"Tuh kan, Ty, gue bilang apa dia gak bakal dateng"
"Sabar, bentar lagi juga dia dateng"
Dylan mendengus sebal. Sudah 10 menit lewat dari jam tujuh, namun Cassie tak juga datang. Akhirnya Dylan menyerah, ia berjalan menuju tangga dan disusul oleh Tyler. Saat dia akan turun, orang yang ditunggunya sedari tadi baru saja sampai dan berada tepat di depannya.
"Cassie" ucapnya pelan, sangat pelan. Ia menghentikan langkahnya seraya menatap gadis yang ada di depannya
Cassie mendongak sembari terus berjalan. "Kenapa? Apa yang mau lo omongin?"
"Gue tunggu cerita lo nanti pas istirahat." Tyler menepuk bahu sahabatnya pelan sambil berbisik, lalu pergi ke kelasnya.
Dylan berjalan menghampiri Cassie yang tengah berdiri membelakanginya sambil melihat pemandangan sekitar. Tak ada satupun dari mereka memulai pembicaraan. Dylan sendiri juga tak tau apa yang harus ia katakan untuk memulainya.
"Kalo emang gak ada yang mau lo omongin, mendingan gue ke kelas." Cassie berbalik hendak kembali ke kelasnya, tapi Dylan dengan cepat memegang pergelangan tangannya.
"Gue mau minta maaf atas semuanya, semua yang terjadi beberapa hari lalu. Gue minta maaf karena udah ngebentak lo, gue minta maaf karena udah ikut campur dan ngatur-ngatur kehidupan lo, gue mau minta maaf karena..karena gue belum bisa jadi sahabat yang baik buat lo."
"Lo udah jadi sahabat yang baik buat gue kok, Dyl." balas Cassie sambil menahan air matanya yang hampir tumpah.
"Dan sekarang, gue termasuk orang yang paling lo benci, kan?"
Cassie mengangguk. "Dan diri lo sendiri yang udah bikin gue benci sama lo." Kemudian ia menepis tangan Dylan dari pergelangan tangannya.
"Ya, I know. Semua itu gue lakuin karena(gue sayang sama lo)lo adalah sahabat gue dan gue gak mau liat lo disakitin ataupun tersakiti"
Cassie hanya diam, tak bergeming.
"Mungkin lo gak bakal terima kata maaf dari gue. Karena sekarang keadaannya udah beda, gue udah jadi orang yang paling lo benci di dunia ini. Mau gue minta maaf seratus ribu kali pun lo gak akan--"
"But you're still my bestfriend, Dylan." Cassie memotong ucapan Dylan seraya memeluknya. "And always be my bestfriend."
"Walaupun gue benci sama lo, tapi lo tetap sahabat gue."
Dylan berdiri mematung. Dia tak mengira bahwa Cassie akan memeluknya. Kalimat 'always be my bestfriend' terulang di benaknya.
'When can I be your boyfriend?'
Dylan mendesah pelan, dan dengan berat hati ia membalas pelukan Cassie.
"T..thanks, Cass."
Cassie mengangguk. Dylan pun menyandarkan kepalanya di bahu Cassie.
"Gu..gue..gue gak tau gimana nantinya kalau lo gak maafin gue, Cass. Gue gak tau lagi gimana kalau lo tetep ngejauh dari gue. Cuma lo temen gue yang bener bener deket sama gue selain Emily dan temen band gue. Gue gak mau..kehilangan(orang yang gue sayang) temen gue lagi."
Cassie menangkupkan kedua pipi Dylan dengan tangannya, lalu berkata, "Gue disini, Dyl. Lo gak bakal kehilangan temen lo lagi, karena gue selalu ada di sini buat lo."
Dylan kembali memeluk Cassie erat.
"Thank you, Cassie"
***
"Jadi gimana? Lo sama Cassie?" Tanya Tyler sambil membawa makanannya menuju salah satu meja di kantin.
