Angin sepoi-sepoi menyambut deru mobil kami yang berhenti perlahan. Ryan mengusap keringat menggunakan kemeja lengan panjang berwarma abu-abunya. Ia nampak kelelahan setelah mengemudi dengan kecepatan di atas batas wajar. Aku sempat ketakutan juga tadi. Sepanjang perjalanan satu setengah jam dari tempat peristirahatan tadi, tak semenitpun aku rela melepaskan genggamanku pada sabuk pengaman.
Sungguh, aku tidak berani membayangkan apa yang akan terjadi apabila mobil Ryan memabrak sesuatu atau seseorang. Bisa-bisa aku mati untuk yang kedua kalinya. Bisa-bisa pula nanti akan ada Christy 3.0. Sebetulnya, aku memiliki ingatan yang menyenangkan tentang rumah Ryan. Rumah minimalis namun nyamannya ini terletal di kompleks perumahan sebelah kompleksku. Biasanya, mendiang Christy 1.0. selalu bahagia setiap berkunjung ke rumah Ryan. Namun, kali ini tidak ada sukacita sama sekali di antara kami. Malah, aku yakin bahwa wajah kami berdua sudah berkerut. Persis nenek dan kakek tua yang sedang menggerutu karena menu sarapan yang tidak bisa dikunyah.
"Perasaanku sangat tidak enak, Ty." Ujar Ryan melihat sekeliling yang sepi. Ia mengunci stang mobilnya kemudia. keluar. "Aku betul-betul khawatir, Ty.."
"Jangan berpikir yang buruk-buruk, Ry." Aku menenangkannya dengan menggenggam salah satu tangannya. Genggamanku kini terasa basah dan berkeringat. Tubuh Ryan pasti sedang bereaksi atas stres yang sedang ia hadapi.
"Bagaimana jika kita terlambat.. Bagaimana jika aku terlambat?!" Ryan menggigit bibir bawahnya. Ia nampak cemas sekali.
Aku pun langsung melepas sabuk pengamanku. Kusembunyikan semua ketakutan dan kecemasanku demi Ryan. Ia sedang membutuhkan kawan untuk membimbing dan menyemangatinya. Aku betul-betul berharap alu bisa menjadi seperti itu untuk Ryan. "Yuk, kita turun.. Bersama-sama."
"Bagaimana jika aku menangis setelah aku tahu kenyataannya, Ty?" tanyanya sembari menutup mata dan menggeleng-gelengkan kepala. aku dapat melihat beberapa tetes air mata yang mengalir di pipi gembul dan manisnya.
"Aku tidak bisa menjamin semua akan baik-baik saja, tapi aku dapat berjanji bahwa aku akan selalu menemanimu." Ujarku sembari membuma pintuku. Aku mengarahkan kepalaku keluar, memberi kode pada Ryan untuk ikut keluar bersamamu. "Tidak apa-apa, Ryan."
Bahkan si cowok yang terkadang galak pun bisa menjadi secemas ini. Dalam memoriku, aku memiliki ingatan tentang Ryan yang suka membela mendiang Christy 1.0. saat ia di tindas habis-habisan oleh teman-teman sekelasnya yang populer. Aku ingat dengan sangat jelas perkataannya, "Jangan ganggu Christy, atau kalian akan berhadapan dengan ototku!"
Ya, kata-kata itu persis sama dengan perkataan Ryan tempo hari. Aku sungguh bahagia dapat merasakan segala pengalaman mendiang Christy 1.0. Terutama, semua peristiwa yang melibatkan si cowok gembul yang manis ini. Ryan.
"Semoga semua baik-baik saja." Ujar Ryan yang juga sudah keluar dari mobil. Ia membuka pintu yang ternyata tidak terkunci. Ia menarik napas dan menyalakan lampu ruang tamu yang tadinya dimatikan. Mata artifisialku mulai bisa menyesuaikan diri ketika ruangan sudah terang selama beberapa detik. Ryan menengok sekeliling. "Halo?"
Hening.
Tidak ada tanggapan sama sekali yang terdengar ataupun terlihat. Biasanya aku suka dengan kesunyian. Entah mengapa, kali ini bulu kudukku merinding akibatnya. Jantungku berdebar keras. Suasana sangat mencekam.
"Permisi?" Aku dan Ryan berjalan ke kamar mandi. Ryan menyalakan lampunya dan kami tidak mendapati apapun selain kecoa yang sudab di injak gepeng.
Deg. deg.
