Cover is not mine. Saya nemu di Google.
***********
Saat ini, gadis dengan mahkota berwarna merah jambu tersebut hanya berbaring santai di sofa ruang keluarga berwarna cokelat milik saudara sepupunya dengan sepasang earphone yang tersemat di kedua telinga cantiknya. Sakura sedang menikmati alunan tiap bait yang dinyanyikan penyanyi pria favoritnya ketika tiba-tiba suara serak namun menyebalkan milik Naruto merusak bait romantis lagu yang sedang ia dengarkan.
Pria oranye mencolok tersebut duduk di ujung sofa tempat Sakura berbaring saat ini. Tersenyum misterius yang entah bagaimana membuat Sakura merasa merinding. Gadis itu memperbaiki posisinya. Duduk bersebelahan dengan Naruto seraya melepas earphone-nya.
Sakura mengerutkan kening lebarnya penasaran. "Ada apa dengan wajahmu itu?"
Bukannya menjawab, Naruto justru tersenyum semakin lebar yang Sakura yakini pria ini hampir tidak bisa menahan diri untuk tidak berteriak.
"Kau tahu, Sakura-chan?" Mulai Naruto dengan nada misterius.
"Tidak! Aku tidak tahu!" Potong Sakura cepat ketika Naruto akan membuka mulutnya lagi. "Karena itu aku bertanya padamu. Dan berhenti tersenyum mesum seperti itu, Naruto!" Perintahnya tegas.
Naruto mengabaikan kalimat akhirnya. Pria itu bersandar pada punggung sofa seraya menghela nafas keras. "Aku baru saja melamar Hinata." Ujar pria itu kemudian.
Sakura hanya diam untuk lima detik ke depan. Lalu, ia mengerjap sebanyak tiga kali sebelum ikut bersandar seperti Naruto. "Oh." Komentarnya singkat. Ia tidak terkejut dengan hal itu. Naruto sudah mengatakan rencananya untuk melamar Hinata –kekasih sekaligus sekertarisnya– beberapa hari yang lalu.
"Kami bahkan berencana untuk segera menikah tanpa bertunangan." Jelas pria itu senang. Naruto menatap langit-langit rumahnya yang dicat warna putih. Tersenyum aneh yang mungkin saat ini pria itu sedang membayangkan wajah sang kekasih.
"Kau terlalu terburu-buru, Naruto."
Sakura merasakan pergerakan dari posisi Naruto saat ini. Pria itu kembali menegakkan punggungnya. Senyum miring tidak menyenangkan terlukis di wajah berpeluhnya.
"Tidak ada salahnya untuk sedikit terburu-buru." Naruto melipat kedua lengan kekarnya di depan dada. Menatap Sakura dengan mata birunya yang kini berpendar aneh. "Lalu, bagaimana denganmu?" Suaranya terdengar mengejek. Memojokkan Sakura.
"Apa? Memangnya ada apa denganku?" Tanya Sakura tidak mengerti.
Senyum tidak menyenangkan Naruto semakin lebar, menimbulkan perasaan tidak enak di hati gadis merah jambu tersebut.
"Kapan kau akan menikah dengan Sasuke? Oh, tidak! Kalian bahkan belum bertunangan." Naruto tersenyum puas mendapati tubuh Sakura yang menegang kaku. Terlalu terkejut dengan pertanyaan menohoknya.
"Astaga! Dia sudah mengencanimu selama enam tahun dan sama sekali belum pernah melamarmu? Apa kau yakin hubungan kalian 'masih sehat'?" Naruto menekan kalimat akhirnya. Mengguncang jiwa Sakura yang baru menyadari kebenaran kalimat itu.
Naruto tahu, Sakura terlalu sensitif jika menyangkut masalah hubungannya dengan Sasuke. Mereka berkencan, tapi sama sekali tidak pernah terlihat romantis seperti dirinya dan Hinata. Naruto bahkan ragu Sasuke pernah mencium Sakura mengingat bagaimana kakunya hubungan kedua pasangan mencolok tersebut.
"Huh." Sakura melirik Naruto yang menghela nafas dibuat-buat. "Bagaimana ini? Ino dan Sai bahkan sudah bertunangan beberapa bulan yang lalu meski mereka baru berkencan selama satu tahun."
Sakura merasakan tikaman di hatinya. Satu buah panah kebenaran menusuknya dalam. Menyadarkannya betapa menyedihkannya kisah cintanya.
