Ar

By Alaric_Rosewine

54 2 0

[R18] Request, Inaya. More

Cincin

54 2 0
By Alaric_Rosewine

Dengungan-dengungan suara nan abstrak tanpa hentinya membelai-belas gendang telinga, sebuah resiko yang mau tak mau harus pula di terima ketika memasuki tempat ini. Pusat keramaian terbesar, tempat menawar dan ditawar, kegiatan jual beli yang sudah mendarah daging antara penjual dan pembeli, tempat ini mereka sebut pasar.

Dengan menenteng sebuah keranjang anyam, rambut-rambutnya berayun-ayun seakan hendak menggapai isi keranjang tersebut: daun bawang yang mencuat, jingga-jingga yang tersusun rapi di dalam, tercium juga bebauan bawang yang khas, serta beberapa buah-buahan yang sempat terlihat jika nampak dari dekat.

Dengan bawaan barang yang banyak itu, terlihat jelas dia telah hengkang dari tempat keramaian–pasar itu. Dia adalah seorang gadis, berambut putih kepirangan, dengan gaun putih yang hampir setiap hari menjadi pilihan model pakaiannya. Meski beban yang ditentangnya terlihat berat, tangan-tangan mungilnya tampak kuat mengangkat. Demikian juga kedua ujung bibirnya, yang tanpa lelah dan tanpa kecuali tersenyum kepada siapapun. Atau pipinya yang seringkali merona ketika dirayu oleh ibu-ibu yang bersama anak mereka.

Di atas tanah yang menjadi jalannya, gadis itu hendak berpulang. Rumahnya tak seberapa jauh dari tempat sebelumnya, hanya beberapa blok hingga melewati gerbang kota, hingga jalan besar berubah menjadi jalan setapak yang mengarah ke sebuah padang rumput hijau. Disana berdiri sebuah bangunan nan kokoh, meski sebagian besar dasarnya adalah kayu-kayu hutan. Namun disanalah sang gadis pirang itu tinggal, di rumah megahnya.

Biasanya sang gadis akan meloncat-loncat dengan riang beberapa langkah sebelum kaki mungilnya menginjak teras rumahnya, entah kenapa kali ini dia terlihat murung; berjalan dengan pelan dengan sedikit gemetaran. Kepala dan pandangan yang biasanya lurus ke depan sekarang hanya memperhatikan kaki-kakinya yang berayun.

Sampailah sang mungil ke atas terasnya, terik matahari senja sekarang bukanlah apa-apa bagi atap yang siap melindungi. Langkahnya dilanjutkan, hingga kedua kakinya berhenti berayun tepat di depan sebuah pintu cat putih. Dia terdiam, terpaku menatap gagang pintu depan rumahnya. Hingga kemudian sebuah desahan panjang selesai, tangan mungil yang berhias cincin perak bermata rubi kemudian menyapa besi itu.

"Selamat datang."

Tiada siapapun yang menyambut sang permaisuri, tiada prajurit-prajurit gagah berseragam, tiada letusan-letusan meriah bunga-bunga api, tiada nyanyian megah yang menyertai. Kecuali, seorang lanang nan gagah bersamaan dengan senyumannya yang khas dan selalu terlukis di wajahnya. Tanpa jeda yang lama, tangannya menyambar yang ada di tangan sang gadis. Benda putih berkilau nampak pula bersarang di jari sang lanang.

Mereka adalah sepasang insan yang telah menikah.

Sang Adam meninggalkan senyumnya kepada sang rusuk, sebelum akhirnya meninggalkannya untuk membopong belanjaan agar terparkir di tempat seharusnya.

Sang gadis itu singkat tersenyum dengan rona merah melekat pada kedua pipi putihnya, lalu berlalu memasuki rumah mengikuti sang lelaki, namun sesampai kakinya berada di jalur antara dapur dan kamar, mereka berpisah.