"Yah, gitu"
"Gitu gimana?"
"Dia maafin gue"
"Terus? Harusnya lo seneng dong kalo gitu" mereka duduk di salah satu bangku seraya meletakkan makanan mereka di meja.
"Tetap aja, Cassie nganggap gue sebagai temannya, gak lebih gak kurang" Dylan menyantap burger yang sedari tadi dia pegang.
"Yah, setidaknya kalian kembali deket, right? Like what I said, kejar terus dia, selalu ada buat dia. Kemaren lo malah ngebentak dia, kan? Makanya dia jadi marah gini. Dukung aja apa yang dia lakuin, kecuali itu gak baik baru lo bilangin pelan-pelan. Jangan dibentak kayak kemaren lagi, cewek tuh paling gak suka kalau dibentak apalagi sama orang terdeketnya. Gue yakin kok lama kelamaan perasaan dia bakal pindah ke lo, Dyl."
Dylan hanya mengangguk mendengar perkataan Tyler barusan yang lagi lagi ada benarnya.
"Gue boleh duduk disini gak?" Tiba-tiba Cassie sudah berdiri sambil membawa makanan dan minumannya di depan meja mereka berdua. Membuat Dylan kaget serta tersedak saat sedang minum.
"Ya, silahkan" Tyler menjawab mewakili Dylan yang tengah mengelap celananya yang basah karena saat ia tersedak tadi minumannya keluar dan mengenai celananya.
"Oh, shit" umpatnya pelan agar tidak terdengar oleh perempuan yang duduk di depannya.
"Lagi ngomongin apa? Kayaknya serius banget" tanya Cassie sambil meletakkan makanannya di meja.
"Latihan band" jawab Tyler
"Oooh. By the way, Dyl, maaf ya kemaren gue ninggalin lo gitu aja buat bersihin lapangan, lo bilang apa sama Mrs. Johnson?"
"Um, iya, gapapa. Gue bilang lo ada urusan, jadi gak bisa ikutan. Oh, gimana, kemaren?"
"Kemaren?"
"Iya, lo kan kemaren pergi sama Thomas. Gimana? Seru gak?"
Tyler menepuk bahu Dylan sambil berdiri. "That's what I'm talking about. Dukung dia terus." Bisiknya.
"Gue ke toilet bentar ya" ucap Tyler sambil mengedipkan sebelah matanya dan mengacungkan jempolnya pada Dylan.
"Oke" jawab Cassie
"Jadi?"
"Ya, kemaren gue ngamatin banyak hewan disana. Thomas juga banyak nyeritain dia waktu kecil dulu, cute banget, Dyl. Dia emang suka binatang, ya? Oh iya, binatang kesukaan dia, penguin. Tau gak? Dia ternyata dulu pengen jadi pembawa acara binatang" Cassie terkekeh sambil mengambil nafas sementara Dylan hanya bisa tersenyum dan mengangguk mendengar cerita Cassie.
"Lo seneng?"
"Apa?"
"Lo seneng, bisa seharian sama Thomas?"
"Seneng banget malah, Dyl. Seneng banget, nget nget" Cassie kembali terkekeh, sambil mengingat kejadian sehari yang lalu.
'Kapan gue bisa bikin lo se-seneng ini, Cass?'
Dylan tersenyum. "Baguslah."
***
Tyler dkk sedang bersiap akan latihan band, tetapi Thomas tak kunjung datang. Padahal waktu sudah menunjukkan pukul 7 lebih 15 menit malam.
"Tumben Thomas telat, biasanya dia absen pertama"
"Iya, kemana sih itu bocah dari tadi gak dateng dateng"
"Bentar, gue telpon dulu."
Dylan merogoh ponselnya yang berada di dalam saku celananya. Kemudian ia menelpon Thomas.