"Bahkan aku akan segera menikahi Hinata." Lanjut pria itu.
Satu tusukan lain menghunus Sakura.
"Bagaimana ini? Kau yang memulai lebih dulu justru mendapat kepastian paling akhir - Ah! Aku bahkan ragu Sasuke akan melamarmu."
Dan berpuluh-puluh panah menusuk Sakura. Gadis itu merasakan kepalanya berputar. Tubuhnya bergetar. Nafasnya tercekak. Dan jantungnya benderang kencang.
Perasaan takut itu mengerogotinya. Perkataan Naruto akhirnya membuat gadis itu terbebani. Bagaimana jika apa yang dikatakan Naruto benar? Bagaimana jika di antara semua temannya dia yang paling akhir mendapatkan kepastian? Atau lebih buruknya lagi sama sekali tidak mendapat kepastian?
Sakura menjerit keras. Mengacak rambut panjangnya dengan kedua kakinya yang menendang-nendang udara kosong. Beruntung karena Naruto cepat menyelamatkan diri sebelum gadis itu mencakar wajahnya.
*****************
Sasuke kaya? Sudah pasti!
Pria itu salah satu pengusaha sukses di negara ini. Memiliki banyak perusahaan yang bergerak di berbagai bidang. Kekayaan keluargannya yang Sakura yakini dapat menghidupi sepuluh turunan. Sakura berharap anaknya dan Sasuke kelak termasuk dalam salah satu turunan tersebut.
Malam kedua setelah omong kosong Naruto, Sakura bertemu dengan Sasuke. Pria itu mengajaknya makan malam. Bukan di tempat mewah dengan lantunan musik romantis dan lantai dansa, juga segelas anggur merah.
Melainkan sebuah restoran berbintang tiga milik Temari –istri teman Sasuke–
Mereka sudah sangat sering datang ke tempat ini. Ia sangat yakin bahkan kursi dan meja di depan mereka sudah sangat mengenalinya. Lampu di restoran ini bisa jadi sudah bosan menyorotnya.
Sasuke menikmati makanannya dengan tenang, khas orang-orang kaya yang memiliki aturan tentang tata cara makan. Wajah datar tanpa ekspresi berarti menikmati menu favoritnya.
Sakura memincingkan matanya. Menatap wajah tampan Sasuke yang hanya menunjukan raut itu-itu saja. Gadis itu bahkan mengabaikan makanannya yang baru tersentuh sebanyak dua kali sendok. Jus stroberinya terlihat tidak terlalu dingin lagi.
"Ada apa?" Suara bariton pria itu tidak menyentakan Sakura. Gadis itu semakin memincing pada Sasuke yang mengerutkan keningnya. Wajah pria itu tetap tenang –atau datar– hanya kerutan samar di keningnya yang terlihat.
"Sasuke-kun?" Sakura bergumam tetap dengan menatap wajah Sasuke.
"Hm?" Jawab pria itu. Ia meletakkan sendok dan garpunya di atas piring. Sakura baru menyadari jika Sasuke bahkan sudah menghabiskan makanannya dan kini beralih meneguk minumannya.
"Kau tahu Ino dan Sai sudah bertunangan tiga bulan yang lalu?"
Sasuke menatapnya setelah pria itu meletakkan kembali gelas di atas meja. Wajahnya terlihat berfikir, mengingat sesuatu. "Ya. Bukankah aku yang menemanimu datang ke pesta itu?"
"Hm." Sakura menyetujui. "Dan kau tahu, Naruto juga sudah melamar Hinata? Mereka bahkan berencana untuk segera menikah tanpa harus bertunangan." Sakura mengumpati dirinya sendiri dalam hati. Kenapa ia jadi mengulangi omong kosong Naruto? Sepertinya hal itu sangat berpengaruh padanya hingga ia terbawa suasana sampai detik ini.
"Benarkah?" Sasuke terdengar tidak percaya meski dengan raut wajah yang sama sekali tidak berubah. "Aku akan menanyakannya nanti pada Dobe."
Sakura menegakkan tubuhnya yang baru ia sadari sedikit mencondong ke arah Sasuke di depannya. Kekasihnya ini pria tampan kaya yang cerdas. Seharusnya ia mengerti kemana arah pembicaraan ini. Sakura menunggu Sasuke mengatakan sesuatu. Membicarakan kelanjutan hubungan mereka mungkin.