Kemudian, kami ke ruang dapur yang dari ruang tamu hanya dipisahkan sekat kecil. Kursi-kursi di meja makan yang biasanya disusun rapi kini terlihat lebih acak-acakan. Laci tempat peralatan dapur pun nampak tidak tertutup rapat.
Deg. Perasaanku semakin tidak enak.
Ryan menyalakan lampu yang menyala di tangga. Perasaan tidak enakku semakin terbukti, karena terlihat sedikit demi sedikit bercak darah yang semakin ke atas semakin membanyak.
"Ty.." ujar Ryan lirih saat kami bertatap-tatapan. Ia nampak khawatir sekali dan menggigit bibir bagian bawahnya. Aku meremas pundak lebarnya itu untuk memberikan sedikit kesejukan hati. "Aku akan selalu menemanimu, Ryan."
"T-ty.." ujarnya dengan tubuh sedikit bergetar. "Bagaimana aku harus hidup selanjutnya kalau Velia dan Mama sudah tidak ada?"
"Ssst." ujarku berusaha menghentikan pikiran negatifnya yang semakin menjadi-jadi. "Jangan mengambil kesimpulan terlebih dahulu, Ryan."
Deg.
Aku semakin waspada saat kami berdua mulai melangkah menaiki tangga yang terdiri atas sekitar 30 anak tangga tersebut. Pandanganku menatap tajam ke sekeliling. Begitu juga dengan Ryan yang sudah lebih tenang. Anak itu terlihat sudah bisa mengendalikan dirinya.
Satu langkah. Dua langkah.
Tidak terlihat sedikitpun kehadiran mahluk lain di ruangan ini. Tentu saja, aku tetap waspada dan melihat sekitar. Kemungkinan terburuk yang bisa terjadi, orang-orang keparat itu masih bersembunyi di rumah ini.
Krek.
Terdengar bunyi pintu yang berderit. Jantungku langsung berdebar tidak karuan. Rasa deg-deganku kali ini berbeda dengan rasa berdebar apabila aku menatap Ryan. Sungguh, aku mulai merasa mu saat pintu terdengar berderit sekali lagi.
"Terima kasih karena kau menemaniku menghadapi hal ini, Christy 2.0" Ujar Ryan sembari mengelap matanya agar bisa fokus kembali. Sifat pemberani Ryan mulai muncul lagi. Aku mengangguk pelan sembari melanjutkan menaiki tangga tersebut. Aku pun tak bisa menghentikan rasa penasaranku dan bertanya, "Di atas ada ruangan apa saja, Ryan?"
"Ruang bermain, gudang, dan tempat menjemur pakaian." jawabnya dengan singkat, jelas, dan padat. Karena aku berjalan di depan Ryan, aku tidak dapat melihat sosoknya lagi. Namun, aku Bis mengagumi bayangannya yang menyelimutiku. Oke Christy 2.0, ini bukan waktunya untuk salah fokus. Ada waktu kita harus fokus, dan ada waktunya kita memang diperbolehkan melantur.
Tap. tap.
Kami sudah sampai di lantai atas. Seperti di bawah, lampu gelap gulita. Ryan pun memencet saklar yang pastinya ia sudah hapal persis letaknya.
Ceklek.
Lampu sudah menyala, dan bercak-bercak darah terlihat semakin jelas. Bau tidak sedap mulai tercium. Indra penciuman buatanku mulai mual dibuatnya.
"Darah tersebut mengarah ke ruang bermain." Ungkap Ryan setelah mengamatinya dengan jeli. Aku mengangguk setuju dengannya, kemudian menarik tangannya melangkah mendekati ruang bermain tersebut.
"Christy.. apakah aku siap?" Tanya Ryan dengan suara kecil. Kali ini, ia sudah tidak bergetar lagi. Anak berbadan gembul itu sudah bisa menguasai diri dan semua emosi-emosinya.
"Apapun yang akan terjadi, kita serahkan semuanya pada sang takdir." jawabku berusaha memberikan jawaban yang netral. Sekujur badanku jadi keringatan karena cemas. Padahal aku hanyalah manusia kloning, namun reaksi-reaksi tubuhku persis sama dengan manusia pada umumnya.
"Kita tidak bisa melawan sang takdir yang mengalun dalam waktu." Bisik Ryan lirih. Kemudian, ia menyalakan saklar di ruang bermain. Saklar tersebut terletak di depan ruangan itu.
Bau tidak semerbak tercium semakin jelas di hidungku. Mataku melotot saat melihat sesosok mayat tergeletak. Rambutnya acak-acakan, dan matanya yang terbuka menyatakan bahwa ia masih ingin mengungkap sesuatu. Sebuah pisau dapur tertancap dan menembus lehernya.