Nihil. Thomas tidak menjawab telponnya. Walaupun sudah berkali-kali ditelpon, tetap tidak dijawab. Dylan berdecak sebal, lalu kembali berkumpul dengan teman-teman band-nya.
"Gimana?" Tanya sang vokalis, Nash.
"Gak diangkat."
"Yaudahlah kita latihan berempat aja dulu, mungkin nanti Thomas nyusul." Tyler segera mengambil gitarnya dan menempatkan posisinya, begitu pula dengan ketiga temannya.
30 menit kemudian, ketika mereka sedang latihan lagu yang kedua, pintu studio terbuka. Muncullah seseorang yang mereka tunggu-tunggu sejak tadi.
"Sorry gue telat" ujarnya santai.
"Abis dari mana aja lo?" Mereka berempat berhenti latihan dan memusatkan perhatiannya kepada Thomas.
"Tadi gue ketiduran." Thomas menancapkan bokongnya pada sofa.
"Lo udah tau kan kalau hari ini jadwal kita latihan?"
"Mm..hmm"
"Terus lo tidur?"
"Gue capek, Nash"
"Capek, huh? Latihan basket aja lo udah jarang. Pangkat kapten lo udah mau dicopot tuh, bentar lagi diambil Ethan. Ngapain aja sih, lo? Cari cewe baru? Kita tau kondisinya Thom, tapi jangan lupain kewajiban lo juga." ucap Chris. Yang lain hanya mengangguk.
"Iya, gue tau. Maaf" jawab Thomas singkat
"Um, karena Thomas udah datang, mending kita lanjut latihan" ucap Tyler yang melihat Chris sudah mulai kesal dengan Thomas.
***
"Dylaan... Masa nilai ujian matematika gue segini sih, kan gue udah belajar. Aaaaa gue gak terima ihh, Dyl gimanaa?" Cassie merengek sambil menarik-narik kemeja teman sebangkunya, karena nilai ujian matematikanya lagi-lagi mendapat D.
"Tenang aja, next time pasti bagus"
"Gimana bisa tenang, lo mah enak nilai A terus. Lah gue?"
"Makanya belajar jangan mikirin Thomas mulu." Ledek Dylan.
"Dyllll.. bisa bisa gue kena marah sama nyokap kalo gini terus." Ia tetap menarik-narik kemeja sahabatnya itu.
"Ihh, Dylan!! Lo denger gue gak sih?!"
"Iya denger. Yaudah nanti gue bakal bantuin lo belajar supaya nilai lo naik."
Cassie menghentikan aktivitasnya. "Yaudah."
"Gue mau ke toilet sekalian ke kantin, lo mau ikut ke kantin juga gak?"
"Nggak."
"Mau nitip makanan gak?"
"Nggak."
Dylan menghela nafasnya lalu berjalan keluar kelas menuju toilet laki-laki. Ketika di toilet, ia bertemu dengan Thomas yang sedang mencuci tangan di wastafel.
"Tumben lo gak sama Cassie"
"Yakali gue ngajak dia kesini."
"Emangnya dia dimana?"
"Ada di kelas, lagi galau gara-gara nilai math-nya D lagi."
Thomas mengelap tangannya. "Gue duluan ya"
"Yo."
Thomas bergegas pergi ke kelas Cassie, karena ada yang ingin ia beritahukan padanya. Sesampainya disana, ia segera menghampiri perempuan yang sedang tiduran tengkurap di atas kursi yang disusun ke samping menjadi 3. Ia pun menepuk pelan punggung perempuan itu.
"Gue udah bilang, gue gak mau ke kantin." Ucap Cassie tanpa membalikan badannya. Sedangkan Thomas tetap menepuk-nepuk punggungnya.
Cassie menepis tangan Thomas lalu berbalik. "Dylan, jangan ganggu gu-- eh Thomas."
"Umm, hi."
"S..sorry gue kira tadi Dylan" ia membenarkan posisi duduknya sebaik mungkin.
"Iya, gak apa-apa."