Tak lama kemudian, sang Adam keluar dari ruangan, melangkah dengan tempo yang seperti tak biasanya. Dari mulutnya kerap kali keluar bunyian sepatah kata–panggilan–hingga akhirnya sumber dari suara itu menutup setelah sebuah pintu kayu berdecit dan terbuka.

Tarian lambai gorden putih tersentuh oleh angin, cahaya matahari dan tiupan bayu masuk keluar di bingkai jendela yang terbuka. Sekeliling sepasang mata menyapu seluruh ruangan; sebuah ranjang sederhana berseprei keabu-abuan rapi terparkir tepat di tengah-tengah ruangan, seikat bunga di dalam sebuah vas bening mungil juga terlihat bersidang di meja kecil di samping kasur. Semuanya sederhana di ruangan yang sederhana ini, kecuali suatu hal yang sangat amat spesial–sang dara, yang terlihat duduk di kursinya menghadap jendela.

"Disana kau rupanya," sesaat setelah sebuah jeda, kembali dari mulut ranum lanag itu keluar sepatah kata. "Mengapa kau tak menjawab panggilanku?" ia bertanya dan berjalan mendekati.

"A-aku melamun..." sesaat setelah netranya menghempas ke bayangan sang Adam, dia menoleh. "..dan terlalu malu untuk menjawab." Dia berbisik pada kalimat terakhirnya, seperti tak ingin belahan jiwanya itu mendengar kalimat tersebut, atau keluar begitu saja dari mulutnya tanpa apapun yang membendung.

Alih-alih, indera sang Adam mendengar, mungkin karena dia telah memarkirkan kedua kakinya tepat di samping gadis itu, berlutut hingga wajah gadis yang menekur dapat dilihat jelas olehnya. "Kau tak apa-apa, Ar?" tangannya membelai lembut pipi sang dara. "Jika ada suatu hal yang mengganggu, mari kita bicarakan bersama-sama. Kita suami-istri, bukan?"

"Justru itu!"

Kepala sang lanang oleng, mungkin tak percaya bahwa kalimat seru barusan keluar dari mulut gadis mungilnya. "Justru itu?"

Jemari-jemari kotak dari lelaki itu kembali mengusap-usap pipi putih dari sang gadis, seakan-akan hendak membilang 'semuanya akan baik-baik saja, katakanlah'. Mata mereka bertemu, hangat pipi terasa oleh jari-jarinya yang mengelus, pria itu tersenyum.

"Aku ingin punya bayi."

***

Ranjang bagaikan panci pot panas tanpa bara, memasak mereka yang di atasnya seperti sepasang lobster rebus; merah dan menyala–malu, walaupun belum ada dari mereka yang bahkan menyentuh kulit satu yang lain. Kini hanyalah sang lanang yang berusaha menopang dirinya di atas agar tak jatuh menghimpit sang dara, mereka layaknya sepasang manusia pertama di dunia–tanpa sehelai kain pun.

Sang lanang membuat gerakan pertama, tanpa aba-aba sedikitpun. Dia berhasil mendaratkan bibirnya kepada bibir yang lainnya, meskipun kelopak matanya menutup erat pandangannya. Kecupan hangat itu pun terbalas, sang dara juga menggerakkan bibir merah mudanya itu, walaupun sedikit. Jemari-jemari mungil sang dara terlihat merangkul pundak lelakinya dengan erat, dia telah siap.

Perlahan, tautan bibir mereka terputus, meninggalkan bekas merah pada bibir masing-masing. Mata mereka bertemu, menatap masing-masing dengan wajah seperti tomat hendak dipetik.

"I-ini akan sedikit menyakitkan, a-apa kau yakin?" Suara baritonnya bergemetaran, memastikan sang gadis mungil itu dengan jawabannya.

Jemari-jemari lentiknya bergerak, berayun dan berayun hingga membelai pipi seorang yang ada di depannya. Dia tersenyum–berusaha tersenyum di kanvas merahnya dan mengangguk perlahan, sebelum akhirnya dia menautkan jemari-jemarinya ke jari-jari sang lanang.