"Aaah!" Ryan menjerit keras. Ia menggapai lengan mamanya yang sudah terbujur kaku. Ryan berusaha menggoyang-goyangkannya kesana kemari.
Badannya kini bergetar lagi. Wajahnya basah dengan air mata yang tanpa ampun keluar membanjiri mayat mamanya. Aku ingat sekali bagaimana wanita anggun yang sudah berusia paruh baya itu selalu memberikan Christy 1.0 nasihat-nasihat yang tepat dan bijak.
"T-terkadang.. hidup ini memang tidak adil.." ungkap Ryan di tengah isakannya yang semakin tidak terkontrol.
"Aku mengerti, Ryan." jawabku sembari ikut berjongkok dan merangkulnya erat. Hatiku terasa ditusuk ribuan jarum saat aku menyaksikan Ryan dalam keadaan seperti itu. "Aku ikut sedih.."
"Christy.. aku belum sempat membahagiakan beliau." Ungkap Ryan sambil menyenderkan kepalanya di dada sang ibu. Aku pun berinisiatif mengelus-elus rambut yang sudah berinyaknya itu.
"Tetaplah hidup untuk Mama, Ryan." jawabku lirih. Ryan semakin meraung-raung akibatnya. Aku mendekatkan kepalaku kepadanya. "Kau tidak akan pernah sendirian."
Ryan tersedu-sedu. Ia mulai menepuk pipi mayat mamanya, berharap akan adanya respon. Tentu saja, hasilnya tetap nihil. Segala sesuatu berawal dari Tuhan, dan tentunya akan berakhir di tangan Tuhan juga.
"I-ini tidak mungkin terjadi.." ungkapnya dengan nada yang membuat siapapun yang mendengarnya berempati. Bahkan, seorang manusia kloning seperti diriku pun bisa merasakannya.
"Ryan.. aku tahu ini berat." Ujarku sembari semakin menempelkan pipiku pada pipi Ryan. Aku sudah tidak peduli wajahnya basah dengan air mata. Sungguh, hatiku tidak tega melihatnya dalam keadaan seperti ini.
"Rasanya sakit sekali, Ty..." ungkap Ryan lagi. Kini, ia menggoncang-goncangkan tubuh mamanya dengan keras. Ia sudah tidak peduli lagi dengan bau tidak sedap yang ada. Sekilas, aku juga dapat melihat kemarahan tercemin dari dirinya."Apakah Tuhan sudah tidak sayang dengan Mama?"
"Huss.. Kamu tidak boleh berkata seperti itu, Ryan.." Ungkapku mengelus-elus tangannya ya g besar. "Segala sesuatu sudah ada jalannya. Semua kejadian terjadi sesuai rencana Beliau."
"Tapi, Ty.. kenapa bukan aku saja yang dibunuh? Mengapa harus Mama yang lembut, baik hati, dan dewasa?" Tanyanya sambil menatap wajah pucat Mamanya. "Bahkan, aku tidak sempat mengucapkan kata perpisahan pada beliau."
Aku diam saja dan terus menggenggam tangan Ryan. Kemeja abu-abu yang ia kenakan kini sudah bau darah. Sebagian dari kemeja tersebut pun sudah berwarna merah akibat terkena darah sang mama.
Dalam hati, aku berjanji untuk menjadi pendengar yang baik bagi pujaan hatiku ini. Aku bersumpah untuk selalu ada baginya.
"C-christy.. Bagaimana kalau ternyata aku tidak sanggup?" ungkap Ryan di tengah isakannya yang memilukan hati. Hatiku semakin pedih melihat kondisinya yang seperti ini.
Tes, tes, tes.. Jendela di luar menampakkan rintik-rintik hujan yang mulai turun. Sepertinya, alam semesta pun mengerti apa yang sedang terjadi saat ini. Ia ikut menangis bersama kami.
"Menurutmu, apa alasan kau tidak akan sanggup?" tanyaku dengan suara mulai bergetar. Kepalaku pusing. Nampaknya, hatiku kini mulai merasakan sedih dan sakit yang tengah di rasakan Ryan.
"Aku sudah tidak perlu hidup lagi, Ty.." ungkapnya kini sudah tidak terisak. Aku sungguh khawatir saat ia kini menatapku tanpa ekspresi. Ryan menatap jendela yang terbuka dan bangkit berdiri.
"Aah!" Aku menjerit pelan saat ia mulai berusaha memanjat keluar jendela itu. Dengan gesit, aku segera menariknya kembali. Aku menarik napas lega ketika tubuhnya sudah duduk kembali lantai. " Ryan, apa yang kau lakukan?!"
