Pukul 15.00....
95% siswa di sekolah ini sudah pulang kerumah. Sedangkan sisanya stay disekolah, dengan berbagai alasan. Entah ingin menginterview siswa yang ikut sparing basket, atau ingin mengikuti ekstrakulikuler.
Begitu mini bus yang dikendarai Pak Ubay telah sampai di lapangan utama sekolah, 10 siswa laki-laki yang tidak ikut pertandingan mengerubungi mini bus itu, mereka ingin membuat interview tentang score mereka, kalah atau tidak, dan pengalaman mereka saat bertanding.
Begitu Randy turun dari minibus, 2 siswa laki-laki yang diketahui bernama Dennis dan Nathan mengerubunginya dengan banyak pertanyaan.
"Eh bro, menang gak?" tanya Dennis heboh.
"Iya, menang gak?" timpal Nathan.
"Menang," jawab Randy.
"Berapa-berapa?" tanya Marco.
"Dua puluh - sembilan belas," jawab Randy.
"Anjing! Nyaris tai!" Andre heboh sendiri.
"Hm," jawab Randy.
Interview itu berlangsung dengan singkat. Hingga saat Randy selesai diwawancara, ia menemukan Icil yang sekarang berada di hadapannya dengan tatapan mata teduh.
"Gimana mainnya? ceritain dong!" pinta Icil, tanpa segan ia menggenggam tangan kiri Randy.
Dalam genggaman itu, Icil langsung menghambur kedalam memori indah alias flashback yang sulit dilupakan saat mereka berpacaran.
Walaupun Icil merasa senang karena telah menggenggam tangan Randy, Randy langsung merasa tidak enak ketika tangannya digenggam oleh Icil. Dengan pelan ia mencoba melepaskan tangannya dari genggaman Icil, tapi usahanya tak membuahkan hasil. Icil tetap kekeuh mempertahankan tangannya.
"Icil, lepasin tangan gue," ointa Randy dingin.
"Ngga," balas Icil.
"Kenapa?" tanya Randy.
"Gue pengen aja," jawab Icil. Jawabannya terdengar tak berbobot.
Randy terlihat gusar. "Argh." tapi akhirnya ia membiarkan tangannya digenggam oleh Icil, untuk menghargai perasaan Icil.
"Ikut gue ke kantin ya!" seru Icil bersemangat.
"Ngapain?" tanya Randy.
"Ikut aja!" paksa Icil.
'Ish! Maksa aja terus!' batin Randy, rasanya ia ingin melenyapkan Icil dari muka bumi ini.
Sesampainya mereka di kantin, Randy langsung mengambil tempat duduk di salah satu kursi panjang di urutan no 5 di kantin.
Karena ingin bersama-sama terus dengan Randy, Icil mengambil tempat duduk di hadapan Randy, agar bisa menatap wajah Randy sepuas mungkin.
"Ceritain ke gue dong!" pinta Icil.
"Cerita apaan?" tanya Randy.
"Ceritain waktu lo main basket tadi, gue pengen banget dengerin cerita lo," pinta Icil.
Tanpa ia sadari, pertanyaan itu peris seperti pertanyaannya 2 tahun yang lalu, dimana mereka masih resmi berpacaran.
Randy menatap Icil sebentar, dibalik matanya, terdapat sorot kerinduan Icil yang amat dalam yang ingin ia lampiaskan sekarang juga. Tapi ia tak bisa.
"Ya gitu," jawab Randy datar.
Mendapatkan jawaban yang tak sesuai dengan ekspektasinya, mata Icil berubah menjadi sayu.
"Randy..."
Randy berdehem sebagai tanda sahutan.
"Lo kenapa jadi dingin begitu sih sama gue. Kata lo, kalo misalnya kita putus, kita akan tetap jadi temen, ngobrol bareng, becanda bareng, ketawa bareng. Tapi apa? Mana janji lo?" tanya Icil, matanya mulai berkaca-kaca.
Randy menatap Icil dengan perasaan kaget. Ia tak menyangka kalau akhirnya Icil jadi nangis.
"E.. Maksud gue...." Randy mencoba menjelaskan sesuatu pada Icil, tapi Icil sudah kelebih dulu marah.
"Padahal gue kira lo bakal setia sama gue. Nyatanya engga. Cuman gara-gara gue pergi sebentar dan gue titip lo ke Pevita, lo jadi suka sama dia.
Gara-gara itu, akhirnya gue sama Pevita berantem, dan ujung-ujungnya gue terpaksa putus dan ngerelain lo sama Pevita pacaran asal lo bahagia. Tapi, apa ini balasan lo ke gue?" tanya Icil, ia menyeka air matanya.
"Jujur, gue kecewa sama lo," lanjut Icil dengan raut wajah kecewa.
Karena Randy tak bisa melihat perempuan menangis. Dengan sigap ia menghapus air mata Icil dengan kedua tangannya.
"Jangan nangis. Gue gabisa liat cewe nangis," kata Randy cepat.
Lagi-lagi ucapannya tak membuahkan hasil, Icil tetap menangis. Bahkan, air matanya yang semula mengalir satu per satu menjadi deras.