Mata mereka sesaat bertemu, membilang semuanya siap, sebelum akhirnya Adam melepas pandangannya dan menyapu menelusuri hingga menunduk. Salah satu tangannya yang tak terikat, turun dan membantu. Pasak ada padanya, dan butuh pasak yang matang untuk memperkokoh.

Dengan perlahan dan pasti, dan juga bantuan dari tangannya, lambat laun itu mulai memasuki dara. Beberapa waktu kemudian, setelah sebuah hentakan kecil, pasak pun tertancap. Kunci pun telah masuk ke lubangnya. Sepasang tali telah terjalin dengan sempurna.

Gemetaran pekik sang gadis menahan perih, dia menggigit bibirnya sendiri agar suaranya teredam. Genggaman tangannya yang semakin mengencang tatkala Adam berhasil merenggutnya. Rangkulan tangan mungil pada pundak sang lanang menjadi kuat, membuatnya hampir jatuh karena ketidakseimbangan. Sebuah berlian kecil pun terlihat keluar dari ekor kedua matanya.

Kini kesepuluh jemari mereka bersatu, mata mereka bertemu walau sesekali tertutup oleh selimut hitam kelopak mata. Gerakan mengayun-ayun pinggulnya lambat laun bermulai, desahan-desahan kecil yang terdengar jelas keluar dari mulut mungil sang gadis membuat suasana semakin menambah bibit cinta dari pasangan itu. Gigitan-gigitan kecil menyertai di leher-leher sang gadis–sang lanang itulah pelakunya–membuat nafas-nafas pendek sang dara bahkan semakin pendek.

Di sela-sela desahan-desahan intimnya, kerap kali nama sang lanang dipanggil olehnya. Begitu pula dengan sang lelaki, dia membalas panggilannya dengan menyebut nama istrinya juga. Bibit-bibit cinta teraduk-aduk di dalam sebuah wadah, menunggu waktu gilirannya untuk disebarkan dan berkembang, menunggu giliran untuk dimasukkan ke dalam panci berisi bumbu-bumbu yang telah sempurna.

Sang Adam tiba-tiba mengangkat tubuh mungilnya, memilih untuk duduk di atas ranjang seprai yang empuk. Sang bidadari kecil itu tepat berada di depannya, dipeluk, dengan gerakan ayun yang masih berlanjut. Dia bisa merasakan jemari-jemari mungil sang gadis menyentuh bagian punggungnya, mencengkeram jemarinya satu sama lain. Dia bisa mendengar mulut mungil sang Hawa menyeru memanggil namanya, mendesah dengan irama yang kacau-balau.

Tempo ayunan lambat laun semakin cepat, lubang itu mengalir nektar-nektar dari dalam, semakin lama semakin banyak. Jalinan sepasang tali semakin longgar dan longgar, hingga pada saat teriakan nama terakhir, akhirnya tali tersebut terputus. Nektar pun berubah bersamaan dengan genggaman yang kuat pada akhirnya, lalu tempat itu mengalir madu putih segar.

"Seorang ibu dan anaknya menggodaku... tadi... dia bilang soal keturunanku–keturunan kita... itu membuatku terpikiran hingga melamun... maaf aku tidak menceritakannya padamu langsung, karena itu memalukan."

Cekikikan kecil terdengar, berlanjut dengan kecupan kecil yang mendarat di puncak kepalanya. "Aku mencintaimu, Ar."

Continue Reading

You'll Also Like

99.4K 151 46
1. CLINTON 2. ANASTASIA 3. THE DOCTOR ROMANCE 4. MY BEST FRIEND'S WIFE 5. THE BAD BOY 6. FLAME WITH BROTHER IN LAW 7. THE PHOTOGRAPHER 8. SOLD TO HIS...
1M 39.8K 33
Mati karena kecelakaan bukannya menuju alam baka malah jiwanya terseret di dunia novel?! Vanellope gadis 18 tahun itu bertransmigrasi ke dalam tubuh...
Wattpad App - Unlock exclusive features