"By the way, kenapa ke sini? Tumben banget."
"Gue cuma mau bilangin kalau sabtu besok rencananya gue mau ngajak lo sama temen-temen band gue nonton, terus malamnya ada birthday party di rumah gue. Dateng ya"
"Birthday party? Lo ulang tahun?"
"Ya bisa dibilang gitu"
"Ulang tahun gue juga sabtu besok" wajah Cassie langsung tampak berbinar-binar saat tau tanggal ulang tahunnya sama dengan orang yang ia sukai.
"Oh ya? Kalau gitu kita bisa ngerayain bareng"
"Ya.." Cassie tidak dapat berkata-kata lagi, ia sangat senang. Mungkin jika Thomas tak bersamanya ia sudah teriak sekeras mungkin mengalahkan teriakan seorang banshee.
"Okay, sampai ketemu hari sabtu, Destiny." Thomas mengacak rambut Cassie sambil tersenyum lalu pergi meninggalkan kelasnya.
*
Sepulang sekolah, Cassie dan Dylan masih menjalankan hukumannya yaitu membersihkan halaman sekolah. Dan juga seperti biasa, ada Mrs. Johnson yang memperhatikan pekerjaan mereka dari jauh.
"Dyl" Cassie mencolek-colek sahabatnya yang sedang serius menyapu.
"Apa?"
"Tau gak?"
"Nggak"
"Ish lo mah" Cassie mendorong tubuh Dylan hingga terjatuh.
"Dylan, Destiny jangan bercanda! Bersihkan yang benar!" Tegur Mrs. Johnson dari pinggir lapangan.
"Iya ma'am." Balas mereka berdua dengan kompak.
"Ya gimana gue mau tau, lo aja belum ngasih tau." Dylan kembali berdiri dan lanjut menyapu.
"Ternyata ulang tahunnya Thomas itu barengan sama gue. Ah gila seneng banget deh gue, mungkin ini yang dinamakan jodoh."
Dylan tiba-tiba batuk mendengar ucapan Cassie, terlebih lagi pada bagian 'jodoh'.
"Ih lo kenapa?"
"Gak, gapapa cuma kehirup debu. Lo kok bisa tau kalo ulang tahun lo bareng sama dia?"
"Tadi dia ke kelas terus bilangin gue, hari sabtu ada birthday party di rumahnya dan dia nyuruh gue dateng."
"Ohhh"
Merasa pekerjaannya sudah selesai, mereka meletakkan alat-alat yang digunakan pada tempatnya seperti semula.
"Lo mau tolongin gue gak?" Tanya Cassie saat mereka sedang membasuh tangannya.
"Tolongin apa?"
"Gue mau beliin kado buat Thomas tapi gue gak tau apa yang harus gue beliin. So, tolong tanyain ke Thomas apa yang lagi dia butuhin."
Dylan mematikan kerannya lalu mencipratkan air yang ada di tangannya ke arah Cassie. Kemudian pergi mengambil tasnya.
"Dyl, tolongin gue" Cassie menyusul Dylan yang sudah berjalan lebih dulu.
"Tolongin gak ya"
"Lo kan sahabat gue, tolongin lah. Ya? Ya? Ya?"
Dylan berhenti berjalan dan menatap wajah perempuan yang ada di sampingnya. "Hmm.. Gak." Kemudian ia berjalan lagi.
"Dyl, please.." Cassie memasang jurus puppy face-nya. Yaitu salah satu keahliannya yang dapat menaklukkan setiap orang yang melihatnya.
"Iya iya gue tanyain" dan jurusnya pun berhasil dilakukan.
"Beneran?"
"Iya"
"Sungguh?"
"Iya"
"Demi apa?"
"Bawel banget sih lo." Karena gemas, Dylan mencubit hidung Cassie cukup keras. Membuat yang punya meringis kesakitan.
-
Ayeee
Any Dyssie shipper?