Tapi bahkan sampai menit ke lima belas pria itu sama sekali tidak mengatakan apapun. Sasuke justru memusatkan perhatian pada ponselnya yang baru saja bergetar.
"Sasuke-kun, apa kau ingat berapa lama kita berkencan?" Tanya Sakura waspada. Berharap dalam hati.
Sasuke kembali berfikir. "Bulan depan menginjak enam tahun, kurasa."
Tepatnya dua bulan yang lalu, sialan!
Pria ini bahkan tidak mengingat hari jadi mereka yang berlangsung dua bulan yang lalu. Sakura menghela nafas tidak sabar. Apa kecerdasan pria ini menurun karena terlalu lama bergaul dengan Naruto? Apa' pancingannya' kurang jelas? Apa pria ini sama sekali tidak mengerti apa maksudnya?
"Setelah semua yang kukatakan itu apa kau tidak ingin mengatakan sesuatu padaku?" Tanya Sakura. Ia nyaris berteriak frustasi ketika melihat wajah datar Sasuke.
Pria itu memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku jas mahal yang beberapa minggu lalu Sakura berikan sebagai hadiah ulang tahun.
"Temari baru saja melahirkan anak pertamanya. Naruto baru saja mengatakannya padaku." Sasuke menunjuk ponselnya yang tersembunyi di balik saku jas.
Sakura melongo tidak percaya. Mulutnya sedikit terbuka karena terlalu terkejut. "Hanya itu?" Tanya Sakura berharap.
"Aku akan mengantarmu jika ingin mengunjunginya."
Dan Sakura menjatuhkan garpunya. Menimbulkan suara berdenting yang cukup keras. Gadis itu mendengus tidak percaya. Mulutnya masih sedikit terbuka dan ia mengelengkan kepalanya prihatin pada dirinya sendiri yang memiliki kekasih dingin tidak peka seperti Sasuke.
"Temari bahkan sudah memiliki anak." Gumamnya pada diri sendiri.
"Apa kau sudah selesai?"
Suara Sasuke menyentakan Sakura kembali menatap pria itu. Sasuke menunjuk makanan di piring Sakura dengan dagunya. "Jika kau sudah selesai aku akan mengantarmu pulang."
Sakura mendorong kursinya ke belakang dengan keras. Gerakan gadis itu membuat kursi malang properti Temari nyaris terjungkal ke belakang.
"Ya! Ya! Aku sudah selesai! Cepat antar aku pulang!"
Teriakan Sakura mengundang perhatian pengunjung lain. Sasuke mengernyit ketika banyak pasang mata menatap ke arahnya. Pria itu mendengus ketika Sakura berjalan keluar tanpa menunggunya terlebih dahulu. Ia terlihat seperti seorang pria yang baru saja dicampakan kekasihnya.
Sasuke menyusul Sakura dengan menahan malu karena tatapan para pengunjung setelah pria itu menyelesaikan masalah administrasi. Ia melihat Sakura yang melipat kedua tangannya di depan dada. Gadis itu memberengut kesal. Berdiri di sisi pintu mobil hitam Sasuke. Sejujurnya, Sasuke bahkan tidak mengerti apa yang membuat Sakura kesal seperti itu.
*****************
Dua puluh menit kemudian mereka tiba di depan gerbang kediaman keluarga Naruto. Sakura memang memilih tinggal bersama dengan keluarga Naruto, sedangkan kedua orang tuanya tinggal di Kobe.
Gadis itu mengerutkan kening ketika Sasuke ikut turun dari mobil. Pria itu berjalan di sisinya memasuki kediaman mewah milik ayah Naruto. "Kau tidak pergi?" Tanyanya sedikit kejam.
"Ada hal yang ingin kutanyakan pada Naruto?" Jawab Sasuke.
Sakura mendengus keras. Hebat! Kekasihnya ini langsung menemui Naruto untuk menanyakan kebenaran lamarannya pada Hinata setelah beberapa saat yang lalu Sakura mengatakannya.
Oh! Sasuke memang teman yang baik.