"Gue udah mencoba buat deket sama lo. Tapi lo nya ngehindar. Padahal lo kan tau kalo gue sayang banget sama lo. Gue sumpah Ran!" Icil meninggikan volumenya. Dan karena suara Icil kencang, banyak pasang mata yang menatap mereka berdua heran.
"Icil, lebih baik kita jangan ngobrol disini. Kita ke cafe aja deh," ajak Randy.
Icil menghapus air matanya dan mengangguk.
*****
Kali ini, Randy mengajak Icil ke 15k Cafe.
Sesampainya disana, Icil duduk didepan Randy dan Randy memesankan Icil minuman.
Begitu Randy sudah sampai di meja mereka dan menaruh minuman yang dipesannya.
Sembari menunggu Icil menghabiskan minumannya, Randy membuka suara kembali.
"Lo mau ngomong apa lagi?" tanya Randy.
"Gue masih sayang sama lo. Gue masih pengen deket sama lo. Tapi lo nya ngehindar setiap kali gue ngedetin lo, gue salah apa sama lo?" tanya Icil.
Mendengar pernyataan Icil, Randy merasa bersalah.
"Cill, gue mau nanya. Apa gunanya lo nitip gue ke Pevita saat lo pergi ke tempat lain?" tanya Randy.
"Karena gue nggak mau lo kenapa-napa saat gue pergi. Jadinya gue nitip lo ke Pevita. Ternyata, mau cowok sebaik apapun, kalo ditinggal dikit sama ceweknya, pasti hatinya pindah ke cewe lain," jawab Icil, sekaligus menyindirnya.
"Yaelah Cill. Lo kira gue anak kecil?" tanya Randy memutar bola matanya.
Icil terdiam.
"Dan kalo lo mau tau kenapa gue selalu ngehindar dari lo. Itu karena Pevita ngelarang gue buat ngedeketin lo," jelas Randy, yang menurutkan kata-kata itu panjang dan lebar.
Mendengar pengakuan itu, Icil menjadi berang.
"Dasar jablay, bajingan," kata Icil dengan nada rendah. Tetapi, walaupun nadanya rendah, wajah Icil memancarkan kebencian. Kebencian yang amat sangat ia rasa.
Semenit kemudian ia terdiam. "Jadi, cuman gara-gara itu doang lo mutusin hubungan kita?"
"Iya."
"Berarti, lo gak cinta sama gue?" tanya Icil.
"Gue cinta, tapi..."
"KALO MISALNYA LO CINTA SAMA GUE. LO GAK BAKAL JADIAN SAMA CEWEK LAIN SEKALIPUN CEWE ITU GA ADA DIDEKAT LO!" Seru Icil marah. Kemarahan Icil memancing perhatian seluruh pengunjung cafe, ada beberapa pengunjung yang mencibir mereka, bahkan pelayan cafe pun ikut turun tangan dalam menghadapi mereka.
"Tolong jangan ribut disini ya kak. Karena dapat mengganggu kenyaman pengunjung yang lain, terima kasih," ujar pelayan itu sopan, lalu pergi meninggalkan mereka.
Selepas pelayan restoran itu pergi, suasana menjadi hening untuk sementara waktu.
"Kalo gitu..." Icil menggantungkan ucapannya.
"Apa?"
"Apa lu mau ngulangin semuanya dari awal?" tanya Icil.
"Maksud lo?"
"Kita jadian lagi,"
Mata Randy terbelalak. "Apa lo gila? Tadi lo marahin gue dan sekarang lo ngajak gue balikan?"
"Maaf. Tapi emang ini yang gue mau Ran," kata Icil menunduk.
"Emangnya lo udah gak cinta sama gue?" tanya icil.
"Nggak. Karena..."
"Karena apa??" desak Icil.
"Karena gue udah punya Pevita dan..."
"Dan siapa?" desak Icil lagi.
"Renata."
Jawaban itu tentu membuat Icil kaget dan penasaran, pasalnya ia ingin menanyakan hal itu pada Randy dari kapan tau.
"Lo punya dua cewek? Gimana caranya?" tanya Icil.
"Darian ngedare gue buat nembak Renata. Jadinya gitu." jawaban Randy tentu membuat Icil kaget setengah mati. Ternyata itu jawaban atas pertanyaan Icil selama ini.
"Dan lo mau didare gitu aja sama Darian. Demi apa?" tanya Icil histeris.
"Demi koleksi mobil kelima gue," jawab Randy. Lagi-lagi, mata Icil membulat, tapi kali ini lebih parah.
"Lo... Jahat....." ucap Icil terbata-bata.
"Maka itu... Gue terpaksa pacaran sama Renata," ujar Randy.
"Cuman karena mobil lo rela ngebuat Renata sakit hati?" tanya Icil, tak percaya.
Randy diam.
"Randy!! Gue ganyangka kalo lo begitu. Dan gue nyesel pernah suka sama lo. Udah lah, gue pergi, gue gamau ngeliat lo lagi, cowo gatau diri!" begitu mengatakan hal itu, Icil langsung keluar dari cafe, meninggalkan Randy yang menatapnya dengan tatapan kosong.
Begitu ia berjalan, ia memikirkan Renata.
'Kasihan Renata.... Ternyata gue jahat banget sama dia.....' batin Icil.
*****