibu bekerja.
Lenggangnya jalanan membuat ia tak perlu waktu lama untuk sampai di tujuan. Beruntung, uang sakunya tadi siang masih tersimpan di dalam saku jaketnya. Setelah membayar,bocah itu kembali berlari, ia berbelok, mengambil pintasan dari sebuah gang kecil di sela gedung bertingkat. Matanya terpejam, batinnya menjerit, berharap,semoga kali ini ia salah, berharap, bayangan buruk dalam otaknya hanyalah imajenir belaka.
Namun, gerombolan orang yang berkerumun di depan pintu rumah sakit seakan menampar keras dirinya. Ia meremas dadanya, adrenalin panik yang menggerayangi dirinya menimbulkan sesak yang menyakitkan[10]. Bocah itu menggeleng kuat-kuat, dengan secercah harapan yang kian melemah, ia menerobos melewati gerombolan.
Kejadian berikutnya membuat sisa harapannya hancur tak berbekas.
Tubuh ibunya yang sudah tak bernyawa tergeletak tepat di depannya. Tengkorak kepalanya hancur terhantam batu bata yang menjadi penutup pintu masuk, dengan posisi pergelangan kaki yang terpuntir secara tidak wajar. Darah merah segarterbawa aliran hujan, menimbulkan bau anyir yang menggantung di udara, menyayat hati sang bocah yang terdiam tak berkata-kata.
Seakan ada yang meremas paru-parunya, sesak yang menyerang dadanya membuatnya tak bisa bertahan. Kemudian, semuanya seakan terjadi dalam gerakkan lambat. Tumpuan kakinya melemah dan ia jatuh menghantam tanah. Sebelum hitam menyekap indrapengelihatannya, sayup-sayup, ia bisa melihat langkah panik orang-orang menghampirinya, dan suara sang ayah yang memanggil namanya.
"Kizune!!"
.
.
.
Pemuda berusia 17 tahun itu terbangun dari tidurnya, setelah beberapa kali mengerjapkan mata dan mengatur napasnya yang tak beraturan, ia bangkit dalam posisi duduk. Kedua iris biru itu menatap kosong karpet putih yang menutupi lantai kamarnya.Beberapa helai rambut pirang pucatnya yang berantakan jatuh di sisi wajahnya.
Kenapa harus sekarang ia teringat akan kejadian itu?
Setelah berhasil mengendalikan dirinya, pandangannya menyapu seluruh ruangan. Ia masihdi sini di kamarnya, di rumahnya, rumah baru—yang ia beli dengan uangnya sendiri tentu saja. Pandangannya jatuh pada kalender yang terpampang di sudutkamar, 1 Desember,hari ini, tepat tujuh tahun yang lalu adalah hari di manasang ibu pergi meninggalkan dunia.
Sinar mentari yang menelusup masuk melalui celah jendela kamar menyapa indra pengelihatannya. Ah, sudah pagi, ia harus segera bersiap.
"Things changes, and friends leave, life doesn't stop for anybody."
Ya, kehidupan akan terus berjalan, menghempaskanpenunggangnya di atas irama tanpa ampun dalam roda yang terus berputar. Ia takkan berhenti, dan pemuda pirang pucat itu tahu benar jika kakimu tak cukup kuat, kehidupan akan menyeretmu jatuh, membantingmu hingga kau tersaruk berdarah-darah. Karena itu, Kizune takkan membiarkan rasa sedih menggoyahkan pijakkannya, ia akan menelan kesedihan itu, menguburnya, dan tak membiarkandunia melihatnya meneteskan air mata sekali lagi.
Ia telah terlalu terbiasa dengan rasa sakit.
Sebuah seringai tipis tertoreh di wajahnya, memakai jas hitamnya secara asal, si pemuda pirang melangkah menyambut dunia ....
—dengan revolver Glock 20 yang berada dalam genggaman.
[1]Selamat pagi, Ibu
[2] Tahu Jepang
[3]Трамвай : sebutan untuk Trem di Russia
[4]Sebuah alat yang dipasang di bawah kulit kepala
[5]Penyakit meningitis karena infeksi jamur
[6] Obatanti jamur, lebih ampuh dari flukanazol. Membantu tubuh mengatasi infeksi jamurserius
[7]Dalam bahasa jepang artinya : sampai jumpa lagi
[8]Suffix "kun" biasa digunakan sebagai panggilan untuk laki-laki atau bawahan
[9]Dalam bahasa Jepang artinya Tuhan atau Dewa
[10]Kizune mengidap asma, penyakit paru-paru yang membuat sulit bernapas, penderitanya bisa kambuh dalam keadaan panik atau ketakutan.