Gadis itu berjalan menaiki tangga menuju kamarnya, mengabaikan Sasuke yang masih berjalan di belakangnya setelah menyapa kedua orang tua Naruto. Tujuan mereka berbeda. Sasuke ingin menemui Naruto di kamarnya. Pria itu datang kemari bukan untuk menemui Sakura di kamarnya, jadi untuk apa ia mengantar Sasuke sampai ke depan pintu kamar Naruto? Toh, Sasuke terlalu baik mengenal seluk-beluk kediaman milik Minato ini untuk mengetahui di mana letak kamar sahabat pirangnya.
****************
Ini hari sabtu. Tepatnya malam minggu. Biasanya banyak pasangan yang menghabiskan waktu untuk berkencan. Tapi Sakura memilih untuk mengunjungi Temari yang baru saja kembali ke rumah setelah melahirkan anaknya.
Bayi berusia beberapa hari itu begitu identik pada sang ayah. Sakura belum menemukan diri Temari di wajah bayi itu.
Ia duduk di sebelah Ino yang terlihat kaku menggendong bayi mungil tersebut. Berbeda dengan Hinata yang terlihat begitu ahli mengendong bayi yang membuat Naruto berteriak aneh tentang 'kesiapan Hinata untuk memiliki anak dengannya'. Dan Sakura? Ia bahkan lebih buruk dari Ino.
Gadis merah jambu itu menolak dengan takut ketika Temari menawarkan untuk menggendong bayi mungilnya. Sakura menyukai anak kecil, semua orang tahu itu. Tapi gadis itu terlalu takut untuk menyentuh bayi Temari. Ia takut gendongannya akan melukai bayi itu.
"Kau benar-benar payah. Jika begini, bagaimana nanti kau menggendong anakmu?" Naruto yang akhir-akhir ini semakin menyebalkan mulai memancingnya lagi. Sakura melirik pria oranye itu dari ekor matanya. Naruto bersedekap dengan kedua mata tertutup.
"Mungkin ini yang membuat Sasuke ragu untuk mengajakmu menikah. Dia pasti merasa khawatir jika kau yang justru akan membunuh anakmu sendiri."
Tidak ada yang menyahuti ucapan Naruto. Semuanya hanya diam, bahkan Sasuke yang duduk di sebelah pria itu. Sakura yang memang akhir-akhir ini semakin sensitif jika membicarakan hubungannya dengan Sasuke memilih untuk bungkam.
Di satu sisi ia ingin mencekik leher Naruto. Tapi di sisi lain ia ingin menangisi dirinya sendiri. Tidak ada pembelaan dari Sasuke. Pria itu seolah membenarkan ucapan sahabatnya.
"Aku ingin pulang." Ucap gadis itu. Ia berdiri dan bermaksud untuk berjalan keluar.
"Sakura?" Panggilan Temari menghentikan langkahnya. Gadis itu berbalik, mendapati semua pasang mata kini menatapnya.
Sakura tersenyum. Bukan sebuah senyuman yang menyentu mata emerald-nya seperti biasanya. "Aku akan mengunjungimu lagi nanti. Dan Temari, bayimu sangat menggemaskan." Setelah mengatakan itu Sakura berlalu pergi. Keluar dari kediaman megah pasangan Nara.
*******************
Sakura menuruni setiap anak tangga di teras rumah Shikamaru. Sepatu hak tingginya menciptakan bunyi ketukan keras ketika ia berlari. Ia tidak mengerti kenapa bersikap kekanakan seperti ini. Sakura menjadi sangat sensitif. Mudah marah dan tersinggung. Ia seperti wanita hamil yang mengalami mood tidak stabil.
Ketika langkahnya mencapai mobil Sasuke ia merasakan cengkraman kuat di pergelangan tangan kirinya. Sakura berbalik menatap sang pelaku yang ternyata Sasuke. Ia baru sadar jika Sasuke menyusulnya.
"Ada apa denganmu?" Sasuke bertanya dengan wajah datarnya. Pria itu tetap pada cengkramannya di pergelangan tangan Sakura. Tidak mengizinkan gadis itu untuk pergi.
"Lepaskan aku, Sasuke!" Sakura merasa apa yang saat ini ia lakukan dengan Sasuke seperti kebanyakan adegan di drama-drama picisan koleksi Ino.
Sasuke mendorong tubuhnya. Punggung Sakura membentur pintu penumpang mobil Sasuke. Bukan dengan cara lembut dan dramatis seperti di drama-drama. Pria itu melakukannya terlalu keras yang mengakibatkan ringisan Sakura.