"Hidupku sudah tidak berarti, Ty.." ujarnya lemas sembari menatap ke rintik-rintik hujan yang turun dengan semakin deras. "Tolong, jangan hentikan aku."
"Tentu saja aku tidak bisa membiarkanmu, Ryan!" Ungkapku tegas dan jelas. Aku menatapnya tajam untuk membuktikan bahwa aku sedang serius saat ini. Sangat, sangat serius.
"Untuk apa?! Aku sendirian sekarang!" jerit Ryan gemas. Tidak, aku tidak boleh kalah oleh sifat defensif Ryan.
"Siapa bilang?"
Sebuah suara lembut terdengar jelas ditelingaku. Tentu saja itu bukan halusinasi, karena kini Ryan menoleh ke arah pintu masuk. Sesosok gadis mungil dengan rambut dikuncir kuda menatap kami lembut dan berjalan mendekati Ryan. Di tangannya masih tergenggam sebuah pisau. Ia bergetar, wajahnya penuh air mata.
"Vel.." ujar Ryan kencang. Ia bangkit berdiri dan berlari menghampiri Velia, adik satu-satunya Ryan. Aku melihatnya membelai lembut pipi adik tersayangnya. Ia membenamkan kepala Velia dalam pelukan erat. Setetes air mata jadi ikut keluar dari mataku. Aku merasa terharu, dan sejujurnya sedikit iri. Selama ini, Christy 1.0. selalu sendirian tanpa saudara. Aku dapat mengingat dengan jelas betapa kesepiannya mendiang Christy.
"Kita bersama sekarang.." ungkap Velia yang menangis dengan lebih keras. Tangannya melempar pisau tersebut jauh-jauh dari mereka. "Itu yang paling penting.."
"Apa yang terjadi, Velia?" Tanya Ryan yang sudah bisa mengontrol diri. Ia nampak lebih tenang sekarang. Ia mengelus lembut kepala adiknya yang kini sudah berhenti menangis.
"Aku sedari tadi diperintahkan Mama untuk bersembunyi dengan lemari gudang.. dengan pisau ini sebagai pertahanan diri." jelas Velia sambil menghampiri mayat mamanya. "Ternyata benar, aku selamat.."
"Aku bersyukur atas hal itu, adikku.." ungkap Ryan sembari ikut berjalan bersama Velia. Mereka saling merangkul dihadapan mayat mamanya. "Kini, kita hanya memiliki satu sama lain, Kak Ryan.."
Hujan di luar jendela perlahan-lahan mulai berhenti. Samar-samar, aku dapat melihat pelangi nun jauh di sana.
"Sebetulnya, siapa biang kerok semua ini?" Tanyaku sedikit geram. Tega-teganya mereka membuat kekacauan seperti ini. Pastilah oknum-oknum yang berbuat bagaikan robot besi yang tidak memiliki perasaan.
"Ini semua karena orang-orang berseragam kuning." Jelas Velia sambil menoleh ke arahku. Tanpa perlu ditanya lagi, aku sudah tahu bahwa mereka adalah orang-orang pemerintahan di negeri Indonesia ini. Orang-orang yang ingin memecahbelahkan negeri. Orang-orang yang fanatik dengan pendapat-pendapatnya sendiri. Merekalah yang tidak peduli dengan opini rakyat.
"Aku benci sekali." Ungkapku pada Ryan dan Velia. Mereka berdua meninggalkan mayat mamanya dan duduk bersamaku di lantai. "Aku ingin menuntaskan masalah ini."
"Aku juga." Ungkap Velia. "Tentu saja, aku tidak rela Mama tersayangku dibunuh begitu saja tanpa kami ketahui alasannya."
"Aku bahkan heran apakah mereka masih manusia atau bukan." Tambah Ryan sembari menatap sekali lagi ke mamanya yang tergolek kaku. Kali ini, ia sudah semakin bisa mengendalikan emosi.
Kami bertiga bertatap-tatapan, kemudian tanpa berkata apa-apa bergegas menuju mobil. Ryan menggandeng Velia ke bawah, melangkah turun menghindari darah yang sudah mengering. Kami sudah tahu tujuan kami berikutnya. Jalan Merpati nomor 13, Bandung.
"Presiden Addi.." Ucapku lirih pada diriku sendiri. Aku yakin saat ini mata besarku mulai berkilat-kilat marah. Aku kini merasakan rasa muak yang teramat sangat. Rasanya.. aku ingin meninjunya.. mematahkan gigi-giginya.. dan mungkin juga membunuhnya.