"Ada apa denganmu?" Pria itu menuntut. Sasuke mengurung tubuhnya. Wajah pria itu condong padanya karena tinggi badan Sakura yang cukup memperihatinkan jika disandingkan dengan tinggi Sasuke.
"Kau marah hanya karena ucapan sepupu menyebalkanmu itu?" Sakura mendengar Sasuke mendengus keras. "Jangan bersikap kekanakan, Sakura." Ucapnya remeh.
Sakura merasakan emosinya meledak hingga ke ubun-ubun. Membakar rambut merah mudahnya yang berantakan tertiup angin malam.
"Kekanakan katamu?" Gumam gadis itu. "Jadi menurutmu aku bersikap kekanakan?"
Sialannya kau benar!
"Ya. Tidak seharusnya kau berlari seperti tadi. Kau hampir mengundang tawa semua orang."
Sakura mencengkram kerah kemeja Sasuke, membuat wajah pria itu semakin dekat padanya. Sakura bisa menangkap raut terkejut Sasuke dengan aksi frontalnya.
"Kau brengsek! Dengan semua sikap menyebalkanmu ini, bagaimana mungkin aku bisa berkencan denganmu selama enam tahun? Kau sama sekali tidak pernah memberiku bunga di hari ulang tahunku. Tidak pernah mengatakan cinta padaku. Dan kau bahkan melupakan kapan hari jadi kita." Sakura memaki Sasuke tepat di depan wajah tampan pria itu yang semakin terkejut.
"Menyedihkan! Kau bahkan hanya pernah menciumku sekali ketika pertama kali mengajakku berkencan." Sakura meringis sedih. Buruk sekali kisah cinta enam tahunnya.
"Apa kau masih menganggapku sebagai kekasihmu, Sasuke? Kau tidak lihat? Ino dan Sai sudah bertunangan. Naruto sudah melamar Hinata. Temari dan Shikamaru bahkan baru saja mendapatkan putra pertama mereka. Kau tidak merasa bahwa hubungan kita ini benar-benar menyedihkan?"
Gadis itu berucap frustasi dengan tangsisannya. Ia benar-benar seperti wanita hamil saat ini. Mengamuk tanpa tahu tempat.
"Sampai kapan kau membuatku bingung seperti ini? Kau menjadikanku bahan tertawaan Naruto dan Ino." Kelunya.
Sasuke menegakkan tubuhnya setelah cengkraman Sakura di kerah kemejanya terlepas. Pria itu menatap lurus di balik punggung Sakura. "Ah! Jadi itu yang membuatmu kesal?" Ia bergumam pelan pada dirinya sendiri.
Sakura mengerutkan dahi lebarnya. "Apa? Kau ingin mengatakan bahwa aku bersikap kekanakan lagi?"
Sasuke tidak membalasnya. Mata kelam pria itu beralih menatap emerald Sakura yang basah. "Jadi kau ingin aku melamarmu?" Tanya Sasuke dengan nada menggodanya.
Sakura tersedak air liurnya sendiri. Tidak terbiasa dengan Sasuke Si Penggoda.
Sasuke meraih tangan kiri Sakura yang dingin. Tangan kanan pria itu meraih sesuatu di balik saku jasnya. Sakura tidak tahu sesuatu seperti apa yang sedang Sasuke cari.
Lalu mata emerald-nya membulat terkejut ketika sebuah cincin perak tersemat di jari manis tangan kirinya. Pria itu juga mengenakan cincin yang sama di jarinya.
Butuh waktu yang lama bagi Sakura untuk mengerti apa yang baru saja terjadi padanya. Gadis itu menatap takjub pada cincin di jari manisnya.
"Sasuke-kun, apa ini?" Tanyanya bodoh.
"Bukankah itu yang kau inginkan?" Suara Sasuke terdengar kesal. Ia kembali berbicara ketika Sakura akan membuka mulutnya. "Kita menikah bulan depan."
Sakura menatap Sasuke dengan kedua matanya yang melebar terkejut. Apa pria ini baru saja mengajaknya menikah?
"Kau bercanda? Kau mengajakku menikah?" Ia terlalu terkejut mendengar hal ini meski selalu menantikannya. "Kau serius mengajakku menikah? Kita bahkan belum bertunangan?" Sakura masih terlihat tidak percaya.
"Bukankah pertunangan hanya sebuah kegiatan di mana pasangan saling bertukar cincin? Kita baru saja melakukannya." Sasuke menunjuk cincin yang berada di jarinya dan jari Sakura. "Aku tidak ingin merepotkan diri dengan hal seperti itu. Lebih baik kita langsung menikah."
Dan Sakura berteriak senang. Gadis itu memeluk leher Sasuke erat dalam kurung waktu yang cukup lama. Ia mengabaikan Sasuke yang tercekik akibat pelukannya. Gadis merah jambu itu terlalu senang.
"Aku bahkan tidak keberatan jika menikah denganmu besok." Ucap Sakura. Wajah putihnya kembali berseri dengan sepasang mata yang berbinar. Sekali lagi terlalu bahagia.
Sasuke mendengus. Pria itu sedikit menarik sudut bibirnya ke atas. "Jadi hal ini yang bisa membuatmu senang?"
Sakura tidak mempedulikan wajah mengejek pria itu. Ia bisa menyombangkan diri pada Naruto setelah ini. Mengatakan pada pria oranye itu bahwa hubungannya dengan Sasuke masih sangat sehat dan kuat.
Sakura memekik terkejut ketika Sasuke kembali mendorong punggungnya. Kali ini lebih lembut dari sebelumnya. Pria itu mencondongkan wajah padanya. Mengikis jarak di antara mereka sebelum bibir itu memangut bibir terbuka Sakura.
Ciuman keduanya dengan Sasuke selama enam tahun terakhir. Bibir pria itu bergerak tergesa-gesa di atas bibir Sakura. Menyesapnya secara bergantian hingga gadis itu melengguh. Sakura mencengkram kedua bahu lebar Sasuke ketika pria itu melesakkan lidahnya ke dalam mulut terbukanya. Mengait lidah malu-malu gadis itu sebelum menyesapnya kuat.
Sakura merasakan kakinya lemas. Ciuman keduanya terlalu panas. Gadis itu bahkan bisa merasakan lelehan saliva di sudut bibirnya. Sasuke mengakhiri ciuman panas mereka dengan hisapan kuat di lidah dan bibir atasnya.
Nafas mereka memburu seirama. Kedua dahi yang sama-sama lebar tersebut saling bersentuhan. Terpaan nafas Sasuke menyentuh wajah Sakura yang memerah –dan membuatnya semakin merah–
"Aku menyesal karena terlambat melakukan hal ini." Sasuke berucap setelah dirasa nafasnya mulai normal. "Aku tidak akan menahan diri lagi setelah ini, Sakura."
Dan bibir itu kembali memangutnya. Lebih panas dan lama dari ciuman kedua mereka. Tidak peduli sekalipun saat ini mereka berada di tempat umum. Sekalipun seseorang melihatnya, mereka tidak peduli. Sakura memeluk leher Sasuke ketika ciuman pria itu semakin panas. Ia berkali-kali melengguh. Gadis itu menikmati ciuman Sasuke. Sesekali membalasnya dengan tidak berpengalaman. Ia mulai menyadari satu hal. Sasuke bukan tipe pria romantis seperti Sai, atau pria jujur seperti Shikamaru, apalagi pria blak-blakan seperti Naruto. Sasuke memilki cara sendiri untuk mengatakan maksudnya. Bukan dengan sebuah ucapan melainkan tindakan.
Selama ini pria itu tidak pernah mengatakan cinta padanya, tapi sering menatapnya dengan pandangan yang berbeda seperti yang ia tunjukan pada wanita lain. Sasuke mungkin bersikap dingin dan sering berbicara ketus. Tapi pria itu selalu sabar ketika berbicara padanya dan sering kali melembut. Sasuke tidak banyak bicara, tapi pria itu selalu menanggapi ucapan tidak berarti Sakura seperti keluhan gadis itu tentang Naruto yang membeli celana berwarna oranye.
Tidak perlu sebuah ucapan yang jelas, Sasuke sudah menunjukan semua perasaannya pada Sakura lewat tatapan matanya dan perlakuannya. Dan malam ini Sakura yakin pria ini benar-benar mencintainya. Jauh lebih besar dari yang selama ini ia duga.
___END___
Ini cuma oneshot. Aku tahu ceritanya aneh + lebay. Cerita ini sebenernya udah lama aku tulis, dan baru berani buat mempublikasikan sekarang. Maaf jika banyak kekurangan karena aku sendiri masih baru di dunia tulis-menulis.
So, thank's for reading J